Hukum Menunda-nunda Membayar Utang

Assalamu’alaikum.

Sebelumnya terima kasih atas penjelasan yang diberikan. Saya menghadapi suatu permasalahan hukum yang sangat membutuhkan penjelasan. Ada dua orang muslim yang terikat perjanjian utang piutang. Kemudian orang yang berutang menyalahi perjanjian karena suatu sebab, bisa jadi karena sebab-sebab di luar kemampuannya, atau bisa jadi juga memang tidak punya itikad untuk membayar utangnya.

  1. Apakah kehormatan orang yang berutang dan tidak membayar itu halal, dalam artian boleh dirusak atau dihinakan? Sebab, ada yang mengatakan boleh, dengan dalil Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyalati jenazah orang yang belum melunasi utangnya.
  2. Apakah sebab-sebab tidak dilunasinya utang bisa menjadi pertimbangan bagi orang yang memberi utang untuk memberikan tangguh, atau bahkan menyedekahkan piutangnya kepada yang berutang?
  3. Apakah harta orang yang berutang tersebut halal bagi orang yang memberi utang, dalam artian boleh diambil paksa sebatas jumlah utangnya?

Ummu Shafeya, DepokTimur

 


Dijawab oleh al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini

Pada dasarnya, barang siapa berutang lantas memiliki kemampuan membayarnya meskipun secara keumuman ia terhitung miskin, ia berkewajiban membayar utangnya saat pemilik hak menagihnya atau saat tiba waktu pembayaran yang ditentukan (jatuh tempo) pada utang yang bersifat angsuran.

Haram hukumnya menunda pembayaran hak pemiutang yang telah berbuat baik kepadanya dengan mengutanginya, karena hal itu adalah kezaliman. Dalilnya adalah hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ

 “Penundaan pembayaran oleh pengutang yang mampu adalah kezaliman.” (Muttafaq ‘alaih)

Kata Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari, “Terdapat perselisihan pendapat, apakah kesengajaan menunda pembayaran utang tergolong dosa besar atau tidak? Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa pelakunya fasik.

Akan tetapi, apakah ia menjadi fasik lantaran menunda pembayaran satu kali atau tidak?

An-Nawawi mengatakan, ‘Tuntutan mazhab kami dalam masalah ini adalah dipersyaratkan berulang kali (baru disebut fasik).’

Akan tetapi, hal itu dibantah oleh as-Subki pada Syarhu al-Minhaj, ‘Tuntutan mazhab kami adalah tidak dipersyaratkan berulang kali. Dalilnya, menahan hak seseorang setelah pemiliknya menuntut disertai mencari-cari alasan (penghalang) untuk membayarnya (kedudukannya) seperti merampas hak orang. Sementara itu, merampas adalah dosa besar.

Penamaannya sebagai kezaliman mengindikasikan bahwa hal itu adalah kefasikan, dan suatu dosa besar tidak dipersyaratkan harus dilakukan berulang kali (baru dinamakan dosa besar).

Ya, ia tidak dihukumi fasik kecuali jika benar-benar jelas bahwa ia tidak punya uzur untuk menundanya.’

Mereka juga berselisih pendapat, apakah pelakunya menjadi fasik lantaran menundanya setelah mampu, baik ditagih maupun tidak?

Hadits dalam bab ini mengindikasikan bahwa pelakunya menjadi fasik apabila pemilik hak telah menagihnya, karena kata ‘menunda’ mengindikasikan makna demikian.”

Ini pula yang dipilih oleh Ibnu ‘Utsaimin dalam syarah Bulughul Maram.

Dalam Fathul Bari, al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan bahwa hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu di atas menunjukkan bolehnya mendesak pengutang yang menunda pembayaran agar segera membayar utangnya dan menempuh berbagai cara untuk mengambil haknya dari dia secara paksa.[1]

Diantara cara itu adalah melaporkannya kepada pihak berwajib, sebagaimana akan diterangkan nanti. Adapun pemaksaan secara fisik yang bisa memicu (fitnah) pertumpahan darah, hal itu harus dihindari.

Kezaliman orang yang menunda pembayaran utangnya bisa menjadi alasan bagi pemiutang yang terzalimi untuk mengghibahinya (menggunjingya) dan mengadukannya ke pihak yang berwajib. Dalilnya adalah hadits asy-Syarid radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيُّ الْوَاجِدِ يُحِلُّ عِرْضَهُ وَعُقُوبَتَهُ

“Menunda pembayaran oleh pengutang yang mampu menghalalkan kehormatan dan hukumannya.” (HR.Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’i, Ibnu Majah, dan al-Bukhari secara ta’liq [tanpa menyebutkan sanad]; dinyatakan hasan oleh Ibnu Hajar dan al-Albani)[2]

Tentang kalimat “menghalalkan kehormatannya”, Ibnu ‘Utsaimin menetapkan makna-makna berikut:

  1. Boleh bagi pemilik hak menyifati orang tersebut zalim karena menunda haknya,
  2. Boleh mengadukannya ke pihak yang berwajib (syikayah), dan
  3. Boleh mengghibahinya (menggunjingnya) di tengah-tengah manusia apabila ada maslahatnya.

Maslahat itu boleh jadi merupakan maslahat pemilik hak, yaitu apabila membuat pengutang bersegera membayar utangnya karena takut kejelekannya tersebar luas; atau maslahat orang lain agar berhati-hati dalam bermuamalah dengan orang tersebut (sebagai tahdzir/peringatan).

