MACAM-MACAM KRITIKAN TERHADAP PEMERINTAH MENURUT SALAFIYYUN

MACAM-MACAM KRITIKAN TERHADAP PEMERINTAH MENURUT SALAFIYYUN

Asy-Syaikh Muhammad Bazmul hafizhahullah berkata:

ﺇﺫﺍ ﺍﻧﺘﻘﺪﺕ ﻭﻟﻲ ﺍﻷﻣﺮ ﺃﻭ ﺃﻱ ﻣﺴﺆﻭﻝ ﻭﺯﻳﺮ ﺃﻭ ﻣﺪﻳﺮ ﺩﺍﺋﺮﺓ ﺃﻭ ﻣﻨﺸﺄﺓ ﺣﻜﻮﻣﻴﺔ ﻻ ﻳﺨﻠﻮ ﺍﻷﻣﺮ ﻣﻦ ﻋﺪﺓ ﺃﺣﻮﺍﻝ:
ﺍﻟﺤﺎﻝ ﺍﻷﻭﻟﻰ: ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻧﻘﺪﻙ ﻟﻪ ﺑﺤﻖ ﻭﻟﻜﻦ ﻓﻲ ﻏﻴﺒﺘﻪ؛ ﻓﻬﺬﺍ ﺍﻟﻨﻘﺪ ﻏﻴﺒﺔ ﺣﺮﺍﻡ.
ﺍﻟﺤﺎﻝ ﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ: ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻧﻘﺪﻙ ﺑﻐﻴﺮ ﺣﻖ ﻓﻬﺬﺍ ﺑﻬﺖ ﻭﻛﺬﺏ؛ ﻓﻬﺬﺍ ﺣﺮﺍﻡ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ.
ﺍﻟﺤﺎﻝ ﺍﻟﺜﺎﻟﺜﺔ: ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻧﻘﺪﻙ ﺑﺤﻖ ﻭﻓﻲ ﻣﺠﻠﺴﻪ ﺃﻣﺎﻡ ﺍﻟﻨﺎﺱ؛ ﻓﻬﺬﻩ ﻓﻀﻴﺤﺔ ﻟﻴﺴﺖ ﺑﻨﺼﻴﺤﺔ.
ﺍﻟﺤﺎﻝ ﺍﻟﺮﺍﺑﻌﺔ: ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻧﻘﺪﻙ ﻟﻪ ﺑﺤﻖ ﻭﻗﺪﻣﺘﻪ ﻟﻪ ﺳﺮﺍ ﻓﻲ ﺧﺎﺻﺔ ﻧﻔﺴﻪ ﺩﻭﻥ ﺗﺸﻬﻴﺮ ﻭﻟﻴﺲ ﺃﻣﺎﻡ ﺍﻟﻨﺎﺱ، ﻓﻬﺬﻩ ﻧﺼﻴﺤﺔ ﺗﺒﺮﺃ ﺑﻬﺎ ﺫﻣﺘﻚ ﻭﺗﺆﺟﺮ ﻋﻠﻴﻬﺎ.
ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻤﻮﻓﻖ.

“Jika engkau mengkritik pemerintah, atau seorang penanggungjawab seperti menteri, kepala daerah, atau lembaga pemerintah, maka perkaranya tidak lepas dari beberapa keadaan:

Pertama: Kritikanmu benar, tetapi dilakukan tidak di hadapannya, maka kritikan semacam ini merupakan ghibah yang itu diharamkan.

Kedua: Kritikanmu tidak benar, maka ini merupakan hal yang diada-adakan dan dusta, sehingga kritikan semacam ini haram.

Ketiga: Kritikanmu benar dan di majelisnya, namun di hadapan orang lain, maka ini namanya membongkar aib, dan bukan nasehat.

Keempat: Kritikanmu benar, engkau sampaikan secara diam-diam langsung kepada yang bersangkutan, tanpa menyebarkannya, dan tidak dilakukan di hadapan orang lain, maka ini merupakan nasehat yang membebaskan tanggung jawabmu dan engkau mendapatkan pahala atasnya.

Hanya Allah saja yang memberi taufiq.”

? Sumber || https://twitter.com/momalbaz/status/823924011201662976

Sumber: http://forumsalafy.net/macam-macam-kritikan-terhadap-pemerintah-menurut-salafiyyun/

Pendekatan Sunni Syiah di Indonesia

Penulis : Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf

Salah satu bentuk gencarnya Syiah mengampanyekan pahamnya sekaligus usaha mereka melegalisasi keyakinannya adalah melalui seruan Taqrib Baina Sunni wa Syi’i (Pendekatan Antara Sunni dan Syi’ah). Sebenarnya gagasan ini adalah misi lama dari Khomeini, dan setelah dua puluh tahun meninggalnya, pendekatan antara Sunni-Syiah terus berjalan.

Sebelumnya, di Mesir upaya taqrib ini telah digagas. Sebuah lembaga yang bernama “Dar al-Taqrib bayna al-Madzahib al-Islamiyah”, didirikan oleh Mahmud Syaltut, Wakil Rektor Universitas al-Azhar pada 1957 M. Lembaga ini adalah sebuah institusi yang berusaha mewujudkan pendekatan dan persaudaraan serta menghilangkan perselisihan dan perpecahan yang ada antara Ahlus Sunnah dan Syiah. Lembaga ini juga memiliki misi memperkuat hubungan antara mazhab-mazhab Islam; sebuah pusat pergerakan yang pada akhirnya menjadi dasar pikiran berdirinya “Majma-e Jahoni-e Taghrib-e Mazaheb-e Islami” (Forum Internal Pendekatan Mazhab-Mazhab Islam) di Iran. Selain Mahmud Syaltut, Muhammad Mustafa Maraghi, Ayatullah Burujerdi, Hasan al-Banna juga menjadi penggagas ide pendekatan antara Sunni-Syiah.

Senin, 5 Nopember 2012, Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar bekerjasama dengan Kedutaan Besar Republik Iran, mengadakan seminar internasional dengan tema “Persatuan Umat Islam Dunia (International Seminar of Islamic World Unity)” di Auditorium Al-Jibra Kampus II UMI.

Yang menjadi narasumber pada seminar tersebut adalah pihak pemerintah diwakili oleh Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA; Nahdatul Ulama (NU) diwakili oleh mantan ketuanya selama dua periode, Dr. K.H. Hasyim Muzadi; Muhammadiyyah diwakili oleh Ketua Umum Muhammadiyyah saat ini, Dr. Din Syamsuddin; Majelis Ulama Pusat, diwakili oleh sang motor penggerak persaudaraan Sunni-Syiah, Prof. Dr. Umar Shihab, MA; pihak Syiah sendiri diwakili oleh Sekjen Majma’ Taqrib Bayna Madzahib, Muhammad Ali Taskhiri, Maulawi Ishak Madani, dan Dr. Mazaheri. Seminar tersebut juga dihadiri oleh Dubes Iran untuk Indonesia, Mahmoud Farazandeh. Tampil pula Prof. Dr. Ghalib MA, Wakil Koordinator Kopertis Wilayah VIII.

Nama-nama yang tercantum di atas secara umum menyerukan persatuan sebagaimana tema seminar itu sendiri. Dubes Iran dalam sambutannya mengajak para peserta untuk bercermin pada ritual haji. Para hujjaj mengenakan baju dengan warna yang sama, shalat di mesjid yang sama, menghadap pada kiblat yang sama, serta bersama-sama berthawaf di sekeliling Ka’bah. Inilah contoh konkret bahwa pada dasarnya umat Islam itu memiliki kesamaan yang sangat esensial.[1]

Adapun Wamenag RI, Nasaruddin Umar, mengutip sebuah perkataan, “Orang yang sering menyalahkan orang lain adalah orang yang sedang belajar, tetapi orang yang tidak mau menyalahkan orang lain adalah orang yang telah khatam belajar.”

Adapun Prof. Din Syamsuddin, memandang pentingnya persatuan Sunni-Syiah, karena umat Islam saat ini berada dalam kubang keterbelakangan, hanya sibuk menyalahkan antara satu dan yang lain, serta mengklaim hanya dirinyalah yang benar lalu tidak mau menerima kebenaran orang lain. Orang-orang seperti ini, menurut Ketua Muhammadiyyah ini, nanti akan menjadi orang kecele di surga.[2]

Pada Konferensi Islam Sedunia yang berlangsung pada 4—6 Mei 2008 lalu di Teheran, yang dihadiri sekitar 400 orang dari berbagai belahan dunia, Din Syamsuddin yang berbicara pada sesi pertama bersama enam tokoh lainnya, menegaskan bahwa antara Sunni dan Syiah ada perbedaan tetapi hanya pada wilayah cabang (furu’iyat), tidak pada wilayah dasar agama (akidah). Keduanya berpegang pada akidah Islamiah yang sama, walau ada perbedaan derajat penghormatan terhadap Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Oleh karena itu, lanjutnya, kedua kelompok harus terus melakukan dialog dan pendekatan. Seandainya tidak dicapai titik temu, perlu dikembangkan sikap tasamuh atau toleransi.

Tokoh lain yang tidak boleh dilupakan, yang begitu semangat menyuarakan pendekatan Sunni-Syiah, adalah Quraish Shihab. Dalam bukunya yang berjudul Sunni-Syiah Bergandengan Tangan, Mungkinkah?, ia mengatakan, “Kesamaan-kesamaan yang terdapat pada dua mazhab ini berlipat ganda dibandingkan dengan perbedaan-perbedaan dan sebab-sebabnya. Perbedaan antara kedua mazhab, di mana pun ditemukan adalah perbedaan cara pandang dan penafsiran, bukan perbedaan dalam hal ushul (prinsip-prinsip dasar keimanan), tidak juga dalam rukun-rukun Islam[3].” (cet. 1 hlm. 265)

Sesuatu yang tidak diragukan lagi bahwa Islam telah merumuskan jalan kepada umatnya untuk membangun persatuan dan kesatuannya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (Ali Imran: 103)

Ayat ini adalah perintah untuk berpegang teguh kepada tali Allah subhanahu wa ta’ala, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah, serta bersatu di atas petunjuk Allah subhanahu wa ta’ala. Tidaklah terjadi perpecahan dan perbedaan melainkan karena jauh dari pemahaman atau keyakinan ini.

Bahkan, Allah subhanahu wa ta’ala telah menjelaskan bahwa al-Qur’an dan as-Sunnah harus dijadikan sandaran oleh umat Islam ketika terjadi perselisihan dan perbedaan cara pandang atau penafsiran. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan/ulama) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Hal itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (an-Nisa: 59)

Akan tetapi, metode ini tentu hanya akan berlaku bagi penganut Islam yang sesungguhnya, yang berjalan di atas petunjuk Allah subhanahu wa ta’ala.

Adapun orang yang mengaku beragama Islam padahal sejatinya musuh Islam, maka wajib dibongkar keadaannya, agar umat Islam tahu tentang permusuhannya terhadap Islam, dan tidak ada celah baginya untuk menempuh metode ini.

Sunni atau Sunnah dan Syiah atau tepatnya Rafidhah, adalah dua kutub yang berlawanan, dua kelompok yang berbeda dan dua ideologi yang bertentangan. Antara keduanya tidak akan ada titik temu.

Mazhab Ahlus Sunnah berdiri di atas keyakinan mengutamakan para sahabat secara umum, dan mengutamakan sahabat Abu Bakr dan Umar atas seluruh umat, serta meyakini bahwa khalifah setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Abu Bakr.

Begitupun dalam soal tauhid, mazhab mereka adalah beribadah hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala saja tidak ada sekutu bagi-Nya, dan tidak ada yang maksum (terjaga dari kesalahan) selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada yang maksum dari umat ini selain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adapun Rafidhah, mazhabnya berdiri di atas kebencian kepada para sahabat, bahkan memvonis mereka semua sebagai orang fasik dan kafir, kecuali beberapa orang saja.

