Diantara Tanda Kebahagiaan dan Tanda Kesengsaraan, Yang Manakah Kita?

Al-Imam al-Ajurri rahimahullah meriwayatkan, bahwa Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

إن الله لما خلق آدم عليه السلام مسح ظهره فأخرج منه ما هو ذراري إلى يوم القيامة ، فخلق الذكر والأنثى ، والشقاوة والسعادة ، والأرزاق والآجال والألوان ، فمن علم السعادة : فعل الخير، ومجالس الخير، ومن علم الشقاوة : فعل الشر ومجالس الشر.

“Sesungguhnya ketika Allah menciptakan Adam ‘alaihissalam, Dia mengusap punggungnya lalu mengeluarkan darinya keturunan-keturunannya hingga hari kiamat. Allah ciptakan laki-laki dan perempuan, kesengsaraan dan kebahagiaan, rezeki-rezeki, ajal, dan rupa-rupa warna makhluk-Nya.

Di antara tanda kebahagiaan adalah: BERAMAL KEBAIKAN DAN BERMAJELIS (BERGAUL) DENGAN YANG BAIK

Dan di antara tanda kesengsaraan adalah: BERBUAT KEJELEKAN DAN BERMAJELIS (BERGAUL) DENGAN YANG JELEK.”

Sumber:

 

 

 

Nasehat Asy-Syaikh Shalih Fauzan Menyambut Datangnya Bulan Ramadhan

Asy-Syaikh Shalih Fauzan bin Abdillah al-Fauzan hafizhahullah:

Pertanyaan:

ما نصيحتكم للمسلمين بمناسبة اقتراب شهر رمضان؟

Apa nasehat anda kepada kaum muslimin terkait telah dekatnya bulan Ramadhan?

Jawaban:

الواجب على المسلم يسأل الله أن يبلغه رمضان وأن يعينه على صيامه وقيامه، والعمل فيه، لأنه فرصة في حياة المسلم:

Wajib bagi kaum muslimin untuk memohon kepada Allah agar dia bisa sampai kebulan Ramadhan, dan diberi kemampuan untuk berpuasa serta melaksanakan shalat tarawih padanya, dan juga bisa beramal saleh pada bulan Ramadhan. Dikarenakan bulan tersebut merupakan kesempatan besar dikehidupan seorang muslim.

“مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ”

“Barang siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dikarenakan keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosanya yang terdahulu.” (H.R al-Bukhari)

”مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ”

”Barang siapa yang shalat malam pada bulan Ramadhan dikarenakan keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosanya yang terdahulu.“ (H.R al-Bukhari)

فهوفرصة في حياة المسلم قد لا يعود عليه مرة ثانية

Maka ini merupakan kesempatan besar bagi setiap muslim -untuk beramal- yang mungkin saja dia tidak bisa mendapatkan kesempatan kedua setelahnya.

فالمسلم يفرح بقدوم رمضان ويستبشر به، ويستقبله بالفرح والسرور، ويستغله في طاعة الله ليله قيام، ونهاره صيام وتلاوة للقرآن والذكر فهو مغنم للمسلم

Maka seorang muslim hendaknya bergembira dan merasa senang dengan datangnya bulan Ramadhan, menyambutnya dengan penuh kegembiraan, menggunakan kesempatan pada bulan tersebut untuk memperbanyak ketaatan. Shalat dimalam hari dan pada siang harinya berpuasa, membaca Al-qur’an dan berdzikir, yang mana ini semua merupakan ghanimah bagi setiap muslim.

أما الذين إذا أقبل رمضان يعدون البرامج الفاسدة والملهية والمسلسلات والخزعبلات والمسابقات ليشغلوا المسلمين فهؤلاء جند الشيطان،

Adapun orang-orang yang menyambut bulan Ramadhan dengan mempersiapkan berbagai kegiatan-kegiatan yang negatif, seperti acara musik, acara drama yang bersambung, acara -acara lawakan atau perlombaan kuis, yang semua ini melalaikan kaum muslimin -dari ibadah-, maka mereka ini adalah bala tentara setan.

فعلى المسلم أن يحذر من هؤلاء ويحذر منهم،

Maka wajib bagi setiap muslim untuk berhati-hati dari mereka, dan mentahzir mereka.

رمضان ما هو وقت لهو ولعب ومسلسلات وجوائز ومسابقات وضياع للوقت.

Bulan Ramadhan bukanlah waktu untuk bermain-main atau perkara sia-sia seperti kuis-kuis dan semisalnya yang semua ini menyia-nyiakan waktu.

 

 

Sumber:
– web: forumsalafy.net
Telegram

Majmu’ah Hikmah Salafiyyah

Audio Tanya Jawab: Kenapa Doa Belum Dikabulkan

KENAPA DO’A SAYA TIDAK JUGA DIKABULKAN PADAHAL SAYA SUDAH BERDOA SETIAP WAKTU?

Disampaikan Oleh:
Al-Ustadz Muhammad Umar As-Sewed -hafizhahullah-

Sesi Tanya Jawab Kajian Kitab Adda`u Wad dawaa (Akibat Buruk Dosa dan Kemaksiatan)

Jum’at 20 Sya’ban 1440 H/ 26 April 2019 M di Masjid Ma’had Riyadhul Jannah Cileungsi Bogor

(1,3 MB) – Durasi [00:05:04]

Faidah lain:

– Tentang membaca sholawat ketika berdo’a

– Ketika kita sedang berdo’a lalu dikumandangkan adzan: mana yang utama didahulukan?

– Hukum berdo’a dengan bahasa Arab ketika sholat (ketika sujud, tasyahud akhir, dll)

 

 

Sumber:
t.me/ForumBerbagiFaidah
www.alfawaaid.net
www.ilmusyari.com

Diantara Hikmah Amalan Puasa

    

Asy-Syaikh Abdullah Al-Bassam rahimahullah berkata :

Puasa memiliki banyak hikmah dan rahasia yang agung, di antaranya :

1. PERTAMA :
Puasa termasuk ketaatan yang paling besar. Ia merupakan amalan tersembunyi antara seorang hamba dan Rabb-nya. Puasa adalah puncak di dalam masalah penunaian amanah.

2. KEDUA :
Puasa adalah berhias diri dengan keutamaan sifat sabar. Maka, sungguh puasa telah mengumpulkan tiga macam bentuk kesabaran, yaitu sabar menunaikan ketaatan kepada Allah, sabar meninggalkan maksiat kepada Allah, dan sabar menghadapi takdir-takdir Allah yang menyakitkan.

