Ahlussunnah Meyakini Kafirnya Orang Yahudi & Nasrani

Ucapan tentang tidak bolehnya mengkafirkan Yahudi dan Nashrani
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah ditanya: (bagaimana pendapat beliau) tentang perkataan seorang penceramah di salah satu masjid di Eropa bahwa (kita) tidak boleh mengkafirkan Yahudi dan Nashrani?

Beliau menjawab:
Ucapan yang keluar dari orang ini adalah ucapan sesat. Bahkan bisa jadi ia merupakan kekafiran, karena Allah telah mengkafirkan orang Yahudi dan Nashrani dalam kitab-Nya:

“Orang-orang Yahudi berkata: ‘Uzair itu putera Allah’, dan orang Nashrani berkata: ‘Al Masih itu putera Allah’. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling? Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (At-Taubah: 30-31)
Ayat ini menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang musyrik (menyekutukan Allah) dan Allah menerangkan dalam banyak ayat lain yang dengan tegas mengkafirkan mereka.

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putera Maryam.” (Al-Maidah: 17, 72)

لَّقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ ۘ وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّا إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۚ وَإِن لَّمْ يَنتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: Bahwa Allah salah satu dari yang tiga, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” (Al-Maidah: 73)

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِن بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ

“Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Dawud dan ‘Isa putera Maryam.” (Al-Maidah: 78)

Ayat-ayat lain dalam masalah ini jumlahnya cukup banyak, demikian pula hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka barangsiapa yang mengingkari kafirnya Yahudi dan Nashrani yang tidak beriman kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebaliknya malah mendustakannya, berarti ia mendustakan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sedangkan mendustakan Allah adalah kekafiran. Barangsiapa yang ragu terhadap kekafiran Yahudi dan Nashrani maka tidak ada keraguan tentang kafirnya dia.
Subhanallah, bagaimana orang ini merasa ridha untuk mengatakan bahwa kita tidak boleh mengatakan kafir kepada Yahudi dan Nashrani, padahal mereka mengatakan bahwa Allah itu adalah tuhan ketiga dari tuhan yang (jumlahnya) tiga?! Padahal Pencipta mereka telah mengkafirkan Yahudi dan Nashrani.

Bagaimana ia tidak mau mengkafirkan Yahudi dan Nashrani padahal mereka mengatakan bahwa Al-Masih adalah putra Allah dan mengatakan tangan Allah itu terbelenggu? Juga mengatakan bahwa Allah faqir dan mereka kaya. Bagaimana ia tidak mau mengkafirkan Yahudi dan Nasrani padahal mereka mensifati Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sifat-sifat jelek yang semuanya adalah aib, celaan dan cercaan?
Saya mengajak orang ini untuk bertaubat kepada Allah dan membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ

“Maka mereka menginginkan supaya kamu bermudahanah lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).” (Al-Qalam: 9)

Jangan ia bermudahanah (mengorbankan prinsip agama demi menjaga perasaan mereka -pent) dengan Yahudi dan Nashrani dalam hal kekafiran mereka. Dan hendaknya ia menerangkan kepada setiap orang bahwa mereka adalah orang-orang kafir dan penghuni neraka. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: bersabda:

“Demi Dzat Yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, tidaklah dari umat ini baik Yahudi atau Nashrani mendengar tentang aku, kemudian dia mati dan tidak beriman kepada apa yang aku diutus dengannya kecuali ia termasuk ahli neraka.” (Shahih, HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)
Maka wajib atas orang yang mengucapkan ini (yaitu ucapan bahwa Yahudi dan Nashrani tidak kafir) untuk bertaubat kepada Allah dari ucapan dan kebohongan yang besar ini, dan agar mengatakan terang-terangan bahwa mereka adalah orang-orang kafir dan para penghuni neraka. Dan yang wajib bagi mereka adalah mengikuti Nabi yang ummi yaitu Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena (nama) beliau sesungguhnya telah tertulis di sisi mereka dalam kitabTaurat dan kitab Injil.

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِندَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنجِيلِ يَأْمُرُهُم بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ ۚ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنزِلَ مَعَهُ ۙ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka. Yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-A’raf: 157)
Itu adalah kabar gembira dari Nabi ‘Isa bin Maryam ‘alaihimassalam. ‘Isa bin Maryam ‘alaihimassalam telah berkata sebagaimana yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala kisahkan dalam Al Qur’an:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

“Dan (ingatlah) ketika ‘Isa Putra Maryam berkata: Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang bernama Ahmad (Muhammad). Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: Ini adalah sihir yang nyata.” (Ash-Shaff: 6)

Tatkala datang kepada mereka (seseorang) yang dikabarkan ia adalah Ahmad, dengan membawa al-bayyinat (keterangan-keterangan), mereka mengatakan: “Ini adalah sihir yang nyata.” Dengan ini kamu membantah pengakuan orang Nashrani yang mengatakan: “Sesungguhnya yang dikabarkan oleh ‘Isa adalah Ahmad bukan Muhammad.”
Maka kita katakan, “Sesungguhnya Allah berfirman yang artinya: “Maka tatkala datang kepada mereka.” Dan tidak ada yang datang setelah ‘Isa ‘alaihissalam kecuali Muhammad dan Muhammad adalah Ahmad akan tetapi Allah mengilhami Nabi ‘Isa ‘alaihissalam untuk menyebut Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan nama Ahmad. Karena Ahmad adalah ism tafdhil dari kata hamd. Jadi dia adalah orang yang sangat memuji Allah dan beliau adalah orang yang sifatnya paling terpuji.

Sungguh aku katakan, barangsiapa yang menganggap bahwa di muka bumi ini ada agama yang diterima oleh Allah selain Islam, maka dia kafir dan tiada keraguan tentang kekafirannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya:

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali Imran: 85)

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Al-Maidah: 3)
Atas dasar ini – saya ulangi yang ketiga kalinya – orang yang mengatakan hal ini agar bertaubat kepada Allah dan menerangkan kepada seluruh manusia bahwa Yahudi dan Nashrani adalah orang-orang kafir karena hujjah telah tegak pada mereka dan telah sampai kepada mereka risalah akan tetapi mereka kafir karena membangkang. Sungguh Yahudi telah disifati bahwa sebagai orang-orang maghdhub ‘alaihim (orang yang dimurkai) karena mereka mengetahui kebenaran namun menyelisihinya. Dan Nashara disifati dengan dhallun (sesat) karena menginginkan kebenaran tapi tersesat. Sekarang semua telah tahu yang benar akan tetapi mereka menyelisihinya, maka mereka semua berhak untuk menjadi orang-orang yang dimurkai.

Aku mengajak mereka, Yahudi dan Nashrani, untuk beriman kepada Allah dan kepada Rasul-Nya dan agar mengikuti Muhammad, karena inilah yang diperintahkan kepada mereka di dalam kitab-kitab mereka sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala firmankan:

فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُم بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِندَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنجِيلِ يَأْمُرُهُم

“Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami. (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka…” (Al-A’raf: 156-157)

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا

“Katakanlah: Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua.” (Al-A’raf: 158)
Hendaknya mereka mengambil dua pahala, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“Tiga golongan yang mereka mendapatkan dua pahala, (salah satunya yaitu) seseorang dari Ahlul Kitab yang beriman dengan Nabinya dan beriman dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam …” (Shahih, HR. Al-Bukhari dalam Kitabul ‘Ilm, no. 95)
Kemudian setelah keterangan ini aku mendapatkan ucapan penulis kitab Al-Iqna’ dalam Bab Murtad, beliau mengatakan setelah ucapannya yang sebelumnya: “… (seseorang) yang tidak mengkafirkan orang yang beragama selain Islam seperti Nashara, ragu terhadap kekafiran mereka, atau menganggap ajaran mereka adalah benar, maka dia kafir.”

Dinukilkan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah ucapan beliau: “Barangsiapa yang meyakini bahwa gereja-gereja adalah rumah Allah, bahwa Allah diibadahi di sana, dan yang dilakukan orang-orang Yahudi dan Nashara adalah ibadah dan (merupakan bentuk) ketaatan kepada Allah dan kepada Rasul-Nya, atau ia suka dengan hal itu, ridha terhadapnya, membantu mereka untuk melakukannya dan menegakkan mereka, dan (menganggap) bahwa itu merupakan bentuk pendekatan diri (qurbah) kepada Allah atau ketaatan kepada-Nya, maka dia kafir.”
Beliau juga mengatakan dalam kesempatan yang lain: “Barangsiapa yang menyakini bahwa mengunjungi ahludz dzimmah (orang kafir yang hidup di negeri muslim) di gereja-gereja mereka adalah merupakan qurbah kepada Allah, maka ia murtad.” Ini menguatkan apa yang kami katakan di awal jawaban dan ini merupakan perkara yang tidak ada kesamaran padanya. Wallahul musta’an.

Menghadiri Hari Raya non Muslim
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah ditanya tentang hukum berbaurnya muslimin dengan non muslim dalam acara hari raya mereka?
Jawab: Berbaurnya kaum muslimin dengan selain muslimin dalam acara hari raya mereka adalah haram, karena dalam perbuatan itu mengandung tolong menolong dalam hal perbuatan dosa dan permusuhan, sedangkan Allah berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksanya.” (Al Maidah: 2)
Dan karena perayaan perayaan ini jika bertepatan dengan acara-acara keagamaan mereka maka ikut serta dalam hal itu berarti membenarkan agama mereka dan ridha dengan apa yang mereka ada padanya dari kekafiran. Adapun jika perayaan itu bukan karena bertepatan dengan acara keagamaan mereka, seandainya ini dilakukan oleh muslimin saja hal itu tidak boleh, bagaimana bila dilakukan oleh orang kafir?! Oleh karenanya para ulama mengatakan bahwa tidak boleh bagi kaum muslimin untuk ikut bersama non muslim dalam acara hari raya mereka, karena hal itu berarti persetujuan dan ridha terhadap agama mereka yang batil. Juga terkandung di dalamnya adanya saling membantu dalam perbuatan dosa dan permusuhan.

