YANG DIBACA UNTUK ORANG YANG BERSIN LEBIH DARI TIGA KALI

doa-bersinYANG DIBACA UNTUK ORANG YANG BERSIN LEBIH DARI TIGA KALI

Berkata Asy-Syaikh Al-Allamah Muhammad bin Hadi Al-Madkhali hafizhahullah

Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

Jika salah seorang dari kalian bersin, hendaknya ia mengucapkan:

اَلْحَمْدُ لِلَّه

“Segala puji milik Allah”

Dan hendaknya saudaranya mengatakan kepadanya:

يَرْحَمُكَ اَلله

“Semoga Allah merahmatimu.”

Maka jika ia (yang mendengar) mengatakan :

يَرْحَمُكَ اَلله

Ini adalah “Tasymiyah”, maka hendaknya ia mendoakan yang bersin dengan rahmat. Maka jika saudaranya mengatakan :

يَرْحَمُكَ اَلله

Hendaknya orang yang bersin membalas saudaranya ketika mendoakannya, dengan mengucapkan kalimat ini ;

((يَهْدِيكُمُ اَللَّهُ, وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ ))

“Semoga Allah memberikah hidayah padamu dan memperbaiki keadaanmu.”

Ia menjawabnya sebagai balasan atas apa yang ia doakan. Dan ini dilakukan jika orang itu bersin kali ke satu, kedua dan ketiga.

Maka jika bersinnya lebih dari tiga kali, berarti ia mengalami influenza, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata setelah bersinnya tiga kali mengatakan kepada yang bersin :

((شفاك الله))

” Semoga Allah menyembuhkanmu.”

***

Sumber: http://miraath.net/articles.php?cat=11&id=1989

Sumber: http://forumsalafy.net/yang-dibaca-untuk-orang-yang-bersin-lebih-dari-tiga-kali/

DIANTARA SUNNAH YANG TELAH DITINGGALKAN MANUSIA SETELAH MEMBACA AL-QURAN

sunnah-yang-ditinggalkan

DIANTARA SUNNAH YANG TELAH DITINGGALKAN MANUSIA SETELAH MEMBACA AL-QURAN

Janganlah engkau membaca:

صدق الله العظيم

akan tetapi bacalah:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشهد أن لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Sunnah yang kebanyakan manusia melalaikannya setelah membaca Al-Quran.

Disunnahkan setelah selesai membaca Al-Quran untuk membaca :

( سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشهد أن لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ ).

“Maha Suci Engkau Ya Allah dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau, aku memohon ampun kepada-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

Dalil akan hal itu adalah:

Dari Aisyah radhiallahu’anha berkata: Tidaklah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam duduk di satu majlispun dan TIDAKLAH MEMBACA QURAN dan mengerjakan shalat apapun kecuali beliau menutupnya dengan bacaan itu.”

Lalu Aisyah berkata : Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, saya melihat engkau. Tidaklah engkau duduk dalam suatu majlis, tidak pula engkau membaca Quran, tidak pula engkau mengerjakan shalat apapun kecuali engkau menutupnya dengan membaca bacaan tadi?”

Jawab beliau: “Ya, barangsiapa yang mengucapkan kebaikan ditutup untuknya penutup di atas kebaikan tadi. Dan barang siapa yang mengucapkan kejelekan (dalam majlisnya), maka bacaan doa tadi sebagai penghapus kejelekan (kaffarah) baginya.

( سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشهد أن لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ ).

“Maha Suci Engkau Ya Allah dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau, aku memohon ampun kepada-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

Imam Asn-Nasaai membuat Bab atas hadits ini dengan perkataan beliau: “Bab Apa yang dibaca setelah membaca Al-Quran.”

Sanadnya shahih: Dikeluarkan oleh An-Nasaai dalam As-Sunan Al-Kubra dan Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam An-Nukat 2/733. Sanadnya shahih.

  • Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata dalam Ash-Shahihah 7/495 : Ini adalah sanad yang shahih juga diatas syarat Muslim.
  • Syaikh Muqbil Al-Wadii berkata dalam Al-Jami’ As-Shahih mimma Laisa fi Ash-Shahihain 2/128: Ini adalah sanad yang shahih.

Manusia sekarang meninggalkan sunnah yang satu ini, mereka malah membaca doa setelah membaca Al-Quran: Shadaqallahul Azhiim.

—————————————————————————————-

Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah Tentang Shadaqallahul Azhiim :

Menjadikan kalimat “Shadaqallahul Azhiim” dan yang semisalnya sebagai penutup untuk membaca Al-Quran itu bid’ah.

Karena tidak pasti dari Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam kalau beliau membacanya setiap selesai membaca Al-Quran.

Kalau seandainya hal itu disyariatkan untuk menutup bacaan Al-Quran niscaya beliau membaca setelahnya.

Dan telah pasti dari beliau bahwasanya beliau bersabda:

“Barang siapa yang mengada-adakan dalam urusan kami ini perkara yang bukan darinya maka hal itu tertolak.” (HR. Bukhary dan Muslim)..

Hanya Allahlah tempat memohon Taufiq.

Dan shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi kita Muhammad, Keluarga beliau dan sahabat beliau.

***

Komite Tetap Untuk Pembahasan Ilmiyah Dan Fatwa.
Dipimpin oleh Imam AbdulAzuz Bin Baaz rahimahullah
Anggota : Al-Allamah Abdullah bin Ghudayyan rahimahullah.
Anggota Al-Allamah AbdurRazzaq Afifi rahimahullah.