3. KETIGA :
Latihan untuk menghadapi kekurangan dan rasa lapar. Puasa mengingatkan seorang hamba akan nikmat-nikmat Allah yang terus mengalir. Sehingga ia mengingat saudaranya dari kalangan fakir miskin yang menderita kesusahan sepanjang waktu.

4. KEEMPAT :
Manfaat kesehatan, yakni puasa akan mengistirahatkan dan melapangkan sistem pencernaan, guna memberikan jeda waktu untuk beristirahat dari proses pencernaan.

Sehingga dihasilkan rasa nyaman dan rileks, serta mengembalikan semangat dan kekuatannya.

Selesai.

Taudhihul Ahkam min Bulughil Maram (3/439)

 

Sumber:
– Channel Telegram: https://t.me/salafy_cirebon
– Website: www.salafycirebon.com

TIGA JENIS KANDUNGAN HATI

Al-Imam Ibnul Qayyim –semoga Allah merahmatinya – berkata:

 

“Hati itu ada tiga:

1. Hati yang kosong dari iman dan segala kebaikan.

Itulah hati yang gelap yang syaithan benar-benar telah beristirahat dari melontarkan waswas kepadanya.

Sebab, ia(syaithan) telah menjadikannya rumah dan negerinya, ia menghukumi di dalamnya sesuai apa yang ia inginkan, dan ia telah menguasainya di puncak penguasaan.

 

2. Hati yang kedua: Hati yang telah bersinar dengan cahaya iman, menyalakan lentera-lentera iman di dalamnya. NAMUN, ada kegelapan syahwat dan hembusan-hembusan hawa nafsu padanya.

Maka, syaithan datang dan pergi di sana, mencoba dan tamak (untuk menguasainya).

Sehingga, peperangan di situ silih berganti, menang dan kalah.

Dan keadaan jenis ini berbeda-beda dalam sedikit dan banyaknya (kekalahan dan kemenangan).

– Diantara mereka ada yang waktu kemenangan atas musuhnya (syaithan) lebih banyak.

– Dan ada yang waktu kemenangan musuhnya atasnya lebih banyak.

– Adapula yang kadang ini dan kadang itu(seimbang).

 

3. Hati yang ketiga: Hati yang dipenuhi iman, benar-benar telah bersinar dengan cahaya iman, terlepas syahwat darinya, dan tercabut kegelapan-kegelapan tersebut.

Maka, cahaya di hatinya telah terbit bersinar. Dengan sebab terbitnya itu, ia menyala. Seandainya rasa waswas mendekatinya, ia pasti terbakar dengannya.

Sehingga, ia laksana langit yang dijaga dengan bintang-bintang.

Jika syaithan mendekatinya(untuk mencuri berita dari langit) dilemparkan bintang itu kepadanya, hingga ia terbakar.

Padahal langit itu tidak lebih terhormat dari seorang mukmin. Penjagaan Allah kepada orang mukmin lebih sempurna daripada penjagaan langit.

Langit tempat peribadahan para malaikat, tempat menetapnya wahyu, terdapat cahaya ketaatan di dalamnya.

Adapun hati seorang mukmin tempat menetapnya tauhid, rasa cinta, ma’rifah(pengenalan kepada Allah), dan iman. Di dalamnya terdapat cahaya dari itu semua.

Sehingga, ia lebih berhak untuk dijaga dan dilindungi dari tipu daya musuh.

Tidak akan mampu dicapai (syaithan) hati yang demikian itu kecuali dengan tipu daya, kelengahan, dan menyambarnya (saat lalai).”

Al-Waabilush Shayyib, Ibnul Qayyim, hal. 58 – 59.

Alih Bahasa:
Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafizhahullah

 

Sumber: https://t.me/ForumBerbagiFaidah

Ahlussunnah Meyakini Kafirnya Orang Yahudi & Nasrani

Ucapan tentang tidak bolehnya mengkafirkan Yahudi dan Nashrani
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah ditanya: (bagaimana pendapat beliau) tentang perkataan seorang penceramah di salah satu masjid di Eropa bahwa (kita) tidak boleh mengkafirkan Yahudi dan Nashrani?

Beliau menjawab:
Ucapan yang keluar dari orang ini adalah ucapan sesat. Bahkan bisa jadi ia merupakan kekafiran, karena Allah telah mengkafirkan orang Yahudi dan Nashrani dalam kitab-Nya:

“Orang-orang Yahudi berkata: ‘Uzair itu putera Allah’, dan orang Nashrani berkata: ‘Al Masih itu putera Allah’. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling? Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (At-Taubah: 30-31)
Ayat ini menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang musyrik (menyekutukan Allah) dan Allah menerangkan dalam banyak ayat lain yang dengan tegas mengkafirkan mereka.

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putera Maryam.” (Al-Maidah: 17, 72)

لَّقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ ۘ وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّا إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۚ وَإِن لَّمْ يَنتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: Bahwa Allah salah satu dari yang tiga, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” (Al-Maidah: 73)

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِن بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ

“Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Dawud dan ‘Isa putera Maryam.” (Al-Maidah: 78)

Ayat-ayat lain dalam masalah ini jumlahnya cukup banyak, demikian pula hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka barangsiapa yang mengingkari kafirnya Yahudi dan Nashrani yang tidak beriman kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebaliknya malah mendustakannya, berarti ia mendustakan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sedangkan mendustakan Allah adalah kekafiran. Barangsiapa yang ragu terhadap kekafiran Yahudi dan Nashrani maka tidak ada keraguan tentang kafirnya dia.
Subhanallah, bagaimana orang ini merasa ridha untuk mengatakan bahwa kita tidak boleh mengatakan kafir kepada Yahudi dan Nashrani, padahal mereka mengatakan bahwa Allah itu adalah tuhan ketiga dari tuhan yang (jumlahnya) tiga?! Padahal Pencipta mereka telah mengkafirkan Yahudi dan Nashrani.