Para ulama berbeda pendapat tentang seseorang non muslim yang menghadiahkan kepadamu sebuah hadiah berkaitan dengan hari raya mereka, apakah kamu boleh menerimanya atau tidak boleh?
Diantara ulama ada yang mengatakan tidak boleh menerima hadiah dari mereka pada acara hari raya mereka, karena ini adalah tanda kerelaan. Sebagian ulama yang lain ada yang mengatakan tidak mengapa untuk menerimanya. Bagaimanapun, jika di sana tidak ada larangan yang syar’i yang menjadikan orang yang memberimu hadiah meyakini bahwa kamu ridha terhadap ajaran agama mereka, maka tidak mengapa kamu menerimanya. Kalau tidak seperti itu, maka lebih utma untuk tidak menerimanya.
Ada baiknya kita menyebutkan apa yang ditulis oleh Ibnul Qayyim dalam dalam kitab Ahkam Ahlidzimmah (1/205): “Dan adapun memberikan ucapan selamat dengan syi’ar-syi’ar kekafiran yang khusus maka hal ini haram dengan kesepakatan ulama. Seperti memberikan ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seraya mengatakan: ‘Ied yang berkah’, atau memberikan ucapan selamat karena hari raya mereka dan sejenisnya, maka ucapan ini kalaupun dianggap tidak menyebabkan kafir, maka ini (memberi ucapan selamat pada hari raya mereka -red) termasuk sesuatu yang haram. Dan hal itu seperti halnya memberikan ucapan selamat atas sujud mereka kepada salib… dan banyak orang yang tidak menghargai agamanya jatuh dalam perbuatan itu.

Memberi Salam Kepada Non Muslim
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah kemudian ditanya tentang hukum memberi salam kepada non muslim.
Maka beliau rahimahullah menjawab: Memulai salam kepada mereka haram, tidak boleh dilakukan karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Jangan kalian mendahului Yahudi dan Nashrani dengan salam dan jika kalian bertemu mereka di jalan maka arahkan mereka ke (tempat) yang tersempit.” (Shahih, HR. Muslim)

Dalam kesempatan lain beliau –Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah – mengatakan: Jika ada orang kafir memberi salam kepada seorang muslim dengan salam yang jelas “Assalamu ‘alaikum,” maka kamu menjawab: “‘Alaikassalam” (atau “Wa ‘alaikumus salam” -pent) berdasarkan keumuman firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا

“Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.” (An-Nisa: 86)
Adapun jika tidak jelas ucapan salamnya maka kamu jawab: “Wa ‘alaik.” Demikian juga jika jelas mengatakan: “Assamu ‘alaikum,” yang artinya kematian atas kamu, maka dijawab: “Wa ‘alaik” (semoga atas kamu juga).
Wallahu a’lam.

(Diterjemahkan dari kumpulan fatwa beliau Majmu’ Fatawa jilid ketiga pada pembahasan Al-Wala’ wal Bara’ oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi Lc. Url sumber //www.asysyariah.com/print.php?id_online=190)

Sumber : https://salafy.or.id/blog/2005/12/13/kafirnya-nasrani-yahudi/

Hukum Merayakan Valentine’s Day (‘Idul Hub)

Dalil-dalil yang tegas dari al-Qur ‘an dan as-Sunnah telah menunjukkan  – dan di atas inilah para Salaful Ummah telah bersepakat – bahwa hari perayaan (‘Id) dalam Islam hanya ada dua, yaitu : ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adh-ha. Adapun perayaan-perayaan selain kedua hari raya tersebut, baik perayaan  yang berkenaan dengan tokoh tertentu, atau kelompok, atau peristiwa penting, atau berkaitan dengan makna tertentu, maka itu semuanya ADALAH PERAYAAN-PERAYAAN YANG BID’AH, TIDAK BOLEH BAGI AHLUL ISLAM UNTUK MERAYAKANNYA, atau menyetujuinya, atau turut menampakkan rasa senang dengannya, tidak boleh pula turut membantu pelaksanaan perayaan tersebut sedikitpun. Karena itu termasuk TINDAKAN MELANGGAR BATAS-BATAS ALLAH. Barangsiapa yang melanggar batas-batas Allah maka dia telah MENZHALIMI DIRI SENDIRI.

Apabila ditambah, di samping perayaan yang diada-adakan (dalam agama), ternyata juga merupakan perayaan yang berasal dari perayaannya orang-orang kafir, maka itu adalah dosa ditambah dosa. Karena pada yang demikian itu terdapat tasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir dan ada unsur loyalitas/kecintaan kepada orang-orang kafir. Allah telah melarang kaum mukminin dari menyerupai orang-orang kafir dan dari loyal/cinta kepada orang-orang kafir dalam Kitab-Nya yang mulia. Juga telah sah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,

من تشبه بقوم فهو منهم

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari kaum tersebut.”

Valentin’s day termasuk dalam perayaan yang disebutkan di atas. Karena perayaan itu berasal dari perayaan-perayaan paganisme  Kristen. Maka tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir untuk ikut MERAYAKANnya, atau MENYETUJUInya, atau MENGUCAPKAN SELAMAT. Bahkan yang wajib adalah MENINGGALKAN dan MENJAUHInya, dalam rangka memenuhi (perintah) Allah dan Rasul-Nya, dan agar jauh dari sebab-sebab kemurkaan dan siksa-Nya.

Sebagaimana DILARANG pula atas seorang muslim untuk MEMBANTU pelaksanaan/penyelenggaraan perayaan tersebut (Valentin’s Day), atau perayaan-perayaan haram lainnya, dalam bentuk apapun, baik berupa makanan, minuman, jual beli, kerajinan tangan, hadiah, surat/pesan (SMS), pengumuman/iklan, dan yang lainnya. Karena itu semua termasuk bentuk Ta’awun (kerja sama/saling menolong) dalam dosa dan permusuhan. Allah Ta’ala berfirman,

وتعاونوا على البر والتقوى، ولا تعاونوا على الإثم والعدوان، إن الله شديد العقاب

“Saling menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketaqwaan, dan janganlah saling menolong dalam dosa dan permusuhan. Sesungguh Allah sangat keras adzab-Nya.

Wajib atas seorang muslim untuk BERPEGANG TEGUH KEPADA AL-QUR`AN DAN AS-SUNNAH dalam semua kondisinya.  Terlebih lagi pada masa-masa penuh fitnah dan banyaknya kerusakan. Hendaknya dia menjadi seorang yang jeli dan waspada dari terjatuh kepada kesesatan-kesesatan orang-orang yang dimurkai (oleh Allah), orang-orang tersesat dan fasik, yang tidak percaya akan kebesaran Allah, dan sama sekali tidak peduli terhadap Islam.

Hendaknya setiap muslim kembali kepada Allah, dengan mengharap dari-Nya hidayah-Nya dan kokoh di atas hidayah tersebut. sesungguh tidak ada yang memberi hidayah dan mengokohkan di atas-Nya kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala

وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم.

Al-Lajnah ad-Da`imah

__________________________________________________________________________________________

Merayakan Valentin’s Day TIDAK BOLEH karena beberapa alasan:

Pertama, itu adalah perayaan bid’ah, yang tidak ada dasarnya dalam syari’at.

Kedua, perayaan tersebut menyeret kepada cinta birahi dan mabuk cinta

Ketiga, perayaan tersebut menyeret untuk menyibukkan hati dengan perkara-perkara konyol dan sia-sia, yang bertentangan dengan bimbingan para Salafush Shalih radhiyallahu ‘anhum.

Maka TIDAK HALAL untuk diperbuat pada hari raya tersebut sedikitpun dari syi’ar-syi’ar ‘Id (hari perayaan), baik dalam makanan, minuman, pakaian, ataupun hadiah-hadiah dan yang lainnya.

Setiap muslim hendaknya merasa mulia dengan agamanya, jangan menjadi orang plin-plan yang mengikuti setiap teriakan.

Aku memohon kepada Allah agar melindungi kaum muslimin dari berbagai fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi, dan agar mengurusi kita dengan pengaturan-Nya dan taufiq-Nya.

Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin

Sumber: http://www.manhajul-anbiya.net/hukum-merayakan-valentines-day/

Dusta, Prinsip Agama Rafidhah (Syiah)

Penulis : Al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc.

Fitrah manusia mencintai kejujuran dan membenci kedustaan. Namun, apabila hawa nafsu telah menguasai seorang dan fanatik buta telah merasuki dirinya, fitrah kesuciannya menjadi rusak dan berubah. Kedustaan yang sebelumnya ia benci akan menjadi sesuatu yang lumrah. Bahkan, ada yang lebih parah dari itu, kedustaan dijadikan sebagai salah satu prinsip beragama, seperti agama Rafidhah (Syiah).

