MEMBENCI ORANG-ORANG KAFIR BUKAN BERARTI BOLEH BERBUAT JAHAT TERHADAP MEREKA

MEMBECI ORANG-ORANG KAFIR BUKAN BERARTI BOLEH BERBUAT JAHAT TERHADAP MEREKA

Asy-Syaikh Abdul Qadir bin Muhammad al-Junaid hafizhahullah

ﺇﻥ ﺑﻐﻀﻨﺎ ﻟﻠﻜﻔﺮ ﻭﺃﻫﻠﻪ ﻭﺩﻋﺎﺗﻪ ﻻ ﻳُﺒﻴﺢ ﻟﻨﺎ ﺃﻥْ ﻧﻌﺘﺪﻱ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻓﻲ ﺑﻼﺩﻧﺎ ﺃﻭ ﻋﻠﻰ ﺃﻣﻮﺍﻟﻬﻢ ﺃﻭ ﻋﻠﻰ ﺃﻋﺮﺍﺿﻬﻢ، ﻷﻧﻬﻢ ﺩﺧﻠﻮﻫﺎ ﻭﺃﻗﺎﻣﻮﺍ ﻓﻴﻬﺎ ﺑﻌﻬﺪ ﻭﺃﻣﺎﻥ، ﺃﻭ ﺃﻥْ ﻧُﺤْﺪِﺙ ﻓﻲ ﺑﻼﺩﻫﻢ ﺇﻥْ ﺳﺎﻓﺮﻧﺎ ﺇﻟﻴﻬﺎ ﺃﻭ ﻋﺸﻨﺎ ﻓﻴﻬﺎ ﻣﺎ ﻻ ﻳﺤﻞ ﻟﻨﺎ، ﻷﻧﻨﺎ ﺩﺧﻠﻨﺎﻫﺎ ﺃﻭ ﺳﻜﻨﺎﻫﺎ ﺑﻌﻬﺪ ﻭﻣﻴﺜﺎﻕ، ﻛﻤﺎ ﻫﻮ ﺣﺎﻝ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺎﺕ ﺍﻟﺘﻜﻔﻴﺮﻳﺔ ﺍﻟﻤﻌﺎﺻﺮﺓ، ﺣﻴﺚ ﺍﺭﺗﻜﺒﻮﺍ ﻓﻲ ﺣﻘﻬﻢ ﻣﺎ ﺣﺮﻣﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ، ﻛﻘﺘﻠﻬﻢ ﻟﻠﻜﻔﺎﺭ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻓﻲ ﺑﻼﺩ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻣﻤﻦ ﺩﺧﻞ ﺇﻟﻴﻬﺎ ﺑﻌﻬﺪ ﻭﺃﻣﺎﻥ ﻣﻦ ﻗِﺒﻞ ﻭﻟﻲ ﺍﻷﻣﺮ ﺃﻭ ﺃﻱّ ﻓﺮﺩ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺍﻟﻤﻜﻠﻔﻴﻦ ﻣﻦ ﺍﻟﺬﻛﻮﺭ ﻭﺍﻹﻧﺎﺙ، ﺃﻭ ﺍﻋﺘﺪﺍﺋﻬﻢ ﻋﻠﻰ ﺃﻣﻮﺍﻟﻬﻢ ﻭﺃﻋﺮﺍﺿﻬﻢ، ﻭﻛﺬﻟﻚ ﻏﺪﺭﻫﻢ ﻭﻧﻘﻀﻬﻢ ﻟﻠﻌﻬﻮﺩ ﻭﺍﻟﻤﻮﺍﺛﻴﻖ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﺴﻔﺮ ﺇﻟﻰ ﺑﻼﺩﻫﻢ ﺃﻭ ﺍﻟﻌﻴﺶ ﻓﻴﻬﺎ ﺑﺄﻥ ﻻ ﻳُﺤﺪﺛﻮﺍ ﻓﻴﻬﺎ ﻣﺎ ﻫﻮ ﺷﺮ ﻭﺿﺮﺭ، ﺣﻴﺚ ﻓﺠﺮﻭﺍ ﻓﻴﻬﺎ، ﻭﻗﺘﻠﻮﺍ ﺍﻟﺮﺟﺎﻝ ﻭﺍﻟﻨﺴﺎﺀ ﻭﺍﻷﻃﻔﺎﻝ ﻭﺍﻟﺸﻴﻮﺥ، ﻭﺃﺗﻠﻔﻮﺍ ﺍﻷﻣﻮﺍﻝ ﻭﺍﻟﻤﻤﺘﻠﻜﺎﺕ، ﻭﺭﻭَّﻋﻮﺍ ﺍﻟﺴُّﻜﺎﻥ ﻭﺍﻟﻌﻤﺎﻝ ﻭﺍﻟﻤﺎﺭَّﺓ.

ﻭﻻ ﺭﻳﺐ ﺃﻥ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺍﻟﻤﺴﺘﻤﺴﻜﻴﻦ ﺑﺪﻳﻨﻬﻢ ﻻ ﻳﺮﺿﻮﺍ ﺑﻔﻌﺎﻟﻬﻢ ﻫﺬﻩ، ﻟﻤﺨﺎﻟﻔﺘﻬﺎ ﻟﺸﺮﻉ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ، ﻭﻳﻨﻜﺮﻭﻧﻬﺎ ﻋﻠﻰ ﻛﻞ ﻣﻦ ﻓﻌﻠﻬﺎ، ﻭﻳﺒﺮﺋﻮﻥ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻨﻬﺎ ﻭﻣﻨﻬﻢ، ﻭﻳﺒﻴِّﻨﻮﻥ ﺑﻘﺪﺭ ﺍﺳﺘﻄﺎﻋﺘﻬﻢ ﻣﺨﺎﻟﻔﺘﻬﺎ ﻭﻣﺨﺎﻟﻔﺔ ﻣﺮﺗﻜﺒﻴﻬﺎ ﻟﻨﺼﻮﺹ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻭﺍﻟﺴﻨﺔ ﺍﻟﺼﺤﻴﺤﺔ، ﻭﺃﻧﻬﻢ ﻏﺎﺩﺭﻭﻥ ﻭﻣﻌﺘﺪﻭﻥ ﻇﻠﻤﺔ.

Sesungguhnya kebencian kita terhadap kekafiran dan orang-orangnya serta para penyerunya tidaklah membolehkan bagi kita untuk berbuat jahat terhadap mereka di negeri kita, atau terhadap harta mereka, atau terhadap kehormatan mereka, karena mereka masuk dan tinggal negeri kita dengan perjanjian dan jaminan keamanan.

Demikian juga tidak boleh bagi kita untuk melakukan hal-hal yang tidak halal bagi kita jika kita safar atau tinggal di negeri mereka, karena kita masuk dan tinggal di sana dengan perjanjian, sebagaimana keadaan kelompok-kelompok takfir di masa ini dengan melakukan hal-hal yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya, seperti dengan membunuh orang-orang kafir yang masuk ke negeri-negeri kaum muslimin dengan jaminan keamanan dari pemerintah ataupun dari individu seorang muslim baik pria maupun wanita yang mukallaf (dibebani syari’at), atau dengan cara berbuat jahat terhadap harta dan kehormatan mereka, demikian juga dengan cara berkhianat dan melanggar perjanjian dengan mereka untuk tidak melakukan hal-hal yang jahat dan membahayakan ketika safar atau tinggal di negeri mereka, seperti dengan melakukan pengeboman dan membunuh para pria, wanita, anak-anak, dan orang-orang tua, merusak harta dan apa-apa yang mereka miliki, dan menakut-nakuti penduduk, pekerja, dan orang-orang yang lewat.