Maka dari itu, seruan pendekatan antara Sunni-Syiah, atau Sunnah dan Rafidhah, menyerupai seruan pendekatan antara Nasrani dan Islam. Sudah pasti, kekafiran dan keislaman adalah dua hal yang berlawanan, tidak akan bersama. Demikian pula halnya antara sunnah dan bid’ah.

Kelompok Rafidhah adalah kelompok yang paling jelek di tengah-tengah umat ini. Di samping prinsip-prinsip dasarnya adalah kekufuran, kelompok ini juga diwarnai oleh prinsip-prinsip dasar Mu’tazilah dan Tasawuf, yaitu praktik syirik di kuburan. Kelompok Rafidhah dibangun di atas dasar keyakinan ekstrem kepada ulama dan imam-imamnya. Mereka membangun kubah di atas kuburan-kuburannya dan melakukan ritual haji ke kuburan-kuburannya, persis seperti ritual haji ke Baitullah al-Haram.

Maka dari itu, yang menyuarakan pendekatan antara Sunnah dan Syiah, boleh jadi tidak mengetahui hakikat kedua mazhab itu, atau berpura-pura tidak tahu dan bodoh. Umumnya, orang yang menyuarakan pendekatan Sunni-Syiah itu membuat pengaburan, penipuan, dan pembodohan. Apabila ada dari kalangan Sunni yang melakukannya, mereka adalah orang-orang yang tertipu. Ia mengira bahwa perselisihan dan perbedaan antara Sunnah dan Syiah layaknya perbedaan antara mazhab-mazhab fikih, seperti Hambali, Syafi’i, Maliki, dan Hanafi.

Asy-Syaikh al-Allamah Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah berkata, “Pendekatan antara Rafidhah dan Ahlus Sunnah adalah hal yang tidak mungkin karena akidah yang berbeda. Akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala dan mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah subhanahu wa ta’ala, tidak ada sesuatu pun yang diibadahi bersama Allah subhanahu wa ta’ala, baik malaikat yang terdekat maupun nabi yang diutus, dan meyakini bahwa hanya Allah subhanahu wa ta’ala yang mengetahui perkara gaib.

Termasuk akidah Ahlus Sunnah adalah mencintai para sahabat g, dan meyakini bahwa mereka makhluk yang paling baik setelah para nabi, dan yang paling baik di antara mereka adalah Abu Bakr ash-Shiddiq, kemudian Umar, kemudian Utsman, kemudian Ali g.  Adapun Rafidhah, menyelisihi semua itu. Jadi, tidak mungkin menyatukan keduanya. Sebagaimana tidak mungkin menyatukan antara Yahudi dan Nasrani, musyrikin dan Ahlus Sunnah, maka demikian pula tidak mungkin adanya pendekatan antara Rafidhah dan Ahlus Sunnah, karena perbedaan akidah seperti yang telah dijelaskan di atas.” (Majmu’ul Fatawa Ibnu Baz)


[1] Sesungguhnya, prinsip yang benar dalam menilai antara sesuatu dan yang lain bukan melihat dari sisi kesamaannya. Jika demikian, antara Islam dan Yahudi pun ada kesamaan. Akan tetapi, kita justru melihat kepada perbedaan-perbedaan yang mendasar. Dan antara Sunnah dan Syiah terdapat perbedaan mendasar yang sangat banyak,. Rukun Islam dan dan rukun iman pun sudah berbeda. (-ed.)

[2] Prinsip mengkritik sesuatu yang keliru adalah prinsip yang benar menurut agama dan akal sehat, dan ini disepakati oleh semua orang yang berakal. Sebab, tanpa kritik ini, semua yang salah bisa dianggap benar.

Pernyataan di atas sangat berbahaya dalam bidang apapun, terlebih lagi dalam hal agama. (-ed.)

[3] Ucapan ini jelas keliru. Sebab, rukun-rukun Islam menurut Syiah berbeda dengan rukun-rukun Islam menurut kaum muslimin yang lain. LIhat Rubrik Kajian Utama, Asy Syariah edisi 092, “Syiah dan Imamah”. (-ed.)

Sumber: http://asysyariah.com/pendekatan-sunni-syiah-di-indonesia/

Hukum Mengucapkan Selamat Tahun Baru

fireworks-city-newsletter

Pertanyaan : Apa hukumnya mengucapkan selamat tahun baru, sebagaimana yang banyak dilakukan oleh umat, seperti saling mengucapkan : كُلَّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ (setiap tahun engkau senantiasa berada dalam kebaikan) atau ucapan-ucapan semisal?

Asy-Syaikh Muhammad bin Shâlih Al-‘Utsaimîn rahimahullahmenjawab :

Ucapan selamat tahun baru bukanlah perkara yang dikenal di kalangan para ‘ulama salaf. Oleh karena itu lebih baik ditinggalkan. Namun kalau seseorang mengucapkan selamat karena pada tahun yang sebelumnya ia telah menggunakannya dalam ketaatan kepada Allah, ia mengucapkan selamat karena umurnya yang ia gunakan untuk ketaatan kepada Allah, maka yang demikian tidak mengapa. Karena sebaik-baik manusia adalah barangsiapa yang panjang umurnya dan baik amalannya.

Namun perlu diingat, ucapan selamat ini hanyalah dilakukan pada penghujung tahun hijriyyah. Adapun penghujung tahun miladiyyah (masehi) maka tidak boleh mengucapkan selamat padanya, karena itu bukan tahun yang syar’i. Bahkan kaum kafir biasa mengucapkan selamat pada hari-hari besar mereka.

Seseorang akan berada pada bahaya besar jika ia mengucapkan selamat pada hari-hari besar orang-orang kafir. Karena ucapan selamat untuk hari-hari besar orang-orang kafir merupakan bentuk ridha terhadap mereka bahkan lebih. Ridha terhadap hari-hari besar orang-orang kafir bisa mengeluarkan seorang muslim dari agama Islam, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Imâm Ibnul Qayyim dalam kitab Ahkâm Ahlidz Dzimmah (Hukum-hukum tentang Kafir Dzimmi).

Kesimpulannya : Ucapan selamat untuk tahun baru hijriyyah lebih baik ditinggalkan tanpa diragukan lagi, karena itu bukan kebiasaan para ‘ulama salaf. Namun kalau ada seseorang yang mengucapkannya maka ia tidak berdosa.

Adapun ucapan selamat untuk tahun baru miladiyyah (masehi) maka tidak boleh.

[dari Liqâ`âtil Bâbil Maftûh ]

Sumber: http://mahad-assalafy.com/2016/12/31/hukum-mengucapkan-selamat-tahun-baru/

KEMUNKARAN-KEMUNKARAN YANG DI LAKUKAN SEBAGIAN UMAT ISLAM DI HARI RAYA AGAMA LAIN

KEMUNGKARAN-KEMUNGKARAN YANG DILAKUKAN SEBAGIAN UMAT ISLAM DI HARI RAYA AGAMA LAIN

Asy-Syaikh Abdul Qadir bin Muhammad al-Junaid hafizhahullah

ﺇﻥ ﻣﻦ ﺍﻷﻓﻌﺎﻝ ﺍﻟﻤﺤﺮﻣﺔ، ﻭﺍﻟﻤﻨﻜﺮﺍﺕ ﺍﻟﺸﻨﻴﻌﺔ، ﺍﻟﺘﻲ ﺗﻘﻊ ﻣﻦ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ –ﺃﺻﻠﺤﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ– ﻓﻲ ﺃﻭﻗﺎﺕ ﺇﻗﺎﻣﺔ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭ ﻷﻋﻴﺎﺩﻫﻢ ﺍﻟﺪﻳﻨﻴﺔ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﺭﺑﻊ:

ﺃﻭﻟًﺎ: ﺇﺟﺎﺑﺔ ﺩﻋﻮﺓ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭ ﺇﻟﻰ ﺣﻀﻮﺭ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﻋﻴﺎﺩ، ﻓﺘﺮﻯ ﺍﻟﺒﻌﺾ ﻳﺤﻀﺮ ﻣﻌﻬﻢ، ﻭﻳﺸﺎﺭﻛﻬﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺮﺣﺔ ﻭﺍﻟﺴﺮﻭﺭ، ﻭﻳﻬﻨﺌﻬﻢ، ﻭﻳﺒﺎﺭﻙ ﻟﻬﻢ، ﻭﻳﺠﻠﺐ ﻟﻬﻢ ﺍﻟﻬﺪﺍﻳﺎ.

ﺛﺎﻧﻴًﺎ: ﺇﺭﺳﺎﻝ ﻛﺮﻭﺕ ﺃﻭ ﺑﻄﺎﻗﺎﺕ ﺍﻟﺘﻬﻨﺌﺔ ﺑﻌﻴﺪﻫﻢ، ﻭﻗﺪ ﺗﻜﻮﻥ ﻣﺼﺤﻮﺑﺔ ﺑﺎﻟﻮﺭﻭﺩ ﻭﺍﻟﺰﻫﻮﺭ، ﻭﺫُﻛﺮ ﻓﻴﻬﺎ ﺃﺟﻤﻞ ﺍﻟﻜﻠﻤﺎﺕ ﻭﺍﻟﺘﺒﺮﻳﻜﺎﺕ ﻭﺍﻟﺘﻤﻨﻴﺎﺕ.

ﺛﺎﻟﺜًﺎ: ﺇﻋﻼﻥ ﺗﻬﻨﺌﺔ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭ ﺑﺄﻋﻴﺎﺩﻫﻢ ﻋﺒﺮ ﺍﻟﻔﻀﺎﺋﻴﺎﺕ ﺃﻭ ﺍﻟﺠﺮﺍﺋﺪ ﺃﻭ ﺍﻟﻤﺠﻼﺕ ﺃﻭ ﻣﻮﺍﻗﻊ ﺍﻟﺸﺒﻜﺔ ﺍﻟﻌﻨﻜﺒﻮﺗﻴﺔ ﺍﻹﻧﺘﺮﻧﺖ، ﻛﻤﺎ ﻳﻔﻌﻠﻪ ﺑﻌﺾ ﺍﻹﻋﻼﻣﻴﻴﻦ ﺃﻭ ﺍﻟﻤﺴﺌﻮﻟﻴﻦ ﺃﻭ ﺍﻟﺘﺠﺎﺭ ﺃﻭ ﺍﻟﻮﺟﻬﺎﺀ ﺃﻭ ﺍﻟﺪﻛﺎﺗﺮﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﻠﻮﻡ ﺍﻟﻤﺨﺘﻠﻔﺔ ﺃﻭ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟﻤﻮﺍﻗﻊ ﺍﻹﻟﻜﺘﺮﻭﻧﻴﺔ.

ﺭﺍﺑﻌًﺎ: ﺗﺄﺟﻴﺮ ﺍﻷﻣﺎﻛﻦ ﻟﻬﻢ ﻛﺼﺎﻻﺕ ﺍﻟﺰﻭﺍﺝ ﻭﺍﻻﺳﺘﺮﺍﺣﺎﺕ ﻭﺑﺎﺣﺎﺕ ﺍﻟﻔﻨﺎﺩﻕ ﻭﺍﻟﺨﻴﺎﻡ ﻭﻣﺎ ﺷﺎﺑﻬﻬﺎ، ﻟﻴﻘﻴﻤﻮﺍ ﻓﻴﻬﺎ ﺃﻋﻴﺎﺩﻫﻢ ﺍﻟﺪﻳﻨﻴﺔ ﻭﻳﺤﺘﻔﻠﻮﺍ، ﻭﺣُﺮِّﻡ ﻫﺬﺍ ﻷﻧﻪ ﻳﻌﻴﻨﻬﻢ ﻋﻠﻰ ﻓﻌﻞ ﻣﺎ ﺣﺮﻡ ﺍﻟﻠﻪ، ﻭﻗﺪ ﻧﻬﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻦ ﺫﻟﻚ ﺑﻘﻮﻝ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ: {ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻌَﺎﻭَﻧُﻮﺍ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺈِﺛْﻢِ ﻭَﺍﻟْﻌُﺪْﻭَﺍﻥِ ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪ ﺷَﺪِﻳﺪُ ﺍﻟْﻌِﻘَﺎﺏِ}

Sesungguhnya termasuk perbuatan yang diharamkan dan termasuk kemungkaran yang buruk yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin –semoga Allah memperbaiki keadaan mereka– ketika orang-orang kafir merayakan hari raya keagamaan mereka adalah 4 perkara berikut:

1⃣ Memenuhi undangan orang-orang kafir untuk menghadiri perayaan hari raya keagamaan mereka tersebut. Anda bisa melihat sebagian orang menghadiri acara bersama mereka, ikut bergabung dengan mereka dalam kesenangan dan kegembiraan, mengucapkan selamat kepada mereka, mendoakan keberkahan untuk mereka, dan memberikan hadiah untuk mereka.