Bagaimana ia tidak mau mengkafirkan Yahudi dan Nashrani padahal mereka mengatakan bahwa Al-Masih adalah putra Allah dan mengatakan tangan Allah itu terbelenggu? Juga mengatakan bahwa Allah faqir dan mereka kaya. Bagaimana ia tidak mau mengkafirkan Yahudi dan Nasrani padahal mereka mensifati Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sifat-sifat jelek yang semuanya adalah aib, celaan dan cercaan?
Saya mengajak orang ini untuk bertaubat kepada Allah dan membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ

“Maka mereka menginginkan supaya kamu bermudahanah lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).” (Al-Qalam: 9)

Jangan ia bermudahanah (mengorbankan prinsip agama demi menjaga perasaan mereka -pent) dengan Yahudi dan Nashrani dalam hal kekafiran mereka. Dan hendaknya ia menerangkan kepada setiap orang bahwa mereka adalah orang-orang kafir dan penghuni neraka. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: bersabda:

“Demi Dzat Yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, tidaklah dari umat ini baik Yahudi atau Nashrani mendengar tentang aku, kemudian dia mati dan tidak beriman kepada apa yang aku diutus dengannya kecuali ia termasuk ahli neraka.” (Shahih, HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)
Maka wajib atas orang yang mengucapkan ini (yaitu ucapan bahwa Yahudi dan Nashrani tidak kafir) untuk bertaubat kepada Allah dari ucapan dan kebohongan yang besar ini, dan agar mengatakan terang-terangan bahwa mereka adalah orang-orang kafir dan para penghuni neraka. Dan yang wajib bagi mereka adalah mengikuti Nabi yang ummi yaitu Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena (nama) beliau sesungguhnya telah tertulis di sisi mereka dalam kitabTaurat dan kitab Injil.

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِندَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنجِيلِ يَأْمُرُهُم بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ ۚ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنزِلَ مَعَهُ ۙ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka. Yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-A’raf: 157)
Itu adalah kabar gembira dari Nabi ‘Isa bin Maryam ‘alaihimassalam. ‘Isa bin Maryam ‘alaihimassalam telah berkata sebagaimana yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala kisahkan dalam Al Qur’an:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

“Dan (ingatlah) ketika ‘Isa Putra Maryam berkata: Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang bernama Ahmad (Muhammad). Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: Ini adalah sihir yang nyata.” (Ash-Shaff: 6)

Tatkala datang kepada mereka (seseorang) yang dikabarkan ia adalah Ahmad, dengan membawa al-bayyinat (keterangan-keterangan), mereka mengatakan: “Ini adalah sihir yang nyata.” Dengan ini kamu membantah pengakuan orang Nashrani yang mengatakan: “Sesungguhnya yang dikabarkan oleh ‘Isa adalah Ahmad bukan Muhammad.”
Maka kita katakan, “Sesungguhnya Allah berfirman yang artinya: “Maka tatkala datang kepada mereka.” Dan tidak ada yang datang setelah ‘Isa ‘alaihissalam kecuali Muhammad dan Muhammad adalah Ahmad akan tetapi Allah mengilhami Nabi ‘Isa ‘alaihissalam untuk menyebut Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan nama Ahmad. Karena Ahmad adalah ism tafdhil dari kata hamd. Jadi dia adalah orang yang sangat memuji Allah dan beliau adalah orang yang sifatnya paling terpuji.

Sungguh aku katakan, barangsiapa yang menganggap bahwa di muka bumi ini ada agama yang diterima oleh Allah selain Islam, maka dia kafir dan tiada keraguan tentang kekafirannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya:

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali Imran: 85)

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Al-Maidah: 3)
Atas dasar ini – saya ulangi yang ketiga kalinya – orang yang mengatakan hal ini agar bertaubat kepada Allah dan menerangkan kepada seluruh manusia bahwa Yahudi dan Nashrani adalah orang-orang kafir karena hujjah telah tegak pada mereka dan telah sampai kepada mereka risalah akan tetapi mereka kafir karena membangkang. Sungguh Yahudi telah disifati bahwa sebagai orang-orang maghdhub ‘alaihim (orang yang dimurkai) karena mereka mengetahui kebenaran namun menyelisihinya. Dan Nashara disifati dengan dhallun (sesat) karena menginginkan kebenaran tapi tersesat. Sekarang semua telah tahu yang benar akan tetapi mereka menyelisihinya, maka mereka semua berhak untuk menjadi orang-orang yang dimurkai.

Aku mengajak mereka, Yahudi dan Nashrani, untuk beriman kepada Allah dan kepada Rasul-Nya dan agar mengikuti Muhammad, karena inilah yang diperintahkan kepada mereka di dalam kitab-kitab mereka sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala firmankan:

فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُم بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِندَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنجِيلِ يَأْمُرُهُم

“Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami. (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka…” (Al-A’raf: 156-157)

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا

“Katakanlah: Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua.” (Al-A’raf: 158)
Hendaknya mereka mengambil dua pahala, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“Tiga golongan yang mereka mendapatkan dua pahala, (salah satunya yaitu) seseorang dari Ahlul Kitab yang beriman dengan Nabinya dan beriman dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam …” (Shahih, HR. Al-Bukhari dalam Kitabul ‘Ilm, no. 95)
Kemudian setelah keterangan ini aku mendapatkan ucapan penulis kitab Al-Iqna’ dalam Bab Murtad, beliau mengatakan setelah ucapannya yang sebelumnya: “… (seseorang) yang tidak mengkafirkan orang yang beragama selain Islam seperti Nashara, ragu terhadap kekafiran mereka, atau menganggap ajaran mereka adalah benar, maka dia kafir.”

Dinukilkan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah ucapan beliau: “Barangsiapa yang meyakini bahwa gereja-gereja adalah rumah Allah, bahwa Allah diibadahi di sana, dan yang dilakukan orang-orang Yahudi dan Nashara adalah ibadah dan (merupakan bentuk) ketaatan kepada Allah dan kepada Rasul-Nya, atau ia suka dengan hal itu, ridha terhadapnya, membantu mereka untuk melakukannya dan menegakkan mereka, dan (menganggap) bahwa itu merupakan bentuk pendekatan diri (qurbah) kepada Allah atau ketaatan kepada-Nya, maka dia kafir.”
Beliau juga mengatakan dalam kesempatan yang lain: “Barangsiapa yang menyakini bahwa mengunjungi ahludz dzimmah (orang kafir yang hidup di negeri muslim) di gereja-gereja mereka adalah merupakan qurbah kepada Allah, maka ia murtad.” Ini menguatkan apa yang kami katakan di awal jawaban dan ini merupakan perkara yang tidak ada kesamaran padanya. Wallahul musta’an.