Sumber Fatwa no 7306.

Sumber : http://forumsalafy.net/diantara-sunnah-yang-telah-ditinggalkan-manusia-setelah-membaca-al-quran/

MENYANYI DENGAN BACAAN AL-QUR’AN MERUPAKAN KEKAFIRAN

petir-1MENYANYI DENGAN BACAAN AL-QUR’AN MERUPAKAN KEKAFIRAN

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hady al-Madkhaly hafizhahullah

Penanya: Kami mendengar beberapa hari yang lalu bahwa ada orang yang bernyanyi dengan ayat-ayat dari Kitab Allah Azza wa Jalla dengan sengaja, maka apa hukum dari hal tersebut? Baarakallahu fiikum.

Asy-Syaikh: Apakah seperti yang dilakukan oleh Ummu Kultsum dan biduanita semisalnya? Bagaimana hal ini? Al-Qur’an digunakan untuk bernyanyi. Dengan cara menurut Bahasa Arab dan yang wajar?

Penanya: Yang melakukannya menyanyi dengan surat al-Fatihah sambil menggunakan gitar.

Asy-Syaikh: Dia kafir. Dia menjadikan ayat-ayat Allah Azza wa Jalla sebagai olok-olokan. Ini merupakan kekafiran, penghinaan dan perendahan terhadap Al-Qur’an. Dan siapa saja yang menhinakan Al-Qur’an maka dia kafir dan murtad.

ﺃَﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺁﻳَﺎﺗِﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟِﻪِ ﻛُﻨﺘُﻢْ ﺗَﺴْﺘَﻬْﺰِﺋُﻮﻥَ.

Apakah kalian menjadikan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya sebagai olok-olokan.” (QS. At-Taubah: 65)

Mereka hanya mengatakan, “Kita tidak melihat orang yang paling banyak makan dan paling pendusta ucapannya dibandingkan para ahli Al-Qur’an Kita.”

Mereka mengolok-olok kaum Muslimin sehingga Allah Tabaraka wa Ta’ala mengkafirkan mereka karena mengolok-olok-Nya dan agama-Nya. Maka bagaimana jika seseorang mengolok-olok Al-Qur’an secara langsung dan merendahkannya.

 

Sumber: http://forumsalafy.net/menyanyi-dengan-bacaan-al-quran-merupakan-kekafiran/

Demonstrasi Termasuk Perkara Bid’ah

kawat-berduri

Menjawab pertanyaan yang ditujukan kepada yang mulia Al-Allaamah Zaid bin Muhammad Al-Madkhali rahimahullah tentang masalah demonstrasi yang terjadi di negeri-negeri islam, dan anggapan bolehnya demo oleh sebagian orang, khususnya jika demonya itu damai tanpa membawa senjata. Maka beliau rahimahullah berkata:

“Demonstrasi termasuk perkara yang baru dalam agama, dan setiap perkara yang baru dalam agama itu adalah bidah dan setiap bidah itu sesat dan setiap kesesatan itu di neraka. Yang demikian itu karena syariat Allah itu telah sempurna, kitab dan sunnah. Dan kita tidak mengetahui sedikitpun dari dalil al-kitab dan as-sunnah yang membolehkan sekelompok manusia untuk berkumpul lalu melakukan demontrasi yang terdapat di dalamnya pengacauan terhadap manusia menghabiskan waktu dan lebih parah dari itu adalah ditinggalkan shalat-shalat, terjadi di dalamnya pembunuhan. Maka seandainya dalam satu demo terbunuh satu orang muslim, yang menanggung dosanya adalah orang yang mengajak melakukan demo-demo tersebut. Sama saja, apakah seorang pribadi, sekelompok masyarakat ataupun komunitas. Dan dalam sebuah hadits yang shahih disebutkan:

“Sungguh hilangnya dunia ini lebih ringan di sisi Allah daripada pembunuhan terhadap seorang muslim. (HR. Sunan An-Nasaa’i, bab Ta’zhiimu Ad-dami 7-87 dan At-Tirmidzi dalam bab Maa jaa’a ‘an Tasydiid qatlil mukmin, 4-16)

Maka betapa banyak terbunuh nyawa-nyawa di dalam demontrasi-demontrasi? Dengan disaksikan oleh akal, dalil naqli, adat, perasaan indrawi dan kenyataan yang disaksikan. Maka diada-adakannya demontrasi hanyalah bidah yang sesat, menyeru kepadanya syaithon, nafsu yang mengajak pada kejelekkan dan hawa. Dan tidaklah berkumpul musuh-musuh ini pada suatu perkara kecuali akan hancurlah agama dan dunia, sebagaimana sudah diketahui dalam demo-demo ini. Dan buah dari demontrasi-demontrasi semuanya adalah pembunuhan, kehancuran, menyia-nyiakan harta dan waktu mencemaskan orang-orang yang aman. Dan betapa banyak kejelekkan di dalamnya.

Cukuplah demo itu tergolong keburukkan tatkala demo tidak pernah dikerjakan di zaman para Rasul yang mulia, para nabi yang agung, yang mana mereka telah dicoba dan disakiti oleh kaumnya. Dan berimanlah kepada mereka orang-orang yang beriman, dalam keadaan mereka tidak mengenal demontrasi dan tidak melakukan peledakkan dan pembunuhan, bahkan islam melarang dari semua.

