Tanya Jawab Seputar Khitan

Hukum Khitan

Fadhilatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya tentang hukum khitan. Beliau menjawab sebagai berikut.

Khitan adalah salah satu sunanul fitrah[1] dan salah satu bentuk syiar kaum muslimin, berdasarkan dalil yang ada dalam Shahihain dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

.الْفِطْرَةُ خَمْسٌ: الْخِتَانُ، وَالْإِسْتِحْدَادُ، وَقَصُّ الشَّارِبِ، وَتَقْلِيْمُ الْأَظْفَارِ، وَنَتْفُ الْإِبْطِ

“Fitrah itu ada lima: khitan, mencukur rambut kemaluan, memendekkan kumis, memotong kuku, dan mencabut rambut ketiak.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengawalinya dengan khitan dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam beritakan bahwa hal itu merupakan salah satu sunanul fitrah.

Khitan yang syar’i dilakukan dengan memotong qulfah (kulit) yang menutupi ujung zakar saja. Adapun mengelupaskan seluruh kulit yang menutupi zakar atau menguliti zakar sebagaimana yang terjadi di sebagian negeri, karena menyangka–dengan kebodohan mereka–bahwa inilah khitan yang disyariatkan. Sesungguhnya perbuatan seperti ini adalah syariat yang dibuat oleh setan. Setan menampakkan hal ini sebagai sesuatu yang bagus di hadapan orang-orang yang belum memahami ilmu agama.

Selain itu, ini adalah penyiksaan terhadap orang yang dikhitan, menyelisihi sunnah yang diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam , dan menyelisihi syariat Islam yang identik dengan kemudahan, kelapangan, serta penjagaan terhadap nyawa manusia.

Perbuatan semacam ini haram dari beberapa sisi, di antaranya sebagai

berikut.

  1. As-Sunnah menjelaskan khitan dengan memotong kulit yang menutupi kepala zakar saja.
  2. Perbuatan menyiksa dan mencacati seseorang.

Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang perbuatan mencacati, menawan, menelantarkan hewan, atau memotong anggota badannya hidup-hidup. Tentu menyiksa Bani Adam lebih utama dan lebih keras keharamannya.

  1. Perbuatan ini bertentangan dengan perintah untuk berbuat ihsan dan kasih sayang, yang dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,

.إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ

“Sesungguhnya Allah telah menetapkan ihsan atas segala sesuatu.”

  1. Perbuatan ini terkadang mengakibatkan pendarahan dan kematian orang yang dikhitan. Karena itu, tidak boleh dilakukan.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَا تُلۡقُواْ بِأَيۡدِيكُمۡ إِلَى ٱلتَّهۡلُكَةِ

“Janganlah kalian lemparkan diri-diri kalian ke dalam kebinasaan.”

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

وَلَا تَقۡتُلُوٓاْ أَنفُسَكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُمۡ رَحِيمٗا ٢٩

“Dan janganlah kalian bunuh diri-diri kalian, sesungguhnya Allah Maha Penyayang terhadap kalian.” (An-Nisa’: 29)

Oleh karena itu, para ulama menyatakan bahwa tidak wajib khitan syar’i atas orang yang telah dewasa apabila dikhawatirkan akan terjadi hal-hal semacam ini.

Adapun mengadakan resepsi dengan mengundang tamu laki-laki dan perempuan pada hari yang telah ditentukan untuk menghadiri acara khitan, lantas si anak diminta berdiri dihadapan mereka semua dalam keadaan terbuka auratnya, hal ini haram. Sebab, dalam acara seperti ini ada penyingkapan aurat, sementara agama Islam memerintahkan umatnya untuk menutup aurat dan melarang menyingkapkannya.

Begitu pula ikhtilath (campur-baur) antara tamu laki-laki dan perempuan dalam acara seperti ini tidaklah diperbolehkan, karena akan menimbulkan fitnah dan menyelisihi syariat yang suci ini. (Majmu’ Fatawa Ibni Baz, 4/424)

Khitan Anak Perempuan

Fadhilatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya sebagai berikut.

“Sebagian negara Islam melakukan khitan pada anak perempuan, karena meyakini bahwa hal ini wajib atau sunnah. Sebuah majalah bahkan mempersiapkan artikel yang membahas hal ini, karena memandang pentingnya mengetahui pandangan syari’at tentang hal ini. Oleh karena itu, kami memohon kepada Anda agar memberikan penerangan tentang pandangan syari’at akan hal ini.”

Beliau rahimahullah menjawab, “Wa‘alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh.

Khitan pada anak perempuan merupakan sunnah sebagaimana khitan pada anak laki-laki, dengan syarat jika didapati orang yang dapat melakukannya; baik dokter laki-laki maupun perempuan. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الفِطْرَةُ خَمْسٌ: الْخِتَانُ، وَالْإِسْتِحْدَادُ، وَقَصُّ الشَّارِبِ، وَتَقْلِيْمُ الْأَظْفَارِ، وَنَتْفُ الْآبَاطِ

“Fitrah itu ada lima: khitan, mencukur rambut kemaluan, memotong kumis, memotong kuku, dan mencabut rambut ketiak.”

Hadits ini disepakati kesahihannya.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan taufik kepada kita semua untuk melaksanakan segala sesuatu yang membuat-Nya ridha.

Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh. (Majmu’ Fatawa Ibni Baz, 10/46)

Mencukur Rambut Bayi Perempuan setelah Lahir

Samahatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya tentang khitan dan mencukur rambut bayi perempuan setelah lahir.

Beliau menjawab, “Yang disunnahkan hanyalah mencukur rambut bayi laki-laki ketika dia diberi nama pada hari ketujuh. Adapun bayi perempuan tidak dicukur rambutnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

.كُلُّ غُلاَ مٍ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيْقَتِهِ تُذْبَحُ عِنْدَ يَوْمِ سَابِعِهِ، وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى

“Setiap bayi laki-laki tergadai dengan akikahnya hingga disembelih (hewan sembelihan –pent.) pada hari ketujuh kelahirannya, dicukur (rambutnya), dan diberi nama.” (HR. Ahmad dan ashabus sunan yang empat dengan sanad yang hasan)

Adapun khitan bagi anak perempuan, hal ini disenangi, tetapi tidak wajib. Hal ini berdasarkan keumuman hadits yang ada, seperti sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

.خَمْسٌ مِنَ الفِطْرَةِ: الْخِتَانُ، وَالْإِسْتِحْدَادُ، وَنَتْفُ الْإِبْطِ، وَتَقْلِيْمُ الْأَظْفَارِ، وَقَصُّ الشَّارِبِ

“Lima hal yang termasuk fitrah: khitan, mencukur rambut kemaluan, mencabut rambut ketiak, memotong kuku, dan memotong kumis.”

Hadits ini disepakati kesahihannya.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan taufik kepada kita semua pada segala yang diridhai-Nya. Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh. (Majmu’ Fatawa Ibni Baz, 10/47)

Menindik Telinga dan Hidung Anak Perempuan

Pernah ditanyakan kepada Lajnah ad Daimah lil Buhuts al ‘Ilmiyyah wal Ifta’, “Apakah boleh menindik telinga anak perempuan untuk memasang anting?”

Al-Lajnah menjawab,

“Hal ini boleh dilakukan karena tujuannya ialah berhias, bukan untuk menyakiti atau mengubah ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala. Sebab, hal ini telah dikenal pula semenjak masa jahiliah dan semasa hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam , dan beliau tidak melarangnya. Bahkan, disetujui oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau radhiallahu ‘anhum .

Hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala kita memohon taufik. Semoga shalawat dan salam Allah subhanahu wa ta’ala limpahkan kepada Nabi kita, Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya.” (Fatawa al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-‘Ilmiyyah wal Ifta’, no. 4084)

Ditanyakan pula kepada Fadhilatusy Syaikh al-‘Utsaimin tentang hukum menindik telinga atau hidung anak perempuan untuk berhias.

Beliau menjawab, “Yang benar, tidak mengapa menindik telinga, karena tujuan yang hendak didapat adalah untuk berhias yang mubah. Telah pasti pula bahwa wanita para sahabat memiliki anting yang dikenakan di telinga mereka. Kalaupun ini tindakan menyakiti, sifatnya ringan. Jika ditindik pada saat masih kecil, cepat sembuhnya.

Adapun menindik hidung, aku tidak ingat ada pembahasan ulama dalam permasalahan ini. Namun, hal ini mengandung perbuatan mencacati dan menjelekkan penciptaan, menurut pandangan kami. Akan tetapi, mungkin ada (ulama –pen.) selainku yang berpandangan lain.

Apabila memang wanita itu tinggal di suatu negeri yang menganggap memakai perhiasan di hidung adalah bentuk berhias dan berdandan, tidak mengapa menindik hidungnya untuk menggantungkan antingnya. (Majmu’ Fatawa wa Rasa’il, 11/137)

(Dinukil dan diterjemahkan oleh Ummu Abdirrahman dengan sedikit penyesuaian dari Fatawa Tarbiyatil Aulad, al-Qismu al-‘Ilmi Darul Ikhlash wash-Shawab, cet. 2, 1435H/2014M, hlm. 7—12)


[1] Sunanul fithrah disebut juga khishalul fithrah (perangai-perangai fitrah). Disebut demikian karena orang yang melaksanakannya memiliki sifat sebagaimana fitrah yang Allah subhanahu wa ta’ala ciptakan manusia di atas fitrah tersebut dan Allah subhanahu wa ta’ala jadikan mereka senang dengan fitrah tersebut, agar manusia berada dalam keadaan yang paling baik dan bentuk yang paling sempurna. (al-Fiqhul Muyassar, hlm.14)

Sumber: http://asysyariah.com/tanya-jawab-seputar-khitan/

BOLEHKAH MENYEBARKAN BERITA KELAHIRAN DI INTERNET ATAU DI MEDIA SOSIAL

BOLEHKAH MENYEBARKAN BERITA KELAHIRAN DI INTERNET ATAU DI MEDIA SOSIAL?

Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad hafizhahullah

Pertanyaan: Fadhilatusy Syaikh, semoga Allah senantiasa mencurahkan kebaikan-Nya kepada Anda, saya diberi rezeki berupa anak yang baru lahir, apakah boleh bagi saya untuk menyebarkan berita tentang hal itu di internet atau facebook, agar bayi saya tersebut didoakan?

