Nasehat untuk Kaum Muslimin Indonesia Terkait Demonstrasi 4 November 2016 di Jakarta

kepal-demo

? asy-Syaikh DR. ‘Abdullah bin ‘Abdurrahim al-Bukhari hafizhahullah

? Tanya :
? “Hari ini (kemarin, Jum’at 4/10/2016, pen) di Ibu kota Indonesia, Jakarta diadakan demonstrasi besar-besar.
Demonstrasi tersebut menuntut diadilnya Gubernur Jakarta, seorang yang beragama kristen, yang telah melecehkan ayat al-Quran dan para da’i!

Tak tersembunyi bagi Anda, akibat dari demonstrasi, yaitu berbagai kerusakan dan kejelekan, meskipun mereka menyebutnya sebagai aksi damai.

?? Sebagaimana diketahui bahwa yang turut serta dalam demonstrasi tersebut adalah dari berbagai kelompok, seperti shufiyyah, ikhwaniyyah, dan khawarij, serta para politikus, dll.

? Pertanyaan :
1. Bolehkah bagi kaum muslimin untuk ikut serta dalam demonstrasi tersebut?
2. Apa cara terbaik yang Anda nasehatkan untuk kaum muslimin demi mengganti gubernur tersebut?
3. Apa nasehat dan arahan Anda untuk kaum muslimin secara umum dan salafiyyin secara khusus terkait kejadian ini?

? Jawab :

1⃣ Pertanyaan pertama “Bolehkah bagi kaum muslimin untuk ikut serta dalam demonstrasi tersebut?”
Tidak boleh. Demonstrasi bukan bagian dari Syari’at Islam. Sebagaimana telah kami jelaskan berulang-kali. Bahkan kalaupun pemimpin suatu negeri, dan dia muslim, membolehkan dan mengizinkan demonstrasi, maka tidak ada ketaatan kepadanya dalam masalah ini. Karena tidak dibenarkan baginya mengizinkan perbuatan seperti ini. Tidak ada kewajiban mendengar dan taat kecuali dalam hal yang ma’ruf (kebaikan). “Hanyalah ketaatan itu dalam hal yang ma’ruf (kebaikan)”
❌ Sedangkan demonstrasi ini bukan termasuk perkara yang ma’ruf. Sebagaimana sudah kami jelaskan berulang kali. Ini jawaban pertama.

2⃣▪️ Cara terbaik yang kami nasehat kaum muslimin dengannya dalam upaya mengganti gubernur tersebut, adalah menulis surat ditujukan kepada pemimpin negeri. Yang menulisnya adalah orang-orang yang berakal jernih dan tokoh terpandang, bukan rakyat jelata atau para pengacau.
? Hendaknya mereka menulis surat atau menyampaikan laporan, meminta agar diadili atau yang lainnya.
✍? Penulisan surat dilakukan oleh orang-orang yang berakal jernih dan cerdas saja.
❌ Tidak ada demonstrasi, orasi, maupun gerakan rakyat. Ini bukan bagian dari agama Allah sama sekali.

3⃣ Nasehatku untuk kaum muslimin secara umum dan salafiyyin secara khusus, adalah nasehat sebagaimana di atas :
• Jangan ikut dalam demonstrasi!
• Jika mau hendaknya menyampaikan pengaduan kepada pemerintah dan memohon agar memberhentikan orang tersebut dari kepemimpinan di propinsi itu, atau mengadilinya.
Dengan cara ini, telah tertunaikan tanggung jawab.
Jika pengaduhan itu dipenuhi, maka alhamdulilah. Jika tidak terpenuhi, maka telah tertunaikan tanggung jawab. Permasalahannya pun selesai sampai di sini.

رابط المادة:
? http://elbukhari.com/wp-content/uploads/2016/11/fawaid_sawtiyah_sh_albukhary_223.mp3
? 1.18 MB

Sumber: http://www.manhajul-anbiya.net

Wajah Asli Syiah Rafidhah (Menyingkap Topeng Syiah)

 wajah-asli-syiah

Tema pembahasan ini mungkin sudah kesekian kalinya. Bukan hanya di lembar singkat ini saja, akan tetapi bahaya Syiah telah banyak dipaparkan di berbagai media. Bahkan, Majelis Ulama Indonesia dan Mahkamah Agung, sebagai lembaga resmi pemerintah, telah mengeluarkan fatwa dan surat keputusan bahwa Syiah merupakan aliran sesat lagi terlarang di Indonesia. Bahkan bukti-bukti menunjukkan Syiah bukan bagian dari Islam.

Pembaca, mari sejenak mengulas kembali hakikat ajaran Syiah dalam tajuk “Wajah Asli Syiah Rafidhah.” Harapannya, masyarakat menjadi sadar dan tidak tertipu dengan topeng indah Syiah. Fokus pembahasan kita kali ini terkait dengan keimanan terhadap al-Qur’an. Satu poin ini saja, mampu membedakan antara agama Islam dengan agama Syiah, belum lagi poin-poin yang lainnya. Selamat menyimak!

Al-Qur’an, Kitab yang Terjaga

Sebagai muslim, kita semua memiliki keyakinan bahwa al-Qur’an adalah kitab suci agama Islam. Keyakinan ini merupakan salah satu kandungan dari rukun Iman yang ketiga, yaitu beriman terhadap kitab-kitab Allah. Al-Qur’an adalah kalam ilahi yang di dalamnya terdapat syariat Islam yang mulia.

Subtansi lain dari beriman terhadap kitab al-Qur’an adalah meyakini bahwa al-Qur’an diturunkan oleh Allah melalui malaikat Jibril kepada nabi Muhammad. Allah berfirman,

وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ * نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ

Sesungguhnya ia (al-Qur’an) benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam. Yang dibawa oleh Ruh yang terpercaya (Jibril).” (QS. asy-Syu’ara: 192-193)

Dalam ayat di atas, Jibril disifati sebagai Ruh yang terpercaya. Artinya, Jibril selalu amanah dalam menyampaikan wahyu dari Allah kepada Nabi Muhammad, termasuk al-Qur’an. Sehingga, tidak ada yang dirubah, ditambahi maupun dikurangi. Ini merupakan salah satu bentuk penjagaan terhadap keotentikan al-Qur’an. Sehingga tidak ada kejanggalan maupun kesalahan dalam al-Qur’an. Oleh karena itu, Allah menegaskan sifat al-Qur’an,

لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

Yang tidak datang kepadanya (al -Qur’an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (QS. Fushilat: 42)

Kesimpulannya, bahwa al-Qur’an sejak diturunkannya telah dijaga. Bahkan, hingga hari kiamat kitab suci umat Islam ini juga tetap akan terjaga. Dari generasi ke generasi, para penghafal al-Qur’an (huffazhul-Qur’an) terus dijumpai. Allah berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.” (QS. al-Hijr: 9)

Pembaca, ayat di atas adalah jaminan keotentikan al-Qur’an dari Allah. Al-Qur’an akan terjaga selama-lamanya. Inilah salah satu keyakinan umat Islam, sejak zaman Nabi Muhammad hingga hari kiamat. Sebuah keyakinan yang tidak bisa ditawar-tawar. Dengan keyakinan ini pula, terbedakan antara seorang muslim dengan seorang kafir.

Al-Qur’an di Mata Syiah

Namun, keyakinan umat Islam yang telah diyakini secara ijma’ (konsensus) dan turun-temurun ini diingkari oleh sekte Syiah Rafidhah. Berikut ini beberapa penyimpangan ajaran Syiah yang ternyata bertolak belakang dengan ajaran Islam.

Inilah wajah asli Syiah Rafidhah. Dalam kitab Awail al-Maqalat hal. 80-81, seorang ulama Syiah, al-Mufid, menyatakan bahwa al-Qur’an yang ada saat ini tidak orisinil. Al-Qur’an sekarang sudah mengalami distorsi, penambahan dan pengurangan. Baqir al-Majlisi, tokoh Syiah, mengatakan dalam kitab Mir’atul Uqul Syarh al-Kafi lil Kulaini vol. 12/525 bahwa al-Qur’an telah mengalami pengurangan dan perubahan. Tokoh mufassir Syiah, Ali bin Ibrahim al-Qummi, menegaskan dalam mukadimah tafsirnya hal. 5, 9, 10 dan 11 bahwa ayat-ayat al-Qur’an ada yang dirubah sehingga tidak sesuai dengan ayat aslinya ketika diturunkan oleh Allah. Dalam kitab al-Ihtijaj vol. 1/156, Abu Manshur Ahmad bin Ali at-Thabarsi (tokoh Syiah abad ke-6 H) menegaskan bahwa al-Qur’an sekarang adalah palsu, tidak asli dan telah terjadi pengurangan.