Dan mereka- mereka yang mengajak demo itu dan berpendapat  kalau padanya ada keselamatan telah salah jalan dan keliru jalan dan sebaiknya mereka kembali kepada kebenaran, mengatasi problema-problema dengan Al-kitab dan As-Sunnah dengan pemahaman para ulama yang kokoh dalam keilmuannya. Maka barang siapa yg mengajak manusia kepada kekacauan ini, maka dia telah menyebabkan kerusakan negeri dan para hamba. Dan apa yang telah terjadi dahulu dan sekarang itu menjadi saksi akan hal itu.

Maka saya mengingatkan para penuntut ilmu, hendaknya mereka tidak memperdulikan pendapat yg membolehkan demontrasi damai, sebagaimana yg mereka katakan! Mereka membuat pembagian ini dengan tanpa dalil, bahwasanya (demo) itu boleh! Tanpa dalil yg dijadikan sandaran, tidak dari Al-Kitab tidak pula dari As-Sunnah tidak  dari perbuatan Rasul, tidak dari para sahabat yang mulia, tidak pula dari para imam, sebagaimana yg telah lalu. Sebagaimana selain diriku telah menulis, dan cukuplah dengan tulisan Hai’ah Kibaarul Ulama sebagai penjelasan dan keterangan bagi orang yang menginginkan kebenaran dan berkumpul diatas itu:  Sesungguhnya demontrasi yg dengan tatacara yang telah kita ketahui itu batil, bahwasanya hal itu tidak memiliki dasar syariat, bahwasanya hal itu mengantarkan kepada kerusakan para hamba dan negeri. Dan ini adalah pendapat yg benar yang telah ditanda tangani oleh lebih dari dua puluh orang alim, bahkan seluruh ulama yang terpandang menyerukan kepada manusia,  kalau demontrasi itu adalah sebuah jalan, bukan jalan kebaikan dan perbaikan

Dan sesungguhnya jalan yang selamat adalah dengan menasihati orang yang memegang urusan kekuasaan wilayah di bumi ini jika memang dia bersalah, diseru dengan cara yang tepat sesuai tingkatan yang ia ada padanya, tanpa menimbulkan kekacauan seperti ini  yang bisa melenyapkan jiwa, membuat takut orang-orang yang aman, dan terjadi di dalamnya apa yang sudah disaksikan manusia di zaman ini dan sebelumnya. Wallahu a’lam.

Yang mulia As-syaikh Al-Faqih Al-Allamah Zaid bin Muhammad Al-Madkhali rahimahullah Al-Al-afnaan watauhiid Ibni Khuzaimah wa hadits an al-muzhaharah, 4-4-1432 H.

***

Sumber: http://www.sahab.net/home/?p=1397

http://forumsalafy.net/

Alih bahasa: Ustadz Abu Hafs Umar al-Atsary hafizhahullah

Nasehat untuk Kaum Muslimin Indonesia Terkait Demonstrasi 4 November 2016 di Jakarta

kepal-demo

? asy-Syaikh DR. ‘Abdullah bin ‘Abdurrahim al-Bukhari hafizhahullah

? Tanya :
? “Hari ini (kemarin, Jum’at 4/10/2016, pen) di Ibu kota Indonesia, Jakarta diadakan demonstrasi besar-besar.
Demonstrasi tersebut menuntut diadilnya Gubernur Jakarta, seorang yang beragama kristen, yang telah melecehkan ayat al-Quran dan para da’i!

Tak tersembunyi bagi Anda, akibat dari demonstrasi, yaitu berbagai kerusakan dan kejelekan, meskipun mereka menyebutnya sebagai aksi damai.

?? Sebagaimana diketahui bahwa yang turut serta dalam demonstrasi tersebut adalah dari berbagai kelompok, seperti shufiyyah, ikhwaniyyah, dan khawarij, serta para politikus, dll.

? Pertanyaan :
1. Bolehkah bagi kaum muslimin untuk ikut serta dalam demonstrasi tersebut?
2. Apa cara terbaik yang Anda nasehatkan untuk kaum muslimin demi mengganti gubernur tersebut?
3. Apa nasehat dan arahan Anda untuk kaum muslimin secara umum dan salafiyyin secara khusus terkait kejadian ini?

? Jawab :

1⃣ Pertanyaan pertama “Bolehkah bagi kaum muslimin untuk ikut serta dalam demonstrasi tersebut?”
Tidak boleh. Demonstrasi bukan bagian dari Syari’at Islam. Sebagaimana telah kami jelaskan berulang-kali. Bahkan kalaupun pemimpin suatu negeri, dan dia muslim, membolehkan dan mengizinkan demonstrasi, maka tidak ada ketaatan kepadanya dalam masalah ini. Karena tidak dibenarkan baginya mengizinkan perbuatan seperti ini. Tidak ada kewajiban mendengar dan taat kecuali dalam hal yang ma’ruf (kebaikan). “Hanyalah ketaatan itu dalam hal yang ma’ruf (kebaikan)”
❌ Sedangkan demonstrasi ini bukan termasuk perkara yang ma’ruf. Sebagaimana sudah kami jelaskan berulang kali. Ini jawaban pertama.