Dan tidak diragukan lagi bahwa kaum muslimin yang berpegang teguh dengan agama mereka tidak akan ridha dengan kelakuan buruk kelompok-kelompok tersebut, karena itu menyelisihi syari’at Allah, dan mereka mengingkari siapa saja yang melakukannya, berlepas diri darinya dan dari orang-orang yang melakukannya, dan menjelaskan semampu mereka bahwa tindakan-tindakan itu dan para pelakunya menyelisihi dalil-dalil yang jelas dari al-Qur’an dan as-Sunnah yang shahih, dan mereka adalah orang-orang yang melanggar perjanjian, jahat, dan zhalim.

? Sumber || http://www.alakhdr.com/?p=692

Sumber: http://forumsalafy.net/membenci-orang-orang-kafir-bukan-berarti-boleh-berbuat-jahat-terhadap-mereka/

#dakwahIslammagelang #harirayaorangkafir #infoIslammagelang #kajianIslammagelang #orangkafir #RadioIslamMagelang #selamathariraya #ucapanselamathariraya #natal #tahunbaru #mengucapkanselamatnatal #membeciorangkafir

 

Larangan Memberikan UCAPAN SELAMAT Kepada Orang-Orang Kafir Atas Hari-hari Raya Mereka

LARANGAN MEMBERIKAN “UCAPAN SELAMAT” KEPARA ORANG-ORANG KAFIR ATAS HARI-HARI RAYA MEREKA

[termasuk ucapan “Selamat Natal”, atau “Selamat Tahun Baru”, (yakni tahun baru masehi atau imlek, dll), pen ]

Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata,

“Adapun memberikan ucapan selamat kepada mereka (orang-orang kafir) atas syi’ar-syi’ar kufur yang menjadi kekhususan mereka maka hukumnya HARAM dengan kesepakatan (para ‘ulama). Ucapan selamat kepada mereka, (misalnya) dengan mengatakan, “Id (hari raya) kalian Mubarak”, atau “Bergembiralah dengan hari raya ini.” (Atau ungkapan-ungkapan lainnya yang kita dengar sekarang), maka meskipun pengucapnya selamat dari kekufuran (kita berlindung kepada Allah darinya), namun perbuatan tersebut termasuk MUHARRAMAH (hal-hal yang diharamkan). Ucapan itu sama kedudukannya dengan memberikannya ucapan selamat atas sujudnya orang kafir kepada salib. Bahkan itu (ucapan selamat hari raya) LEBIH BERAT DOSAnya di sisi Allah, dan lebih besar kemurkaan Allah terhadapnya dibandingkan ucapan selamat kepada orang yang meminum khamr, membunuh jiwa, atau melanggar kemaluan yang haram (yakni zina), dan semisalnya … Maka barangsiapa yang memberikan ucapan selamat kepada seorang hamba atas sebuah kemaksiatan, atau kebid’ahan, atau kekufuran, maka dia telah mengarahkan dirinya kepada kemurkaan dan kemarahan Allah Ta’ala.”

[Ahkam ahli adz-Dzimmmah]

Sumber : WhatsApp Miratsul Anbiya

Sumber : http://forumsalafy.net/

 

#dakwahIslammagelang #harirayaorangkafir #infoIslammagelang #kajianIslammagelang #orangkafir #RadioIslamMagelang #selamathariraya #ucapanselamathariraya #natal #tahunbaru #mengucapkanselamatnatal

BOLEHKAH TURUT SERTA MERAYAKAN HARI RAYA ORANG KAFIR

BOLEHKAH TURUT SERTA MERAYAKAN HARI RAYA ORANG KAFIR

Asy Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz رحمه الله

Pertanyaan: Sebagian kaum Muslimin ikut serta dalam perayaan hari raya orang Nasrani, apa nasehat anda?

Jawaban:

Tidak diperbolehkan bagi Muslimin dan Muslimat untuk turut serta dalam perayaan hari raya orang Nasrani, Yahudi atau orang-orang kafir lainnya, bahkan wajib untuk meninggalkannya.

Karena barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut.

Dan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam melarang kita untuk meniru kebiasaan mereka atau berakhlak seperti akhlak mereka.

Maka wajib bagi setiap mu’min dan mu’minah untuk berhati-hati dari ini semua. Jangan pula mereka turut membantu terlaksananya perayaan tersebut karena hari raya mereka itu menyelisihi syariat.

Maka tidak diperbolehkan turut serta di dalamnya atau turut membantu mereka dan tidak pula memberi sumbangsi walaupun secangkir teh atau kopi atau meminjamkan bejana-bejana dan semisalnya.

Allah berfirman:

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan dan jangan tolong menolong dalam dosa dan permusuhan dan bertakwalah kepada Allah sungguh Allah sangat keras siksa Nya”.

Maka ikut serta dalam perayaan orang kafir merupakan satu bentuk dari tolong-menolong dalan dosa dan permusuhan.

[Majmu Fatawa 6/508]

Sumber: http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=141465#entry681825

* Alih bahasa: Syabab Forum Salafy

************

بسم الله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين ؛ اما بعد:

السؤال
بعض المسلمين يشاركون النصارى في أعيادهم فما توجيهكم ؟

المفتي : الشيخ عبدالعزيز بن باز رحمه الله

الجواب
لا يجوز للمسلم ولا المسلمة مشاركة النصارى أو اليهود أو غيرهم من الكفرة في أعيادهم بل يجب ترك ذلك؛ لأن من تشبه بقوم فهو منهم، والرسول عليه الصلاة والسلام حذرنا من مشابهتهم والتخلق بأخلاقهم.
فعلى المؤمن وعلى المؤمنة الحذر من ذلك، ولا تجوز لهما المساعدة في ذلك بأي شيء، لأنها أعياد مخالفة للشرع.
فلا يجوز الاشتراك فيها ولا التعاون مع أهلها ولا مساعدتهم بأي شيء لا بالشاي ولا بالقهوة ولا بغير ذلك كالأواني وغيرها، ولأن الله سبحانه يقول: وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ[1]، فالمشاركة مع الكفرة في أعيادهم نوع من التعاون على الإثم والعدوان.

مجموع فتاواه 6/ 508

Sumber: http://forumsalafy.net/bolehkah-turut-serta-merayakan-hari-raya-orang-kafir

Sikap Seorang Muslim Terhadap Hari Raya Orang-orang Kafir

SIKAP SEORANG MUSLIM TERHADAP HARI RAYA ORANG-ORANG KAFIR

Penulis: Asy Syaikh Soleh Al Fauzan hafizhahullah

Di negeri kaum muslimin tak terkecuali negeri kita ini, momentum hari raya biasanya dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh orang-orang kafir (dalam hal ini kaum Nashrani) untuk menggugah bahkan menggugat tenggang rasa atau toleransi – ala mereka – terhadap kaum muslimin. Seiring dengan itu, slogan-slogan manis seperti: menebarkan kasih sayang, kebersamaan ataupun kemanusiaan sengaja mereka suguhkan sehingga sebagian kaum muslimin yang lemah iman dan jiwanya menjadi buta terhadap makar jahat dan kedengkian mereka.

Maskot yang bernama Santa Claus ternyata cukup mewakili “kedigdayaan” mereka untuk meredam militansi kaum muslimin atau paling tidak melupakan prinsip Al Bara’ (permusuhan atau kebencian) kepada mereka. Sebuah prinsip yang pernah diajarkan Allah dan Rasul-Nya.