2⃣ Mengirim kartu ucapan selamat hari raya mereka, dan terkadang disertai dengan mengirim mawar dan bunga yang lainnya, dan dalam kartu ucapan selamat tersebut disebutkan kata-kata yang terindah serta doa keberkahan dan kebaikan.

3⃣ Mengumumkan ucapan selamat hari raya kepada orang-orang kafir melalui televisi, surat kabar, majalah, atau situs-situs internet, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian wartawan, pejabat, pengusaha, tokoh-tokoh masyarakat, para doktor di berbagai bidang ilmu, atau para pemilik media-media elektronik.

4⃣ Menyewakan tempat untuk mereka, seperti gedung resepsi, tempat peristirahatan, ruangan hotel, tenda, dan yang semisalnya, yang mereka gunakan untuk merayakan hari raya keagamaan mereka. Hal ini diharamkan karena membantu mereka untuk melakukan hal-hal yang diharamkan oleh Allah, dan Allah Ta’ala telah melarang hal tersebut dengan firman-Nya:

ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻌَﺎﻭَﻧُﻮﺍ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺈِﺛْﻢِ ﻭَﺍﻟْﻌُﺪْﻭَﺍﻥ ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺷَﺪِﻳﺪُ ﺍﻟْﻌِﻘَﺎﺏِ.

“Dan janganlah kalian tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan, dan bertakwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” (QS. Al-Maidah: 2)

? Sumber || http://www.alakhdr.com/?p=692

Sumber: http://forumsalafy.net/kemunkaran-kemunkaran-yang-di-lakukan-sebagian-umat-islam-di-hari-raya-agama-lain/

#dakwahIslammagelang #harirayaorangkafir #infoIslammagelang #kajianIslammagelang #orangkafir #RadioIslamMagelang #selamathariraya #ucapanselamathariraya #natal #tahunbaru #mengucapkanselamatnatal #toleransi #murtad

 

Batasan Toleransi

BATASAN TOLERANSI

Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al-Atsari

Toleransi selama ini terbukti cukup ‘sakti’ dan banyak memakan korban dari umat Islam yang memang hidup di tengah masyarakat yang majemuk. Toleransi kerap kali dijadikan sebagai pembenar untuk melegalkan perbedaan dan perselisihan meskipun hal tersebut sudah menyentuh prinsip-prinsip agama. Bagaimana sesungguhnya konsep toleransi dalam Islam?

Perbedaan dan perselisihan adalah perkara yang tercela dalam Islam. Allah subhanahuwata’ala berfirman:

“Yang demikian itu adalah karena Allah telah menurunkan Al Kitab dengan membawa kebenaran, dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih tentang (kebenaran) Al Kitab itu, benar-benar dalam penyimpangan yang jauh.” (Al-Baqarah: 176)

“Manusia itu umat yang satu, (setelah timbul perselisihan) maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan. Dan Allah menurunkan bersama mereka kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (Al-Baqarah: 213)

“Dan Kami berikan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata tentang urusan (agama).  Maka tidaklah mereka berselisih melainkan sesudah datang kepada mereka pengetahuan karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Sesungguhnya Tuhanmu akan memutuskan antara mereka pada hari kiamat terhadap apa yang mereka selalu berselisih padanya.” (Al-Jatsiyah: 17)

Dan ayat-ayat lainnya teramat banyak untuk disebutkan. Meski demikian, perbedaan dan perselisihan adalah tabiat manusia, di samping keduanya adalah perkara yang telah ditaqdirkan Allah subhanahuwata’ala. Allah subhanahuwata’ala berfirman:

“Tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu.” (Hud: 118-119)

Hanya saja kaum muslimin dibebani secara syar’i untuk meluruskan dan menghilangkannya. Allah subhanahuwata’ala berfirman:

“Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (An-Nahl: 64)

Menghadapi kenyataan demikian ini, manusia berbeda-beda di dalam menyikapinya. Ada yang tidak menaruh respek sedikit pun, serta ada yang tidak peduli sama sekali dengan anggapan bahwa “perbedaan dan perselisihan itu adalah rahmat.” Anggapan ini jelas salah, karena di antara perbedaan dan perselisihan itu ada yang menyebabkan pelakunya tercela dan mendapat murka Allah subhanahuwata’ala, seperti perbedaan dan perselisihan dalam hal aqidah, manhaj, bahkan agama – wal ‘iyadzubillah – dan pokok-pokok Islam lainnya.

Ada pula yang berusaha untuk menyembunyikan perbedaan dan perselisihan internal di tengah-tengah kaum muslimin, dengan dalih “itu hanya akan memperkuat posisi musuh”. Tak heran bila kemudian didapati orang-orangnya sangat gemar menyerukan agar saling menghormati, saling memberikan toleransi, mendiamkan penyimpangan-penyimpangan, demi mencapai sebuah persatuan dan kesatuan, sampai-sampai muncul pernyataan bahwa “madzhab-madzhab itu adalah partai dalam fiqih, sedang partai-partai itu adalah madzhab dalam politik.”

Propaganda semacam ini sangat berbahaya, sebab menyembunyikan perbedaan dan perselisihan dengan menampakkan wajah persatuan dan kesatuan adalah cara-cara yang ditempuh kaum al-maghdhubi ‘alaihim wadh dhalliin, di mana Allah telah mensifati mereka dalam firman-Nya:

“Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah-belah.” (Al-Hasyr: 14)

Propaganda ini jelas-jelas ajakan untuk menempuh jalan mereka, yang padahal Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kita agar menyelisihinya, tidak menyerupainya, dan tidak mengikuti jejak-jejaknya.

Para pembaca, tidak diragukan lagi bahwa persatuan adalah hal yang terpuji, bahkan banyak ayat yang memerintahkan bersatu dan melarang berselisih. Allah subhanahuwata’ala berfirman:

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (Ali ‘Imran: 103)

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (Ali ‘Imran: 105)

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka.” (Al-An’am: 159)

“Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama dan apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan ‘Isa, yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah-belah tentangnya.” (Asy-Syura: 13)

Perlu untuk diperhatikan, tidaklah Allah memerintahkan kaum muslimin agar bersatu dengan perintah yang mutlak. Bukanlah maksud bersatu itu memperbanyak jumlah muslimin, namun maksudnya adalah berpegang teguh kepada tali Allah yang kokoh. Jumlah yang banyak  tidaklah bermanfaat bila tidak berpegang teguh kepada tali Allah yang kokoh, bahkan keberadaannya hanya akan memudharatkan. Allah subhanahuwata’ala berfirman:

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (Al-An’am: 116)

“Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman, walaupun kamu sangat menginginkannya.” (Yusuf: 103)

Perbedaan dan perselisihan memang hal yang tidak bisa kita hindari. Namun bukan berarti kemudian kita meninggalkan sikap saling menasehati, memerintah kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar. Karena, kaum muslimin dibebani secara syariat untuk mengusahakan segala hal yang menjadi ketetapan atasnya. Allah subhanahuwata’ala berfirman:

“Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.” (Al-Mu’minun: 52)

“Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.” (Al-Anbiya: 92)

Bahkan perbedaan dan perselisihan yang timbul akibat dari menegakkan nasehat, menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, membela Al-Kitab dan As-Sunnah, penyelisihan terhadap ahlil bid’ah serta orang-orang yang sesat dan menyesatkan, merupakan perbedaan dan perselisihan yang terpuji, tidak tercela sedikitpun karena Allah dan Rasul-Nya memerintahkan untuk memisahkan diri dari mereka itu.

Sebaliknya, adalah kedzaliman yang besar serta pelanggaran yang fatal terhadap agama, bila menyerukan persatuan dalam keadaan berbeda-beda manhaj dan aqidah di mana setiap orang dituntut saling menghormati, mentolerir, dan membiarkan kebid’ahan serta penyimpangan-penyimpangan dengan cara menutup mata dan berpura-pura tidak tahu. Wallahul musta’an.

Inilah sebenarnya yang akan melenyapkan agama dan menghapus kemuliaannya serta kedudukannya. Allah subhanahuwata’ala berfirman:

“Orang-orang kafir Bani Israil telah dilaknati dengan lisan Dawud dan ‘Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (Al-Maidah: 78-79)

Maka perbedaan dan perselisihan adalah dua hal yang tercela dalam agama secara umum namun tidak secara mutlak. Dengan demikian sangatlah penting bagi kita untuk mengetahui batasan-batasan perbedaan dan perselisihan yang boleh dan yang tidak, serta batasan-batasan toleransi di dalamnya.

Perbedaan dan perselisihan ada beberapa macam, di antaranya:

Pertama, perbedaan dan perselisihan dalam pokok-pokok agama, seperti dalam ibadah dan aqidah. Perkara aqidah adalah tauqifiyyah, bukan tempatnya ijtihad, di mana kita wajib berpegang kepada perkara aqidah yang telah Allah syariatkan, tidak boleh mengikutsertakan ra’yu (hasil pemikiran akal, red) dan ijtihad-ijtihad kita.

Begitupun ibadah adalah perkara tauqifiyyah.  Perkara ibadah yang terdapat dalilnya maka kita amalkan dan yang tidak ada dalilnya maka ia adalah bid’ah yang wajib untuk kita meninggalkannya berdasarkan hadits:

“Barangsiapa mengadakan suatu yang baru dalam urusan (agama) kami yang bukan berasal darinya maka tertolak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Juga hadits:

“Jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru (dalam agama), karena tiap perkara baru itu adalah bid’ah dan tiap-tiap bid’ah itu adalah sesat dan setiap kesesatan di neraka.” (HR. At-Tirmidzi, An-Nasai, dan lainnya)

Maka perkara aqidah, ibadah, dan perkara agama secara umum tidak ada tempat untuk berbeda dan berselisih di dalamnya selama-lamanya, akan tetapi mesti mengikuti nash-nash dari Al-Kitab dan As-Sunnah serta apa yang ada pada salaful ummah, generasi terbaik umat ini.
Perbedaan dan perselisihan dalam hal ini tercela dan diharamkan, tidak boleh saling menghormati dan memberikan toleransi, karena pokok-pokok agama bukan tempatnya berijtihad bukan pula tempatnya untuk memunculkan ra’yu.

Kedua, perbedaan dan perselisihan dalam perkara yang mendapat kelapangan untuk berijtihad dari masalah-masalah fiqih dan mengambil kesimpulan hukum dari suatu dalil. Dalam hal ini, perbedaan dan perselisihan terjadi dalam hal ijtihad dan bukan dalam hal aqidah, tidak ada pengingkaran di dalamnya dengan syarat setiap orang menjauhi ta’ashshub dan menjauhkan diri mengikuti hawa nafsu. Namun jika telah nampak suatu dalil, maka wajib untuk mengikutinya dan meninggalkan apa-apa yang tidak dibangun di atas dalil.

Ketiga, perbedaan dan perselisihan sebagian fuqaha dalam hal furu’ yang telah dijelaskan dan didatangkan semuanya oleh syariat. Perbedaan dan perselisihan dalam hal ini tidaklah membahayakan, bahkan merupakan bagian dari agama, seperti perbedaan dalam sifat adzan, jenis-jenis doa istiftah, dan yang lainnya.