2⃣▪️ Cara terbaik yang kami nasehat kaum muslimin dengannya dalam upaya mengganti gubernur tersebut, adalah menulis surat ditujukan kepada pemimpin negeri. Yang menulisnya adalah orang-orang yang berakal jernih dan tokoh terpandang, bukan rakyat jelata atau para pengacau.
? Hendaknya mereka menulis surat atau menyampaikan laporan, meminta agar diadili atau yang lainnya.
✍? Penulisan surat dilakukan oleh orang-orang yang berakal jernih dan cerdas saja.
❌ Tidak ada demonstrasi, orasi, maupun gerakan rakyat. Ini bukan bagian dari agama Allah sama sekali.

3⃣ Nasehatku untuk kaum muslimin secara umum dan salafiyyin secara khusus, adalah nasehat sebagaimana di atas :
• Jangan ikut dalam demonstrasi!
• Jika mau hendaknya menyampaikan pengaduan kepada pemerintah dan memohon agar memberhentikan orang tersebut dari kepemimpinan di propinsi itu, atau mengadilinya.
Dengan cara ini, telah tertunaikan tanggung jawab.
Jika pengaduhan itu dipenuhi, maka alhamdulilah. Jika tidak terpenuhi, maka telah tertunaikan tanggung jawab. Permasalahannya pun selesai sampai di sini.

رابط المادة:
? http://elbukhari.com/wp-content/uploads/2016/11/fawaid_sawtiyah_sh_albukhary_223.mp3
? 1.18 MB

Sumber: http://www.manhajul-anbiya.net

JIKA KITA SEDANG SHALAT SUNNAH TIBA-TIBA IQOMAT DI KUMANDANGKAN

masjidil-haramJIKA KITA SEDANG SHALAT SUNNAH TIBA-TIBA IQAMAT DIKUMANDANGKAN

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah

Pertanyaan: Kami mengharapkan penjelasan, bagaimana pendapat ulama tentang menyempurnakan shalat sunnah atau tidaknya, tatkala iqamat dikumandangkan?

Jawaban: Yang saya ketahui ada tiga pendapat

Pendapat pertama: Bahwasanya semata-mata shalat diiqamatkan, maka batallah shalat sunnah. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:

« إذا أقيمت الصلاة فلا صلاة إلا المكتوبة ».

“Jika shalat telah diiqamatkan, maka tidak ada shalat kecuali shalat wajib.”

Pendapat kedua: Kebalikannya, bahwasanya tidak batal shalat sunnahnya dan ia bisa menyempurnakannya selama tidak khawatir imam salam dalam keadaan ia belum menyempurnakannya, maka ketika itu ia memutus shalat sunnahnya.

Pendapat ketiga: Pendapat yang pertengahan, yakni

• Jika shalat sudah diiqamatkan, dalam keadaan seorang berada dalam rakaat kedua dalam shalat sunnah, hendaknya ia menyempurnakannya secara ringkas. Dan jika ia berada dalam rakaat pertama, hendaknya ia memutuskan shalat sunnahnya. Dalil dari hal itu adalah:

« من أدرك ركعة من الصلاة فقد أدرك الصلاة »

“Barang siapa yang mendapatkan satu rakaat dari shalat maka berarti ia telah mendapatkan shalat tersebut.”

Sisi pendalilannya adalah orang ini yg berdiri pada rakaat yang kedua, ia telah mendapatkan satu rakaat dari shalat, dalam kondisi yang ia dimaafkan padanya, karena itu dilakukan sebelum iqamat. Maka ia telah mendapatkannya sehingga bisa menyempurnakannya dengan ringkas.

Adapun jika ia masih pada rakaat pertama hendaknya ia memutuskannya, berdasarkan pemahaman sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam :

“Barang siapa yang mendapatkan satu rakaat dari shalat maka berarti ia mendapatkan shalat tersebut.”

Pendapat ini adalah pendapat pertengahan dan inilah YANG BENAR. Bahwasanya jika seorang masih pada rakaat pertama walaupun dalam sujud kedua dari rakaat pertana hendaknya ia memutuskannya.

***

[Fatawa Nur ala Ad-Darbi 733]

Sumber: Channel Fatawa Ahlil ilmi Ats-Tsiqaat

Sumber: http://forumsalafy.net/jika-kita-sedang-shalat-sunnah-tiba-tiba-iqomat-di-kumandangkan/

Imam Berdoa di Tengah Khutbah atau Bershalawat Kepada Nabi, Apakah Kita Ikut Mengaminkan dan Bershalawat

masjid-nabawiJIKA IMAM BERDOA DI TENGAH KHUTBAH ATAU BERSHALAWAT KEPADA NABI APAKAH KITA IKUT MENGAMINKAN DAN BERSHALAWAT?

Asy-Syaikh Al-Allamah Ubaid bin Abdillah Al-Jabiri hafizhahullah

Pertanyaan: Penanya mengatakan: Jika Imam berdoa ditengah khutbah atau bershalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, apakah kita ikut mengaminkan dan bershalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan suara keras ataukah pelan?

Jawaban: Dengan suara yang tidak mengganggu orang-orang yang hadir. Maka kita katakan : Shallallahu alaihi wasallam, dan kita katakan di dalam doa: Amiin, tidak mengapa hal itu in sya Allah.

Akan tetapi tidak mengeraskan suaranya, dengan suara yang bisa mengganggu para hadirin dan bisa memalingkan mereka dari mendengarkan khutbah.