Pembaca, perhatikanlah pernyataan tokoh Syiah di atas. Ulama terpandang mereka dengan tegas menyatakan al-Qur’an telah mengalami perubahan. Keyakinan ini bertentangan dengan jaminan Allah terhadap keotentikan al-Qur’an sebagaimana dalam paparan ayat-ayat di atas. Kalau begitu, kaum Syiah mendustakan berita dari Allah dalam al-Qur’an. Kiranya, pantaskah seorang muslim bertindak sedemikian lancang? Bukankah ucapan di atas tidak ada bedanya dengan ucapan musuh-musuh Islam? Pembaca, jujurkah slogan cinta Islam yang dilontarkan oleh kaum Syiah? Padahal kita yakin, bahwa kalam Allah adalah sebaik-baik ucapan, sejujur-jujur pernyataan dan sebenar-benar perkataan. Allah berfirman,

Dan tidak ada yang lebih benar perkataannya selain Allah.” (QS. an-Nisa’: 87) Semakna dengan ayat ini,

Allah berfirman,

وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلًا

Dan tidak ada yang lebih benar perkataannya selain Allah.” (QS. an-Nisa’: 122)

Rasulullah bersabda dalam setiap pembukaan pidato maupun khutbah,

فَإِنَّ أَصْدَقَ اْلحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ

Sesungguhnya sebenar-benar ucapan adalah kitabullah (al-Qur’an).” (HR. Abu Dawud, an-Nasa’i, dll)

Syubhat dan Bantahannya

Bisa jadi ada yang menyanggah, pernyataan di atas hanyalah pernyataan oknum saja. Sehingga tidak mewakili kaum Syiah secara menyeluruh. Pernyataan ini terbantah oleh ucapan Syiah sendiri.

Pembaca bisa menyimak ucapan Ni’matullah al-Jazairi dalam kitab al-Anwar an-Nu’maniyah vol. 2/246-247. Kata tokoh Syiah ini, semua imam Syiah menyatakan adanya perubahan dalam al-Qur’an, kecuali Murtadha, ash-Shaduq dan beberapa tokoh lainnya. Kemudian al-Jazairi melanjutkan, ulama yang menyatakan bahwa tidak ada perubahan dalam al-Qur’an sedang bertaqiyah. Taqiyah adalah salah satu akidah Syiah yang berarti bolehnya berdusta. Jika ada yang berkata, bukankah kaum Syiah tetap menggunakan al-Qur’an yang ada sekarang? Jawabannya telah disampaikan sendiri oleh tokoh-tokoh ternama Syiah. Simak saja pernyataan al-Mufid (al-Masail as-Sirawiyah hal. 81-82), al-Jazairi (al-Anwar an-Nu’maniyah vol. 2/248) dan al-Majlisi (Mir’atul Uqul vol 3/31 dan Bihar al-Anwar vol. 92/65). Mereka menyatakan bahwa kaum Syiah disuruh membaca al-Qur’an yang ada sekarang sampai datangnya imam Mahdi (imam Mahdi versi mereka, pen).

Al-Qur’an Versi Syiah

Setelah puas menyatakan bahwa al-Qur’an umat Islam ini tidak asli alias palsu, kaum Syiah ternyata memiliki “al-Qur’an” sendiri. Referensi-referensi Syiah menyebutkan, bahwa ayat “al-Qur’an” versi Syiah berjumlah 17.000 ayat.

Menurut mereka, ayat-ayat tersebut diwahyukan oleh Allah kepada Ali dan kepada para imam kaum Syiah setelah Ali, atau kepada para imam yang mendapat wasiat. Ayat-ayat tersebut sekarang ini masih hilang karena dibawa oleh imam Syiah ke-12, yaitu imam Mahdi (imam Mahdi versi Syiah, pen-). Ayat tersebut baru akan hadir kembali saat “imam Mahdi” datang dari ghaibah-nya. Benarkah klaim Syiah di atas? Ternyata jauh panggang dari api. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Abu Juhaifah pernah bertanya kepada Ali bin Abi Thalib, “Apakah Anda menyimpan wahyu selain al-Qur’an?” Ali menjawab, “Tidak, demi (Allah) Yang membelah biji dan menciptakan jiwa.” (Lihat Fathul Bari: 1/203, 4/86, 12/261)

Diterangkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari Syarah Shahih al-Bukhari (1/204), bahwa Abu Juhaifah bertanya demikian kepada Ali karena kelompok Syiah meyakini Ahlul Bait, terutama Ali bin Abi Thalib, memiliki wahyu tersendiri yang tidak diketahui oleh selain mereka. Pertanyaan serupa juga diajukan oleh Mutharif, al-Qais bin Ubad, dan al-Asytar an-Nakha’i. Maka, dengan tegas Ali menjawab bahwa Ahlul Bait tidak memiliki kitab suci apapun selain al-Qur’an yang ada.

Pembaca, ternyata kaum Syiah sendiri tidak jujur terhadap imam mereka. Hal ini wajar! Kepada Allah, Dzat Yang menciptakan seluruh makhluk saja, mereka berani berdusta, apalagi terhadap manusia. Memang, demikianlah wajah asli kaum Syiah Rafidhah.

Kesimpulan

Dengan demikian kaum Syiah telah menyimpang karena telah mengingkari keaslian (keotentikan) dan kebenaran al-Qur’an. Poin ini merupakan poin keempat dari sepuluh poin identifikasi aliran sesat yang difatwakan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Wajar, lembaga resmi pemerintah ini memvonis Syiah sebagai sekte sesat dan terlarang di Indonesia. Masihkah Anda tertipu dengan topeng Syiah?

Wallahu a’lam.

Penulis: Ustadz Abu Abdillah Majdiy

Referensi : http://buletin-alilmu.net/2016/06/03/wajah-asli-syiah-rafidah-bahan-renungan-penguat-akidah/

JIKA KITA SEDANG SHALAT SUNNAH TIBA-TIBA IQOMAT DI KUMANDANGKAN

masjidil-haramJIKA KITA SEDANG SHALAT SUNNAH TIBA-TIBA IQAMAT DIKUMANDANGKAN

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah

Pertanyaan: Kami mengharapkan penjelasan, bagaimana pendapat ulama tentang menyempurnakan shalat sunnah atau tidaknya, tatkala iqamat dikumandangkan?

Jawaban: Yang saya ketahui ada tiga pendapat

Pendapat pertama: Bahwasanya semata-mata shalat diiqamatkan, maka batallah shalat sunnah. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:

« إذا أقيمت الصلاة فلا صلاة إلا المكتوبة ».

“Jika shalat telah diiqamatkan, maka tidak ada shalat kecuali shalat wajib.”

Pendapat kedua: Kebalikannya, bahwasanya tidak batal shalat sunnahnya dan ia bisa menyempurnakannya selama tidak khawatir imam salam dalam keadaan ia belum menyempurnakannya, maka ketika itu ia memutus shalat sunnahnya.

Pendapat ketiga: Pendapat yang pertengahan, yakni

• Jika shalat sudah diiqamatkan, dalam keadaan seorang berada dalam rakaat kedua dalam shalat sunnah, hendaknya ia menyempurnakannya secara ringkas. Dan jika ia berada dalam rakaat pertama, hendaknya ia memutuskan shalat sunnahnya. Dalil dari hal itu adalah:

« من أدرك ركعة من الصلاة فقد أدرك الصلاة »

“Barang siapa yang mendapatkan satu rakaat dari shalat maka berarti ia telah mendapatkan shalat tersebut.”

Sisi pendalilannya adalah orang ini yg berdiri pada rakaat yang kedua, ia telah mendapatkan satu rakaat dari shalat, dalam kondisi yang ia dimaafkan padanya, karena itu dilakukan sebelum iqamat. Maka ia telah mendapatkannya sehingga bisa menyempurnakannya dengan ringkas.

Adapun jika ia masih pada rakaat pertama hendaknya ia memutuskannya, berdasarkan pemahaman sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam :

“Barang siapa yang mendapatkan satu rakaat dari shalat maka berarti ia mendapatkan shalat tersebut.”

Pendapat ini adalah pendapat pertengahan dan inilah YANG BENAR. Bahwasanya jika seorang masih pada rakaat pertama walaupun dalam sujud kedua dari rakaat pertana hendaknya ia memutuskannya.

***

[Fatawa Nur ala Ad-Darbi 733]

Sumber: Channel Fatawa Ahlil ilmi Ats-Tsiqaat

Sumber: http://forumsalafy.net/jika-kita-sedang-shalat-sunnah-tiba-tiba-iqomat-di-kumandangkan/

Mewaspadai Praktek Perdukunan

dupadukun

Zaman modern dengan laju modernisasi dan perkembangan dunia ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK)nya tidak menjamin bahwa orang yang hidup di dalamnya menjadi modern/ilmiah cara berpikirnya. Bahkan tidak sedikit orang yang mengaku modern yang kehidupan realnya justru jauh dari apa yang mereka elukan. Begitu mudahnya mereka dibodohi tentang hal-hal yang bernuansa gaib. Sebut saja praktek perdukunan yang belakangan ini meruak dengan aneka warna, nama, model dan jenisnya. Tak sedikit dari kalangan modernis dan intelek yang menyambutnya. Janji-janji manis (baca: ramalan) para dukun ternyata telah membuat akal dan kemampuan berpikir mereka tumpul. Apalagi kalangan yang notabene lekat dengan animisme dan dinamisme.

