rnrnDitulis oleh: Al Ustadz Idral Harits HafizhahullohrnrnBismillah.rnrnAllah Ta’ala berfirman Ali ‘Imran 179 :rnمَا كَانَ اللَّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَىٰ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتَّىٰ يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ ۗ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى الْغَيْبِ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَجْتَبِي مِنْ رُسُلِهِ مَنْ يَشَاءُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۚ وَإِنْ تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوا فَلَكُمْ أَجْرٌ عَظِيمٌ
rn“Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin). Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala yang besar.”rnrnSyaikh As-Sa’di menerangkan :rnrnTidaklah ada dalam hikmah Allah, membiarkan kaum mukminin sebagaimana kamu saat ini, yaitu bercampur aduk, tanpa ada perbedaan sama sekali, hingga Allah memisahkan yang baik dari yang buruk, memisahkan mukmin dari munafik, dan yang jujur dari yang dusta.rnrnKarena itu, sesuai dengan hikmah Allah yang nyata, Dia memberi ujian kepada hamba-Nya, dengan berbagai hal yang akan memisahkan yang buruk dari yang baik. Maka Allah utus para Rasul-Nya dan memerintahkan mereka taat dan tunduk serta beriman kepada para Rasul itu. Akhirnya, manusia terbagi menjadi dua golongan, sesuai dengan sikap ittiba’ mereka kepada para Rasul tersebut, yaitu; mereka yang taat dan mereka yang durhaka.rnrnDan ada di manakah kita? Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyatakan bahwa yang taat kepada beliau akan masuk surga, sedangkan yang enggan masuk surga adalah mereka yang durhaka kepada beliau.rnrnRasulullah sudah mengingatkan pula agar kita berpegang dengan suah beliau dan suah khulafaurrasyidin yang terbimbing.rnrnKemudian, marilah kita camkan firman Allah Ta’ala dalam surat An-Nisa 115 :rnومن يشاقق الرسول من بعد ما تبين لهم الهدى ويتبع غير سبيل المؤمنين نوله ما تولى و نصله جهنم وساءت مصيرا…
rn“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahaam, dan Jahaam itu seburuk-buruk tempat kembali…”rnrnOrang mukmin yang pertama kali dituju dalam ayat ini adalah para sahabat, adapun jalan mereka di sini meliputi akidah dan amalan mereka. Dan jalan mereka itu sudah jelas, seterang cahaya siang, orang-orang yang menelusurinya juga sudah jelas, bahkan kita tidak dibiarkan meraba-raba jalan tersebut. Karena para pewaris mereka ada di hadapan kita, yaitu para ulama rabbani.rnrnKarena itu alangkah pantas kita ingat kata-kata Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu :rnاتبعوا ولا تبتدعوا، قد كفيتم…
rn“Ikutilah oleh kamu, dan janganlah kamu mengada-adakan bid’ah, sungguh kamu sudah dicukupi…”rnrnApakah kita belum merasa cukup dengan apa yg membuat para sahabat cukup? Semoga Allah merahmati Imam Malik yang mengatakan :rnلن يصلح آخر هذه الأمة إلا بما صلح به أولها…
rn“Tidaklah akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan apa yang telah membuat baik generasi awalnya…”rnrnDengan satu ayat mereka disadarkan, saat mereka dilanda duka kehilangan orang yang sangat dicintai, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.rnrnDengan satu hadits, selesailah keributan di antara mereka dalam menentukan siapa yang akan menggantikan Rasulullah mengurusi kaum muslimin.rnrnSubhanallahi. Kita salafiyyun, di hadapan kita ada ulama rabbani, waliduna al ‘allamah Rabi’ bin Hadi hafizhahullah, beliau selalu mengikuti perkembangan dakwah salafiyah di tanah air sejak hampir seperempat abad. Bahkan beliau sangat memahami hampir semua persoalan yang ada dalam perjalanan dakwah ini, baik yang terkait dengan dakwahnya maupun sebagian pengusungnya. Itulah karunia Allah buat salifiyin.rnrnBeliau telah dan sejak dahulu menyampaikan nasehatnya buat kita salafiyin, terakhir dengan tahdzir tersebut.rnrnKalaupun diingkari, dan dibantah, sesungguhnya itu adalah nasehat berharga, tidak ingatkah kita dengan kasus Ka’b bin Malik dan dua sahabat utama laiya? Jelas mereka radhiyallahu ‘anhum bukan munafik, tetapi diboikot selama 50 hari 50 malam, sampai bumi terasa sempit padahal begitu luasnya, bahkan jiwa mereka sesak, dalam keadaan tidak ada selama ini tanda nifak pada diri mereka.rnrnSementara di hadapan kita, tersebar kenyataan adanya penyimpangan dan pemalsuan bahkan kedustaan sehingga sangat layak untuk dibeberkan?rnManakah yang lebih layak diboikot, dihajr atau dijauhi? Oleh sebab itu, salafiyin hendaklah jujur dalam menilainya, hendaklah kita bertaubat kepada Allah, dengan jujur, karena jujur adalah pilihan orang yang mulia dan merdeka.rnrnBisa jadi kekeruhan yang kita lihat ini karena dosa yang kita lakukan, maka bersegeralah bertaubat kepada Allah. Lebih-lebih mereka yang ditahdzir.rnKeikhlasan adalah kunci semua itu. Siapa yang niatnya ikhlas dalam al-haq, meskipun terhadap dirinya, niscaya Allah cukupi antara dia dan manusia. Siapa yang berhias dengan apa yang tidak ada padanya, Allah tentu membuatnya buruk.rnrnSeorang hamba, jika dia ikhlas karena Allah Ta’ala, tujuan dan cita-citanya adalah mengharapkan wajah Allah semata, niscaya Allah pasti bersamanya. Karena itu, jika seseorang melaksanakan yang haq terhadap orang lain dan dirinya lebih dahulu, dan semua itu dengan pertolongan Allah dan karena Allah, tidak ada yang dapat mengalahkaya, meskipun langit dan bumi bersatu melakukan makar terhadapnya.rnrnSebaliknya, jika seseorang berada dalam kebatilan, dia tidak akan ditolong, dan seandainya ditolongpun kesudahaya yang baik tidak akan diraihnya. Bahkan dia akan terhina dan tercela.rnrnSemoga nukilan ini bermanfaat.rnrn rnrnSumber : Forum Salafy