BOLEHKAH JUAL BELI DARAH?

BOLEHKAH JUAL BELI DARAH?

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah

Pertanyaan: Termasuk perkara yang diketahui adalah haramnya menjual darah, lalu apa hukum membeli darah orang lain di rumah sakit untuk pengobatan?

Jawaban: Jika sesuatu haram dijual maka juga haram dibeli, karena penjualan tidak akan terjadi tanpa ada pembelian, jadi tidak boleh membeli darah sebagaimana tidak boleh menjualnya. Namun jika seseorang terpaksa membutuhkan darah, maka boleh baginya untuk membeli jika pemiliknya tidak mau menyumbangkannya.

***

Sumber: Majmu’ul Fatawa, jilid 28 hlm. 108

Sumber: http://forumsalafy.net/bolehkah-jual-beli-darah/

BOLEHKAH MENGGUNAKAN KARTU KREDIT

BOLEHKAH MENGGUNAKAN KARTU KREDIT

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah

Pertanyaan: Sebagian bank ada yang menerbitkan kartu-kartu seperti kartu visa, sebagai ganti bagi seseorang yang bertransaksi dengan tempat-tempat usaha (barang atau jasa) menggunakan uang cash cukup dengan menunjukkan kartu ini dan dia bisa mengambil barang yang dia inginkan, kemudian dia membayar jumlah yang harus dia bayar dari bank yang bekerja sama dengan nasabah, hanya saja disyaratkan pada perjanjian antara nasabah dan pihak bank di awal bahwa jika pelunasan pinjaman tersebut terlambat dari waktu yang telah ditetapkan, ada biaya-biaya yang harus dibayar.

Jawaban: Masalahnya adalah seseorang mengambil sebuah kartu dari bank, dan jika dia membeli berbagai kebutuhannya maka dia cukup menunjukkan kartu tersebut kepada penjual, dan pihak bank yang akan membayarkannya terlebih dahulu, namun jika dia melunasi ke pihak bank pada waktu yang ditentukan maka dia tidak membayar selain yang dia pinjam tadi, sedangkan jika terlambat maka harus membayar biaya tambahan (denda).

Saya katakan: Sesungguhnya yang seperti ini haram hukumnya, karena semata-mata komitmen seseorang untuk menerima transaksi dengan riba hukumnya haram, sama saja apakah terjadi riba atau tidak.

Jika seseorang ada yang mengatakan, “Saya bertekad kuat dari dalam hati saya bahwa saya akan membayar sebelum jatuh tempo.”

Maka kita katakan: Ya, engkau memang bertekad untuk membayarnya sebelum jatuh tempo, namun apakah engkau bisa memastikan? Bisa saja hartamu hilang, atau dicuri, atau engkau meninggal terlebih dahulu. Jadi engkau tidak bisa memastikannya.

Allah Ta’ala berfirman:

ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻘُﻮﻟَﻦَّ ﻟِﺸَﻲْﺀٍ ﺇِﻧِّﻲ ﻓَﺎﻋِﻞٌ ﺫَﻟِﻚَ ﻏَﺪﺍً. ﺇِﻟَّﺎ ﺃَﻥ ﻳَﺸَﺎﺀَ ﺍﻟﻠَّﻪُ.

“Dan janganlah sekali-kali engkau mengatakan, “Aku pasti akan melakukan hal itu besok.” Kecuali dengan mengatakan “Insya Allah.” (QS. Al-Kahfi: 23-24)

Kemudian, sesungguhnya semata-mata komitmenmu bahwa jika telah jatuh tempo sebelum engkau membayar pinjaman bank maka engkau siap menerima untuk ditambahkan kepadamu biaya lainnya, maka sesungguhnya komitmen semacam ini adalah komitmen untuk melakukan transaksi riba, dan sudah jelas bahwa komitmen untuk melakukan transaksi riba hukumnya haram.

Oleh karena itulah maka kami menilai bahwa kartu semacam ini hukumnya haram, dan tidak boleh bagi seseorang untuk bertransaksi menggunakannya.

Tetapi jika seseorang memiliki saldo rekening di bank dan pihak penjual mau menukar ke bank maka silahkan, perkaranya mudah hanya dengan seseorang membawa cek kosong, lalu dia menuliskan jumlahnya untuk pihak penjual.

***

Sumber: Majmu’ul Fatawa, jilid 29 hlm. 127-128

Sumber: http://forumsalafy.net/bolehkah-menggunakan-kartu-kredit/

HUKUM KENCING SAMBIL BERDIRI

HUKUM KENCING SAMBIL BERDIRI

Asy-Syaikh Al-Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullah

Pertanyaan: Apakah boleh seseorang kencing sambil berdiri, dalam keadaan badan dan pakaiannya tidak terkena (najis) sedikitpun?

Jawaban: Tidak mengapa kencing sambil berdiri,  lebih-lebih tatkala ada hajat untuk itu. Apabila tempatnya tertutup tidak ada seorangpun yang melihat aurat orang yang kencing tadi, dan tidak mengenainya cipratan air kencingnya.

Berdasarkan riwayat yang tsabit dari Hudzaifah radhiyallahu anhu:

أن النبي صلى الله عليه وسلم أتى سباطة قوم فبال قائما

“Sesungguhnya Nabi ﷺ pernah mendatangi tempat sampah suatu kaum,  lalu beliau kencing sambil berdiri.” (Muttafaq alaih)

Akan tetapi yang lebih utama kencing sambil duduk,  karena ini adalah kebanyakan perbuatan Nabi ﷺ, hal ini lebih menutup aurat dan lebih selamat dari terkena cipratan air kencingnya.

***

Sumber : http://www.binbaz.org.sa/fatawa/322

Sumber: http://forumsalafy.net/hukum-kencing-sambil-berdiri/

HUKUM HAJI BADAL

HUKUM HAJI BADAL

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hady al-Madkhaly hafizhahullah

Pertanyaan: Apakah hukum haji badal untuk menggantikan orang lain?

Jawaban: Padanya terdapat sedikit perbedaan pendapat, di sana ada perkara yang disepakati oleh para ulama dan ada yang mereka perselisihkan. Perkara yang disepakati adalah bahwa seseorang boleh menghajikan kerabatnya.

Karena pertanyaan-pertanyaan (yang diajukan kepada Rasulullah) semuanya datang, yaitu: “Ayahku meninggal dalam keadaan belum berhaji.” “Ibuku meninggal dalam keadaan belum berhaji.” “Ayahku terkena kewajiban haji, namun beliau telah tua renta.” dan seterusnya. Yaitu pertanyaan-pertanyaan tentang ayah dan ibu.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu alaihi was sallam mendengar seseorang mengatakan, “Labbaik ’an Syubrumah.” Maka beliau bertanya, “Siapa Syubrumah?” Dia menjawab, “Saudaraku atau kerabatku.” Lalu beliau bertanya, “Apakah engkau telah berhaji untuk dirimu sendiri?” Dia menjawab, “Belum.” Maka beliau bersabda:

حُجَّ عن نَفْسِكَ ثُمَّ حُجَّ عن شُبْرُمَةَ.

“Berhajilah untuk dirimu sendiri terlebih dahulu, kemudian berhajilah (tahun berikutnya) untuk Syubrumah!” (HR. Abu Dawud dan selainnya, lihat; Irwaul Ghalil no. 994 dan ash-Shahih al-Musnad no. 629 -pent)

Sebagian ulama membatasi pihak yang berhak menggantikan haji hanya bagi kerabat dan melarang untuk mengupah orang lain. Dan upah ini telah menjadi perdagangan pada banyak orang.

Ada orang yang datang berdusta dan mengambil tujuh atau delapan kali haji. Yaitu dengan tujuan untuk menghajikan si fulan, dan dia mengambil upah dari orang ini dan itu, padahal tidak diketahui apakah dia benar-benar menghajikan untuk seseorang ataukah tidak?! Sehingga dalam masalah ini terjadi sedikit perkara yang meluas.

Syaikhul Islam dalam masalah ini memiliki pendapat yang bagus, beliau mengatakan:

إن كان هذا الذي يأخذ المال عنده رغبة في الحج لكن ليس عنده مال، فله أن يأخذ هذا المال يستعين به على تحقيق قصده وغايته وينفع نفسه وينفع أخاه، وإن كان قصده المال؛ ليس همه إلا أن يأخذ المال وليس همه أن يحج فهذا من أكل أموال الناس بالباطل.

“Jika orang yang mengambil upah tersebut dia memiliki keinginan untuk berhaji lagi tetapi dia tidak memiliki uang, maka boleh baginya untuk mengambil uang tersebut untuk membantunya mewujudkan niat dan tujuannya serta memberi manfaat untuk dirinya sendiri dan saudaranya. Tetapi jika tujuannya hanya untuk mendapatkan harta, tidak ada keinginannya selain mengambil upah dan tidak memiliki keinginan untuk berhaji, maka ini termasuk memakan harta manusia dengan cara yang bathil.”

***

? Sumber : http://www.rabee.net/ar/questions.php?cat=47&id=787

Sumber: http://forumsalafy.net/hukum-haji-badal/

Allah Memisahkan Yang Baik Dengan Yang Buruk

 

untuk-urusan-perut-1

Ditulis oleh: Al Ustadz Idral Harits Hafizhahulloh

Bismillah.