Demikianlah di antara fenomena buruk yang ada pada sebagian masyarakat kita. Kehidupan perdukunan menjadi sesuatu yang biasa padahal di mata agama adalah besar. Para dukun dijadikan sebagai nara sumber bahkan rujukan dalam berbagai masalah kemasyarakatan. Padahal, mereka adalah orang-orang yang dimurkai oleh Allah. Tak beda dengan kondisi umat di era jahiliah sebelum diutusnya Rasulullah, yang menjadikan para dukun semisal; syiqq, sathih dan selainnya sebagai rujukan dalam berbagai masalah kemasyarakatan. (Lihat An-Nihayah fii Gharibil Hadits, Ibnul Atsir 4/214)

DEFINISI DUKUN

Dukun dalam bahasa Indonesia mempunyai cakupan yang luas. Namun yang dimaukan dalam pembahasan ini adalah orang yang mengaku mengetahui hal-hal yang bersifat ghaib atau mengetahui segala bentuk rahasia batin. Di antara ulama ada yang merinci; jika hal-hal yang bersifat ghaib itu berupa kejadian yang akan datang (belum terjadi) maka orang yang mengaku mengetahuinya diistilahkan dengan kahin dan jika hal-hal yang bersifat ghaib itu berupa kejadian yang telah terjadi (seperti tempat barang hilang, dll.) maka orang yang mengaku mengetahuinya diistilahkan dengan ‘arraf. Adapun Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, beliau menyatakan bahwa semua yang mengaku mengetahui hal-hal yang bersifat ghaib atau mengetahui segala bentuk rahasia batin baik yang akan terjadi maupun yang telah terjadi tercakup dalam istilah‘arraf.

Dalam koleksi fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah /Komisi Fatwa Kerajaan Arab Saudi 1/393-394, disebutkan bahwa mayoritas dukun adalah orang-orang yang mempelajari ilmu perbintangan (nujum) kemudian dikaitkan dengan berbagai kejadian, atau dengan mempergunakan bantuan jin untuk mencuri berita-berita, dan yang semisal mereka dari orang-orang yang mempergunakan garis di tanah, melihat di cangkir, atau di telapak tangan atau melihat kitab (primbon) untuk mengetahui hal-hal yang ghaib tersebut. (Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah /Komisi Fatwa Kerajaan Arab Saudi 1/393-394)

Al Imam Al Qurthubi berkata: “Barangsiapa mengaku bahwa dirinya mengetahui perkara ghaib tanpa bersandar kepada keterangan dari Rasulullah, maka dia adalah pendusta dalam pengakuannya tersebut.” (Fathul Bari, Al Hafizh  Ibnu Hajar 1/151)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alusy Syaikh berkata: “Yang paling banyak terjadi pada umat ini adalah pemberitaan jin kepada kawan-kawannya dari kalangan manusia tentang berbagai peristiwa ghaib di muka bumi ini. Orang yang tidak tahu (proses ini, -pen) menyangka bahwa itu adalah kasyaf dan karamah. Bahkan banyak orang yang tertipu dengannya dan beranggapan bahwa pembawa berita ghaib (dukun, paranormal, orang pintar dll, -pen) tersebut sebagai wali Allah, padahal hakekatnya adalah wali setan. Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:

“Dan (ingatlah) akan suatu hari ketika Allah ‘Azza wa Jalla mengumpulkan mereka semua, (dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman): ‘Hai golongan jin (setan), sesungguhnya kalian telah banyak menyesatkan manusia’, lalu berkatalah kawan-kawan mereka dari kalangan manusia: ‘Ya Rabb kami, sesungguhnya sebagian dari kami telah mendapat kesenangan dari sebagian (yang lain) dan kami telah sampai pada waktu yang telah Engkau tentukan’. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘Neraka itulah tempat tinggal kalian, dan kalian kekal abadi di dalamnya, kecuali bila Allah ‘Azza wa Jalla menghendaki (yang lain).’ Sesungguhnya Rabb-mu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (Al-An’am: 128) (Fathul Majid, hal. 353)

Bahkan jin-jin yang dijadikan narasumber oleh para dukun itu, tak mengetahui perkara ghaib. Allah berfirman:

“Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka (tentang kematiannya) itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui perkara ghaib tentulah mereka tidak akan berada dalam kerja keras (untuk Sulaiman) yang menghinakan.” (Saba: 14)

CIRI-CIRI DUKUN

Untuk menilai bahwa seseorang itu adalah dukun terkadang agak kesulitan, mengingat tidak sedikit dari para dukun itu yang tak mau lagi menggunakan gelar dukun. Mereka lebih suka menyebut diri dengan orang pintar, paranormal, tabib atau yang semisalnya.  Berikut  ini ada beberapa ciri dukun yang dapat dijadikan acuan untuk menilainya:

  1. Bertanya kepada si pasien tentang namanya, nama ibunya atau semisalnya.
  2. Meminta barang-barang si sakit baik pakaian, sorban, sapu tangan, kaos, celana, atau sejenisnya dari sesuatu yang biasa dipakai si pasien. Terkadang pula meminta fotonya.
  3. Terkadang meminta hewan dengan sifat tertentu untuk disembelih tanpa menyebut nama Allah, atau dalam rangka untuk diambil darahnya untuk kemudian dilumurkan pada diri pasien atau untuk dibuang ke tempat yang sunyi.
  4. Menulis mantra-mantra atau jampi-jampi yang berbau kesyirikan.
  5. Membaca mantra-mantra atau jampi-jampi (doa-doa) yang tidak jelas.
  6. Memberikan kepada pasien kain, kertas atau sejenisnya yang bergariskan kotak yang di dalamnya terdapat huruf-huruf dan nomor-nomor.
  7. Memerintahkan kepada si pasien untuk menjauh dari manusia beberapa saat tertentu, di sebuah tempat yang gelap yang tidak tersinari matahari.
  8. Meminta kepada si pasien untuk tidak menyentuh air beberapa waktu tertentu, biasanya selama 40 hari.
  9. Memberikan kepada si pasien sesuatu untuk ditanam di dalam tanah.
  10. Memberikan kepada si pasien sesuatu untuk dibakar kemudian tubuhnya diasapi dengannya.
  11. Terkadang mengabarkan kepada si pasien tentang namanya, asal daerahnya, dan problem yang menyebabkan dia datang, padahal belum diberi tahu oleh si pasien.
  12. Menuliskan untuk si pasien huruf-huruf yang terputus-putus baik di kertas atau mangkok putih kemudian menyuruh si pasien untuk menuangkan dan mencampurkan dengan air lantas meminumnya.
  13. Terkadang menampakkan suatu penghinaan kepada agama. Misalnya menyobek tulisan-tulisan ayat Al Qur’an atau menggunakannya pada sesuatu yang hina.
  14. Mayoritas waktunya untuk menyendiri dan menjauh dari manusia, karena dia lebih sering menyepi bersama setannya yang membantu praktek perdukunannya. (Lihat kitab Kaifa tatakhallash minas sihr)

HUKUM PERDUKUNAN

Hukum perdukunan adalah haram. Ia merupakan kesyirikan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan sangat bertentangan dengan pokok ketauhidan. Karena adanya unsur menandingi Allah dalam bentuk mengaku mengetahui permasalahan ghaib, yang merupakan kekhususan Allah ‘Azza wa Jalla. Demikian pula terdapat unsur pendustaan terhadap firman Allah ‘Azza wa Jallayang berbunyi:

“Dan hanya di sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib. Tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula). Dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidaklah ada sesuatu yang basah atau pun yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Al-An’am: 59)

“Katakan bahwa tidak ada seorangpun yang ada di langit dan di bumi mengetahui perkara ghaib selain Allah dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.” (An-Naml: 65)

Asy Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh menjelaskan bahwa praktek perdukunan sangat bertentangan dengan pokok ketauhidan. Adapun si dukun, maka ia tergolong musyrik kepada Allah Azza wa Jalla, karena tidak mungkin jin berkenan memberitakan kepadanya berbagai permasalahan ghaib melainkan jika dia telah mempersembahkan ibadah kepada jin tersebut. (At Tamhid Lisyarhi Kitabittauhid)

Hukum Mendatangi Dukun

Adapun hukum mendatangi dukun dan bertanya kepadanya, maka para ulama memberikan rincian sebagai berikut:

1)      Mendatangi dukun semata-mata untuk bertanya sesuatu yang ghaib. Ini adalah perkara yang diharamkan sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:

(( مَنْ أَتَى عَرَّافاً فَسَأَلَهُ عنْ شَيْءٍ فَصَدَّقَهُ، لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أرْبَعِينَلَيْلَةً ))

“Barangsiapa mendatangi dukun lalu dia bertanya tentang sesuatu kemudian membenarkan apa yang diucapkan dukun tersebut, tidaklah diterima shalatnya selama 40 malam.” (HR. Muslim dan Ahmad)
Penetapan adanya ancaman dan siksaan karena bertanya kepada dukun, menunjukkan haramnya perbuatan itu, dan tidaklah datang sebuah ancaman melainkan bila perbuatan itu diharamkan.

