Barakah Ilmu Hadits Akan Tampak Pada Dua Hal Ini

Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah mengatakan:

Barakah ilmu hadits itu akan tampak pada:

Yang pertama, akhlak ahlul hadits

Kemudian yang kedua tampak pada pemikiran dan madzhabnya

Jika engkau melihat seorang ahli hadits, namun ternyata akhlaknya tidak baik dan pemikirannya (akidah dan manhajnya) tidak lurus, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya dia itu belajar hadits karena perkara duniawi, bisa jadi karena ingin mendapatkan harta, dan bisa jadi karena ingin mencari popularitas.

Maka tentu menjadi sebuah problema, manakala ada orang yang sibuk bergelut dengan hadits, namun ternyata tidak memberikan pengaruh baginya!!.

Dinukil dari http://www.albaidha.net/vb/

منتديات-البيضاء-العلمية/الـمـــنابـــر-الـعـلـمـيـــة/الـمـنـبــر-الـــعــــام/23405-رحم-الله-الشيخ-الألباني

قال الشيخ الألباني رحمه الله :
علم الحديث بركته في خلق المحدث أولاً ثم فكره ومذهبه ثانياً ، فإذا رأيت حديثياً لم يتحسن خلقه ولم يستقم فكره فافهم أن دراسته للحديث لأمر دنيوي ؛ قد يكون للمال ، قد يكون للظهور ؛ فمشكلة من يشتغلون بالحديث أنهم لا يتاثرون به.

Sumber Artikel : http://mahad-assalafy.com/2016/10/30/barakah-ilmu-hadits-tampak-dua-hal/

Apa Hukum Seorang yang Durhaka Kepada Kedua Orang Tuanya, dan Bagaimana Cara Bertaubat Darinya?

APA HUKUM SEORANG YANG DURHAKA KEPADA KEDUA ORANG TUANYA, DAN BAGAIMANA CARA BERTAUBAT DARINYA?

Asy Syaikh Shalih Fauzan bin Abdillah al Fauzan حفظه الله

Pertanyaan: Apa hukum seorang yang durhaka kepada kedua orang tuanya dan bagaimana cara bertaubatnya?

Jawaban:

Durhaka kepada kedua orang tua merupakan salah satu dosa besar, bahkan dia terletak setelah dosa syirik dikarenakan hak kedua orang tua terletak setelah hak Allah,

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا
تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“.beribadalah hanya kepada Allah dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua”.

وَقَضَىٰ رَبُّكَ
أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“dan Robbmu memutuskan agar kalian jangan beribadah kepada selain Allah dan hendaknya kalian berbuat baik kepada kedua orang tua”.

Maka durhaka kepada keduanya merupakan dosa besar. Kalau keduanya masih hidup, maka mintalah maaf kepada keduanya dan bertaubatlah kepada Allah, kemudian berbaktilah kepada keduanya. Adapun kalau keduanya telah wafat dalam keadaan dia durhaka kepada keduanya, maka mintakanlah ampun kepada Allah untuk kedua orangtuanya, mendoakan kebaikan untuk keduanya, dan bersedekah untuk keduanya yang semoga Allah meringankan dosa kedurhakan dia dengan sebab amalan tersebut.

Sumber: http://alfawzan.af.org.sa/node/15449

Alih bahasa : Syabab Forum Salafy

***   ***

ما حكم عقوق الوالدين وما السبيل للتوبة؟

السؤال:
ما حكم عقوق الوالدين وما السبيل للتوبة؟

الجواب: عقوق الوالدين
كبيرة من كبائر الذنوب يأتي بعد الشرك بالله -عز وجل-لأن حق الوالدين يأتي بعد حق
الله}وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا
تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا)،(وَقَضَىٰ رَبُّكَ
أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ{فعقوقهما كبيرة من كبائر الذنوب فإن كانا حيين فإنه يستسمحهما ويتوب إلى
الله ويبر بهما وإن كانا ميتين وقد عقّهُما فإنه يستغفر الله لهما ويدعوا الله لها

ويتصدق عنهما لعل الله أن يخفف عنه ذلك.

Sumber Artikel : http://forumsalafy.net/apa-hukum-seorang-yang-durhaka-kepada-kedua-orang-tuanya-dan-bagaimana-cara-bertaubat-darinya/

HUKUM MENJAWAB SALAM DALAM SHALAT

salamHUKUM MENJAWAB SALAM DALAM SHALAT

Asy Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullah

Pertanyaan: Wahai Syaikh yang mulia, jika saya dalam shalat zhuhur lalu ada orang lain yang mengucapkan salam kepada saya, apakah saya bisa menjawabnya atau tidak? dan apa semestinya dilakukan oleh orang yang baru datang?

Jawaban: Adapun menjawab salam dengan perkataan maka tidak boleh, karena engkau jika menjawabnya dengan ucapan, shalatnya akan batal.
Dan adapun menjawab dengan isyarat, maka tidak mengapa. Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab salam (dalam shalat) dengan isyarat, beliau mengangkat tangannya. Sebagai isyarat, kalau saya telah mendengar (salam-mu) akan tetapi aku tidak boleh bercakap-cakap, karena aku sedang shalat.

Akan tetapi jika orang yan mengucapkan salam tadi masih ada sampai orang yang shalat selesai, ia bisa menjawabnya dengan perkataan. Jika ia sudah pergi, isyarat tadi sudah mencukupi.

Sumber silsilah al-Liqa asy-Syahri/ Pertemuan 71.

Sumber: http://forumsalafy.net/hukum-menjawab-salam-dalam-shalat/

YANG DIBACA UNTUK ORANG YANG BERSIN LEBIH DARI TIGA KALI

doa-bersinYANG DIBACA UNTUK ORANG YANG BERSIN LEBIH DARI TIGA KALI

Berkata Asy-Syaikh Al-Allamah Muhammad bin Hadi Al-Madkhali hafizhahullah

Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

Jika salah seorang dari kalian bersin, hendaknya ia mengucapkan:

اَلْحَمْدُ لِلَّه

“Segala puji milik Allah”

Dan hendaknya saudaranya mengatakan kepadanya:

يَرْحَمُكَ اَلله

“Semoga Allah merahmatimu.”

Maka jika ia (yang mendengar) mengatakan :

يَرْحَمُكَ اَلله

Ini adalah “Tasymiyah”, maka hendaknya ia mendoakan yang bersin dengan rahmat. Maka jika saudaranya mengatakan :

يَرْحَمُكَ اَلله

Hendaknya orang yang bersin membalas saudaranya ketika mendoakannya, dengan mengucapkan kalimat ini ;

((يَهْدِيكُمُ اَللَّهُ, وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ ))

“Semoga Allah memberikah hidayah padamu dan memperbaiki keadaanmu.”

Ia menjawabnya sebagai balasan atas apa yang ia doakan. Dan ini dilakukan jika orang itu bersin kali ke satu, kedua dan ketiga.

Maka jika bersinnya lebih dari tiga kali, berarti ia mengalami influenza, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata setelah bersinnya tiga kali mengatakan kepada yang bersin :

((شفاك الله))

” Semoga Allah menyembuhkanmu.”