Jawaban: Tidak boleh sama sekali, engkau doakan sendiri untuknya dan keluarganya hendaknya mendoakan untuknya, dan jangan engkau sibukkan dirimu dengan hal-hal semacam ini. Jangan sampai semua orang yang dikaruniai anak lalu menulis beritanya di internet.

? Syarh Shahih Muslim, bab Fadhl Binail Masajid wal Hatstsu Alaiha, 17/6/1435 H

السؤال: فضيلة الشيخ أحسن الله إليكم: رزقت بمولود، فهل يجوز لي نشر خبر ذلك في الشبكة العنكبوتية أو الفيس بوك ليدع له؟

الجواب: لا أبدا، لا تفعل، أدع له أنت ويدعو له أهله، ولا تشغل نفسك بهذه الأمور، كل من يولد له مولود يروح يخطه في الشبكة.

? Sumber || https://goo.gl/IoFp59

Sumber: http://forumsalafy.net/bolehkah-menyebarkan-berita-kelahiran-di-internet-atau-di-media-sosial/

BOLEHKAH MENGUCAPKAN KATA “ALMARHUM” UNTUK ORANG YANG TELAH MENINGGAL DUNIA

BOLEHKAH MENGUCAPKAN KATA “ALMARHUM” UNTUK ORANG YANG TELAH MENINGGAL DUNIA?

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah

Pertanyaan: Apakah dibenarkan mengucapkan kata “almarhum” bagi orang-orang yang telah meninggal, misalnya dengan kita mengatakan, “Almarhum si fulan?”

Jawaban: Jika seseorang berkata ketika sedang menceritakan orang yang telah meninggal, “Almarhum (yang dirahmati)”, atau “Almaghfur lahu (yang diampuni)”, dan semisalnya, jika dia mengucapkannya sebagai bentuk pemberitahuan, maka hal itu tidak boleh, karena dia tidak tahu apakah orang yang meninggal tersebut mendapatkan rahmat atau tidak?

Sesuatu yang tidak diketahui maka tidak boleh bagi seseorang untuk memastikannya, dan juga karena ucapan semacam ini merupakan persaksian bahwa dia mendapatkan rahmat atau ampunan tanpa didasarkan ilmu, sedangkan persaksian tanpa didasarkan ilmu diharamkan.

Adapun jika seseorang mengucapkannya sebagai bentuk doa dan harapan semoga Allah Ta’ala mengampuni dan merahmatinya, maka hal itu tidak masalah dan tidak berdosa. Dan tidak ada bedanya dengan engkau mengatakan, “Almarhum” atau “Fulan rahimahullah” karena dua kalimat ini bisa digunakan untuk mengungkapkan pemberitahuan dan bisa juga untuk mengungkapkan doa, sehingga hal itu sesuai dengan niat orang yang mengucapkannya.

Dan tidak diragukan lagi bahwa orang-orang yang mengucapkan, “Fulan dirahmati” atau “Fulan diampuni” mereka tidak memaksudkan dengan ucapan tersebut sebagai kabar atau persaksian bahwa si fulan diberi rahmat dan ampunan, tetapi mereka hanyalah memaksudkan sebagai bentuk harapan, optimis, dan doa. Oleh karena inilah maka ucapan semacam ini tidak berdosa dan tidak mengapa.

***

? Fatawaa Nuurun Alad Darb, jilid 1 hlm. 666-667

Sumber: http://forumsalafy.net/bolehkah-mengucapkan-kata-almarhum-untuk-orang-yang-telah-meninggal-dunia/

KISAH AYAH YANG BERTOBAT

Ditulis oleh: Al Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman Lc

Lelaki ini tinggal di kota Riyadh (ibukota Arab Saudi), hidupnya amburadul dan tidak mengenal Allah kecuali hanya sedikit. Sejak beberapa tahun yang lalu ia tidak pernah masuk masjid dan tidak pernah sujud kepada Allah sama sekali. Akan tetapi Allah berkehendak lain akan bertobat melalui putrinya yang masih kecil.

Pada suatu malam, aku pulang dari begadangku yang sia-sia. Waktu itu jam menunjukan jam 03.00 pagi. Aku dapatkan Istri dan Putriku sudah mendengkur dalam tidurnya yang pulas. Akupun menuju kamar sebelah untuk menghabiskan waktu-waktu malam yang masih tersisa guna menonton film yang hina menggunakan alat video. Di waktu-waktu yang mana Rabb kita (Allah) Azza wa Jalla turun (Kelangit dunia) seraya mengatakan, “Apakah ada orang yang mau berdo’a sehingga Aku kabulkan? Adakah orang yang meminta ampun sehingga Allah ampuni? Apakah ada orang yang meminta sehingga Aku beri permintaannya?

Tiba-tiba saat aku masih dalam kondisi yang memilukan tersebut, pintu kamar di buka, ternyata yang membukanya adalah putriku yang masih kecil yang umurnya belum lebih dari lima tahun. Ia memandang kepadaku dengan pandangan yang penuh keheranan dan ketidaksukaan. Putriku mendahuluiku dengan berucap : “Wahai bapak, tidak pantas kamu melakukan ini, bertakwalah kamu kepada Allah!” Ia mengulangi ucapan itu tiga kali, lalu ia menutup pintu dan pergi…

Pikiranku sangat kacau, lalu akupun mematikan alat video, aku duduk dalam kebingungan, kata-katanya selalu terngiang-ngiang di telingaku dan hampir-hampir membunuhku. Aku keluar menyusulnya namun dia sudah kembali ketempat tidurnya.. Aku seperti orang gila, tidak tahu apa yang menimpaku kala itu. Peristiwa itu tidak berlangsung lama hingga suara muadzin dari masjd yang terdekat memecahkan keheningan malam yang mencekam, memanggil untuk menjalankan shalat subuh.