Ibnu ‘Abdil Barr menyatakan bahwa hal ini seperti firman Allah subhanahu wa ta’ala,

لَّا يُحِبُّ ٱللَّهُ ٱلۡجَهۡرَ بِٱلسُّوٓءِ مِنَ ٱلۡقَوۡلِ إِلَّا مَن ظُلِمَۚ

“Allah tidak menyukai terang-terangan dalam hal ucapan yang jelek kecuali orang yang dizalimi.” (an-Nisa’:148)

Adapun makna “menghalalkan hukumannya” adalah berdasarkan tuntutan pemilik hak, tidak tanpa tuntutan pemilik hak. Menurut Ibnu ‘Utsaimin, hadits ini mutlak terserah kebijakan pihak yang berwajib dalam menentukan hukuman apa yang dianggap membuatnya segera membayar utangnya; apakah dipenjara atau dipukul/dicambuk. Jika dipukul/cambuk, tentunya pukulan/cambukan yang tidak menyebabkan cacat fisik dan tidak lebih dari sepuluh kali tiap hari. Jika masih belum membayar juga, pihak hakim (pihak yang berwajib) langsung turun tangan secara paksa membayarkan utangnya dari harta orang tersebut yang ada atau menjualnya untuk pembayaran utangnya.[3]

Adapun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyalati muslim yang mati dengan meninggalkan tanggungan utang yang belum terbayar,[4] adalah sebagai peringatan bagi yang lain agar tidak meremehkan masalah utang dan tidak bermudah-mudah dalam hal berutang, kecuali pada kondisi benar-benar terdesak kebutuhan yang mengharuskannya berutang.

Apabila pengutang benar-benar belum mampu membayar utangnya, pemilik hak wajib memberi tangguh sampai ia mampu membayarnya. Bahkan, dianjurkan bagi pemilik hak agar bersedekah kepadanya dengan membebaskannya dari sebagian atau seluruh tanggungan utangnya. Dalilnya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَإِن كَانَ ذُو عُسۡرَةٖ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيۡسَرَةٖۚ وَأَن تَصَدَّقُواْ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ

“Jika (orang yang berutang itu) dalam kesulitan, berilah tangguh sampai dia memiliki kelapangan, dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahui.” (al-Baqarah: 280)

Adapun balasannya telah disebutkan pada keumuman makna hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍيَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

“Barang siapa membebaskan seorang mukmin dari satu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan dunia, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan membebaskannya dari satu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan akhirat. Barang siapa memberi kemudahan atas orang yang kesulitan ekonomi, niscaya Allah akan memberi kemudahan atasnya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim)

Bahkan ada nash secara khusus:

  1. Hadits Buraidah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ مِثْلِهِ صَدَقَةٌ قَبْلَ أَنْ يَحُلَّ الدَّيْنُ، فَإِذَا حَلَّ الدَّيْنُ فَأَنْظَرَهُ فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ مِثْلَيْهِ صَدَقَةٌ

“Barang siapa memberi tangguh orang yang kesulitan membayar utang sampai dia berkelapangan sebelum tiba waktu pelunasan, dia mendapatkan pahala sedekah senilai dengannya setiap hari. Apabila waktu pelunasan telah tiba lantas dia memberi tangguh kepadanya sampai berkelapangan, dia mendapatkan pahala sedekah dua kali lipat darinya setiap hari.” (HR. Ahmad dan al-Hakim. Al Hakim menghukuminya sahih menurut syarat al-Bukhari dan Muslim, serta disetujui oleh adz-Dzahabi, tetapi diluruskan oleh al-Albani dan al-Wadi’i bahwa sahih menurut syarat Muslim saja)[5]

  1. Hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا أَوْ وَضَعَ لَهُ أَظَلَّهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تَحْتَ ظِلِّ عَرْشِهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ

“Barang siapa memberi tangguh orang yang kesulitan membayar utang hingga ia berkelapangan atau menggugurkan utangnya, Allah subhanahu wa ta’ala akan menaunginya di hari kiamat (dari panas terik matahari) di bawah naungan ‘Arasy-Nya pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya.” (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi, ini adalah lafadz at-Tirmidzi; dinyatakan sahih oleh at-Tirmidzi, al-Albani, dan al-Wadi’i)[6]

Wallahu a’lam.


[1] Lihat Fathul Bari (4/Bab “al-Hawalah”, syarah hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu) dan Fathu Dzil Jalal wal Ikram (Kitab al-Buyu’, Bab “al-Hawalah waadh-Dhaman”, syarah hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu).

[2] Lihat Fathul Bari (5/Kitab al-Istiqradh, Bab “Li Shahib al-Haqqi Maqal”) dan al-Irwa’ (no. 1434).

[3] Lihat kitab asy-Syarh al-Mumti’ (9/273—274).

[4] Akan tetapi, dishalati oleh keumuman para sahabat radhiallahu ‘anhum.

[5] Lihat kitab ash-Shahihah (no. 86), al-Irwa’ (no. 1438), dan ash-Shahih al-Musnad (1/127).

[6] Lihat kitab Shahih al-Jami’ (no. 6107) dan al-Jami’ ash-Shahih (3/12).

 

Sumber: http://asysyariah.com/hukum-menunda-nunda-membayar-utang/

Apakah Mandi Dapat Menjadi Pengganti Wudhu?

wudhuSoal:
Wahai Syaikh yang mulia, jika seseorang mandi dengan niat sebagai pengganti wudhu, apakah mandinya ini mencukupinya untuk tidak berwudhu lagi?
Jawab:
Jika seseorang mandi dengan niat untuk wudhu dan dia tidak berwudhu setelahnya, maka mandinya tidak sah sebagai pengganti wudhu, kecuali mandi junub.
Jika mandinya karena junub, maka tidak mengapa mandinya tadi mengganti wudhu berdasarkan firman Allah (artinya):
” Jika kalian junub maka bersucilah!” (AlMaidah: 6).
Allah dalam ayat ini tidak menyebutkan wudhu.
Adapun jika mandinya dengan niat untuk menyegarkan badan, mandi Jum’at, atau mandi sunnah, maka tidak sah, karena mandinya bukan karena hadats.
KAIDAHnya:
Jika mandinya karena hadats/janabah; atau kalau wanita karena haid, maka mandinya sah sebagai pengganti wudhu. Jika tidak, maka tidak sah.