HARI RAYA ORANG-ORANG KAFIR IDENTIK DENGAN AGAMA MEREKA

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Bahwasanya hari-hari raya itu merupakan bagian dari lingkup syariat, ajaran dan ibadah….seperti halnya kiblat, shalat dan puasa. Maka tidak ada bedanya antara menyepakati mereka didalam hari raya mereka dengan menyepakati mereka didalam segenap ajaran mereka….bahkan hari-hari raya itu merupakan salah satu ciri khas yang membedakan antara syariat-syariat (agama) yang ada. Juga (hari raya) itu merupakan salah satu syiar yang paling mencolok.” (Iqtidha’ Shiratil Mustaqim hal. 292)

SETIAP UMAT BERAGAMA MEMILIKI HARI RAYA

Perkara ini disitir oleh Allah didalam firman-Nya (artinya): “Untuk setiap umat (beragama) Kami jadikan sebuah syariat dan ajaran”. (Al Maidah: 48). Bahkan dengan tegas Rasulullah bersabda:

فَإِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيْداً وَإِنَّ هَذَا لَعِيْدُناَ

“Sesungguhnya bagi setiap kaum (beragama) itu memiliki hari raya, sedangkan ini (Iedul Fithri atau Iedul Adha) adalah hari raya kita.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Akan tetapi muncul sebuah permasalahan tatkala kita mengingat bahwa orang-orang kafir (dalam hal ini kaum Nashrani) telah mengubah-ubah kitab Injil mereka sehingga sangatlah diragukan bahwa hari raya mereka yaitu Natal merupakan ajaran Nabi Isa ?. Kalaupun toh, Natal tersebut merupakan ajaran beliau, maka sesungguhnya hari raya tersebut -demikian pula seluruh hari raya orang-orang kafir- telah dihapus dengan hari raya Iedul Fithri dan Iedul Adha. Rasulullah bersabda:

إِنَّ اللهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْراً مِنْهُمَا: يَوْمَ اْلأَضْحَى وَ يَوْمَ الْفِطْرِ

“Sesungguhnya Allah telah mengganti keduanya (dua hari raya Jahiliyah ketika itu-pent) dengan hari raya yang lebih baik yaitu: Iedul Adha dan Iedul Fithri.” (H.R Abu Daud dengan sanad shahih)

SIKAP SEORANG MUSLIM TERHADAP HARI RAYA ORANG-ORANG KAFIR

Menanggapi upaya-upaya yang keras dari orang-orang kafir didalam meredam dan menggugurkan prinsip Al Bara’ melalui hari raya mereka, maka sangatlah mendesak untuk setiap muslim mengetahui dan memahami perkara-perkara berikut ini:

1. Tidak Menghadiri Hari Raya Mereka

Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah berkata: “Berbaurnya kaum muslimin dengan selain muslimin dalam acara hari raya mereka adalah haram. Sebab, dalam perbuatan tersebut mengandung unsur tolong menolong dalam hal perbuatan dosa dan permusuhan. Padahal Allah berfirman (artinya): “Dan tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketaqwaan dan janganlah kalian tolong menolong didalam dosa dan pelanggaran.” (Al Maidah:2)…..Oleh karena itu para ulama mengatakan bahwa kaum muslimin tidak boleh ikut bersama orang-orang kafir dalam acara hari raya mereka karena hal itu menunjukan persetujuan dan keridhaan terhadap agama mereka yang batil.” (Disarikan dari majalah Asy Syariah no.10 hal.8-9)

Berkaitan dengan poin yang pertama ini, tidak sedikit dari para ulama ketika membawakan firman Allah yang menceritakan tentang sifat-sifat Ibadurrahman (artinya): “(Yaitu) orang-orang yang tidak menghadiri kedustaan.” (Al Furqan:73), mereka menafsirkan “kedustaan” tersebut dengan hari-hari raya kaum musyrikin (Tafsir Ibnu Jarir…/….)

Lebih parah lagi apabila seorang muslim bersedia menghadiri acara tersebut di gereja atau tempat-tempat ibadah mereka. Rasulullah mengecam perbuatan ini dengan sabdanya:

وَلاَ تَدْخُلُوْا عَلىَ الْمُشْرِكيْنَ فِيْ كَناَئِسِهِمْ وَمَعاَبِدِهِمْ فَإِنَّ السُّخْطَةَ تَنْـزِلُ عَلَيْهِمْ

“Dan janganlah kalian menemui orang-orang musyrikin di gereja-gereja atau tempat-tempat ibadah mereka, karena kemurkaan Allah akan menimpa mereka.” (H.R Al Baihaqi dengan sanad shahih)

2. Tidak Memberikan Ucapan Selamat Hari Raya

Didalam salah satu fatwanya, beliau (Asy Syaikh Ibnu Utsaimin) mengatakan bahwa memberikan ucapan selamat hari raya Natal kepada kaum Nashrani dan selainnya dari hari-hari raya orang kafir adalah haram. Keharaman tersebut disebabkan adanya unsur keridhaan dan persetujuan terhadap syiar kekufuran mereka, walaupun pada dasarnya tidak ada keridhaan terhadap kekufuran itu sendiri. Beliau pun membawakan ayat yaitu (artinya): “Bila kalian kufur maka sesungguhnya Allah tidak butuh kepada kalian. Dia tidak ridha adanya kekufuran pada hamba-hamba-Nya. (Namun) bila kalian bersyukur maka Dia ridha kepada kalian.” (Az Zumar:7). Juga firman-Nya (yang artinya):

“Pada hari ini, Aku telah sempurnakan agama ini kepada kalian, Aku cukupkan nikmat-Ku kepada kalian dan Aku ridhai Islam menjadi agama kalian.” (Al Maidah: 3)

Beliau juga menambahkan bahwa bila mereka sendiri yang mengucapkan selamat hari raya tersebut kepada kita maka kita tidak boleh membalasnya karena memang bukan hari raya kita. Demikian pula, hal tersebut disebabkan hari raya mereka ini bukanlah hari raya yang diridhai Allah karena memang sebuah bentuk bid’ah dalam agama asli mereka. Atau kalau memang disyariatkan, maka hal itu telah dihapus dengan datangnya agama Islam.” (Majmu’uts Tsamin juz 3 dan Al Muntaqa min Fatawa Asy Syaikh Shalih Al Fauzan 1/255)

Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa orang yang mengucapkan selamat kepada orang-orang kafir pada hari raya mereka, kalaupun dia ini selamat dari kekufuran maka dia pasti terjatuh kepada keharaman. Keadaan dia ini seperti halnya mengucapkan selamat atas sujud mereka kepada salib. (Ahkamu Ahlidz Dzimmah)

3. Tidak Tukar Menukar Hadiah Pada Hari Raya Mereka

Asy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan: “Telah sampai kepada kami (berita) tentang sebagian orang yang tidak mengerti dan lemah agamanya, bahwa mereka saling menukar hadiah pada hari raya Nashrani. Ini adalah haram dan tidak boleh dilakukan. Sebab, dalam (perbuatan) tersebut mengandung unsur keridhaan kepada kekufuran dan agama mereka. Kita mengadukan (hal ini) kepada Allah.” (At Ta’liq ‘Ala Iqtidha’ Shiratil Mustaqim hal. 277)

4. Tidak Menjual Sesuatu Untuk Keperluan Hari Raya Mereka

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menegaskan bahwa seorang muslim yang menjual barang dagangannya untuk membantu kebutuhan hari raya orang-orang kafir baik berupa makanan, pakaian atau selainnya maka ini merupakan bentuk pertolongan untuk mensukseskan acara tersebut. (Perbuatan) ini dilarang atas dasar suatu kaidah yaitu: Tidak boleh menjual air anggur atau air buah kepada orang-orang kafir untuk dijadikan minuman keras (khamr). Demikian halnya, tidak boleh menjual senjata kepada mereka untuk memerangi seorang muslim. (Iqtidha’ Shiratil Mustaqim hal.325)

5. Tidak Melakukan Aktivitas-Aktivitas Tertentu Yang Menyerupai Orang-Orang Kafir Pada Hari Raya Mereka

Didalam fatwanya, Asy Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan: “Dan demikian pula diharamkan bagi kaum muslimin untuk meniru orang-orang kafir pada hari raya tersebut dengan mengadakan perayaan-perayaan khusus, tukar menukar hadiah, pembagian permen (secara gratis), membuat makanan khusus, libur kerja dan semacamnya. Hal ini berdasarkan ucapan Nabi :

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk kaum tersebut.” (H.R Abu Daud dengan sanad hasan). (Majmu’uts Tsamin juz 3)

DOSAKAH BILA MELAKUKAN HAL ITU DALAM RANGKA MUDAHANAH (BASA BASI)?