Menghadiri Hari Raya non Muslim
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah ditanya tentang hukum berbaurnya muslimin dengan non muslim dalam acara hari raya mereka?
Jawab: Berbaurnya kaum muslimin dengan selain muslimin dalam acara hari raya mereka adalah haram, karena dalam perbuatan itu mengandung tolong menolong dalam hal perbuatan dosa dan permusuhan, sedangkan Allah berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksanya.” (Al Maidah: 2)
Dan karena perayaan perayaan ini jika bertepatan dengan acara-acara keagamaan mereka maka ikut serta dalam hal itu berarti membenarkan agama mereka dan ridha dengan apa yang mereka ada padanya dari kekafiran. Adapun jika perayaan itu bukan karena bertepatan dengan acara keagamaan mereka, seandainya ini dilakukan oleh muslimin saja hal itu tidak boleh, bagaimana bila dilakukan oleh orang kafir?! Oleh karenanya para ulama mengatakan bahwa tidak boleh bagi kaum muslimin untuk ikut bersama non muslim dalam acara hari raya mereka, karena hal itu berarti persetujuan dan ridha terhadap agama mereka yang batil. Juga terkandung di dalamnya adanya saling membantu dalam perbuatan dosa dan permusuhan.

Para ulama berbeda pendapat tentang seseorang non muslim yang menghadiahkan kepadamu sebuah hadiah berkaitan dengan hari raya mereka, apakah kamu boleh menerimanya atau tidak boleh?
Diantara ulama ada yang mengatakan tidak boleh menerima hadiah dari mereka pada acara hari raya mereka, karena ini adalah tanda kerelaan. Sebagian ulama yang lain ada yang mengatakan tidak mengapa untuk menerimanya. Bagaimanapun, jika di sana tidak ada larangan yang syar’i yang menjadikan orang yang memberimu hadiah meyakini bahwa kamu ridha terhadap ajaran agama mereka, maka tidak mengapa kamu menerimanya. Kalau tidak seperti itu, maka lebih utma untuk tidak menerimanya.
Ada baiknya kita menyebutkan apa yang ditulis oleh Ibnul Qayyim dalam dalam kitab Ahkam Ahlidzimmah (1/205): “Dan adapun memberikan ucapan selamat dengan syi’ar-syi’ar kekafiran yang khusus maka hal ini haram dengan kesepakatan ulama. Seperti memberikan ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seraya mengatakan: ‘Ied yang berkah’, atau memberikan ucapan selamat karena hari raya mereka dan sejenisnya, maka ucapan ini kalaupun dianggap tidak menyebabkan kafir, maka ini (memberi ucapan selamat pada hari raya mereka -red) termasuk sesuatu yang haram. Dan hal itu seperti halnya memberikan ucapan selamat atas sujud mereka kepada salib… dan banyak orang yang tidak menghargai agamanya jatuh dalam perbuatan itu.

Memberi Salam Kepada Non Muslim
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah kemudian ditanya tentang hukum memberi salam kepada non muslim.
Maka beliau rahimahullah menjawab: Memulai salam kepada mereka haram, tidak boleh dilakukan karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Jangan kalian mendahului Yahudi dan Nashrani dengan salam dan jika kalian bertemu mereka di jalan maka arahkan mereka ke (tempat) yang tersempit.” (Shahih, HR. Muslim)

Dalam kesempatan lain beliau –Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah – mengatakan: Jika ada orang kafir memberi salam kepada seorang muslim dengan salam yang jelas “Assalamu ‘alaikum,” maka kamu menjawab: “‘Alaikassalam” (atau “Wa ‘alaikumus salam” -pent) berdasarkan keumuman firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا

“Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.” (An-Nisa: 86)
Adapun jika tidak jelas ucapan salamnya maka kamu jawab: “Wa ‘alaik.” Demikian juga jika jelas mengatakan: “Assamu ‘alaikum,” yang artinya kematian atas kamu, maka dijawab: “Wa ‘alaik” (semoga atas kamu juga).
Wallahu a’lam.

(Diterjemahkan dari kumpulan fatwa beliau Majmu’ Fatawa jilid ketiga pada pembahasan Al-Wala’ wal Bara’ oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi Lc. Url sumber //www.asysyariah.com/print.php?id_online=190)

Sumber : https://salafy.or.id/blog/2005/12/13/kafirnya-nasrani-yahudi/

HADIRILAH TAUSIYAH BERSAMA AL USTADZ ABDURRAHMAN LOMBOK HAFIZHAHULLAH

*۝❝ بِسْـــــــــــــمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيـــــــــــــْمِ ❝۝*

┏━📢🔰━━━━━━━━━━━━┓
● *KABAR GEMBIRA* ●
┗━━━━━━━━━━━━🔰📢━

🌷 *_HADIRILAH TAUSIYAH _*

💺Bersama *al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman Lombok* hafizhahullahu Ta’ala pada :

📅 Besok Siang :
*_✔️Ahad_*
⏬⏬⏬⏬⏬⏬⏬
📎Tanggal *22 Rajab* 1439 H/ *8 April* 2018 M.
________________________
📎 *Taklim Umum* (ikhwah)
⏰ Jam : Ba’da Dhuhur s/d selesai.
📚 Materi : *Tematik*
🏠 Tempat : Masjid Khalid bin Walid – Ma’had Minhajus Sunnah Magelang

💐 _Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, *”Siapa saja yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah pasti mudahkan jalannya menuju Jannah (surga)”.*_ [ H.R. Muslim ]
___________________________

┏━📢🔰━━━━━━━━━━━━┓
● *Sampaikan info ini kepada yang lain*●
┗━━━━━━━━━━━━🔰📢━┛

 

📡 📻 *إن شاء الله*
*Kajian ini* akan disiarkan Live Streaming di *radio syiar Islam Magelang*

➖➖➖➖➖➖➖
🅾️ *IMS* / *I*khwah *M*agelang & *S*ekitar.