***

Sumber: http://miraath.net/articles.php?cat=11&id=1989

Sumber: http://forumsalafy.net/yang-dibaca-untuk-orang-yang-bersin-lebih-dari-tiga-kali/

Kewajiban Taat Kepada Pemerintah Prinsip Islam Yang Semakin Terlupakan

kursi

Oleh: Al-Ustadz Muhammad Umar as-Sewed

Kewajiban taat kepada pemerintah merupakan salah satu prinsip Islam yang agung. Namun di tengah carut-marutnya kehidupan politik di negeri-negeri muslim, prinsip ini menjadi bias dan sering dituding sebagai bagian dari gerakan pro status quo. Padahal, agama yang sempurna ini telah mengatur bagaimana seharusnya sikap seorang muslim terhadap pemerintahnya, baik yang adil maupun yang zalim.

KKN, represivitas penguasa, kedekatan pemerintah dengan Barat (baca: kaum kafir), seringkali menjadi isu yang diangkat sekaligus dijadikan pembenaran untuk melawan pemerintah. Dari yang ‘sekadar’ demonstrasi, hingga yang berujud pemberontakan fisik.

Meski terkadang isu-isu itu benar, namun sesungguhnya syariat yang mulia ini telah mengatur bagaimana seharusnya seorang muslim bersikap kepada pemerintahnya, sehingga diharapkan tidak timbul kerusakan yang jauh lebih besar.

Yang menyedihkan, Islam atau jihad justru yang paling laris dijadikan tameng untuk melegalkan gerakan-gerakan perlawanan ini. Di antara mereka bahkan ada yang menjadikan tegaknya khilafah Islamiyah sebagai harga mati dari tujuan dakwahnya. Mereka pun berangan-angan, seandainya kejayaan Islam di masa khalifah Abu Bakr dan Umar bin al-Khaththab  dapat tegak kembali di masa kini.

Jika diibaratkan, apa yang dilakukan kelompok-kelompok Islam ini seperti “menunggu hujan yang turun, air di bejana ditumpahkan”. Mereka sangat berharap akan tegaknya khilafah Umar bin al-Khaththab , namun kewajiban yang Allah  perintahkan kepada mereka terhadap penguasa yang ada di hadapan mereka, justru dilupakan. Padahal dengan itu, Allah akan mengabulkan harapan mereka dan harapan seluruh kaum muslimin.

 

Wajibnya Taat kepada Penguasa Muslim

Allah telah memerintahkan kepada kaum muslimin untuk taat kepada penguasanya betapa pun jelek dan zalimnya mereka. Tentunya dengan syarat, selama para penguasa tersebut tidak menampakkan kekafiran yang nyata. Allah juga memerintahkan agar kita bersabar menghadapi kezaliman mereka dan tetap berjalan di atas As-Sunnah.

Karena barang siapa yang memisahkan diri dari jamaah dan memberontak kepada penguasanya maka matinya mati jahiliah. Yakni mati dalam keadaan bermaksiat kepada Allah  seperti keadaan orang-orang jahiliah.

1. (Lihat ucapan al-Imam an-Nawawi t dalam Syarah Shahih Muslim)
Dari Ibnu Abbas, dia berkata, Rasulullah bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ فَمِيتَةٌ جَاهِلِيَّةٌ

“Barang siapa melihat sesuatu yang tidak dia sukai dari penguasanya, maka bersabarlah! Karena barang siapa yang memisahkan diri dari jamaah sejengkal saja, maka ia akan mati dalam keadaan mati jahiliah.” (Sahih, HR. al-Bukhari dan Muslim)
Diriwayatkan dari Junadah bin Abu Umayyah, dia berkata, “Kami masuk ke rumah Ubadah bin ash-Shamit ketika beliau dalam keadaan sakit dan kami berkata kepadanya, ‘Sampaikanlah hadits kepada kami—aslahakallah (semoga Allah memperbaiki keadaanmu)—dengan hadits yang kau dengar dari Rasulullah yang dengannya Allah akan memberikan manfaat bagi kami!’ Maka ia pun berkata,

دَعَانَا رَسُوْلُ اللهِ n فَبَايَعَنَاَ، فَكَاَنَ فِيْمَا أَخَذَ عَلَيْنَا أَنْ بَايَعْنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطاَّعَةِ، فِيْ مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا، وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا، وَأَثَرَةٍ عَلَيْنَا، وَأَنْ لاَ نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ، قَالَ: إِلاَّ أَنْ تَرَوْا كُفْرَا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنَ اللهِ فِيْهِ بُرْهَانٌ

“Rasulullah memanggil kami kemudian membai’at kami. Dan di antara bai’atnya adalah agar kami bersumpah setia untuk mendengar dan taat ketika kami semangat ataupun tidak suka, ketika dalam kemudahan ataupun dalam kesusahan, ataupun ketika kami diperlakukan secara tidak adil. Dan hendaklah kami tidak merebut urusan kepemimpinan dari orang yang berhak—beliau berkata—kecuali jika kalian melihat kekufuran yang nyata, yang kalian memiliki bukti di sisi Allah.”

(HR. al-Bukhari dalam Shahih-nya juz 13 hlm.192, cet. Maktabatur Riyadh al-Haditsah, Riyadh. HR. Muslim dalam Shahih-nya, 3/1470, cet. Daru Ihya’ut Turats al-Arabi, Beirut, cet. 1)

 

Wajib Taat Walaupun Jahat dan Zalim
Kewajiban taat kepada pemerintah ini, sebagaimana dijelaskan Rasulullah, adalah terhadap setiap penguasa, meskipun jahat, zalim, atau melakukan banyak kejelekan dan kemaksiatan. Kita tetap bersabar mengharapkan pahala dari Allah dengan memberikan hak mereka, yaitu ketaatan walaupun mereka tidak memberikan hak kita.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud, dia berkata, Rasulullah bersabda:

إِنَّهَا سَتَكُونُ بَعْدِي أَثَرَةٌ وَأُمُورٌ تُنْكِرُونَهَا قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ كَيْفَ تَأْمُرُنَا؟

“Akan muncul setelahku atsarah (orang-orang yang mengutamakan diri mereka sendiri dan tidak memberikan hak kepada orang yang berhak, red.) dan perkara-perkara yang kalian ingkari.” Mereka (para sahabat, red.) bertanya, “Apa yang engkau perintahkan kepada kami, wahai Rasulullah?” Beliau  berkata,

تُؤَدُّوْنَ الْحَقَّ الَّذِيْ عَلَيْكُمْ وَتَسْأَلُوْنَ اللهَ الَّذِيْ لَكُمْ

“Tunaikanlah kewajiban kalian kepada mereka dan mintalah hak kalian kepada Allah.” (Sahih, HR. al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya)
Diriwayatkan pula dari ‘Adi bin Hatim, dia berkata, “Kami mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, kami tidak bertanya tentang ketaatan kepada orang-orang yang takwa, tetapi orang yang berbuat begini dan begitu… (disebutkan kejelekan-kejelekan).’ Maka Rasulullah bersabda:

وَاتَّقُوا اللهََ وَاسْمَعُوْا وَأَطِيْعُوْا

‘Bertakwalah kepada Allah! Dengar dan taatlah!’.”

(Hasan lighairihi, diriwayatkan oleh Ibnu Abu ‘Ashim dalam as-Sunnah dan lain-lain. Lihat al-Wardul Maqthuf, hlm. 32)
Ibnu Taimiyah berkata,

“Bahwasanya termasuk ilmu dan keadilan yang diperintahkan adalah sabar terhadap kezaliman para penguasa dan kejahatan mereka, sebagaimana ini merupakan prinsip dari prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah dan sebagaimana diperintahkan oleh Rasulullah dalam hadits yang masyhur.”