2)      Mendatangi mereka lalu bertanya kepada mereka tentang sesuatu yang ghaib dan membenarkan apa yang diucapkan. Ini adalah bentuk kekufuran karena membenarkan dukun dalam perkara ghaib termasuk mendustakan Al Qur`an. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

“Katakan bahwa tidak ada seorangpun yang ada dilangit dan dibumi mengetahui perkara ghaib selain Allah dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.” (An-Naml: 65)

3)      Mendatangi dukun dan bertanya kepadanya dalam rangka untuk mengujinya, apakah dia benar atau dusta. Hal ini tidak mengapa. Sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, saat beliau bertanya kepada Ibnu Shayyad:

( إِنِّي قَدْ خَبَأْتُ لَكَ خَبِيْئًا )

“Apa yang aku sembunyikan buatmu?” Ibnu Shayyad berkata: “Ad-dukh (asap).” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkata:

( اِخْسَأ فَلَنْ تعْدُوَ قَدْرَكَ )

“Diam kamu! Kamu tidak lebih dari seorang dukun.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyembunyikan sesuatu dari Ibnu Shayyad dalam rangka mengujinya.

4)      Mendatangi dukun lalu bertanya kepadanya dengan maksud membongkar kedustaan dan kelemahannya. Mengujinya dalam perkara yang memang jelas kedustaan dan kelemahannya. Hal ini dianjurkan bahkan wajib hukumnya. (Al-Qaulul Mufid, Ibnu ‘Utsaimin)

Dari penjelasan tersebut kita bisa mengetahui haramnya mendatangi dan bertanya kepada mereka (dukun) kecuali apa yang dikecualikan dalam masalah ketiga dan keempat (dan inipun khusus bagi mereka yang memang ahli dan mumpuni dalam masalah ini). Sebab dalam mendatangi dan bertanya kepada mereka terdapat padanya kerusakan yang amat besar, yang berakibat mendorong mereka untuk berani mengerjakan praktek perdukunan dan mengakibatkan manusia tertipu dengan mereka, padahal mayoritas mereka datang dengan segala macam bentuk kebatilan. (Al-Qaulul Mufid, Ibnu ‘Utsaimin)

Referensi : http://buletin-alilmu.net/2011/04/23/mewaspadai-praktek-perdukunan/

Imam Berdoa di Tengah Khutbah atau Bershalawat Kepada Nabi, Apakah Kita Ikut Mengaminkan dan Bershalawat

masjid-nabawiJIKA IMAM BERDOA DI TENGAH KHUTBAH ATAU BERSHALAWAT KEPADA NABI APAKAH KITA IKUT MENGAMINKAN DAN BERSHALAWAT?

Asy-Syaikh Al-Allamah Ubaid bin Abdillah Al-Jabiri hafizhahullah

Pertanyaan: Penanya mengatakan: Jika Imam berdoa ditengah khutbah atau bershalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, apakah kita ikut mengaminkan dan bershalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan suara keras ataukah pelan?

Jawaban: Dengan suara yang tidak mengganggu orang-orang yang hadir. Maka kita katakan : Shallallahu alaihi wasallam, dan kita katakan di dalam doa: Amiin, tidak mengapa hal itu in sya Allah.

Akan tetapi tidak mengeraskan suaranya, dengan suara yang bisa mengganggu para hadirin dan bisa memalingkan mereka dari mendengarkan khutbah.

***

Sumber: http://www.miraath.net/quesdownload.php?id=1254

Sumber: http://forumsalafy.net/jika-imam-berdoa-di-tengah-khutbah-atau-bershalawat-kepada-nabi-apakah-kita-ikut-mengaminkan-dan-bershalawat/

Janganlah Engkau Jadikan Musim Hujan Sebagai Kambing Hitam

jangan-jadikan-hujan-sebagai-kambing-hitam

(Faedah dari: ustadz abu sufyan sedayu gresik)

 

Nampaknya negeri ini masih terus diguyur hujan tanpa kita ketahui kapan berakhirnya, namun kenyataan yang miris kita dapati suara-suara yang mulai memojokkan musim hujan.

“wah hujan lagi, hujan lagi, bisa rugi saya.!”

“Nampaknya alam sudah tidak bersahabat lagi.”

“Gara-gara hujan harga barang jadi melonjak.” dan ucapan-ucapan lain yang bernada menyalahkan hujan.

 

Wahai saudaraku mari kita merenung sejenak!

Tahukah anda sebenarnya banyak pesan yang ingin Allah sampaikan kepada kita lewat musim hujan ini. Diantara pesan yang bisa kita singkap adalah:

 

1. Allah ingin menunjukan kepada manusia betapa besar dan luas kekuasaan Allah.

Sebagaimana Allah berfirman:

والله أنزل من السماء ماء فأحيا به الأرض بعد موتها إن في ذلك لآية لقوم يسمعون

Dan Dialah Allah yang telah menurun hujan dari awan kemudian menghidupkan bumi setelah kematiannya sesungguhnya pada hal ini terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang mau mendengar(pelajaran). An Nahl: 6

Fenomena hujan merupakan salah satu fenomena alam yang mengagumkan sebagai bukti yang kuat untuk menunjukkan betapa agungnya Dzat yang menurunkannya, untuk menunjukkan bahwa tidak ada yang mampu menandingi kuasa ilahi.
Sepintar apapun manusia, sehebat apapun teknologi yang mereka kuasai, mereka tidak mampu membendung turunnya hujan yang bertubi-bertubi mengguyur negeri mereka sehingga banjir di mana-mana tidak bisa terelakkan

لا حول و لا قوة إلا بالله العظيم

 

 

2.Untuk menambah rasa takut kepada Allah

Hal ini telah dicontohkan oleh junjungan kita, salawat dan salam tercurah untuk beliau, sebagaimana diceritakan Ummul Mukminin ‘Aisyah:

“Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat mendung atau angin, maka raut wajahnya pun berbeda.” ‘Aisyah berkata, “Wahai Rasululah, jika orang-orang melihat mendung, mereka akan begitu gembira. Mereka mengharap-harap agar hujan segera turun. Namun berbeda halnya dengan engkau. Jika melihat mendung, terlihat wajahmu menunjukkan tanda tidak suka.”

Beliau pun bersabda, “Wahai ‘Aisyah, apa yang bisa membuatku merasa aman? Siapa tahu ini adalah adzab. Dan pernah suatu kaum diberi adzab dengan datangnya angin (setelah itu). Kaum tersebut (yaitu kaum ‘Aad) ketika melihat adzab, mereka mengatakan, “Ini adalah awan yang akan menurunkan hujan kepada kita.”

(HR Al Bukhori 4829 dan Muslim 899)

 

Seorang yg memiliki rasa takut kepada Allah akan membuat dia selalu waspada dengan berupaya melaksanakan ketaatan dan menjahui kemaksiatan. Adapun orang yg merasa aman dari hukuman Allah sehingga dia terus menerus dalam kelalaian dan lumpur dosa, dia berpikir:

“Saya tidak mungkin kebanjiran karena saya tinggal di dataran tinggi.”

“Saya ndak mungkin kena sunami wong saya jauh dari pantai”

Maka kita katakan: “Wahai hamba Allah, apa anda pikir adzab Allah hanya banjir dan gempa bumi.”

Allah maha mampu mendatangkan adzab dalam bentuk apapun, dari arah manapun tanpa melihat waktu.

Dengarkanlah ucapan Robbmu:

أفأمن أهل القرى أن يأتيهم بأسنا بياتا وهم نائمون
أو أمن أهل القرى أن يأتيهم بأسنا ضحى وهم يلعبون
أفأمنوا مكر الله فلا يأمن مكر الله إلا القوم الخاسرون

“Apakah punduduk sebuah desa itu merasa aman dari adzab kami di waktu malam saat mereka tidur terlelap. Apakah penduduk suatu desa merasa aman dari adzab kami di waktu dhuha tatkala mereka asik bermain. Apakah mereka merasa aman dari makar Allah, tidaklah ada yang merasa aman dari makar Allah melainkan kaum yang merugi”. (Al A’rof 97-99)

 

3. Penghancur kesombongan dan keangkuhan bani adam

Wahai saudaraku yang dimuliakan Allah sebenarnya ada pesan yang dalam ingin Allah sampaikan kepada kita dengan musim hujan yang berkepanjangan sehingga menyebabkan kebanjiran melanda dimana-mana, pesan tersebut adalah agar manusia menghilangkan keangkuhan dan kesombongan mereka dan menyadari akan kelemahan mereka di hadapan Al Jabbarul Mutakabbir sehingga mereka kembali kepada Allah, tunduk dan patuh pada ketetapan-Nya.