♻️ Join & ikuti chanel Ma’had Minhajus Sunnah :
✅ https://bit.ly/SyiarIslam
✅ https://tlgrm.me/salafymagelang
✅ http://salafymagelang.com

*Baarakallah fikum.*

Hukum Merayakan Valentine’s Day (‘Idul Hub)

Dalil-dalil yang tegas dari al-Qur ‘an dan as-Sunnah telah menunjukkan  – dan di atas inilah para Salaful Ummah telah bersepakat – bahwa hari perayaan (‘Id) dalam Islam hanya ada dua, yaitu : ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adh-ha. Adapun perayaan-perayaan selain kedua hari raya tersebut, baik perayaan  yang berkenaan dengan tokoh tertentu, atau kelompok, atau peristiwa penting, atau berkaitan dengan makna tertentu, maka itu semuanya ADALAH PERAYAAN-PERAYAAN YANG BID’AH, TIDAK BOLEH BAGI AHLUL ISLAM UNTUK MERAYAKANNYA, atau menyetujuinya, atau turut menampakkan rasa senang dengannya, tidak boleh pula turut membantu pelaksanaan perayaan tersebut sedikitpun. Karena itu termasuk TINDAKAN MELANGGAR BATAS-BATAS ALLAH. Barangsiapa yang melanggar batas-batas Allah maka dia telah MENZHALIMI DIRI SENDIRI.

Apabila ditambah, di samping perayaan yang diada-adakan (dalam agama), ternyata juga merupakan perayaan yang berasal dari perayaannya orang-orang kafir, maka itu adalah dosa ditambah dosa. Karena pada yang demikian itu terdapat tasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir dan ada unsur loyalitas/kecintaan kepada orang-orang kafir. Allah telah melarang kaum mukminin dari menyerupai orang-orang kafir dan dari loyal/cinta kepada orang-orang kafir dalam Kitab-Nya yang mulia. Juga telah sah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,

من تشبه بقوم فهو منهم

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari kaum tersebut.”

Valentin’s day termasuk dalam perayaan yang disebutkan di atas. Karena perayaan itu berasal dari perayaan-perayaan paganisme  Kristen. Maka tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir untuk ikut MERAYAKANnya, atau MENYETUJUInya, atau MENGUCAPKAN SELAMAT. Bahkan yang wajib adalah MENINGGALKAN dan MENJAUHInya, dalam rangka memenuhi (perintah) Allah dan Rasul-Nya, dan agar jauh dari sebab-sebab kemurkaan dan siksa-Nya.

Sebagaimana DILARANG pula atas seorang muslim untuk MEMBANTU pelaksanaan/penyelenggaraan perayaan tersebut (Valentin’s Day), atau perayaan-perayaan haram lainnya, dalam bentuk apapun, baik berupa makanan, minuman, jual beli, kerajinan tangan, hadiah, surat/pesan (SMS), pengumuman/iklan, dan yang lainnya. Karena itu semua termasuk bentuk Ta’awun (kerja sama/saling menolong) dalam dosa dan permusuhan. Allah Ta’ala berfirman,

وتعاونوا على البر والتقوى، ولا تعاونوا على الإثم والعدوان، إن الله شديد العقاب

“Saling menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketaqwaan, dan janganlah saling menolong dalam dosa dan permusuhan. Sesungguh Allah sangat keras adzab-Nya.

Wajib atas seorang muslim untuk BERPEGANG TEGUH KEPADA AL-QUR`AN DAN AS-SUNNAH dalam semua kondisinya.  Terlebih lagi pada masa-masa penuh fitnah dan banyaknya kerusakan. Hendaknya dia menjadi seorang yang jeli dan waspada dari terjatuh kepada kesesatan-kesesatan orang-orang yang dimurkai (oleh Allah), orang-orang tersesat dan fasik, yang tidak percaya akan kebesaran Allah, dan sama sekali tidak peduli terhadap Islam.

Hendaknya setiap muslim kembali kepada Allah, dengan mengharap dari-Nya hidayah-Nya dan kokoh di atas hidayah tersebut. sesungguh tidak ada yang memberi hidayah dan mengokohkan di atas-Nya kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala

وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم.

Al-Lajnah ad-Da`imah

__________________________________________________________________________________________

Merayakan Valentin’s Day TIDAK BOLEH karena beberapa alasan:

Pertama, itu adalah perayaan bid’ah, yang tidak ada dasarnya dalam syari’at.

Kedua, perayaan tersebut menyeret kepada cinta birahi dan mabuk cinta

Ketiga, perayaan tersebut menyeret untuk menyibukkan hati dengan perkara-perkara konyol dan sia-sia, yang bertentangan dengan bimbingan para Salafush Shalih radhiyallahu ‘anhum.

Maka TIDAK HALAL untuk diperbuat pada hari raya tersebut sedikitpun dari syi’ar-syi’ar ‘Id (hari perayaan), baik dalam makanan, minuman, pakaian, ataupun hadiah-hadiah dan yang lainnya.

Setiap muslim hendaknya merasa mulia dengan agamanya, jangan menjadi orang plin-plan yang mengikuti setiap teriakan.

Aku memohon kepada Allah agar melindungi kaum muslimin dari berbagai fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi, dan agar mengurusi kita dengan pengaturan-Nya dan taufiq-Nya.

Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin

Sumber: http://www.manhajul-anbiya.net/hukum-merayakan-valentines-day/

Tanya Jawab Seputar Khitan

Hukum Khitan

Fadhilatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya tentang hukum khitan. Beliau menjawab sebagai berikut.

Khitan adalah salah satu sunanul fitrah[1] dan salah satu bentuk syiar kaum muslimin, berdasarkan dalil yang ada dalam Shahihain dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

.الْفِطْرَةُ خَمْسٌ: الْخِتَانُ، وَالْإِسْتِحْدَادُ، وَقَصُّ الشَّارِبِ، وَتَقْلِيْمُ الْأَظْفَارِ، وَنَتْفُ الْإِبْطِ

“Fitrah itu ada lima: khitan, mencukur rambut kemaluan, memendekkan kumis, memotong kuku, dan mencabut rambut ketiak.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengawalinya dengan khitan dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam beritakan bahwa hal itu merupakan salah satu sunanul fitrah.

Khitan yang syar’i dilakukan dengan memotong qulfah (kulit) yang menutupi ujung zakar saja. Adapun mengelupaskan seluruh kulit yang menutupi zakar atau menguliti zakar sebagaimana yang terjadi di sebagian negeri, karena menyangka–dengan kebodohan mereka–bahwa inilah khitan yang disyariatkan. Sesungguhnya perbuatan seperti ini adalah syariat yang dibuat oleh setan. Setan menampakkan hal ini sebagai sesuatu yang bagus di hadapan orang-orang yang belum memahami ilmu agama.

Selain itu, ini adalah penyiksaan terhadap orang yang dikhitan, menyelisihi sunnah yang diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam , dan menyelisihi syariat Islam yang identik dengan kemudahan, kelapangan, serta penjagaan terhadap nyawa manusia.