 

Kedustaan, Ciri Khas Munafik

Orang-orang munafik yang tinggal bersama masyarakat muslimin ibarat duri dalam daging. Di satu sisi, orang-orang munafik secara lahiriah menampakkan seolah-olah bagian muslimin. Akan tetapi, di sisi lain mereka memendam kebencian kepada Islam dan muslimin.  Kapan pun ada peluang untuk menjelek-jelekkan Islam, akan mereka lakukan. Allah ‘azza wa jalla menyebutkan tentang mereka, di antaranya,

Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, “Kami mengakui, sesungguhnya kamu benarbenar Rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar pendusta. (al-Munafiqun: 1)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang tanda-tanda orang munafik,

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ

“Tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara, ia berdusta; apabila berjanji, memungkirinya; dan apabila diamanahi, ia berkhianat.” ( HR. al-Bukhari & Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

 

Kemunafikan Yahudi dan Syiah

Kemunafikan merupakan sifat Yahudi yang menonjol. Watak jahat ini sudah muncul sejak awal munculnya bangsa Yahudi. Allah ‘azza wa jalla menyebutkan di antara bentuk kemunafikan mereka,

Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata, “Kami beriman”; dan apabila menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. (Ali Imran: 119)

Dan apabila orang-orang (Yahudi atau munafik) datang kepadamu, mereka mengatakan, “Kami telah beriman,” padahal mereka datang kepada kamu dengan kekafirannya dan mereka pergi (darimu) dengan kekafirannya (pula); dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan. (al-Maidah: 61)

Bisa jadi, seseorang akan heran, bagaimana bisa orang-orang Yahudi suka bermunafik padahal mereka memiliki kitab agama? Bahkan, bermunafik merupakan sifat yang selalu melekat pada mereka?

Apabila seseorang menelaah kitab-kitab Yahudi, terkhusus kitab Talmud, niscaya akan didapatkan jawaban bahwa sifat jelek tersebut ada pada mereka karena para penulis kitab Talmud telah menanamkan kemunafikan pada jiwa mereka. Mereka memoles kedustaan sebagai sesuatu yang harus dilakukan dan sebuah cara untuk mencapai tujuan-tujuan mereka yang berkaitan dengan agama atau pribadi mereka.

Di antara yang disebutkan dari mereka ialah seorang Yahudi boleh berbasa-basi dengan non-Yahudi secara lahiriah demi menghindari kejelekannya, dengan syarat ia tetap memendam kebencian kepadanya.

Salah seorang penulis Talmud mengatakan, “Bermunafik dibolehkan. Seorang—Yahudi—memungkinkan untuk berlaku sopan dengan orang kafir dan mengatakan kecintaan kepadanya secara dusta, apabila dikhawatirkan ia akan tertimpa mudarat.”

Selain itu, mereka menampakkan seolah-olah mengucapkan salam kepada muslimin padahal mereka menyembunyikan pada diri mereka apa yang tidak mereka tampakkan. Oleh karena itu, setelah penjelasan ini seorang muslim tidak pantas tertipu oleh trik-trik Yahudi dalam bermunafik, seperti apa pun mereka menampakkan kecintaan.

Allah ‘azza wa jalla telah membeberkan trik-trik jahat mereka dalam al-Qur’an. Di antaranya adalah firman-Nya,

“Dan apabila mereka datang kepadamu, mereka mengucapkan salam kepadamu dengan memberi salam yang bukan sebagai yang ditentukan Allah untukmu.” (al-Mujadalah: 8)

Di antara bentuk kemunafikan mereka ialah menampakkan kecintaan kepada orang-orang yang berseberangan dengan mereka, dengan cara ikut serta dalam perayaannya, bahkan berpura-pura memeluk agama orang lain.

Hal ini seperti tertera dalam kitab Talmud, “Apabila seorang Yahudi bisa menipu para penyembah berhala dengan mengaku-ngaku bahwa ia termasuk penyembah bintang (berhala), boleh ia lakukan.”

Sengaja kami menyebutkan trik-trik kemunafikan Yahudi agak panjang, karena ada sisi kesamaan dengan orang-orang Rafidhah (Syiah). Bagaimana tidak?! Bahkan, yang memunculkan agama Syiah adalah seorang Yahudi dari Yaman bernama Abdullah bin Saba’. Ia berpura-pura masuk Islam demi merusak kaum muslimin dari dalam. Hal ini juga diakui oleh orang-orang Syiah sendiri, sebagaimana yang dinukil oleh al-Mamiqani dalam kitab mereka, yaitu Tanqihul Maqal (2/184), dari al-Kisysyi—pimpinan ulama Syiah dalam bidang al-jarh wat ta’dil.

Berikut ini teks terjemahannya, “Ulama telah menyebutkan bahwa dahulu Abdullah bin Saba’ adalah seorang Yahudi, lalu masuk Islam dan menyatakan kecintaannya kepada Ali radhiallahu ‘anhu. Ketika masih beragama Yahudi, Abdullah bin Saba’ mengatakan tentang Yusya bin Nun bahwa ia adalah orang yang diwasiati oleh Nabi Musa (untuk memimpin Bani Israil sepeninggal Musa). Ketika masuk Islam, dia pun mengatakan seperti itu tentang Ali (yaitu yang paling berhak menjadi khalifah sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Abdullah bin Saba’ adalah orang pertama yang memasyhurkan keyakinan tentang keimaman Ali dan menampakkan sikap benci kepada lawan-lawan Ali[1].” (lihat mukadimah Muhibbuddin al-Khathib terhadap kitab Mukhtashar at-Tuhfah al-Itsnai al-‘Asyariyah)

Dari penjelasan di atas, teranglah bahwa memang ada benang merah antara Yahudi dan Syiah. Karena itu, didapatkan banyak titik kesamaan antara dua agama tersebut, tak terkecuali dalam masalah tipu-menipu dan berdusta.

Orang-orang Syiah membolehkan berdusta terhadap orang yang bukan kelompoknya, terlebih lagi terhadap Ahlus Sunnah.

Orang-orang Syiah punya trik untuk menyembunyikan keyakinan dan agamanya di sisi orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka, bahkan sampai pada tingkatan berpura-pura mengikuti agama atau kelompok selain mereka. Mereka mengatakan bahwa ini adalah bentuk taqiyyah ( تَقِيَّةٌ ), yang sebenarnya merupakan bentuk kemunafikan.

Akan tetapi, apabila mereka merasa memiliki kekuatan, mereka berterus terang tentang agamanya (Syiahnya) dan menampakkan permusuhan serta kebencian kepada selain kelompok mereka, lebih-lebih terhadap Ahlus Sunnah. Mereka akan membuka agama yang selama ini mereka sembunyikan.

 

Hakekat Taqiyyah Menurut Syiah

Yusuf al-Bahrani—salah seorang pembesar Syiah di abad ke-12 H—, “Yang dimaksud dengan taqiyyah adalah menampakkan kecocokan kepada orang yang tidak sepaham pada apa yang mereka yakini karena takut.”

Al-Khumaini berkata, “Taqiyah artinya seseorang mengatakan suatu perkataan yang tidak sesuai dengan kenyataan atau melakukan suatu perbuatan yang bertentangan dengan timbangan syariat. Hal itu dilakukan demi menjaga darah, kehormatan, atau hartanya.”

Dari pemaparan para tokoh Syiah di atas, bisa diambil empat kesimpulan, yaitu:

  1. Makna taqiyah adalah menampakkan kepada orang lain sesuatu yang menyelisihi batinnya.
  2. Taqiyyah digunakan terhadap orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka, sehingga seluruh muslimin masuk dalam keumuman (orang yang tak sepaham dengan mereka).[2]
  3. Taqiyyah digunakan pada perkara agama yang diyakini oleh orang-orang yang tidak sepaham.
  4. Taqiyyah dilakukan ketika dia mengkhawatirkan agama, jiwa, atau hartanya.

 

Kedudukan Taqiyyah Menurut Syiah

Taqiyyah dalam agama Rafidhah (Syiah) memiliki posisi yang tinggi, seperti yang disebutkan dalam kitab-kitab induk mereka.

Al-Kulaini dan yang lainnya meriwayatkan dari Ja’far ash-Shadiq bahwa ia berkata, “Taqiyyah adalah agamaku dan agama nenek moyangku. Tidak ada iman bagi yang tidak melakukan taqiyyah.”

Ali bin Muhammad berkata kepada Dawud ash-Sharmi, “Wahai Dawud, kalau aku katakan kepadamu bahwa orang yang meninggalkan taqiyyah seperti orang yang meninggalkan shalat, niscaya aku benar (ucapannya).”

Diriwayatkan juga dari al-Baqir bahwa ia berkata, “Akhlak termulia dari para imam dan orang mulia kalangan Syiah kita adalah menggunakan taqiyyah.”

Orang-orang Syiah melakukan taqiyyah berdalilkan dengan firman Allah ‘azza wa jalla,

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan kepada Allah kembali (mu).” (Ali Imran: 28)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Orang-orang Rafidhah mengaku mengamalkan ayat ini (Ali Imran ayat 28), padahal ayat ini merupakan bantahan atas mereka. Sebab, yang pertama kali diajak bicara dengan ayat ini adalah orang-orang mukmin yang bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dikatakan kepada mereka, ‘Orang-orang yang beriman tidak (boleh) menjadikan orang-orang kafir sebagai penolong/teman dekat selain orang-orang yang beriman…’

Dan telah maklum bahwa tidak ada dari kaum mukminin yang ada di Madinah pada zaman Nabi yang menyembunyikan keimanannya dan tidak menampakkannya kepada orang-orang kafir, seperti yang dilakukan oleh orang-orang Rafidhah terhadap mayoritas (kaum muslimin)…

Orang Rafidhah adalah orang yang paling besar menampakkan “kecintaan” kepada Ahlus Sunnah, kala mereka tidak mau menampakkan agamanya. Mereka justru menghafal (dalil-dalil) tentang keutamaan sahabat Nabi dan syair-syair yang memuji sahabat dan mencela Rafidhah. Suatu hal yang dengan itu mereka mengharapkan kecintaan dari Ahlus Sunnah.

