MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA PADA ORANG KAFIR BISA MURTAD TANPA SADAR

MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA KEPADA ORANG KAFIR BISA MURTAD TANPA SADAR

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata:

ﺃﻣﺎ ﺍﻟﺘﻬﻨﺌﺔ ﺑﺎﻷﻋﻴﺎﺩ ﻓﻬﺬﻩ ﺣﺮﺍﻡ ﺑﻼ ﺷﻚ، ﻭﺭﺑﻤﺎ ﻻ ﻳﺴﻠﻢ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻜﻔﺮ؛ ﻷﻥ ﺗﻬﻨﺌﺘﻬﻢ ﺑﺄﻋﻴﺎﺩ ﺍﻟﻜﻔﺮ ﺭﺿﺎ ﺑﻬﺎ، ﻭﺍﻟﺮﺿﺎ ﺑﺎﻟﻜﻔﺮ ﻛﻔﺮ، ﻭﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﺗﻬﻨﺌﺘﻬﻢ ﺑﻤﺎ ﻳﺴﻤﻰ ﺑﻌﻴﺪ ﺍﻟﻜﺮﺳﻤﺲ، ﺃﻭ ﻋﻴﺪ ﺍﻟﻔَﺼْﺢ ﺃﻭ ﻣﺎ ﺃﺷﺒﻪ ﺫﻟﻚ، ﻓﻬﺬﺍ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺇﻃﻼﻗﺎً، ﺣﺘﻰ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻳﻬﻨﺌﻮﻧﺎ ﺑﺄﻋﻴﺎﺩﻧﺎ ﻓﺈﻧﻨﺎ ﻻ ﻧﻬﻨﺌﻬﻢ ﺑﺄﻋﻴﺎﺩﻫﻢ، ﻭﺍﻟﻔﺮﻕ ﺃﻥّ ﺗﻬﻨﺌﺘﻬﻢ ﺇﻳﺎﻧﺎ ﺑﺄﻋﻴﺎﺩﻧﺎ ﺗﻬﻨﺌﺔ ﺑﺤﻖ، ﻭﺃﻥ ﺗﻬﻨﺌﺘﻨﺎ ﺇﻳﺎﻫﻢ ﺑﺄﻋﻴﺎﺩﻫﻢ ﺗﻬﻨﺌﺔ ﺑﺒﺎﻃﻞ، ﻓﻼ ﻧﻘﻮﻝ: ﺇﻧﻨﺎ ﻧﻌﺎﻣﻠﻬﻢ ﺑﺎﻟﻤﺜﻞ ﺇﺫﺍ ﻫﻨﺆﻭﻧﺎ ﺑﺄﻋﻴﺎﺩﻧﺎ ﻓﺈﻧﻨﺎ ﻧﻬﻨﺌﻬﻢ ﺑﺄﻋﻴﺎﺩﻫﻢ ﻟﻠﻔﺮﻕ ﺍﻟﺬﻱ سمعتم.

“Adapun mengucapkan selamat hari raya (agama lain), maka ini haram tanpa diragukan lagi, dan bisa jadi seseorang tidak selamat dari kekafiran, karena mengucapkan selamat hari raya kepada orang-orang kafir merupakan bentuk keridhaan terhadap hari raya mereka, padahal ridha terhadap kekafiran merupakan kekafiran, termasuk mengucapkan selamat hari natal atau hari paskah atau yang semisalnya. Jadi semacam ini tidak boleh sama sekali.

Walaupun mereka juga mengucapkan selamat terhadap hari raya kita, maka kita tetap tidak boleh untuk mengucapkan selamat terhadap hari raya mereka.

Perbedaannya karena ucapan selamat mereka terhadap hari raya kita adalah ucapan selamat terhadap kebenaran, sedangkan ucapan selamat kita terhadap hari raya mereka adalah ucapan selamat terhadap kebathilan.

Jadi kita tidak mengatakan bahwa kita membalas perbuatan mereka dengan cara yang sama, yaitu jika mereka mengucapkan selamat terhadap hari raya kita maka kita membalas dengan mengucapkan selamat terhadap hari raya mereka, karena adanya perbedaan yang telah kalian dengar.”

 

Sumber: http://forumsalafy.net/mengucapkan-selamat-hari-raya-pada-orang-kafir-bisa-murtad-tanpa-sadar/

 

#dakwahIslammagelang #harirayaorangkafir #infoIslammagelang #kajianIslammagelang #orangkafir #RadioIslamMagelang #selamathariraya #ucapanselamathariraya #natal #tahunbaru #mengucapkanselamatnatal

Menasehati Pemerintah

menasehati-pemerintahMenasehati Pemerintah

Hal yang perlu untuk kita sadari dan patut untuk kita fahamkan kepada seseorang adalah, bahwa pemerintah/ pemimpin/ Waliyul Amri adalah manusia biasa yang kadang benar dan kadang salah. Tidak terus-terusan salah dan tidak juga terus-terusan benar.

Waliyul Amri/ Pemerintah/ Pemimpin masuk ke dalam kerangka sabda Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam

 …كُلُّ بَنِيْ آدَمَ خَطَاءٌ

Setiap Bani Adam itu pasti pernah melakukan kesalahan …” (HR At Tirmidzi, no.2499 dan dihasankan  Al Albani dalam Shahih Al Jami’ Ash Shaghir, no. 4391)

Agar tidak ada rasa emosi/ marah/ dendam dalam hati kita ketika melihat kesalahan yang dilakukan oleh pemerintah maka upaya yang kita tempuh dalam menyikapinya adalah memberikan nasehat.

Berbicara soal kesalahan pemerintah, maka sebenarnya ini bukanlah hal yang baru, Di masa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam sudah ada tipe pemimpin seperti ini, melakukan kesalahan/ melakukan kedzaliman, sampai-sampai sebagian Sahabat datang kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengadukan perihal keadaan pemimpin yang seperti ini kepada Nya. Melapor beberapa Sahabat kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam tentang keburukan-keburukan yang dilakukan oleh pemerintah.

Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam memberikan arahan yang jelas ketika para sahabat tidak terima melihat kenyataan yang seperti itu, sampai-sampai mereka berkeinginkan untuk melenyapkan pemimpin yang seperti itu keadaannya.

Kata Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam kepada mereka:

لاَ مَا صَلَّوْا

 “Jangan selama mereka masih mendirikan Shalat” (HR. Muslim no. 1854).

Siapa yang tidak emosi/ tidak marah ketika melihat penguasa melakukan kesalahan ?