Perbedaan dan perselisihan inilah yang tidak tercela. Dalam perbedaan ini, setiap orang mendapat kelapangan dan dapat saling memberikan toleransi kepada yang lainnya.
Wal ‘ilmu ‘indallah.

Sumber bacaan:

  • Syarh Al-Ushul As-Sittah
  • Syarh Masail Al-Jahiliyyah
  • Sumber-sumber lainnya

Sumber: Majalah Asy Syariah

Sumber: http://forumsalafy.net/batasan-toleransi/

#dakwahIslammagelang #harirayaorangkafir #infoIslammagelang #kajianIslammagelang #orangkafir #RadioIslamMagelang #selamathariraya #ucapanselamathariraya #natal #tahunbaru #mengucapkanselamatnatal #batasan #toleransi

Ketika Orang Islam Telah Meniru Orang Kafir

KETIKA ORANG ISLAM TELAH MENIRU ORANG KAFIR

Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman

Islam dengan konsep, aturan, dan jalannya telah meletakkan jurang pemisah antara kekafiran dan keimanan, kesyirikan dan ketauhidan, kebatilan dan kebenaran, kebid’ahan dan sunnah. Jurang pemisah ini sesungguhnya menjadi ujian besar bagi manusia dalam hidup. Maukah mereka tunduk pada aturan itu atau mereka lebih memilih kebebasan dari semua tuntutan itu? Islam, sebagai agama yang telah disempurnakan, menjunjung tinggi nilai-nilai ketinggian dan kesakralan, melindungi kehormatan, darah, dan harta benda manusia. Islam sebagai agama yang penuh kasih sayang mengajak orang-orang kafir untuk meninggalkan agama mereka dan masuk ke dalam Islam. Islam pun mengobarkan peperangan kepada siapa pun yang menolak dan memeranginya. Jurang pemisah ini menjadi lampu merah bagi kaum muslimin dan mukminin agar tidak meniru gaya hidup orangorang kafir, musyrik, dan ahlul batil.

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka). Janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (al- Hadid: 16)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan, Kalimat: Dan jangan mereka seperti ahli kitab, ini adalah larangan yang bersifat mutlak dalam hal meniru mereka. Ayat ini lebih khusus menekankan larangan menyerupai mereka dalam hal kekerasan hati. Kerasnya hati adalah salah satu buah kemaksiatan.” (Iqtidha’ ash-Shirathil Mustaqim hlm. 81)

Berita yang Pasti, Umat Ini Pasti Meniru Mereka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberitakan,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ، الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ فَمَنْ؟

“Sungguh, kalian akan mengikuti langkah orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, dan sehasta demi sehasta. Kalaupun mereka menempuh jalur lubang dhabb (binatang sejenis biawak), niscaya kalian akan menempuhnya.” Kami mengatakan, “Ya Rasulullah, apakah jalan orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab, “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR. al-Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 4822 dari sahabat Abu Sa’id al- Khudri radhiyallahu ‘anhu)

Di dalam riwayat hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallambersabda,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِي بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ. فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، كَفَارِسَ وَالرُّومِ؟ فَقَالَ: وَمَنِّ النَّاسُ إِلَّا أُولَئِكَ؟

“Tidak akan terjadi hari kiamat, hingga umatku mengambil langkah generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, dan sehasta demi sehasta.” Lalu dikatakan kepada beliau, “Ya Rasulullah, apakah bangsa Persi dan Romawi?” Beliau bersabda, “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR. al-Bukhari no. 6774)

Berita dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ini sesungguhnya sebagai pemberitahuan akan terjadinya sikap meniru orang kafir dalam semua lini kehidupan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan, “Berita ini menggambarkan sebuah kenyataan yang akan terjadisekaligus sebagai celaan atas orang yang mengerjakannya. Beliau pun memberitakan apa yang akan dilakukan oleh manusia mendekati hari kiamat, berupa tanda-tanda kedatangannya berikut segala perkara yang diharamkan. Maka dari itu, diketahui bahwa Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya n mencela umat ini apabila menyerupai Yahudi, Nasrani, Persi, dan Romawi. Inilah faedah yang dicari.” (Iqtidha’ ash-Shirathil Mustaqim hlm. 44)

Allah Subhanahu wata’ala telah melarang keras kaum muslimin meniru mereka, sebagaimanafirman-Nya,

وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ {} مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

“Dan janganlah kalian seperti orang musyrik. Orang-orang yang telah memecah belah agama mereka sehingga mereka berkeping-keping dan setiap kelompok menyombongkan diri atas yang lain.” (ar-Rum: 31—32)

Bahkan, Allah  Subhanahu wata’ala memerintahkan kita untuk berdoa agar tidak termasuk golongan mereka dalam banyak ayat. Di antaranya,

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ {} صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

“Tunjukilah kami ke jalan Engkau yang lurus. Jalan orang-orang yang Engkau telah beri nikmat atas mereka dan bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan sesatkan.” (al- Fatihah: 6—7)

Suri Teladan dari Dua Khalilullah

Teladan hidup, sungguh sangat dibutuhkan setiap saat, lebih-lebih ketika dilanda krisis keteladanan. Tentu saja teladan yang tidak mengecewakan kita. Tentu pula teladan itu adalah orang-orang yang terdidik, suci dan bersih, terbaik, terhormat, orang yang jujur, amanah, bertakwa kepada Allah  Subhanahu wata’ala, taat beribadah kepada Allah  Subhanahu wata’ala, serta memiliki sifat-sifat mulia dan agung lainnya. Apakah ada pendidikan yang lebih tinggi daripada pendidikan Allah  Subhanahu wata’ala melalui wahyu-Nya? Adakah orang yang lebih baik dari utusan dan kepercayaan Allah  Subhanahu wata’ala dalam hal mengemban amanat risalah-Nya? Adakah yang paling lurus hidupnya daripada orang yang telah didekatkan oleh Allah  Subhanahu wata’ala kepada-Nya? Adakah orang yang lebih selamat daripada seseorang yang telah dipilih oleh Allah  Subhanahu wata’ala untuk menapaki jalan-Nya sekaligus sebagai imam dalam hal ini? Adakah yang lebih jujur, amanah, dan lebih takut kepada Allah  Subhanahu wata’ala selain para nabi dan rasul? Tentu kita akan memberikan jawaban, “Tidak ada.”

Oleh karena itu, dalam al-Qur’an Allah  Subhanahu wata’ala sering menampilkan sosok manusia yang bisa dijadikan teladan di dalam hidup, teladan yang tidak akan mengecewakan. Mereka adalah orang-orang yang telah teruji dalam segala kondisi. Mereka telah berjuang dengan segala kemampuan, siang dan malam, tanpa mengenal lelah dan patah semangat. Mereka telah berkorban dengan segala yang dimilikinya, tanpa mengharapkan imbalan dari manusia sedikit pun. Mereka hanya mengejar ridha Allah  Subhanahu wata’ala yang mengutus mereka. Allah l telah menceritakan sosok Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, Nabi Muhammad, dan nabi-nabi yang lain. As-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Tidaklah setiap orang bisa menjadikan mereka teladan. Yang mendapatkan kemudahan untuk meneladani mereka adalah orang yang mengharapkan Allah  Subhanahu wata’ala dan ganjaran pada hari akhirat. Keimanan dan harapan akan pahala akan memudahkan setiap hamba menghadapi segala kesulitan dan mengurangi beban hidup yang banyak. Selain itu, keimanan akan mendorong untuk meneladani hamba-hamba Allah  Subhanahu wata’alayang saleh, para nabi dan rasul. Dia pun akan melihat dirinya sangat membutuhkannya.” (Tafsir as-Sa’di hlm. 794)

Dalam bersikap terhadap orang kafir, Allah  Subhanahu wata’ala telah menceritakan di dalam al-Qur’an sikap dua khalil-Nya agar kita meneladani mereka berdua.

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya ketika mereka berkata kepada kaum mereka, “Sesungguhnya Kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah. Kami ingkari (kekafiran)mu serta telah nyata antara Kami dengan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (al-Mumtahanah: 4)

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ {} لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ {} وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ {} وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ {} وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ {} لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

Katakanlah, “Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Ilah (sesembahan) yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Ilah yang aku sembah. Untukmu agamamu dan untukkulah agamaku.” (al-Kafirun: 1—6)

Karena Kebodohan, Meniru Mereka

Kebodohan adalah penyakit kronis, bagaikan tong sampah yang akan menampung segala kotoran dan najis. Tidaklah mengherankan jika mereka diumpamakan bagai orang-orang yang tuli lagi buta. Apa yang bisa dilakukan dan apa yang bisa diperbuat? Tidaklah mengherankan jika di hadapan orang-orang jahil, yang benar menjadi salah dan yang salah menjadi benar, yang haq menjadi batil dan yang batil menjadi haq. Tidak pula mengherankan pula jika kaum muslimin meniru orang-orang kafir dalam semua lini kehidupan. Mulai dari perkara yang kecil sampai kepada yang besar, mulai dari masalah pakaian sampai kepada masalah keyakinan dan ibadah. Bahkan, kebodohan ini sering mendatangkan malapetaka bagi dirinya dan buat orang lain.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bercerita dalam hadits yang dikeluarkan oleh al-Imam al-Bukhari rahimahullah dan Muslim rahimahullahdari sahabat Abu Sa’id al- Khudri radhiyallahu ‘anhu tentang seseorang yang telah membunuh 99 jiwa. Karena kejahilannya tentang pintu tobat, dia mencari seseorang yang akan bisa membimbing dirinya keluar dari lumuran dosa tersebut. Bertemulah dia dengan seorang pendeta. Ia pun mengutarakan hajatnya dan menceritakan dosa yang telah diperbuatnya. Dengan kejahilan, sang pendeta memberitahukan bahwa pintu tobat sudah tertutup baginya. Dengan spontan, jiwa sang pendeta melayang di tangannya, sekaligus menggenapkan bilangan yang ganjil, dari 99 menjadi 100. Sungguh karena ketidaktahuan itu, telah terenggut nyawa seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Mengetahui hal itu, beliau marah dengan kemarahan yang sangat. Abdullah ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bercerita tentang peristiwa tersebut,

ثُمَّ n أَصَابَ رَجُلاً جُرْحٌ فِي عَهْدِ رَسُولُ اللهِ احْتَلَمَ، فَأُمِرَ بِالْاِغْتِسَالِ، فَاغْتَسَلَ، فَمَاتَ، فَبَلَغَ فَقَالَ: قَتَلُوهُ؛ قَاتَلَهُمُ اللهُ،  ذَلِكَ رَسُولَ اللهِ أَلَمْ يَكُنْ شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالَ؟

“Di masa Rasulullah , ada seseorang terluka, lalu dia bermimpi (janabah). Kemudian dia diperintahkan untuk mandi lantas dia pun mandi. Karena itu, dia meninggal dunia. Sampailah berita tersebut kepada Rasulullah lalu beliau bersabda, ‘Mereka telah membunuhnya dan semoga Allah lmemerangi mereka. Bukankah obat tidak tahu itu adalah bertanya?” (HR. Abu Dawud no. 285)

Asy – Syaikh al – Albani rahimahullah mengatakan, “Haditsnya hasan dan diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban rahimahumallah dalam Shahih keduanya.” (Lihat Shahih Sunan Abu Daud no. 365)

Hukum Meniru Orang Kafir

Saudaraku, kita masih mengingat pembahasan al-wala’ dan al-bara’ dalam hukum agama dalamAsy-Syari’ah Vol. Vl/No. 68/1432 H/2011. Tergambar di dalamnya bentuk-bentuk loyalitas seorang muslim terhadap orangorang kafir. Ternyata, tidak hanya dalam hal ideologi semata, tetapi dalam hal muamalah dengan mereka yang keluar dari tuntunan agama. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyahrahimahullah ketika membawakan hadits,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barang siapa menyerupai suatu kaum, dia termasuk dari mereka.”