Sumber: Silsilah Liqa Babil Maftuh no.109
———————————
هل يجزئ غسل الجنابة عن ؟

السؤال:

فضيلة الشيخ إذا اغتسل الإنسان بنية الوضوء ولم يتوضأ هل يجزئه عن الوضوء؟

الجواب:

إذا اغتسل بنية الوضوء ولم يتوضأ فإنه لا يجزئه عن الوضوء إلا إذا كان عن جنابة. فإن كان عن جنابة فلا بأس الغسل يكفي عن الوضوء لقول الله تبارك وتعالى: ﴿ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُباً فَاطَّهَّرُوا﴾ [المائدة:6] ولم يذكر وضوءاً. أما إذا كان اغتسل للتبرد أو لغسل الجمعة أو لغسل مستحب فإنه لا يجزئه؛ لأن غسله ليس عن حدث. والقاعدة إذاً: إذا كان الغسل عن حدث -أي: عن جنابة- أو امرأة عن حيض أجزأ عنه الوضوء وإلا فإنه لا يجزئ.
المصدر: سلسلة لقاءات الباب المفتوح > لقاء الباب المفتوح [109]
الطهارة > الغسل
رابط المقطع الصوتي

HUKUM MENJAWAB SALAM DALAM SHALAT

salamHUKUM MENJAWAB SALAM DALAM SHALAT

Asy Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullah

Pertanyaan: Wahai Syaikh yang mulia, jika saya dalam shalat zhuhur lalu ada orang lain yang mengucapkan salam kepada saya, apakah saya bisa menjawabnya atau tidak? dan apa semestinya dilakukan oleh orang yang baru datang?

Jawaban: Adapun menjawab salam dengan perkataan maka tidak boleh, karena engkau jika menjawabnya dengan ucapan, shalatnya akan batal.
Dan adapun menjawab dengan isyarat, maka tidak mengapa. Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab salam (dalam shalat) dengan isyarat, beliau mengangkat tangannya. Sebagai isyarat, kalau saya telah mendengar (salam-mu) akan tetapi aku tidak boleh bercakap-cakap, karena aku sedang shalat.

Akan tetapi jika orang yan mengucapkan salam tadi masih ada sampai orang yang shalat selesai, ia bisa menjawabnya dengan perkataan. Jika ia sudah pergi, isyarat tadi sudah mencukupi.

Sumber silsilah al-Liqa asy-Syahri/ Pertemuan 71.

Sumber: http://forumsalafy.net/hukum-menjawab-salam-dalam-shalat/

YANG DIBACA UNTUK ORANG YANG BERSIN LEBIH DARI TIGA KALI

doa-bersinYANG DIBACA UNTUK ORANG YANG BERSIN LEBIH DARI TIGA KALI

Berkata Asy-Syaikh Al-Allamah Muhammad bin Hadi Al-Madkhali hafizhahullah

Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

Jika salah seorang dari kalian bersin, hendaknya ia mengucapkan:

اَلْحَمْدُ لِلَّه

“Segala puji milik Allah”

Dan hendaknya saudaranya mengatakan kepadanya:

يَرْحَمُكَ اَلله

“Semoga Allah merahmatimu.”

Maka jika ia (yang mendengar) mengatakan :

يَرْحَمُكَ اَلله

Ini adalah “Tasymiyah”, maka hendaknya ia mendoakan yang bersin dengan rahmat. Maka jika saudaranya mengatakan :

يَرْحَمُكَ اَلله

Hendaknya orang yang bersin membalas saudaranya ketika mendoakannya, dengan mengucapkan kalimat ini ;

((يَهْدِيكُمُ اَللَّهُ, وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ ))

“Semoga Allah memberikah hidayah padamu dan memperbaiki keadaanmu.”

Ia menjawabnya sebagai balasan atas apa yang ia doakan. Dan ini dilakukan jika orang itu bersin kali ke satu, kedua dan ketiga.

Maka jika bersinnya lebih dari tiga kali, berarti ia mengalami influenza, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata setelah bersinnya tiga kali mengatakan kepada yang bersin :

((شفاك الله))

” Semoga Allah menyembuhkanmu.”

***

Sumber: http://miraath.net/articles.php?cat=11&id=1989

Sumber: http://forumsalafy.net/yang-dibaca-untuk-orang-yang-bersin-lebih-dari-tiga-kali/

DIANTARA SUNNAH YANG TELAH DITINGGALKAN MANUSIA SETELAH MEMBACA AL-QURAN

sunnah-yang-ditinggalkan

DIANTARA SUNNAH YANG TELAH DITINGGALKAN MANUSIA SETELAH MEMBACA AL-QURAN

Janganlah engkau membaca:

صدق الله العظيم

akan tetapi bacalah:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشهد أن لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Sunnah yang kebanyakan manusia melalaikannya setelah membaca Al-Quran.

Disunnahkan setelah selesai membaca Al-Quran untuk membaca :

( سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشهد أن لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ ).

“Maha Suci Engkau Ya Allah dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau, aku memohon ampun kepada-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

Dalil akan hal itu adalah:

Dari Aisyah radhiallahu’anha berkata: Tidaklah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam duduk di satu majlispun dan TIDAKLAH MEMBACA QURAN dan mengerjakan shalat apapun kecuali beliau menutupnya dengan bacaan itu.”