Salah seorang mereka tidak mau menampakkan agama (Syiah)nya sebagaimana halnya orang-orang beriman menampakkan agamanya kepada orangorang musyrikin dan ahli kitab.

Dari penjelasan ini, diketahui bahwa mereka adalah orang-orang yang paling jauh pengamalan ayat ini. Adapun firman Allah ‘azza wa jalla,

“Kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka.” (Ali Imran: 28)

Mujahid rahimahullah berkata, “Kecuali karena siasat. Siasat (di sini) bukan dengan (mengatakan), ‘Aku berdusta dan mengatakan dengan lisanku apa yang tidak ada pada hatiku.’ Sebab, yang seperti ini adalah bentuk kemunafikan.

Akan tetapi, yang dimaksud dengan siasat adalah aku melakukan (agama) sesuai kemampuanku….

Apabila seorang mukmin berada di antara orang-orang kafir dan jahat, tidak bisa menjihadi mereka dengan tangan karena tidak mampu, jika mampu ia lakukan dengan lisannya; apabila tidak mampu, dengan hatinya. Namun, dia tidak melakukan kedustaan dan mengatakan dengan lisannya apa-apa yang tidak ada pada hatinya.

Adakalanya seorang mukmin yang tinggal di tengah-tengah mereka menampakkan agamanya, adakalanya menyembunyikannya, namun bersamaan dengan itu ia tidak mencocoki agama orang-orang kafir….

Adapun orang Rafidhah tidaklah bergaul dengan seorang pun kecuali menggunakan cara-cara kemunafikan. Sebab, agama yang ada pada hatinya adalah agama rusak yang mendorongnya untuk berdusta, berkhianat, menipu manusia, dan menghendaki kejelekan kepada manusia.” (Minhajus Sunnah 6/421—425)

 

Rafidhah Berkolaborasi dengan Orang-Orang Kafir

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Minhajus Sunnah (1/20) tentang mereka, ‘Sesungguhnya, mereka adalah para pengekor hawa nafsu yang paling bodoh dan zalim. Mereka memusuhi waliwali Allah ‘azza wa jalla yang terbaik setelah para nabi, dari orang-orang yang pertama-tama masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta yang mengikuti mereka dengan baik yang Allah ‘azza wa jalla ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada Allah ‘azza wa jalla. Mereka (Rafidhah) loyal kepada orang-orang kafir dan munafik dari Yahudi, Nasrani, dan musyrikin, serta segenap orang-orang atheis seperti kelompok Nushairiyah, Isma’iliyah, dan orang-orang sesat selain mereka.” (al-Watsaiq at-Ta’amuriyyah hlm. 133)

Husain bin Ali Hasyimi mengatakan, “Kerjasama militer antara Israel dan Iran terus berlanjut dan tidak terputus.”

Menteri Luar Negeri Israel (negeri Yahudi) di masa pemerintahan Netayahu, David Levi, mengatakan, “Sesungguhnya Israel tidak pernah mengatakan pada suatu hari bahwa Iran (negeri Syiah) adalah musuh.”

Mantan Perdana Menteri Yahudi, Ariel Sharon, mengatakan, “Aku tidak memandang bahwa Syiah adalah musuh Israel lebih lanjut.” (al-Watsaiq at-Ta’amuriyyah hlm. 134)

Dari sini, jelas bahwa apa yang sering diberitakan di beberapa media bahwa negeri Syiah akan menyerang Israel hanyalah sandiwara politik guna menarik simpati dunia Islam kepada negeri Syiah, Iran.

 

Orang-Orang Rafidhah (Syiah) di Mata Ulama

Al-Imam Malik rahimahullah mengatakan, “Jangan ajak bicara mereka dan jangan ambil riwayat dari mereka. Sebab, mereka biasa berdusta.”

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Belum pernah aku melihat seorang lebih berani bersaksi palsu daripada orang Rafidhah.”

Yazid bin Harun rahimahullah berkata, “(Riwayat) ditulis dari setiap ahli bidah—apabila ia bukan penyeru kebid’ahan—selain orang-orang Rafidhah, karena mereka biasa berdusta.” (al-Muntaqa min Minhajil I’tidal, adz-Dzahabi hlm. 23)

Setelah pemaparan di atas, bisa jadi ada yang bertanya, mengapa Syiah menjadikan taqiyyah sebagai bagian agama mereka?

Jawabannya, di antara sebabnya adalah bobroknya keyakinan-keyakinan mereka. Mereka sadar, jika manusia sampai mengetahui hakikat agama Syiah, akan membahayakan orang-orang Syiah dan agamanya. Sebab, dalam agama Syiah terdapat kebatilan besar yang tidak bisa diterima oleh syariat yang benar, fitrah, dan akal sehat.

Semoga Allah ‘azza wa jalla melindungi kita dari makar-makar jahat mereka. Wallahu a’lam.


[1] Yang dimaksud “lawan-lawan Ali” oleh al-Kisysyi ini sebenarnya adalah teman-teman Ali radhiallahu ‘anhu, yaitu para sahabat Nabi g.

[2] Bahkan, terkadang mereka bertaqiyah dengan sesama mereka sendiri. (-ed.)

Sumber: http://asysyariah.com/dusta-prinsip-agama-rafidhah-syiah/

Allah Memisahkan Yang Baik Dengan Yang Buruk

 

untuk-urusan-perut-1

Ditulis oleh: Al Ustadz Idral Harits Hafizhahulloh

Bismillah.

Allah Ta’ala berfirman Ali ‘Imran 179 :

مَا كَانَ اللَّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَىٰ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتَّىٰ يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ ۗ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى الْغَيْبِ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَجْتَبِي مِنْ رُسُلِهِ مَنْ يَشَاءُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۚ وَإِنْ تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوا فَلَكُمْ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin). Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala yang besar.”

Syaikh As-Sa’di menerangkan :

Tidaklah ada dalam hikmah Allah, membiarkan kaum mukminin sebagaimana kamu saat ini, yaitu bercampur aduk, tanpa ada perbedaan sama sekali, hingga Allah memisahkan yang baik dari yang buruk, memisahkan mukmin dari munafik, dan yang jujur dari yang dusta.

Karena itu, sesuai dengan hikmah Allah yang nyata, Dia memberi ujian kepada hamba-Nya, dengan berbagai hal yang akan memisahkan yang buruk dari yang baik. Maka Allah utus para Rasul-Nya dan memerintahkan mereka taat dan tunduk serta beriman kepada para Rasul itu. Akhirnya, manusia terbagi menjadi dua golongan, sesuai dengan sikap ittiba’ mereka kepada para Rasul tersebut, yaitu; mereka yang taat dan mereka yang durhaka.

Dan ada di manakah kita? Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyatakan bahwa yang taat kepada beliau akan masuk surga, sedangkan yang enggan masuk surga adalah mereka yang durhaka kepada beliau.

Rasulullah sudah mengingatkan pula agar kita berpegang dengan sunnah beliau dan sunnah khulafaurrasyidin yang terbimbing.

Kemudian, marilah kita camkan firman Allah Ta’ala dalam surat An-Nisa 115 :

ومن يشاقق الرسول من بعد ما تبين لهم الهدى ويتبع غير سبيل المؤمنين نوله ما تولى و نصله جهنم وساءت مصيرا…

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali…”

Orang mukmin yang pertama kali dituju dalam ayat ini adalah para sahabat, adapun jalan mereka di sini meliputi akidah dan amalan mereka. Dan jalan mereka itu sudah jelas, seterang cahaya siang, orang-orang yang menelusurinya juga sudah jelas, bahkan kita tidak dibiarkan meraba-raba jalan tersebut. Karena para pewaris mereka ada di hadapan kita, yaitu para ulama rabbani.

Karena itu alangkah pantas kita ingat kata-kata Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu :

اتبعوا ولا تبتدعوا، قد كفيتم…

“Ikutilah oleh kamu, dan janganlah kamu mengada-adakan bid’ah, sungguh kamu sudah dicukupi…”

Apakah kita belum merasa cukup dengan apa yg membuat para sahabat cukup? Semoga Allah merahmati Imam Malik yang mengatakan :

لن يصلح آخر هذه الأمة إلا بما صلح به أولها…

“Tidaklah akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan apa yang telah membuat baik generasi awalnya…”

Dengan satu ayat mereka disadarkan, saat mereka dilanda duka kehilangan orang yang sangat dicintai, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dengan satu hadits, selesailah keributan di antara mereka dalam menentukan siapa yang akan menggantikan Rasulullah mengurusi kaum muslimin.

Subhanallahi. Kita salafiyyun, di hadapan kita ada ulama rabbani, waliduna al ‘allamah Rabi’ bin Hadi hafizhahullah, beliau selalu mengikuti perkembangan dakwah salafiyah di tanah air sejak hampir seperempat abad. Bahkan beliau sangat memahami hampir semua persoalan yang ada dalam perjalanan dakwah ini, baik yang terkait dengan dakwahnya maupun sebagian pengusungnya. Itulah karunia Allah buat salifiyin.

Beliau telah dan sejak dahulu menyampaikan nasehatnya buat kita salafiyin, terakhir dengan tahdzir tersebut.