Setelah menjelaskan kondisi para perawi haditsnya, beliau mengatakan, “Hukum yang paling ringan (dalam meniru orang kafir) di dalam hadits ini adalah keharaman, kendatipun lahiriah haditsnya menunjukkan kafirnya orang yang menyerupai mereka, sebagaimana firman Allah  Subhanahu wata’ala,

وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ۗ

“Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.” (al-Maidah: 51)

Ini semakna dengan ucapan Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, “Barang siapa tinggal di negeri kaum musyrikin dan melakukan hari ulang tahun mereka, pesta besar mereka, dan meniru mereka sampai meninggal dunia, dia akan dibangkitkan bersama mereka pada hari kiamat.” Terkadang, hal ini dibawa kepada hukum tasyabuh yang bersifat mutlak, yaitu tasyabuh yang menyebabkan seseorang kafir dan sebagiannya mengandung hukum haram. Bisa juga dibawa pada makna bahwa dia seperti mereka sebatas apa yang dia tiru. Jika yang dia tiru itu dalam hal kekafiran (dia menjadi kafir, -pen.), dan jika maksiat, (ia telah bermaksiat). Jika dalam hal syiar kekufuran mereka atau syiar kemaksiatan mereka, hukumnya semisal itu.” (Lihat al-Iqtidha hlm. 82—83)

Kita juga telah mengetahui bahwa hukum-hukum dalam agama tidak keluar dari lima hal. Ibnu Qayyim t menjelaskan, “Hukum-hukum yang terkait dengan ubudiyah itu ada lima, yaitu wajib, mustahab, haram, makruh, dan mubah.” (Madarijus Salikin 1/109) Telah dijelaskan di atas tentang haramnya meniru orang kafir secara mutlak. Namun, ada pembolehan, yakni jika hal yang akan kita tiru tersebut tidak ada sangkut pautnya dengan urusan agama dan keyakinan, serta tidak ada kaitannya dengan ciri khas dan adat istiadat mereka. Hal itu bukan perilaku dan kebiasaan mereka, melainkan sebatas ursan dunia yang tidak ada keharaman padanya. Yang seperti ini dibolehkan. Misalnya, orang-orang kafir bisa membuat motor, mobil, pesawat, atau peranti teknologi lain yang hukumnya secara zat tidak haram, lalu kaum muslimin menirunya. Hal ini tidak mengapa.

Akibat Meniru Mereka

Tidaklah tersembunyi bagi setiap muslim bahwa orang-orang kafir itu adalah musuh Allah Subhanahu wata’ala, para rasul, dan kaum mukminin. Mereka adalah manusia yang telah menyandang predikat-predikat yang buruk, jelek, dan keji dari Allah  Subhanahu wata’ala. Mereka adalah manusia yang berada dalam taraf makhluk yang paling rendah, hina, tercela, terburuk, dan terkutuk, yang binatang ternak yang tidak berakal lebih baik dari mereka.

أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

“Mereka bagaikan binatang ternak, bahkan lebih jelek dari itu. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”(al-A’raf: 179)

إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ ۖ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا

“Tiadalah mereka itu melainkan seperti binatang ternak dan bahkan mereka lebih jelek jalannya.”(al-Furqan: 44)

وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ اعْتَدَوْا مِنكُمْ فِي السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ

“Sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka, ‘Jadilah kamu kera yang hina’.” (al-Baqarah: 65)

فَلَمَّا عَتَوْا عَن مَّا نُهُوا عَنْهُ قُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ

Tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang mereka dilarang mengerjakannya, Kami katakan kepadanya, “Jadilah kamu kera yang hina.” (al-A’raf: 166)

قُلْ هَلْ أُنَبِّئُكُم بِشَرٍّ مِّن ذَٰلِكَ مَثُوبَةً عِندَ اللَّهِ ۚ مَن لَّعَنَهُ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ وَعَبَدَ الطَّاغُوتَ ۚ أُولَٰئِكَ شَرٌّ مَّكَانًا وَأَضَلُّ عَن سَوَاءِ السَّبِيلِ

Katakanlah, “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orangorang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut?” Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus. (al-Maidah: 60)

Kerendahan dan kehinaan hidup— kendatipun mereka orang yang paling kaya, paling tinggi kedudukan dan pangkatnya, dan bisa jadi paling kuat— adalah stempel yang tidak akan berubah, cap yang terus melekat, tidak akan hilang dan sirna. Allah  Subhanahu wata’ala telah menghancurkan dan membinasakan mereka ketika mereka menantang kekuasaan Allah  Subhanahu wata’ala, yaitu saat mereka menolak dan ingkar terhadap syariat yang dibawa oleh para nabi dan rasul. Allah  Subhanahu wata’ala juga telah mempersiapkan pintu kehancuran dan kebinasaan untuk mereka, di dunia dan di akhirat. Setelah ini semua, pantaskah seseorang yang beriman kepada Allah  Subhanahu wata’ala, para rasul-Nya, dan hari kiamat, meneladani, meniru, dan mencontoh mereka? Adakah akal dan hati jika seorang yang beriman meniru gaya hidup binatang yang tidak berakal, bahkan lebih jelek dari binatang ternak? Adakah pintu bagi orang-orang beriman untuk masuk lalu hidup bermesraan bersama orang-orang yang rendah, hina, jelek, keji, dan terkutuk? Pantaskah orang-orang yang beriman mengangkat orang yang divonis sebagai musuh AllahSubhanahu wata’ala, Rasul-Nya, dan mereka sendiri sebagai figur hidupnya? Jika ada orang yang mengaku beriman meniru mereka, ini berarti sebuah keputusan hidup yang akan melemparkan dirinya ke jurang kehancuran dan kebinasaan, sebagaimana hancur dan binasanya mereka. Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber: Majalah Asy Syariah Online

Sumber: http://forumsalafy.net/ketika-orang-islam-telah-meniru-orang-kafir/

 

#dakwahIslammagelang #harirayaorangkafir #infoIslammagelang #kajianIslammagelang #meniru orangkafir #orangkafir #RadioIslamMagelang #selamathariraya #ucapanselamathariraya #natal #tahunbaru #mengucapkanselamatnatal #batasan #toleransi #murtad

WASPADAI PEMURTADAN DI BALIK SLOGAN TOLERANSI

WASPADAI PEMURTADAN TANPA SADAR DI BALIK SLOGAN “TOLERANSI”

Asy-Syaikh Abdul Qadir bin Muhammad al-Junaid hafizhahullah

ﻻ ﺭﻳﺐ ﺃﻥ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭ ﺑﺠﻤﻴﻊ ﻣﻠﻠﻬﻢ ﻳﺒﻐﻀﻮﻥ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﻭﺃﻫﻠﻪ ﻭﻳﻌﺎﺩﻭﻧﻬﻢ، ﻭﻳﺴﻌﻮﻥ ﻹﺿﻌﺎﻓﻬﻢ ﻭﺗﻤﺰﻳﻘﻬﻢ، ﻭﺇﻃﻔﺎﺀ ﻧﻮﺭ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﻭﺣﺠﺒﻪ ﻋﻦ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩ.

ﻭﻗﺪ ﺩﻟﻨﺎ ﻋﻠﻰ ﻫﺬﺍ، ﻭﺃﺧﺒﺮﻧﺎ ﺑﻪ ﺭﺑﻨﺎ –ﻋﺰ ﻭﺟﻞ– ﺍﻟﺬﻱ ﺧﻠﻘﻨﺎ ﻭﺧﻠﻘﻬﻢ، ﻭﻫﻮ ﺃﺩﺭﻯ ﺑﻨﺎ ﻭﺑﻬﻢ ﻣﻦ ﻛﻞ ﺃﺣﺪ، ﻭﺃﻋﺮﻑ ﺑﻈﻮﺍﻫﺮ ﺍﻟﺠﻤﻴﻊ ﻭﺑﻮﺍﻃﻨﻬﻢ، ﻓﻘﺎﻝ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ: {ﻭَﺩُّﻭﺍ ﻟَﻮْ ﺗَﻜْﻔُﺮُﻭﻥَ ﻛَﻤَﺎ ﻛَﻔَﺮُﻭﺍ ﻓَﺘَﻜُﻮﻧُﻮﻥَ ﺳَﻮَﺍﺀً}

ﻭﻗﺎﻝ ﺗﻌﺎﻟﻰ: {ﻭَﺩَّ ﻛَﺜِﻴﺮٌ ﻣِﻦْ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻟَﻮْ ﻳَﺮُﺩُّﻭﻧَﻜُﻢْ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِ ﺇِﻳﻤَﺎﻧِﻜُﻢْ ﻛُﻔَّﺎﺭًﺍ ﺣَﺴَﺪًﺍ ﻣِﻦْ ﻋِﻨْﺪِ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻬِﻢْ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِ ﻣَﺎ ﺗَﺒَﻴَّﻦَ ﻟَﻬُﻢُ ﺍﻟْﺤَﻖُّ}

ﻭﻗﺎﻝ ﺟﻞ ﻭﻋﻼ: {ﻣَﺎ ﻳَﻮَﺩُّ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻛَﻔَﺮُﻭﺍ ﻣِﻦْ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻭَﻟَﺎ ﺍﻟْﻤُﺸْﺮِﻛِﻴﻦَ ﺃَﻥْ ﻳُﻨَﺰَّﻝَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻣِﻦْ ﺧَﻴْﺮٍ ﻣِﻦْ ﺭَﺑِّﻜُﻢْ ﻭَﺍﻟﻠﻪ ﻳَﺨْﺘَﺺُّ ﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻪِ ﻣَﻦْ ﻳَﺸَﺎﺀُ ﻭَﺍﻟﻠﻪ ﺫُﻭ ﺍﻟْﻔَﻀْﻞِ ﺍﻟْﻌَﻈِﻴﻢِ}

ﻭﻗﺎﻝ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ: {ﻗُﻞْ ﻳَﺎ ﺃَﻫْﻞَ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻟِﻢَ ﺗَﺼُﺪُّﻭﻥَ ﻋَﻦْ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠﻪ ﻣَﻦْ ﺁﻣَﻦَ ﺗَﺒْﻐُﻮﻧَﻬَﺎ ﻋِﻮَﺟًﺎ ﻭَﺃَﻧْﺘُﻢْ ﺷُﻬَﺪَﺍﺀُ ﻭَﻣَﺎ ﺍﻟﻠﻪ ﺑِﻐَﺎﻓِﻞٍ ﻋَﻤَّﺎ ﺗَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺇِﻥْ ﺗُﻄِﻴﻌُﻮﺍ ﻓَﺮِﻳﻘًﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺃُﻭﺗُﻮﺍ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏَ ﻳَﺮُﺩُّﻭﻛُﻢْ ﺑَﻌْﺪَ ﺇِﻳﻤَﺎﻧِﻜُﻢْ ﻛَﺎﻓِﺮِﻳﻦَ}

ﻭﻗﺎﻝ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ: {ﻳُﺮِﻳﺪُﻭﻥَ ﺃَﻥْ ﻳُﻄْﻔِﺌُﻮﺍ ﻧُﻮﺭَ ﺍﻟﻠﻪ ﺑِﺄَﻓْﻮَﺍﻫِﻬِﻢْ ﻭَﻳَﺄْﺑَﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺇِﻟَّﺎ ﺃَﻥْ ﻳُﺘِﻢَّ ﻧُﻮﺭَﻩُ ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺮِﻩَ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮُﻭﻥَ ﻫُﻮَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺃَﺭْﺳَﻞَ ﺭَﺳُﻮﻟَﻪُ ﺑِﺎﻟْﻬُﺪَﻯ ﻭَﺩِﻳﻦِ ﺍﻟْﺤَﻖِّ ﻟِﻴُﻈْﻬِﺮَﻩُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺪِّﻳﻦِ ﻛُﻠِّﻪِ ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺮِﻩَ ﺍﻟْﻤُﺸْﺮِﻛُﻮﻥَ}

Tidak diragukan lagi bahwa sesungguhnya orang-orang kafir apapun agamanya, mereka membenci Islam dan umat Islam, memusuhi mereka, berusaha melemahkan dan memecah belah mereka, dan memadamkan cahaya Islam serta menutupinya dari hamba-hamba Allah.