(Majmu’ Fatawa juz 28, hlm. 179, cet. Maktabah Ibnu Taimiyah Mesir)
Sedangkan menurut al-Imam an-Nawawi,

“Kesimpulannya adalah sabar terhadap kezaliman penguasa dan bahwasanya tidak gugur ketaatan dengan kezaliman mereka.”

(Syarah Shahih Muslim, 12/222, cet. Darul Fikr Beirut)
Ibnu Hajar berkata,

“Wajib berpegang dengan jamaah muslimin dan penguasa-penguasa mereka walaupun mereka bermaksiat.” (Fathul Bari Bi Syarhi Shahihil Bukhari)

 

Tetap Taat Walaupun Cacat
Meskipun penguasa tersebut cacat secara fisik, Rasulullah tetap memerintahkan kita untuk tetap mendengar dan taat. Walaupun hukum asal dalam memilih pemimpin adalah laki-laki, dari Quraisy, berilmu, tidak cacat, dan seterusnya. Namun jika seseorang yang tidak memenuhi kriteria tersebut telah berkuasa—baik dengan pemilihan, kekuatan (kudeta), dan peperangan—maka ia adalah penguasa yang wajib ditaati dan dilarang memberontak kepadanya. Kecuali, jika mereka memerintahkan kepada kemaksiatan dan kesesatan, maka tidak perlu menaatinya (pada perkara tersebut, red.) dengan tidak melepaskan diri dari jamaah.
Diriwayatkan dari Abu Dzar bahwa dia berkata:

إِنَّ خَلِيْلِيْ أَوْصَانِي أَنْ أَسْمَعَ وَ أَطِيْعَ، وَإِنْ كَانَ عَبْدًا مُجَدَّعَ الْأَطْرَافِ

“Telah mewasiatkan kepadaku kekasihku agar aku mendengar dan taat walaupun yang berkuasa adalah bekas budak yang terpotong hidungnya (cacat).2”

(Sahih, HR. Muslim dalam Shahih-nya, 3/467, cet. Daru Ihya’ut Turats al-Arabi, Beirut. HR. al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad, hlm. 54)
Juga diriwayatkan dari Suwaid bin Ghafalah, dia berkata,

“Berkata kepadaku ‘Umar, ‘Wahai Abu Umayyah, aku tidak tahu apakah aku akan bertemu engkau lagi setelah tahun ini… Jika dijadikan amir (pemimpin) atas kalian seorang hamba dari Habasyah, terpotong hidungnya maka dengarlah dan taatlah! Jika dia memukulmu, sabarlah! Jika mengharamkan untukmu hakmu, sabarlah! Jika ingin sesuatu yang mengurangi agamamu, maka katakanlah aku mendengar dan taat pada darahku bukan pada agamaku, dan tetaplah kamu jangan memisahkan diri dari jamaah!”
Wallahu a’lam.

wajib-taat-pada-pemerintah

1. Maksudnya seperti keadaan matinya orang-orang jahiliah yaitu di atas kesesatan dan tidak memiliki pemimpin yang ditaati karena mereka dahulu tidak mengetahui hal itu. (Fathul Bari, 7/13, dinukil dari Mu’amalatul Hukkam hlm. 166, red.)
2. Kalimat mujadda’ bermakna terpotong anggota badannya atau cacat, seperti terpotong telinga, hidung, tangan, atau kakinya. Namun sering kalimat mujadda’ dipakai dengan maksud terpotong hidungnya. Sedangkan mujadda’ul athraf, Ibnu Atsir t dalam an-Nihayah berkata, “Maknanya adalah terpotong-potong anggota badannya, ditasydidkan huruf ‘dal’-nya untuk menunjukkan banyak.” (pen.)

 

DIANTARA SUNNAH YANG TELAH DITINGGALKAN MANUSIA SETELAH MEMBACA AL-QURAN

sunnah-yang-ditinggalkan

DIANTARA SUNNAH YANG TELAH DITINGGALKAN MANUSIA SETELAH MEMBACA AL-QURAN

Janganlah engkau membaca:

صدق الله العظيم

akan tetapi bacalah:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشهد أن لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Sunnah yang kebanyakan manusia melalaikannya setelah membaca Al-Quran.

Disunnahkan setelah selesai membaca Al-Quran untuk membaca :

( سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشهد أن لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ ).

“Maha Suci Engkau Ya Allah dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau, aku memohon ampun kepada-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

Dalil akan hal itu adalah:

Dari Aisyah radhiallahu’anha berkata: Tidaklah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam duduk di satu majlispun dan TIDAKLAH MEMBACA QURAN dan mengerjakan shalat apapun kecuali beliau menutupnya dengan bacaan itu.”

Lalu Aisyah berkata : Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, saya melihat engkau. Tidaklah engkau duduk dalam suatu majlis, tidak pula engkau membaca Quran, tidak pula engkau mengerjakan shalat apapun kecuali engkau menutupnya dengan membaca bacaan tadi?”

Jawab beliau: “Ya, barangsiapa yang mengucapkan kebaikan ditutup untuknya penutup di atas kebaikan tadi. Dan barang siapa yang mengucapkan kejelekan (dalam majlisnya), maka bacaan doa tadi sebagai penghapus kejelekan (kaffarah) baginya.

( سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشهد أن لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ ).

“Maha Suci Engkau Ya Allah dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau, aku memohon ampun kepada-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

Imam Asn-Nasaai membuat Bab atas hadits ini dengan perkataan beliau: “Bab Apa yang dibaca setelah membaca Al-Quran.”

Sanadnya shahih: Dikeluarkan oleh An-Nasaai dalam As-Sunan Al-Kubra dan Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam An-Nukat 2/733. Sanadnya shahih.

  • Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata dalam Ash-Shahihah 7/495 : Ini adalah sanad yang shahih juga diatas syarat Muslim.
  • Syaikh Muqbil Al-Wadii berkata dalam Al-Jami’ As-Shahih mimma Laisa fi Ash-Shahihain 2/128: Ini adalah sanad yang shahih.

Manusia sekarang meninggalkan sunnah yang satu ini, mereka malah membaca doa setelah membaca Al-Quran: Shadaqallahul Azhiim.

—————————————————————————————-

Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah Tentang Shadaqallahul Azhiim :

Menjadikan kalimat “Shadaqallahul Azhiim” dan yang semisalnya sebagai penutup untuk membaca Al-Quran itu bid’ah.

Karena tidak pasti dari Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam kalau beliau membacanya setiap selesai membaca Al-Quran.

Kalau seandainya hal itu disyariatkan untuk menutup bacaan Al-Quran niscaya beliau membaca setelahnya.

Dan telah pasti dari beliau bahwasanya beliau bersabda:

“Barang siapa yang mengada-adakan dalam urusan kami ini perkara yang bukan darinya maka hal itu tertolak.” (HR. Bukhary dan Muslim)..

Hanya Allahlah tempat memohon Taufiq.

Dan shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi kita Muhammad, Keluarga beliau dan sahabat beliau.

***

Komite Tetap Untuk Pembahasan Ilmiyah Dan Fatwa.
Dipimpin oleh Imam AbdulAzuz Bin Baaz rahimahullah
Anggota : Al-Allamah Abdullah bin Ghudayyan rahimahullah.
Anggota Al-Allamah AbdurRazzaq Afifi rahimahullah.

Sumber Fatwa no 7306.