Akupun berwudhu pergi ke masjid, dan waktu itu aku tidak ada keinginan kuat untuk shalat. Hanyalah yang menyibukanku dan menggoncang hatiku, kata-kata putriku yang masih kecil. Iqamat di kumandangkan, imampun bertakbir dan membaca apa yang ia mampu dari al Qur’an dan saaat ia sujud aku juga sujud di belakangnya dan meletaakkan jidatku di atas tanah. Tiba-tiba terpecah dariku tangisan yang keras yang tidak aku tahu sebabnya.

Ini adalah awal sujud kepada Allah yang aku lakukan semenjak tujuh tahun yang lalu. Tangisan itu menjadi pembuka kebaikan bagiku. Sungguh, dengan tangisan itu keluar apa yang ada pada hatiku dari kekafiran, kemunafikan dan kerusakan. Akupun merasa iman mulai masuk dalam kalbuku. Selesai shalat aku duduk sebentar di masjid kemudian kembali kerumah. Aku tidak mencicipi tidur sampai aku pergi ke tempat kerja.

Tatkala aku masuk pada rekan kerjaku, iapun heran tentang kehadiranku yang lebih awal, karena biasanya aku datang terlambat. Ia menanyaiku tentang sebabnya, lalu akupun menceritakan kepadanya peristiwa tadi malam. Rekanku berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah mengarahkan putrimu yang masih kecil kepadamu sehingga ia membangunkanmu dari kelalaianmu dan kematian tidak datang kepadamu dalam keadaan lalai.

Ketika datang waktu dzuhur aku sangat letih karena aku belum tidur untuk waktu yang lama. Aku meminta temanku untuk menjalankan tugasku. Aku pulang kerumah untuk mengambil bagian dari waktu istirahat dalam keadaan aku merindukan putriku yang masih kecil yang menjadi sebab aku mendapat petunjuk dan kembali kepada Allah.

Aku masuk kerumah dan istriku menyambutku dengan tangisan. Aku bertanya kepadanya, “Ada apa kamu wahai istriku? “Maka, datang jawabannya seperti halilintar, “Putrimu telah meninggal. “Aku tidak mampu menguasai diriku karena dahsyatnya benturan musibah ini. Tangispun pecah dariku lama…Dan ketika diriku sudah tenang, akupun sadar bahwa apa yang menimpaku tidak lain hanyalah ujian dari Allah untuk menguji keimananku, lalu akupun mengucapkan pujian kepada Allah. Kemudian aku angkat gagang telepon untuk menghubungi rekanku, aku memintanya datang untuk membantuku.

Temanku datang, ia mengambil anak kecil itu lalu memandikannya dan mengafaninya. Kami menyalatinya kemudian membawanya kepekuburan. Rekanku berkata kepadaku, “Tidak pantas seorang memasukan anak ini ke liang kubur kecuali kamu. ”Aku angkat anak itu sementara air mata ini terus berderai, akupun letakan ia di liang lahat…(sungguh rasanya) aku bukan sedang mengubur putriku, namun mengubur cahaya yang telah menyinari jalan hidupku. Aku memohon kepada Allah semoga putriku di jadikan penghalang bagiku dari api neraka dan semoga Allah membalas istriku yang mukminah dan sabar dengan sebaik-baik balasan. (Diterjemahkansecara bebas dari sebuah bulletin dengan judul al’aiduna ilallah halaman 6-8)

Sumber : Majalah Qudwah Edisi 23 Vol.2 1436H/2014m

Sumber Artikel : http://forumsalafy.net/?p=8872

BERANI MENGAKU SALAH

Suatu hari di masjid raya negeri Fusthat,wilayah Mesir.Seorang ulama terkenal bernama Abul Fadhl Al Jauhari sedang menyampaikan ilmu agama untuk khalayak ramai.Di dalam kesempatan tersebut,Al Jauhari menjelaskan bahwa Rasulullah pernah menjatuhkan talak,mengucapkan dzihar dan melakukan ii’la’.

 

Setelah keluar meninggalkan masjid,Al ‘Utsmani bersama satu rombongan orang lantas mengikuti Al Jauhari dari belakang,sampai ke rumahnya.Mereka dipersilahkan masuk.Setelah berbincang-bincang dan tamu-tamu telah beranjak pamit,Al Jauhari memberi kesempatan kepada Al ‘Utsmani untuk berbicara.

“Hari ini,saya menghadiri majlis Anda.Saya mendengar Anda menerangkan bahwa Rasulullah pernah melakukan ii’la’ dan menjatuhkan talak,hal ini benar.Namun,Anda juga mengatakan bahwa Rasulullah mengucapkan dzihar,padahal hal ini tidak pernah terjadi.Sebab,dzihar itu termasuk ucapan mungkar dan dusta.Jadi,tidak mungkin hal ini terjadi pada diri Rasulullah”,Al ‘Utsmani berterus terang.