Hal ini sungguh telah ditunjukkan dan dikabarkan kepada kita oleh Rabb kita –Azza wa Jalla– yang telah menciptakan kita dan mereka, dan tentu Dia yang paling mengetahui keadaan kita dan mereka dibandingkan siapapun, dan yang paling mengetahui lahir dan bathin semua pihak. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ﻭَﺩُّﻭﺍ ﻟَﻮْ ﺗَﻜْﻔُﺮُﻭﻥَ ﻛَﻤَﺎ ﻛَﻔَﺮُﻭﺍ ﻓَﺘَﻜُﻮﻧُﻮﻥَ ﺳَﻮَﺍﺀً.

“Mereka (orang-orang kafir) sangat ingin agar kalian menjadi kafir sebagaimana mereka telah kafir, sehingga kalian sama seperti mereka.” (QS. An-Nisa’: 89)

Juga firman-Nya:

ﻭَﺩَّ ﻛَﺜِﻴﺮٌ ﻣِّﻦْ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻟَﻮْ ﻳَﺮُﺩُّﻭﻧَﻜُﻢ ﻣِّﻦ ﺑَﻌْﺪِ ﺇِﻳﻤَﺎﻧِﻜُﻢْ ﻛُﻔَّﺎﺭًﺍ ﺣَﺴَﺪًﺍ ﻣِّﻦْ ﻋِﻨﺪِ ﺃَﻧﻔُﺴِﻬِﻢ ﻣِّﻦ ﺑَﻌْﺪِ ﻣَﺎ ﺗَﺒَﻴَّﻦَ ﻟَﻬُﻢُ ﺍﻟْﺤَﻖُّ.

“Banyak dari ahli kitab yang sangat ingin agar mereka bisa menjadikan kalian murtad setelah keimanan kalian, karena kedengkian dari diri mereka setelah kebenaran mereka ketahui dengan jelas.” (QS. Al-Baqarah: 109)

Juga firman-Nya:

ﻣَﺎ ﻳَﻮَﺩُّ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻛَﻔَﺮُﻭﺍ ﻣِﻦْ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻭَﻟَﺎ ﺍﻟْﻤُﺸْﺮِﻛِﻴﻦَ ﺃَﻥْ ﻳُﻨَﺰَّﻝَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻣِﻦْ ﺧَﻴْﺮٍ ﻣِﻦْ ﺭَﺑِّﻜُﻢْ ﻭَﺍﻟﻠﻪ ﻳَﺨْﺘَﺺُّ ﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻪِ ﻣَﻦْ ﻳَﺸَﺎﺀُ ﻭَﺍﻟﻠﻪ ﺫُﻭ ﺍﻟْﻔَﻀْﻞِ ﺍﻟْﻌَﻈِﻴﻢِ.

“Orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab dan orang-orang musyrik sangat tidak ingin diturunkannya wahyu dari Rabb kalian, namun Allah mengaruniakan rahmat-Nya khusus kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memiliki keutamaan yang besar.” (QS. Al-Baqarah: 105)

Juga firman-Nya:

ﻗُﻞْ ﻳَﺎ ﺃَﻫْﻞَ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻟِﻢَ ﺗَﺼُﺪُّﻭﻥَ ﻋَﻦْ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠﻪ ﻣَﻦْ ﺁﻣَﻦَ ﺗَﺒْﻐُﻮﻧَﻬَﺎ ﻋِﻮَﺟًﺎ ﻭَﺃَﻧْﺘُﻢْ ﺷُﻬَﺪَﺍﺀُ ﻭَﻣَﺎ ﺍﻟﻠﻪ ﺑِﻐَﺎﻓِﻞٍ ﻋَﻤَّﺎ ﺗَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ. ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺇِﻥْ ﺗُﻄِﻴﻌُﻮﺍ ﻓَﺮِﻳﻘًﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺃُﻭﺗُﻮﺍ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏَ ﻳَﺮُﺩُّﻭﻛُﻢْ ﺑَﻌْﺪَ ﺇِﻳﻤَﺎﻧِﻜُﻢْ ﻛَﺎﻓِﺮِﻳﻦ.

“Katakanlah: wahai ahli kitab, kenapa kalian menghalangi orang yang beriman dari jalan Allah dan mengharapkan jalan Allah menjadi bengkok, padahal kalian menjadi saksi atas kebenarannya, dan Allah tidak lalai terhadap apa saja yang kalian perbuat. Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menuruti sebagian orang-orang yang diberi al-kitab, pasti mereka akan mengembalikan kalian menjadi kafir setelah keimanan kalian.” (QS. Ali Imran: 99-100)

? Sumber || http://www.alakhdr.com/?p=692

Sumber: http://forumsalafy.net/waspadai-pemurtadan-di-balik-slogan-toleransi/

 

#dakwahIslammagelang #harirayaorangkafir #infoIslammagelang #kajianIslammagelang #orangkafir #RadioIslamMagelang #selamathariraya #ucapanselamathariraya #natal #tahunbaru #mengucapkanselamatnatal #waspada #toleransi #murtad

MEMBENCI ORANG-ORANG KAFIR BUKAN BERARTI BOLEH BERBUAT JAHAT TERHADAP MEREKA

MEMBECI ORANG-ORANG KAFIR BUKAN BERARTI BOLEH BERBUAT JAHAT TERHADAP MEREKA

Asy-Syaikh Abdul Qadir bin Muhammad al-Junaid hafizhahullah

ﺇﻥ ﺑﻐﻀﻨﺎ ﻟﻠﻜﻔﺮ ﻭﺃﻫﻠﻪ ﻭﺩﻋﺎﺗﻪ ﻻ ﻳُﺒﻴﺢ ﻟﻨﺎ ﺃﻥْ ﻧﻌﺘﺪﻱ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻓﻲ ﺑﻼﺩﻧﺎ ﺃﻭ ﻋﻠﻰ ﺃﻣﻮﺍﻟﻬﻢ ﺃﻭ ﻋﻠﻰ ﺃﻋﺮﺍﺿﻬﻢ، ﻷﻧﻬﻢ ﺩﺧﻠﻮﻫﺎ ﻭﺃﻗﺎﻣﻮﺍ ﻓﻴﻬﺎ ﺑﻌﻬﺪ ﻭﺃﻣﺎﻥ، ﺃﻭ ﺃﻥْ ﻧُﺤْﺪِﺙ ﻓﻲ ﺑﻼﺩﻫﻢ ﺇﻥْ ﺳﺎﻓﺮﻧﺎ ﺇﻟﻴﻬﺎ ﺃﻭ ﻋﺸﻨﺎ ﻓﻴﻬﺎ ﻣﺎ ﻻ ﻳﺤﻞ ﻟﻨﺎ، ﻷﻧﻨﺎ ﺩﺧﻠﻨﺎﻫﺎ ﺃﻭ ﺳﻜﻨﺎﻫﺎ ﺑﻌﻬﺪ ﻭﻣﻴﺜﺎﻕ، ﻛﻤﺎ ﻫﻮ ﺣﺎﻝ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺎﺕ ﺍﻟﺘﻜﻔﻴﺮﻳﺔ ﺍﻟﻤﻌﺎﺻﺮﺓ، ﺣﻴﺚ ﺍﺭﺗﻜﺒﻮﺍ ﻓﻲ ﺣﻘﻬﻢ ﻣﺎ ﺣﺮﻣﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ، ﻛﻘﺘﻠﻬﻢ ﻟﻠﻜﻔﺎﺭ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻓﻲ ﺑﻼﺩ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻣﻤﻦ ﺩﺧﻞ ﺇﻟﻴﻬﺎ ﺑﻌﻬﺪ ﻭﺃﻣﺎﻥ ﻣﻦ ﻗِﺒﻞ ﻭﻟﻲ ﺍﻷﻣﺮ ﺃﻭ ﺃﻱّ ﻓﺮﺩ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺍﻟﻤﻜﻠﻔﻴﻦ ﻣﻦ ﺍﻟﺬﻛﻮﺭ ﻭﺍﻹﻧﺎﺙ، ﺃﻭ ﺍﻋﺘﺪﺍﺋﻬﻢ ﻋﻠﻰ ﺃﻣﻮﺍﻟﻬﻢ ﻭﺃﻋﺮﺍﺿﻬﻢ، ﻭﻛﺬﻟﻚ ﻏﺪﺭﻫﻢ ﻭﻧﻘﻀﻬﻢ ﻟﻠﻌﻬﻮﺩ ﻭﺍﻟﻤﻮﺍﺛﻴﻖ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﺴﻔﺮ ﺇﻟﻰ ﺑﻼﺩﻫﻢ ﺃﻭ ﺍﻟﻌﻴﺶ ﻓﻴﻬﺎ ﺑﺄﻥ ﻻ ﻳُﺤﺪﺛﻮﺍ ﻓﻴﻬﺎ ﻣﺎ ﻫﻮ ﺷﺮ ﻭﺿﺮﺭ، ﺣﻴﺚ ﻓﺠﺮﻭﺍ ﻓﻴﻬﺎ، ﻭﻗﺘﻠﻮﺍ ﺍﻟﺮﺟﺎﻝ ﻭﺍﻟﻨﺴﺎﺀ ﻭﺍﻷﻃﻔﺎﻝ ﻭﺍﻟﺸﻴﻮﺥ، ﻭﺃﺗﻠﻔﻮﺍ ﺍﻷﻣﻮﺍﻝ ﻭﺍﻟﻤﻤﺘﻠﻜﺎﺕ، ﻭﺭﻭَّﻋﻮﺍ ﺍﻟﺴُّﻜﺎﻥ ﻭﺍﻟﻌﻤﺎﻝ ﻭﺍﻟﻤﺎﺭَّﺓ.

ﻭﻻ ﺭﻳﺐ ﺃﻥ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺍﻟﻤﺴﺘﻤﺴﻜﻴﻦ ﺑﺪﻳﻨﻬﻢ ﻻ ﻳﺮﺿﻮﺍ ﺑﻔﻌﺎﻟﻬﻢ ﻫﺬﻩ، ﻟﻤﺨﺎﻟﻔﺘﻬﺎ ﻟﺸﺮﻉ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ، ﻭﻳﻨﻜﺮﻭﻧﻬﺎ ﻋﻠﻰ ﻛﻞ ﻣﻦ ﻓﻌﻠﻬﺎ، ﻭﻳﺒﺮﺋﻮﻥ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻨﻬﺎ ﻭﻣﻨﻬﻢ، ﻭﻳﺒﻴِّﻨﻮﻥ ﺑﻘﺪﺭ ﺍﺳﺘﻄﺎﻋﺘﻬﻢ ﻣﺨﺎﻟﻔﺘﻬﺎ ﻭﻣﺨﺎﻟﻔﺔ ﻣﺮﺗﻜﺒﻴﻬﺎ ﻟﻨﺼﻮﺹ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻭﺍﻟﺴﻨﺔ ﺍﻟﺼﺤﻴﺤﺔ، ﻭﺃﻧﻬﻢ ﻏﺎﺩﺭﻭﻥ ﻭﻣﻌﺘﺪﻭﻥ ﻇﻠﻤﺔ.

Sesungguhnya kebencian kita terhadap kekafiran dan orang-orangnya serta para penyerunya tidaklah membolehkan bagi kita untuk berbuat jahat terhadap mereka di negeri kita, atau terhadap harta mereka, atau terhadap kehormatan mereka, karena mereka masuk dan tinggal negeri kita dengan perjanjian dan jaminan keamanan.