Kalaupun diingkari, dan dibantah, sesungguhnya itu adalah nasehat berharga, tidak ingatkah kita dengan kasus Ka’b bin Malik dan dua sahabat utama lainnya? Jelas mereka radhiyallahu ‘anhum bukan munafik, tetapi diboikot selama 50 hari 50 malam, sampai bumi terasa sempit padahal begitu luasnya, bahkan jiwa mereka sesak, dalam keadaan tidak ada selama ini tanda nifak pada diri mereka.

Sementara di hadapan kita, tersebar kenyataan adanya penyimpangan dan pemalsuan bahkan kedustaan sehingga sangat layak untuk dibeberkan?
Manakah yang lebih layak diboikot, dihajr atau dijauhi? Oleh sebab itu, salafiyin hendaklah jujur dalam menilainya, hendaklah kita bertaubat kepada Allah, dengan jujur, karena jujur adalah pilihan orang yang mulia dan merdeka.

Bisa jadi kekeruhan yang kita lihat ini karena dosa yang kita lakukan, maka bersegeralah bertaubat kepada Allah. Lebih-lebih mereka yang ditahdzir.
Keikhlasan adalah kunci semua itu. Siapa yang niatnya ikhlas dalam al-haq, meskipun terhadap dirinya, niscaya Allah cukupi antara dia dan manusia. Siapa yang berhias dengan apa yang tidak ada padanya, Allah tentu membuatnya buruk.

Seorang hamba, jika dia ikhlas karena Allah Ta’ala, tujuan dan cita-citanya adalah mengharapkan wajah Allah semata, niscaya Allah pasti bersamanya. Karena itu, jika seseorang melaksanakan yang haq terhadap orang lain dan dirinya lebih dahulu, dan semua itu dengan pertolongan Allah dan karena Allah, tidak ada yang dapat mengalahkannya, meskipun langit dan bumi bersatu melakukan makar terhadapnya.

Sebaliknya, jika seseorang berada dalam kebatilan, dia tidak akan ditolong, dan seandainya ditolongpun kesudahannya yang baik tidak akan diraihnya. Bahkan dia akan terhina dan tercela.

Semoga nukilan ini bermanfaat.

 

Sumber : Forum Salafy

Kesalahan-kesalahan Yang Banyak Tersebar Di umat Islam – 1

KESALAHAN-KESALAHAN YANG BANYAK TERSEBAR DI UMAT ISLAM

Asy-Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alus Syaikh [Menteri Urusan Agama Kerajaan Arab Saudi]

———————————————————————————-

KESALAHAN-KESALAHAN DALAM AKIDAH DAN TAUHID

———————————————————————————-

PERTAMA: Kesyirikan Yang Mengeluarkan Dari Islam

1. Istighatsah kepada orang-orang yang telah mati, berdoa kepada mereka, meminta pertolongan kepada mereka, mendekatkan diri (taqarrub) kepada mereka dengan berbagai bentuk ibadah apa saja. Ini semua merupakan syirik besar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam. Allah Ta’ala berfirman:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنَ.

“Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)

Pendahuluan obyek dalam ayat ini pada yaitu pada lafazh (إِيَّاكَ) menunjukkan makna pengkhususan, dan ini makna yang ditunjukkan oleh kalimat tauhid (لا إِلهَ إِلَّا اللهُ). Termasuk jenis ibadah adalah doa, bahkan dia merupakan ibadah sebagaimana riwayat yang shahih di dalam kitab As-Sunan dari hadits An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi was sallam bersabda:

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ.
“Doa adalah ibadah.”  (Lihat: Shahih Sunan Abu Dawud V/219, no. 1329 –pent)

Maka memalingkan ibadah kepada selain Allah merupakan kesyirikan dan kekafiran. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللهِ إِلَهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُوْنَ.

“Dan siapa saja yang berdoa kepada sesembahan yang lain di samping kepada Allah yang itu adalah perbuatan yang tidak ada keterangannya, maka sesungguhnya hisabnya ada di sisi Rabbnya, sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tidak akan beruntung.” (QS. Al-Mu’minun: 117)

Kata (مَنْ) di dalam Bahasa Arab termasuk konteks yang menunjukkan umum yang mencakup semua yang berkaitan dengannya. Maka jelaslah bahwa siapa saja yang berdoa kepada Allah namun juga berdoa kepada sesuatu yang lain apapun bentuknya, maka dia termasuk orang-orang kafir.

Allah Ta’ala juga berfirman:

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوْا مَعَ اللهِ أَحَدًا.

“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kalian berdoa kepada siapapun di samping kepada Allah.” (QS. Al-Jinn: 18)

Allah juga berfirman:

وَقَالَ الْمَسِيْحُ يَا بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ اعْبُدُوْا اللهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِيْنَ مِنْ أَنْصَارٍ.

“Dan Al-Masih (Isa bin Maryam) berkata: “Wahai Bani Israil, sembahlah Allah Rabbku dan Rabb kalian, sesungguhnya siapa saja yang menyekutukan Allah maka Allah mengharamkan syurga untuknya dan tempat kembalinya nanti adalah neraka, dan sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu tidak mendapatkan penolong.” (QS. Al-Maidah: 72)

Termasuk doa adalah berbagai jenis permintaan, seperti permintaan pertolongan yang dikenal dengan istighatsah, meminta bantuan, dan yang semisalnya.

Bersambung In Syaa Allah…

Sumber artikel: Al-Minzhaar Fii Bayaani Katsiirin Minal Akhtha’ Asy-Syai’ah

Alih Bahasa: Abu Almass
Ahad, 4 Dzulhijjah 1435 H

 

Sumber: http://forumsalafy.net/kesalahan-kesalahan-yang-banyak-tersebar-di-umat-islam/

 

#dakwahIslammagelang #aqidah #infoIslammagelang #kajianIslammagelang #Tauhid #RadioIslamMagelang #syirik #doaadalahibadah #doa #ibadah#murtad #keluardariIslam

Kewajiban Taat Kepada Pemerintah Prinsip Islam Yang Semakin Terlupakan

kursi

Oleh: Al-Ustadz Muhammad Umar as-Sewed

Kewajiban taat kepada pemerintah merupakan salah satu prinsip Islam yang agung. Namun di tengah carut-marutnya kehidupan politik di negeri-negeri muslim, prinsip ini menjadi bias dan sering dituding sebagai bagian dari gerakan pro status quo. Padahal, agama yang sempurna ini telah mengatur bagaimana seharusnya sikap seorang muslim terhadap pemerintahnya, baik yang adil maupun yang zalim.

KKN, represivitas penguasa, kedekatan pemerintah dengan Barat (baca: kaum kafir), seringkali menjadi isu yang diangkat sekaligus dijadikan pembenaran untuk melawan pemerintah. Dari yang ‘sekadar’ demonstrasi, hingga yang berujud pemberontakan fisik.

Meski terkadang isu-isu itu benar, namun sesungguhnya syariat yang mulia ini telah mengatur bagaimana seharusnya seorang muslim bersikap kepada pemerintahnya, sehingga diharapkan tidak timbul kerusakan yang jauh lebih besar.

Yang menyedihkan, Islam atau jihad justru yang paling laris dijadikan tameng untuk melegalkan gerakan-gerakan perlawanan ini. Di antara mereka bahkan ada yang menjadikan tegaknya khilafah Islamiyah sebagai harga mati dari tujuan dakwahnya. Mereka pun berangan-angan, seandainya kejayaan Islam di masa khalifah Abu Bakr dan Umar bin al-Khaththab  dapat tegak kembali di masa kini.

Jika diibaratkan, apa yang dilakukan kelompok-kelompok Islam ini seperti “menunggu hujan yang turun, air di bejana ditumpahkan”. Mereka sangat berharap akan tegaknya khilafah Umar bin al-Khaththab , namun kewajiban yang Allah  perintahkan kepada mereka terhadap penguasa yang ada di hadapan mereka, justru dilupakan. Padahal dengan itu, Allah akan mengabulkan harapan mereka dan harapan seluruh kaum muslimin.

 

Wajibnya Taat kepada Penguasa Muslim

Allah telah memerintahkan kepada kaum muslimin untuk taat kepada penguasanya betapa pun jelek dan zalimnya mereka. Tentunya dengan syarat, selama para penguasa tersebut tidak menampakkan kekafiran yang nyata. Allah juga memerintahkan agar kita bersabar menghadapi kezaliman mereka dan tetap berjalan di atas As-Sunnah.

Karena barang siapa yang memisahkan diri dari jamaah dan memberontak kepada penguasanya maka matinya mati jahiliah. Yakni mati dalam keadaan bermaksiat kepada Allah  seperti keadaan orang-orang jahiliah.

1. (Lihat ucapan al-Imam an-Nawawi t dalam Syarah Shahih Muslim)
Dari Ibnu Abbas, dia berkata, Rasulullah bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ فَمِيتَةٌ جَاهِلِيَّةٌ

“Barang siapa melihat sesuatu yang tidak dia sukai dari penguasanya, maka bersabarlah! Karena barang siapa yang memisahkan diri dari jamaah sejengkal saja, maka ia akan mati dalam keadaan mati jahiliah.” (Sahih, HR. al-Bukhari dan Muslim)
Diriwayatkan dari Junadah bin Abu Umayyah, dia berkata, “Kami masuk ke rumah Ubadah bin ash-Shamit ketika beliau dalam keadaan sakit dan kami berkata kepadanya, ‘Sampaikanlah hadits kepada kami—aslahakallah (semoga Allah memperbaiki keadaanmu)—dengan hadits yang kau dengar dari Rasulullah yang dengannya Allah akan memberikan manfaat bagi kami!’ Maka ia pun berkata,

دَعَانَا رَسُوْلُ اللهِ n فَبَايَعَنَاَ، فَكَاَنَ فِيْمَا أَخَذَ عَلَيْنَا أَنْ بَايَعْنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطاَّعَةِ، فِيْ مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا، وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا، وَأَثَرَةٍ عَلَيْنَا، وَأَنْ لاَ نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ، قَالَ: إِلاَّ أَنْ تَرَوْا كُفْرَا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنَ اللهِ فِيْهِ بُرْهَانٌ

“Rasulullah memanggil kami kemudian membai’at kami. Dan di antara bai’atnya adalah agar kami bersumpah setia untuk mendengar dan taat ketika kami semangat ataupun tidak suka, ketika dalam kemudahan ataupun dalam kesusahan, ataupun ketika kami diperlakukan secara tidak adil. Dan hendaklah kami tidak merebut urusan kepemimpinan dari orang yang berhak—beliau berkata—kecuali jika kalian melihat kekufuran yang nyata, yang kalian memiliki bukti di sisi Allah.”