Allah Ta’ala berfirman Ali ‘Imran 179 :

مَا كَانَ اللَّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَىٰ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتَّىٰ يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ ۗ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى الْغَيْبِ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَجْتَبِي مِنْ رُسُلِهِ مَنْ يَشَاءُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۚ وَإِنْ تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوا فَلَكُمْ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin). Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala yang besar.”

Syaikh As-Sa’di menerangkan :

Tidaklah ada dalam hikmah Allah, membiarkan kaum mukminin sebagaimana kamu saat ini, yaitu bercampur aduk, tanpa ada perbedaan sama sekali, hingga Allah memisahkan yang baik dari yang buruk, memisahkan mukmin dari munafik, dan yang jujur dari yang dusta.

Karena itu, sesuai dengan hikmah Allah yang nyata, Dia memberi ujian kepada hamba-Nya, dengan berbagai hal yang akan memisahkan yang buruk dari yang baik. Maka Allah utus para Rasul-Nya dan memerintahkan mereka taat dan tunduk serta beriman kepada para Rasul itu. Akhirnya, manusia terbagi menjadi dua golongan, sesuai dengan sikap ittiba’ mereka kepada para Rasul tersebut, yaitu; mereka yang taat dan mereka yang durhaka.

Dan ada di manakah kita? Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyatakan bahwa yang taat kepada beliau akan masuk surga, sedangkan yang enggan masuk surga adalah mereka yang durhaka kepada beliau.

Rasulullah sudah mengingatkan pula agar kita berpegang dengan sunnah beliau dan sunnah khulafaurrasyidin yang terbimbing.

Kemudian, marilah kita camkan firman Allah Ta’ala dalam surat An-Nisa 115 :

ومن يشاقق الرسول من بعد ما تبين لهم الهدى ويتبع غير سبيل المؤمنين نوله ما تولى و نصله جهنم وساءت مصيرا…

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali…”

Orang mukmin yang pertama kali dituju dalam ayat ini adalah para sahabat, adapun jalan mereka di sini meliputi akidah dan amalan mereka. Dan jalan mereka itu sudah jelas, seterang cahaya siang, orang-orang yang menelusurinya juga sudah jelas, bahkan kita tidak dibiarkan meraba-raba jalan tersebut. Karena para pewaris mereka ada di hadapan kita, yaitu para ulama rabbani.

Karena itu alangkah pantas kita ingat kata-kata Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu :

اتبعوا ولا تبتدعوا، قد كفيتم…

“Ikutilah oleh kamu, dan janganlah kamu mengada-adakan bid’ah, sungguh kamu sudah dicukupi…”

Apakah kita belum merasa cukup dengan apa yg membuat para sahabat cukup? Semoga Allah merahmati Imam Malik yang mengatakan :

لن يصلح آخر هذه الأمة إلا بما صلح به أولها…

“Tidaklah akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan apa yang telah membuat baik generasi awalnya…”

Dengan satu ayat mereka disadarkan, saat mereka dilanda duka kehilangan orang yang sangat dicintai, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dengan satu hadits, selesailah keributan di antara mereka dalam menentukan siapa yang akan menggantikan Rasulullah mengurusi kaum muslimin.

Subhanallahi. Kita salafiyyun, di hadapan kita ada ulama rabbani, waliduna al ‘allamah Rabi’ bin Hadi hafizhahullah, beliau selalu mengikuti perkembangan dakwah salafiyah di tanah air sejak hampir seperempat abad. Bahkan beliau sangat memahami hampir semua persoalan yang ada dalam perjalanan dakwah ini, baik yang terkait dengan dakwahnya maupun sebagian pengusungnya. Itulah karunia Allah buat salifiyin.

Beliau telah dan sejak dahulu menyampaikan nasehatnya buat kita salafiyin, terakhir dengan tahdzir tersebut.

Kalaupun diingkari, dan dibantah, sesungguhnya itu adalah nasehat berharga, tidak ingatkah kita dengan kasus Ka’b bin Malik dan dua sahabat utama lainnya? Jelas mereka radhiyallahu ‘anhum bukan munafik, tetapi diboikot selama 50 hari 50 malam, sampai bumi terasa sempit padahal begitu luasnya, bahkan jiwa mereka sesak, dalam keadaan tidak ada selama ini tanda nifak pada diri mereka.

Sementara di hadapan kita, tersebar kenyataan adanya penyimpangan dan pemalsuan bahkan kedustaan sehingga sangat layak untuk dibeberkan?
Manakah yang lebih layak diboikot, dihajr atau dijauhi? Oleh sebab itu, salafiyin hendaklah jujur dalam menilainya, hendaklah kita bertaubat kepada Allah, dengan jujur, karena jujur adalah pilihan orang yang mulia dan merdeka.

Bisa jadi kekeruhan yang kita lihat ini karena dosa yang kita lakukan, maka bersegeralah bertaubat kepada Allah. Lebih-lebih mereka yang ditahdzir.
Keikhlasan adalah kunci semua itu. Siapa yang niatnya ikhlas dalam al-haq, meskipun terhadap dirinya, niscaya Allah cukupi antara dia dan manusia. Siapa yang berhias dengan apa yang tidak ada padanya, Allah tentu membuatnya buruk.

Seorang hamba, jika dia ikhlas karena Allah Ta’ala, tujuan dan cita-citanya adalah mengharapkan wajah Allah semata, niscaya Allah pasti bersamanya. Karena itu, jika seseorang melaksanakan yang haq terhadap orang lain dan dirinya lebih dahulu, dan semua itu dengan pertolongan Allah dan karena Allah, tidak ada yang dapat mengalahkannya, meskipun langit dan bumi bersatu melakukan makar terhadapnya.

Sebaliknya, jika seseorang berada dalam kebatilan, dia tidak akan ditolong, dan seandainya ditolongpun kesudahannya yang baik tidak akan diraihnya. Bahkan dia akan terhina dan tercela.

Semoga nukilan ini bermanfaat.

 

Sumber : Forum Salafy

Hukum Mengucapkan Selamat Tahun Baru

fireworks-city-newsletter

Pertanyaan : Apa hukumnya mengucapkan selamat tahun baru, sebagaimana yang banyak dilakukan oleh umat, seperti saling mengucapkan : كُلَّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ (setiap tahun engkau senantiasa berada dalam kebaikan) atau ucapan-ucapan semisal?

Asy-Syaikh Muhammad bin Shâlih Al-‘Utsaimîn rahimahullahmenjawab :

Ucapan selamat tahun baru bukanlah perkara yang dikenal di kalangan para ‘ulama salaf. Oleh karena itu lebih baik ditinggalkan. Namun kalau seseorang mengucapkan selamat karena pada tahun yang sebelumnya ia telah menggunakannya dalam ketaatan kepada Allah, ia mengucapkan selamat karena umurnya yang ia gunakan untuk ketaatan kepada Allah, maka yang demikian tidak mengapa. Karena sebaik-baik manusia adalah barangsiapa yang panjang umurnya dan baik amalannya.

Namun perlu diingat, ucapan selamat ini hanyalah dilakukan pada penghujung tahun hijriyyah. Adapun penghujung tahun miladiyyah (masehi) maka tidak boleh mengucapkan selamat padanya, karena itu bukan tahun yang syar’i. Bahkan kaum kafir biasa mengucapkan selamat pada hari-hari besar mereka.

Seseorang akan berada pada bahaya besar jika ia mengucapkan selamat pada hari-hari besar orang-orang kafir. Karena ucapan selamat untuk hari-hari besar orang-orang kafir merupakan bentuk ridha terhadap mereka bahkan lebih. Ridha terhadap hari-hari besar orang-orang kafir bisa mengeluarkan seorang muslim dari agama Islam, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Imâm Ibnul Qayyim dalam kitab Ahkâm Ahlidz Dzimmah (Hukum-hukum tentang Kafir Dzimmi).

Kesimpulannya : Ucapan selamat untuk tahun baru hijriyyah lebih baik ditinggalkan tanpa diragukan lagi, karena itu bukan kebiasaan para ‘ulama salaf. Namun kalau ada seseorang yang mengucapkannya maka ia tidak berdosa.

Adapun ucapan selamat untuk tahun baru miladiyyah (masehi) maka tidak boleh.

[dari Liqâ`âtil Bâbil Maftûh ]

Sumber: http://mahad-assalafy.com/2016/12/31/hukum-mengucapkan-selamat-tahun-baru/

Benarkah Umur Umat Islam Hanya 1500 Tahun? dan Perang Suriah Tanda Akhir Zaman?

Benarkah Umur Umat Islam Hanya 1500 Tahun? dan Perang Suriah Tanda Akhir Zaman?

Kedustaan-kedustaan informasi dalam agama akhir-akhir ini sudah pada tingkat yang menghawatirkan, dan masuk ke ranah pendangkalan Aqidah Islam. Banyak beredar berita berita Hoax (bohong). Termasuk prediksi para analis atau ustad yang tidak jelas manhajnya, seolah mereka mengetahui hal yang ghaib yang hanya Allah saja yang mengetahuinya. Termasuk perkara umur umat Islam ini. Apakah mereka mendapat wahyu sehingga lancang berbuat demikian?.