Sumber : http://forumsalafy.net/diantara-sunnah-yang-telah-ditinggalkan-manusia-setelah-membaca-al-quran/

MENYANYI DENGAN BACAAN AL-QUR’AN MERUPAKAN KEKAFIRAN

petir-1MENYANYI DENGAN BACAAN AL-QUR’AN MERUPAKAN KEKAFIRAN

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hady al-Madkhaly hafizhahullah

Penanya: Kami mendengar beberapa hari yang lalu bahwa ada orang yang bernyanyi dengan ayat-ayat dari Kitab Allah Azza wa Jalla dengan sengaja, maka apa hukum dari hal tersebut? Baarakallahu fiikum.

Asy-Syaikh: Apakah seperti yang dilakukan oleh Ummu Kultsum dan biduanita semisalnya? Bagaimana hal ini? Al-Qur’an digunakan untuk bernyanyi. Dengan cara menurut Bahasa Arab dan yang wajar?

Penanya: Yang melakukannya menyanyi dengan surat al-Fatihah sambil menggunakan gitar.

Asy-Syaikh: Dia kafir. Dia menjadikan ayat-ayat Allah Azza wa Jalla sebagai olok-olokan. Ini merupakan kekafiran, penghinaan dan perendahan terhadap Al-Qur’an. Dan siapa saja yang menhinakan Al-Qur’an maka dia kafir dan murtad.

ﺃَﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺁﻳَﺎﺗِﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟِﻪِ ﻛُﻨﺘُﻢْ ﺗَﺴْﺘَﻬْﺰِﺋُﻮﻥَ.

Apakah kalian menjadikan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya sebagai olok-olokan.” (QS. At-Taubah: 65)

Mereka hanya mengatakan, “Kita tidak melihat orang yang paling banyak makan dan paling pendusta ucapannya dibandingkan para ahli Al-Qur’an Kita.”

Mereka mengolok-olok kaum Muslimin sehingga Allah Tabaraka wa Ta’ala mengkafirkan mereka karena mengolok-olok-Nya dan agama-Nya. Maka bagaimana jika seseorang mengolok-olok Al-Qur’an secara langsung dan merendahkannya.

 

Sumber: http://forumsalafy.net/menyanyi-dengan-bacaan-al-quran-merupakan-kekafiran/

Demonstrasi Termasuk Perkara Bid’ah

kawat-berduri

Menjawab pertanyaan yang ditujukan kepada yang mulia Al-Allaamah Zaid bin Muhammad Al-Madkhali rahimahullah tentang masalah demonstrasi yang terjadi di negeri-negeri islam, dan anggapan bolehnya demo oleh sebagian orang, khususnya jika demonya itu damai tanpa membawa senjata. Maka beliau rahimahullah berkata:

“Demonstrasi termasuk perkara yang baru dalam agama, dan setiap perkara yang baru dalam agama itu adalah bidah dan setiap bidah itu sesat dan setiap kesesatan itu di neraka. Yang demikian itu karena syariat Allah itu telah sempurna, kitab dan sunnah. Dan kita tidak mengetahui sedikitpun dari dalil al-kitab dan as-sunnah yang membolehkan sekelompok manusia untuk berkumpul lalu melakukan demontrasi yang terdapat di dalamnya pengacauan terhadap manusia menghabiskan waktu dan lebih parah dari itu adalah ditinggalkan shalat-shalat, terjadi di dalamnya pembunuhan. Maka seandainya dalam satu demo terbunuh satu orang muslim, yang menanggung dosanya adalah orang yang mengajak melakukan demo-demo tersebut. Sama saja, apakah seorang pribadi, sekelompok masyarakat ataupun komunitas. Dan dalam sebuah hadits yang shahih disebutkan:

“Sungguh hilangnya dunia ini lebih ringan di sisi Allah daripada pembunuhan terhadap seorang muslim. (HR. Sunan An-Nasaa’i, bab Ta’zhiimu Ad-dami 7-87 dan At-Tirmidzi dalam bab Maa jaa’a ‘an Tasydiid qatlil mukmin, 4-16)

Maka betapa banyak terbunuh nyawa-nyawa di dalam demontrasi-demontrasi? Dengan disaksikan oleh akal, dalil naqli, adat, perasaan indrawi dan kenyataan yang disaksikan. Maka diada-adakannya demontrasi hanyalah bidah yang sesat, menyeru kepadanya syaithon, nafsu yang mengajak pada kejelekkan dan hawa. Dan tidaklah berkumpul musuh-musuh ini pada suatu perkara kecuali akan hancurlah agama dan dunia, sebagaimana sudah diketahui dalam demo-demo ini. Dan buah dari demontrasi-demontrasi semuanya adalah pembunuhan, kehancuran, menyia-nyiakan harta dan waktu mencemaskan orang-orang yang aman. Dan betapa banyak kejelekkan di dalamnya.

Cukuplah demo itu tergolong keburukkan tatkala demo tidak pernah dikerjakan di zaman para Rasul yang mulia, para nabi yang agung, yang mana mereka telah dicoba dan disakiti oleh kaumnya. Dan berimanlah kepada mereka orang-orang yang beriman, dalam keadaan mereka tidak mengenal demontrasi dan tidak melakukan peledakkan dan pembunuhan, bahkan islam melarang dari semua.

Dan mereka- mereka yang mengajak demo itu dan berpendapat  kalau padanya ada keselamatan telah salah jalan dan keliru jalan dan sebaiknya mereka kembali kepada kebenaran, mengatasi problema-problema dengan Al-kitab dan As-Sunnah dengan pemahaman para ulama yang kokoh dalam keilmuannya. Maka barang siapa yg mengajak manusia kepada kekacauan ini, maka dia telah menyebabkan kerusakan negeri dan para hamba. Dan apa yang telah terjadi dahulu dan sekarang itu menjadi saksi akan hal itu.

Maka saya mengingatkan para penuntut ilmu, hendaknya mereka tidak memperdulikan pendapat yg membolehkan demontrasi damai, sebagaimana yg mereka katakan! Mereka membuat pembagian ini dengan tanpa dalil, bahwasanya (demo) itu boleh! Tanpa dalil yg dijadikan sandaran, tidak dari Al-Kitab tidak pula dari As-Sunnah tidak  dari perbuatan Rasul, tidak dari para sahabat yang mulia, tidak pula dari para imam, sebagaimana yg telah lalu. Sebagaimana selain diriku telah menulis, dan cukuplah dengan tulisan Hai’ah Kibaarul Ulama sebagai penjelasan dan keterangan bagi orang yang menginginkan kebenaran dan berkumpul diatas itu:  Sesungguhnya demontrasi yg dengan tatacara yang telah kita ketahui itu batil, bahwasanya hal itu tidak memiliki dasar syariat, bahwasanya hal itu mengantarkan kepada kerusakan para hamba dan negeri. Dan ini adalah pendapat yg benar yang telah ditanda tangani oleh lebih dari dua puluh orang alim, bahkan seluruh ulama yang terpandang menyerukan kepada manusia,  kalau demontrasi itu adalah sebuah jalan, bukan jalan kebaikan dan perbaikan

Dan sesungguhnya jalan yang selamat adalah dengan menasihati orang yang memegang urusan kekuasaan wilayah di bumi ini jika memang dia bersalah, diseru dengan cara yang tepat sesuai tingkatan yang ia ada padanya, tanpa menimbulkan kekacauan seperti ini  yang bisa melenyapkan jiwa, membuat takut orang-orang yang aman, dan terjadi di dalamnya apa yang sudah disaksikan manusia di zaman ini dan sebelumnya. Wallahu a’lam.