Lalu Aisyah berkata : Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, saya melihat engkau. Tidaklah engkau duduk dalam suatu majlis, tidak pula engkau membaca Quran, tidak pula engkau mengerjakan shalat apapun kecuali engkau menutupnya dengan membaca bacaan tadi?”

Jawab beliau: “Ya, barangsiapa yang mengucapkan kebaikan ditutup untuknya penutup di atas kebaikan tadi. Dan barang siapa yang mengucapkan kejelekan (dalam majlisnya), maka bacaan doa tadi sebagai penghapus kejelekan (kaffarah) baginya.

( سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشهد أن لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ ).

“Maha Suci Engkau Ya Allah dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau, aku memohon ampun kepada-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

Imam Asn-Nasaai membuat Bab atas hadits ini dengan perkataan beliau: “Bab Apa yang dibaca setelah membaca Al-Quran.”

Sanadnya shahih: Dikeluarkan oleh An-Nasaai dalam As-Sunan Al-Kubra dan Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam An-Nukat 2/733. Sanadnya shahih.

  • Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata dalam Ash-Shahihah 7/495 : Ini adalah sanad yang shahih juga diatas syarat Muslim.
  • Syaikh Muqbil Al-Wadii berkata dalam Al-Jami’ As-Shahih mimma Laisa fi Ash-Shahihain 2/128: Ini adalah sanad yang shahih.

Manusia sekarang meninggalkan sunnah yang satu ini, mereka malah membaca doa setelah membaca Al-Quran: Shadaqallahul Azhiim.

—————————————————————————————-

Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah Tentang Shadaqallahul Azhiim :

Menjadikan kalimat “Shadaqallahul Azhiim” dan yang semisalnya sebagai penutup untuk membaca Al-Quran itu bid’ah.

Karena tidak pasti dari Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam kalau beliau membacanya setiap selesai membaca Al-Quran.

Kalau seandainya hal itu disyariatkan untuk menutup bacaan Al-Quran niscaya beliau membaca setelahnya.

Dan telah pasti dari beliau bahwasanya beliau bersabda:

“Barang siapa yang mengada-adakan dalam urusan kami ini perkara yang bukan darinya maka hal itu tertolak.” (HR. Bukhary dan Muslim)..

Hanya Allahlah tempat memohon Taufiq.

Dan shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi kita Muhammad, Keluarga beliau dan sahabat beliau.

***

Komite Tetap Untuk Pembahasan Ilmiyah Dan Fatwa.
Dipimpin oleh Imam AbdulAzuz Bin Baaz rahimahullah
Anggota : Al-Allamah Abdullah bin Ghudayyan rahimahullah.
Anggota Al-Allamah AbdurRazzaq Afifi rahimahullah.

Sumber Fatwa no 7306.

Sumber : http://forumsalafy.net/diantara-sunnah-yang-telah-ditinggalkan-manusia-setelah-membaca-al-quran/

MENYANYI DENGAN BACAAN AL-QUR’AN MERUPAKAN KEKAFIRAN

petir-1MENYANYI DENGAN BACAAN AL-QUR’AN MERUPAKAN KEKAFIRAN

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hady al-Madkhaly hafizhahullah

Penanya: Kami mendengar beberapa hari yang lalu bahwa ada orang yang bernyanyi dengan ayat-ayat dari Kitab Allah Azza wa Jalla dengan sengaja, maka apa hukum dari hal tersebut? Baarakallahu fiikum.

Asy-Syaikh: Apakah seperti yang dilakukan oleh Ummu Kultsum dan biduanita semisalnya? Bagaimana hal ini? Al-Qur’an digunakan untuk bernyanyi. Dengan cara menurut Bahasa Arab dan yang wajar?

Penanya: Yang melakukannya menyanyi dengan surat al-Fatihah sambil menggunakan gitar.

Asy-Syaikh: Dia kafir. Dia menjadikan ayat-ayat Allah Azza wa Jalla sebagai olok-olokan. Ini merupakan kekafiran, penghinaan dan perendahan terhadap Al-Qur’an. Dan siapa saja yang menhinakan Al-Qur’an maka dia kafir dan murtad.

ﺃَﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺁﻳَﺎﺗِﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟِﻪِ ﻛُﻨﺘُﻢْ ﺗَﺴْﺘَﻬْﺰِﺋُﻮﻥَ.

Apakah kalian menjadikan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya sebagai olok-olokan.” (QS. At-Taubah: 65)

Mereka hanya mengatakan, “Kita tidak melihat orang yang paling banyak makan dan paling pendusta ucapannya dibandingkan para ahli Al-Qur’an Kita.”

Mereka mengolok-olok kaum Muslimin sehingga Allah Tabaraka wa Ta’ala mengkafirkan mereka karena mengolok-olok-Nya dan agama-Nya. Maka bagaimana jika seseorang mengolok-olok Al-Qur’an secara langsung dan merendahkannya.

 

Sumber: http://forumsalafy.net/menyanyi-dengan-bacaan-al-quran-merupakan-kekafiran/

JIKA KITA SEDANG SHALAT SUNNAH TIBA-TIBA IQOMAT DI KUMANDANGKAN

masjidil-haramJIKA KITA SEDANG SHALAT SUNNAH TIBA-TIBA IQAMAT DIKUMANDANGKAN

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah

Pertanyaan: Kami mengharapkan penjelasan, bagaimana pendapat ulama tentang menyempurnakan shalat sunnah atau tidaknya, tatkala iqamat dikumandangkan?

Jawaban: Yang saya ketahui ada tiga pendapat

Pendapat pertama: Bahwasanya semata-mata shalat diiqamatkan, maka batallah shalat sunnah. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:

« إذا أقيمت الصلاة فلا صلاة إلا المكتوبة ».