Simak jawabanya dengan detail. Transkrip audio di bawah ini berikut download audio jawaban dari ustadz Usamah Mahri LC, sehingga memberikan pencerahan,agar kita kembali ulama Islam, para ulama Sunnah, ulama Syariat. Merekalah yang diambil ilmunya bukan para analisa ngawur ini.

Transkrip Audio pertanyaan dan jawaban.

Pertanyaan

Apa benar umur umat Islam tidak sampai 1500 Hijriah?, bagaimana dengan analisa para pakar Islam dengan hadits-hadits Rosul tentang konflik Suriah dengan tanda akhir zaman?

Jawaban (oleh Ustad Usamah Mahri)

Wallahu a’lam hadza dhorbun bil ghoib (dugaan yang tidak didukung dengan dalil). Bicara dengan ghoib yang tidak ada dalilnya, tidak ada dasarnya.

Bagaimana dengan analisa para pakar Islam dengan hadits-hadits Rosul tentang perang konflik Suriah dengan tanda akhir zaman?.

Kadzabun (dusta) analisa, tahu dari mana dia, perkara ghoib, tidak akan sampai umur sekian,sekian?. Perkara ghoib harus berdasarkan wahyu, kita pun tidak akan tahu yang ghoib kalo bukan karena nash dalil yang berbicara.

Dan apa yang terjadi di Siria, di Alepo maupun yang lain, musibah tentunya bagi umat Islam, membuat sedih bagi setiap muslim. Tetapi tidak berarti Islam akan musnah, kadzab (dusta). Rosullulah katakan, laa tazaalu thooifatun min ummati dhohiriina alal haq, akan tetap ada sekelompok dari ummatku ini yang yang di atas al haq laa yadhurruhum man khodalahum, tidak akan memadhorotkan mereka orang yang meninggalkan pertolongan kepada mereka yang menyellisihi mereka sampai datang ketetapan .Allah.

Kalaupun disebagian negeri, disebagian daerah, umat Islam tertindas, terbantai, terbunuh nasarahumullah (semoga Allah bela mereka, Allah bantu, Allah lindungi), Allah hancurkan musuh2nya. Di daerah lain al izzah (kaum muslimin mulia kuat) wa hakadza (dan demikianlah). Musnah semua umat Islam tanpa tersisa, gak mungkin, mustahil. kejadianya naam (iya) disebagian tempat terbunuh, terdholimi. Tapi tempat lain jaya Umat Islam, gak akan umat itu mati total di seluruh dunia. Tapi kejadianya seperti itu, sebagian tempat naam (iya), sebagian waktu naam (iya), total smuanya gak mungkin.

Dan itu hadits Rosul Shallallahu Alaihi Wassallam, terus akan ada yang jaya. Selain dari pada itu, sejarah juga membuktikan. Ketika pasukan kufar (orang-orang kafir) musrikin Tartar Mongol membantai kaum muslimin di Bagdad. Jenghiskan dan pasukanya merambah kesana-kemari sampai ke Syam. Dan sama seperti di Bagdad, dia (Jenghiskan) bantai habis-habisan kaum Muslimin, di Syam, Syam sekarang Siria dan sekitarnya. Sampai-sampai Ibnu Katsir Rahimahullah sebutkan, orang pada berbicara habis Islam di syam, lenyap sudah, ga tersisa, oleh kebengisan dan kekejaman Mongol Tartar. Kalian tahu bagaimana kekejaman tartar di Bagdad, tapi dusta semua itu (kaum Muslimin habis) gak benar.

Selang beberapa waktu ga lama dari itu, bangkit kaum muslimin meregka galang kekuatan, mereka berjihad fii Sabilillah (di jalan Allah). Sehingga terjadi kembali peperagan besar tercatat dalam sejarah yang dinamakan dengan perang Ainul Jalut. Perang besar, di Syam antara Muslimin dengan tentara Mongol Tartar. Dengan izin Allah, Allah beri kemenangan kepada kaum muslimin. Habis Tartar dan Mongol, kembali jaya kaum Muslimin. Ga ada (Muslim habis total), Ibtila’ dari Allah musibah (memang) terjadi. Jangan dengar analisa para pakar (ngawur). Tapi lihat penjelasan ulama Islam, para ulama Sunnah, ulama Syariat, mereka yang diambil ilmunya bukan para analisa ini.

Admin salafymagelang.com

Kesalahan-kesalahan Yang Banyak Tersebar Di umat Islam – 1

KESALAHAN-KESALAHAN YANG BANYAK TERSEBAR DI UMAT ISLAM

Asy-Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alus Syaikh [Menteri Urusan Agama Kerajaan Arab Saudi]

———————————————————————————-

KESALAHAN-KESALAHAN DALAM AKIDAH DAN TAUHID

———————————————————————————-

PERTAMA: Kesyirikan Yang Mengeluarkan Dari Islam

1. Istighatsah kepada orang-orang yang telah mati, berdoa kepada mereka, meminta pertolongan kepada mereka, mendekatkan diri (taqarrub) kepada mereka dengan berbagai bentuk ibadah apa saja. Ini semua merupakan syirik besar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam. Allah Ta’ala berfirman:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنَ.

“Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)

Pendahuluan obyek dalam ayat ini pada yaitu pada lafazh (إِيَّاكَ) menunjukkan makna pengkhususan, dan ini makna yang ditunjukkan oleh kalimat tauhid (لا إِلهَ إِلَّا اللهُ). Termasuk jenis ibadah adalah doa, bahkan dia merupakan ibadah sebagaimana riwayat yang shahih di dalam kitab As-Sunan dari hadits An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi was sallam bersabda:

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ.
“Doa adalah ibadah.”  (Lihat: Shahih Sunan Abu Dawud V/219, no. 1329 –pent)

Maka memalingkan ibadah kepada selain Allah merupakan kesyirikan dan kekafiran. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللهِ إِلَهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُوْنَ.

“Dan siapa saja yang berdoa kepada sesembahan yang lain di samping kepada Allah yang itu adalah perbuatan yang tidak ada keterangannya, maka sesungguhnya hisabnya ada di sisi Rabbnya, sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tidak akan beruntung.” (QS. Al-Mu’minun: 117)

Kata (مَنْ) di dalam Bahasa Arab termasuk konteks yang menunjukkan umum yang mencakup semua yang berkaitan dengannya. Maka jelaslah bahwa siapa saja yang berdoa kepada Allah namun juga berdoa kepada sesuatu yang lain apapun bentuknya, maka dia termasuk orang-orang kafir.

Allah Ta’ala juga berfirman:

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوْا مَعَ اللهِ أَحَدًا.

“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kalian berdoa kepada siapapun di samping kepada Allah.” (QS. Al-Jinn: 18)

Allah juga berfirman:

وَقَالَ الْمَسِيْحُ يَا بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ اعْبُدُوْا اللهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِيْنَ مِنْ أَنْصَارٍ.

“Dan Al-Masih (Isa bin Maryam) berkata: “Wahai Bani Israil, sembahlah Allah Rabbku dan Rabb kalian, sesungguhnya siapa saja yang menyekutukan Allah maka Allah mengharamkan syurga untuknya dan tempat kembalinya nanti adalah neraka, dan sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu tidak mendapatkan penolong.” (QS. Al-Maidah: 72)

Termasuk doa adalah berbagai jenis permintaan, seperti permintaan pertolongan yang dikenal dengan istighatsah, meminta bantuan, dan yang semisalnya.

Bersambung In Syaa Allah…

Sumber artikel: Al-Minzhaar Fii Bayaani Katsiirin Minal Akhtha’ Asy-Syai’ah

Alih Bahasa: Abu Almass
Ahad, 4 Dzulhijjah 1435 H

 

Sumber: http://forumsalafy.net/kesalahan-kesalahan-yang-banyak-tersebar-di-umat-islam/

 

#dakwahIslammagelang #aqidah #infoIslammagelang #kajianIslammagelang #Tauhid #RadioIslamMagelang #syirik #doaadalahibadah #doa #ibadah#murtad #keluardariIslam

KEMUNKARAN-KEMUNKARAN YANG DI LAKUKAN SEBAGIAN UMAT ISLAM DI HARI RAYA AGAMA LAIN

KEMUNGKARAN-KEMUNGKARAN YANG DILAKUKAN SEBAGIAN UMAT ISLAM DI HARI RAYA AGAMA LAIN

Asy-Syaikh Abdul Qadir bin Muhammad al-Junaid hafizhahullah

ﺇﻥ ﻣﻦ ﺍﻷﻓﻌﺎﻝ ﺍﻟﻤﺤﺮﻣﺔ، ﻭﺍﻟﻤﻨﻜﺮﺍﺕ ﺍﻟﺸﻨﻴﻌﺔ، ﺍﻟﺘﻲ ﺗﻘﻊ ﻣﻦ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ –ﺃﺻﻠﺤﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ– ﻓﻲ ﺃﻭﻗﺎﺕ ﺇﻗﺎﻣﺔ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭ ﻷﻋﻴﺎﺩﻫﻢ ﺍﻟﺪﻳﻨﻴﺔ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﺭﺑﻊ:

ﺃﻭﻟًﺎ: ﺇﺟﺎﺑﺔ ﺩﻋﻮﺓ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭ ﺇﻟﻰ ﺣﻀﻮﺭ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﻋﻴﺎﺩ، ﻓﺘﺮﻯ ﺍﻟﺒﻌﺾ ﻳﺤﻀﺮ ﻣﻌﻬﻢ، ﻭﻳﺸﺎﺭﻛﻬﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺮﺣﺔ ﻭﺍﻟﺴﺮﻭﺭ، ﻭﻳﻬﻨﺌﻬﻢ، ﻭﻳﺒﺎﺭﻙ ﻟﻬﻢ، ﻭﻳﺠﻠﺐ ﻟﻬﻢ ﺍﻟﻬﺪﺍﻳﺎ.