Saat itu juga,Al Jauhari memeluk Al ‘Utsmani dan mencium kepalanya.

Al Jauhari menyatakan,”Sejak detik ini,saya bertaubat dari pendapat tersebut.Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan,atas teguran ini”

Keesokan harinya,sebagaimana biasa,Al Jauhari menyampaikan ilmu untuk khalayak ramai di masjid raya Fusthat.

Dalam kesempatan tersebut,Al Jauhari mengumumkan rujuknya dari pendapat yang disampaikannya pada hari sebelumnya.Sekaligus beliau memuji Al ‘Utsmani.

“Saya adalah guru kalian.Namun,orang ini (Al ‘Utsmani) adalah guruku.Kemarin,saya menyatakan bahwa Rasulullah pernah melakukan iila’,menjatuhkan talak dan mengucapkan dzihar.Namun,tidak ada seorang pun dari kalian yang menegur”,kata Al Jauhari.

Kemudian Al Jauhari menceritakan ulang tentang kejadian kemarin bersama Al ‘Utsmani .

Al Jauhari lalu menutup pembicaraan di majlis tersebut dengan berkata,”Saya menyatakan taubat dari pendapat kemarin dan saya rujuk kepada kebenaran.Barangsiapa yang kemarin hadir,janganlah ia berpendapat demikian! Barangsiapa yang hari ini tidak hadir,hendaknya diberitahu oleh yang hadir.Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan”

Subhaanallah!

Pelajaran penting dan berharga! Berani mengaku salah adalah sifat terpuji.Siap untuk merujuk kepada kebenaran merupakan akhlak mulia.Hanya hamba yang berjiwa besar saja yang mampu melakukannya.

Memang berat,bukan? Walaupun demikian,marilah kita belajar dan berlatih untuk selalu siap mengaku salah.Buang rasa malu dan sungkan sejauh-jauhnya! Mendahulukan ego tidak akan membawa manfaat.Astaghfirullah

Setelah membawakan kisah di atas,Ibnul ‘Arabi menasehati,”Perhatikanlah! Semoga Allah merahmati kalian.Perhatikanlah agama yang kokoh ini! Juga sikap hormat kepada ilmu dan ahlul ilmi! Di hadapan khalayak ramai,seorang ulama yang berkedudukan tinggi dan telah terkenal kemuliaannya,menerima kebenaran dari seseorang yang asing dan tidak diketahui dari mana asalnya! Teladanilah beliau,pasti kalian akan memperoleh petunjuk!”

 

Iila’ : Sumpah seorang suami untuk tidak mendekati istrinya.Waktunya tidak boleh lebih dari empat bulan

Dzihar : Ucapan seorang suami kepada istrinya,”Punggungmu seperti punggung Ibuku!”

Sumber : http://tashfiyah.net/berani-mengaku-salah/

BOLEHKAH JUAL BELI DARAH?

BOLEHKAH JUAL BELI DARAH?

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah

Pertanyaan: Termasuk perkara yang diketahui adalah haramnya menjual darah, lalu apa hukum membeli darah orang lain di rumah sakit untuk pengobatan?

Jawaban: Jika sesuatu haram dijual maka juga haram dibeli, karena penjualan tidak akan terjadi tanpa ada pembelian, jadi tidak boleh membeli darah sebagaimana tidak boleh menjualnya. Namun jika seseorang terpaksa membutuhkan darah, maka boleh baginya untuk membeli jika pemiliknya tidak mau menyumbangkannya.

***

Sumber: Majmu’ul Fatawa, jilid 28 hlm. 108

Sumber: http://forumsalafy.net/bolehkah-jual-beli-darah/

BOLEHKAH MENGGUNAKAN KARTU KREDIT

BOLEHKAH MENGGUNAKAN KARTU KREDIT

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah

Pertanyaan: Sebagian bank ada yang menerbitkan kartu-kartu seperti kartu visa, sebagai ganti bagi seseorang yang bertransaksi dengan tempat-tempat usaha (barang atau jasa) menggunakan uang cash cukup dengan menunjukkan kartu ini dan dia bisa mengambil barang yang dia inginkan, kemudian dia membayar jumlah yang harus dia bayar dari bank yang bekerja sama dengan nasabah, hanya saja disyaratkan pada perjanjian antara nasabah dan pihak bank di awal bahwa jika pelunasan pinjaman tersebut terlambat dari waktu yang telah ditetapkan, ada biaya-biaya yang harus dibayar.

Jawaban: Masalahnya adalah seseorang mengambil sebuah kartu dari bank, dan jika dia membeli berbagai kebutuhannya maka dia cukup menunjukkan kartu tersebut kepada penjual, dan pihak bank yang akan membayarkannya terlebih dahulu, namun jika dia melunasi ke pihak bank pada waktu yang ditentukan maka dia tidak membayar selain yang dia pinjam tadi, sedangkan jika terlambat maka harus membayar biaya tambahan (denda).

Saya katakan: Sesungguhnya yang seperti ini haram hukumnya, karena semata-mata komitmen seseorang untuk menerima transaksi dengan riba hukumnya haram, sama saja apakah terjadi riba atau tidak.