Yang mulia As-syaikh Al-Faqih Al-Allamah Zaid bin Muhammad Al-Madkhali rahimahullah Al-Al-afnaan watauhiid Ibni Khuzaimah wa hadits an al-muzhaharah, 4-4-1432 H.

***

Sumber: http://www.sahab.net/home/?p=1397

http://forumsalafy.net/

Alih bahasa: Ustadz Abu Hafs Umar al-Atsary hafizhahullah

Nasehat untuk Kaum Muslimin Indonesia Terkait Demonstrasi 4 November 2016 di Jakarta

kepal-demo

? asy-Syaikh DR. ‘Abdullah bin ‘Abdurrahim al-Bukhari hafizhahullah

? Tanya :
? “Hari ini (kemarin, Jum’at 4/10/2016, pen) di Ibu kota Indonesia, Jakarta diadakan demonstrasi besar-besar.
Demonstrasi tersebut menuntut diadilnya Gubernur Jakarta, seorang yang beragama kristen, yang telah melecehkan ayat al-Quran dan para da’i!

Tak tersembunyi bagi Anda, akibat dari demonstrasi, yaitu berbagai kerusakan dan kejelekan, meskipun mereka menyebutnya sebagai aksi damai.

?? Sebagaimana diketahui bahwa yang turut serta dalam demonstrasi tersebut adalah dari berbagai kelompok, seperti shufiyyah, ikhwaniyyah, dan khawarij, serta para politikus, dll.

? Pertanyaan :
1. Bolehkah bagi kaum muslimin untuk ikut serta dalam demonstrasi tersebut?
2. Apa cara terbaik yang Anda nasehatkan untuk kaum muslimin demi mengganti gubernur tersebut?
3. Apa nasehat dan arahan Anda untuk kaum muslimin secara umum dan salafiyyin secara khusus terkait kejadian ini?

? Jawab :

1⃣ Pertanyaan pertama “Bolehkah bagi kaum muslimin untuk ikut serta dalam demonstrasi tersebut?”
Tidak boleh. Demonstrasi bukan bagian dari Syari’at Islam. Sebagaimana telah kami jelaskan berulang-kali. Bahkan kalaupun pemimpin suatu negeri, dan dia muslim, membolehkan dan mengizinkan demonstrasi, maka tidak ada ketaatan kepadanya dalam masalah ini. Karena tidak dibenarkan baginya mengizinkan perbuatan seperti ini. Tidak ada kewajiban mendengar dan taat kecuali dalam hal yang ma’ruf (kebaikan). “Hanyalah ketaatan itu dalam hal yang ma’ruf (kebaikan)”
❌ Sedangkan demonstrasi ini bukan termasuk perkara yang ma’ruf. Sebagaimana sudah kami jelaskan berulang kali. Ini jawaban pertama.

2⃣▪️ Cara terbaik yang kami nasehat kaum muslimin dengannya dalam upaya mengganti gubernur tersebut, adalah menulis surat ditujukan kepada pemimpin negeri. Yang menulisnya adalah orang-orang yang berakal jernih dan tokoh terpandang, bukan rakyat jelata atau para pengacau.
? Hendaknya mereka menulis surat atau menyampaikan laporan, meminta agar diadili atau yang lainnya.
✍? Penulisan surat dilakukan oleh orang-orang yang berakal jernih dan cerdas saja.
❌ Tidak ada demonstrasi, orasi, maupun gerakan rakyat. Ini bukan bagian dari agama Allah sama sekali.

3⃣ Nasehatku untuk kaum muslimin secara umum dan salafiyyin secara khusus, adalah nasehat sebagaimana di atas :
• Jangan ikut dalam demonstrasi!
• Jika mau hendaknya menyampaikan pengaduan kepada pemerintah dan memohon agar memberhentikan orang tersebut dari kepemimpinan di propinsi itu, atau mengadilinya.
Dengan cara ini, telah tertunaikan tanggung jawab.
Jika pengaduhan itu dipenuhi, maka alhamdulilah. Jika tidak terpenuhi, maka telah tertunaikan tanggung jawab. Permasalahannya pun selesai sampai di sini.

رابط المادة:
? http://elbukhari.com/wp-content/uploads/2016/11/fawaid_sawtiyah_sh_albukhary_223.mp3
? 1.18 MB

Sumber: http://www.manhajul-anbiya.net

Wajah Asli Syiah Rafidhah (Menyingkap Topeng Syiah)

 wajah-asli-syiah

Tema pembahasan ini mungkin sudah kesekian kalinya. Bukan hanya di lembar singkat ini saja, akan tetapi bahaya Syiah telah banyak dipaparkan di berbagai media. Bahkan, Majelis Ulama Indonesia dan Mahkamah Agung, sebagai lembaga resmi pemerintah, telah mengeluarkan fatwa dan surat keputusan bahwa Syiah merupakan aliran sesat lagi terlarang di Indonesia. Bahkan bukti-bukti menunjukkan Syiah bukan bagian dari Islam.

Pembaca, mari sejenak mengulas kembali hakikat ajaran Syiah dalam tajuk “Wajah Asli Syiah Rafidhah.” Harapannya, masyarakat menjadi sadar dan tidak tertipu dengan topeng indah Syiah. Fokus pembahasan kita kali ini terkait dengan keimanan terhadap al-Qur’an. Satu poin ini saja, mampu membedakan antara agama Islam dengan agama Syiah, belum lagi poin-poin yang lainnya. Selamat menyimak!

Al-Qur’an, Kitab yang Terjaga

Sebagai muslim, kita semua memiliki keyakinan bahwa al-Qur’an adalah kitab suci agama Islam. Keyakinan ini merupakan salah satu kandungan dari rukun Iman yang ketiga, yaitu beriman terhadap kitab-kitab Allah. Al-Qur’an adalah kalam ilahi yang di dalamnya terdapat syariat Islam yang mulia.

Subtansi lain dari beriman terhadap kitab al-Qur’an adalah meyakini bahwa al-Qur’an diturunkan oleh Allah melalui malaikat Jibril kepada nabi Muhammad. Allah berfirman,

وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ * نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ

Sesungguhnya ia (al-Qur’an) benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam. Yang dibawa oleh Ruh yang terpercaya (Jibril).” (QS. asy-Syu’ara: 192-193)

Dalam ayat di atas, Jibril disifati sebagai Ruh yang terpercaya. Artinya, Jibril selalu amanah dalam menyampaikan wahyu dari Allah kepada Nabi Muhammad, termasuk al-Qur’an. Sehingga, tidak ada yang dirubah, ditambahi maupun dikurangi. Ini merupakan salah satu bentuk penjagaan terhadap keotentikan al-Qur’an. Sehingga tidak ada kejanggalan maupun kesalahan dalam al-Qur’an. Oleh karena itu, Allah menegaskan sifat al-Qur’an,

لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

Yang tidak datang kepadanya (al -Qur’an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (QS. Fushilat: 42)

Kesimpulannya, bahwa al-Qur’an sejak diturunkannya telah dijaga. Bahkan, hingga hari kiamat kitab suci umat Islam ini juga tetap akan terjaga. Dari generasi ke generasi, para penghafal al-Qur’an (huffazhul-Qur’an) terus dijumpai. Allah berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.” (QS. al-Hijr: 9)

Pembaca, ayat di atas adalah jaminan keotentikan al-Qur’an dari Allah. Al-Qur’an akan terjaga selama-lamanya. Inilah salah satu keyakinan umat Islam, sejak zaman Nabi Muhammad hingga hari kiamat. Sebuah keyakinan yang tidak bisa ditawar-tawar. Dengan keyakinan ini pula, terbedakan antara seorang muslim dengan seorang kafir.