ﺛﺎﻧﻴًﺎ: ﺇﺭﺳﺎﻝ ﻛﺮﻭﺕ ﺃﻭ ﺑﻄﺎﻗﺎﺕ ﺍﻟﺘﻬﻨﺌﺔ ﺑﻌﻴﺪﻫﻢ، ﻭﻗﺪ ﺗﻜﻮﻥ ﻣﺼﺤﻮﺑﺔ ﺑﺎﻟﻮﺭﻭﺩ ﻭﺍﻟﺰﻫﻮﺭ، ﻭﺫُﻛﺮ ﻓﻴﻬﺎ ﺃﺟﻤﻞ ﺍﻟﻜﻠﻤﺎﺕ ﻭﺍﻟﺘﺒﺮﻳﻜﺎﺕ ﻭﺍﻟﺘﻤﻨﻴﺎﺕ.

ﺛﺎﻟﺜًﺎ: ﺇﻋﻼﻥ ﺗﻬﻨﺌﺔ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭ ﺑﺄﻋﻴﺎﺩﻫﻢ ﻋﺒﺮ ﺍﻟﻔﻀﺎﺋﻴﺎﺕ ﺃﻭ ﺍﻟﺠﺮﺍﺋﺪ ﺃﻭ ﺍﻟﻤﺠﻼﺕ ﺃﻭ ﻣﻮﺍﻗﻊ ﺍﻟﺸﺒﻜﺔ ﺍﻟﻌﻨﻜﺒﻮﺗﻴﺔ ﺍﻹﻧﺘﺮﻧﺖ، ﻛﻤﺎ ﻳﻔﻌﻠﻪ ﺑﻌﺾ ﺍﻹﻋﻼﻣﻴﻴﻦ ﺃﻭ ﺍﻟﻤﺴﺌﻮﻟﻴﻦ ﺃﻭ ﺍﻟﺘﺠﺎﺭ ﺃﻭ ﺍﻟﻮﺟﻬﺎﺀ ﺃﻭ ﺍﻟﺪﻛﺎﺗﺮﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﻠﻮﻡ ﺍﻟﻤﺨﺘﻠﻔﺔ ﺃﻭ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟﻤﻮﺍﻗﻊ ﺍﻹﻟﻜﺘﺮﻭﻧﻴﺔ.

ﺭﺍﺑﻌًﺎ: ﺗﺄﺟﻴﺮ ﺍﻷﻣﺎﻛﻦ ﻟﻬﻢ ﻛﺼﺎﻻﺕ ﺍﻟﺰﻭﺍﺝ ﻭﺍﻻﺳﺘﺮﺍﺣﺎﺕ ﻭﺑﺎﺣﺎﺕ ﺍﻟﻔﻨﺎﺩﻕ ﻭﺍﻟﺨﻴﺎﻡ ﻭﻣﺎ ﺷﺎﺑﻬﻬﺎ، ﻟﻴﻘﻴﻤﻮﺍ ﻓﻴﻬﺎ ﺃﻋﻴﺎﺩﻫﻢ ﺍﻟﺪﻳﻨﻴﺔ ﻭﻳﺤﺘﻔﻠﻮﺍ، ﻭﺣُﺮِّﻡ ﻫﺬﺍ ﻷﻧﻪ ﻳﻌﻴﻨﻬﻢ ﻋﻠﻰ ﻓﻌﻞ ﻣﺎ ﺣﺮﻡ ﺍﻟﻠﻪ، ﻭﻗﺪ ﻧﻬﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻦ ﺫﻟﻚ ﺑﻘﻮﻝ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ: {ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻌَﺎﻭَﻧُﻮﺍ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺈِﺛْﻢِ ﻭَﺍﻟْﻌُﺪْﻭَﺍﻥِ ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪ ﺷَﺪِﻳﺪُ ﺍﻟْﻌِﻘَﺎﺏِ}

Sesungguhnya termasuk perbuatan yang diharamkan dan termasuk kemungkaran yang buruk yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin –semoga Allah memperbaiki keadaan mereka– ketika orang-orang kafir merayakan hari raya keagamaan mereka adalah 4 perkara berikut:

1⃣ Memenuhi undangan orang-orang kafir untuk menghadiri perayaan hari raya keagamaan mereka tersebut. Anda bisa melihat sebagian orang menghadiri acara bersama mereka, ikut bergabung dengan mereka dalam kesenangan dan kegembiraan, mengucapkan selamat kepada mereka, mendoakan keberkahan untuk mereka, dan memberikan hadiah untuk mereka.

2⃣ Mengirim kartu ucapan selamat hari raya mereka, dan terkadang disertai dengan mengirim mawar dan bunga yang lainnya, dan dalam kartu ucapan selamat tersebut disebutkan kata-kata yang terindah serta doa keberkahan dan kebaikan.

3⃣ Mengumumkan ucapan selamat hari raya kepada orang-orang kafir melalui televisi, surat kabar, majalah, atau situs-situs internet, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian wartawan, pejabat, pengusaha, tokoh-tokoh masyarakat, para doktor di berbagai bidang ilmu, atau para pemilik media-media elektronik.

4⃣ Menyewakan tempat untuk mereka, seperti gedung resepsi, tempat peristirahatan, ruangan hotel, tenda, dan yang semisalnya, yang mereka gunakan untuk merayakan hari raya keagamaan mereka. Hal ini diharamkan karena membantu mereka untuk melakukan hal-hal yang diharamkan oleh Allah, dan Allah Ta’ala telah melarang hal tersebut dengan firman-Nya:

ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻌَﺎﻭَﻧُﻮﺍ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺈِﺛْﻢِ ﻭَﺍﻟْﻌُﺪْﻭَﺍﻥ ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺷَﺪِﻳﺪُ ﺍﻟْﻌِﻘَﺎﺏِ.

“Dan janganlah kalian tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan, dan bertakwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” (QS. Al-Maidah: 2)

? Sumber || http://www.alakhdr.com/?p=692

Sumber: http://forumsalafy.net/kemunkaran-kemunkaran-yang-di-lakukan-sebagian-umat-islam-di-hari-raya-agama-lain/

#dakwahIslammagelang #harirayaorangkafir #infoIslammagelang #kajianIslammagelang #orangkafir #RadioIslamMagelang #selamathariraya #ucapanselamathariraya #natal #tahunbaru #mengucapkanselamatnatal #toleransi #murtad

 

Batasan Toleransi

BATASAN TOLERANSI

Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al-Atsari

Toleransi selama ini terbukti cukup ‘sakti’ dan banyak memakan korban dari umat Islam yang memang hidup di tengah masyarakat yang majemuk. Toleransi kerap kali dijadikan sebagai pembenar untuk melegalkan perbedaan dan perselisihan meskipun hal tersebut sudah menyentuh prinsip-prinsip agama. Bagaimana sesungguhnya konsep toleransi dalam Islam?

Perbedaan dan perselisihan adalah perkara yang tercela dalam Islam. Allah subhanahuwata’ala berfirman:

“Yang demikian itu adalah karena Allah telah menurunkan Al Kitab dengan membawa kebenaran, dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih tentang (kebenaran) Al Kitab itu, benar-benar dalam penyimpangan yang jauh.” (Al-Baqarah: 176)

“Manusia itu umat yang satu, (setelah timbul perselisihan) maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan. Dan Allah menurunkan bersama mereka kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (Al-Baqarah: 213)

“Dan Kami berikan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata tentang urusan (agama).  Maka tidaklah mereka berselisih melainkan sesudah datang kepada mereka pengetahuan karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Sesungguhnya Tuhanmu akan memutuskan antara mereka pada hari kiamat terhadap apa yang mereka selalu berselisih padanya.” (Al-Jatsiyah: 17)

Dan ayat-ayat lainnya teramat banyak untuk disebutkan. Meski demikian, perbedaan dan perselisihan adalah tabiat manusia, di samping keduanya adalah perkara yang telah ditaqdirkan Allah subhanahuwata’ala. Allah subhanahuwata’ala berfirman:

“Tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu.” (Hud: 118-119)

Hanya saja kaum muslimin dibebani secara syar’i untuk meluruskan dan menghilangkannya. Allah subhanahuwata’ala berfirman:

“Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (An-Nahl: 64)

Menghadapi kenyataan demikian ini, manusia berbeda-beda di dalam menyikapinya. Ada yang tidak menaruh respek sedikit pun, serta ada yang tidak peduli sama sekali dengan anggapan bahwa “perbedaan dan perselisihan itu adalah rahmat.” Anggapan ini jelas salah, karena di antara perbedaan dan perselisihan itu ada yang menyebabkan pelakunya tercela dan mendapat murka Allah subhanahuwata’ala, seperti perbedaan dan perselisihan dalam hal aqidah, manhaj, bahkan agama – wal ‘iyadzubillah – dan pokok-pokok Islam lainnya.