Perbuatan semacam ini haram dari beberapa sisi, di antaranya sebagai

berikut.

  1. As-Sunnah menjelaskan khitan dengan memotong kulit yang menutupi kepala zakar saja.
  2. Perbuatan menyiksa dan mencacati seseorang.

Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang perbuatan mencacati, menawan, menelantarkan hewan, atau memotong anggota badannya hidup-hidup. Tentu menyiksa Bani Adam lebih utama dan lebih keras keharamannya.

  1. Perbuatan ini bertentangan dengan perintah untuk berbuat ihsan dan kasih sayang, yang dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,

.إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ

“Sesungguhnya Allah telah menetapkan ihsan atas segala sesuatu.”

  1. Perbuatan ini terkadang mengakibatkan pendarahan dan kematian orang yang dikhitan. Karena itu, tidak boleh dilakukan.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَا تُلۡقُواْ بِأَيۡدِيكُمۡ إِلَى ٱلتَّهۡلُكَةِ

“Janganlah kalian lemparkan diri-diri kalian ke dalam kebinasaan.”

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

وَلَا تَقۡتُلُوٓاْ أَنفُسَكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُمۡ رَحِيمٗا ٢٩

“Dan janganlah kalian bunuh diri-diri kalian, sesungguhnya Allah Maha Penyayang terhadap kalian.” (An-Nisa’: 29)

Oleh karena itu, para ulama menyatakan bahwa tidak wajib khitan syar’i atas orang yang telah dewasa apabila dikhawatirkan akan terjadi hal-hal semacam ini.

Adapun mengadakan resepsi dengan mengundang tamu laki-laki dan perempuan pada hari yang telah ditentukan untuk menghadiri acara khitan, lantas si anak diminta berdiri dihadapan mereka semua dalam keadaan terbuka auratnya, hal ini haram. Sebab, dalam acara seperti ini ada penyingkapan aurat, sementara agama Islam memerintahkan umatnya untuk menutup aurat dan melarang menyingkapkannya.

Begitu pula ikhtilath (campur-baur) antara tamu laki-laki dan perempuan dalam acara seperti ini tidaklah diperbolehkan, karena akan menimbulkan fitnah dan menyelisihi syariat yang suci ini. (Majmu’ Fatawa Ibni Baz, 4/424)

Khitan Anak Perempuan

Fadhilatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya sebagai berikut.

“Sebagian negara Islam melakukan khitan pada anak perempuan, karena meyakini bahwa hal ini wajib atau sunnah. Sebuah majalah bahkan mempersiapkan artikel yang membahas hal ini, karena memandang pentingnya mengetahui pandangan syari’at tentang hal ini. Oleh karena itu, kami memohon kepada Anda agar memberikan penerangan tentang pandangan syari’at akan hal ini.”

Beliau rahimahullah menjawab, “Wa‘alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh.

Khitan pada anak perempuan merupakan sunnah sebagaimana khitan pada anak laki-laki, dengan syarat jika didapati orang yang dapat melakukannya; baik dokter laki-laki maupun perempuan. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الفِطْرَةُ خَمْسٌ: الْخِتَانُ، وَالْإِسْتِحْدَادُ، وَقَصُّ الشَّارِبِ، وَتَقْلِيْمُ الْأَظْفَارِ، وَنَتْفُ الْآبَاطِ

“Fitrah itu ada lima: khitan, mencukur rambut kemaluan, memotong kumis, memotong kuku, dan mencabut rambut ketiak.”

Hadits ini disepakati kesahihannya.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan taufik kepada kita semua untuk melaksanakan segala sesuatu yang membuat-Nya ridha.

Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh. (Majmu’ Fatawa Ibni Baz, 10/46)

Mencukur Rambut Bayi Perempuan setelah Lahir

Samahatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya tentang khitan dan mencukur rambut bayi perempuan setelah lahir.

Beliau menjawab, “Yang disunnahkan hanyalah mencukur rambut bayi laki-laki ketika dia diberi nama pada hari ketujuh. Adapun bayi perempuan tidak dicukur rambutnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

.كُلُّ غُلاَ مٍ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيْقَتِهِ تُذْبَحُ عِنْدَ يَوْمِ سَابِعِهِ، وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى

“Setiap bayi laki-laki tergadai dengan akikahnya hingga disembelih (hewan sembelihan –pent.) pada hari ketujuh kelahirannya, dicukur (rambutnya), dan diberi nama.” (HR. Ahmad dan ashabus sunan yang empat dengan sanad yang hasan)

Adapun khitan bagi anak perempuan, hal ini disenangi, tetapi tidak wajib. Hal ini berdasarkan keumuman hadits yang ada, seperti sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

.خَمْسٌ مِنَ الفِطْرَةِ: الْخِتَانُ، وَالْإِسْتِحْدَادُ، وَنَتْفُ الْإِبْطِ، وَتَقْلِيْمُ الْأَظْفَارِ، وَقَصُّ الشَّارِبِ

“Lima hal yang termasuk fitrah: khitan, mencukur rambut kemaluan, mencabut rambut ketiak, memotong kuku, dan memotong kumis.”

Hadits ini disepakati kesahihannya.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan taufik kepada kita semua pada segala yang diridhai-Nya. Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh. (Majmu’ Fatawa Ibni Baz, 10/47)

Menindik Telinga dan Hidung Anak Perempuan

Pernah ditanyakan kepada Lajnah ad Daimah lil Buhuts al ‘Ilmiyyah wal Ifta’, “Apakah boleh menindik telinga anak perempuan untuk memasang anting?”

Al-Lajnah menjawab,

“Hal ini boleh dilakukan karena tujuannya ialah berhias, bukan untuk menyakiti atau mengubah ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala. Sebab, hal ini telah dikenal pula semenjak masa jahiliah dan semasa hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam , dan beliau tidak melarangnya. Bahkan, disetujui oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau radhiallahu ‘anhum .

Hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala kita memohon taufik. Semoga shalawat dan salam Allah subhanahu wa ta’ala limpahkan kepada Nabi kita, Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya.” (Fatawa al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-‘Ilmiyyah wal Ifta’, no. 4084)

Ditanyakan pula kepada Fadhilatusy Syaikh al-‘Utsaimin tentang hukum menindik telinga atau hidung anak perempuan untuk berhias.