(HR. al-Bukhari dalam Shahih-nya juz 13 hlm.192, cet. Maktabatur Riyadh al-Haditsah, Riyadh. HR. Muslim dalam Shahih-nya, 3/1470, cet. Daru Ihya’ut Turats al-Arabi, Beirut, cet. 1)

 

Wajib Taat Walaupun Jahat dan Zalim
Kewajiban taat kepada pemerintah ini, sebagaimana dijelaskan Rasulullah, adalah terhadap setiap penguasa, meskipun jahat, zalim, atau melakukan banyak kejelekan dan kemaksiatan. Kita tetap bersabar mengharapkan pahala dari Allah dengan memberikan hak mereka, yaitu ketaatan walaupun mereka tidak memberikan hak kita.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud, dia berkata, Rasulullah bersabda:

إِنَّهَا سَتَكُونُ بَعْدِي أَثَرَةٌ وَأُمُورٌ تُنْكِرُونَهَا قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ كَيْفَ تَأْمُرُنَا؟

“Akan muncul setelahku atsarah (orang-orang yang mengutamakan diri mereka sendiri dan tidak memberikan hak kepada orang yang berhak, red.) dan perkara-perkara yang kalian ingkari.” Mereka (para sahabat, red.) bertanya, “Apa yang engkau perintahkan kepada kami, wahai Rasulullah?” Beliau  berkata,

تُؤَدُّوْنَ الْحَقَّ الَّذِيْ عَلَيْكُمْ وَتَسْأَلُوْنَ اللهَ الَّذِيْ لَكُمْ

“Tunaikanlah kewajiban kalian kepada mereka dan mintalah hak kalian kepada Allah.” (Sahih, HR. al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya)
Diriwayatkan pula dari ‘Adi bin Hatim, dia berkata, “Kami mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, kami tidak bertanya tentang ketaatan kepada orang-orang yang takwa, tetapi orang yang berbuat begini dan begitu… (disebutkan kejelekan-kejelekan).’ Maka Rasulullah bersabda:

وَاتَّقُوا اللهََ وَاسْمَعُوْا وَأَطِيْعُوْا

‘Bertakwalah kepada Allah! Dengar dan taatlah!’.”

(Hasan lighairihi, diriwayatkan oleh Ibnu Abu ‘Ashim dalam as-Sunnah dan lain-lain. Lihat al-Wardul Maqthuf, hlm. 32)
Ibnu Taimiyah berkata,

“Bahwasanya termasuk ilmu dan keadilan yang diperintahkan adalah sabar terhadap kezaliman para penguasa dan kejahatan mereka, sebagaimana ini merupakan prinsip dari prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah dan sebagaimana diperintahkan oleh Rasulullah dalam hadits yang masyhur.”

(Majmu’ Fatawa juz 28, hlm. 179, cet. Maktabah Ibnu Taimiyah Mesir)
Sedangkan menurut al-Imam an-Nawawi,

“Kesimpulannya adalah sabar terhadap kezaliman penguasa dan bahwasanya tidak gugur ketaatan dengan kezaliman mereka.”

(Syarah Shahih Muslim, 12/222, cet. Darul Fikr Beirut)
Ibnu Hajar berkata,

“Wajib berpegang dengan jamaah muslimin dan penguasa-penguasa mereka walaupun mereka bermaksiat.” (Fathul Bari Bi Syarhi Shahihil Bukhari)

 

Tetap Taat Walaupun Cacat
Meskipun penguasa tersebut cacat secara fisik, Rasulullah tetap memerintahkan kita untuk tetap mendengar dan taat. Walaupun hukum asal dalam memilih pemimpin adalah laki-laki, dari Quraisy, berilmu, tidak cacat, dan seterusnya. Namun jika seseorang yang tidak memenuhi kriteria tersebut telah berkuasa—baik dengan pemilihan, kekuatan (kudeta), dan peperangan—maka ia adalah penguasa yang wajib ditaati dan dilarang memberontak kepadanya. Kecuali, jika mereka memerintahkan kepada kemaksiatan dan kesesatan, maka tidak perlu menaatinya (pada perkara tersebut, red.) dengan tidak melepaskan diri dari jamaah.
Diriwayatkan dari Abu Dzar bahwa dia berkata:

إِنَّ خَلِيْلِيْ أَوْصَانِي أَنْ أَسْمَعَ وَ أَطِيْعَ، وَإِنْ كَانَ عَبْدًا مُجَدَّعَ الْأَطْرَافِ

“Telah mewasiatkan kepadaku kekasihku agar aku mendengar dan taat walaupun yang berkuasa adalah bekas budak yang terpotong hidungnya (cacat).2”

(Sahih, HR. Muslim dalam Shahih-nya, 3/467, cet. Daru Ihya’ut Turats al-Arabi, Beirut. HR. al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad, hlm. 54)
Juga diriwayatkan dari Suwaid bin Ghafalah, dia berkata,

“Berkata kepadaku ‘Umar, ‘Wahai Abu Umayyah, aku tidak tahu apakah aku akan bertemu engkau lagi setelah tahun ini… Jika dijadikan amir (pemimpin) atas kalian seorang hamba dari Habasyah, terpotong hidungnya maka dengarlah dan taatlah! Jika dia memukulmu, sabarlah! Jika mengharamkan untukmu hakmu, sabarlah! Jika ingin sesuatu yang mengurangi agamamu, maka katakanlah aku mendengar dan taat pada darahku bukan pada agamaku, dan tetaplah kamu jangan memisahkan diri dari jamaah!”
Wallahu a’lam.

wajib-taat-pada-pemerintah

1. Maksudnya seperti keadaan matinya orang-orang jahiliah yaitu di atas kesesatan dan tidak memiliki pemimpin yang ditaati karena mereka dahulu tidak mengetahui hal itu. (Fathul Bari, 7/13, dinukil dari Mu’amalatul Hukkam hlm. 166, red.)
2. Kalimat mujadda’ bermakna terpotong anggota badannya atau cacat, seperti terpotong telinga, hidung, tangan, atau kakinya. Namun sering kalimat mujadda’ dipakai dengan maksud terpotong hidungnya. Sedangkan mujadda’ul athraf, Ibnu Atsir t dalam an-Nihayah berkata, “Maknanya adalah terpotong-potong anggota badannya, ditasydidkan huruf ‘dal’-nya untuk menunjukkan banyak.” (pen.)

 

Mewaspadai Praktek Perdukunan

dupadukun

Zaman modern dengan laju modernisasi dan perkembangan dunia ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK)nya tidak menjamin bahwa orang yang hidup di dalamnya menjadi modern/ilmiah cara berpikirnya. Bahkan tidak sedikit orang yang mengaku modern yang kehidupan realnya justru jauh dari apa yang mereka elukan. Begitu mudahnya mereka dibodohi tentang hal-hal yang bernuansa gaib. Sebut saja praktek perdukunan yang belakangan ini meruak dengan aneka warna, nama, model dan jenisnya. Tak sedikit dari kalangan modernis dan intelek yang menyambutnya. Janji-janji manis (baca: ramalan) para dukun ternyata telah membuat akal dan kemampuan berpikir mereka tumpul. Apalagi kalangan yang notabene lekat dengan animisme dan dinamisme.

Demikianlah di antara fenomena buruk yang ada pada sebagian masyarakat kita. Kehidupan perdukunan menjadi sesuatu yang biasa padahal di mata agama adalah besar. Para dukun dijadikan sebagai nara sumber bahkan rujukan dalam berbagai masalah kemasyarakatan. Padahal, mereka adalah orang-orang yang dimurkai oleh Allah. Tak beda dengan kondisi umat di era jahiliah sebelum diutusnya Rasulullah, yang menjadikan para dukun semisal; syiqq, sathih dan selainnya sebagai rujukan dalam berbagai masalah kemasyarakatan. (Lihat An-Nihayah fii Gharibil Hadits, Ibnul Atsir 4/214)

DEFINISI DUKUN

Dukun dalam bahasa Indonesia mempunyai cakupan yang luas. Namun yang dimaukan dalam pembahasan ini adalah orang yang mengaku mengetahui hal-hal yang bersifat ghaib atau mengetahui segala bentuk rahasia batin. Di antara ulama ada yang merinci; jika hal-hal yang bersifat ghaib itu berupa kejadian yang akan datang (belum terjadi) maka orang yang mengaku mengetahuinya diistilahkan dengan kahin dan jika hal-hal yang bersifat ghaib itu berupa kejadian yang telah terjadi (seperti tempat barang hilang, dll.) maka orang yang mengaku mengetahuinya diistilahkan dengan ‘arraf. Adapun Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, beliau menyatakan bahwa semua yang mengaku mengetahui hal-hal yang bersifat ghaib atau mengetahui segala bentuk rahasia batin baik yang akan terjadi maupun yang telah terjadi tercakup dalam istilah‘arraf.