Semua merasa marah, seluruh rakyat tidak terima pada prinsipnya

Karena semua berkeinginan pemimpinnya menjadi pemimpin yang baik/ adil/ pemimpin yang ideal

Tetapi kebanyakannya tidak sadar bahwa pemimpin/ penguasa adalah manusia biasa yang terjatuh ke dalam kesalahan

Maka Nabi Shalallahu ‘alaihi wa alaihi wa sallam memberikan arahan kepada kita. Arahan yang benar, arahan yang lurus dalam menyikapi kesalahan pemerintah, diantaranya (red):

1. Menasehatinya dengan cara yang baik

 Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan dalam sabdanya:

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِيْ سُلْطَانٍ فَلاَ يُبْدِهِ عَلاِنِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِيْ عَلَيْهِ

“Barang siapa diantara kalian yang ingin menasehati penguasanya, hendaknya dia raih tangannya kemudian berbicara kepadanya secara empat mata, tidak dilakukan nasehat itu di depan khalayak umum. Jika pemerintah itu menerima nasehat nya ini yang diharapkan dan jika tidak maka sungguh dia telah melakukan kewajibannya)”(Sahih, HR. Ahmad, Ibnu Abu ‘Ashim dan yang lain, disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Zhilalul Jannah, no. 1096—1098, lihat pula takhrijnya dalam kitab Mu’amalatul Hukkam, hlm. 143—151)

ini arahan Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam

Arahan Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam ini diamalkan oleh para Sahabat diantaranya sahabat Usamah bin Zaid Radhiyallahu ‘anhu, ketika orang-orang banyak membicarakan kepemimpinan sahabat Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu pada saat itu, ada seseorang yang berkata kepada Usamah Radhiyallahu ‘anhu, “Ya Usamah tidakkah engkau menasehati Utsman, tidakkah engkau menegur utsman”, apa jawaban Usamah bin Zaid Radhiyallahu ‘anhu:“Apakah karena kalian tidak mendengar pembicaraanku kepadanya kemudian kalian anggap aku tidak menasehatinya, aku tidak berbicara kepadanya ? Sungguh aku telah melakukan hal ini antara diriku dengannya empat mata”

Lalu kata sahabat usamah bin Zaid Radhiyallahu ‘anhu  : “Aku tidak mau menjadi orang yang pertama kali membuka pintu fitnah”

Kata Imam An Nawawi Rahimahullah, pintu fitnah yang dimaksud oleh sahabat Usamah bin Zaid Radhiyallahu ‘anhu  ini adalah membicarakan kesalahan-kesalahan/ kekeliruan-kekeliruan waliyul Amri di depan khalayak umum.

Dan fitnah ini sungguh telah terjadi di zaman kita, mengumbar kesalahan, menampakan emosi kepada pemerintah, ini adalah fitnah yang dulu shabat Usamah bin Zaid Radhiyallahu ‘anhumerasa tidak ingin menjadi orang yang pertama membukanya tetapi di zaman sekarang fitnah itu terbuka/ nampak, banyak orang yang sikapnya brutal, emosinya meluap-luap ketika melihat kesalahan waliyul amri.

Dan ini menjadi tugas kita sekali lagi untuk memahamkan kepada ummat/ masyarakat  bagai mana sesungguhnya islam menghadapi kesalahan yang dilakukan oleh penguasa

2. Termasuk nasehat kepada Waliyul Amri adalah mendo’akannya

Seperti yang disinggung oleh Syaikh bin Bazz Rahimahullah:

 “Mendo’akan waliyul Amri adalah termasuk nasehat” (Al-ma’lum:20)

Yang perkara ini sudah banyak ditinggalkan, semua terbawa emosi, terbawa amarah ketika melihat kesalahan penguasa lupa akan kewajibannya, lupa akan tugasnya melupakan mendo’akan Waliyul Amri, padahal Para Salaf seperti Fudhail bin Iyadh, Imam Ahmad dan yang lainnya Rahimahumullah selalu mengatakan: “Seandainya aku memiliki do’a yang diijabah, maka akan aku peruntukan do’a ini bagi kebaikan untuk Waliyul Amr/ Pemerintah/ Pemimpin”.

3. Menampakkan sikap Sabar dalam menghadapi kesalahan/ kedzaliman yang dilakukannya

Dari Sahabat Ibnu ‘Abbas, Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallambersabda:

“Barang siapa yang melihat Penguasanya sesuatu yang tidak disukainya maka hendaknya dia bersabar” (HR. Muslim).

Ini arahan dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bukan soal emosi, bukan soal dendam, bukan soal kedengkian. Maka jika kita mau mendengar arahan dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam satu diantaranya adalah bersabar sampai Alloh Subhanahu wa ta’alamemberikan jalan keluar yang baik kepada kita.

Karena mestinya kita introspeksi diri, ketika mendapati penguasa kita adalah penguasa yang dzalim, penguasa yang banyak melakukan kesalahan, penguasa yang merugikan rakyatnya, kewajiban kita sebagai rakyat yang pertama adalah introspeksi diri, mungkin ini semua adalah akibat dari pelanggaran yang kita lakukan terhadap Alloh Azza Wa Jalla, jauhnya hubungan kita terhadap Alloh Azza Wa Jalla.

Alloh Subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Demikianlah kami jadikan sebahagian orang-orang yang dzalim itu sebagai pemimpin bagi sebahagian yang lainnya lantaran apa yang mereka lakukan.” (Qs Al An’am: 129)

Dihukum oleh Alloh Subahanahu wa ta’ala dengan keberadaan pemimpin yang dzalim karena kedzaliman yang dilakukan oleh rakyat. Maka penguasa yang dzalim akan bersama dengan rakyat yang dzalim, penguasa yang baik akan bersama dengan rakyat yang baik. Jangan pernah bermimpi mendapatkan penguasa yang adail, yang baik kalo kita sebagai rakyatnya belum bias baik dan adil.

Sangat wajar kalau dulu Sahabat Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu dituntut oleh beberapa orang yang datang kepadanya agar Sahabat Ali Radhiyallahu ‘anhu menjalankan roda kepemimpinan yang lebih baik, agar semua kekacauan yang terjadi itu tidak ada seperti yang terjadi di zaman Abu Bakr dan Umar Radhiyallahu ‘anhum maka Sahabat Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhumengatakan “Bahwa ketika Sahabat Abu Bakr dan Umar menjabat sebagai Khalifah, yang menjadi rakyatnya adalah aku dan orang-orang seperti aku. Tetapi ketika aku menjadi khalifah, yang menjadi rakyatnya adlah kalian dan orang-orang seperti kalian (orang-orang yang jahat/ orang-orang yang tidak shaleh sehingga terjadi banyak kekacauan di sana sini)”