Al-Qur’an di Mata Syiah

Namun, keyakinan umat Islam yang telah diyakini secara ijma’ (konsensus) dan turun-temurun ini diingkari oleh sekte Syiah Rafidhah. Berikut ini beberapa penyimpangan ajaran Syiah yang ternyata bertolak belakang dengan ajaran Islam.

Inilah wajah asli Syiah Rafidhah. Dalam kitab Awail al-Maqalat hal. 80-81, seorang ulama Syiah, al-Mufid, menyatakan bahwa al-Qur’an yang ada saat ini tidak orisinil. Al-Qur’an sekarang sudah mengalami distorsi, penambahan dan pengurangan. Baqir al-Majlisi, tokoh Syiah, mengatakan dalam kitab Mir’atul Uqul Syarh al-Kafi lil Kulaini vol. 12/525 bahwa al-Qur’an telah mengalami pengurangan dan perubahan. Tokoh mufassir Syiah, Ali bin Ibrahim al-Qummi, menegaskan dalam mukadimah tafsirnya hal. 5, 9, 10 dan 11 bahwa ayat-ayat al-Qur’an ada yang dirubah sehingga tidak sesuai dengan ayat aslinya ketika diturunkan oleh Allah. Dalam kitab al-Ihtijaj vol. 1/156, Abu Manshur Ahmad bin Ali at-Thabarsi (tokoh Syiah abad ke-6 H) menegaskan bahwa al-Qur’an sekarang adalah palsu, tidak asli dan telah terjadi pengurangan.

Pembaca, perhatikanlah pernyataan tokoh Syiah di atas. Ulama terpandang mereka dengan tegas menyatakan al-Qur’an telah mengalami perubahan. Keyakinan ini bertentangan dengan jaminan Allah terhadap keotentikan al-Qur’an sebagaimana dalam paparan ayat-ayat di atas. Kalau begitu, kaum Syiah mendustakan berita dari Allah dalam al-Qur’an. Kiranya, pantaskah seorang muslim bertindak sedemikian lancang? Bukankah ucapan di atas tidak ada bedanya dengan ucapan musuh-musuh Islam? Pembaca, jujurkah slogan cinta Islam yang dilontarkan oleh kaum Syiah? Padahal kita yakin, bahwa kalam Allah adalah sebaik-baik ucapan, sejujur-jujur pernyataan dan sebenar-benar perkataan. Allah berfirman,

Dan tidak ada yang lebih benar perkataannya selain Allah.” (QS. an-Nisa’: 87) Semakna dengan ayat ini,

Allah berfirman,

وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلًا

Dan tidak ada yang lebih benar perkataannya selain Allah.” (QS. an-Nisa’: 122)

Rasulullah bersabda dalam setiap pembukaan pidato maupun khutbah,

فَإِنَّ أَصْدَقَ اْلحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ

Sesungguhnya sebenar-benar ucapan adalah kitabullah (al-Qur’an).” (HR. Abu Dawud, an-Nasa’i, dll)

Syubhat dan Bantahannya

Bisa jadi ada yang menyanggah, pernyataan di atas hanyalah pernyataan oknum saja. Sehingga tidak mewakili kaum Syiah secara menyeluruh. Pernyataan ini terbantah oleh ucapan Syiah sendiri.

Pembaca bisa menyimak ucapan Ni’matullah al-Jazairi dalam kitab al-Anwar an-Nu’maniyah vol. 2/246-247. Kata tokoh Syiah ini, semua imam Syiah menyatakan adanya perubahan dalam al-Qur’an, kecuali Murtadha, ash-Shaduq dan beberapa tokoh lainnya. Kemudian al-Jazairi melanjutkan, ulama yang menyatakan bahwa tidak ada perubahan dalam al-Qur’an sedang bertaqiyah. Taqiyah adalah salah satu akidah Syiah yang berarti bolehnya berdusta. Jika ada yang berkata, bukankah kaum Syiah tetap menggunakan al-Qur’an yang ada sekarang? Jawabannya telah disampaikan sendiri oleh tokoh-tokoh ternama Syiah. Simak saja pernyataan al-Mufid (al-Masail as-Sirawiyah hal. 81-82), al-Jazairi (al-Anwar an-Nu’maniyah vol. 2/248) dan al-Majlisi (Mir’atul Uqul vol 3/31 dan Bihar al-Anwar vol. 92/65). Mereka menyatakan bahwa kaum Syiah disuruh membaca al-Qur’an yang ada sekarang sampai datangnya imam Mahdi (imam Mahdi versi mereka, pen).

Al-Qur’an Versi Syiah

Setelah puas menyatakan bahwa al-Qur’an umat Islam ini tidak asli alias palsu, kaum Syiah ternyata memiliki “al-Qur’an” sendiri. Referensi-referensi Syiah menyebutkan, bahwa ayat “al-Qur’an” versi Syiah berjumlah 17.000 ayat.

Menurut mereka, ayat-ayat tersebut diwahyukan oleh Allah kepada Ali dan kepada para imam kaum Syiah setelah Ali, atau kepada para imam yang mendapat wasiat. Ayat-ayat tersebut sekarang ini masih hilang karena dibawa oleh imam Syiah ke-12, yaitu imam Mahdi (imam Mahdi versi Syiah, pen-). Ayat tersebut baru akan hadir kembali saat “imam Mahdi” datang dari ghaibah-nya. Benarkah klaim Syiah di atas? Ternyata jauh panggang dari api. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Abu Juhaifah pernah bertanya kepada Ali bin Abi Thalib, “Apakah Anda menyimpan wahyu selain al-Qur’an?” Ali menjawab, “Tidak, demi (Allah) Yang membelah biji dan menciptakan jiwa.” (Lihat Fathul Bari: 1/203, 4/86, 12/261)

Diterangkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari Syarah Shahih al-Bukhari (1/204), bahwa Abu Juhaifah bertanya demikian kepada Ali karena kelompok Syiah meyakini Ahlul Bait, terutama Ali bin Abi Thalib, memiliki wahyu tersendiri yang tidak diketahui oleh selain mereka. Pertanyaan serupa juga diajukan oleh Mutharif, al-Qais bin Ubad, dan al-Asytar an-Nakha’i. Maka, dengan tegas Ali menjawab bahwa Ahlul Bait tidak memiliki kitab suci apapun selain al-Qur’an yang ada.

Pembaca, ternyata kaum Syiah sendiri tidak jujur terhadap imam mereka. Hal ini wajar! Kepada Allah, Dzat Yang menciptakan seluruh makhluk saja, mereka berani berdusta, apalagi terhadap manusia. Memang, demikianlah wajah asli kaum Syiah Rafidhah.

Kesimpulan

Dengan demikian kaum Syiah telah menyimpang karena telah mengingkari keaslian (keotentikan) dan kebenaran al-Qur’an. Poin ini merupakan poin keempat dari sepuluh poin identifikasi aliran sesat yang difatwakan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Wajar, lembaga resmi pemerintah ini memvonis Syiah sebagai sekte sesat dan terlarang di Indonesia. Masihkah Anda tertipu dengan topeng Syiah?

Wallahu a’lam.