Dalam koleksi fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah /Komisi Fatwa Kerajaan Arab Saudi 1/393-394, disebutkan bahwa mayoritas dukun adalah orang-orang yang mempelajari ilmu perbintangan (nujum) kemudian dikaitkan dengan berbagai kejadian, atau dengan mempergunakan bantuan jin untuk mencuri berita-berita, dan yang semisal mereka dari orang-orang yang mempergunakan garis di tanah, melihat di cangkir, atau di telapak tangan atau melihat kitab (primbon) untuk mengetahui hal-hal yang ghaib tersebut. (Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah /Komisi Fatwa Kerajaan Arab Saudi 1/393-394)

Al Imam Al Qurthubi berkata: “Barangsiapa mengaku bahwa dirinya mengetahui perkara ghaib tanpa bersandar kepada keterangan dari Rasulullah, maka dia adalah pendusta dalam pengakuannya tersebut.” (Fathul Bari, Al Hafizh  Ibnu Hajar 1/151)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alusy Syaikh berkata: “Yang paling banyak terjadi pada umat ini adalah pemberitaan jin kepada kawan-kawannya dari kalangan manusia tentang berbagai peristiwa ghaib di muka bumi ini. Orang yang tidak tahu (proses ini, -pen) menyangka bahwa itu adalah kasyaf dan karamah. Bahkan banyak orang yang tertipu dengannya dan beranggapan bahwa pembawa berita ghaib (dukun, paranormal, orang pintar dll, -pen) tersebut sebagai wali Allah, padahal hakekatnya adalah wali setan. Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:

“Dan (ingatlah) akan suatu hari ketika Allah ‘Azza wa Jalla mengumpulkan mereka semua, (dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman): ‘Hai golongan jin (setan), sesungguhnya kalian telah banyak menyesatkan manusia’, lalu berkatalah kawan-kawan mereka dari kalangan manusia: ‘Ya Rabb kami, sesungguhnya sebagian dari kami telah mendapat kesenangan dari sebagian (yang lain) dan kami telah sampai pada waktu yang telah Engkau tentukan’. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘Neraka itulah tempat tinggal kalian, dan kalian kekal abadi di dalamnya, kecuali bila Allah ‘Azza wa Jalla menghendaki (yang lain).’ Sesungguhnya Rabb-mu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (Al-An’am: 128) (Fathul Majid, hal. 353)

Bahkan jin-jin yang dijadikan narasumber oleh para dukun itu, tak mengetahui perkara ghaib. Allah berfirman:

“Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka (tentang kematiannya) itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui perkara ghaib tentulah mereka tidak akan berada dalam kerja keras (untuk Sulaiman) yang menghinakan.” (Saba: 14)

CIRI-CIRI DUKUN

Untuk menilai bahwa seseorang itu adalah dukun terkadang agak kesulitan, mengingat tidak sedikit dari para dukun itu yang tak mau lagi menggunakan gelar dukun. Mereka lebih suka menyebut diri dengan orang pintar, paranormal, tabib atau yang semisalnya.  Berikut  ini ada beberapa ciri dukun yang dapat dijadikan acuan untuk menilainya:

  1. Bertanya kepada si pasien tentang namanya, nama ibunya atau semisalnya.
  2. Meminta barang-barang si sakit baik pakaian, sorban, sapu tangan, kaos, celana, atau sejenisnya dari sesuatu yang biasa dipakai si pasien. Terkadang pula meminta fotonya.
  3. Terkadang meminta hewan dengan sifat tertentu untuk disembelih tanpa menyebut nama Allah, atau dalam rangka untuk diambil darahnya untuk kemudian dilumurkan pada diri pasien atau untuk dibuang ke tempat yang sunyi.
  4. Menulis mantra-mantra atau jampi-jampi yang berbau kesyirikan.
  5. Membaca mantra-mantra atau jampi-jampi (doa-doa) yang tidak jelas.
  6. Memberikan kepada pasien kain, kertas atau sejenisnya yang bergariskan kotak yang di dalamnya terdapat huruf-huruf dan nomor-nomor.
  7. Memerintahkan kepada si pasien untuk menjauh dari manusia beberapa saat tertentu, di sebuah tempat yang gelap yang tidak tersinari matahari.
  8. Meminta kepada si pasien untuk tidak menyentuh air beberapa waktu tertentu, biasanya selama 40 hari.
  9. Memberikan kepada si pasien sesuatu untuk ditanam di dalam tanah.
  10. Memberikan kepada si pasien sesuatu untuk dibakar kemudian tubuhnya diasapi dengannya.
  11. Terkadang mengabarkan kepada si pasien tentang namanya, asal daerahnya, dan problem yang menyebabkan dia datang, padahal belum diberi tahu oleh si pasien.
  12. Menuliskan untuk si pasien huruf-huruf yang terputus-putus baik di kertas atau mangkok putih kemudian menyuruh si pasien untuk menuangkan dan mencampurkan dengan air lantas meminumnya.
  13. Terkadang menampakkan suatu penghinaan kepada agama. Misalnya menyobek tulisan-tulisan ayat Al Qur’an atau menggunakannya pada sesuatu yang hina.
  14. Mayoritas waktunya untuk menyendiri dan menjauh dari manusia, karena dia lebih sering menyepi bersama setannya yang membantu praktek perdukunannya. (Lihat kitab Kaifa tatakhallash minas sihr)

HUKUM PERDUKUNAN

Hukum perdukunan adalah haram. Ia merupakan kesyirikan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan sangat bertentangan dengan pokok ketauhidan. Karena adanya unsur menandingi Allah dalam bentuk mengaku mengetahui permasalahan ghaib, yang merupakan kekhususan Allah ‘Azza wa Jalla. Demikian pula terdapat unsur pendustaan terhadap firman Allah ‘Azza wa Jallayang berbunyi:

“Dan hanya di sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib. Tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula). Dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidaklah ada sesuatu yang basah atau pun yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Al-An’am: 59)

“Katakan bahwa tidak ada seorangpun yang ada di langit dan di bumi mengetahui perkara ghaib selain Allah dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.” (An-Naml: 65)

Asy Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh menjelaskan bahwa praktek perdukunan sangat bertentangan dengan pokok ketauhidan. Adapun si dukun, maka ia tergolong musyrik kepada Allah Azza wa Jalla, karena tidak mungkin jin berkenan memberitakan kepadanya berbagai permasalahan ghaib melainkan jika dia telah mempersembahkan ibadah kepada jin tersebut. (At Tamhid Lisyarhi Kitabittauhid)

Hukum Mendatangi Dukun

Adapun hukum mendatangi dukun dan bertanya kepadanya, maka para ulama memberikan rincian sebagai berikut:

1)      Mendatangi dukun semata-mata untuk bertanya sesuatu yang ghaib. Ini adalah perkara yang diharamkan sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:

(( مَنْ أَتَى عَرَّافاً فَسَأَلَهُ عنْ شَيْءٍ فَصَدَّقَهُ، لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أرْبَعِينَلَيْلَةً ))

“Barangsiapa mendatangi dukun lalu dia bertanya tentang sesuatu kemudian membenarkan apa yang diucapkan dukun tersebut, tidaklah diterima shalatnya selama 40 malam.” (HR. Muslim dan Ahmad)
Penetapan adanya ancaman dan siksaan karena bertanya kepada dukun, menunjukkan haramnya perbuatan itu, dan tidaklah datang sebuah ancaman melainkan bila perbuatan itu diharamkan.

2)      Mendatangi mereka lalu bertanya kepada mereka tentang sesuatu yang ghaib dan membenarkan apa yang diucapkan. Ini adalah bentuk kekufuran karena membenarkan dukun dalam perkara ghaib termasuk mendustakan Al Qur`an. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

“Katakan bahwa tidak ada seorangpun yang ada dilangit dan dibumi mengetahui perkara ghaib selain Allah dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.” (An-Naml: 65)

3)      Mendatangi dukun dan bertanya kepadanya dalam rangka untuk mengujinya, apakah dia benar atau dusta. Hal ini tidak mengapa. Sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, saat beliau bertanya kepada Ibnu Shayyad:

( إِنِّي قَدْ خَبَأْتُ لَكَ خَبِيْئًا )

“Apa yang aku sembunyikan buatmu?” Ibnu Shayyad berkata: “Ad-dukh (asap).” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkata:

( اِخْسَأ فَلَنْ تعْدُوَ قَدْرَكَ )

“Diam kamu! Kamu tidak lebih dari seorang dukun.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyembunyikan sesuatu dari Ibnu Shayyad dalam rangka mengujinya.

4)      Mendatangi dukun lalu bertanya kepadanya dengan maksud membongkar kedustaan dan kelemahannya. Mengujinya dalam perkara yang memang jelas kedustaan dan kelemahannya. Hal ini dianjurkan bahkan wajib hukumnya. (Al-Qaulul Mufid, Ibnu ‘Utsaimin)

Dari penjelasan tersebut kita bisa mengetahui haramnya mendatangi dan bertanya kepada mereka (dukun) kecuali apa yang dikecualikan dalam masalah ketiga dan keempat (dan inipun khusus bagi mereka yang memang ahli dan mumpuni dalam masalah ini). Sebab dalam mendatangi dan bertanya kepada mereka terdapat padanya kerusakan yang amat besar, yang berakibat mendorong mereka untuk berani mengerjakan praktek perdukunan dan mengakibatkan manusia tertipu dengan mereka, padahal mayoritas mereka datang dengan segala macam bentuk kebatilan. (Al-Qaulul Mufid, Ibnu ‘Utsaimin)

Referensi : http://buletin-alilmu.net/2011/04/23/mewaspadai-praktek-perdukunan/

Janganlah Engkau Jadikan Musim Hujan Sebagai Kambing Hitam

jangan-jadikan-hujan-sebagai-kambing-hitam

(Faedah dari: ustadz abu sufyan sedayu gresik)

 

Nampaknya negeri ini masih terus diguyur hujan tanpa kita ketahui kapan berakhirnya, namun kenyataan yang miris kita dapati suara-suara yang mulai memojokkan musim hujan.

