SATU KEHARAMAN AKAN MENYERET KEPADA YANG LAINNYA, HENTIKAN DENGAN ISTIGHFAR DAN TAUBAT

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah

[PERTANYAAN:]

يُحفظ عن بعض الصالحين عبارة مفادها أن المعصية تقول: (أختي.. أختي، والحسنة تقول: أختي.. أختي)، هل تتفضلون بشرح هذه العبارة، سماحة الشيخ؟

“Dilestarikan dari sebagian ucapan orang shalih yang kandungan faidahnya bahwa:

“Maksiat itu menyeru “Saudaraku, saudaraku (datanglah)!”
Dan kebaikan itu berucap (mengundang), ”Saudaraku, saudaraku!”

Apakah Anda berkenan menerangkan arti ucapan ini wahai Syaikh yang mulia?”

 

[JAWABAN:]

“Ya, telah datang dari sebagian salaf dengan makna ini. Dan ada lafal lainnya:

إن من ثواب الحسنةِ الحسنة بعدها، ومن عقاب السيئةِ السيئة بعدها.

“Sungguh diantara ganjaran dari suatu amalan kebaikan adalah amalan kebaikan yang berikutnya. Dan termasuk hukuman suatu amalan jelek adalah amalan jelek yang selanjutnya”.

Maksudnya :

Bahwa seorang mukmin sepatutnya untuk bersungguh-sungguh dalam melanjutkan amalan kebaikan dan amalan shalih dan benar-benar serius dalam perkara tersebut sehingga menjadi kebiasaan untuknya.

Dan jika terjatuh dalam suatu kejelekan maka hati-hatilah untuk ia menyambungnya dengan kejelekan lainnya. Hendaknya ia bertaubat dan bersegeralah bertaubat sehingga tidak muncul amalan jelek lainnya dan yang ketiga dst. Karena syaithan sungguh akan menyeretnya kepada kejelekan. Dan apabila ia telah terjatuh dalam suatu kejelekan, ia akan menariknya kepada amalan jelek lainnya.

Adapun malaikat, ia akan mendorongnya kepada amalan kebaikan. Apabila ia melakukan suatu kebaikan maka malaikat akan mendiktenya kepada kebaikan lainnya.

Sehingga ia -dalam kondisi ini- bersungguh-sungguh dalam melanjutkan amalan-amalan kebaikan dan memperbanyak dari berdzikir kepada Allah serta berhati-hati dari hal-hal yang menyibukkan (dari mengingat Allah) dan perbuatan-perbuatan jelek. Saat ia telah melakukan suatu kejelekan maka ia berhati-hatilah dan bertaubatlah serta awas dari melanjutkannya dengan kejelekan yang lainnya.”

Pembaca acara: “Semoga Allah membalas kebaikan dan berbuat baik kepada Anda.”

Alih Bahasa:
Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafizhahullah

Sumber:
– http://bit.ly/2V188FI

••••
@ForumBerbagiFaidah [FBF]
www.alfawaaid.net
www.ilmusyari.com

Diantara Tanda Kebahagiaan dan Tanda Kesengsaraan, Yang Manakah Kita?

Al-Imam al-Ajurri rahimahullah meriwayatkan, bahwa Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

إن الله لما خلق آدم عليه السلام مسح ظهره فأخرج منه ما هو ذراري إلى يوم القيامة ، فخلق الذكر والأنثى ، والشقاوة والسعادة ، والأرزاق والآجال والألوان ، فمن علم السعادة : فعل الخير، ومجالس الخير، ومن علم الشقاوة : فعل الشر ومجالس الشر.

“Sesungguhnya ketika Allah menciptakan Adam ‘alaihissalam, Dia mengusap punggungnya lalu mengeluarkan darinya keturunan-keturunannya hingga hari kiamat. Allah ciptakan laki-laki dan perempuan, kesengsaraan dan kebahagiaan, rezeki-rezeki, ajal, dan rupa-rupa warna makhluk-Nya.

Di antara tanda kebahagiaan adalah: BERAMAL KEBAIKAN DAN BERMAJELIS (BERGAUL) DENGAN YANG BAIK

Dan di antara tanda kesengsaraan adalah: BERBUAT KEJELEKAN DAN BERMAJELIS (BERGAUL) DENGAN YANG JELEK.”

Sumber:

 

 

 

Nasehat Asy-Syaikh Shalih Fauzan Menyambut Datangnya Bulan Ramadhan

Asy-Syaikh Shalih Fauzan bin Abdillah al-Fauzan hafizhahullah:

Pertanyaan:

ما نصيحتكم للمسلمين بمناسبة اقتراب شهر رمضان؟

Apa nasehat anda kepada kaum muslimin terkait telah dekatnya bulan Ramadhan?

Jawaban:

الواجب على المسلم يسأل الله أن يبلغه رمضان وأن يعينه على صيامه وقيامه، والعمل فيه، لأنه فرصة في حياة المسلم:

Wajib bagi kaum muslimin untuk memohon kepada Allah agar dia bisa sampai kebulan Ramadhan, dan diberi kemampuan untuk berpuasa serta melaksanakan shalat tarawih padanya, dan juga bisa beramal saleh pada bulan Ramadhan. Dikarenakan bulan tersebut merupakan kesempatan besar dikehidupan seorang muslim.

“مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ”

“Barang siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dikarenakan keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosanya yang terdahulu.” (H.R al-Bukhari)

”مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ”

”Barang siapa yang shalat malam pada bulan Ramadhan dikarenakan keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosanya yang terdahulu.“ (H.R al-Bukhari)

فهوفرصة في حياة المسلم قد لا يعود عليه مرة ثانية

Maka ini merupakan kesempatan besar bagi setiap muslim -untuk beramal- yang mungkin saja dia tidak bisa mendapatkan kesempatan kedua setelahnya.

فالمسلم يفرح بقدوم رمضان ويستبشر به، ويستقبله بالفرح والسرور، ويستغله في طاعة الله ليله قيام، ونهاره صيام وتلاوة للقرآن والذكر فهو مغنم للمسلم

Maka seorang muslim hendaknya bergembira dan merasa senang dengan datangnya bulan Ramadhan, menyambutnya dengan penuh kegembiraan, menggunakan kesempatan pada bulan tersebut untuk memperbanyak ketaatan. Shalat dimalam hari dan pada siang harinya berpuasa, membaca Al-qur’an dan berdzikir, yang mana ini semua merupakan ghanimah bagi setiap muslim.

أما الذين إذا أقبل رمضان يعدون البرامج الفاسدة والملهية والمسلسلات والخزعبلات والمسابقات ليشغلوا المسلمين فهؤلاء جند الشيطان،

Adapun orang-orang yang menyambut bulan Ramadhan dengan mempersiapkan berbagai kegiatan-kegiatan yang negatif, seperti acara musik, acara drama yang bersambung, acara -acara lawakan atau perlombaan kuis, yang semua ini melalaikan kaum muslimin -dari ibadah-, maka mereka ini adalah bala tentara setan.

فعلى المسلم أن يحذر من هؤلاء ويحذر منهم،

Maka wajib bagi setiap muslim untuk berhati-hati dari mereka, dan mentahzir mereka.

رمضان ما هو وقت لهو ولعب ومسلسلات وجوائز ومسابقات وضياع للوقت.

Bulan Ramadhan bukanlah waktu untuk bermain-main atau perkara sia-sia seperti kuis-kuis dan semisalnya yang semua ini menyia-nyiakan waktu.

 

 

Sumber:
– web: forumsalafy.net
Telegram

Majmu’ah Hikmah Salafiyyah

TIGA JENIS KANDUNGAN HATI

Al-Imam Ibnul Qayyim –semoga Allah merahmatinya – berkata:

 

“Hati itu ada tiga:

1. Hati yang kosong dari iman dan segala kebaikan.

Itulah hati yang gelap yang syaithan benar-benar telah beristirahat dari melontarkan waswas kepadanya.

Sebab, ia(syaithan) telah menjadikannya rumah dan negerinya, ia menghukumi di dalamnya sesuai apa yang ia inginkan, dan ia telah menguasainya di puncak penguasaan.

 

2. Hati yang kedua: Hati yang telah bersinar dengan cahaya iman, menyalakan lentera-lentera iman di dalamnya. NAMUN, ada kegelapan syahwat dan hembusan-hembusan hawa nafsu padanya.

Maka, syaithan datang dan pergi di sana, mencoba dan tamak (untuk menguasainya).

Sehingga, peperangan di situ silih berganti, menang dan kalah.

Dan keadaan jenis ini berbeda-beda dalam sedikit dan banyaknya (kekalahan dan kemenangan).

– Diantara mereka ada yang waktu kemenangan atas musuhnya (syaithan) lebih banyak.

– Dan ada yang waktu kemenangan musuhnya atasnya lebih banyak.

– Adapula yang kadang ini dan kadang itu(seimbang).

 

3. Hati yang ketiga: Hati yang dipenuhi iman, benar-benar telah bersinar dengan cahaya iman, terlepas syahwat darinya, dan tercabut kegelapan-kegelapan tersebut.

Maka, cahaya di hatinya telah terbit bersinar. Dengan sebab terbitnya itu, ia menyala. Seandainya rasa waswas mendekatinya, ia pasti terbakar dengannya.

Sehingga, ia laksana langit yang dijaga dengan bintang-bintang.

Jika syaithan mendekatinya(untuk mencuri berita dari langit) dilemparkan bintang itu kepadanya, hingga ia terbakar.

Padahal langit itu tidak lebih terhormat dari seorang mukmin. Penjagaan Allah kepada orang mukmin lebih sempurna daripada penjagaan langit.

Langit tempat peribadahan para malaikat, tempat menetapnya wahyu, terdapat cahaya ketaatan di dalamnya.

Adapun hati seorang mukmin tempat menetapnya tauhid, rasa cinta, ma’rifah(pengenalan kepada Allah), dan iman. Di dalamnya terdapat cahaya dari itu semua.

Sehingga, ia lebih berhak untuk dijaga dan dilindungi dari tipu daya musuh.

Tidak akan mampu dicapai (syaithan) hati yang demikian itu kecuali dengan tipu daya, kelengahan, dan menyambarnya (saat lalai).”

Al-Waabilush Shayyib, Ibnul Qayyim, hal. 58 – 59.

Alih Bahasa:
Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafizhahullah

 

Sumber: https://t.me/ForumBerbagiFaidah