Selanjutnya didalam fatwa itu juga, beliau mengatakan: “Dan barangsiapa melakukan salah satu dari perbuatan tadi (dalam fatwa tersebut tanpa disertakan no 1,3 dan 4-pent) maka dia telah berbuat dosa, baik dia lakukan dalam rangka bermudahanah, mencari keridhaan, malu hati atau selainnya. Sebab, hal itu termasuk bermudahanah dalam beragama, menguatkan mental dan kebanggaan orang-orang kafir dalam beragama.” (Majmu’uts Tsamin juz 3)

Sedangkan mudahanah didalam beragama itu sendiri dilarang oleh Allah . Allah berfirman (artinya): “Mereka (orang-orang kafir) menginginkan supaya kamu bermudahanah kepada mereka lalu mereka pun bermudahanah pula kepadamu.” (Al Qalam:9)

ORANG-ORANG KAFIR BERGEMBIRA BILA KAUM MUSLIMIN IKUT BERPARTISIPASI DALAM HARI RAYA MEREKA

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Oleh karena itu, orang-orang kafir sangat bergembira dengan partisipasinya kaum muslimin dalam sebagian perkara (agama) mereka. Mereka sangat senang walaupun harus mengeluarkan harta yang berlimpah untuk itu.” (Iqtidha’ Shiratil Mustaqim hal.39).

BOLEHKAH SEORANG MUSLIM IKUT MERAYAKAN TAHUN BARU DAN HARI KASIH SAYANG (VALENTINE’S DAY)?

Para ulama yang tergabung dalam Lajnah Da’imah Lil Buhuts Al Ilmiyah Wal Ifta’ (Komite Tetap Kajian Ilmiah Dan Fatwa) Arab Saudi dalam fatwanya no.21203 tertanggal 22 Dzul Qa’dah 1420 menyatakan bahwa perayaan-perayaan selain Iedul Fithri dan Iedul Adha baik yang berkaitan dengan sejarah seseorang, kelompok manusia, peristiwa atau makna-makna tertentu adalah perayaan-perayaan bid’ah. Tidak boleh bagi kaum muslimin untuk berpartisipasi apapun didalamnya.

Didalam fatwa itu juga dinyatakan bahwa hari Kasih Sayang (Valentine’s Day)- yang jatuh setiap tanggal 14 Pebruari- merupakan salah satu hari raya para penyembah berhala dari kalangan Nashrani.

Adapun Asy Syaikh Shalih Al Fauzan hafidzahullah (salah satu anggota komite tersebut) menyatakan bahwa penanggalan Miladi/Masehi itu merupakan suatu simbol keagamaan mereka. Sebab, simbol tersebut menunjukan adanya pengagungan terhadap kelahiran Al Masih (Nabi Isa ?) dan juga adanya perayaan pada setiap awal tahunnya. (Al Muntaqa min Fatawa Asy Syaikh Shalih Al Fauzan 1/257). Wallahu A’lam

Sumber: Mahad-assalafy.com

Sumber: http://forumsalafy.net/sikap-seorang-muslim-terhadap-hari-raya-orang-orang-kafir/

 

#dakwahIslammagelang #harirayaorangkafir #infoIslammagelang #kajianIslammagelang #orangkafir #RadioIslamMagelang #selamathariraya #ucapanselamathariraya #natal #tahunbaru #mengucapkanselamatnatal

Haramnya Turut Serta Merayakan Hari Raya Orang Kafir

PENGINGKARAN SALAFUSH SHALEH TERHADAP HARI RAYA ORANG KAFIR

Umar Ibnul Khotthob berkata:

“Janganlah kalian masuk bersama musyrikin di gereja-gereja mereka pada hari raya mereka karena kemurkaan Allah turun terhadap mereka” [Sunan al Kubro karya al Baihaqi]

Beliau juga berkata: “Jauhilah musuh-musuh Allah dalam acara hari raya mereka.” [Ahkamu Ahli Dzimmah:3/1247]

Ibnul Qoyyim mengatakan:

Pasal: Hukum Menghadiri Hari Raya Ahlul Kitab.
Sebagaimana tidak boleh bagi ahlul kitab menampakkan hari raya (di negeri muslimin) maka tidak boleh pula bagi muslimin untuk membantu mereka dan atau menghadirinya bersama mereka dengan kesepakatan para ulama, yang mereka adalah ahlinya dalam hal ini.

Dan telah menegaskan demikian para ahli fikih dari para pengikut imam yang empat dalam kitab-kitab mereka.

Berkatalah Abul Aosim Hibatullah bin al Hasan bin Manshur  al Thobari ahli fiqih dalam madzhab asy Syafi’i :

Tidak boleh bagi muslimin untuk menghadiri hari raya mereka karena mereka berada dalam kemungkaran dan kedustaan, dan bila orang-orang yang baik berbaur dengan orang-orang yang berbuat mungkar tanpa bentuk pengingkaran terhadap mereka maka mereka seperti orang-orang yang meridhoinya dan memiliki peran terhadapnya maka kami khawatir akan turunnya murka Allah terhadap perkumpulan mereka sehingga kemurkaan itu menimpa mereka semua. Kami berlindung kepada Allah dari kemurkaanNya. [Ahkamu Ahli Azd Dzimmah:3/1245]

Beliau juga mengatakan:
“Adapun ucapan selamat dengan syi’ar-syiar kekafiran yang khusus, maka haram dengan kesepakatan (ulama), seperti memberikan ucapan selamat dengan hari raya mereka dan puasa mereka, semacam mengucapkan ‘Hari raya yang penuh berkah untukmu’ atau ‘Berbahagialah dengan hari raya ini’ dan sejenisnya. Hal ini bila pengucapnya selamat dari kekafiran maka ini tergolong dari hal yang terlarang, hal itu seperti memberikan ucapan selamat atas sujud mereka terhadap salib, bahkan hal itu lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih Allah benci dari pada memberi ucapan selamat karena minum khomer atau membunuh jiwa, zina dan semisalnya. Banyak dari orang yang tidak memiliki nilai agama terjatuh dalam perbuatan itu dan tidak mengetahui kejelekan apa yang mereka perbuat. Maka barangsiapa yang memberikan ucapan selamat kepada seseorang karena maksiatnya, atau bidahnya atau kekafirannya berarti dia telah mendekat kepada kemurkaan Allah dan kemarahanNya. [Ahkamu ahli dzimmah :1/441]

Lebih dari itu seorang ulama besar dari mazhab Hanafi yaitu Abu Hafs al Busti mengatakan. “Barangsiapa yang memberikan hadiah pada hari tersebut –yakni hari rayanya orang kafir- sebutir telur kepada seorang musyrik sebagai pengagungan terhadap hari tersebut maka dia telah kafir terhadap Allah.”

Hukum dari ulama Hanafi ini akan jelas alasannya bila anda membaca keteranga Ibnul Qoyyim di atas.