Beliau menjawab, “Yang benar, tidak mengapa menindik telinga, karena tujuan yang hendak didapat adalah untuk berhias yang mubah. Telah pasti pula bahwa wanita para sahabat memiliki anting yang dikenakan di telinga mereka. Kalaupun ini tindakan menyakiti, sifatnya ringan. Jika ditindik pada saat masih kecil, cepat sembuhnya.

Adapun menindik hidung, aku tidak ingat ada pembahasan ulama dalam permasalahan ini. Namun, hal ini mengandung perbuatan mencacati dan menjelekkan penciptaan, menurut pandangan kami. Akan tetapi, mungkin ada (ulama –pen.) selainku yang berpandangan lain.

Apabila memang wanita itu tinggal di suatu negeri yang menganggap memakai perhiasan di hidung adalah bentuk berhias dan berdandan, tidak mengapa menindik hidungnya untuk menggantungkan antingnya. (Majmu’ Fatawa wa Rasa’il, 11/137)

(Dinukil dan diterjemahkan oleh Ummu Abdirrahman dengan sedikit penyesuaian dari Fatawa Tarbiyatil Aulad, al-Qismu al-‘Ilmi Darul Ikhlash wash-Shawab, cet. 2, 1435H/2014M, hlm. 7—12)


[1] Sunanul fithrah disebut juga khishalul fithrah (perangai-perangai fitrah). Disebut demikian karena orang yang melaksanakannya memiliki sifat sebagaimana fitrah yang Allah subhanahu wa ta’ala ciptakan manusia di atas fitrah tersebut dan Allah subhanahu wa ta’ala jadikan mereka senang dengan fitrah tersebut, agar manusia berada dalam keadaan yang paling baik dan bentuk yang paling sempurna. (al-Fiqhul Muyassar, hlm.14)

Sumber: http://asysyariah.com/tanya-jawab-seputar-khitan/

61 Tahun Kerja Sama Indonesia dan Kerajaan Arab Saudi

Patut kita syukuri, Indonesia adalah negara maritim di Asia Tenggara yang memiliki banyak pulau. Bangsa Indonesia sendiri adalah bangsa yang dinamis, multietnis, tetapi memiliki karakter dasar yang cinta damai, gotong royong, dan menjunjung tinggi cita-cita kemerdekaan bagi seluruh bangsa di muka bumi.

Dengan demikian, potensi  sumber daya manusia yang baik dan perkembangan hubungan sosial masyarakat  serta peta pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tataran tertentu di masa kini dan yang akan datang tentunya juga akan dipengaruhi oleh rasa cinta damai dan kebersamaan dalam membangun,  yang merupakan karakter dasar masyarakat Indonesia senang bersahabat dengan bangsa lainnya.  Sejarah pun telah mencatat dengan tinta emas tentang Indonesia dan persahabatannya dengan negara-negara yang cinta damai hingga kini.

Hubungan Indonesia dan Arab Saudi akan memasuki babak baru

Hubungan Indonesia dan Arab Saudi akan memasuki babak baru setelah 61 tahun kerja sama kedua negara. Berbagai kerja sama telah dilalui, terutama di bidang pendidikan, keagamaan, dan ekonomi. Bahkan, pada 2017 ini, kunjungan resmi kenegaraan yang dilakukan Raja Salman ke Indonesia akan diiringi oleh rombongan besar anggota parlemen antara 800-900 personel. Kunjungan yang dijadwalkan pada 1-9 Maret 2017, insya Allah akan disambut Presiden Joko Widodo dengan penuh kehangatan guna meningkatkan hubungan baik dan kerja sama antara kedua negara.

Kedutaan Besar Arab Saudi menyatakan, maksud kedatangan Raja Salman pada 1-9 Maret 2017 adalah memenuhi undangan Presiden Jokowi. Ini merupakan kunjungan balasan setelah Presiden Jokowi mengunjungi Raja Salman pada 2015.

Pada 2015 yang lalu Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Musthafa Ibrahim Al-Mubarak, mengatakan, “Khusus untuk kerja sama pendidikan, setiap tahun Pemerintah Arab Saudi memberikan beasiswa kepada mahasiswa Indonesia untuk kuliah di Arab Saudi, mulai dari level S1 hingga jenjang S2 dan S3. Setiap tahun diberikan 200 beasiswa kepada mahasiswa Indonesia di Universitas Islam Madinah, dan 250 mahasiswa Indonesia di berbagai disiplin ilmu di seluruh universitas dan jurusan, kecuali kedokteran.”

Setelah 61 tahun, kini Arab Saudi dan Indonesia menjalani kemesraan yang indah dalam kerja sama yang sangat baik itu. Tentu saja pola kebijakan dan kerja sama diharapkan akan semakin meningkat dan konsisten. Bangsa Indonesia yang memiliki populasi umat Islam terbesar di dunia saat ini sangat berkepentingan untuk menjalan ibadah haji setiap tahun dan ibadah umrah, sebagai pengejawantahan murni dari nilai-nilai keislaman dan keimanan yang baik pula. Manajemen dan pengelolaan prosesi ibadah haji yang terlaksana dengan penuh hikmat, kepercayaan yang tinggi, dan rasa aman yang terpelihara dengan baik, di antara sebabnya -setelah pertolongan dan taufik dari Allah- adalah baiknya pengelolaan keamanan dari raja-raja Saudi terdahulu hingga kini saat Raja Salman berkuasa.

Hubungan kedua negara telah berlangsung sangat lama dan memiliki nilai sejarah yang apik dimulai sejak 61 tahun yang lalu. Hal itu tidak bisa lepas dari ikatan emosional yang kuat dan peran agama Islam yang melekat dalam prinsip dasar ukhuwah Islamiah antara bangsa Indonesia dan bangsa Arab dalam peran sertanya membangun masyarakat dunia yang beradab. Pada 1924, pendiri Kerajaan Arab Saudi, Raja Abdul Aziz ibnu Muhammad ibnu Al-Saud, mengirim utusan untuk mencari tahu tentang kondisi Indonesia – yang saat itu belum merdeka—kemudian mengunjungi saudara-saudaranya di Indonesia.

Setelah berita proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 1945, Raja Abdul Aziz Al-Saud menyatakan kegembiraannya. Bahkan, beliau mengumumkannya pada saat musim haji ke masyarakat internasional yang hadir saat itu (haji). “Kita salah satu negara pertama yang buka kedutaannya di Indonesia,” ungkap King Abdul Aziz pada saat itu, kemudian pada 1948 Pemerintah Arab Saudi membuka perwakilan khusus di Jakarta. Pada 1955 Kerajaan Arab Saudi membuka kedutaan resmi di Jakarta, dan Indonesia saat itu juga membuka kedutaannya di Arab Saudi.