Saat ini kebanyakan manusia terlalu angkuh nan sombong, dia lebih percaya dengan kemampuan dirinya, dia lebih bersandar pada kecerdasannya sehingga dia lupa bahwa disana ada kekuatan yang tak terbatas, dia lupa bahwa disana ada yang Maha berilmu, Dialah Allah Jalla Robbuna Al Qowiyul Matinul Aliim yang harus dia jadikan sandaran.

Seharusnya kita bersyukur kepada Allah dengan musibah ini karena hal itu pertanda Allah masih sayang dan cinta dengan kita. sebagaimana sabda junjungan kita baginda nabi:

إذا أراد الله بعبده الخير عجل له بالعقوبة في الدنيا، وإذا أراد الله بعبده الشر أمسك عنه بذنبه حتي يوافي به يوم القيامة. رواه الترمذي2396 صححه الألباني في صحيح
الجامع 308

“Apabila Allah menghendaki kebaikan untuk hamba-Nya maka Allah akan segerakan hukuman dosanya ketika di dunia, namun bila Allah menghendaki kejelekan untuknya Allah menunda hukuman atas dosanya hingga hari kiamat nanti.”

(HR At Tirmidzi2396 di shohihkan syaikh Al Albany dlm shohihul jaami’ 308)

 

Sehingga sangatlah tidak pantas kalau kita menyalahkan musim hujan atas musibah yang kita derita, sangatlah tidak pantas kita menjadikan musim hujan sebagai kambing hitam dari kegagalan kita, hendaknya kita mawas diri, hujan tidak pernah salah karena dia merupakan murni perbuatan Allah, perbuatan Allah semuanya baik tidak ada yang salah sebagaimana nabi menyatakan:

الشر ليس إليك

Kejelekan tidaklah berasal dari-Mu.

 

Mencela hujan sama saja mencela Allah sebagaimana sabda rosul dalam hadits qudsy Allah menyatakan:

يؤذيني ابن آدم يسب الدهر وأنا الدهر أقلب الليل و النهار
رواه البخاري4862 مسلم2246

Anak adam telah menyakitiku, mereka mencela masa padahal Aku adalah Yang mengendalikannya, Aku yg membolak balikkan malam dan siang.”

sebenarnya yg salah adalah manusia sendiri, karena ketamakan mereka yang menggiring mereka pada musibah ini,penebangan, pembakaran hutan,penimbunan lahan yang terus menerus tampa memperhatikan keseimbangan alam, mereka hanya ingin meraup keuntungan saja.

Oleh karena itu melalui musim hujan ini kita jadikan sebagai ajang dalam mengkoreksi pribadi-pribadi kita dan kembali kepada Allah.

apapun yang kita rasakan dari musim hujan ini, baik keuntungan ataupun kerugian kita sikapi dengan husnu dzon,dan berpikir positif namun tetap optimis. Itulah sikap mukmin sejati, sebagaimana sabda nabi:

عجبا لأمر المؤمن إن أمره كله له خير و ليس ذلك لأحد إلا للمؤمن: إن أصابته سراء شكر فكان خير له و إن أصابته ضراء صبر فكان خير له. رواه مسلم2999

“Sungguh mengagumkan urusannya orang yang beriman, semua keadaan baik untuknya, yang demikian tidak mungkin digapai melainkan hanya orang yang beriman, apabila dia mendapat kesenangan dia bersyukur, namun bila dia mendapat kesulitan dia bersabda.”

Dan kita memohon kepada Allah agar saudara-saudara kita yang di timpa musibah diberikan ketabahan, kasabaran dan keridhoan terhadap ketetapan Allah dan agar urusan mereka dipermudah

Allahumma amiin .

Apakah Manusia Berbuat karena Dipaksa ataukah Pilihan Sendiri

APAKAH MANUSIA BERBUAT KARENA DIPAKSA ATAUKAH PILIHAN SENDIRI?

 dengan-takdir-allah

Soal:

Semoga Allah membalasmu dengan yang lebih baik. Penanya adalah Muhammad dari Makkah al-Mukarramah. Dia bertanya, “Apakah manusia berbuat karena musayyar (dipaksa) ataukah mukhayyar (atas pilihannya sendiri?)”

 

Jawaban:

Aku katakan kepadanya, “Ketika engkau menulis pertanyaan pada kertas ini, apakah engkau melakukannya atas pilihanmu ataukah ada seseorang yang memaksamu?

Saya memastikan bahwa engkau akan menjawab, , “Aku melakukannya atas kehendakku.”

Tetapi ketahuilah bahwa Allah-lah yang telah menciptakan pada manusia adanya kehendak.

Allah menyiapkan dua perkara yang dengan itu terjadi perbuatan mereka.

  1. Kehendak, yang dengannya seseorang berkehendak.
  2. Kemampuan, yang dengannya seseorang memiliki kekuatan.

Jika dia melakukan sesuatu maka dia berbuat dengan kehendak dan kemampuannya.

Yang telah menciptakan kehendak dan kemampuan pada seseorang adalah Allah ‘azza wajalla.

Adapun perkatan “musayyar” atau “mukhayyar” adalah istilah baru, yang aku tidak mengetahui ungkapan ini ada di kalangan pendahulu umat ini.

Atas dasar itu aku katakan bahwa manusia diberi pulihan untuk berbuat dengan kehendaknya. Sedangkan pilihan dan kehendak seseorang adalah ciptaan Allah ‘azza wajalla.

 

Sumber: Silsilah Fatawa Nur ‘ala Darb, Syaikh Ibnu Utsaimin, kaset no. 362.

 

هل الإنسان مخير أم مسير؟

السؤال:

  جزاك الله خيراً فضيلة الشيخ. السائل محمد من مكة المكرمة يقول: هل الإنسان مسير أم مخير؟

الجواب:

الشيخ: الجواب أن أقول له: اسأل نفسك: هل أنت حينما كتبت هذه الورقة وفيها السؤال هل أنت فعلت ذلك باختيارك أو أن أحداً أجبرك؟ إنني أجزم جزماً أنه سيقول: كتبتها باختياري. ولكن ليعلم أن الله سبحانه وتعالى هو الذي خلق في الإنسان الإرادة، الله تعالى خلق الإنسان وأودع فيه أمرين كلاهما سبب الوجود، الأمر الأول: الإرادة، فالله تعالى جعل الإنسان مريدا.ً والأمر الثاني: القدرة، جعله الله تعالى قادراً. فإذا فعل شيئاً فإنما يفعله بإرادته وقدرته، والذي خلق فيه الإرادة هو الله عز وجل، وكذلك الذي خلق فيه القدرة هو الله عز وجل. وهذه الكلمة: مخير ومسير هي كلمة حادثة لا أعلمها في كلام السابقين، وعلى هذا فنقول: إن الإنسان مخير يفعل الشيء باختياره وإرادته، ولكن هذا الاختيار والإرادة كلاهما مخلوقان لله عز وجل. نعم.

المصدر: سلسلة فتاوى نور على الدرب > الشريط رقم [362]

العقيدة > الإيمان بالقدر

 رابط المقطع الصوتي

 

Tanda-Tanda Kebahagiaan dan Kecelakaan

tanda-kebahagiaan-dan-kecel

Al-Imam Ibnul Qayyim -rahimahullah- menyebutkan di antara tanda-tanda kebahagiaan dan keberuntungan.

Sesungguhnya seorang hamba:

?Setiap kali bertambah ilmunya bertambah pula tawadhu’ dan  kasih sayangnya.

?Setiap kali bertambah amalannya bertambah pula rasa takut dan kekhawatirannya (jika amalnya ditolak).

?Setiap kali bertambah umurnya berkurang ketamakannya (terhadap dunia).

?Setiap kali bertambah hartanya bertambah pula kemurahan hati dan kedermawanannya.

?Setiap kali bertambah derajat dan kedudukannya bertambah pula kedekatannya kepada manusia, penunaiannya terhadap kebutuhan-kebutuhan mereka, dan tawadhu’-nya terhadap mereka.

Dan di antara tanda-tanda kecelakaan:

Sesungguhnya seorang hamba:

?Setiap kali bertambah ilmunya bertambah pula kesombongannya.

?Setiap kali bertambah amalannya bertambah pula bangga diri, merendahkan manusia,dan baik sangka terhadap dirinya.

?Setiap kali bertambah umurnya bertambah pula ketamakannya (terhadap dunia).

?Setiap kali bertambah hartanya bertambah pula sifat bakhil dan menahan hartanya.

?Setiap kali bertambah derajat dan kedudukannya bertambah pula kesombongannya.

Dan perkara-perkara ini adalah cobaan dan ujian yang Allah -subhanahu wa ta’la- menguji hamba-hamba-Nya, maka suatu kaum bahagia atau celaka disebabkan perkara-perkara tersebut.