Penulis: Ustadz Abu Abdillah Majdiy

Referensi : http://buletin-alilmu.net/2016/06/03/wajah-asli-syiah-rafidah-bahan-renungan-penguat-akidah/

JIKA KITA SEDANG SHALAT SUNNAH TIBA-TIBA IQOMAT DI KUMANDANGKAN

masjidil-haramJIKA KITA SEDANG SHALAT SUNNAH TIBA-TIBA IQAMAT DIKUMANDANGKAN

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah

Pertanyaan: Kami mengharapkan penjelasan, bagaimana pendapat ulama tentang menyempurnakan shalat sunnah atau tidaknya, tatkala iqamat dikumandangkan?

Jawaban: Yang saya ketahui ada tiga pendapat

Pendapat pertama: Bahwasanya semata-mata shalat diiqamatkan, maka batallah shalat sunnah. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:

« إذا أقيمت الصلاة فلا صلاة إلا المكتوبة ».

“Jika shalat telah diiqamatkan, maka tidak ada shalat kecuali shalat wajib.”

Pendapat kedua: Kebalikannya, bahwasanya tidak batal shalat sunnahnya dan ia bisa menyempurnakannya selama tidak khawatir imam salam dalam keadaan ia belum menyempurnakannya, maka ketika itu ia memutus shalat sunnahnya.

Pendapat ketiga: Pendapat yang pertengahan, yakni

• Jika shalat sudah diiqamatkan, dalam keadaan seorang berada dalam rakaat kedua dalam shalat sunnah, hendaknya ia menyempurnakannya secara ringkas. Dan jika ia berada dalam rakaat pertama, hendaknya ia memutuskan shalat sunnahnya. Dalil dari hal itu adalah:

« من أدرك ركعة من الصلاة فقد أدرك الصلاة »

“Barang siapa yang mendapatkan satu rakaat dari shalat maka berarti ia telah mendapatkan shalat tersebut.”

Sisi pendalilannya adalah orang ini yg berdiri pada rakaat yang kedua, ia telah mendapatkan satu rakaat dari shalat, dalam kondisi yang ia dimaafkan padanya, karena itu dilakukan sebelum iqamat. Maka ia telah mendapatkannya sehingga bisa menyempurnakannya dengan ringkas.

Adapun jika ia masih pada rakaat pertama hendaknya ia memutuskannya, berdasarkan pemahaman sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam :

“Barang siapa yang mendapatkan satu rakaat dari shalat maka berarti ia mendapatkan shalat tersebut.”

Pendapat ini adalah pendapat pertengahan dan inilah YANG BENAR. Bahwasanya jika seorang masih pada rakaat pertama walaupun dalam sujud kedua dari rakaat pertana hendaknya ia memutuskannya.

***

[Fatawa Nur ala Ad-Darbi 733]

Sumber: Channel Fatawa Ahlil ilmi Ats-Tsiqaat

Sumber: http://forumsalafy.net/jika-kita-sedang-shalat-sunnah-tiba-tiba-iqomat-di-kumandangkan/

Mewaspadai Praktek Perdukunan

dupadukun

Zaman modern dengan laju modernisasi dan perkembangan dunia ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK)nya tidak menjamin bahwa orang yang hidup di dalamnya menjadi modern/ilmiah cara berpikirnya. Bahkan tidak sedikit orang yang mengaku modern yang kehidupan realnya justru jauh dari apa yang mereka elukan. Begitu mudahnya mereka dibodohi tentang hal-hal yang bernuansa gaib. Sebut saja praktek perdukunan yang belakangan ini meruak dengan aneka warna, nama, model dan jenisnya. Tak sedikit dari kalangan modernis dan intelek yang menyambutnya. Janji-janji manis (baca: ramalan) para dukun ternyata telah membuat akal dan kemampuan berpikir mereka tumpul. Apalagi kalangan yang notabene lekat dengan animisme dan dinamisme.

Demikianlah di antara fenomena buruk yang ada pada sebagian masyarakat kita. Kehidupan perdukunan menjadi sesuatu yang biasa padahal di mata agama adalah besar. Para dukun dijadikan sebagai nara sumber bahkan rujukan dalam berbagai masalah kemasyarakatan. Padahal, mereka adalah orang-orang yang dimurkai oleh Allah. Tak beda dengan kondisi umat di era jahiliah sebelum diutusnya Rasulullah, yang menjadikan para dukun semisal; syiqq, sathih dan selainnya sebagai rujukan dalam berbagai masalah kemasyarakatan. (Lihat An-Nihayah fii Gharibil Hadits, Ibnul Atsir 4/214)

DEFINISI DUKUN

Dukun dalam bahasa Indonesia mempunyai cakupan yang luas. Namun yang dimaukan dalam pembahasan ini adalah orang yang mengaku mengetahui hal-hal yang bersifat ghaib atau mengetahui segala bentuk rahasia batin. Di antara ulama ada yang merinci; jika hal-hal yang bersifat ghaib itu berupa kejadian yang akan datang (belum terjadi) maka orang yang mengaku mengetahuinya diistilahkan dengan kahin dan jika hal-hal yang bersifat ghaib itu berupa kejadian yang telah terjadi (seperti tempat barang hilang, dll.) maka orang yang mengaku mengetahuinya diistilahkan dengan ‘arraf. Adapun Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, beliau menyatakan bahwa semua yang mengaku mengetahui hal-hal yang bersifat ghaib atau mengetahui segala bentuk rahasia batin baik yang akan terjadi maupun yang telah terjadi tercakup dalam istilah‘arraf.

Dalam koleksi fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah /Komisi Fatwa Kerajaan Arab Saudi 1/393-394, disebutkan bahwa mayoritas dukun adalah orang-orang yang mempelajari ilmu perbintangan (nujum) kemudian dikaitkan dengan berbagai kejadian, atau dengan mempergunakan bantuan jin untuk mencuri berita-berita, dan yang semisal mereka dari orang-orang yang mempergunakan garis di tanah, melihat di cangkir, atau di telapak tangan atau melihat kitab (primbon) untuk mengetahui hal-hal yang ghaib tersebut. (Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah /Komisi Fatwa Kerajaan Arab Saudi 1/393-394)

Al Imam Al Qurthubi berkata: “Barangsiapa mengaku bahwa dirinya mengetahui perkara ghaib tanpa bersandar kepada keterangan dari Rasulullah, maka dia adalah pendusta dalam pengakuannya tersebut.” (Fathul Bari, Al Hafizh  Ibnu Hajar 1/151)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alusy Syaikh berkata: “Yang paling banyak terjadi pada umat ini adalah pemberitaan jin kepada kawan-kawannya dari kalangan manusia tentang berbagai peristiwa ghaib di muka bumi ini. Orang yang tidak tahu (proses ini, -pen) menyangka bahwa itu adalah kasyaf dan karamah. Bahkan banyak orang yang tertipu dengannya dan beranggapan bahwa pembawa berita ghaib (dukun, paranormal, orang pintar dll, -pen) tersebut sebagai wali Allah, padahal hakekatnya adalah wali setan. Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:

“Dan (ingatlah) akan suatu hari ketika Allah ‘Azza wa Jalla mengumpulkan mereka semua, (dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman): ‘Hai golongan jin (setan), sesungguhnya kalian telah banyak menyesatkan manusia’, lalu berkatalah kawan-kawan mereka dari kalangan manusia: ‘Ya Rabb kami, sesungguhnya sebagian dari kami telah mendapat kesenangan dari sebagian (yang lain) dan kami telah sampai pada waktu yang telah Engkau tentukan’. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘Neraka itulah tempat tinggal kalian, dan kalian kekal abadi di dalamnya, kecuali bila Allah ‘Azza wa Jalla menghendaki (yang lain).’ Sesungguhnya Rabb-mu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (Al-An’am: 128) (Fathul Majid, hal. 353)