Ada pula yang berusaha untuk menyembunyikan perbedaan dan perselisihan internal di tengah-tengah kaum muslimin, dengan dalih “itu hanya akan memperkuat posisi musuh”. Tak heran bila kemudian didapati orang-orangnya sangat gemar menyerukan agar saling menghormati, saling memberikan toleransi, mendiamkan penyimpangan-penyimpangan, demi mencapai sebuah persatuan dan kesatuan, sampai-sampai muncul pernyataan bahwa “madzhab-madzhab itu adalah partai dalam fiqih, sedang partai-partai itu adalah madzhab dalam politik.”

Propaganda semacam ini sangat berbahaya, sebab menyembunyikan perbedaan dan perselisihan dengan menampakkan wajah persatuan dan kesatuan adalah cara-cara yang ditempuh kaum al-maghdhubi ‘alaihim wadh dhalliin, di mana Allah telah mensifati mereka dalam firman-Nya:

“Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah-belah.” (Al-Hasyr: 14)

Propaganda ini jelas-jelas ajakan untuk menempuh jalan mereka, yang padahal Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kita agar menyelisihinya, tidak menyerupainya, dan tidak mengikuti jejak-jejaknya.

Para pembaca, tidak diragukan lagi bahwa persatuan adalah hal yang terpuji, bahkan banyak ayat yang memerintahkan bersatu dan melarang berselisih. Allah subhanahuwata’ala berfirman:

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (Ali ‘Imran: 103)

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (Ali ‘Imran: 105)

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka.” (Al-An’am: 159)

“Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama dan apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan ‘Isa, yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah-belah tentangnya.” (Asy-Syura: 13)

Perlu untuk diperhatikan, tidaklah Allah memerintahkan kaum muslimin agar bersatu dengan perintah yang mutlak. Bukanlah maksud bersatu itu memperbanyak jumlah muslimin, namun maksudnya adalah berpegang teguh kepada tali Allah yang kokoh. Jumlah yang banyak  tidaklah bermanfaat bila tidak berpegang teguh kepada tali Allah yang kokoh, bahkan keberadaannya hanya akan memudharatkan. Allah subhanahuwata’ala berfirman:

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (Al-An’am: 116)

“Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman, walaupun kamu sangat menginginkannya.” (Yusuf: 103)

Perbedaan dan perselisihan memang hal yang tidak bisa kita hindari. Namun bukan berarti kemudian kita meninggalkan sikap saling menasehati, memerintah kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar. Karena, kaum muslimin dibebani secara syariat untuk mengusahakan segala hal yang menjadi ketetapan atasnya. Allah subhanahuwata’ala berfirman:

“Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.” (Al-Mu’minun: 52)

“Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.” (Al-Anbiya: 92)

Bahkan perbedaan dan perselisihan yang timbul akibat dari menegakkan nasehat, menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, membela Al-Kitab dan As-Sunnah, penyelisihan terhadap ahlil bid’ah serta orang-orang yang sesat dan menyesatkan, merupakan perbedaan dan perselisihan yang terpuji, tidak tercela sedikitpun karena Allah dan Rasul-Nya memerintahkan untuk memisahkan diri dari mereka itu.

Sebaliknya, adalah kedzaliman yang besar serta pelanggaran yang fatal terhadap agama, bila menyerukan persatuan dalam keadaan berbeda-beda manhaj dan aqidah di mana setiap orang dituntut saling menghormati, mentolerir, dan membiarkan kebid’ahan serta penyimpangan-penyimpangan dengan cara menutup mata dan berpura-pura tidak tahu. Wallahul musta’an.

Inilah sebenarnya yang akan melenyapkan agama dan menghapus kemuliaannya serta kedudukannya. Allah subhanahuwata’ala berfirman:

“Orang-orang kafir Bani Israil telah dilaknati dengan lisan Dawud dan ‘Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (Al-Maidah: 78-79)

Maka perbedaan dan perselisihan adalah dua hal yang tercela dalam agama secara umum namun tidak secara mutlak. Dengan demikian sangatlah penting bagi kita untuk mengetahui batasan-batasan perbedaan dan perselisihan yang boleh dan yang tidak, serta batasan-batasan toleransi di dalamnya.

Perbedaan dan perselisihan ada beberapa macam, di antaranya:

Pertama, perbedaan dan perselisihan dalam pokok-pokok agama, seperti dalam ibadah dan aqidah. Perkara aqidah adalah tauqifiyyah, bukan tempatnya ijtihad, di mana kita wajib berpegang kepada perkara aqidah yang telah Allah syariatkan, tidak boleh mengikutsertakan ra’yu (hasil pemikiran akal, red) dan ijtihad-ijtihad kita.

Begitupun ibadah adalah perkara tauqifiyyah.  Perkara ibadah yang terdapat dalilnya maka kita amalkan dan yang tidak ada dalilnya maka ia adalah bid’ah yang wajib untuk kita meninggalkannya berdasarkan hadits:

“Barangsiapa mengadakan suatu yang baru dalam urusan (agama) kami yang bukan berasal darinya maka tertolak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Juga hadits:

“Jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru (dalam agama), karena tiap perkara baru itu adalah bid’ah dan tiap-tiap bid’ah itu adalah sesat dan setiap kesesatan di neraka.” (HR. At-Tirmidzi, An-Nasai, dan lainnya)

Maka perkara aqidah, ibadah, dan perkara agama secara umum tidak ada tempat untuk berbeda dan berselisih di dalamnya selama-lamanya, akan tetapi mesti mengikuti nash-nash dari Al-Kitab dan As-Sunnah serta apa yang ada pada salaful ummah, generasi terbaik umat ini.
Perbedaan dan perselisihan dalam hal ini tercela dan diharamkan, tidak boleh saling menghormati dan memberikan toleransi, karena pokok-pokok agama bukan tempatnya berijtihad bukan pula tempatnya untuk memunculkan ra’yu.

Kedua, perbedaan dan perselisihan dalam perkara yang mendapat kelapangan untuk berijtihad dari masalah-masalah fiqih dan mengambil kesimpulan hukum dari suatu dalil. Dalam hal ini, perbedaan dan perselisihan terjadi dalam hal ijtihad dan bukan dalam hal aqidah, tidak ada pengingkaran di dalamnya dengan syarat setiap orang menjauhi ta’ashshub dan menjauhkan diri mengikuti hawa nafsu. Namun jika telah nampak suatu dalil, maka wajib untuk mengikutinya dan meninggalkan apa-apa yang tidak dibangun di atas dalil.

Ketiga, perbedaan dan perselisihan sebagian fuqaha dalam hal furu’ yang telah dijelaskan dan didatangkan semuanya oleh syariat. Perbedaan dan perselisihan dalam hal ini tidaklah membahayakan, bahkan merupakan bagian dari agama, seperti perbedaan dalam sifat adzan, jenis-jenis doa istiftah, dan yang lainnya.

Perbedaan dan perselisihan inilah yang tidak tercela. Dalam perbedaan ini, setiap orang mendapat kelapangan dan dapat saling memberikan toleransi kepada yang lainnya.
Wal ‘ilmu ‘indallah.

Sumber bacaan:

  • Syarh Al-Ushul As-Sittah
  • Syarh Masail Al-Jahiliyyah
  • Sumber-sumber lainnya

Sumber: Majalah Asy Syariah

Sumber: http://forumsalafy.net/batasan-toleransi/

#dakwahIslammagelang #harirayaorangkafir #infoIslammagelang #kajianIslammagelang #orangkafir #RadioIslamMagelang #selamathariraya #ucapanselamathariraya #natal #tahunbaru #mengucapkanselamatnatal #batasan #toleransi

Ketika Orang Islam Telah Meniru Orang Kafir

KETIKA ORANG ISLAM TELAH MENIRU ORANG KAFIR

Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman

Islam dengan konsep, aturan, dan jalannya telah meletakkan jurang pemisah antara kekafiran dan keimanan, kesyirikan dan ketauhidan, kebatilan dan kebenaran, kebid’ahan dan sunnah. Jurang pemisah ini sesungguhnya menjadi ujian besar bagi manusia dalam hidup. Maukah mereka tunduk pada aturan itu atau mereka lebih memilih kebebasan dari semua tuntutan itu? Islam, sebagai agama yang telah disempurnakan, menjunjung tinggi nilai-nilai ketinggian dan kesakralan, melindungi kehormatan, darah, dan harta benda manusia. Islam sebagai agama yang penuh kasih sayang mengajak orang-orang kafir untuk meninggalkan agama mereka dan masuk ke dalam Islam. Islam pun mengobarkan peperangan kepada siapa pun yang menolak dan memeranginya. Jurang pemisah ini menjadi lampu merah bagi kaum muslimin dan mukminin agar tidak meniru gaya hidup orangorang kafir, musyrik, dan ahlul batil.