***

Sumber: http://www.miraath.net/quesdownload.php?id=1254

Sumber: http://forumsalafy.net/jika-imam-berdoa-di-tengah-khutbah-atau-bershalawat-kepada-nabi-apakah-kita-ikut-mengaminkan-dan-bershalawat/

Apakah Manusia Berbuat karena Dipaksa ataukah Pilihan Sendiri

APAKAH MANUSIA BERBUAT KARENA DIPAKSA ATAUKAH PILIHAN SENDIRI?

 dengan-takdir-allah

Soal:

Semoga Allah membalasmu dengan yang lebih baik. Penanya adalah Muhammad dari Makkah al-Mukarramah. Dia bertanya, “Apakah manusia berbuat karena musayyar (dipaksa) ataukah mukhayyar (atas pilihannya sendiri?)”

 

Jawaban:

Aku katakan kepadanya, “Ketika engkau menulis pertanyaan pada kertas ini, apakah engkau melakukannya atas pilihanmu ataukah ada seseorang yang memaksamu?

Saya memastikan bahwa engkau akan menjawab, , “Aku melakukannya atas kehendakku.”

Tetapi ketahuilah bahwa Allah-lah yang telah menciptakan pada manusia adanya kehendak.

Allah menyiapkan dua perkara yang dengan itu terjadi perbuatan mereka.

  1. Kehendak, yang dengannya seseorang berkehendak.
  2. Kemampuan, yang dengannya seseorang memiliki kekuatan.

Jika dia melakukan sesuatu maka dia berbuat dengan kehendak dan kemampuannya.

Yang telah menciptakan kehendak dan kemampuan pada seseorang adalah Allah ‘azza wajalla.

Adapun perkatan “musayyar” atau “mukhayyar” adalah istilah baru, yang aku tidak mengetahui ungkapan ini ada di kalangan pendahulu umat ini.

Atas dasar itu aku katakan bahwa manusia diberi pulihan untuk berbuat dengan kehendaknya. Sedangkan pilihan dan kehendak seseorang adalah ciptaan Allah ‘azza wajalla.

 

Sumber: Silsilah Fatawa Nur ‘ala Darb, Syaikh Ibnu Utsaimin, kaset no. 362.

 

هل الإنسان مخير أم مسير؟

السؤال:

  جزاك الله خيراً فضيلة الشيخ. السائل محمد من مكة المكرمة يقول: هل الإنسان مسير أم مخير؟

الجواب:

الشيخ: الجواب أن أقول له: اسأل نفسك: هل أنت حينما كتبت هذه الورقة وفيها السؤال هل أنت فعلت ذلك باختيارك أو أن أحداً أجبرك؟ إنني أجزم جزماً أنه سيقول: كتبتها باختياري. ولكن ليعلم أن الله سبحانه وتعالى هو الذي خلق في الإنسان الإرادة، الله تعالى خلق الإنسان وأودع فيه أمرين كلاهما سبب الوجود، الأمر الأول: الإرادة، فالله تعالى جعل الإنسان مريدا.ً والأمر الثاني: القدرة، جعله الله تعالى قادراً. فإذا فعل شيئاً فإنما يفعله بإرادته وقدرته، والذي خلق فيه الإرادة هو الله عز وجل، وكذلك الذي خلق فيه القدرة هو الله عز وجل. وهذه الكلمة: مخير ومسير هي كلمة حادثة لا أعلمها في كلام السابقين، وعلى هذا فنقول: إن الإنسان مخير يفعل الشيء باختياره وإرادته، ولكن هذا الاختيار والإرادة كلاهما مخلوقان لله عز وجل. نعم.

المصدر: سلسلة فتاوى نور على الدرب > الشريط رقم [362]

العقيدة > الإيمان بالقدر

 رابط المقطع الصوتي

 

Hukum Meninggikan Kuburan dan Menghiasinya

hukum-meninggikan-kubur

 

Syaikh Al-Allamah Shalih Al-Athram rahimahullah

Pertanyaan: Apa hukum meninggikan kuburan, menghiasinya dan apa pengaruh hal itu?

 

Jawaban:

Hukum meninggikan kuburan dan menghiasinya adalah:

Tidak boleh meninggikanya tidak pula menghiasinya, karena itu tergolong perbuatan ghuluw (berlebih-lebihan) yang bisa mengantarkan kepada keyakinan mengagungkannya dan meyakininya.

Dalam sebuah hadits :

ﻧﻬﻰ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ، – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ -، ﺃﻥ ﺗﺠﺼﺺ اﻟﻘﺒﻮﺭ ﻭﺃﻥ ﻳﺠﻠﺲ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺃﻭ ﻳﺒﻨﻰ ﻋﻠﻴﻬﺎ

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang meng-gipsum kuburan, duduk di atasnya atau membuat bangunan diatasnya.”

 

Hadits tersebut mengandung larangan berlaku ghuluw (berlebih-lebihan) dengan kuburan dan larangan menghinakannya.