Ikhwanufiddin rahimakumullah, maka kesabaran sangat dibutuhkan dalam situasi seperti sekarang ini, menyikapi kesalahan penguasa bukan soal emosi dan kemarahan melulu, apa lagi kalo emosi dan kemarahan tersebut diluapkan dalam bentuk demonstrasi. Lebih miris lagi kalo demonstrasi tersebut dilabeli dengan amar ma’ruf dan nahi munkar apa lagi kalo sampai dianggap sebagai bentuk membela islam, ini fenomena yang menyedihkan

4. Mendengar dan Taat

Nabi ‘Alaihi shalatu wa sallam jauh sebelum nya sudah member tahu kepada kita bahwa tidak semua penguasa itu baik. Dan beliau sampai memberikan semacam gambaran, sekalipun nanti kalian dipimpin oleh seorang hamba sahaya  yang secara penampilan tidak meyakinkan, bukan dari golongan mewah yang memiliki kasta tertinggi, kata Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam: “Kalian harus menampakan sikap ta’at dan mendengar” ( Irbath bin Sariyah, HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi)

bahkan dalam riwayat yang lain

إِسْمَعْ وَأَطِعْ وَإِنْ أُخِذَ مَالَكَ وَضَرَبَ ظَهْرُكَ

“Sekalipun punggungmu dipukul, hartamu dirampas, hakmu direbut”(HR. Muslim)

kata nabi ta’ati dan dengar

Lalu bagai mana rakyat bisa menuntut haknya sebagai rakyat, kata Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam:

تُؤَدُّوْنَ الْحَقَّ الَّذِيْ عَلَيْكُمْ وَتَسْأَلُوْنَ اللهَ الَّذِيْ لَكُمْ

“Tunaikanlah kewajiban kalian mintalah hakmu kepada Alloh”

(dari Sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, Sahih, HR. al Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya)

namun kalian harus melaksanakan apa yang menjadi kewajiban bagi kalian. Kita punya Allah, Allah Subahanahu wa ta’ala yang akan memberikan hak kita, tidak perlu takut.

*Dalam situasi-situasi yang seperti ini hendaknya kita semakin mendekatkan diri kepada Alloh Subahanahu wa ta’ala, banyak-banyak berdo’a agar Alloh Subahanahu wa ta’alamemberikan kebaikan untuk negri  kita ini, banyak-banyak berdo’a agar Alloh Subahanahu wa ta’ala memberikan taufik bagi para pemimpin-pemimpin kita*. Sangat sedikit orang yang melakukan hal ini karena mayoritasnya sudah terbawa dengan gelombang emosi dan amarah sehingga tidak lagi berfikir dengan baik, tidak lagi berfikir jernih

Coba kalo mau membuka kembali sejarah, berbagai macam peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa yang lalu, setidaknya akan mendapatkan gambaran dan pelajaran bahwa kesalahan dan kekeliruan, kejahatan atau kedzaliman bahkan yang dilakukan oleh Waliyul Amr itu bukan hal yang baru tetapi ini sudah terjadi sejak zaman dulu makanya Islam memberikan arahan yang tepat dalam hal ini

Oleh:

Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al-Atsary hafidzahullah

(Pengasuh Ma’had Daarul Atsar Kawalu, tasikmalaya)

Transkrip Tausiah Ba’da Subuh, hari Ahad, 27 Shafar 1438 H

Di Masjid Al-Muhajirin Komplek Tamansari Manglayang Regency Kab. Bandung

Sumber: http://forumsalafy.net/menasehati-penguasa/

 

Demonstrasi Termasuk Perkara Bid’ah

kawat-berduri

Menjawab pertanyaan yang ditujukan kepada yang mulia Al-Allaamah Zaid bin Muhammad Al-Madkhali rahimahullah tentang masalah demonstrasi yang terjadi di negeri-negeri islam, dan anggapan bolehnya demo oleh sebagian orang, khususnya jika demonya itu damai tanpa membawa senjata. Maka beliau rahimahullah berkata:

“Demonstrasi termasuk perkara yang baru dalam agama, dan setiap perkara yang baru dalam agama itu adalah bidah dan setiap bidah itu sesat dan setiap kesesatan itu di neraka. Yang demikian itu karena syariat Allah itu telah sempurna, kitab dan sunnah. Dan kita tidak mengetahui sedikitpun dari dalil al-kitab dan as-sunnah yang membolehkan sekelompok manusia untuk berkumpul lalu melakukan demontrasi yang terdapat di dalamnya pengacauan terhadap manusia menghabiskan waktu dan lebih parah dari itu adalah ditinggalkan shalat-shalat, terjadi di dalamnya pembunuhan. Maka seandainya dalam satu demo terbunuh satu orang muslim, yang menanggung dosanya adalah orang yang mengajak melakukan demo-demo tersebut. Sama saja, apakah seorang pribadi, sekelompok masyarakat ataupun komunitas. Dan dalam sebuah hadits yang shahih disebutkan:

“Sungguh hilangnya dunia ini lebih ringan di sisi Allah daripada pembunuhan terhadap seorang muslim. (HR. Sunan An-Nasaa’i, bab Ta’zhiimu Ad-dami 7-87 dan At-Tirmidzi dalam bab Maa jaa’a ‘an Tasydiid qatlil mukmin, 4-16)

Maka betapa banyak terbunuh nyawa-nyawa di dalam demontrasi-demontrasi? Dengan disaksikan oleh akal, dalil naqli, adat, perasaan indrawi dan kenyataan yang disaksikan. Maka diada-adakannya demontrasi hanyalah bidah yang sesat, menyeru kepadanya syaithon, nafsu yang mengajak pada kejelekkan dan hawa. Dan tidaklah berkumpul musuh-musuh ini pada suatu perkara kecuali akan hancurlah agama dan dunia, sebagaimana sudah diketahui dalam demo-demo ini. Dan buah dari demontrasi-demontrasi semuanya adalah pembunuhan, kehancuran, menyia-nyiakan harta dan waktu mencemaskan orang-orang yang aman. Dan betapa banyak kejelekkan di dalamnya.

Cukuplah demo itu tergolong keburukkan tatkala demo tidak pernah dikerjakan di zaman para Rasul yang mulia, para nabi yang agung, yang mana mereka telah dicoba dan disakiti oleh kaumnya. Dan berimanlah kepada mereka orang-orang yang beriman, dalam keadaan mereka tidak mengenal demontrasi dan tidak melakukan peledakkan dan pembunuhan, bahkan islam melarang dari semua.

Dan mereka- mereka yang mengajak demo itu dan berpendapat  kalau padanya ada keselamatan telah salah jalan dan keliru jalan dan sebaiknya mereka kembali kepada kebenaran, mengatasi problema-problema dengan Al-kitab dan As-Sunnah dengan pemahaman para ulama yang kokoh dalam keilmuannya. Maka barang siapa yg mengajak manusia kepada kekacauan ini, maka dia telah menyebabkan kerusakan negeri dan para hamba. Dan apa yang telah terjadi dahulu dan sekarang itu menjadi saksi akan hal itu.