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka). Janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (al- Hadid: 16)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan, Kalimat: Dan jangan mereka seperti ahli kitab, ini adalah larangan yang bersifat mutlak dalam hal meniru mereka. Ayat ini lebih khusus menekankan larangan menyerupai mereka dalam hal kekerasan hati. Kerasnya hati adalah salah satu buah kemaksiatan.” (Iqtidha’ ash-Shirathil Mustaqim hlm. 81)

Berita yang Pasti, Umat Ini Pasti Meniru Mereka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberitakan,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ، الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ فَمَنْ؟

“Sungguh, kalian akan mengikuti langkah orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, dan sehasta demi sehasta. Kalaupun mereka menempuh jalur lubang dhabb (binatang sejenis biawak), niscaya kalian akan menempuhnya.” Kami mengatakan, “Ya Rasulullah, apakah jalan orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab, “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR. al-Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 4822 dari sahabat Abu Sa’id al- Khudri radhiyallahu ‘anhu)

Di dalam riwayat hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallambersabda,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِي بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ. فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، كَفَارِسَ وَالرُّومِ؟ فَقَالَ: وَمَنِّ النَّاسُ إِلَّا أُولَئِكَ؟

“Tidak akan terjadi hari kiamat, hingga umatku mengambil langkah generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, dan sehasta demi sehasta.” Lalu dikatakan kepada beliau, “Ya Rasulullah, apakah bangsa Persi dan Romawi?” Beliau bersabda, “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR. al-Bukhari no. 6774)

Berita dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ini sesungguhnya sebagai pemberitahuan akan terjadinya sikap meniru orang kafir dalam semua lini kehidupan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan, “Berita ini menggambarkan sebuah kenyataan yang akan terjadisekaligus sebagai celaan atas orang yang mengerjakannya. Beliau pun memberitakan apa yang akan dilakukan oleh manusia mendekati hari kiamat, berupa tanda-tanda kedatangannya berikut segala perkara yang diharamkan. Maka dari itu, diketahui bahwa Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya n mencela umat ini apabila menyerupai Yahudi, Nasrani, Persi, dan Romawi. Inilah faedah yang dicari.” (Iqtidha’ ash-Shirathil Mustaqim hlm. 44)

Allah Subhanahu wata’ala telah melarang keras kaum muslimin meniru mereka, sebagaimanafirman-Nya,

وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ {} مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

“Dan janganlah kalian seperti orang musyrik. Orang-orang yang telah memecah belah agama mereka sehingga mereka berkeping-keping dan setiap kelompok menyombongkan diri atas yang lain.” (ar-Rum: 31—32)

Bahkan, Allah  Subhanahu wata’ala memerintahkan kita untuk berdoa agar tidak termasuk golongan mereka dalam banyak ayat. Di antaranya,

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ {} صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

“Tunjukilah kami ke jalan Engkau yang lurus. Jalan orang-orang yang Engkau telah beri nikmat atas mereka dan bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan sesatkan.” (al- Fatihah: 6—7)

Suri Teladan dari Dua Khalilullah

Teladan hidup, sungguh sangat dibutuhkan setiap saat, lebih-lebih ketika dilanda krisis keteladanan. Tentu saja teladan yang tidak mengecewakan kita. Tentu pula teladan itu adalah orang-orang yang terdidik, suci dan bersih, terbaik, terhormat, orang yang jujur, amanah, bertakwa kepada Allah  Subhanahu wata’ala, taat beribadah kepada Allah  Subhanahu wata’ala, serta memiliki sifat-sifat mulia dan agung lainnya. Apakah ada pendidikan yang lebih tinggi daripada pendidikan Allah  Subhanahu wata’ala melalui wahyu-Nya? Adakah orang yang lebih baik dari utusan dan kepercayaan Allah  Subhanahu wata’ala dalam hal mengemban amanat risalah-Nya? Adakah yang paling lurus hidupnya daripada orang yang telah didekatkan oleh Allah  Subhanahu wata’ala kepada-Nya? Adakah orang yang lebih selamat daripada seseorang yang telah dipilih oleh Allah  Subhanahu wata’ala untuk menapaki jalan-Nya sekaligus sebagai imam dalam hal ini? Adakah yang lebih jujur, amanah, dan lebih takut kepada Allah  Subhanahu wata’ala selain para nabi dan rasul? Tentu kita akan memberikan jawaban, “Tidak ada.”

Oleh karena itu, dalam al-Qur’an Allah  Subhanahu wata’ala sering menampilkan sosok manusia yang bisa dijadikan teladan di dalam hidup, teladan yang tidak akan mengecewakan. Mereka adalah orang-orang yang telah teruji dalam segala kondisi. Mereka telah berjuang dengan segala kemampuan, siang dan malam, tanpa mengenal lelah dan patah semangat. Mereka telah berkorban dengan segala yang dimilikinya, tanpa mengharapkan imbalan dari manusia sedikit pun. Mereka hanya mengejar ridha Allah  Subhanahu wata’ala yang mengutus mereka. Allah l telah menceritakan sosok Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, Nabi Muhammad, dan nabi-nabi yang lain. As-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Tidaklah setiap orang bisa menjadikan mereka teladan. Yang mendapatkan kemudahan untuk meneladani mereka adalah orang yang mengharapkan Allah  Subhanahu wata’ala dan ganjaran pada hari akhirat. Keimanan dan harapan akan pahala akan memudahkan setiap hamba menghadapi segala kesulitan dan mengurangi beban hidup yang banyak. Selain itu, keimanan akan mendorong untuk meneladani hamba-hamba Allah  Subhanahu wata’alayang saleh, para nabi dan rasul. Dia pun akan melihat dirinya sangat membutuhkannya.” (Tafsir as-Sa’di hlm. 794)

Dalam bersikap terhadap orang kafir, Allah  Subhanahu wata’ala telah menceritakan di dalam al-Qur’an sikap dua khalil-Nya agar kita meneladani mereka berdua.

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya ketika mereka berkata kepada kaum mereka, “Sesungguhnya Kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah. Kami ingkari (kekafiran)mu serta telah nyata antara Kami dengan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (al-Mumtahanah: 4)

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ {} لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ {} وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ {} وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ {} وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ {} لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

Katakanlah, “Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Ilah (sesembahan) yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Ilah yang aku sembah. Untukmu agamamu dan untukkulah agamaku.” (al-Kafirun: 1—6)

Karena Kebodohan, Meniru Mereka

Kebodohan adalah penyakit kronis, bagaikan tong sampah yang akan menampung segala kotoran dan najis. Tidaklah mengherankan jika mereka diumpamakan bagai orang-orang yang tuli lagi buta. Apa yang bisa dilakukan dan apa yang bisa diperbuat? Tidaklah mengherankan jika di hadapan orang-orang jahil, yang benar menjadi salah dan yang salah menjadi benar, yang haq menjadi batil dan yang batil menjadi haq. Tidak pula mengherankan pula jika kaum muslimin meniru orang-orang kafir dalam semua lini kehidupan. Mulai dari perkara yang kecil sampai kepada yang besar, mulai dari masalah pakaian sampai kepada masalah keyakinan dan ibadah. Bahkan, kebodohan ini sering mendatangkan malapetaka bagi dirinya dan buat orang lain.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bercerita dalam hadits yang dikeluarkan oleh al-Imam al-Bukhari rahimahullah dan Muslim rahimahullahdari sahabat Abu Sa’id al- Khudri radhiyallahu ‘anhu tentang seseorang yang telah membunuh 99 jiwa. Karena kejahilannya tentang pintu tobat, dia mencari seseorang yang akan bisa membimbing dirinya keluar dari lumuran dosa tersebut. Bertemulah dia dengan seorang pendeta. Ia pun mengutarakan hajatnya dan menceritakan dosa yang telah diperbuatnya. Dengan kejahilan, sang pendeta memberitahukan bahwa pintu tobat sudah tertutup baginya. Dengan spontan, jiwa sang pendeta melayang di tangannya, sekaligus menggenapkan bilangan yang ganjil, dari 99 menjadi 100. Sungguh karena ketidaktahuan itu, telah terenggut nyawa seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Mengetahui hal itu, beliau marah dengan kemarahan yang sangat. Abdullah ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bercerita tentang peristiwa tersebut,

ثُمَّ n أَصَابَ رَجُلاً جُرْحٌ فِي عَهْدِ رَسُولُ اللهِ احْتَلَمَ، فَأُمِرَ بِالْاِغْتِسَالِ، فَاغْتَسَلَ، فَمَاتَ، فَبَلَغَ فَقَالَ: قَتَلُوهُ؛ قَاتَلَهُمُ اللهُ،  ذَلِكَ رَسُولَ اللهِ أَلَمْ يَكُنْ شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالَ؟

“Di masa Rasulullah , ada seseorang terluka, lalu dia bermimpi (janabah). Kemudian dia diperintahkan untuk mandi lantas dia pun mandi. Karena itu, dia meninggal dunia. Sampailah berita tersebut kepada Rasulullah lalu beliau bersabda, ‘Mereka telah membunuhnya dan semoga Allah lmemerangi mereka. Bukankah obat tidak tahu itu adalah bertanya?” (HR. Abu Dawud no. 285)

Asy – Syaikh al – Albani rahimahullah mengatakan, “Haditsnya hasan dan diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban rahimahumallah dalam Shahih keduanya.” (Lihat Shahih Sunan Abu Daud no. 365)

Hukum Meniru Orang Kafir

Saudaraku, kita masih mengingat pembahasan al-wala’ dan al-bara’ dalam hukum agama dalamAsy-Syari’ah Vol. Vl/No. 68/1432 H/2011. Tergambar di dalamnya bentuk-bentuk loyalitas seorang muslim terhadap orangorang kafir. Ternyata, tidak hanya dalam hal ideologi semata, tetapi dalam hal muamalah dengan mereka yang keluar dari tuntunan agama. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyahrahimahullah ketika membawakan hadits,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barang siapa menyerupai suatu kaum, dia termasuk dari mereka.”