**Faidah dari Al Ustadz Qomar Su’aidy Lc حفظه الله

Sumber: http://forumsalafy.net/pengingkaran-salafush-shaleh-terhadap-hari-raya-orang-kafir/

#dakwahIslammagelang #harirayaorangkafir #infoIslammagelang #kajianIslammagelang #orangkafir #RadioIslamMagelang #selamathariraya #ucapanselamathariraya #natal #tahunbaru #mengucapkanselamatnatal

MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA PADA ORANG KAFIR BISA MURTAD TANPA SADAR

MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA KEPADA ORANG KAFIR BISA MURTAD TANPA SADAR

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata:

ﺃﻣﺎ ﺍﻟﺘﻬﻨﺌﺔ ﺑﺎﻷﻋﻴﺎﺩ ﻓﻬﺬﻩ ﺣﺮﺍﻡ ﺑﻼ ﺷﻚ، ﻭﺭﺑﻤﺎ ﻻ ﻳﺴﻠﻢ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻜﻔﺮ؛ ﻷﻥ ﺗﻬﻨﺌﺘﻬﻢ ﺑﺄﻋﻴﺎﺩ ﺍﻟﻜﻔﺮ ﺭﺿﺎ ﺑﻬﺎ، ﻭﺍﻟﺮﺿﺎ ﺑﺎﻟﻜﻔﺮ ﻛﻔﺮ، ﻭﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﺗﻬﻨﺌﺘﻬﻢ ﺑﻤﺎ ﻳﺴﻤﻰ ﺑﻌﻴﺪ ﺍﻟﻜﺮﺳﻤﺲ، ﺃﻭ ﻋﻴﺪ ﺍﻟﻔَﺼْﺢ ﺃﻭ ﻣﺎ ﺃﺷﺒﻪ ﺫﻟﻚ، ﻓﻬﺬﺍ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺇﻃﻼﻗﺎً، ﺣﺘﻰ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻳﻬﻨﺌﻮﻧﺎ ﺑﺄﻋﻴﺎﺩﻧﺎ ﻓﺈﻧﻨﺎ ﻻ ﻧﻬﻨﺌﻬﻢ ﺑﺄﻋﻴﺎﺩﻫﻢ، ﻭﺍﻟﻔﺮﻕ ﺃﻥّ ﺗﻬﻨﺌﺘﻬﻢ ﺇﻳﺎﻧﺎ ﺑﺄﻋﻴﺎﺩﻧﺎ ﺗﻬﻨﺌﺔ ﺑﺤﻖ، ﻭﺃﻥ ﺗﻬﻨﺌﺘﻨﺎ ﺇﻳﺎﻫﻢ ﺑﺄﻋﻴﺎﺩﻫﻢ ﺗﻬﻨﺌﺔ ﺑﺒﺎﻃﻞ، ﻓﻼ ﻧﻘﻮﻝ: ﺇﻧﻨﺎ ﻧﻌﺎﻣﻠﻬﻢ ﺑﺎﻟﻤﺜﻞ ﺇﺫﺍ ﻫﻨﺆﻭﻧﺎ ﺑﺄﻋﻴﺎﺩﻧﺎ ﻓﺈﻧﻨﺎ ﻧﻬﻨﺌﻬﻢ ﺑﺄﻋﻴﺎﺩﻫﻢ ﻟﻠﻔﺮﻕ ﺍﻟﺬﻱ سمعتم.

“Adapun mengucapkan selamat hari raya (agama lain), maka ini haram tanpa diragukan lagi, dan bisa jadi seseorang tidak selamat dari kekafiran, karena mengucapkan selamat hari raya kepada orang-orang kafir merupakan bentuk keridhaan terhadap hari raya mereka, padahal ridha terhadap kekafiran merupakan kekafiran, termasuk mengucapkan selamat hari natal atau hari paskah atau yang semisalnya. Jadi semacam ini tidak boleh sama sekali.

Walaupun mereka juga mengucapkan selamat terhadap hari raya kita, maka kita tetap tidak boleh untuk mengucapkan selamat terhadap hari raya mereka.

Perbedaannya karena ucapan selamat mereka terhadap hari raya kita adalah ucapan selamat terhadap kebenaran, sedangkan ucapan selamat kita terhadap hari raya mereka adalah ucapan selamat terhadap kebathilan.

Jadi kita tidak mengatakan bahwa kita membalas perbuatan mereka dengan cara yang sama, yaitu jika mereka mengucapkan selamat terhadap hari raya kita maka kita membalas dengan mengucapkan selamat terhadap hari raya mereka, karena adanya perbedaan yang telah kalian dengar.”

 

Sumber: http://forumsalafy.net/mengucapkan-selamat-hari-raya-pada-orang-kafir-bisa-murtad-tanpa-sadar/

 

#dakwahIslammagelang #harirayaorangkafir #infoIslammagelang #kajianIslammagelang #orangkafir #RadioIslamMagelang #selamathariraya #ucapanselamathariraya #natal #tahunbaru #mengucapkanselamatnatal

Kisah Bisnis Muslim dengan Orang Yahudi

Kisah Bisnis Muslim dengan Orang Yahudi

Pada tahun ke 7 Hijriah, Daerah Khaibar resmi secara legalitas masuk kekuasan kaum muslimin di bawah pemerintahan Nabi Muhammad. Kampung Khaibar banyak dihuni oleh sekelompok orang Yahudi. Kampung tersebut dimiliki oleh kaum muslimin. Adapun orang Yahudi, apakah ditindas?, didzolimi?, tidak sama sekali, justru mereka mendapatkan keadilan di bawah pemerintahan Nabi Muhammad Rosullullah Shollallahu alaihi wasallam dan dalam kondisi terlindungi.

Orang Yahudi khaibar lebih mengetahui tentang urusan pertanian, adapun kaum muslimin tidak sempat mengurus pertanian dan cocok tanam, karena berjihad di Jalan Allah dan berdakwah kepada-Nya menyebarkan ajaran Islam yang rahmatan lil ‘aalamiin. Oleh karena itu Nabi Muhammad memberikan persetujuan kepada orang Yahudi di khaibar untuk melakukan cocok tanam dan penyiraman pohon, dan upah mereka adalah setengah (50%) dari hasil panen buah dan pertanian, sebagai ganti pekerjaan dan biaya yang dikeluarkan. Sedangkan kaum muslimin mendapatkan setengah yang tersisa karena mereka adalah pemilik tanah tersebut,

Model Transaksi tersebut terus berlanjut di masa Nabi Muhammad hingga masa Khalifah Abu Bakar Ash-shiddiq Rodhiallahu anhu. Landasan hukumnya adalah hadits berikut ini.

investasi islami

Faidahnya dari peristiwa tersebut nampak keadilan Islam dan bolehnya melakukan mu’amalah dengan orang-orang kafir dalam pertanian, perdagangan, pendirian bangunan, pembuatan barang dan sebagainya dari berbagai bentuk mu’amalah.

Referensi :

Terjemah Taisirul Allam (syarh/Penjelasan ‘Umdatul Ahkam jilid 2) kitab Haji, Mu’amalah, Jual Belli, Waris, Nikah. Penulis Asli Asy-Syaih Abdullah Bin Abdurrahman Ibnu Shalih alu Bassam.

Admin Salafymagelang.com

Awas Kuda Troya Pengacau Negeri

annuur

Terus waspadai penyusup. Mereka senantiasa beraksi. Tiba di sebuah daratan. Tanah pijakan muslim tersubur di dunia. Coba menghancurkan lawan, lewat kawan. Membuat gaduh, tanpa perlu berpeluh.

Mereka para penunggang yang lihai. Bukan memegang tali kekang kuda. Namun membentangkan siasat adu domba. Tengok kisah sejarah. Begitu gamblang perpecahan terjadi di negeri Teuku Umar.

Sejak masa kolonial hingga android terjual. Penyusup memang berwatak culas. Kerja keras membenturkan rakyat lewat pintu kelas. Jurang perbedaan dibuat makin menganga. Semangat huru-hara diembuskan. Kekacauan adalah harapan. Rasa persatuan (al jamaah)dibenamkan. Hingga terlupakan.

Nusantara tempo dulu. Di kepulauan ini pernah berdiri kerajaan Islam besar. Di antaranya Samudera Pasai, Banten, Cirebon, Mataram, Demak, Makassar, dan Ternate-Tidore. Beberapa dari kerajaan tersebut bubar. Pecah istana. Dua-tiga kubu berebut kuasa. Ulah tipu daya penyusup yang merobek tatanan pemerintahan.