Bahkan jin-jin yang dijadikan narasumber oleh para dukun itu, tak mengetahui perkara ghaib. Allah berfirman:

“Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka (tentang kematiannya) itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui perkara ghaib tentulah mereka tidak akan berada dalam kerja keras (untuk Sulaiman) yang menghinakan.” (Saba: 14)

CIRI-CIRI DUKUN

Untuk menilai bahwa seseorang itu adalah dukun terkadang agak kesulitan, mengingat tidak sedikit dari para dukun itu yang tak mau lagi menggunakan gelar dukun. Mereka lebih suka menyebut diri dengan orang pintar, paranormal, tabib atau yang semisalnya.  Berikut  ini ada beberapa ciri dukun yang dapat dijadikan acuan untuk menilainya:

  1. Bertanya kepada si pasien tentang namanya, nama ibunya atau semisalnya.
  2. Meminta barang-barang si sakit baik pakaian, sorban, sapu tangan, kaos, celana, atau sejenisnya dari sesuatu yang biasa dipakai si pasien. Terkadang pula meminta fotonya.
  3. Terkadang meminta hewan dengan sifat tertentu untuk disembelih tanpa menyebut nama Allah, atau dalam rangka untuk diambil darahnya untuk kemudian dilumurkan pada diri pasien atau untuk dibuang ke tempat yang sunyi.
  4. Menulis mantra-mantra atau jampi-jampi yang berbau kesyirikan.
  5. Membaca mantra-mantra atau jampi-jampi (doa-doa) yang tidak jelas.
  6. Memberikan kepada pasien kain, kertas atau sejenisnya yang bergariskan kotak yang di dalamnya terdapat huruf-huruf dan nomor-nomor.
  7. Memerintahkan kepada si pasien untuk menjauh dari manusia beberapa saat tertentu, di sebuah tempat yang gelap yang tidak tersinari matahari.
  8. Meminta kepada si pasien untuk tidak menyentuh air beberapa waktu tertentu, biasanya selama 40 hari.
  9. Memberikan kepada si pasien sesuatu untuk ditanam di dalam tanah.
  10. Memberikan kepada si pasien sesuatu untuk dibakar kemudian tubuhnya diasapi dengannya.
  11. Terkadang mengabarkan kepada si pasien tentang namanya, asal daerahnya, dan problem yang menyebabkan dia datang, padahal belum diberi tahu oleh si pasien.
  12. Menuliskan untuk si pasien huruf-huruf yang terputus-putus baik di kertas atau mangkok putih kemudian menyuruh si pasien untuk menuangkan dan mencampurkan dengan air lantas meminumnya.
  13. Terkadang menampakkan suatu penghinaan kepada agama. Misalnya menyobek tulisan-tulisan ayat Al Qur’an atau menggunakannya pada sesuatu yang hina.
  14. Mayoritas waktunya untuk menyendiri dan menjauh dari manusia, karena dia lebih sering menyepi bersama setannya yang membantu praktek perdukunannya. (Lihat kitab Kaifa tatakhallash minas sihr)

HUKUM PERDUKUNAN

Hukum perdukunan adalah haram. Ia merupakan kesyirikan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan sangat bertentangan dengan pokok ketauhidan. Karena adanya unsur menandingi Allah dalam bentuk mengaku mengetahui permasalahan ghaib, yang merupakan kekhususan Allah ‘Azza wa Jalla. Demikian pula terdapat unsur pendustaan terhadap firman Allah ‘Azza wa Jallayang berbunyi:

“Dan hanya di sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib. Tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula). Dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidaklah ada sesuatu yang basah atau pun yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Al-An’am: 59)

“Katakan bahwa tidak ada seorangpun yang ada di langit dan di bumi mengetahui perkara ghaib selain Allah dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.” (An-Naml: 65)

Asy Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh menjelaskan bahwa praktek perdukunan sangat bertentangan dengan pokok ketauhidan. Adapun si dukun, maka ia tergolong musyrik kepada Allah Azza wa Jalla, karena tidak mungkin jin berkenan memberitakan kepadanya berbagai permasalahan ghaib melainkan jika dia telah mempersembahkan ibadah kepada jin tersebut. (At Tamhid Lisyarhi Kitabittauhid)

Hukum Mendatangi Dukun

Adapun hukum mendatangi dukun dan bertanya kepadanya, maka para ulama memberikan rincian sebagai berikut:

1)      Mendatangi dukun semata-mata untuk bertanya sesuatu yang ghaib. Ini adalah perkara yang diharamkan sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:

(( مَنْ أَتَى عَرَّافاً فَسَأَلَهُ عنْ شَيْءٍ فَصَدَّقَهُ، لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أرْبَعِينَلَيْلَةً ))

“Barangsiapa mendatangi dukun lalu dia bertanya tentang sesuatu kemudian membenarkan apa yang diucapkan dukun tersebut, tidaklah diterima shalatnya selama 40 malam.” (HR. Muslim dan Ahmad)
Penetapan adanya ancaman dan siksaan karena bertanya kepada dukun, menunjukkan haramnya perbuatan itu, dan tidaklah datang sebuah ancaman melainkan bila perbuatan itu diharamkan.

2)      Mendatangi mereka lalu bertanya kepada mereka tentang sesuatu yang ghaib dan membenarkan apa yang diucapkan. Ini adalah bentuk kekufuran karena membenarkan dukun dalam perkara ghaib termasuk mendustakan Al Qur`an. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

“Katakan bahwa tidak ada seorangpun yang ada dilangit dan dibumi mengetahui perkara ghaib selain Allah dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.” (An-Naml: 65)

3)      Mendatangi dukun dan bertanya kepadanya dalam rangka untuk mengujinya, apakah dia benar atau dusta. Hal ini tidak mengapa. Sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, saat beliau bertanya kepada Ibnu Shayyad:

( إِنِّي قَدْ خَبَأْتُ لَكَ خَبِيْئًا )

“Apa yang aku sembunyikan buatmu?” Ibnu Shayyad berkata: “Ad-dukh (asap).” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkata:

( اِخْسَأ فَلَنْ تعْدُوَ قَدْرَكَ )

“Diam kamu! Kamu tidak lebih dari seorang dukun.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyembunyikan sesuatu dari Ibnu Shayyad dalam rangka mengujinya.

4)      Mendatangi dukun lalu bertanya kepadanya dengan maksud membongkar kedustaan dan kelemahannya. Mengujinya dalam perkara yang memang jelas kedustaan dan kelemahannya. Hal ini dianjurkan bahkan wajib hukumnya. (Al-Qaulul Mufid, Ibnu ‘Utsaimin)

Dari penjelasan tersebut kita bisa mengetahui haramnya mendatangi dan bertanya kepada mereka (dukun) kecuali apa yang dikecualikan dalam masalah ketiga dan keempat (dan inipun khusus bagi mereka yang memang ahli dan mumpuni dalam masalah ini). Sebab dalam mendatangi dan bertanya kepada mereka terdapat padanya kerusakan yang amat besar, yang berakibat mendorong mereka untuk berani mengerjakan praktek perdukunan dan mengakibatkan manusia tertipu dengan mereka, padahal mayoritas mereka datang dengan segala macam bentuk kebatilan. (Al-Qaulul Mufid, Ibnu ‘Utsaimin)

Referensi : http://buletin-alilmu.net/2011/04/23/mewaspadai-praktek-perdukunan/