Demikian juga tidak boleh bagi kita untuk melakukan hal-hal yang tidak halal bagi kita jika kita safar atau tinggal di negeri mereka, karena kita masuk dan tinggal di sana dengan perjanjian, sebagaimana keadaan kelompok-kelompok takfir di masa ini dengan melakukan hal-hal yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya, seperti dengan membunuh orang-orang kafir yang masuk ke negeri-negeri kaum muslimin dengan jaminan keamanan dari pemerintah ataupun dari individu seorang muslim baik pria maupun wanita yang mukallaf (dibebani syari’at), atau dengan cara berbuat jahat terhadap harta dan kehormatan mereka, demikian juga dengan cara berkhianat dan melanggar perjanjian dengan mereka untuk tidak melakukan hal-hal yang jahat dan membahayakan ketika safar atau tinggal di negeri mereka, seperti dengan melakukan pengeboman dan membunuh para pria, wanita, anak-anak, dan orang-orang tua, merusak harta dan apa-apa yang mereka miliki, dan menakut-nakuti penduduk, pekerja, dan orang-orang yang lewat.

Dan tidak diragukan lagi bahwa kaum muslimin yang berpegang teguh dengan agama mereka tidak akan ridha dengan kelakuan buruk kelompok-kelompok tersebut, karena itu menyelisihi syari’at Allah, dan mereka mengingkari siapa saja yang melakukannya, berlepas diri darinya dan dari orang-orang yang melakukannya, dan menjelaskan semampu mereka bahwa tindakan-tindakan itu dan para pelakunya menyelisihi dalil-dalil yang jelas dari al-Qur’an dan as-Sunnah yang shahih, dan mereka adalah orang-orang yang melanggar perjanjian, jahat, dan zhalim.

? Sumber || http://www.alakhdr.com/?p=692

Sumber: http://forumsalafy.net/membenci-orang-orang-kafir-bukan-berarti-boleh-berbuat-jahat-terhadap-mereka/

#dakwahIslammagelang #harirayaorangkafir #infoIslammagelang #kajianIslammagelang #orangkafir #RadioIslamMagelang #selamathariraya #ucapanselamathariraya #natal #tahunbaru #mengucapkanselamatnatal #membeciorangkafir

 

Larangan Memberikan UCAPAN SELAMAT Kepada Orang-Orang Kafir Atas Hari-hari Raya Mereka

LARANGAN MEMBERIKAN “UCAPAN SELAMAT” KEPARA ORANG-ORANG KAFIR ATAS HARI-HARI RAYA MEREKA

[termasuk ucapan “Selamat Natal”, atau “Selamat Tahun Baru”, (yakni tahun baru masehi atau imlek, dll), pen ]

Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata,

“Adapun memberikan ucapan selamat kepada mereka (orang-orang kafir) atas syi’ar-syi’ar kufur yang menjadi kekhususan mereka maka hukumnya HARAM dengan kesepakatan (para ‘ulama). Ucapan selamat kepada mereka, (misalnya) dengan mengatakan, “Id (hari raya) kalian Mubarak”, atau “Bergembiralah dengan hari raya ini.” (Atau ungkapan-ungkapan lainnya yang kita dengar sekarang), maka meskipun pengucapnya selamat dari kekufuran (kita berlindung kepada Allah darinya), namun perbuatan tersebut termasuk MUHARRAMAH (hal-hal yang diharamkan). Ucapan itu sama kedudukannya dengan memberikannya ucapan selamat atas sujudnya orang kafir kepada salib. Bahkan itu (ucapan selamat hari raya) LEBIH BERAT DOSAnya di sisi Allah, dan lebih besar kemurkaan Allah terhadapnya dibandingkan ucapan selamat kepada orang yang meminum khamr, membunuh jiwa, atau melanggar kemaluan yang haram (yakni zina), dan semisalnya … Maka barangsiapa yang memberikan ucapan selamat kepada seorang hamba atas sebuah kemaksiatan, atau kebid’ahan, atau kekufuran, maka dia telah mengarahkan dirinya kepada kemurkaan dan kemarahan Allah Ta’ala.”

[Ahkam ahli adz-Dzimmmah]

Sumber : WhatsApp Miratsul Anbiya

Sumber : http://forumsalafy.net/

 

#dakwahIslammagelang #harirayaorangkafir #infoIslammagelang #kajianIslammagelang #orangkafir #RadioIslamMagelang #selamathariraya #ucapanselamathariraya #natal #tahunbaru #mengucapkanselamatnatal

BOLEHKAH TURUT SERTA MERAYAKAN HARI RAYA ORANG KAFIR

BOLEHKAH TURUT SERTA MERAYAKAN HARI RAYA ORANG KAFIR

Asy Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz رحمه الله

Pertanyaan: Sebagian kaum Muslimin ikut serta dalam perayaan hari raya orang Nasrani, apa nasehat anda?

Jawaban:

Tidak diperbolehkan bagi Muslimin dan Muslimat untuk turut serta dalam perayaan hari raya orang Nasrani, Yahudi atau orang-orang kafir lainnya, bahkan wajib untuk meninggalkannya.

Karena barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut.

Dan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam melarang kita untuk meniru kebiasaan mereka atau berakhlak seperti akhlak mereka.

Maka wajib bagi setiap mu’min dan mu’minah untuk berhati-hati dari ini semua. Jangan pula mereka turut membantu terlaksananya perayaan tersebut karena hari raya mereka itu menyelisihi syariat.

Maka tidak diperbolehkan turut serta di dalamnya atau turut membantu mereka dan tidak pula memberi sumbangsi walaupun secangkir teh atau kopi atau meminjamkan bejana-bejana dan semisalnya.

Allah berfirman:

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan dan jangan tolong menolong dalam dosa dan permusuhan dan bertakwalah kepada Allah sungguh Allah sangat keras siksa Nya”.

Maka ikut serta dalam perayaan orang kafir merupakan satu bentuk dari tolong-menolong dalan dosa dan permusuhan.

[Majmu Fatawa 6/508]

Sumber: http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=141465#entry681825

* Alih bahasa: Syabab Forum Salafy

************

بسم الله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين ؛ اما بعد:

السؤال
بعض المسلمين يشاركون النصارى في أعيادهم فما توجيهكم ؟

المفتي : الشيخ عبدالعزيز بن باز رحمه الله

الجواب
لا يجوز للمسلم ولا المسلمة مشاركة النصارى أو اليهود أو غيرهم من الكفرة في أعيادهم بل يجب ترك ذلك؛ لأن من تشبه بقوم فهو منهم، والرسول عليه الصلاة والسلام حذرنا من مشابهتهم والتخلق بأخلاقهم.
فعلى المؤمن وعلى المؤمنة الحذر من ذلك، ولا تجوز لهما المساعدة في ذلك بأي شيء، لأنها أعياد مخالفة للشرع.
فلا يجوز الاشتراك فيها ولا التعاون مع أهلها ولا مساعدتهم بأي شيء لا بالشاي ولا بالقهوة ولا بغير ذلك كالأواني وغيرها، ولأن الله سبحانه يقول: وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ[1]، فالمشاركة مع الكفرة في أعيادهم نوع من التعاون على الإثم والعدوان.

مجموع فتاواه 6/ 508

Sumber: http://forumsalafy.net/bolehkah-turut-serta-merayakan-hari-raya-orang-kafir

Sikap Seorang Muslim Terhadap Hari Raya Orang-orang Kafir

SIKAP SEORANG MUSLIM TERHADAP HARI RAYA ORANG-ORANG KAFIR

Penulis: Asy Syaikh Soleh Al Fauzan hafizhahullah

Di negeri kaum muslimin tak terkecuali negeri kita ini, momentum hari raya biasanya dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh orang-orang kafir (dalam hal ini kaum Nashrani) untuk menggugah bahkan menggugat tenggang rasa atau toleransi – ala mereka – terhadap kaum muslimin. Seiring dengan itu, slogan-slogan manis seperti: menebarkan kasih sayang, kebersamaan ataupun kemanusiaan sengaja mereka suguhkan sehingga sebagian kaum muslimin yang lemah iman dan jiwanya menjadi buta terhadap makar jahat dan kedengkian mereka.

Maskot yang bernama Santa Claus ternyata cukup mewakili “kedigdayaan” mereka untuk meredam militansi kaum muslimin atau paling tidak melupakan prinsip Al Bara’ (permusuhan atau kebencian) kepada mereka. Sebuah prinsip yang pernah diajarkan Allah dan Rasul-Nya.

HARI RAYA ORANG-ORANG KAFIR IDENTIK DENGAN AGAMA MEREKA

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Bahwasanya hari-hari raya itu merupakan bagian dari lingkup syariat, ajaran dan ibadah….seperti halnya kiblat, shalat dan puasa. Maka tidak ada bedanya antara menyepakati mereka didalam hari raya mereka dengan menyepakati mereka didalam segenap ajaran mereka….bahkan hari-hari raya itu merupakan salah satu ciri khas yang membedakan antara syariat-syariat (agama) yang ada. Juga (hari raya) itu merupakan salah satu syiar yang paling mencolok.” (Iqtidha’ Shiratil Mustaqim hal. 292)

SETIAP UMAT BERAGAMA MEMILIKI HARI RAYA

Perkara ini disitir oleh Allah didalam firman-Nya (artinya): “Untuk setiap umat (beragama) Kami jadikan sebuah syariat dan ajaran”. (Al Maidah: 48). Bahkan dengan tegas Rasulullah bersabda:

فَإِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيْداً وَإِنَّ هَذَا لَعِيْدُناَ

“Sesungguhnya bagi setiap kaum (beragama) itu memiliki hari raya, sedangkan ini (Iedul Fithri atau Iedul Adha) adalah hari raya kita.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Akan tetapi muncul sebuah permasalahan tatkala kita mengingat bahwa orang-orang kafir (dalam hal ini kaum Nashrani) telah mengubah-ubah kitab Injil mereka sehingga sangatlah diragukan bahwa hari raya mereka yaitu Natal merupakan ajaran Nabi Isa ?. Kalaupun toh, Natal tersebut merupakan ajaran beliau, maka sesungguhnya hari raya tersebut -demikian pula seluruh hari raya orang-orang kafir- telah dihapus dengan hari raya Iedul Fithri dan Iedul Adha. Rasulullah bersabda:

إِنَّ اللهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْراً مِنْهُمَا: يَوْمَ اْلأَضْحَى وَ يَوْمَ الْفِطْرِ

“Sesungguhnya Allah telah mengganti keduanya (dua hari raya Jahiliyah ketika itu-pent) dengan hari raya yang lebih baik yaitu: Iedul Adha dan Iedul Fithri.” (H.R Abu Daud dengan sanad shahih)

SIKAP SEORANG MUSLIM TERHADAP HARI RAYA ORANG-ORANG KAFIR

Menanggapi upaya-upaya yang keras dari orang-orang kafir didalam meredam dan menggugurkan prinsip Al Bara’ melalui hari raya mereka, maka sangatlah mendesak untuk setiap muslim mengetahui dan memahami perkara-perkara berikut ini:

1. Tidak Menghadiri Hari Raya Mereka

Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah berkata: “Berbaurnya kaum muslimin dengan selain muslimin dalam acara hari raya mereka adalah haram. Sebab, dalam perbuatan tersebut mengandung unsur tolong menolong dalam hal perbuatan dosa dan permusuhan. Padahal Allah berfirman (artinya): “Dan tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketaqwaan dan janganlah kalian tolong menolong didalam dosa dan pelanggaran.” (Al Maidah:2)…..Oleh karena itu para ulama mengatakan bahwa kaum muslimin tidak boleh ikut bersama orang-orang kafir dalam acara hari raya mereka karena hal itu menunjukan persetujuan dan keridhaan terhadap agama mereka yang batil.” (Disarikan dari majalah Asy Syariah no.10 hal.8-9)

Berkaitan dengan poin yang pertama ini, tidak sedikit dari para ulama ketika membawakan firman Allah yang menceritakan tentang sifat-sifat Ibadurrahman (artinya): “(Yaitu) orang-orang yang tidak menghadiri kedustaan.” (Al Furqan:73), mereka menafsirkan “kedustaan” tersebut dengan hari-hari raya kaum musyrikin (Tafsir Ibnu Jarir…/….)