*) ditulis ulang dari berbagai sumber oleh amh

sumber: http://serambiharamain.com/61-tahun-kerja-sama-indonesia-dan-kerajaan-arab-saudi/

MACAM-MACAM KRITIKAN TERHADAP PEMERINTAH MENURUT SALAFIYYUN

MACAM-MACAM KRITIKAN TERHADAP PEMERINTAH MENURUT SALAFIYYUN

Asy-Syaikh Muhammad Bazmul hafizhahullah berkata:

ﺇﺫﺍ ﺍﻧﺘﻘﺪﺕ ﻭﻟﻲ ﺍﻷﻣﺮ ﺃﻭ ﺃﻱ ﻣﺴﺆﻭﻝ ﻭﺯﻳﺮ ﺃﻭ ﻣﺪﻳﺮ ﺩﺍﺋﺮﺓ ﺃﻭ ﻣﻨﺸﺄﺓ ﺣﻜﻮﻣﻴﺔ ﻻ ﻳﺨﻠﻮ ﺍﻷﻣﺮ ﻣﻦ ﻋﺪﺓ ﺃﺣﻮﺍﻝ:
ﺍﻟﺤﺎﻝ ﺍﻷﻭﻟﻰ: ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻧﻘﺪﻙ ﻟﻪ ﺑﺤﻖ ﻭﻟﻜﻦ ﻓﻲ ﻏﻴﺒﺘﻪ؛ ﻓﻬﺬﺍ ﺍﻟﻨﻘﺪ ﻏﻴﺒﺔ ﺣﺮﺍﻡ.
ﺍﻟﺤﺎﻝ ﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ: ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻧﻘﺪﻙ ﺑﻐﻴﺮ ﺣﻖ ﻓﻬﺬﺍ ﺑﻬﺖ ﻭﻛﺬﺏ؛ ﻓﻬﺬﺍ ﺣﺮﺍﻡ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ.
ﺍﻟﺤﺎﻝ ﺍﻟﺜﺎﻟﺜﺔ: ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻧﻘﺪﻙ ﺑﺤﻖ ﻭﻓﻲ ﻣﺠﻠﺴﻪ ﺃﻣﺎﻡ ﺍﻟﻨﺎﺱ؛ ﻓﻬﺬﻩ ﻓﻀﻴﺤﺔ ﻟﻴﺴﺖ ﺑﻨﺼﻴﺤﺔ.
ﺍﻟﺤﺎﻝ ﺍﻟﺮﺍﺑﻌﺔ: ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻧﻘﺪﻙ ﻟﻪ ﺑﺤﻖ ﻭﻗﺪﻣﺘﻪ ﻟﻪ ﺳﺮﺍ ﻓﻲ ﺧﺎﺻﺔ ﻧﻔﺴﻪ ﺩﻭﻥ ﺗﺸﻬﻴﺮ ﻭﻟﻴﺲ ﺃﻣﺎﻡ ﺍﻟﻨﺎﺱ، ﻓﻬﺬﻩ ﻧﺼﻴﺤﺔ ﺗﺒﺮﺃ ﺑﻬﺎ ﺫﻣﺘﻚ ﻭﺗﺆﺟﺮ ﻋﻠﻴﻬﺎ.
ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻤﻮﻓﻖ.

“Jika engkau mengkritik pemerintah, atau seorang penanggungjawab seperti menteri, kepala daerah, atau lembaga pemerintah, maka perkaranya tidak lepas dari beberapa keadaan:

Pertama: Kritikanmu benar, tetapi dilakukan tidak di hadapannya, maka kritikan semacam ini merupakan ghibah yang itu diharamkan.

Kedua: Kritikanmu tidak benar, maka ini merupakan hal yang diada-adakan dan dusta, sehingga kritikan semacam ini haram.

Ketiga: Kritikanmu benar dan di majelisnya, namun di hadapan orang lain, maka ini namanya membongkar aib, dan bukan nasehat.

Keempat: Kritikanmu benar, engkau sampaikan secara diam-diam langsung kepada yang bersangkutan, tanpa menyebarkannya, dan tidak dilakukan di hadapan orang lain, maka ini merupakan nasehat yang membebaskan tanggung jawabmu dan engkau mendapatkan pahala atasnya.

Hanya Allah saja yang memberi taufiq.”

? Sumber || https://twitter.com/momalbaz/status/823924011201662976

Sumber: http://forumsalafy.net/macam-macam-kritikan-terhadap-pemerintah-menurut-salafiyyun/

BOLEHKAH MENYEBARKAN BERITA KELAHIRAN DI INTERNET ATAU DI MEDIA SOSIAL

BOLEHKAH MENYEBARKAN BERITA KELAHIRAN DI INTERNET ATAU DI MEDIA SOSIAL?

Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad hafizhahullah

Pertanyaan: Fadhilatusy Syaikh, semoga Allah senantiasa mencurahkan kebaikan-Nya kepada Anda, saya diberi rezeki berupa anak yang baru lahir, apakah boleh bagi saya untuk menyebarkan berita tentang hal itu di internet atau facebook, agar bayi saya tersebut didoakan?

Jawaban: Tidak boleh sama sekali, engkau doakan sendiri untuknya dan keluarganya hendaknya mendoakan untuknya, dan jangan engkau sibukkan dirimu dengan hal-hal semacam ini. Jangan sampai semua orang yang dikaruniai anak lalu menulis beritanya di internet.

? Syarh Shahih Muslim, bab Fadhl Binail Masajid wal Hatstsu Alaiha, 17/6/1435 H

السؤال: فضيلة الشيخ أحسن الله إليكم: رزقت بمولود، فهل يجوز لي نشر خبر ذلك في الشبكة العنكبوتية أو الفيس بوك ليدع له؟

الجواب: لا أبدا، لا تفعل، أدع له أنت ويدعو له أهله، ولا تشغل نفسك بهذه الأمور، كل من يولد له مولود يروح يخطه في الشبكة.

? Sumber || https://goo.gl/IoFp59

Sumber: http://forumsalafy.net/bolehkah-menyebarkan-berita-kelahiran-di-internet-atau-di-media-sosial/