Setelah menjelaskan kondisi para perawi haditsnya, beliau mengatakan, “Hukum yang paling ringan (dalam meniru orang kafir) di dalam hadits ini adalah keharaman, kendatipun lahiriah haditsnya menunjukkan kafirnya orang yang menyerupai mereka, sebagaimana firman Allah  Subhanahu wata’ala,

وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ۗ

“Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.” (al-Maidah: 51)

Ini semakna dengan ucapan Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, “Barang siapa tinggal di negeri kaum musyrikin dan melakukan hari ulang tahun mereka, pesta besar mereka, dan meniru mereka sampai meninggal dunia, dia akan dibangkitkan bersama mereka pada hari kiamat.” Terkadang, hal ini dibawa kepada hukum tasyabuh yang bersifat mutlak, yaitu tasyabuh yang menyebabkan seseorang kafir dan sebagiannya mengandung hukum haram. Bisa juga dibawa pada makna bahwa dia seperti mereka sebatas apa yang dia tiru. Jika yang dia tiru itu dalam hal kekafiran (dia menjadi kafir, -pen.), dan jika maksiat, (ia telah bermaksiat). Jika dalam hal syiar kekufuran mereka atau syiar kemaksiatan mereka, hukumnya semisal itu.” (Lihat al-Iqtidha hlm. 82—83)

Kita juga telah mengetahui bahwa hukum-hukum dalam agama tidak keluar dari lima hal. Ibnu Qayyim t menjelaskan, “Hukum-hukum yang terkait dengan ubudiyah itu ada lima, yaitu wajib, mustahab, haram, makruh, dan mubah.” (Madarijus Salikin 1/109) Telah dijelaskan di atas tentang haramnya meniru orang kafir secara mutlak. Namun, ada pembolehan, yakni jika hal yang akan kita tiru tersebut tidak ada sangkut pautnya dengan urusan agama dan keyakinan, serta tidak ada kaitannya dengan ciri khas dan adat istiadat mereka. Hal itu bukan perilaku dan kebiasaan mereka, melainkan sebatas ursan dunia yang tidak ada keharaman padanya. Yang seperti ini dibolehkan. Misalnya, orang-orang kafir bisa membuat motor, mobil, pesawat, atau peranti teknologi lain yang hukumnya secara zat tidak haram, lalu kaum muslimin menirunya. Hal ini tidak mengapa.

Akibat Meniru Mereka

Tidaklah tersembunyi bagi setiap muslim bahwa orang-orang kafir itu adalah musuh Allah Subhanahu wata’ala, para rasul, dan kaum mukminin. Mereka adalah manusia yang telah menyandang predikat-predikat yang buruk, jelek, dan keji dari Allah  Subhanahu wata’ala. Mereka adalah manusia yang berada dalam taraf makhluk yang paling rendah, hina, tercela, terburuk, dan terkutuk, yang binatang ternak yang tidak berakal lebih baik dari mereka.

أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

“Mereka bagaikan binatang ternak, bahkan lebih jelek dari itu. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”(al-A’raf: 179)

إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ ۖ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا

“Tiadalah mereka itu melainkan seperti binatang ternak dan bahkan mereka lebih jelek jalannya.”(al-Furqan: 44)

وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ اعْتَدَوْا مِنكُمْ فِي السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ

“Sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka, ‘Jadilah kamu kera yang hina’.” (al-Baqarah: 65)

فَلَمَّا عَتَوْا عَن مَّا نُهُوا عَنْهُ قُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ

Tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang mereka dilarang mengerjakannya, Kami katakan kepadanya, “Jadilah kamu kera yang hina.” (al-A’raf: 166)

قُلْ هَلْ أُنَبِّئُكُم بِشَرٍّ مِّن ذَٰلِكَ مَثُوبَةً عِندَ اللَّهِ ۚ مَن لَّعَنَهُ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ وَعَبَدَ الطَّاغُوتَ ۚ أُولَٰئِكَ شَرٌّ مَّكَانًا وَأَضَلُّ عَن سَوَاءِ السَّبِيلِ

Katakanlah, “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orangorang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut?” Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus. (al-Maidah: 60)

Kerendahan dan kehinaan hidup— kendatipun mereka orang yang paling kaya, paling tinggi kedudukan dan pangkatnya, dan bisa jadi paling kuat— adalah stempel yang tidak akan berubah, cap yang terus melekat, tidak akan hilang dan sirna. Allah  Subhanahu wata’ala telah menghancurkan dan membinasakan mereka ketika mereka menantang kekuasaan Allah  Subhanahu wata’ala, yaitu saat mereka menolak dan ingkar terhadap syariat yang dibawa oleh para nabi dan rasul. Allah  Subhanahu wata’ala juga telah mempersiapkan pintu kehancuran dan kebinasaan untuk mereka, di dunia dan di akhirat. Setelah ini semua, pantaskah seseorang yang beriman kepada Allah  Subhanahu wata’ala, para rasul-Nya, dan hari kiamat, meneladani, meniru, dan mencontoh mereka? Adakah akal dan hati jika seorang yang beriman meniru gaya hidup binatang yang tidak berakal, bahkan lebih jelek dari binatang ternak? Adakah pintu bagi orang-orang beriman untuk masuk lalu hidup bermesraan bersama orang-orang yang rendah, hina, jelek, keji, dan terkutuk? Pantaskah orang-orang yang beriman mengangkat orang yang divonis sebagai musuh AllahSubhanahu wata’ala, Rasul-Nya, dan mereka sendiri sebagai figur hidupnya? Jika ada orang yang mengaku beriman meniru mereka, ini berarti sebuah keputusan hidup yang akan melemparkan dirinya ke jurang kehancuran dan kebinasaan, sebagaimana hancur dan binasanya mereka. Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber: Majalah Asy Syariah Online

Sumber: http://forumsalafy.net/ketika-orang-islam-telah-meniru-orang-kafir/

 

#dakwahIslammagelang #harirayaorangkafir #infoIslammagelang #kajianIslammagelang #meniru orangkafir #orangkafir #RadioIslamMagelang #selamathariraya #ucapanselamathariraya #natal #tahunbaru #mengucapkanselamatnatal #batasan #toleransi #murtad

WASPADAI PEMURTADAN DI BALIK SLOGAN TOLERANSI

WASPADAI PEMURTADAN TANPA SADAR DI BALIK SLOGAN “TOLERANSI”

Asy-Syaikh Abdul Qadir bin Muhammad al-Junaid hafizhahullah

ﻻ ﺭﻳﺐ ﺃﻥ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭ ﺑﺠﻤﻴﻊ ﻣﻠﻠﻬﻢ ﻳﺒﻐﻀﻮﻥ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﻭﺃﻫﻠﻪ ﻭﻳﻌﺎﺩﻭﻧﻬﻢ، ﻭﻳﺴﻌﻮﻥ ﻹﺿﻌﺎﻓﻬﻢ ﻭﺗﻤﺰﻳﻘﻬﻢ، ﻭﺇﻃﻔﺎﺀ ﻧﻮﺭ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﻭﺣﺠﺒﻪ ﻋﻦ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩ.