 

———-

Sumber: Kitab al-Fawa’id halaman 138 cetakan Dar al-Ghad al-Jadid

✍Oleh: al-Akh Zakariya.
(Mading Ma’had Minhajus Sunnah Magelang)

Bahaya Keyakinan Manunggaling Kawula Gusti (Wihdatul Wujud)

Manunggaling Kawula Gusti (Wihdatul Wujud)
Penulis : Ustadz Muhammad Umar As-Sewed

Manunggaling Kawula Gusti

Setelah kesesatan kaum sufi meyakini adanya ilmu laduni, maka pada terminal akhir, mereka akan merasa sampai pada tingkatan fana’ (melebur/menyatu dengan Dzat Allah). Sehingga ia memiliki sifat-sifat laahuut (ilahiyyah= ketuhanan) dan naasuut (insaniyyah= kemanusiaan). Menurut mereka, secara lahir ia bersifat insaniyyah namun secara batin ia memiliki sifat ilahiyyah.

Maha suci Allah dari apa yang mereka yakini!!. Aqidah ini populer di tengah masyarakat kita dengan istilah manunggaling kawula gusti. Munculnya aqidah rusak ini bukanlah sesuatu yang baru lagi di zaman sekarang ini dan bukan pula isapan jempol dan tuduhan semata.

Bukti adanya Aqidah ini dalam tubuh kaum Sufi
Hal ini dapat dilihat dari ucapan para tokoh legendaris dan pendahulu sufi seperti al-Hallaj, Ibnul Faridh, Ibnu Sabi’in, Ibnu Arabi dan masih banyak lagi yang lainnya dalam karya-karya mereka. Cukuplah apa yang kami sajikan di bawah ini sebagai saksi atas keberadaan aqidah ini pada kaum sufi.

 

Al-Hallaj berkata:

“Maha suci Dia yang telah menampakkan sifat naasuut (insaniyyah)-Nya lalu muncullah kami sebagai laahuut (ilahiyah)-Nya. Kemudian Dia menampakkan diri kepada makhluk-Nya dalam wujud orang yang makan dan minum, sehingga makhluk-Nya dapat melihat-Nya dengan jelas seperti pandangan mata dengan pandangan mata.” (ath-Tha-waasin, hal. 129)

Ia juga berkata:
“Aku adalah Engkau (Allah) tanpa adanya keraguan lagi. Maha suci Engkau Maha suci aku. Mengesakan Engkau berarti mengesakan aku Kemaksiatan kepada-Mu adalah kemaksiatan kepadaku
Marah-Mu adalah marahku Pengampunan-Mu adalah pengampun-anku “ (Diwanul Hallaj, hal. 82)

Di tempat lain ia berkata:
“Kami adalah dua ruh yang menitis jadi satu. Jika engkau melihatku berarti engkau melihat-Nya
Dan jika engkau melihat-Nya berarti yang engkau lihat adalah kami” (ath-Thawaasin, hal. 34)

Ibnu Faridh berkata dalam syairnya:
Tidak ada shalat kecuali hanya untukku. Dan shalatku dalam setiap raka’at bukanlah untuk selainku. (Tanbih al-Ghabi fi Takfir Ibnu Arabi, hal. 64)
Abu Yazid al-Busthami berkata: ”Paling sempurnanya sifat seseorang yang telah mencapai derajat ma’rifat adalah adanya sifat-sifat Allah pada dirinya. (Demikian pula) sifat ketuhanan ada pada dirinya.” (an-Nuur Min Kalimati Abi Thaifut, hal. 106 karya Abul Fadhl al-Falaki)

Akhirnya dia pun mengungkapkan keheranannya dengan berujar: “Aku heran kepada orang-orang yang mengaku mengenal Allah, bagaimana mereka bisa beribadah kepada-Nya?!”
Lebih dari itu dia menuturkan pula aqidah ini kepada orang lain tatkala seseorang datang dan mengetuk rumahnya. Dia bertanya: “Siapa yang engkau cari?” Orang itu menjawab: “Abu Yazid.” Dia pun berkata: “Pergi! Tidaklah yang ada di rumah ini kecuali Allah.” (an-Nuur, hal. 84)

Dia pernah ditanya pula tentang perihal tasawuf, maka dia menjawab: “Sifat Allah telah dimiliki oleh seorang hamba”.
Aqidah Manunggaling Kawula Gusti ini telah membawa kaum sufi pada keyakinan yang lebih rusak yaitu wihdatul wujud. Menurut ajaran ini tidak ada wujud kecuali Allah itu sendiri, tidak ada dzat lain yang tampak dan kelihatan ini selain dzat yang satu, yaitu dzat Allah.

Ibnu Arabi berkata:
“Tuhan itu adalah hamba dan hamba adalah Tuhan. Duhai kiranya, kalau demikian siapa yang di bebani syariat? Bila engkau katakan yang ada ini adalah hamba, maka hamba itu mati
Atau (bila) engkau katakan yang ada ini adalah Tuhan lalu mana mungkin Dia dibebani syariat? “ (Fushulul Hikam, hal. 90)
Penyair sufi bernama Muhammad Baharuddin al-Baithar berkata: “Anjing dan babi tidak lain adalah Tuhan kami Allah itu hanyalah pendeta yang ada di gereja”. (Suufiyat, hal. 27)
Syubhat-syubhat kaum Sufi dalam menopang aqidah ini
Jika diperhatikan sepintas terhadap ucapan-ucapan di atas, orang awam sekalipun mampu menolak atau bahkan mengutuk aqidah mereka ini dengan sekedar memakai fitrah dan akalnya yang sehat. Namun, bagaimana kalau ternyata kaum Sufi membawakan beberapa dalil baik dari al-Qur’an maupun as-Sunnah yang seakan-akan menunjukkan bahwa aqidah Manunggaling Kawula Gusti benar-benar diajarkan di dalam agama ini?! –tentunya menurut persangkaan mereka.

Mampukah orang tersebut membantah ataukah sebaliknya, justru tanpa terasa dirinya telah digiring pada pengakuan aqidah ini ketika mendengar dalil-dalil tersebut?
Di antara syubhat yang mereka jadikan dalil adalah kesalahpahaman mereka terhadap:

Firman Allah subhanahu wa Ta’ala:

…وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ…

Dan Dia (Allah) bersama kalian dimana kalian berada. (al-Hadiid: 5)

 

Firman Allah subhanahu wa Ta’ala:

وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ.

Dan Kami lebih dekat kepadanya (hamba) daripada urat lehernya sendiri. (Qaaf: 16)
Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits Qudsi:

…وَمَا يَزَالٌ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ باِلنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرُهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِيْ بِهَا… رواه البخاري“…

Dan senantiasa hamba-Ku mendekat-kan diri kapada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sampai Aku pun mencintainya. Bila Aku mencintainya, maka jadilah Aku sebagai telinganya yang dia mendengar dengannya, mata yang dia melihat dengannya, tangan yang dia memegang sesuatu dengannya, dan kaki yang dia berjalan dengannya… (HR. Bukhari)
Bantahan syubhat mereka
Dengan mengacu pada al-Qur’an dan as-Sunnah di bawah bimbingan para ulama terpercaya, kita akan dapati bahwa syubhat mereka tidak lebih daripada sarang laba-laba yang sangat rapuh.

Tentang firman Allah di dalam surat al-Hadid ayat 5, para ulama telah bersepakat bahwa kebersamaan Allah dengan hamba-hamba-Nya tersebut artinya ilmu Allah meliputi keberadaan mereka, bukan Dzat Allah menyatu bersama mereka.
Imam ath-Thilmanki rahimahullah berkata: “Kaum muslimin dari kalangan Ahlus Sunnah telah bersepakat bahwa makna firman Allah yang artinya: “Dan Dia (Allah) bersama kalian di mana kalian berada” adalah ilmu-Nya””. (Dar’ut Ta’arudh, 6/250)
Adapun yang dimaksud dengan lafadz “kami” di dalam surat Qaaf ayat 16 tersebut adalah para malaikat pencatat-pencatat amalan. Hal ini ditunjukkan sendiri oleh konteks ayat setelahnya. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir ath-Thabari, Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Ibnu Katsir dan para ulama yang lainnya. Sedangkan ath-Thilmanki dan al-Baghawi memilih pendapat bahwa yang dimaksud lafadz “lebih dekat” adalah ilmu dan kekuasaan-Nya lebih dekat dengan hambanya-Nya dari pada urat lehernya sendiri.
Imam ath-Thufi ketika mengomentari hadits Qudsi tersebut menya-takan bahwa ulama telah bersepakat kalau hadits tersebut merupakan sebuah ungkapan tentang pertolongan dan perhatian Allah terhadap hamba-hamba-Nya. Bukan hakikat Allah sebagai anggota badan hamba tersebut sebagaimana keyakinan Wihdatul Wujud. (Fathul Bari)Bahkan Imam Ibnu Rajab rahimahullah menegaskan bahwa barangsiapa mengarahkan pembicaraannya di dalam hadits ini kepada Wihdatul Wujud maka Allah dan rasul-Nya berlepas diri dari itu. (Jami’ul Ulum wal Hikam hal. 523-524 bersama Iqadhul Himam)

 

