Suatu hari di masjid raya negeri Fusthat,wilayah Mesir.Seorang ulama terkenal bernama Abul Fadhl Al Jauhari sedang menyampaikan ilmu agama untuk khalayak ramai.Di dalam kesempatan tersebut,Al Jauhari menjelaskan bahwa Rasulullah pernah menjatuhkan talak,mengucapkan dzihar dan melakukan ii’la’.rnrn rnrnSetelah keluar meninggalkan masjid,Al ‘Utsmani bersama satu rombongan orang lantas mengikuti Al Jauhari dari belakang,sampai ke rumahnya.Mereka dipersilahkan masuk.Setelah berbincang-bincang dan tamu-tamu telah beranjak pamit,Al Jauhari memberi kesempatan kepada Al ‘Utsmani untuk berbicara.rnrn“Hari ini,saya menghadiri majlis Anda.Saya mendengar Anda menerangkan bahwa Rasulullah pernah melakukan ii’la’ dan menjatuhkan talak,hal ini benar.Namun,Anda juga mengatakan bahwa Rasulullah mengucapkan dzihar,padahal hal ini tidak pernah terjadi.Sebab,dzihar itu termasuk ucapan mungkar dan dusta.Jadi,tidak mungkin hal ini terjadi pada diri Rasulullah”,Al ‘Utsmani berterus terang.rnrnSaat itu juga,Al Jauhari memeluk Al ‘Utsmani dan mencium kepalanya.rnrnAl Jauhari menyatakan,”Sejak detik ini,saya bertaubat dari pendapat tersebut.Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan,atas teguran ini”rnrnKeesokan harinya,sebagaimana biasa,Al Jauhari menyampaikan ilmu untuk khalayak ramai di masjid raya Fusthat.rnrnDalam kesempatan tersebut,Al Jauhari mengumumkan rujuknya dari pendapat yang disampaikaya pada hari sebelumnya.Sekaligus beliau memuji Al ‘Utsmani.rnrn“Saya adalah guru kalian.Namun,orang ini (Al ‘Utsmani) adalah guruku.Kemarin,saya menyatakan bahwa Rasulullah pernah melakukan iila’,menjatuhkan talak dan mengucapkan dzihar.Namun,tidak ada seorang pun dari kalian yang menegur”,kata Al Jauhari.rnrnKemudian Al Jauhari menceritakan ulang tentang kejadian kemarin bersama Al ‘Utsmani .rnrnAl Jauhari lalu menutup pembicaraan di majlis tersebut dengan berkata,”Saya menyatakan taubat dari pendapat kemarin dan saya rujuk kepada kebenaran.Barangsiapa yang kemarin hadir,janganlah ia berpendapat demikian! Barangsiapa yang hari ini tidak hadir,hendaknya diberitahu oleh yang hadir.Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan”rnrnSubhaanallah!rnrnPelajaran penting dan berharga! Berani mengaku salah adalah sifat terpuji.Siap untuk merujuk kepada kebenaran merupakan akhlak mulia.Hanya hamba yang berjiwa besar saja yang mampu melakukaya.rnrnMemang berat,bukan? Walaupun demikian,marilah kita belajar dan berlatih untuk selalu siap mengaku salah.Buang rasa malu dan sungkan sejauh-jauhnya! Mendahulukan ego tidak akan membawa manfaat.AstaghfirullahrnrnSetelah membawakan kisah di atas,Ibnul ‘Arabi menasehati,”Perhatikanlah! Semoga Allah merahmati kalian.Perhatikanlah agama yang kokoh ini! Juga sikap hormat kepada ilmu dan ahlul ilmi! Di hadapan khalayak ramai,seorang ulama yang berkedudukan tinggi dan telah terkenal kemuliaaya,menerima kebenaran dari seseorang yang asing dan tidak diketahui dari mana asalnya! Teladanilah beliau,pasti kalian akan memperoleh petunjuk!”rnrn rnrnIila’ : Sumpah seorang suami untuk tidak mendekati istrinya.Waktunya tidak boleh lebih dari empat bulanrnrnDzihar : Ucapan seorang suami kepada istrinya,”Punggungmu seperti punggung Ibuku!”rnrnSumber : http://tashfiyah.net/berani-mengaku-salah/rnrn