ﻭﻗﺪ ﺩﻟﻨﺎ ﻋﻠﻰ ﻫﺬﺍ، ﻭﺃﺧﺒﺮﻧﺎ ﺑﻪ ﺭﺑﻨﺎ –ﻋﺰ ﻭﺟﻞ– ﺍﻟﺬﻱ ﺧﻠﻘﻨﺎ ﻭﺧﻠﻘﻬﻢ، ﻭﻫﻮ ﺃﺩﺭﻯ ﺑﻨﺎ ﻭﺑﻬﻢ ﻣﻦ ﻛﻞ ﺃﺣﺪ، ﻭﺃﻋﺮﻑ ﺑﻈﻮﺍﻫﺮ ﺍﻟﺠﻤﻴﻊ ﻭﺑﻮﺍﻃﻨﻬﻢ، ﻓﻘﺎﻝ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ: {ﻭَﺩُّﻭﺍ ﻟَﻮْ ﺗَﻜْﻔُﺮُﻭﻥَ ﻛَﻤَﺎ ﻛَﻔَﺮُﻭﺍ ﻓَﺘَﻜُﻮﻧُﻮﻥَ ﺳَﻮَﺍﺀً}

ﻭﻗﺎﻝ ﺗﻌﺎﻟﻰ: {ﻭَﺩَّ ﻛَﺜِﻴﺮٌ ﻣِﻦْ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻟَﻮْ ﻳَﺮُﺩُّﻭﻧَﻜُﻢْ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِ ﺇِﻳﻤَﺎﻧِﻜُﻢْ ﻛُﻔَّﺎﺭًﺍ ﺣَﺴَﺪًﺍ ﻣِﻦْ ﻋِﻨْﺪِ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻬِﻢْ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِ ﻣَﺎ ﺗَﺒَﻴَّﻦَ ﻟَﻬُﻢُ ﺍﻟْﺤَﻖُّ}

ﻭﻗﺎﻝ ﺟﻞ ﻭﻋﻼ: {ﻣَﺎ ﻳَﻮَﺩُّ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻛَﻔَﺮُﻭﺍ ﻣِﻦْ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻭَﻟَﺎ ﺍﻟْﻤُﺸْﺮِﻛِﻴﻦَ ﺃَﻥْ ﻳُﻨَﺰَّﻝَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻣِﻦْ ﺧَﻴْﺮٍ ﻣِﻦْ ﺭَﺑِّﻜُﻢْ ﻭَﺍﻟﻠﻪ ﻳَﺨْﺘَﺺُّ ﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻪِ ﻣَﻦْ ﻳَﺸَﺎﺀُ ﻭَﺍﻟﻠﻪ ﺫُﻭ ﺍﻟْﻔَﻀْﻞِ ﺍﻟْﻌَﻈِﻴﻢِ}

ﻭﻗﺎﻝ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ: {ﻗُﻞْ ﻳَﺎ ﺃَﻫْﻞَ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻟِﻢَ ﺗَﺼُﺪُّﻭﻥَ ﻋَﻦْ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠﻪ ﻣَﻦْ ﺁﻣَﻦَ ﺗَﺒْﻐُﻮﻧَﻬَﺎ ﻋِﻮَﺟًﺎ ﻭَﺃَﻧْﺘُﻢْ ﺷُﻬَﺪَﺍﺀُ ﻭَﻣَﺎ ﺍﻟﻠﻪ ﺑِﻐَﺎﻓِﻞٍ ﻋَﻤَّﺎ ﺗَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺇِﻥْ ﺗُﻄِﻴﻌُﻮﺍ ﻓَﺮِﻳﻘًﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺃُﻭﺗُﻮﺍ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏَ ﻳَﺮُﺩُّﻭﻛُﻢْ ﺑَﻌْﺪَ ﺇِﻳﻤَﺎﻧِﻜُﻢْ ﻛَﺎﻓِﺮِﻳﻦَ}

ﻭﻗﺎﻝ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ: {ﻳُﺮِﻳﺪُﻭﻥَ ﺃَﻥْ ﻳُﻄْﻔِﺌُﻮﺍ ﻧُﻮﺭَ ﺍﻟﻠﻪ ﺑِﺄَﻓْﻮَﺍﻫِﻬِﻢْ ﻭَﻳَﺄْﺑَﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺇِﻟَّﺎ ﺃَﻥْ ﻳُﺘِﻢَّ ﻧُﻮﺭَﻩُ ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺮِﻩَ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮُﻭﻥَ ﻫُﻮَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺃَﺭْﺳَﻞَ ﺭَﺳُﻮﻟَﻪُ ﺑِﺎﻟْﻬُﺪَﻯ ﻭَﺩِﻳﻦِ ﺍﻟْﺤَﻖِّ ﻟِﻴُﻈْﻬِﺮَﻩُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺪِّﻳﻦِ ﻛُﻠِّﻪِ ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺮِﻩَ ﺍﻟْﻤُﺸْﺮِﻛُﻮﻥَ}

Tidak diragukan lagi bahwa sesungguhnya orang-orang kafir apapun agamanya, mereka membenci Islam dan umat Islam, memusuhi mereka, berusaha melemahkan dan memecah belah mereka, dan memadamkan cahaya Islam serta menutupinya dari hamba-hamba Allah.

Hal ini sungguh telah ditunjukkan dan dikabarkan kepada kita oleh Rabb kita –Azza wa Jalla– yang telah menciptakan kita dan mereka, dan tentu Dia yang paling mengetahui keadaan kita dan mereka dibandingkan siapapun, dan yang paling mengetahui lahir dan bathin semua pihak. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ﻭَﺩُّﻭﺍ ﻟَﻮْ ﺗَﻜْﻔُﺮُﻭﻥَ ﻛَﻤَﺎ ﻛَﻔَﺮُﻭﺍ ﻓَﺘَﻜُﻮﻧُﻮﻥَ ﺳَﻮَﺍﺀً.

“Mereka (orang-orang kafir) sangat ingin agar kalian menjadi kafir sebagaimana mereka telah kafir, sehingga kalian sama seperti mereka.” (QS. An-Nisa’: 89)

Juga firman-Nya:

ﻭَﺩَّ ﻛَﺜِﻴﺮٌ ﻣِّﻦْ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻟَﻮْ ﻳَﺮُﺩُّﻭﻧَﻜُﻢ ﻣِّﻦ ﺑَﻌْﺪِ ﺇِﻳﻤَﺎﻧِﻜُﻢْ ﻛُﻔَّﺎﺭًﺍ ﺣَﺴَﺪًﺍ ﻣِّﻦْ ﻋِﻨﺪِ ﺃَﻧﻔُﺴِﻬِﻢ ﻣِّﻦ ﺑَﻌْﺪِ ﻣَﺎ ﺗَﺒَﻴَّﻦَ ﻟَﻬُﻢُ ﺍﻟْﺤَﻖُّ.

“Banyak dari ahli kitab yang sangat ingin agar mereka bisa menjadikan kalian murtad setelah keimanan kalian, karena kedengkian dari diri mereka setelah kebenaran mereka ketahui dengan jelas.” (QS. Al-Baqarah: 109)

Juga firman-Nya:

ﻣَﺎ ﻳَﻮَﺩُّ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻛَﻔَﺮُﻭﺍ ﻣِﻦْ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻭَﻟَﺎ ﺍﻟْﻤُﺸْﺮِﻛِﻴﻦَ ﺃَﻥْ ﻳُﻨَﺰَّﻝَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻣِﻦْ ﺧَﻴْﺮٍ ﻣِﻦْ ﺭَﺑِّﻜُﻢْ ﻭَﺍﻟﻠﻪ ﻳَﺨْﺘَﺺُّ ﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻪِ ﻣَﻦْ ﻳَﺸَﺎﺀُ ﻭَﺍﻟﻠﻪ ﺫُﻭ ﺍﻟْﻔَﻀْﻞِ ﺍﻟْﻌَﻈِﻴﻢِ.

“Orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab dan orang-orang musyrik sangat tidak ingin diturunkannya wahyu dari Rabb kalian, namun Allah mengaruniakan rahmat-Nya khusus kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memiliki keutamaan yang besar.” (QS. Al-Baqarah: 105)

Juga firman-Nya:

ﻗُﻞْ ﻳَﺎ ﺃَﻫْﻞَ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻟِﻢَ ﺗَﺼُﺪُّﻭﻥَ ﻋَﻦْ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠﻪ ﻣَﻦْ ﺁﻣَﻦَ ﺗَﺒْﻐُﻮﻧَﻬَﺎ ﻋِﻮَﺟًﺎ ﻭَﺃَﻧْﺘُﻢْ ﺷُﻬَﺪَﺍﺀُ ﻭَﻣَﺎ ﺍﻟﻠﻪ ﺑِﻐَﺎﻓِﻞٍ ﻋَﻤَّﺎ ﺗَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ. ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺇِﻥْ ﺗُﻄِﻴﻌُﻮﺍ ﻓَﺮِﻳﻘًﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺃُﻭﺗُﻮﺍ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏَ ﻳَﺮُﺩُّﻭﻛُﻢْ ﺑَﻌْﺪَ ﺇِﻳﻤَﺎﻧِﻜُﻢْ ﻛَﺎﻓِﺮِﻳﻦ.

“Katakanlah: wahai ahli kitab, kenapa kalian menghalangi orang yang beriman dari jalan Allah dan mengharapkan jalan Allah menjadi bengkok, padahal kalian menjadi saksi atas kebenarannya, dan Allah tidak lalai terhadap apa saja yang kalian perbuat. Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menuruti sebagian orang-orang yang diberi al-kitab, pasti mereka akan mengembalikan kalian menjadi kafir setelah keimanan kalian.” (QS. Ali Imran: 99-100)

? Sumber || http://www.alakhdr.com/?p=692

Sumber: http://forumsalafy.net/waspadai-pemurtadan-di-balik-slogan-toleransi/

 

#dakwahIslammagelang #harirayaorangkafir #infoIslammagelang #kajianIslammagelang #orangkafir #RadioIslamMagelang #selamathariraya #ucapanselamathariraya #natal #tahunbaru #mengucapkanselamatnatal #waspada #toleransi #murtad