Beberapa ucapan batil berkait dengan aqidah ini

Dzat Allah ada di mana-mana
Ucapan ini sering dikatakan sebagian kaum muslimin ketika ditanya: “Di mana Allah?”
Sesungguhnya jawaban ini telah menyimpang dari al-Qur’an dan as-Sunnah serta kesepakatan Salaf.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Barang siapa yang mengatakan bahwa Dzat Allah ada di setiap tempat maka dia telah menyelisihi al-Qur’an, as-Sunnah dan kesepakatan Salaf. Bersamaan dengan itu dia menyelisihi fitrah dan akal yang Allah tetapkan bagi hamba-hambanya. (Majmu’ Fatawa, 5/125)
Dzat Allah ada di setiap hati seorang hamba.
Ini adalah jawaban yang tak jarang pula dikatakan sebagian kaum muslimin tatkala ditanya tentang keberadaan Allah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata; “Adapun keyakinan bahwa Dzat Allah ada di dalam hati setiap orang kafir maupun mukmin maka ini adalah batil. Tidak ada seorang pun dari pendahulu (Salaf) umat ini yang berkata seperti itu. Tidak pula Al Qur’an ataupun As Sunnah, bahkan Al Qur’an, As Sunnah, kesepakatan Salaf dan akal yang bersih justru bertentangan dengan keyakinan tersebut.” (Syarhu Haditsin Nuzuul, hal 375)
Beberapa ayat al-Qur’an yang membantah Aqidah ini
Ayat-ayat al-Qur’an secara gamblang menegaskan bahwa aqidah Manunggaling Kawula Gusti benar-benar batil.

Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَجَعَلُوا لَهُ مِنْ عِبَادِهِ جُزْءًا إِنَّ الإِنْسَانَ لَكَفُورٌ مُبِينٌ .

Dan mereka (orang-orang musyrikin) menjadikan sebagian hamba-hamba Allah sebagai bagian dari-Nya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar pengingkar yang nyata. (az-Zukhruf: 15)

 

فَاطِرُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الأَنْعَامِ أَزْوَاجًا يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ.

Dialah Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kalian sendiri yang berpasang-pasangan dan dari jenis binatang ternak yang berpasang-pasangan (pula), Dia jadikan kalian berkembang-biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat (Asy Syuraa: 11)

 

Perhatikanlah! Ketika Allah subhanahu wa Ta’ala menjawab permintaan Musa yang ingin melihat langsung wujud Allah di dunia. Allah pun berfirman:

لَنْ تَرَانِي وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ.

Kamu sekali-sekali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke gunung itu, tatkala ia tetap di tempat itu niscaya kamu dapat melihat-Ku. Tatkala Tuhan menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikan gunung itu hancur luluh dan Musa pun pingsan. Setelah sadar Musa berkata: “Maha suci Engkau, aku bertaubat dan aku orang yang pertama-tama beriman”. (Al A’raf: 143)

Wallahu a’lam

(Dikutip dari Buletin Islam al-Ilmu Edisi 30/II/I/1425, diterbitkan Yayasan as-Salafy Jember dengan sedikit editing)

Sumber : www.salafycirebon.com

Peringatan dari Bahaya Syiah Rafidhah

awas-bahaya-syiah

Peringatan dari Bahaya Syiah Rafidhah[1]

Penulis: asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi ‘Umair al-Madkhali

 

Alhamdulillah. Semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada Rasulullah, para sahabatnya, dan siapa saja yang mengikutinya.

Amma ba’du:

Di antara perkara yang sangat disayangkan, bahwa madzhab Syiah Rafidhah[2] yang demikian destruktif (merusak) ini telah memiliki berbagai peluang untuk tersebar di pelosok-pelosok negeri Arab-Islami. Ajaran Syiah ini telah tersebar secara masif, dan di balik penyebaran ini semua dalangnya adalah pemerintah Iran-Persia beserta para tokoh agama mereka yang demikian memusuhi Islam, kebenaran, tauhid, dan orang-orang yang berpegang teguh dengannya. Mereka telah mencurahkan segenap perbendaharaan yang mahal untuk menyebarkan madzhab mereka disertai semangat yang luar biasa dan pemetaan yang untuk menguasai negeri-negeri kaum muslimin.

Madzhab Syiah adalah madzhab destruktif yang berdiri di atas prinsip:

  • Mengkafirkan para sahabat Nabi Muhammad.
  • Menolak sunnah Rasulullah, karena sunnah tersebut datangnya melalui jalur para sahabat Nabi yang jujur dan amanah.
  • Meyakini telah berubahnya al-Qur’an dan memposisikan ayat-ayat tentang orang-orang kafir dan munafikin kepada para sahabat Nabi.
  • Memposisikan ayat-ayat yang berisi ancaman neraka kepada para sahabat Nabi, terlebih lagi Abu Bakar dan Umar –radhiallau ‘anhuma-.
  • Memposisikan ayat-ayat yang berisi pujian dan janji untuk mereka dan para ahlul bait (keturunan Nabi), yang Allah telah membersihkan para ahlul bait itu dari orang-orang Syiah dan pemahaman mereka yang ekstrem, dan prinsip-prinsip mereka yang berdiri di atas kekufuran.

Di antara kesesatan mereka yang lain adalah mereka memposisikan ayat-ayat yang berisi tentang tauhidullah dan menunjukkan hak uluhiyah Allah ditujukan untuk imam-imam mereka, seperti pada firman Allah:

وَقَالَ اللَّهُ لَا تَتَّخِذُوا إِلَٰهَيْنِ اثْنَيْنِ ۖ إِنَّمَا هُوَ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ

Allah berfirman, “Janganlah kalian menjadikan adanya dua sesembahan. Sesungguhnya Dia (Allah) adalah satu-satunya sesembahan yang benar.” (an-Nahl : 51).

Betapa banyak nash-nash al-Qur’an yang mereka selewengkan. Barangsiapa ingin mengetahui hakikat agama mereka, silakan membaca kitab-kitab rujukan utama mereka, seperti kitab al-Kafi karya al-Kulaini, Tafsir al-Qummi, dan Tafsir al-‘Iyyasi di mana penyimpangan yang ada dalam agama Syiah lebih parah dibandingkan dengan yang ada pada agama Yahudi  dan Nasrani.

Di antara perkara yang menjadikan hati semakin sedih ketika madzhab yang sesat dan destruktif ini telah tersebar luas di Aljazair. Kami telah mendengar bahwa banyak rakyat negeri tersebut telah menganut akidah Syiah Rafidhah ini dan sejumlah besar mereka sekarang ini sedang belajar di kota Qum[3], Iran. Meskipun ada perlawanan dari pemerintah negeri tersebut dan sebagian ulamanya, akan tetapi kondisinya sangat lemah. Di mana kecemburuan mereka terhadap Islam dan Tauhid?! Di mana kecemburuan mereka terhadap al-Qur’an dan as-Sunnah?! Di mana kecemburuan mereka terhadap para sahabat Nabi?!

Wahai sekalian penduduk Aljazair –pemerintahan ataupun masyarakatnya-, sesungguhnya diamnya kalian dari tersebar luasnya madzhab ini –demi Allah- akan mengakibatkan berbagai kejelekan pada agama, dunia, dan kekuasaan kalian, demikian juga di akhirat kalian, ketika kalian menjumpai Tuhan kalian, karena kalian telah diam dari sekian banyak kemungkaran dan bahaya-bahaya yang besar terhadap agama dan dunia kalian.

Aku memohon kepada Allah agar Dia membangkitkan syiar-syi’ar muslimin dan akal-akal mereka untuk menghadapi bahaya yang mengerikan dan menghancurkan ini. Di antara upaya yang paling penting untuk menghadapi mereka adalah menutup web-web mereka yang terus menyebarkan berbagai kejelekan dan kesesatan mereka yang demikian besar.