Jika seseorang ada yang mengatakan, “Saya bertekad kuat dari dalam hati saya bahwa saya akan membayar sebelum jatuh tempo.”

Maka kita katakan: Ya, engkau memang bertekad untuk membayarnya sebelum jatuh tempo, namun apakah engkau bisa memastikan? Bisa saja hartamu hilang, atau dicuri, atau engkau meninggal terlebih dahulu. Jadi engkau tidak bisa memastikannya.

Allah Ta’ala berfirman:

ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻘُﻮﻟَﻦَّ ﻟِﺸَﻲْﺀٍ ﺇِﻧِّﻲ ﻓَﺎﻋِﻞٌ ﺫَﻟِﻚَ ﻏَﺪﺍً. ﺇِﻟَّﺎ ﺃَﻥ ﻳَﺸَﺎﺀَ ﺍﻟﻠَّﻪُ.

“Dan janganlah sekali-kali engkau mengatakan, “Aku pasti akan melakukan hal itu besok.” Kecuali dengan mengatakan “Insya Allah.” (QS. Al-Kahfi: 23-24)

Kemudian, sesungguhnya semata-mata komitmenmu bahwa jika telah jatuh tempo sebelum engkau membayar pinjaman bank maka engkau siap menerima untuk ditambahkan kepadamu biaya lainnya, maka sesungguhnya komitmen semacam ini adalah komitmen untuk melakukan transaksi riba, dan sudah jelas bahwa komitmen untuk melakukan transaksi riba hukumnya haram.

Oleh karena itulah maka kami menilai bahwa kartu semacam ini hukumnya haram, dan tidak boleh bagi seseorang untuk bertransaksi menggunakannya.

Tetapi jika seseorang memiliki saldo rekening di bank dan pihak penjual mau menukar ke bank maka silahkan, perkaranya mudah hanya dengan seseorang membawa cek kosong, lalu dia menuliskan jumlahnya untuk pihak penjual.

***

Sumber: Majmu’ul Fatawa, jilid 29 hlm. 127-128

Sumber: http://forumsalafy.net/bolehkah-menggunakan-kartu-kredit/

HUKUM KENCING SAMBIL BERDIRI

HUKUM KENCING SAMBIL BERDIRI

Asy-Syaikh Al-Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullah

Pertanyaan: Apakah boleh seseorang kencing sambil berdiri, dalam keadaan badan dan pakaiannya tidak terkena (najis) sedikitpun?

Jawaban: Tidak mengapa kencing sambil berdiri,  lebih-lebih tatkala ada hajat untuk itu. Apabila tempatnya tertutup tidak ada seorangpun yang melihat aurat orang yang kencing tadi, dan tidak mengenainya cipratan air kencingnya.

Berdasarkan riwayat yang tsabit dari Hudzaifah radhiyallahu anhu:

أن النبي صلى الله عليه وسلم أتى سباطة قوم فبال قائما

“Sesungguhnya Nabi ﷺ pernah mendatangi tempat sampah suatu kaum,  lalu beliau kencing sambil berdiri.” (Muttafaq alaih)

Akan tetapi yang lebih utama kencing sambil duduk,  karena ini adalah kebanyakan perbuatan Nabi ﷺ, hal ini lebih menutup aurat dan lebih selamat dari terkena cipratan air kencingnya.

***

Sumber : http://www.binbaz.org.sa/fatawa/322

Sumber: http://forumsalafy.net/hukum-kencing-sambil-berdiri/

HUKUM HAJI BADAL

HUKUM HAJI BADAL

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hady al-Madkhaly hafizhahullah

Pertanyaan: Apakah hukum haji badal untuk menggantikan orang lain?

Jawaban: Padanya terdapat sedikit perbedaan pendapat, di sana ada perkara yang disepakati oleh para ulama dan ada yang mereka perselisihkan. Perkara yang disepakati adalah bahwa seseorang boleh menghajikan kerabatnya.

Karena pertanyaan-pertanyaan (yang diajukan kepada Rasulullah) semuanya datang, yaitu: “Ayahku meninggal dalam keadaan belum berhaji.” “Ibuku meninggal dalam keadaan belum berhaji.” “Ayahku terkena kewajiban haji, namun beliau telah tua renta.” dan seterusnya. Yaitu pertanyaan-pertanyaan tentang ayah dan ibu.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu alaihi was sallam mendengar seseorang mengatakan, “Labbaik ’an Syubrumah.” Maka beliau bertanya, “Siapa Syubrumah?” Dia menjawab, “Saudaraku atau kerabatku.” Lalu beliau bertanya, “Apakah engkau telah berhaji untuk dirimu sendiri?” Dia menjawab, “Belum.” Maka beliau bersabda:

حُجَّ عن نَفْسِكَ ثُمَّ حُجَّ عن شُبْرُمَةَ.

“Berhajilah untuk dirimu sendiri terlebih dahulu, kemudian berhajilah (tahun berikutnya) untuk Syubrumah!” (HR. Abu Dawud dan selainnya, lihat; Irwaul Ghalil no. 994 dan ash-Shahih al-Musnad no. 629 -pent)

Sebagian ulama membatasi pihak yang berhak menggantikan haji hanya bagi kerabat dan melarang untuk mengupah orang lain. Dan upah ini telah menjadi perdagangan pada banyak orang.