Dan dari Ummu Salamah radhiallahu’anha bahwasanya beliau menyebutkan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam gereja yang ia lihat di negeri Habasyah dan gambar-gambar yang ada di dalamnya. Maka beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda :

«ﺃﻭﻟﺌﻚ ﺇﺫا ﻣﺎﺕ ﻓﻴﻬﻢ اﻟﺮﺟﻞ اﻟﺼﺎﻟﺢ ﺃﻭ اﻟﻌﺒﺪ اﻟﺼﺎﻟﺢ ﺑﻨﻮا ﻋﻠﻰ ﻗﺒﺮﻩ ﻣﺴﺠﺪا ﻭﺻﻮﺭﻭا ﻓﻴﻪ ﺗﻠﻚ اﻟﺼﻮﺭ ﺃﻭﻟﺌﻚ ﺷﺮاﺭ اﻟﺨﻠﻖ ﻋﻨﺪ اﻟﻠﻪ»

Mereka itu jika ada seorang yang shalih atau hamba shalih yang mati di tengah mereka, mereka membangun masjid di atas kuburannya, dan mereka membuat gambar di dalamnya dengan gambar-gambar tadi. Mereka itulah sejelek-jelek makhluk di sisi Allah.”

 

Dan dari Ali radhiallahu ‘anhu, beliau berkata kepada Abul Hayyaj Al-Asdy rahimahullah:

“ﺃﻻ ﺃﺑﻌﺜﻚ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺑﻌﺜﻨﻲ ﻋﻠﻴﻪ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ؟ – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ -، ﺃﻥ ﻻ ﺗﺪﻉ ﺻﻮﺭﺓ ﺇﻻ ﻃﻤﺴﺘﻬﺎ ﻭﻻ ﻗﺒﺮا ﻣﺸﺮﻓﺎ ﺇﻻ ﺳﻮﻳﺘﻪ”.

Tidakkah aku mengutusmu dengan apa yang aku diutus oleh Rasulullah dengannya; Janganlah engkau biarkan ada gambar kecuali engkau menghapusnya, dan kuburan yang ditinggikan kecuali engkau meratakannya.”

Maka nash-nash ini menunjukkan akan larangan membuat bangunan di atas kuburan, sebagaimana ditunjukan oleh hadits yang lain akan larangan memasang lentera pada kuburan. Beliau bersabda:

«ﻟﻌﻦ اﻟﻠﻪ ﺯاﺋﺮاﺕ اﻟﻘﺒﻮﺭ ﻭاﻟﻤﺘﺨﺬﻳﻦ ﻋﻠﻴﻬﺎ اﻟﻤﺴﺎﺟﺪ ﻭاﻟﺴﺮﺝ»

Allah melaknat wanita-wanita yang berziyarah kubur dan menjadikannya di atasnya masjid-masjid dan lentera-lentera.”

 

  • Dan diantara hiasan-hiasan yang dilarang adalah membuat tulisan di atas kuburan.
  • Demikian juga termasuk mengagungkannya yang dilarang syariat adalah meletakkan karangan-karangan bunga dan bunga-bunga di atasnya, atau
  • Mempersembahkan sesuatu kepadanya berupa harta/uang atau menyembelih binatang di sisinya.

Semua itu dan yang semisalnya termasuk perbuatan ghuluw terhadap kuburan yang dilarang secara syariat yang mengantarkan kepada KESYIRIKAN.

***

Sumber:  Al-As’ilah wal-ajwibah fil aqidah karya Syaikh Al-Allamah Shalih Al-Athram rahimahullah. 1/52.

Channel  Telegram Fatawa Ahlil Ilmi Ats-Tsiqaat.

________________________________________

  ﻣﺎ ﺣﻜﻢ ﺗﺸﻴﻴﺪ اﻟﻘﺒﻮﺭ ﻭﺯﺧﺮﻓﺘﻬﺎ ﻭﻣﺎ ﺁﺛﺎﺭ ﺫﻟﻚ؟

 اﻟﺠﻮاﺏ: ﺣﻜﻢ ﺗﺸﻴﻴﺪ اﻟﻘﺒﻮﺭ ﻭﺯﺧﺮﻓﺘﻬﺎ: ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺗﺸﻴﻴﺪﻫﺎ ﻭﻻ ﺯﺧﺮﻓﺘﻬﺎ ﻷﻥ ﻫﺬا ﻣﻦ ﺑﺎﺏ اﻟﻐﻠﻮ اﻟﻤﺆﺩﻱ ﺇﻟﻰ اﻋﺘﻘﺎﺩ ﺗﻌﻈﻴﻤﻬﺎ ﻭاﻻﻋﺘﻘﺎﺩ ﺑﻬﺎ ﻭﻓﻲ اﻟﺤﺪﻳﺚ ﻧﻬﻰ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ، – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ -، ﺃﻥ ﺗﺠﺼﺺ اﻟﻘﺒﻮﺭ ﻭﺃﻥ ﻳﺠﻠﺲ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺃﻭ ﻳﺒﻨﻰ ﻋﻠﻴﻬﺎ

ﻓﻘﺪ ﺗﻀﻤﻦ اﻟﺤﺪﻳﺚ اﻟﻨﻬﻲ ﻋﻦ اﻟﻐﻠﻮ ﺑﻬﺎ ﻭﻋﻦ ﺇﻫﺎﻧﺘﻬﺎ ﻭﻋﻦ ﺃﻡ ﺳﻠﻤﺔ ـ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﺎ ـ ﺃﻧﻬﺎ ﺫﻛﺮﺕ ﻟﺮﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ، – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ -، ﻛﻨﻴﺴﺔ ﺭﺃﺗﻬﺎ ﺑﺄﺭﺽ اﻟﺤﺒﺸﺔ ﻭﻣﺎ ﻓﻴﻬﺎ ﻣﻦ اﻟﺼﻮﺭ ﻓﻘﺎﻝ، – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ -: «ﺃﻭﻟﺌﻚ ﺇﺫا ﻣﺎﺕ ﻓﻴﻬﻢ اﻟﺮﺟﻞ اﻟﺼﺎﻟﺢ ﺃﻭ اﻟﻌﺒﺪ اﻟﺼﺎﻟﺢ ﺑﻨﻮا ﻋﻠﻰ ﻗﺒﺮﻩ ﻣﺴﺠﺪا ﻭﺻﻮﺭﻭا ﻓﻴﻪ ﺗﻠﻚ اﻟﺼﻮﺭ ﺃﻭﻟﺌﻚ ﺷﺮاﺭ اﻟﺨﻠﻖ ﻋﻨﺪ اﻟﻠﻪ»