Maka saya mengingatkan para penuntut ilmu, hendaknya mereka tidak memperdulikan pendapat yg membolehkan demontrasi damai, sebagaimana yg mereka katakan! Mereka membuat pembagian ini dengan tanpa dalil, bahwasanya (demo) itu boleh! Tanpa dalil yg dijadikan sandaran, tidak dari Al-Kitab tidak pula dari As-Sunnah tidak  dari perbuatan Rasul, tidak dari para sahabat yang mulia, tidak pula dari para imam, sebagaimana yg telah lalu. Sebagaimana selain diriku telah menulis, dan cukuplah dengan tulisan Hai’ah Kibaarul Ulama sebagai penjelasan dan keterangan bagi orang yang menginginkan kebenaran dan berkumpul diatas itu:  Sesungguhnya demontrasi yg dengan tatacara yang telah kita ketahui itu batil, bahwasanya hal itu tidak memiliki dasar syariat, bahwasanya hal itu mengantarkan kepada kerusakan para hamba dan negeri. Dan ini adalah pendapat yg benar yang telah ditanda tangani oleh lebih dari dua puluh orang alim, bahkan seluruh ulama yang terpandang menyerukan kepada manusia,  kalau demontrasi itu adalah sebuah jalan, bukan jalan kebaikan dan perbaikan

Dan sesungguhnya jalan yang selamat adalah dengan menasihati orang yang memegang urusan kekuasaan wilayah di bumi ini jika memang dia bersalah, diseru dengan cara yang tepat sesuai tingkatan yang ia ada padanya, tanpa menimbulkan kekacauan seperti ini  yang bisa melenyapkan jiwa, membuat takut orang-orang yang aman, dan terjadi di dalamnya apa yang sudah disaksikan manusia di zaman ini dan sebelumnya. Wallahu a’lam.

Yang mulia As-syaikh Al-Faqih Al-Allamah Zaid bin Muhammad Al-Madkhali rahimahullah Al-Al-afnaan watauhiid Ibni Khuzaimah wa hadits an al-muzhaharah, 4-4-1432 H.

***

Sumber: http://www.sahab.net/home/?p=1397

http://forumsalafy.net/

Alih bahasa: Ustadz Abu Hafs Umar al-Atsary hafizhahullah

Nasehat untuk Kaum Muslimin Indonesia Terkait Demonstrasi 4 November 2016 di Jakarta

kepal-demo

? asy-Syaikh DR. ‘Abdullah bin ‘Abdurrahim al-Bukhari hafizhahullah

? Tanya :
? “Hari ini (kemarin, Jum’at 4/10/2016, pen) di Ibu kota Indonesia, Jakarta diadakan demonstrasi besar-besar.
Demonstrasi tersebut menuntut diadilnya Gubernur Jakarta, seorang yang beragama kristen, yang telah melecehkan ayat al-Quran dan para da’i!

Tak tersembunyi bagi Anda, akibat dari demonstrasi, yaitu berbagai kerusakan dan kejelekan, meskipun mereka menyebutnya sebagai aksi damai.

?? Sebagaimana diketahui bahwa yang turut serta dalam demonstrasi tersebut adalah dari berbagai kelompok, seperti shufiyyah, ikhwaniyyah, dan khawarij, serta para politikus, dll.

? Pertanyaan :
1. Bolehkah bagi kaum muslimin untuk ikut serta dalam demonstrasi tersebut?
2. Apa cara terbaik yang Anda nasehatkan untuk kaum muslimin demi mengganti gubernur tersebut?
3. Apa nasehat dan arahan Anda untuk kaum muslimin secara umum dan salafiyyin secara khusus terkait kejadian ini?

? Jawab :

1⃣ Pertanyaan pertama “Bolehkah bagi kaum muslimin untuk ikut serta dalam demonstrasi tersebut?”
Tidak boleh. Demonstrasi bukan bagian dari Syari’at Islam. Sebagaimana telah kami jelaskan berulang-kali. Bahkan kalaupun pemimpin suatu negeri, dan dia muslim, membolehkan dan mengizinkan demonstrasi, maka tidak ada ketaatan kepadanya dalam masalah ini. Karena tidak dibenarkan baginya mengizinkan perbuatan seperti ini. Tidak ada kewajiban mendengar dan taat kecuali dalam hal yang ma’ruf (kebaikan). “Hanyalah ketaatan itu dalam hal yang ma’ruf (kebaikan)”
❌ Sedangkan demonstrasi ini bukan termasuk perkara yang ma’ruf. Sebagaimana sudah kami jelaskan berulang kali. Ini jawaban pertama.

2⃣▪️ Cara terbaik yang kami nasehat kaum muslimin dengannya dalam upaya mengganti gubernur tersebut, adalah menulis surat ditujukan kepada pemimpin negeri. Yang menulisnya adalah orang-orang yang berakal jernih dan tokoh terpandang, bukan rakyat jelata atau para pengacau.
? Hendaknya mereka menulis surat atau menyampaikan laporan, meminta agar diadili atau yang lainnya.
✍? Penulisan surat dilakukan oleh orang-orang yang berakal jernih dan cerdas saja.
❌ Tidak ada demonstrasi, orasi, maupun gerakan rakyat. Ini bukan bagian dari agama Allah sama sekali.

3⃣ Nasehatku untuk kaum muslimin secara umum dan salafiyyin secara khusus, adalah nasehat sebagaimana di atas :
• Jangan ikut dalam demonstrasi!
• Jika mau hendaknya menyampaikan pengaduan kepada pemerintah dan memohon agar memberhentikan orang tersebut dari kepemimpinan di propinsi itu, atau mengadilinya.
Dengan cara ini, telah tertunaikan tanggung jawab.
Jika pengaduhan itu dipenuhi, maka alhamdulilah. Jika tidak terpenuhi, maka telah tertunaikan tanggung jawab. Permasalahannya pun selesai sampai di sini.

رابط المادة:
? http://elbukhari.com/wp-content/uploads/2016/11/fawaid_sawtiyah_sh_albukhary_223.mp3
? 1.18 MB

Sumber: http://www.manhajul-anbiya.net

Peringatan dari Bahaya Syiah Rafidhah

awas-bahaya-syiah

Peringatan dari Bahaya Syiah Rafidhah[1]

Penulis: asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi ‘Umair al-Madkhali

 

Alhamdulillah. Semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada Rasulullah, para sahabatnya, dan siapa saja yang mengikutinya.