Kuda troya bermain. Politik “belah bambu” digulirkan. Devide et impera. Menyerang benteng pertahanan lawan, tanpa peran di lapangan. Ini pula yang disoroti Al Ustad Muhammad bin Umar As Sewed hafizhahullah, saat menjadi pemateri acara Kajian Islam Ilmiah ahlussunnah wal jamaah di Masjid Agung An-Nuur, Magelang, Ahad lalu (4 Rabi’ul Awwal 1438 H / 4 Desember 2016).

mudharah-ust-muhammad
Pamflet Muhadharah Bahaya Radikalisme & Komunisme Bagi NKRI

Ustadz Muhammad As Sewed mengungkapkan Indonesia merupakan negara besar berpenduduk mayoritas muslim. Kekayaan alam negeri ini melimpah. Tidak aneh, Indonesia kemudian dibidik banyak negara kafir untuk memenuhi berbagai kebutuhan.

“Mereka ingin mengatur, mencaplok kekayaan yang ada di negeri kita. Mereka punya cara, punya jalan. Di antaranya menunggangi kelompok ekstrem, yang melampaui batas. Apa ekstrem kiri, atau ekstrem kanan,” katanya di hadapan masyarakat Magelang dan undangan pejabat setempat.

Ustad Muhammad As Sewed mencontohkan individu yang belajar agama kebablasan, paling mudah dijadikan kuda troya. Diarahkan memecah belah kaum muslimin. Tidak terkecuali paham komunisme yang antiagama. Lewat Partai Komunis Indonesia (PKI). Ini kendaraan yang memudahkan musuh-musuh Islam untuk menghancurkan negeri. “Sehingga tepat para pemecah belah yang kerap membuat kekacauan disebut GPK (Gerakan Pengacau Keamanan),” ujar pengasuh Pontren Dhiya’us Sunnah, Cirebon.

Beliau menjelaskan bila agama Islam mengajarkan kebersamaan atau al jamaah. Merujuk surat Ar Rum ayat 31-32: Jangan kalian seperti musyrikin. (yaitu) orang-orang yang memecah belah agama mereka sedangkan mereka berkelompok-kelompok. Setiap kelompok bangga dengan apa yang ada pada mereka.

“Umat terdahulu saling bunuh, saling bantai, saling berperang. Zaman jahiliah tidak ada agama (yang lurus). Ada banyak Tuhan. Terjadi kekacauan. Masing-masing bangga dengan apa yang mereka yang punya. Artinya (perpecahan) itu kebiasaan jahiliah,” paparnya.

Ustad Muhammad As Sewed menegaskan kaum muslimin adalah masyarakat terpimpin. Tidak liar. Tidak seperti masyarakat jahiliah. “Siapa yang kuat, dia yang menang,” ucapnya seraya menyebutkan masyarakat jahiliah tidak punya aturan. Tidak punya pemimpin.

Menurut beliau, perpecahan meliputi agama dan negara. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam yang mengingatkan umatnya: Atas kalian untuk tetap bersama al jamaah, dan hati-hati dari perpecahan. Sesungguhnya setan bersama orang yang sendirian, sedangkan dari orang yang berdua dia lebih jauh. Siapa ingin tengah-tengahnya (yang terbaiknya) surga, maka hendaklah tetap bersama jamaah.

 “Setelah umat ini diberi nikmat Alqur’an, dan diberi nikmat seorang rasul, gaya hidup masyarakat berubah. Kaum muslimin selalu hidup dibawah kepemimpinan penguasa muslim,” tutur redaktur ahli majalah Asy Syariah itu.

spanduk-bahaya-radikalisme
Spanduk “Bahaya Radikalisme & Komunisme Bagi NKRI”

 

Ustad Muhammad As Sewed menerangkan al jamaah punya dua makna. Pertama, aku (nabi shallallahu’alahi wasallam) dan sahabatku. Hendaklah kita berupaya mengikuti jejak mereka. Berpegang dengan pegangan mereka. Kedua, kaum muslimin dan penguasa. Sebagaimana hadits yang dikeluarkan Imam Ahmad dan Imam Muslim dalam sahihnya: Siapa yang keluar dari ketaatan kepada  penguasa dan berpisah dari jamaah, maka dia mati dengan mati jahiliah.

 Ulama besar mazhab Syafii, Imam Nawawi menyebutkan, mati jahiliah bermakna mati dalam keadaan bermaksiat. Tidak berpegang dengan sunnah. Melepaskan diri dari penguasa, maka seperti kaum jahiliah yang tidak punya pemimpin.

Alhamdulillah, agama ini tidak mengajarkan keliaran. Namun menjadi masyarakat yang terpimpin. Taat pada penguasa. Sabar terhadap penguasa. Tidak memisahkan diri dari penguasa,” jelasnya.

Turut hadir pada kajian tersebut Asisten Administrasi Umum Setda Kabupaten Magelang, Endra Endah Wacana. Beliau  membacakan sambutan tertulis Bupati Magelang, Zainal Arifin SIP, yang berhalangan hadir.

Bupati menyatakan komunisme adalah ancaman serius bagi negara. Sementara radikalisme berbahaya bagi kondusifitas daerah. Bentuk komunisme di Indonesia, dengan kemunculan parpol berbau komunis. Tersebarnya logo palu arit di beberapa tempat.

“Masyarakat harus pintar memilah penyebaran informasi yang dilakukan aktivis komunis. Perlu kewaspadaan sejak dini. Seperti pesan Presiden Jokowi ke Kapolri, menyikapi hal demikian harus pakai pendekatan hukum. Larangan untuk PKI dan ajaran komunisme merujuk kepada TAP MPRS No 25/1966,” paparnya seraya berharap agar ulama terus membimbing umat demi kondusifitas wilayah.

baliho-bahaya-komunis
Baliho “Bahaya Radikalisme & Komunisme Bagi NKRI” di depan Masjid Agung An-Nuur Magelang

Komandan Unit Intel Kodim 0705 Magelang, Lettu Tulus Widodo mengingatkan, harus selalu waspada terhadap komunisme dan radikalisme. Sebab berpotensi mengganggu keamanan negara. Pihaknya mengaku bangga pada Pondok Minhajus Sunnah Magelang, karena berperan aktif menangkal perkembangan paham radikalisme dan komunisme.

“Aparat keamanan tidak akan tinggal diam. Jika gerakan komunisme gaya baru dan radikalisme terus berkembang. Namun tanpa bantuan ulama, akan sulit mendeteksi sejak dini. Kita harus antisipasi radikal kiri dan radikal kanan,” ucapnya.

Alhamdulillah, kajian berjalan lancar dan aman. Semua bahagia dan gembira. Tampak kebersamaan antara ulama dan umaro (penguasa). Ustad Muhammad As Sewed mengungkapkan pertemuan tersebut merupakan kesempatan yang baik. Membahas perkara penting. Terkait kebersamaan bangsa Indonesia yang mayoritas rakyatnya muslimin. “Nikmat ini harus dijaga, disyukuri. Jangan sampai hilang dan hancur,” pesan ustad yang pernah menimba ilmu dari ulama Saudi Arabia, Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah. (muhammad rona)

SIMAK AUDIONYA:

Download Audio DI SINI (klik kanan – simpan sebagai….)

Sumber: http://blog.antikomunisme.com/kuda-troya-pengacau-negeri/

Bahaya Radikalisme dan Komunisme Bagi NKRI

Bahaya Radikalisme dan Komunisme Bagi NKRI

bahaya radikalisme dan komunisme bagi NKRI

Sadar, sadarlah pemuda Indonesia, sadarlah elemen bangsa Indonesia, negeri kita sedang dibidik oleh orang orang kafir, dan itu ancaman nyata. Banyak kepentingan yang dari luar maupun dari dalam untuk menghancurkan Indonesia, NKRI yang mayoritas penduduk di dalamnya Muslim. Selain itu negara kita dengan kekayaan alamnya diperebutkan berbagai pihak. Siapa penunggang kuda Troya dibalik Radikalisme dan Komunisme di Indonesia? Bagaimana metode mereka untuk menghancurkan NKRI?. Bagaimana solusi terbaik bagi Bangsa Indonesia keluar dari problematika besar yang akan mencaplok negara kita?.