“Jika shalat telah diiqamatkan, maka tidak ada shalat kecuali shalat wajib.”

Pendapat kedua: Kebalikannya, bahwasanya tidak batal shalat sunnahnya dan ia bisa menyempurnakannya selama tidak khawatir imam salam dalam keadaan ia belum menyempurnakannya, maka ketika itu ia memutus shalat sunnahnya.

Pendapat ketiga: Pendapat yang pertengahan, yakni

• Jika shalat sudah diiqamatkan, dalam keadaan seorang berada dalam rakaat kedua dalam shalat sunnah, hendaknya ia menyempurnakannya secara ringkas. Dan jika ia berada dalam rakaat pertama, hendaknya ia memutuskan shalat sunnahnya. Dalil dari hal itu adalah:

« من أدرك ركعة من الصلاة فقد أدرك الصلاة »

“Barang siapa yang mendapatkan satu rakaat dari shalat maka berarti ia telah mendapatkan shalat tersebut.”

Sisi pendalilannya adalah orang ini yg berdiri pada rakaat yang kedua, ia telah mendapatkan satu rakaat dari shalat, dalam kondisi yang ia dimaafkan padanya, karena itu dilakukan sebelum iqamat. Maka ia telah mendapatkannya sehingga bisa menyempurnakannya dengan ringkas.

Adapun jika ia masih pada rakaat pertama hendaknya ia memutuskannya, berdasarkan pemahaman sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam :

“Barang siapa yang mendapatkan satu rakaat dari shalat maka berarti ia mendapatkan shalat tersebut.”

Pendapat ini adalah pendapat pertengahan dan inilah YANG BENAR. Bahwasanya jika seorang masih pada rakaat pertama walaupun dalam sujud kedua dari rakaat pertana hendaknya ia memutuskannya.

***

[Fatawa Nur ala Ad-Darbi 733]

Sumber: Channel Fatawa Ahlil ilmi Ats-Tsiqaat

Sumber: http://forumsalafy.net/jika-kita-sedang-shalat-sunnah-tiba-tiba-iqomat-di-kumandangkan/

Imam Berdoa di Tengah Khutbah atau Bershalawat Kepada Nabi, Apakah Kita Ikut Mengaminkan dan Bershalawat

masjid-nabawiJIKA IMAM BERDOA DI TENGAH KHUTBAH ATAU BERSHALAWAT KEPADA NABI APAKAH KITA IKUT MENGAMINKAN DAN BERSHALAWAT?

Asy-Syaikh Al-Allamah Ubaid bin Abdillah Al-Jabiri hafizhahullah

Pertanyaan: Penanya mengatakan: Jika Imam berdoa ditengah khutbah atau bershalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, apakah kita ikut mengaminkan dan bershalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan suara keras ataukah pelan?

Jawaban: Dengan suara yang tidak mengganggu orang-orang yang hadir. Maka kita katakan : Shallallahu alaihi wasallam, dan kita katakan di dalam doa: Amiin, tidak mengapa hal itu in sya Allah.

Akan tetapi tidak mengeraskan suaranya, dengan suara yang bisa mengganggu para hadirin dan bisa memalingkan mereka dari mendengarkan khutbah.

***

Sumber: http://www.miraath.net/quesdownload.php?id=1254

Sumber: http://forumsalafy.net/jika-imam-berdoa-di-tengah-khutbah-atau-bershalawat-kepada-nabi-apakah-kita-ikut-mengaminkan-dan-bershalawat/

Apakah Manusia Berbuat karena Dipaksa ataukah Pilihan Sendiri

APAKAH MANUSIA BERBUAT KARENA DIPAKSA ATAUKAH PILIHAN SENDIRI?

 dengan-takdir-allah

Soal:

Semoga Allah membalasmu dengan yang lebih baik. Penanya adalah Muhammad dari Makkah al-Mukarramah. Dia bertanya, “Apakah manusia berbuat karena musayyar (dipaksa) ataukah mukhayyar (atas pilihannya sendiri?)”

 

Jawaban:

Aku katakan kepadanya, “Ketika engkau menulis pertanyaan pada kertas ini, apakah engkau melakukannya atas pilihanmu ataukah ada seseorang yang memaksamu?

Saya memastikan bahwa engkau akan menjawab, , “Aku melakukannya atas kehendakku.”

Tetapi ketahuilah bahwa Allah-lah yang telah menciptakan pada manusia adanya kehendak.

Allah menyiapkan dua perkara yang dengan itu terjadi perbuatan mereka.

  1. Kehendak, yang dengannya seseorang berkehendak.
  2. Kemampuan, yang dengannya seseorang memiliki kekuatan.

Jika dia melakukan sesuatu maka dia berbuat dengan kehendak dan kemampuannya.

Yang telah menciptakan kehendak dan kemampuan pada seseorang adalah Allah ‘azza wajalla.

Adapun perkatan “musayyar” atau “mukhayyar” adalah istilah baru, yang aku tidak mengetahui ungkapan ini ada di kalangan pendahulu umat ini.

Atas dasar itu aku katakan bahwa manusia diberi pulihan untuk berbuat dengan kehendaknya. Sedangkan pilihan dan kehendak seseorang adalah ciptaan Allah ‘azza wajalla.

 

Sumber: Silsilah Fatawa Nur ‘ala Darb, Syaikh Ibnu Utsaimin, kaset no. 362.