Lebih parah lagi apabila seorang muslim bersedia menghadiri acara tersebut di gereja atau tempat-tempat ibadah mereka. Rasulullah mengecam perbuatan ini dengan sabdanya:

وَلاَ تَدْخُلُوْا عَلىَ الْمُشْرِكيْنَ فِيْ كَناَئِسِهِمْ وَمَعاَبِدِهِمْ فَإِنَّ السُّخْطَةَ تَنْـزِلُ عَلَيْهِمْ

“Dan janganlah kalian menemui orang-orang musyrikin di gereja-gereja atau tempat-tempat ibadah mereka, karena kemurkaan Allah akan menimpa mereka.” (H.R Al Baihaqi dengan sanad shahih)

2. Tidak Memberikan Ucapan Selamat Hari Raya

Didalam salah satu fatwanya, beliau (Asy Syaikh Ibnu Utsaimin) mengatakan bahwa memberikan ucapan selamat hari raya Natal kepada kaum Nashrani dan selainnya dari hari-hari raya orang kafir adalah haram. Keharaman tersebut disebabkan adanya unsur keridhaan dan persetujuan terhadap syiar kekufuran mereka, walaupun pada dasarnya tidak ada keridhaan terhadap kekufuran itu sendiri. Beliau pun membawakan ayat yaitu (artinya): “Bila kalian kufur maka sesungguhnya Allah tidak butuh kepada kalian. Dia tidak ridha adanya kekufuran pada hamba-hamba-Nya. (Namun) bila kalian bersyukur maka Dia ridha kepada kalian.” (Az Zumar:7). Juga firman-Nya (yang artinya):

“Pada hari ini, Aku telah sempurnakan agama ini kepada kalian, Aku cukupkan nikmat-Ku kepada kalian dan Aku ridhai Islam menjadi agama kalian.” (Al Maidah: 3)

Beliau juga menambahkan bahwa bila mereka sendiri yang mengucapkan selamat hari raya tersebut kepada kita maka kita tidak boleh membalasnya karena memang bukan hari raya kita. Demikian pula, hal tersebut disebabkan hari raya mereka ini bukanlah hari raya yang diridhai Allah karena memang sebuah bentuk bid’ah dalam agama asli mereka. Atau kalau memang disyariatkan, maka hal itu telah dihapus dengan datangnya agama Islam.” (Majmu’uts Tsamin juz 3 dan Al Muntaqa min Fatawa Asy Syaikh Shalih Al Fauzan 1/255)

Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa orang yang mengucapkan selamat kepada orang-orang kafir pada hari raya mereka, kalaupun dia ini selamat dari kekufuran maka dia pasti terjatuh kepada keharaman. Keadaan dia ini seperti halnya mengucapkan selamat atas sujud mereka kepada salib. (Ahkamu Ahlidz Dzimmah)

3. Tidak Tukar Menukar Hadiah Pada Hari Raya Mereka

Asy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan: “Telah sampai kepada kami (berita) tentang sebagian orang yang tidak mengerti dan lemah agamanya, bahwa mereka saling menukar hadiah pada hari raya Nashrani. Ini adalah haram dan tidak boleh dilakukan. Sebab, dalam (perbuatan) tersebut mengandung unsur keridhaan kepada kekufuran dan agama mereka. Kita mengadukan (hal ini) kepada Allah.” (At Ta’liq ‘Ala Iqtidha’ Shiratil Mustaqim hal. 277)

4. Tidak Menjual Sesuatu Untuk Keperluan Hari Raya Mereka

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menegaskan bahwa seorang muslim yang menjual barang dagangannya untuk membantu kebutuhan hari raya orang-orang kafir baik berupa makanan, pakaian atau selainnya maka ini merupakan bentuk pertolongan untuk mensukseskan acara tersebut. (Perbuatan) ini dilarang atas dasar suatu kaidah yaitu: Tidak boleh menjual air anggur atau air buah kepada orang-orang kafir untuk dijadikan minuman keras (khamr). Demikian halnya, tidak boleh menjual senjata kepada mereka untuk memerangi seorang muslim. (Iqtidha’ Shiratil Mustaqim hal.325)

5. Tidak Melakukan Aktivitas-Aktivitas Tertentu Yang Menyerupai Orang-Orang Kafir Pada Hari Raya Mereka

Didalam fatwanya, Asy Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan: “Dan demikian pula diharamkan bagi kaum muslimin untuk meniru orang-orang kafir pada hari raya tersebut dengan mengadakan perayaan-perayaan khusus, tukar menukar hadiah, pembagian permen (secara gratis), membuat makanan khusus, libur kerja dan semacamnya. Hal ini berdasarkan ucapan Nabi :

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk kaum tersebut.” (H.R Abu Daud dengan sanad hasan). (Majmu’uts Tsamin juz 3)

DOSAKAH BILA MELAKUKAN HAL ITU DALAM RANGKA MUDAHANAH (BASA BASI)?

Selanjutnya didalam fatwa itu juga, beliau mengatakan: “Dan barangsiapa melakukan salah satu dari perbuatan tadi (dalam fatwa tersebut tanpa disertakan no 1,3 dan 4-pent) maka dia telah berbuat dosa, baik dia lakukan dalam rangka bermudahanah, mencari keridhaan, malu hati atau selainnya. Sebab, hal itu termasuk bermudahanah dalam beragama, menguatkan mental dan kebanggaan orang-orang kafir dalam beragama.” (Majmu’uts Tsamin juz 3)

Sedangkan mudahanah didalam beragama itu sendiri dilarang oleh Allah . Allah berfirman (artinya): “Mereka (orang-orang kafir) menginginkan supaya kamu bermudahanah kepada mereka lalu mereka pun bermudahanah pula kepadamu.” (Al Qalam:9)

ORANG-ORANG KAFIR BERGEMBIRA BILA KAUM MUSLIMIN IKUT BERPARTISIPASI DALAM HARI RAYA MEREKA

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Oleh karena itu, orang-orang kafir sangat bergembira dengan partisipasinya kaum muslimin dalam sebagian perkara (agama) mereka. Mereka sangat senang walaupun harus mengeluarkan harta yang berlimpah untuk itu.” (Iqtidha’ Shiratil Mustaqim hal.39).

BOLEHKAH SEORANG MUSLIM IKUT MERAYAKAN TAHUN BARU DAN HARI KASIH SAYANG (VALENTINE’S DAY)?

Para ulama yang tergabung dalam Lajnah Da’imah Lil Buhuts Al Ilmiyah Wal Ifta’ (Komite Tetap Kajian Ilmiah Dan Fatwa) Arab Saudi dalam fatwanya no.21203 tertanggal 22 Dzul Qa’dah 1420 menyatakan bahwa perayaan-perayaan selain Iedul Fithri dan Iedul Adha baik yang berkaitan dengan sejarah seseorang, kelompok manusia, peristiwa atau makna-makna tertentu adalah perayaan-perayaan bid’ah. Tidak boleh bagi kaum muslimin untuk berpartisipasi apapun didalamnya.

Didalam fatwa itu juga dinyatakan bahwa hari Kasih Sayang (Valentine’s Day)- yang jatuh setiap tanggal 14 Pebruari- merupakan salah satu hari raya para penyembah berhala dari kalangan Nashrani.

Adapun Asy Syaikh Shalih Al Fauzan hafidzahullah (salah satu anggota komite tersebut) menyatakan bahwa penanggalan Miladi/Masehi itu merupakan suatu simbol keagamaan mereka. Sebab, simbol tersebut menunjukan adanya pengagungan terhadap kelahiran Al Masih (Nabi Isa ?) dan juga adanya perayaan pada setiap awal tahunnya. (Al Muntaqa min Fatawa Asy Syaikh Shalih Al Fauzan 1/257). Wallahu A’lam

Sumber: Mahad-assalafy.com

Sumber: http://forumsalafy.net/sikap-seorang-muslim-terhadap-hari-raya-orang-orang-kafir/

 

#dakwahIslammagelang #harirayaorangkafir #infoIslammagelang #kajianIslammagelang #orangkafir #RadioIslamMagelang #selamathariraya #ucapanselamathariraya #natal #tahunbaru #mengucapkanselamatnatal

Haramnya Turut Serta Merayakan Hari Raya Orang Kafir

PENGINGKARAN SALAFUSH SHALEH TERHADAP HARI RAYA ORANG KAFIR

Umar Ibnul Khotthob berkata:

“Janganlah kalian masuk bersama musyrikin di gereja-gereja mereka pada hari raya mereka karena kemurkaan Allah turun terhadap mereka” [Sunan al Kubro karya al Baihaqi]

Beliau juga berkata: “Jauhilah musuh-musuh Allah dalam acara hari raya mereka.” [Ahkamu Ahli Dzimmah:3/1247]

Ibnul Qoyyim mengatakan:

Pasal: Hukum Menghadiri Hari Raya Ahlul Kitab.
Sebagaimana tidak boleh bagi ahlul kitab menampakkan hari raya (di negeri muslimin) maka tidak boleh pula bagi muslimin untuk membantu mereka dan atau menghadirinya bersama mereka dengan kesepakatan para ulama, yang mereka adalah ahlinya dalam hal ini.

Dan telah menegaskan demikian para ahli fikih dari para pengikut imam yang empat dalam kitab-kitab mereka.

Berkatalah Abul Aosim Hibatullah bin al Hasan bin Manshur  al Thobari ahli fiqih dalam madzhab asy Syafi’i :

Tidak boleh bagi muslimin untuk menghadiri hari raya mereka karena mereka berada dalam kemungkaran dan kedustaan, dan bila orang-orang yang baik berbaur dengan orang-orang yang berbuat mungkar tanpa bentuk pengingkaran terhadap mereka maka mereka seperti orang-orang yang meridhoinya dan memiliki peran terhadapnya maka kami khawatir akan turunnya murka Allah terhadap perkumpulan mereka sehingga kemurkaan itu menimpa mereka semua. Kami berlindung kepada Allah dari kemurkaanNya. [Ahkamu Ahli Azd Dzimmah:3/1245]

Beliau juga mengatakan:
“Adapun ucapan selamat dengan syi’ar-syiar kekafiran yang khusus, maka haram dengan kesepakatan (ulama), seperti memberikan ucapan selamat dengan hari raya mereka dan puasa mereka, semacam mengucapkan ‘Hari raya yang penuh berkah untukmu’ atau ‘Berbahagialah dengan hari raya ini’ dan sejenisnya. Hal ini bila pengucapnya selamat dari kekafiran maka ini tergolong dari hal yang terlarang, hal itu seperti memberikan ucapan selamat atas sujud mereka terhadap salib, bahkan hal itu lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih Allah benci dari pada memberi ucapan selamat karena minum khomer atau membunuh jiwa, zina dan semisalnya. Banyak dari orang yang tidak memiliki nilai agama terjatuh dalam perbuatan itu dan tidak mengetahui kejelekan apa yang mereka perbuat. Maka barangsiapa yang memberikan ucapan selamat kepada seseorang karena maksiatnya, atau bidahnya atau kekafirannya berarti dia telah mendekat kepada kemurkaan Allah dan kemarahanNya. [Ahkamu ahli dzimmah :1/441]

Lebih dari itu seorang ulama besar dari mazhab Hanafi yaitu Abu Hafs al Busti mengatakan. “Barangsiapa yang memberikan hadiah pada hari tersebut –yakni hari rayanya orang kafir- sebutir telur kepada seorang musyrik sebagai pengagungan terhadap hari tersebut maka dia telah kafir terhadap Allah.”

Hukum dari ulama Hanafi ini akan jelas alasannya bila anda membaca keteranga Ibnul Qoyyim di atas.

**Faidah dari Al Ustadz Qomar Su’aidy Lc حفظه الله

Sumber: http://forumsalafy.net/pengingkaran-salafush-shaleh-terhadap-hari-raya-orang-kafir/

#dakwahIslammagelang #harirayaorangkafir #infoIslammagelang #kajianIslammagelang #orangkafir #RadioIslamMagelang #selamathariraya #ucapanselamathariraya #natal #tahunbaru #mengucapkanselamatnatal