Ikuti audio kajiannya oleh Al-Ustad Muhammad Umar As-Sewed. Link Download Audio Kajian

Biografi ringkas Beliau :

1. Beliau adalah Murid Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah Ulama besar Saudi Arabia.

2. Mudir Ma’had Dhiya’us Sunnah Cirebon Jawa Barat (www.salafycirebon.com).

3. Penasehat majalah AsySyari’ah.

4. Pembina Radio Rasyid (www.radiorasyid.com) dan Radio Adh Dhiya 107.7FM Cirebon.

Tambahan Deskripsi Kajian

Lokasi : Masjid Agung An-Nuur jalan Soekarno-Hatta no 1 Kota Mungkid Magelang Jawa Tengah.

Acara dihadiri : Pejabat Sipil, Militer maupun Kepolisian unsur Muspida dan Muspika Magelang Jawa Tengah, serta lembaga pendidikan, dan lembaga keagamaan Islam dan tamu undangan lainya.

Jazakumullahu Khairan.

Pentingnya Tarbiyah Anak di Usia Emas (Audio)

quran

?Rekaman AUDIO Muhadharah Magelang

?Ust. Muhammad Umar As sewed hafizhahullah

Tema: Pentingnya tarbiyah anak diusia emas

? Ahad 4 Rabiul Awal 1438 H,4 Desember 2016

✅ Tempat: Masjid kholid bin Walid Ponpes Minhajussunnah Magelang | www.radiosyiarislam.com

? Channel https://bit.ly/SyiarIslam

Audio Mp3:

Link Download DI SINI (Klik Kanan > Simpan Sebagai…)

Apakah Mandi Dapat Menjadi Pengganti Wudhu?

wudhuSoal:
Wahai Syaikh yang mulia, jika seseorang mandi dengan niat sebagai pengganti wudhu, apakah mandinya ini mencukupinya untuk tidak berwudhu lagi?
Jawab:
Jika seseorang mandi dengan niat untuk wudhu dan dia tidak berwudhu setelahnya, maka mandinya tidak sah sebagai pengganti wudhu, kecuali mandi junub.
Jika mandinya karena junub, maka tidak mengapa mandinya tadi mengganti wudhu berdasarkan firman Allah (artinya):
” Jika kalian junub maka bersucilah!” (AlMaidah: 6).
Allah dalam ayat ini tidak menyebutkan wudhu.
Adapun jika mandinya dengan niat untuk menyegarkan badan, mandi Jum’at, atau mandi sunnah, maka tidak sah, karena mandinya bukan karena hadats.
KAIDAHnya:
Jika mandinya karena hadats/janabah; atau kalau wanita karena haid, maka mandinya sah sebagai pengganti wudhu. Jika tidak, maka tidak sah.

Sumber: Silsilah Liqa Babil Maftuh no.109
———————————
هل يجزئ غسل الجنابة عن ؟

السؤال:

فضيلة الشيخ إذا اغتسل الإنسان بنية الوضوء ولم يتوضأ هل يجزئه عن الوضوء؟

الجواب:

إذا اغتسل بنية الوضوء ولم يتوضأ فإنه لا يجزئه عن الوضوء إلا إذا كان عن جنابة. فإن كان عن جنابة فلا بأس الغسل يكفي عن الوضوء لقول الله تبارك وتعالى: ﴿ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُباً فَاطَّهَّرُوا﴾ [المائدة:6] ولم يذكر وضوءاً. أما إذا كان اغتسل للتبرد أو لغسل الجمعة أو لغسل مستحب فإنه لا يجزئه؛ لأن غسله ليس عن حدث. والقاعدة إذاً: إذا كان الغسل عن حدث -أي: عن جنابة- أو امرأة عن حيض أجزأ عنه الوضوء وإلا فإنه لا يجزئ.
المصدر: سلسلة لقاءات الباب المفتوح > لقاء الباب المفتوح [109]
الطهارة > الغسل
رابط المقطع الصوتي

Menasehati Pemerintah

menasehati-pemerintahMenasehati Pemerintah

Hal yang perlu untuk kita sadari dan patut untuk kita fahamkan kepada seseorang adalah, bahwa pemerintah/ pemimpin/ Waliyul Amri adalah manusia biasa yang kadang benar dan kadang salah. Tidak terus-terusan salah dan tidak juga terus-terusan benar.

Waliyul Amri/ Pemerintah/ Pemimpin masuk ke dalam kerangka sabda Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam

 …كُلُّ بَنِيْ آدَمَ خَطَاءٌ

Setiap Bani Adam itu pasti pernah melakukan kesalahan …” (HR At Tirmidzi, no.2499 dan dihasankan  Al Albani dalam Shahih Al Jami’ Ash Shaghir, no. 4391)

Agar tidak ada rasa emosi/ marah/ dendam dalam hati kita ketika melihat kesalahan yang dilakukan oleh pemerintah maka upaya yang kita tempuh dalam menyikapinya adalah memberikan nasehat.

Berbicara soal kesalahan pemerintah, maka sebenarnya ini bukanlah hal yang baru, Di masa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam sudah ada tipe pemimpin seperti ini, melakukan kesalahan/ melakukan kedzaliman, sampai-sampai sebagian Sahabat datang kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengadukan perihal keadaan pemimpin yang seperti ini kepada Nya. Melapor beberapa Sahabat kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam tentang keburukan-keburukan yang dilakukan oleh pemerintah.

Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam memberikan arahan yang jelas ketika para sahabat tidak terima melihat kenyataan yang seperti itu, sampai-sampai mereka berkeinginkan untuk melenyapkan pemimpin yang seperti itu keadaannya.

Kata Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam kepada mereka:

لاَ مَا صَلَّوْا

 “Jangan selama mereka masih mendirikan Shalat” (HR. Muslim no. 1854).

Siapa yang tidak emosi/ tidak marah ketika melihat penguasa melakukan kesalahan ?

Semua merasa marah, seluruh rakyat tidak terima pada prinsipnya

Karena semua berkeinginan pemimpinnya menjadi pemimpin yang baik/ adil/ pemimpin yang ideal

Tetapi kebanyakannya tidak sadar bahwa pemimpin/ penguasa adalah manusia biasa yang terjatuh ke dalam kesalahan

Maka Nabi Shalallahu ‘alaihi wa alaihi wa sallam memberikan arahan kepada kita. Arahan yang benar, arahan yang lurus dalam menyikapi kesalahan pemerintah, diantaranya (red):

1. Menasehatinya dengan cara yang baik

 Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan dalam sabdanya:

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِيْ سُلْطَانٍ فَلاَ يُبْدِهِ عَلاِنِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِيْ عَلَيْهِ

“Barang siapa diantara kalian yang ingin menasehati penguasanya, hendaknya dia raih tangannya kemudian berbicara kepadanya secara empat mata, tidak dilakukan nasehat itu di depan khalayak umum. Jika pemerintah itu menerima nasehat nya ini yang diharapkan dan jika tidak maka sungguh dia telah melakukan kewajibannya)”(Sahih, HR. Ahmad, Ibnu Abu ‘Ashim dan yang lain, disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Zhilalul Jannah, no. 1096—1098, lihat pula takhrijnya dalam kitab Mu’amalatul Hukkam, hlm. 143—151)

ini arahan Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam

Arahan Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam ini diamalkan oleh para Sahabat diantaranya sahabat Usamah bin Zaid Radhiyallahu ‘anhu, ketika orang-orang banyak membicarakan kepemimpinan sahabat Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu pada saat itu, ada seseorang yang berkata kepada Usamah Radhiyallahu ‘anhu, “Ya Usamah tidakkah engkau menasehati Utsman, tidakkah engkau menegur utsman”, apa jawaban Usamah bin Zaid Radhiyallahu ‘anhu:“Apakah karena kalian tidak mendengar pembicaraanku kepadanya kemudian kalian anggap aku tidak menasehatinya, aku tidak berbicara kepadanya ? Sungguh aku telah melakukan hal ini antara diriku dengannya empat mata”

Lalu kata sahabat usamah bin Zaid Radhiyallahu ‘anhu  : “Aku tidak mau menjadi orang yang pertama kali membuka pintu fitnah”

Kata Imam An Nawawi Rahimahullah, pintu fitnah yang dimaksud oleh sahabat Usamah bin Zaid Radhiyallahu ‘anhu  ini adalah membicarakan kesalahan-kesalahan/ kekeliruan-kekeliruan waliyul Amri di depan khalayak umum.