Ada orang yang datang berdusta dan mengambil tujuh atau delapan kali haji. Yaitu dengan tujuan untuk menghajikan si fulan, dan dia mengambil upah dari orang ini dan itu, padahal tidak diketahui apakah dia benar-benar menghajikan untuk seseorang ataukah tidak?! Sehingga dalam masalah ini terjadi sedikit perkara yang meluas.

Syaikhul Islam dalam masalah ini memiliki pendapat yang bagus, beliau mengatakan:

إن كان هذا الذي يأخذ المال عنده رغبة في الحج لكن ليس عنده مال، فله أن يأخذ هذا المال يستعين به على تحقيق قصده وغايته وينفع نفسه وينفع أخاه، وإن كان قصده المال؛ ليس همه إلا أن يأخذ المال وليس همه أن يحج فهذا من أكل أموال الناس بالباطل.

“Jika orang yang mengambil upah tersebut dia memiliki keinginan untuk berhaji lagi tetapi dia tidak memiliki uang, maka boleh baginya untuk mengambil uang tersebut untuk membantunya mewujudkan niat dan tujuannya serta memberi manfaat untuk dirinya sendiri dan saudaranya. Tetapi jika tujuannya hanya untuk mendapatkan harta, tidak ada keinginannya selain mengambil upah dan tidak memiliki keinginan untuk berhaji, maka ini termasuk memakan harta manusia dengan cara yang bathil.”

***

? Sumber : http://www.rabee.net/ar/questions.php?cat=47&id=787

Sumber: http://forumsalafy.net/hukum-haji-badal/

Hukum Mengucapkan Selamat Tahun Baru

fireworks-city-newsletter

Pertanyaan : Apa hukumnya mengucapkan selamat tahun baru, sebagaimana yang banyak dilakukan oleh umat, seperti saling mengucapkan : كُلَّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ (setiap tahun engkau senantiasa berada dalam kebaikan) atau ucapan-ucapan semisal?

Asy-Syaikh Muhammad bin Shâlih Al-‘Utsaimîn rahimahullahmenjawab :

Ucapan selamat tahun baru bukanlah perkara yang dikenal di kalangan para ‘ulama salaf. Oleh karena itu lebih baik ditinggalkan. Namun kalau seseorang mengucapkan selamat karena pada tahun yang sebelumnya ia telah menggunakannya dalam ketaatan kepada Allah, ia mengucapkan selamat karena umurnya yang ia gunakan untuk ketaatan kepada Allah, maka yang demikian tidak mengapa. Karena sebaik-baik manusia adalah barangsiapa yang panjang umurnya dan baik amalannya.

Namun perlu diingat, ucapan selamat ini hanyalah dilakukan pada penghujung tahun hijriyyah. Adapun penghujung tahun miladiyyah (masehi) maka tidak boleh mengucapkan selamat padanya, karena itu bukan tahun yang syar’i. Bahkan kaum kafir biasa mengucapkan selamat pada hari-hari besar mereka.

Seseorang akan berada pada bahaya besar jika ia mengucapkan selamat pada hari-hari besar orang-orang kafir. Karena ucapan selamat untuk hari-hari besar orang-orang kafir merupakan bentuk ridha terhadap mereka bahkan lebih. Ridha terhadap hari-hari besar orang-orang kafir bisa mengeluarkan seorang muslim dari agama Islam, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Imâm Ibnul Qayyim dalam kitab Ahkâm Ahlidz Dzimmah (Hukum-hukum tentang Kafir Dzimmi).

Kesimpulannya : Ucapan selamat untuk tahun baru hijriyyah lebih baik ditinggalkan tanpa diragukan lagi, karena itu bukan kebiasaan para ‘ulama salaf. Namun kalau ada seseorang yang mengucapkannya maka ia tidak berdosa.

Adapun ucapan selamat untuk tahun baru miladiyyah (masehi) maka tidak boleh.

[dari Liqâ`âtil Bâbil Maftûh ]

Sumber: http://mahad-assalafy.com/2016/12/31/hukum-mengucapkan-selamat-tahun-baru/

Benarkah Umur Umat Islam Hanya 1500 Tahun? dan Perang Suriah Tanda Akhir Zaman?

Benarkah Umur Umat Islam Hanya 1500 Tahun? dan Perang Suriah Tanda Akhir Zaman?

Kedustaan-kedustaan informasi dalam agama akhir-akhir ini sudah pada tingkat yang menghawatirkan, dan masuk ke ranah pendangkalan Aqidah Islam. Banyak beredar berita berita Hoax (bohong). Termasuk prediksi para analis atau ustad yang tidak jelas manhajnya, seolah mereka mengetahui hal yang ghaib yang hanya Allah saja yang mengetahuinya. Termasuk perkara umur umat Islam ini. Apakah mereka mendapat wahyu sehingga lancang berbuat demikian?.

Simak jawabanya dengan detail. Transkrip audio di bawah ini berikut download audio jawaban dari ustadz Usamah Mahri LC, sehingga memberikan pencerahan,agar kita kembali ulama Islam, para ulama Sunnah, ulama Syariat. Merekalah yang diambil ilmunya bukan para analisa ngawur ini.

Transkrip Audio pertanyaan dan jawaban.