ﻭﻋﻦ ﻋﻠﻲ ـ – ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ – ـ ﻗﺎﻝ ﻷﺑﻲ اﻟﻬﻴﺎﺝ اﻷﺳﺪﻱ: “ﺃﻻ ﺃﺑﻌﺜﻚ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺑﻌﺜﻨﻲ ﻋﻠﻴﻪ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ؟ – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ -، ﺃﻥ ﻻ ﺗﺪﻉ ﺻﻮﺭﺓ ﺇﻻ ﻃﻤﺴﺘﻬﺎ ﻭﻻ ﻗﺒﺮا ﻣﺸﺮﻓﺎ ﺇﻻ ﺳﻮﻳﺘﻪ”.

ﻓﺪﻟﺖ اﻟﻨﺼﻮﺹ ﻫﺬﻩ ﻋﻠﻰ ﻣﻨﻊ اﻟﺒﻨﺎء ﻋﻠﻰ اﻟﻘﺒﻮﺭ ﻛﻤﺎ ﺩﻝ اﻟﺤﺪﻳﺚ اﻵﺧﺮ ﻋﻠﻰ ﻣﻨﻊ ﺇﻧﺎﺭﺗﻬﺎ ﻗﺎﻝ، – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ -: «ﻟﻌﻦ اﻟﻠﻪ ﺯاﺋﺮاﺕ اﻟﻘﺒﻮﺭ ﻭاﻟﻤﺘﺨﺬﻳﻦ ﻋﻠﻴﻬﺎ اﻟﻤﺴﺎﺟﺪ ﻭاﻟﺴﺮﺝ»

.

ﻭﻣﻦ اﻟﺰﺧﺮﻓﺔ اﻟﻤﻤﻨﻮﻋﺔ اﻟﻜﺘﺎﺑﺔ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻭﻛﺬا ﻣﻦ ﺗﻌﻈﻴﻤﻬﺎ اﻟﻤﻤﻨﻮﻉ ﺷﺮﻋﺎ ﻭﺿﻊ ﺃﻛﺎﻟﻴﻞ اﻟﺰﻫﻮﺭ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺃﻭ ﺗﻘﺪﻳﻢ ﺷﻲء ﻟﻬﺎ ﻣﻦ اﻷﻣﻮاﻝ ﺃﻭ ﺳﻔﻚ اﻟﺪﻣﺎء ﻋﻨﺪﻫﺎ ﻛﻞ ﺫﻟﻚ ﻭﺃﺷﺒﺎﻫﻪ ﻣﻦ اﻟﻐﻠﻮ ﻓﻲ اﻟﻘﺒﻮﺭ اﻟﻤﻤﻨﻮﻉ ﺷﺮﻋﺎ اﻟﻤﺆﺩﻱ ﺇﻟﻰ اﻟﺸﺮﻙ.

  المصدر : الأسئلة والأجوبة في العقيدة للشيخ العلامة صالح الاطرم رحمه الله ( 1 / 52 )

 

Sumber: http://forumsalafy.net/hukum-meninggikan-kuburan-dan-menghiasinya-2/

 

Hukum Membaca Surat al-Kahfi pada Hari Jumat

al-kahfiHUKUM MEMBACA SURAT AL-KAHFI PADA HARI JUM’AT

Asy-Syaikh Ibnul Utsaimin rahimahullah ditanya

Pertanyaan: Apa hukum membaca surat Al-Kahfi pada hari jumat? Apakah disana ada perbedaan antara orang yang membacanya dari Mushaf atau dari hafalannya?

Maka beliau menjawab dengan perkataannya: Membaca surat Al-Kahfi pada hari jumat itu adalah amalan yang dianjurkan, dan padanya ada keutamaan. Tidak ada perbedaan dalam hal itu, antara orang yang membacanya melalui mushaf ataupun dari hafalannya.

Dan batasan hari secara syariat itu dimulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Oleh karena itu jika seorang itu membacanya setelah shalat jumat, berarti dia telah mendapatkan pahala. Berbeda halnya mandi pada hari jumat, maka sesungguhnya mandi itu mesti sebelum shalat jumat, karena mandi itu untuk shalat jumat, maka ia mesti didahulukan atasnya. Dan juga berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:

«إذا جاء أحدكم الجمعة فليغتسل»

“Jika salah seorang dari kalian mendatangi jumat, maka hendaknya dia mandi”

***

Majmu Fatawa Ibnu Utsaimin juz 16/142-143

Sumber: http://www.albaidha.net/vb4/showthread.php?t=56433

Sumber: http://forumsalafy.net/hukum-membaca-surat-al-kahfi-pada-hari-jumat/

Keutamaan Banyak Berpuasa Sunnah di Bulan Muharam

bulan-muharromKEUTAMAAN BANYAK BERPUASA SUNNAH DI BULAN MUHARRAM

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Puasa yang paling afdhal setelah Ramdhan adalah Puasa bulan Allah Al-Muharram.” (HR. Muslin 1982)

Imam Nawawi berkata : “Sabda beliau “Bulan Allah” disandarkan kata bulan kepada lafazh Allah adalah penyandaran pengagungan.