Dan fitnah ini sungguh telah terjadi di zaman kita, mengumbar kesalahan, menampakan emosi kepada pemerintah, ini adalah fitnah yang dulu shabat Usamah bin Zaid Radhiyallahu ‘anhumerasa tidak ingin menjadi orang yang pertama membukanya tetapi di zaman sekarang fitnah itu terbuka/ nampak, banyak orang yang sikapnya brutal, emosinya meluap-luap ketika melihat kesalahan waliyul amri.

Dan ini menjadi tugas kita sekali lagi untuk memahamkan kepada ummat/ masyarakat  bagai mana sesungguhnya islam menghadapi kesalahan yang dilakukan oleh penguasa

2. Termasuk nasehat kepada Waliyul Amri adalah mendo’akannya

Seperti yang disinggung oleh Syaikh bin Bazz Rahimahullah:

 “Mendo’akan waliyul Amri adalah termasuk nasehat” (Al-ma’lum:20)

Yang perkara ini sudah banyak ditinggalkan, semua terbawa emosi, terbawa amarah ketika melihat kesalahan penguasa lupa akan kewajibannya, lupa akan tugasnya melupakan mendo’akan Waliyul Amri, padahal Para Salaf seperti Fudhail bin Iyadh, Imam Ahmad dan yang lainnya Rahimahumullah selalu mengatakan: “Seandainya aku memiliki do’a yang diijabah, maka akan aku peruntukan do’a ini bagi kebaikan untuk Waliyul Amr/ Pemerintah/ Pemimpin”.

3. Menampakkan sikap Sabar dalam menghadapi kesalahan/ kedzaliman yang dilakukannya

Dari Sahabat Ibnu ‘Abbas, Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallambersabda:

“Barang siapa yang melihat Penguasanya sesuatu yang tidak disukainya maka hendaknya dia bersabar” (HR. Muslim).

Ini arahan dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bukan soal emosi, bukan soal dendam, bukan soal kedengkian. Maka jika kita mau mendengar arahan dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam satu diantaranya adalah bersabar sampai Alloh Subhanahu wa ta’alamemberikan jalan keluar yang baik kepada kita.

Karena mestinya kita introspeksi diri, ketika mendapati penguasa kita adalah penguasa yang dzalim, penguasa yang banyak melakukan kesalahan, penguasa yang merugikan rakyatnya, kewajiban kita sebagai rakyat yang pertama adalah introspeksi diri, mungkin ini semua adalah akibat dari pelanggaran yang kita lakukan terhadap Alloh Azza Wa Jalla, jauhnya hubungan kita terhadap Alloh Azza Wa Jalla.

Alloh Subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Demikianlah kami jadikan sebahagian orang-orang yang dzalim itu sebagai pemimpin bagi sebahagian yang lainnya lantaran apa yang mereka lakukan.” (Qs Al An’am: 129)

Dihukum oleh Alloh Subahanahu wa ta’ala dengan keberadaan pemimpin yang dzalim karena kedzaliman yang dilakukan oleh rakyat. Maka penguasa yang dzalim akan bersama dengan rakyat yang dzalim, penguasa yang baik akan bersama dengan rakyat yang baik. Jangan pernah bermimpi mendapatkan penguasa yang adail, yang baik kalo kita sebagai rakyatnya belum bias baik dan adil.

Sangat wajar kalau dulu Sahabat Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu dituntut oleh beberapa orang yang datang kepadanya agar Sahabat Ali Radhiyallahu ‘anhu menjalankan roda kepemimpinan yang lebih baik, agar semua kekacauan yang terjadi itu tidak ada seperti yang terjadi di zaman Abu Bakr dan Umar Radhiyallahu ‘anhum maka Sahabat Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhumengatakan “Bahwa ketika Sahabat Abu Bakr dan Umar menjabat sebagai Khalifah, yang menjadi rakyatnya adalah aku dan orang-orang seperti aku. Tetapi ketika aku menjadi khalifah, yang menjadi rakyatnya adlah kalian dan orang-orang seperti kalian (orang-orang yang jahat/ orang-orang yang tidak shaleh sehingga terjadi banyak kekacauan di sana sini)”

Ikhwanufiddin rahimakumullah, maka kesabaran sangat dibutuhkan dalam situasi seperti sekarang ini, menyikapi kesalahan penguasa bukan soal emosi dan kemarahan melulu, apa lagi kalo emosi dan kemarahan tersebut diluapkan dalam bentuk demonstrasi. Lebih miris lagi kalo demonstrasi tersebut dilabeli dengan amar ma’ruf dan nahi munkar apa lagi kalo sampai dianggap sebagai bentuk membela islam, ini fenomena yang menyedihkan

4. Mendengar dan Taat

Nabi ‘Alaihi shalatu wa sallam jauh sebelum nya sudah member tahu kepada kita bahwa tidak semua penguasa itu baik. Dan beliau sampai memberikan semacam gambaran, sekalipun nanti kalian dipimpin oleh seorang hamba sahaya  yang secara penampilan tidak meyakinkan, bukan dari golongan mewah yang memiliki kasta tertinggi, kata Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam: “Kalian harus menampakan sikap ta’at dan mendengar” ( Irbath bin Sariyah, HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi)

bahkan dalam riwayat yang lain

إِسْمَعْ وَأَطِعْ وَإِنْ أُخِذَ مَالَكَ وَضَرَبَ ظَهْرُكَ

“Sekalipun punggungmu dipukul, hartamu dirampas, hakmu direbut”(HR. Muslim)

kata nabi ta’ati dan dengar

Lalu bagai mana rakyat bisa menuntut haknya sebagai rakyat, kata Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam:

تُؤَدُّوْنَ الْحَقَّ الَّذِيْ عَلَيْكُمْ وَتَسْأَلُوْنَ اللهَ الَّذِيْ لَكُمْ

“Tunaikanlah kewajiban kalian mintalah hakmu kepada Alloh”

(dari Sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, Sahih, HR. al Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya)

namun kalian harus melaksanakan apa yang menjadi kewajiban bagi kalian. Kita punya Allah, Allah Subahanahu wa ta’ala yang akan memberikan hak kita, tidak perlu takut.

*Dalam situasi-situasi yang seperti ini hendaknya kita semakin mendekatkan diri kepada Alloh Subahanahu wa ta’ala, banyak-banyak berdo’a agar Alloh Subahanahu wa ta’alamemberikan kebaikan untuk negri  kita ini, banyak-banyak berdo’a agar Alloh Subahanahu wa ta’ala memberikan taufik bagi para pemimpin-pemimpin kita*. Sangat sedikit orang yang melakukan hal ini karena mayoritasnya sudah terbawa dengan gelombang emosi dan amarah sehingga tidak lagi berfikir dengan baik, tidak lagi berfikir jernih

Coba kalo mau membuka kembali sejarah, berbagai macam peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa yang lalu, setidaknya akan mendapatkan gambaran dan pelajaran bahwa kesalahan dan kekeliruan, kejahatan atau kedzaliman bahkan yang dilakukan oleh Waliyul Amr itu bukan hal yang baru tetapi ini sudah terjadi sejak zaman dulu makanya Islam memberikan arahan yang tepat dalam hal ini

Oleh:

Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al-Atsary hafidzahullah

(Pengasuh Ma’had Daarul Atsar Kawalu, tasikmalaya)

Transkrip Tausiah Ba’da Subuh, hari Ahad, 27 Shafar 1438 H

Di Masjid Al-Muhajirin Komplek Tamansari Manglayang Regency Kab. Bandung

Sumber: http://forumsalafy.net/menasehati-penguasa/