 

هل الإنسان مخير أم مسير؟

السؤال:

  جزاك الله خيراً فضيلة الشيخ. السائل محمد من مكة المكرمة يقول: هل الإنسان مسير أم مخير؟

الجواب:

الشيخ: الجواب أن أقول له: اسأل نفسك: هل أنت حينما كتبت هذه الورقة وفيها السؤال هل أنت فعلت ذلك باختيارك أو أن أحداً أجبرك؟ إنني أجزم جزماً أنه سيقول: كتبتها باختياري. ولكن ليعلم أن الله سبحانه وتعالى هو الذي خلق في الإنسان الإرادة، الله تعالى خلق الإنسان وأودع فيه أمرين كلاهما سبب الوجود، الأمر الأول: الإرادة، فالله تعالى جعل الإنسان مريدا.ً والأمر الثاني: القدرة، جعله الله تعالى قادراً. فإذا فعل شيئاً فإنما يفعله بإرادته وقدرته، والذي خلق فيه الإرادة هو الله عز وجل، وكذلك الذي خلق فيه القدرة هو الله عز وجل. وهذه الكلمة: مخير ومسير هي كلمة حادثة لا أعلمها في كلام السابقين، وعلى هذا فنقول: إن الإنسان مخير يفعل الشيء باختياره وإرادته، ولكن هذا الاختيار والإرادة كلاهما مخلوقان لله عز وجل. نعم.

المصدر: سلسلة فتاوى نور على الدرب > الشريط رقم [362]

العقيدة > الإيمان بالقدر

 رابط المقطع الصوتي

 

Hukum Meninggikan Kuburan dan Menghiasinya

hukum-meninggikan-kubur

 

Syaikh Al-Allamah Shalih Al-Athram rahimahullah

Pertanyaan: Apa hukum meninggikan kuburan, menghiasinya dan apa pengaruh hal itu?

 

Jawaban:

Hukum meninggikan kuburan dan menghiasinya adalah:

Tidak boleh meninggikanya tidak pula menghiasinya, karena itu tergolong perbuatan ghuluw (berlebih-lebihan) yang bisa mengantarkan kepada keyakinan mengagungkannya dan meyakininya.

Dalam sebuah hadits :

ﻧﻬﻰ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ، – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ -، ﺃﻥ ﺗﺠﺼﺺ اﻟﻘﺒﻮﺭ ﻭﺃﻥ ﻳﺠﻠﺲ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺃﻭ ﻳﺒﻨﻰ ﻋﻠﻴﻬﺎ

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang meng-gipsum kuburan, duduk di atasnya atau membuat bangunan diatasnya.”

 

Hadits tersebut mengandung larangan berlaku ghuluw (berlebih-lebihan) dengan kuburan dan larangan menghinakannya.

Dan dari Ummu Salamah radhiallahu’anha bahwasanya beliau menyebutkan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam gereja yang ia lihat di negeri Habasyah dan gambar-gambar yang ada di dalamnya. Maka beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda :

«ﺃﻭﻟﺌﻚ ﺇﺫا ﻣﺎﺕ ﻓﻴﻬﻢ اﻟﺮﺟﻞ اﻟﺼﺎﻟﺢ ﺃﻭ اﻟﻌﺒﺪ اﻟﺼﺎﻟﺢ ﺑﻨﻮا ﻋﻠﻰ ﻗﺒﺮﻩ ﻣﺴﺠﺪا ﻭﺻﻮﺭﻭا ﻓﻴﻪ ﺗﻠﻚ اﻟﺼﻮﺭ ﺃﻭﻟﺌﻚ ﺷﺮاﺭ اﻟﺨﻠﻖ ﻋﻨﺪ اﻟﻠﻪ»

Mereka itu jika ada seorang yang shalih atau hamba shalih yang mati di tengah mereka, mereka membangun masjid di atas kuburannya, dan mereka membuat gambar di dalamnya dengan gambar-gambar tadi. Mereka itulah sejelek-jelek makhluk di sisi Allah.”

 

Dan dari Ali radhiallahu ‘anhu, beliau berkata kepada Abul Hayyaj Al-Asdy rahimahullah:

“ﺃﻻ ﺃﺑﻌﺜﻚ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺑﻌﺜﻨﻲ ﻋﻠﻴﻪ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ؟ – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ -، ﺃﻥ ﻻ ﺗﺪﻉ ﺻﻮﺭﺓ ﺇﻻ ﻃﻤﺴﺘﻬﺎ ﻭﻻ ﻗﺒﺮا ﻣﺸﺮﻓﺎ ﺇﻻ ﺳﻮﻳﺘﻪ”.

Tidakkah aku mengutusmu dengan apa yang aku diutus oleh Rasulullah dengannya; Janganlah engkau biarkan ada gambar kecuali engkau menghapusnya, dan kuburan yang ditinggikan kecuali engkau meratakannya.”

Maka nash-nash ini menunjukkan akan larangan membuat bangunan di atas kuburan, sebagaimana ditunjukan oleh hadits yang lain akan larangan memasang lentera pada kuburan. Beliau bersabda:

«ﻟﻌﻦ اﻟﻠﻪ ﺯاﺋﺮاﺕ اﻟﻘﺒﻮﺭ ﻭاﻟﻤﺘﺨﺬﻳﻦ ﻋﻠﻴﻬﺎ اﻟﻤﺴﺎﺟﺪ ﻭاﻟﺴﺮﺝ»

Allah melaknat wanita-wanita yang berziyarah kubur dan menjadikannya di atasnya masjid-masjid dan lentera-lentera.”

 

  • Dan diantara hiasan-hiasan yang dilarang adalah membuat tulisan di atas kuburan.
  • Demikian juga termasuk mengagungkannya yang dilarang syariat adalah meletakkan karangan-karangan bunga dan bunga-bunga di atasnya, atau
  • Mempersembahkan sesuatu kepadanya berupa harta/uang atau menyembelih binatang di sisinya.

Semua itu dan yang semisalnya termasuk perbuatan ghuluw terhadap kuburan yang dilarang secara syariat yang mengantarkan kepada KESYIRIKAN.