Amma ba’du:

Di antara perkara yang sangat disayangkan, bahwa madzhab Syiah Rafidhah[2] yang demikian destruktif (merusak) ini telah memiliki berbagai peluang untuk tersebar di pelosok-pelosok negeri Arab-Islami. Ajaran Syiah ini telah tersebar secara masif, dan di balik penyebaran ini semua dalangnya adalah pemerintah Iran-Persia beserta para tokoh agama mereka yang demikian memusuhi Islam, kebenaran, tauhid, dan orang-orang yang berpegang teguh dengannya. Mereka telah mencurahkan segenap perbendaharaan yang mahal untuk menyebarkan madzhab mereka disertai semangat yang luar biasa dan pemetaan yang untuk menguasai negeri-negeri kaum muslimin.

Madzhab Syiah adalah madzhab destruktif yang berdiri di atas prinsip:

  • Mengkafirkan para sahabat Nabi Muhammad.
  • Menolak sunnah Rasulullah, karena sunnah tersebut datangnya melalui jalur para sahabat Nabi yang jujur dan amanah.
  • Meyakini telah berubahnya al-Qur’an dan memposisikan ayat-ayat tentang orang-orang kafir dan munafikin kepada para sahabat Nabi.
  • Memposisikan ayat-ayat yang berisi ancaman neraka kepada para sahabat Nabi, terlebih lagi Abu Bakar dan Umar –radhiallau ‘anhuma-.
  • Memposisikan ayat-ayat yang berisi pujian dan janji untuk mereka dan para ahlul bait (keturunan Nabi), yang Allah telah membersihkan para ahlul bait itu dari orang-orang Syiah dan pemahaman mereka yang ekstrem, dan prinsip-prinsip mereka yang berdiri di atas kekufuran.

Di antara kesesatan mereka yang lain adalah mereka memposisikan ayat-ayat yang berisi tentang tauhidullah dan menunjukkan hak uluhiyah Allah ditujukan untuk imam-imam mereka, seperti pada firman Allah:

وَقَالَ اللَّهُ لَا تَتَّخِذُوا إِلَٰهَيْنِ اثْنَيْنِ ۖ إِنَّمَا هُوَ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ

Allah berfirman, “Janganlah kalian menjadikan adanya dua sesembahan. Sesungguhnya Dia (Allah) adalah satu-satunya sesembahan yang benar.” (an-Nahl : 51).

Betapa banyak nash-nash al-Qur’an yang mereka selewengkan. Barangsiapa ingin mengetahui hakikat agama mereka, silakan membaca kitab-kitab rujukan utama mereka, seperti kitab al-Kafi karya al-Kulaini, Tafsir al-Qummi, dan Tafsir al-‘Iyyasi di mana penyimpangan yang ada dalam agama Syiah lebih parah dibandingkan dengan yang ada pada agama Yahudi  dan Nasrani.

Di antara perkara yang menjadikan hati semakin sedih ketika madzhab yang sesat dan destruktif ini telah tersebar luas di Aljazair. Kami telah mendengar bahwa banyak rakyat negeri tersebut telah menganut akidah Syiah Rafidhah ini dan sejumlah besar mereka sekarang ini sedang belajar di kota Qum[3], Iran. Meskipun ada perlawanan dari pemerintah negeri tersebut dan sebagian ulamanya, akan tetapi kondisinya sangat lemah. Di mana kecemburuan mereka terhadap Islam dan Tauhid?! Di mana kecemburuan mereka terhadap al-Qur’an dan as-Sunnah?! Di mana kecemburuan mereka terhadap para sahabat Nabi?!

Wahai sekalian penduduk Aljazair –pemerintahan ataupun masyarakatnya-, sesungguhnya diamnya kalian dari tersebar luasnya madzhab ini –demi Allah- akan mengakibatkan berbagai kejelekan pada agama, dunia, dan kekuasaan kalian, demikian juga di akhirat kalian, ketika kalian menjumpai Tuhan kalian, karena kalian telah diam dari sekian banyak kemungkaran dan bahaya-bahaya yang besar terhadap agama dan dunia kalian.

Aku memohon kepada Allah agar Dia membangkitkan syiar-syi’ar muslimin dan akal-akal mereka untuk menghadapi bahaya yang mengerikan dan menghancurkan ini. Di antara upaya yang paling penting untuk menghadapi mereka adalah menutup web-web mereka yang terus menyebarkan berbagai kejelekan dan kesesatan mereka yang demikian besar.

 