Al-Qaari berkata: “Yang nampak adalah (Puasa) seluruh bulan Muharram.”

Akan tetapi telah tetap kalau Nabi shallallahu alaihi wasallam tidaklah berpuasa satu bulan penuh selain Ramadhan. Maka hadits ini dibawa pada makna anjuran memperbanyak puasa di bulan Muharram, bukan berpuasa seluruhnya.

Dan telah tetap Nabi shallallahu alaihi wasallam memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, dan sepertinya belum diwahyukan kepada beliau keutamaan bulan Muharram kecuali di akhir hayat beliau, sehingga belum memungkinkan bagi beliau untuk berpuasa padanya. (Syarh shahih Muslim karya An-Nawawi.)

Allah itu memilih apa saja yang Dia kehendaki dari waktu dan tempat. Izz bin Abdissalam rahimahullah berkata: Dan diutamakannya tempat dan waktu itu ada dua permisalan :

Yang pertama: Secara duniawi
Yang kedua: Diutamakan secara agama, kembalinya kepada Kalau Allah akan mengaruniai hamba-Nya di waktu tersebut pahala bagi orang yang beramal. Seperti diutamakannya puasa bulan Ramadhan di atas seluruh bulan.

Demikian juga hari Asyuura, maka keutamaannya kembali kepada kemurahan Allah dan KebaikanNya kepada hamba-hambaNya di waktu itu.
Qawaaid Al-Ahkam 1/38.

Sumber || Channel Durus Salafiyyah

✍ فضل الإكثار من صيام النافلة في شهر محرّم:
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «أفضل الصّيام بعد رمضان شهرُ الله المحرم» (رواه مسلم 1982).

قوله: “شهر الله” إضافة الشّهر إلى الله إضافة تعظيم، قال القاري: الظاهر أن المراد جميع شهر المحرّم.
ولكن قد ثبت أن النبي صلى الله عليه وسلم لم يصم شهراً كاملاً قطّ غير رمضان، فيحمل هذا الحديث على الترغيب في الإكثار من الصّيام في شهر محرم لا صومه كله.
وقد ثبت إكثار النبي صلى الله عليه وسلم من الصوم في شعبان، ولعلّ لم يوح إليه بفضل المحرّم إلا في آخر الحياة قبل التمكّن من صومه. (شرح النووي على صحيح مسلم).

الله يصطفي ما يشاء من الزمان والمكان:
قال العِزُّ بن عبدِ السَّلام رحمه الله: “وتفضيل الأماكن والأزمان ضربان: أحدهما: دُنْيويٌّ.. والضرب الثاني: تفضيل ديني راجعٌ إلى أن الله يجود على عباده فيها بتفضيل أجر العاملين، كتفضيل صوم رمضان على صوم سائر الشهور، وكذلك يوم عاشوراء.. ففضلها راجعٌ إلى جود الله وإحسانه إلى عباده فيها” (قواعد الأحكام 1/38).

 

Sumber : http://forumsalafy.net/keutamaan-banyak-berpuasa-sunnah-di-bulan-muharam/

Hati-Hati dari Operasi Cesar

ruangan-operasi

Asy Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullah berkata :

Pada kesempatan ini saya ingin menunjukkan sebuah fenomena yang disebutkan kepada kita, yakni: Sesungguhnya banyak para ahli kebidanan laki-laki ataupun perempuan di rumah sakit- rumah sakit sangat bersemangat menjadikan kelahiran dengan operasi yang dinamakan dengan operasi cesar. Dan saya kawatir ini adalah sebuah makar tipu daya terhadap kaum muslimin. Karena semakin sering menjalani persalinan dengan cara ini, akan melemah kulit perut seorang wanita dan kehamilan akan membahayakan bagi wanita ini, sehingga ia tidak mampu (hamil lagi).

Sebagian ahli rumah sakit khusus menyampaikan kepada saya, bahwasanya banyak kaum wanita yang dibawa ke rumah sakit- rumah sakit, lalu penanggung jawabnya menetapkan bahwasanya ia mesti dicesar. Lalu ia pergi ke rumah sakit khusus ini, ternyata ia bisa melahirkan normal. Lalu ia menyebutkan lebih dari delapan puluh kasus dari kasus-kasus seperti ini (terjadi) dalam sebulan.

Dan ini, yakni sesungguhnya masalahnya ini cukup serius, wajib untuk diwaspadai. Dan hendaknya perlu diketahui, sesungguhnya melahirkan itu mesti ada rasa sakitnya, mesti ada rasa lelah (Allah berfirman) :

Ibunya mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah. (QS Al-Ahqaf 15).

Bukan sekedar seorang wanita merasakan nyeri lalu ia pergi (dioperasi caesar) dan mengeluarkan anak dalam keadaan tidak merasakan apa-apa. Maka melahirkan normal itu lebih baik daripada operasi cesar. Selesai dengan sedikit perubahan.

 

Sumber :http://forumsalafy.net/hati-hati-dari-operasi-cesar/