***

Sumber:  Al-As’ilah wal-ajwibah fil aqidah karya Syaikh Al-Allamah Shalih Al-Athram rahimahullah. 1/52.

Channel  Telegram Fatawa Ahlil Ilmi Ats-Tsiqaat.

________________________________________

  ﻣﺎ ﺣﻜﻢ ﺗﺸﻴﻴﺪ اﻟﻘﺒﻮﺭ ﻭﺯﺧﺮﻓﺘﻬﺎ ﻭﻣﺎ ﺁﺛﺎﺭ ﺫﻟﻚ؟

 اﻟﺠﻮاﺏ: ﺣﻜﻢ ﺗﺸﻴﻴﺪ اﻟﻘﺒﻮﺭ ﻭﺯﺧﺮﻓﺘﻬﺎ: ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺗﺸﻴﻴﺪﻫﺎ ﻭﻻ ﺯﺧﺮﻓﺘﻬﺎ ﻷﻥ ﻫﺬا ﻣﻦ ﺑﺎﺏ اﻟﻐﻠﻮ اﻟﻤﺆﺩﻱ ﺇﻟﻰ اﻋﺘﻘﺎﺩ ﺗﻌﻈﻴﻤﻬﺎ ﻭاﻻﻋﺘﻘﺎﺩ ﺑﻬﺎ ﻭﻓﻲ اﻟﺤﺪﻳﺚ ﻧﻬﻰ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ، – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ -، ﺃﻥ ﺗﺠﺼﺺ اﻟﻘﺒﻮﺭ ﻭﺃﻥ ﻳﺠﻠﺲ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺃﻭ ﻳﺒﻨﻰ ﻋﻠﻴﻬﺎ

ﻓﻘﺪ ﺗﻀﻤﻦ اﻟﺤﺪﻳﺚ اﻟﻨﻬﻲ ﻋﻦ اﻟﻐﻠﻮ ﺑﻬﺎ ﻭﻋﻦ ﺇﻫﺎﻧﺘﻬﺎ ﻭﻋﻦ ﺃﻡ ﺳﻠﻤﺔ ـ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﺎ ـ ﺃﻧﻬﺎ ﺫﻛﺮﺕ ﻟﺮﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ، – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ -، ﻛﻨﻴﺴﺔ ﺭﺃﺗﻬﺎ ﺑﺄﺭﺽ اﻟﺤﺒﺸﺔ ﻭﻣﺎ ﻓﻴﻬﺎ ﻣﻦ اﻟﺼﻮﺭ ﻓﻘﺎﻝ، – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ -: «ﺃﻭﻟﺌﻚ ﺇﺫا ﻣﺎﺕ ﻓﻴﻬﻢ اﻟﺮﺟﻞ اﻟﺼﺎﻟﺢ ﺃﻭ اﻟﻌﺒﺪ اﻟﺼﺎﻟﺢ ﺑﻨﻮا ﻋﻠﻰ ﻗﺒﺮﻩ ﻣﺴﺠﺪا ﻭﺻﻮﺭﻭا ﻓﻴﻪ ﺗﻠﻚ اﻟﺼﻮﺭ ﺃﻭﻟﺌﻚ ﺷﺮاﺭ اﻟﺨﻠﻖ ﻋﻨﺪ اﻟﻠﻪ»

ﻭﻋﻦ ﻋﻠﻲ ـ – ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ – ـ ﻗﺎﻝ ﻷﺑﻲ اﻟﻬﻴﺎﺝ اﻷﺳﺪﻱ: “ﺃﻻ ﺃﺑﻌﺜﻚ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺑﻌﺜﻨﻲ ﻋﻠﻴﻪ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ؟ – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ -، ﺃﻥ ﻻ ﺗﺪﻉ ﺻﻮﺭﺓ ﺇﻻ ﻃﻤﺴﺘﻬﺎ ﻭﻻ ﻗﺒﺮا ﻣﺸﺮﻓﺎ ﺇﻻ ﺳﻮﻳﺘﻪ”.

ﻓﺪﻟﺖ اﻟﻨﺼﻮﺹ ﻫﺬﻩ ﻋﻠﻰ ﻣﻨﻊ اﻟﺒﻨﺎء ﻋﻠﻰ اﻟﻘﺒﻮﺭ ﻛﻤﺎ ﺩﻝ اﻟﺤﺪﻳﺚ اﻵﺧﺮ ﻋﻠﻰ ﻣﻨﻊ ﺇﻧﺎﺭﺗﻬﺎ ﻗﺎﻝ، – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ -: «ﻟﻌﻦ اﻟﻠﻪ ﺯاﺋﺮاﺕ اﻟﻘﺒﻮﺭ ﻭاﻟﻤﺘﺨﺬﻳﻦ ﻋﻠﻴﻬﺎ اﻟﻤﺴﺎﺟﺪ ﻭاﻟﺴﺮﺝ»

.

ﻭﻣﻦ اﻟﺰﺧﺮﻓﺔ اﻟﻤﻤﻨﻮﻋﺔ اﻟﻜﺘﺎﺑﺔ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻭﻛﺬا ﻣﻦ ﺗﻌﻈﻴﻤﻬﺎ اﻟﻤﻤﻨﻮﻉ ﺷﺮﻋﺎ ﻭﺿﻊ ﺃﻛﺎﻟﻴﻞ اﻟﺰﻫﻮﺭ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺃﻭ ﺗﻘﺪﻳﻢ ﺷﻲء ﻟﻬﺎ ﻣﻦ اﻷﻣﻮاﻝ ﺃﻭ ﺳﻔﻚ اﻟﺪﻣﺎء ﻋﻨﺪﻫﺎ ﻛﻞ ﺫﻟﻚ ﻭﺃﺷﺒﺎﻫﻪ ﻣﻦ اﻟﻐﻠﻮ ﻓﻲ اﻟﻘﺒﻮﺭ اﻟﻤﻤﻨﻮﻉ ﺷﺮﻋﺎ اﻟﻤﺆﺩﻱ ﺇﻟﻰ اﻟﺸﺮﻙ.