Penjelasan Sebagian Prinsip-prinsip Pokok Syiah Rafidhah

Di antara prinsip pokok ajaran Syiah adalah

  1. Pengkafiran dan celaan mereka terhadap para sahabat Nabi. Yang demikian merupakan penghancuran terhadap agama dari dasarnya, karena tidaklah agama ini diketahui kecuali melalui jalan para sahabat. Dan para sahabat telah menyampaikan agama ini dengan sebaik-baiknya.
  2. Bahwa imamah (kepemimpinan terhadap umat ini) menurut mereka merupakan bagian pokok dari agama. Ini adalah sikap ekstrem, karena Nabi telah menjelaskan pokok-pokok agama ini (dalam rukun Iman dan rukun Islam –pen), tetapi permasalahan imamah ini tidak masuk di dalamnya.
  3. Mengenal para imam mereka yang berjumlah 12 orang menurut mereka merupakan pokok agama[4]. Dan siapa yang tidak mengenal para imam itu berarti kafir.
  4. Para imam –menurut mereka- adalah orang-orang yang maksum (terjaga) dari perbuatan dosa, bahkan tidak pernah lupa. Bahkan mereka menganggap bahwa para imam mereka lebih utama dibandingkan para nabi dan rasul.
  5. Mereka meyakini bahwa para imam mereka mengetahui perkara gaib dan ikut mengatur keberlangsungan kehidupan ini. Dan ini termasuk dari kekufuran yang terbesar, karena mereka telah menjadikan para imam mereka sebagai tandingan bagi Allah dalam perkara gaib dan pengaturan terhadap alam semesta ini.
  6. Klaim dusta mereka bahwa Rasulullah telah berwasiat agar kepemimpinan umat setelahnya dipegang oleh Ali –radhiallahu ‘anhu-, dan mereka mengklaim bahwa para sahabat telah merampas hak kepemimpinan itu dari Ali. Ini termasuk kedustaan yang paling parah, dan ini pula yang menyebabkan mereka tersesat dan memusuhi, mengkafirkan, serta melaknat para sahabat.
  7. Di antara khurafat dan dongeng-dongen mereka, bahwa mereka memiliki Imam Mahdi dari keturunan Ahlul Bait. Mereka senantiasa menunggu-nunggunya di gua Sirdab sejak lebih dari 1200 tahun lalu. Mereka mengklaim bahwa itulah imam mereka yang ke-12. Padahal yang mereka klaim itu hakikatnya tidak ada. Sedangkan Imam Mahdi yang disebutkan oleh Rasulullah adalah benar adanya, tetapi bukan seperti yang diklaim oleh Syiah Rafidhah. Di antara dongeng mereka tentang Musa bin Ja’far (wafat th 183 H) salah satu yang diklaim sebagai imam mereka, bahwa Dia berkata kepada orang-orang di zamannya, “Jika kalian berumur panjang, maka kalian akan berjumpa dengannya (yakni Imam Mahdi mereka yang menurut merek bersembunyi di gua Sirdab tersebut -pen). Dan sampai sekarang ini sudah berlalu 1249 tahun tetapi mereka belum juga mendapatinya. Hal ini menunjukkan bahwa itu hanyalah kedustaan yang disandarkan kepada Musa (bin Ja’far) ini.
  8. Keyakinan mereka tentang raj’ah. Menurut mereka yang tidak mempercayainya maka dia kafir. Al-‘Allamah al-Alusiy berkata (dalam kitab Mukhtashar at-Tuhfah al-Itsna al-Asyariyah hal 200-201), “Menurut madzhab Ahlus Sunnah bahwa orang-orang yang sudah meninggal tidaklah dihidupkan kembali sebelum terjadinya hari kiamat. Sedangkan Syiah Imamiyah dan sebagian kelompok lainnya dari pecahan Syiah Rafidhah meyakini adanya raj’ah. Mereka meyakini bahwa Nabi Muhammad, Ali bin Abi Thalib, anak cucunya, dan musuh-musuh mereka (maksudnya Abu Bakr, Umar, Utsman, Muawiyah, Yazid, Marwan, Ibnu Ziyad, dan lainnya akan dihidupkan kembali setelah munculnya Imam Mahdi versi mereka. Kemudian musuh-musuh ini akan disiksa dan diqishash sebelum munculnya Dajjal. Setelah itu semua, mereka ini mati kembali, kemudian nanti akan dihidupkan kembali pada hari kiamat. -Semoga Allah memerangi orang-orang Syiah Rafidhah-.
  9. Klaim mereka bahwa para sahabat telah melakukan perubahan isi al-Qur’an. Hal yang sangat mustahil untuk para sahabat melakukannya walaupun hanya sekedar satu kata di dalam Kitabullah. Dan sesungguhnya yang telah mengubah isi al-Qur’an justru adalah Rafidhah. Betapa banyak perubahan yang mereka lakukan, baik terhadap lafazh-lafazhnya maupun terhadap makna-maknanya. Kebanyakan perubahan yang mereka lakukan berkaitan dengan ayat-ayat yang berisi janji dan ancaman, ayat-ayat tentang orang-orang kafir dan munafikin yang mereka arahkan kepada para sahabat Nabi. Padahal merekalah yang lebih pantas untuk diarah dengan ayat-ayat tersebut.
  10. Di antara prinsip pokok mereka adalah taqiyyah[5] (menampakkan kesesuaian dengan lawan dan menyembunyikan keyakinan sebenarnya). Taqiyyah di sisi mereka adalah sembilan persepuluh agama, sehingga menurut mereka tidak ada agama bagi yang tidak bertaqiyyah. Mereka menisbatkan sebuah ucapan kepada Abu Ja’far, bahwa dia berkata, “Allah ‘azza wajalla enggan untuk menerima dari kami dan kalian dalam beragama kecuali taqiyyah.” Mereka juga menisbatkan ucapan lainnya kepada Abu Ja’far bahwa dia berkata, “Taqiyyah bagian dari agamaku dan agama leluhurku. Tidak ada keimanan bagi yang tidak bertaqiyyah.” (Lihat kitab al-Kafi karya al-Kulaini (2/217-218).
  11. Di antara pokok agama mereka adalah memakmurkan kuburan, -terlebih lagi kuburan imam-imam mereka-, thawaf di kuburan, meminta tolong kepada yang dikubur, mempersembahkan harta yang demikian banyak, bernadzar, dan menyembelih kurban untuk penghuni kubur. Perbuatan-perbuatan ini termasuk di antara macam-macam kesyirikan yang paling besar.
  12. Di antara pokok penting agama mereka adalah nikah mut’ah (kawin kontrak). Rasulullah pernah membolehkan nikah mut’ah pada kondisi tuntutan kebutuhan dan darurat, kemudian Allah menghapuskan bolehnya nikah mut’ah melalui lisan Rasulullah. Dan di antara yang meriwayatkan pengharaman nikah mut’ah adalah Ali bin Abi Thalib –radhiallahu ‘anhu- yang diklaim sebagai imam mereka -pen). Sedangkan kaum Syiah menghalalkannya dan meriwayatkan berbagai keutamaan nikah mut’ah, yang secara syar’I maupun akal sehat pasti akan menolaknya. Di antaranya ucapan mereka tentang nikah mut’ah:

“Barangsiapa mut’ah dengan seorang wanita mukminah pahalanya seperti menngunjungi Ka’bah sebanyak 70 kali.”

Juga ucapan mereka bahwa ash-Shaduq telah meriwayatkan dari ash-Shadiq ‘alaihi salam, “Sesungguhnya mut’ah adalah agamaku dan agama nenek moyangku. Siapa yang melakukannya berarti dia mengamalkan agama kami, dan barangsiapa mengingkarinya berarti dia mengingkari agama kami dan meyakini agama selain agama kami.”

Mut’ah dengan gambaran demikian ini di sisi mereka merupakan keyakinan yang paling agung, di mana mereka mengkafirkan siapa saja  yang meninggalkannya.

Mereka juga memiliki riwayat-riwayat lain tentang keutamaan mut’ah, di antaranya: “Siapa yang melakukan mut’ah 1 kali maka derajatnya semisal dengan al-Husain –’alaihi salam. Siapa yang melakukan mut’ah 2 kali maka derajatnya semisal dengan al-Hasan –’alaihi salam. Siapa yang melakukan mut’ah 3 kali maka derajatnya semisal dengan Ali –’alaihi salam. Siapa yang melakukan mut’ah 4 kali maka derajatnya semisal dengan derajatku.”

Ungkapan “alaihi salam” termasuk di antara ciri khas mereka. Yang benar, semestinya jika dia seorang sahabat dengan ungkapan “radhiallahu ‘anhu”. Jika dari kalangan tabi’in dan setelahnya, maka dengan ungkapan “rahimahullah”.

Inilah sekilas keterangan tentang agama Syiah Rafidhah. Seandainya mau diperinci, niscaya kesesatan dan kekufuran mereka akan mencapai berjilid-jilid kitab.