Pertanyaan

Apa benar umur umat Islam tidak sampai 1500 Hijriah?, bagaimana dengan analisa para pakar Islam dengan hadits-hadits Rosul tentang konflik Suriah dengan tanda akhir zaman?

Jawaban (oleh Ustad Usamah Mahri)

Wallahu a’lam hadza dhorbun bil ghoib (dugaan yang tidak didukung dengan dalil). Bicara dengan ghoib yang tidak ada dalilnya, tidak ada dasarnya.

Bagaimana dengan analisa para pakar Islam dengan hadits-hadits Rosul tentang perang konflik Suriah dengan tanda akhir zaman?.

Kadzabun (dusta) analisa, tahu dari mana dia, perkara ghoib, tidak akan sampai umur sekian,sekian?. Perkara ghoib harus berdasarkan wahyu, kita pun tidak akan tahu yang ghoib kalo bukan karena nash dalil yang berbicara.

Dan apa yang terjadi di Siria, di Alepo maupun yang lain, musibah tentunya bagi umat Islam, membuat sedih bagi setiap muslim. Tetapi tidak berarti Islam akan musnah, kadzab (dusta). Rosullulah katakan, laa tazaalu thooifatun min ummati dhohiriina alal haq, akan tetap ada sekelompok dari ummatku ini yang yang di atas al haq laa yadhurruhum man khodalahum, tidak akan memadhorotkan mereka orang yang meninggalkan pertolongan kepada mereka yang menyellisihi mereka sampai datang ketetapan .Allah.

Kalaupun disebagian negeri, disebagian daerah, umat Islam tertindas, terbantai, terbunuh nasarahumullah (semoga Allah bela mereka, Allah bantu, Allah lindungi), Allah hancurkan musuh2nya. Di daerah lain al izzah (kaum muslimin mulia kuat) wa hakadza (dan demikianlah). Musnah semua umat Islam tanpa tersisa, gak mungkin, mustahil. kejadianya naam (iya) disebagian tempat terbunuh, terdholimi. Tapi tempat lain jaya Umat Islam, gak akan umat itu mati total di seluruh dunia. Tapi kejadianya seperti itu, sebagian tempat naam (iya), sebagian waktu naam (iya), total smuanya gak mungkin.

Dan itu hadits Rosul Shallallahu Alaihi Wassallam, terus akan ada yang jaya. Selain dari pada itu, sejarah juga membuktikan. Ketika pasukan kufar (orang-orang kafir) musrikin Tartar Mongol membantai kaum muslimin di Bagdad. Jenghiskan dan pasukanya merambah kesana-kemari sampai ke Syam. Dan sama seperti di Bagdad, dia (Jenghiskan) bantai habis-habisan kaum Muslimin, di Syam, Syam sekarang Siria dan sekitarnya. Sampai-sampai Ibnu Katsir Rahimahullah sebutkan, orang pada berbicara habis Islam di syam, lenyap sudah, ga tersisa, oleh kebengisan dan kekejaman Mongol Tartar. Kalian tahu bagaimana kekejaman tartar di Bagdad, tapi dusta semua itu (kaum Muslimin habis) gak benar.

Selang beberapa waktu ga lama dari itu, bangkit kaum muslimin meregka galang kekuatan, mereka berjihad fii Sabilillah (di jalan Allah). Sehingga terjadi kembali peperagan besar tercatat dalam sejarah yang dinamakan dengan perang Ainul Jalut. Perang besar, di Syam antara Muslimin dengan tentara Mongol Tartar. Dengan izin Allah, Allah beri kemenangan kepada kaum muslimin. Habis Tartar dan Mongol, kembali jaya kaum Muslimin. Ga ada (Muslim habis total), Ibtila’ dari Allah musibah (memang) terjadi. Jangan dengar analisa para pakar (ngawur). Tapi lihat penjelasan ulama Islam, para ulama Sunnah, ulama Syariat, mereka yang diambil ilmunya bukan para analisa ini.

Admin salafymagelang.com

HUKUM MENJAWAB SALAM DALAM SHALAT

salamHUKUM MENJAWAB SALAM DALAM SHALAT

Asy Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullah

Pertanyaan: Wahai Syaikh yang mulia, jika saya dalam shalat zhuhur lalu ada orang lain yang mengucapkan salam kepada saya, apakah saya bisa menjawabnya atau tidak? dan apa semestinya dilakukan oleh orang yang baru datang?

Jawaban: Adapun menjawab salam dengan perkataan maka tidak boleh, karena engkau jika menjawabnya dengan ucapan, shalatnya akan batal.
Dan adapun menjawab dengan isyarat, maka tidak mengapa. Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab salam (dalam shalat) dengan isyarat, beliau mengangkat tangannya. Sebagai isyarat, kalau saya telah mendengar (salam-mu) akan tetapi aku tidak boleh bercakap-cakap, karena aku sedang shalat.

Akan tetapi jika orang yan mengucapkan salam tadi masih ada sampai orang yang shalat selesai, ia bisa menjawabnya dengan perkataan. Jika ia sudah pergi, isyarat tadi sudah mencukupi.

Sumber silsilah al-Liqa asy-Syahri/ Pertemuan 71.

Sumber: http://forumsalafy.net/hukum-menjawab-salam-dalam-shalat/