 

Penjelasan Sebagian Prinsip-prinsip Pokok Syiah Rafidhah

Di antara prinsip pokok ajaran Syiah adalah

  1. Pengkafiran dan celaan mereka terhadap para sahabat Nabi. Yang demikian merupakan penghancuran terhadap agama dari dasarnya, karena tidaklah agama ini diketahui kecuali melalui jalan para sahabat. Dan para sahabat telah menyampaikan agama ini dengan sebaik-baiknya.
  2. Bahwa imamah (kepemimpinan terhadap umat ini) menurut mereka merupakan bagian pokok dari agama. Ini adalah sikap ekstrem, karena Nabi telah menjelaskan pokok-pokok agama ini (dalam rukun Iman dan rukun Islam –pen), tetapi permasalahan imamah ini tidak masuk di dalamnya.
  3. Mengenal para imam mereka yang berjumlah 12 orang menurut mereka merupakan pokok agama[4]. Dan siapa yang tidak mengenal para imam itu berarti kafir.
  4. Para imam –menurut mereka- adalah orang-orang yang maksum (terjaga) dari perbuatan dosa, bahkan tidak pernah lupa. Bahkan mereka menganggap bahwa para imam mereka lebih utama dibandingkan para nabi dan rasul.
  5. Mereka meyakini bahwa para imam mereka mengetahui perkara gaib dan ikut mengatur keberlangsungan kehidupan ini. Dan ini termasuk dari kekufuran yang terbesar, karena mereka telah menjadikan para imam mereka sebagai tandingan bagi Allah dalam perkara gaib dan pengaturan terhadap alam semesta ini.
  6. Klaim dusta mereka bahwa Rasulullah telah berwasiat agar kepemimpinan umat setelahnya dipegang oleh Ali –radhiallahu ‘anhu-, dan mereka mengklaim bahwa para sahabat telah merampas hak kepemimpinan itu dari Ali. Ini termasuk kedustaan yang paling parah, dan ini pula yang menyebabkan mereka tersesat dan memusuhi, mengkafirkan, serta melaknat para sahabat.
  7. Di antara khurafat dan dongeng-dongen mereka, bahwa mereka memiliki Imam Mahdi dari keturunan Ahlul Bait. Mereka senantiasa menunggu-nunggunya di gua Sirdab sejak lebih dari 1200 tahun lalu. Mereka mengklaim bahwa itulah imam mereka yang ke-12. Padahal yang mereka klaim itu hakikatnya tidak ada. Sedangkan Imam Mahdi yang disebutkan oleh Rasulullah adalah benar adanya, tetapi bukan seperti yang diklaim oleh Syiah Rafidhah. Di antara dongeng mereka tentang Musa bin Ja’far (wafat th 183 H) salah satu yang diklaim sebagai imam mereka, bahwa Dia berkata kepada orang-orang di zamannya, “Jika kalian berumur panjang, maka kalian akan berjumpa dengannya (yakni Imam Mahdi mereka yang menurut merek bersembunyi di gua Sirdab tersebut -pen). Dan sampai sekarang ini sudah berlalu 1249 tahun tetapi mereka belum juga mendapatinya. Hal ini menunjukkan bahwa itu hanyalah kedustaan yang disandarkan kepada Musa (bin Ja’far) ini.
  8. Keyakinan mereka tentang raj’ah. Menurut mereka yang tidak mempercayainya maka dia kafir. Al-‘Allamah al-Alusiy berkata (dalam kitab Mukhtashar at-Tuhfah al-Itsna al-Asyariyah hal 200-201), “Menurut madzhab Ahlus Sunnah bahwa orang-orang yang sudah meninggal tidaklah dihidupkan kembali sebelum terjadinya hari kiamat. Sedangkan Syiah Imamiyah dan sebagian kelompok lainnya dari pecahan Syiah Rafidhah meyakini adanya raj’ah. Mereka meyakini bahwa Nabi Muhammad, Ali bin Abi Thalib, anak cucunya, dan musuh-musuh mereka (maksudnya Abu Bakr, Umar, Utsman, Muawiyah, Yazid, Marwan, Ibnu Ziyad, dan lainnya akan dihidupkan kembali setelah munculnya Imam Mahdi versi mereka. Kemudian musuh-musuh ini akan disiksa dan diqishash sebelum munculnya Dajjal. Setelah itu semua, mereka ini mati kembali, kemudian nanti akan dihidupkan kembali pada hari kiamat. -Semoga Allah memerangi orang-orang Syiah Rafidhah-.
  9. Klaim mereka bahwa para sahabat telah melakukan perubahan isi al-Qur’an. Hal yang sangat mustahil untuk para sahabat melakukannya walaupun hanya sekedar satu kata di dalam Kitabullah. Dan sesungguhnya yang telah mengubah isi al-Qur’an justru adalah Rafidhah. Betapa banyak perubahan yang mereka lakukan, baik terhadap lafazh-lafazhnya maupun terhadap makna-maknanya. Kebanyakan perubahan yang mereka lakukan berkaitan dengan ayat-ayat yang berisi janji dan ancaman, ayat-ayat tentang orang-orang kafir dan munafikin yang mereka arahkan kepada para sahabat Nabi. Padahal merekalah yang lebih pantas untuk diarah dengan ayat-ayat tersebut.
  10. Di antara prinsip pokok mereka adalah taqiyyah[5] (menampakkan kesesuaian dengan lawan dan menyembunyikan keyakinan sebenarnya). Taqiyyah di sisi mereka adalah sembilan persepuluh agama, sehingga menurut mereka tidak ada agama bagi yang tidak bertaqiyyah. Mereka menisbatkan sebuah ucapan kepada Abu Ja’far, bahwa dia berkata, “Allah ‘azza wajalla enggan untuk menerima dari kami dan kalian dalam beragama kecuali taqiyyah.” Mereka juga menisbatkan ucapan lainnya kepada Abu Ja’far bahwa dia berkata, “Taqiyyah bagian dari agamaku dan agama leluhurku. Tidak ada keimanan bagi yang tidak bertaqiyyah.” (Lihat kitab al-Kafi karya al-Kulaini (2/217-218).
  11. Di antara pokok agama mereka adalah memakmurkan kuburan, -terlebih lagi kuburan imam-imam mereka-, thawaf di kuburan, meminta tolong kepada yang dikubur, mempersembahkan harta yang demikian banyak, bernadzar, dan menyembelih kurban untuk penghuni kubur. Perbuatan-perbuatan ini termasuk di antara macam-macam kesyirikan yang paling besar.
  12. Di antara pokok penting agama mereka adalah nikah mut’ah (kawin kontrak). Rasulullah pernah membolehkan nikah mut’ah pada kondisi tuntutan kebutuhan dan darurat, kemudian Allah menghapuskan bolehnya nikah mut’ah melalui lisan Rasulullah. Dan di antara yang meriwayatkan pengharaman nikah mut’ah adalah Ali bin Abi Thalib –radhiallahu ‘anhu- yang diklaim sebagai imam mereka -pen). Sedangkan kaum Syiah menghalalkannya dan meriwayatkan berbagai keutamaan nikah mut’ah, yang secara syar’I maupun akal sehat pasti akan menolaknya. Di antaranya ucapan mereka tentang nikah mut’ah:

“Barangsiapa mut’ah dengan seorang wanita mukminah pahalanya seperti menngunjungi Ka’bah sebanyak 70 kali.”

Juga ucapan mereka bahwa ash-Shaduq telah meriwayatkan dari ash-Shadiq ‘alaihi salam, “Sesungguhnya mut’ah adalah agamaku dan agama nenek moyangku. Siapa yang melakukannya berarti dia mengamalkan agama kami, dan barangsiapa mengingkarinya berarti dia mengingkari agama kami dan meyakini agama selain agama kami.”

Mut’ah dengan gambaran demikian ini di sisi mereka merupakan keyakinan yang paling agung, di mana mereka mengkafirkan siapa saja  yang meninggalkannya.

Mereka juga memiliki riwayat-riwayat lain tentang keutamaan mut’ah, di antaranya: “Siapa yang melakukan mut’ah 1 kali maka derajatnya semisal dengan al-Husain –’alaihi salam. Siapa yang melakukan mut’ah 2 kali maka derajatnya semisal dengan al-Hasan –’alaihi salam. Siapa yang melakukan mut’ah 3 kali maka derajatnya semisal dengan Ali –’alaihi salam. Siapa yang melakukan mut’ah 4 kali maka derajatnya semisal dengan derajatku.”

Ungkapan “alaihi salam” termasuk di antara ciri khas mereka. Yang benar, semestinya jika dia seorang sahabat dengan ungkapan “radhiallahu ‘anhu”. Jika dari kalangan tabi’in dan setelahnya, maka dengan ungkapan “rahimahullah”.

Inilah sekilas keterangan tentang agama Syiah Rafidhah. Seandainya mau diperinci, niscaya kesesatan dan kekufuran mereka akan mencapai berjilid-jilid kitab.

 

Ditulis oleh:

Rabi’ bin Hadi ‘Umair al-Madhali

12 Jumadal Akhirah 1432

 

Catatan Kaki :

[1]  Judul asli risalah ini adalah at-Tahdzir min intisyari dini ar-Rawafidh fi al-Jazair wa ghairiha min buldanil muslimin.

[2] Rafidhah adalah salah satu sekte yang ada dalam ajaran Syiah. Dari sekian sekte yang ada di masa ini yang paling dominan di seluruh dunia adalah Rafidhah dengan Negara Iran sebagai pusatnya. Syiah Rafidhah dikenal juga dengan sebutan Syiah Imamiyah, Syiah Itsna ‘Asyariyah, dan Syi’ah Ja’fariyah.

[3]  Kota Qum merupakan pusat pendidikan ajaran Syiah Rafidhah di negeri Iran.

[4]  Dengan prinsip ini maka mereka dikenal juga dengan Syiah Imamiyah atau Syiah Itsna ‘Asyariyah.

[5] Hakikatnya dengan prinsip ini mereka menghalalkan dusta. Oleh karena itu, tidak ada kelompok sesat yang lebih pendusta dibandingkan Syiah Rafidhah.