 

Ditulis oleh:

Rabi’ bin Hadi ‘Umair al-Madhali

12 Jumadal Akhirah 1432

 

Catatan Kaki :

[1]  Judul asli risalah ini adalah at-Tahdzir min intisyari dini ar-Rawafidh fi al-Jazair wa ghairiha min buldanil muslimin.

[2] Rafidhah adalah salah satu sekte yang ada dalam ajaran Syiah. Dari sekian sekte yang ada di masa ini yang paling dominan di seluruh dunia adalah Rafidhah dengan Negara Iran sebagai pusatnya. Syiah Rafidhah dikenal juga dengan sebutan Syiah Imamiyah, Syiah Itsna ‘Asyariyah, dan Syi’ah Ja’fariyah.

[3]  Kota Qum merupakan pusat pendidikan ajaran Syiah Rafidhah di negeri Iran.

[4]  Dengan prinsip ini maka mereka dikenal juga dengan Syiah Imamiyah atau Syiah Itsna ‘Asyariyah.

[5] Hakikatnya dengan prinsip ini mereka menghalalkan dusta. Oleh karena itu, tidak ada kelompok sesat yang lebih pendusta dibandingkan Syiah Rafidhah.

Bantahan Atas Kemungkaran Syi’ah di hari Asyura’

blood-005

Ketahuilah para pembaca yang budiman, diantara keyakinan syi’ah yang mungkar adalah:

Syi’ah meyakini bahwa bulan Muharram terkhusus tanggal 10 Muharram merupakan hari berkabung dan kesedihan. Bahkan sebagian mereka menganggap bayi yang lahir di bulan tersebut adalah orang-orang yang buruk perangainya.

Setiap tanggal 10 Muharram, kelompok yang mengaku-ngaku cinta ahlul bait (keluarga Nabi shallallahualaihi wasallam) itu melaksanakan acara rutin mereka dalam rangka mengenang hari terbunuhnya Husain bi Ali radhiyallahu anhuma yang biasa disebut dengan Al Husainiyah.

Pada hari itu mereka mengadakan pawai besar-besaran di jalan-jalan menuju Al-Huseiniyah. Dalam acara itu, mereka menyuguhkan makanan-makanan yang sengaja dimasak tidak enak; gosong, keasinan bahkan makanan-makanan yang sengaja diberi cuka.

Peserta pawai hanya mengenakan celana atau sarung saja sedangkan badannya terbuka. Selama pawai, mereka memukul-mukul dada dan punggungnya dengan tangan atau rantai besi sehingga meninggalkan bekas (luka memar) yang mencolok. Lanjutkan membaca “Bantahan Atas Kemungkaran Syi’ah di hari Asyura’”

Jalan yang Paling Jelas Menuju Allah

 

Imam Abul Hasan bin Ali Al-Jauzajaani rahimahullah berkata:

“Jalan menuju Allah itu banyak. Dan jalan yang paling jelasnya dan yang paling jauh dari syubhat adalah: “,Mengikuti sunnah dalam perkataan, perbuatan, tekad, janji dan niat”.

Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

” Dan jika kalian mentaati beliau (Nabi) niscaya kalian akan mendapatkan hidayah.” (QS. An-Nuur 54)

Lalu dikatakan kepada beliau : Dan bagaimana jalan menuju sunnah?

Beliau menjawab: “Menjauhi bidah, mengikuti apa yang sudah disepakati oleh generasi pertama dari ulama Islam, dan menetapi jalan peneladanan.”

(Al-Amr bil Ma’ruf wan-nahyu ‘anil Mungkar karya As-Suyuti hal 5-6)

Sumber : http://forumsalafy.net/jalan-yang-paling-jelas-menuju-allah/

SIAPA YANG MEMBENCI KEBAIKAN MAKA DIA AKAN TERJATUH PADA KEBURUKAN

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

مَنْ رَغِبَ عَنْ إِنْفَاقِ مَالِهِ فِي طَاعَةِ اللَّهِ ابْتُلِيَ بِإِنْفَاقِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ وَهُوَ رَاغِمٌ.
وَكَذَلِكَ مَنْ رَغِبَ عَنِ التَّعَبِ لِلَّهِ ابْتُلِيَ بِالتَّعَبِ فِي خِدْمَةِ الْخَلْقِ وَلَا بُدَّ.
وَكَذَلِكَ مَنْ رَغِبَ عَنِ الْهَدْيِ بِالْوَحْيِ، ابْتُلِيَ بِكُنَاسَةِ الْآرَاءِ وَزِبَالَةِ الْأَذْهَانِ، وَوَسَخِ الْأَفْكَارِ.
فَلْيَتَأَمَّلْ مَنْ يُرِيدُ نُصْحَ نَفْسِهِ وَسَعَادَتَهَا وَفَلَاحَهَا هَذَا الْمَوْضِعَ فِي نَفْسِهِ وَفِي غَيْرِهِ.

Siapa yang tidak suka membelanjakan hartanya untuk ketaatan kepada Allah, maka dia akan ditimpa dengan membelanjakannya untuk selain Allah dalam keadaan dia tidak menyukainya.

Demikian juga siapa yang tidak suka keletihan untuk Allah, maka dia akan ditimpa dengan keletihan untuk melayani makhluk, mau tidak mau.

Demikian juga siapa yang tidak suka dengan petunjuk yang berasal dari wahyu, maka dia akan ditimpa dengan pendapat yang kotor, sampah pikiran, dan limbah pemikiran.

Maka siapa saja yang menginginkan kebaikan, kebahagiaan, dan keberuntungan untuk dirinya, hendaklah dia memperhatikan hal ini pada dirinya dan pada orang lain.

📚 Madarijus Salikin, jilid 1 hlm. 184

🌍 Saluran Telegram as-Syaikh Fawaz bin Ali al-Madkhaly hafizhahullah

 

Sumber :http://forumsalafy.net/siapa-yang-membenci-kebaikan-maka-dia-akan-terjatuh-pada-keburukan/

Klaim bahwa ISIS adalah Islam Sangat Bertentangan dengan Realita

ISIS, sebagaimana yang kita ketahui bersama, adalah sebuah kelompok ekstrim radikal berhaluan khawarij yang kini banyak disoroti. Kelompok ekstrim ini banyak sekali membuat berbagai kerusakan berupa teror pengeboman, pembunuhan dan penculikan di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Dalam aksinya, ISIS mengklaim bahwa kelompoknya membawa bendera jihad, meski faktanya tidak ada satupun bentuk perjuangan yang mereka lakukan bermanfaat untuk Islam. Klaim bahwa mereka berperang melawan Syiah, berusaha menumpas diktaktor Bashar al-Assad, dan klaim-klaim yang mereka sodorkan tak lebih hanya sebuah pepesan kosong. Yang terjadi hanyalah, pembunuhan demi pembunuhan yang mereka lakukan pada orang yang berada di luar pemahaman ISIS. Lanjutkan membaca “Klaim bahwa ISIS adalah Islam Sangat Bertentangan dengan Realita”

Teror Bom Thamrin Bentuk Nyata Kebodohan dalam Beragama

? Teror bom kembali terjadi di Jakarta, Kamis (14/1/2016) lalu. Mabes Polri menyatakan, insiden yang menarget pos polisi dan cafe di jalan Thamrin itu mengakibatkan 8 orang tewas, termasuk para pelaku teror dan puluhan lainnya luka-luka.