  المصدر : الأسئلة والأجوبة في العقيدة للشيخ العلامة صالح الاطرم رحمه الله ( 1 / 52 )

 

Sumber: http://forumsalafy.net/hukum-meninggikan-kuburan-dan-menghiasinya-2/

 

Hukum Membaca Surat al-Kahfi pada Hari Jumat

al-kahfiHUKUM MEMBACA SURAT AL-KAHFI PADA HARI JUM’AT

Asy-Syaikh Ibnul Utsaimin rahimahullah ditanya

Pertanyaan: Apa hukum membaca surat Al-Kahfi pada hari jumat? Apakah disana ada perbedaan antara orang yang membacanya dari Mushaf atau dari hafalannya?

Maka beliau menjawab dengan perkataannya: Membaca surat Al-Kahfi pada hari jumat itu adalah amalan yang dianjurkan, dan padanya ada keutamaan. Tidak ada perbedaan dalam hal itu, antara orang yang membacanya melalui mushaf ataupun dari hafalannya.

Dan batasan hari secara syariat itu dimulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Oleh karena itu jika seorang itu membacanya setelah shalat jumat, berarti dia telah mendapatkan pahala. Berbeda halnya mandi pada hari jumat, maka sesungguhnya mandi itu mesti sebelum shalat jumat, karena mandi itu untuk shalat jumat, maka ia mesti didahulukan atasnya. Dan juga berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:

«إذا جاء أحدكم الجمعة فليغتسل»

“Jika salah seorang dari kalian mendatangi jumat, maka hendaknya dia mandi”

***

Majmu Fatawa Ibnu Utsaimin juz 16/142-143

Sumber: http://www.albaidha.net/vb4/showthread.php?t=56433

Sumber: http://forumsalafy.net/hukum-membaca-surat-al-kahfi-pada-hari-jumat/

Keutamaan Banyak Berpuasa Sunnah di Bulan Muharam

bulan-muharromKEUTAMAAN BANYAK BERPUASA SUNNAH DI BULAN MUHARRAM

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Puasa yang paling afdhal setelah Ramdhan adalah Puasa bulan Allah Al-Muharram.” (HR. Muslin 1982)

Imam Nawawi berkata : “Sabda beliau “Bulan Allah” disandarkan kata bulan kepada lafazh Allah adalah penyandaran pengagungan.

Al-Qaari berkata: “Yang nampak adalah (Puasa) seluruh bulan Muharram.”

Akan tetapi telah tetap kalau Nabi shallallahu alaihi wasallam tidaklah berpuasa satu bulan penuh selain Ramadhan. Maka hadits ini dibawa pada makna anjuran memperbanyak puasa di bulan Muharram, bukan berpuasa seluruhnya.

Dan telah tetap Nabi shallallahu alaihi wasallam memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, dan sepertinya belum diwahyukan kepada beliau keutamaan bulan Muharram kecuali di akhir hayat beliau, sehingga belum memungkinkan bagi beliau untuk berpuasa padanya. (Syarh shahih Muslim karya An-Nawawi.)

Allah itu memilih apa saja yang Dia kehendaki dari waktu dan tempat. Izz bin Abdissalam rahimahullah berkata: Dan diutamakannya tempat dan waktu itu ada dua permisalan :

Yang pertama: Secara duniawi
Yang kedua: Diutamakan secara agama, kembalinya kepada Kalau Allah akan mengaruniai hamba-Nya di waktu tersebut pahala bagi orang yang beramal. Seperti diutamakannya puasa bulan Ramadhan di atas seluruh bulan.

Demikian juga hari Asyuura, maka keutamaannya kembali kepada kemurahan Allah dan KebaikanNya kepada hamba-hambaNya di waktu itu.
Qawaaid Al-Ahkam 1/38.

Sumber || Channel Durus Salafiyyah

✍ فضل الإكثار من صيام النافلة في شهر محرّم:
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «أفضل الصّيام بعد رمضان شهرُ الله المحرم» (رواه مسلم 1982).

قوله: “شهر الله” إضافة الشّهر إلى الله إضافة تعظيم، قال القاري: الظاهر أن المراد جميع شهر المحرّم.
ولكن قد ثبت أن النبي صلى الله عليه وسلم لم يصم شهراً كاملاً قطّ غير رمضان، فيحمل هذا الحديث على الترغيب في الإكثار من الصّيام في شهر محرم لا صومه كله.
وقد ثبت إكثار النبي صلى الله عليه وسلم من الصوم في شعبان، ولعلّ لم يوح إليه بفضل المحرّم إلا في آخر الحياة قبل التمكّن من صومه. (شرح النووي على صحيح مسلم).

الله يصطفي ما يشاء من الزمان والمكان:
قال العِزُّ بن عبدِ السَّلام رحمه الله: “وتفضيل الأماكن والأزمان ضربان: أحدهما: دُنْيويٌّ.. والضرب الثاني: تفضيل ديني راجعٌ إلى أن الله يجود على عباده فيها بتفضيل أجر العاملين، كتفضيل صوم رمضان على صوم سائر الشهور، وكذلك يوم عاشوراء.. ففضلها راجعٌ إلى جود الله وإحسانه إلى عباده فيها” (قواعد الأحكام 1/38).

 

Sumber : http://forumsalafy.net/keutamaan-banyak-berpuasa-sunnah-di-bulan-muharam/