✊? Aksi teror kali ini tergolong nekat. Selain terjadi di siang bolong, para teroris juga secara terang-terangan melakukan aksinya di tengah kerumunan massa. Mereka menembak membabi buta serta melemparkan bom-bom rakitan. Hanya dengan pertolongan Allah-lah, mereka tidak sempat menyelesaikan aksinya melempar bom yang lebih besar setelah dilumpuhkan polisi. 4 orang terduga teroris tewas dengan sebagian di antara mereka meledakkan bom yang dipasang di tubuh mereka. Bom bunuh diri.

✋? Sudah kesekian kalinya, teror demi teror seakan enggan meninggalkan negeri ini. Aksi besar maupun kecil, dengan pelaku dari berbagai jaringan teroris, baik lokal maupun internasional, seperti menemukan habitat yang tepat untuk berkembangbiak di Indonesia. Namun dari sekian banyak jaringan atau organisasi yang membekingi aksi mereka, semuanya bermuara para satu pemahaman, yaitu Khawarij. Sekte kuno yang menyimpang dari ajaran Islam untuk pertama kalinya yang memiliki keyakinan takfir, yaitu mengkafirkan sesama muslim.

?? Seperti yang kita ketahui bersama, mayoritas para pelaku teror itu, baik yang tewas maupun yang tertangkap aparat, mayoritasnya adalah dari kalangan muda. Generasi yang begitu bersemangat dalam membela Islam, namun lemah dalam menuntut ilmu syar’i. Generasi yang begitu kritis dalam melihat kemungkaran-kemungkaran di masyarakat namun tidak dibarengi dengan upaya mencari bimbingan para ulama.

? Memang, kita tidak dapat menutup mata, bahwa di masyarakat kita kemungkaran menyebarluas. Minum khamr, zina, mencuri, riba dan berbagai dosa besar lainnya tersebar luas di masyarakat. Bahkan sebagiannya dilakukan secara terang-terangan. Namun perilaku masyarakat tersebut tidaklah kemungkinan membuat darah mereka halal untuk ditumpahkan. Tidak berarti mereka boleh dibunuh dengan sebab dosa besar yang mereka lakukan.

? Ketika munculnya kelompok khawarij di masa pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu anhu, mereka juga menyebarkan isu-isu penyimpangan yang terjadi dalam jajaran birokrasi pada waktu itu. Hingga massa terprovokasi dan berakhir dengan tertumpahnya darah Utsman bin Affan. Begitu pula dengan Khalifah Ali bin Abi Thalib. Yang menjadi titik perhatian kita adalah, jika pemerintahan khalifah sekelas Utsman bin Affan maupun Ali bin Abi Thalib saja mereka berani menumpahkan darah muslimin, lalu bagaimana halnya dengan pemerintahan di masa kita?

?? Khawarij, ISIS, Al Qaeda, Jaringan Santoso, Jaringan Imam Samudra atau apapun namanya, yang tewas dalam aksinya, mereka adalah sejelek-jelek mayat yang ada di kolong langit. Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, menyebutkan mereka adalah orang-orang yang paling besar kejelekannya bagi kaum muslimin. Bahkan melabeli mereka dengan sebutan yang mengerikan, yaitu anjing-anjing neraka, seperti yang beliau dengar dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam.

⚠️ Al Imam Wahb bin Munabbih mewanti-wanti para pemuda untuk mewaspai kaum Harura’ (Khawarij) karena mereka memiliki ideologi yang menyimpang dan mereka adalah orang terjelek dari umat ini. Sementara Al Imam al-Ajurri menyatakan, Khawarij adalah orang-orang jelek, najis, dan kotor. Orang yang berjalan di atas paham Khawarij saling mewariskan paham tersebut baik dulu maupun sekarang.

??? Mereka, para khawarij meyakini aksi teror yang mereka lakukan adalah jihad syar’i padahal salah besar. Teror bukan jihad sedikitpun, apalagi syar’i. Adakah seorang saja ulama yang dikenal kokoh ilmunya yang bersama mereka? Tidak ada. Yang ada hanyalah orator-orator ulung yang pandai membakar emosi para pemuda.

✊? Lalu apa yang semestinya dilakukan oleh para pemuda Islam? Thalabul ilmi, kembali kepada bimbingan para ulama, dan waspadai gerakan-gerakan atau kajian-kajian rahasia yang berisi hasutan untuk menjatuhkan pemerintah, mengkafirkan kaum muslimin dan memberontak terhadap pemerintah muslim. Karena itu propaganda kaum Khawarij sejak dahulu, yaitu memberontak terhadap pemerintah dan menghalalkan pembunuhan kaum muslimin.

?.. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menegaskan, tidak ada satu pun yang lebih jahat terhadap kaum muslimin dibanding mereka, tidak Yahudi tidak pula Nashara. Sungguh, mereka sangat serius untuk membunuh setiap muslim yang tidak sependapat dengan mereka, menghalalkan darah dan harta muslimin, membunuh anak-anak kaum muslimin yang mereka vonis sebagai kafir. Khawarij beragama seperti itu, akibat besarnya kejahilan mereka dan kebid’ahan mereka yang menyesatkan. Oleh karena itu, tidak berlebihan kiranya bila kita katakan, bahwa teror-teror yang terjadi sejak dahulu hingga saat ini, adalah bentuk nyata dari kebodohan dalam memahami agama Islam. fs

Sumber : http://serambiharamain.com/teror-bom-thamrin-bentuk-nyata-kebodohan-dalam-beragama/

Batilnya Perayaan Maulid Nabi

✒️ Asy Syaikh Shalih Fauzan bin Abdillah al Fauzan hafizhahullah

… Wahai sekalian kaum muslimin: Sesungguhnya perayaan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi was salam adalah batil dan diharamkan dari sejumlah sisi:

? Pertama: Perayaan ini merupakan bid’ah dalam agama dan setiap bid’ah adalah sesat. Dan mereka yang memandang pengadaan perayaan tersebut tidaklah mampu untuk mendatangkan dalil syar’i atas perbuatannya. Lanjutkan membaca “Batilnya Perayaan Maulid Nabi”