“wah hujan lagi, hujan lagi, bisa rugi saya.!”

“Nampaknya alam sudah tidak bersahabat lagi.”

“Gara-gara hujan harga barang jadi melonjak.” dan ucapan-ucapan lain yang bernada menyalahkan hujan.

 

Wahai saudaraku mari kita merenung sejenak!

Tahukah anda sebenarnya banyak pesan yang ingin Allah sampaikan kepada kita lewat musim hujan ini. Diantara pesan yang bisa kita singkap adalah:

 

1. Allah ingin menunjukan kepada manusia betapa besar dan luas kekuasaan Allah.

Sebagaimana Allah berfirman:

والله أنزل من السماء ماء فأحيا به الأرض بعد موتها إن في ذلك لآية لقوم يسمعون

Dan Dialah Allah yang telah menurun hujan dari awan kemudian menghidupkan bumi setelah kematiannya sesungguhnya pada hal ini terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang mau mendengar(pelajaran). An Nahl: 6

Fenomena hujan merupakan salah satu fenomena alam yang mengagumkan sebagai bukti yang kuat untuk menunjukkan betapa agungnya Dzat yang menurunkannya, untuk menunjukkan bahwa tidak ada yang mampu menandingi kuasa ilahi.
Sepintar apapun manusia, sehebat apapun teknologi yang mereka kuasai, mereka tidak mampu membendung turunnya hujan yang bertubi-bertubi mengguyur negeri mereka sehingga banjir di mana-mana tidak bisa terelakkan

لا حول و لا قوة إلا بالله العظيم

 

 

2.Untuk menambah rasa takut kepada Allah

Hal ini telah dicontohkan oleh junjungan kita, salawat dan salam tercurah untuk beliau, sebagaimana diceritakan Ummul Mukminin ‘Aisyah:

“Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat mendung atau angin, maka raut wajahnya pun berbeda.” ‘Aisyah berkata, “Wahai Rasululah, jika orang-orang melihat mendung, mereka akan begitu gembira. Mereka mengharap-harap agar hujan segera turun. Namun berbeda halnya dengan engkau. Jika melihat mendung, terlihat wajahmu menunjukkan tanda tidak suka.”

Beliau pun bersabda, “Wahai ‘Aisyah, apa yang bisa membuatku merasa aman? Siapa tahu ini adalah adzab. Dan pernah suatu kaum diberi adzab dengan datangnya angin (setelah itu). Kaum tersebut (yaitu kaum ‘Aad) ketika melihat adzab, mereka mengatakan, “Ini adalah awan yang akan menurunkan hujan kepada kita.”

(HR Al Bukhori 4829 dan Muslim 899)

 

Seorang yg memiliki rasa takut kepada Allah akan membuat dia selalu waspada dengan berupaya melaksanakan ketaatan dan menjahui kemaksiatan. Adapun orang yg merasa aman dari hukuman Allah sehingga dia terus menerus dalam kelalaian dan lumpur dosa, dia berpikir:

“Saya tidak mungkin kebanjiran karena saya tinggal di dataran tinggi.”

“Saya ndak mungkin kena sunami wong saya jauh dari pantai”

Maka kita katakan: “Wahai hamba Allah, apa anda pikir adzab Allah hanya banjir dan gempa bumi.”

Allah maha mampu mendatangkan adzab dalam bentuk apapun, dari arah manapun tanpa melihat waktu.

Dengarkanlah ucapan Robbmu:

أفأمن أهل القرى أن يأتيهم بأسنا بياتا وهم نائمون
أو أمن أهل القرى أن يأتيهم بأسنا ضحى وهم يلعبون
أفأمنوا مكر الله فلا يأمن مكر الله إلا القوم الخاسرون

“Apakah punduduk sebuah desa itu merasa aman dari adzab kami di waktu malam saat mereka tidur terlelap. Apakah penduduk suatu desa merasa aman dari adzab kami di waktu dhuha tatkala mereka asik bermain. Apakah mereka merasa aman dari makar Allah, tidaklah ada yang merasa aman dari makar Allah melainkan kaum yang merugi”. (Al A’rof 97-99)

 

3. Penghancur kesombongan dan keangkuhan bani adam

Wahai saudaraku yang dimuliakan Allah sebenarnya ada pesan yang dalam ingin Allah sampaikan kepada kita dengan musim hujan yang berkepanjangan sehingga menyebabkan kebanjiran melanda dimana-mana, pesan tersebut adalah agar manusia menghilangkan keangkuhan dan kesombongan mereka dan menyadari akan kelemahan mereka di hadapan Al Jabbarul Mutakabbir sehingga mereka kembali kepada Allah, tunduk dan patuh pada ketetapan-Nya.

Saat ini kebanyakan manusia terlalu angkuh nan sombong, dia lebih percaya dengan kemampuan dirinya, dia lebih bersandar pada kecerdasannya sehingga dia lupa bahwa disana ada kekuatan yang tak terbatas, dia lupa bahwa disana ada yang Maha berilmu, Dialah Allah Jalla Robbuna Al Qowiyul Matinul Aliim yang harus dia jadikan sandaran.

Seharusnya kita bersyukur kepada Allah dengan musibah ini karena hal itu pertanda Allah masih sayang dan cinta dengan kita. sebagaimana sabda junjungan kita baginda nabi:

إذا أراد الله بعبده الخير عجل له بالعقوبة في الدنيا، وإذا أراد الله بعبده الشر أمسك عنه بذنبه حتي يوافي به يوم القيامة. رواه الترمذي2396 صححه الألباني في صحيح
الجامع 308

“Apabila Allah menghendaki kebaikan untuk hamba-Nya maka Allah akan segerakan hukuman dosanya ketika di dunia, namun bila Allah menghendaki kejelekan untuknya Allah menunda hukuman atas dosanya hingga hari kiamat nanti.”

(HR At Tirmidzi2396 di shohihkan syaikh Al Albany dlm shohihul jaami’ 308)

 

Sehingga sangatlah tidak pantas kalau kita menyalahkan musim hujan atas musibah yang kita derita, sangatlah tidak pantas kita menjadikan musim hujan sebagai kambing hitam dari kegagalan kita, hendaknya kita mawas diri, hujan tidak pernah salah karena dia merupakan murni perbuatan Allah, perbuatan Allah semuanya baik tidak ada yang salah sebagaimana nabi menyatakan:

الشر ليس إليك

Kejelekan tidaklah berasal dari-Mu.

 

Mencela hujan sama saja mencela Allah sebagaimana sabda rosul dalam hadits qudsy Allah menyatakan:

يؤذيني ابن آدم يسب الدهر وأنا الدهر أقلب الليل و النهار
رواه البخاري4862 مسلم2246

Anak adam telah menyakitiku, mereka mencela masa padahal Aku adalah Yang mengendalikannya, Aku yg membolak balikkan malam dan siang.”

sebenarnya yg salah adalah manusia sendiri, karena ketamakan mereka yang menggiring mereka pada musibah ini,penebangan, pembakaran hutan,penimbunan lahan yang terus menerus tampa memperhatikan keseimbangan alam, mereka hanya ingin meraup keuntungan saja.

Oleh karena itu melalui musim hujan ini kita jadikan sebagai ajang dalam mengkoreksi pribadi-pribadi kita dan kembali kepada Allah.

apapun yang kita rasakan dari musim hujan ini, baik keuntungan ataupun kerugian kita sikapi dengan husnu dzon,dan berpikir positif namun tetap optimis. Itulah sikap mukmin sejati, sebagaimana sabda nabi:

عجبا لأمر المؤمن إن أمره كله له خير و ليس ذلك لأحد إلا للمؤمن: إن أصابته سراء شكر فكان خير له و إن أصابته ضراء صبر فكان خير له. رواه مسلم2999

“Sungguh mengagumkan urusannya orang yang beriman, semua keadaan baik untuknya, yang demikian tidak mungkin digapai melainkan hanya orang yang beriman, apabila dia mendapat kesenangan dia bersyukur, namun bila dia mendapat kesulitan dia bersabda.”

Dan kita memohon kepada Allah agar saudara-saudara kita yang di timpa musibah diberikan ketabahan, kasabaran dan keridhoan terhadap ketetapan Allah dan agar urusan mereka dipermudah

Allahumma amiin .

Apakah Manusia Berbuat karena Dipaksa ataukah Pilihan Sendiri

APAKAH MANUSIA BERBUAT KARENA DIPAKSA ATAUKAH PILIHAN SENDIRI?

 dengan-takdir-allah

Soal:

Semoga Allah membalasmu dengan yang lebih baik. Penanya adalah Muhammad dari Makkah al-Mukarramah. Dia bertanya, “Apakah manusia berbuat karena musayyar (dipaksa) ataukah mukhayyar (atas pilihannya sendiri?)”

 

Jawaban:

Aku katakan kepadanya, “Ketika engkau menulis pertanyaan pada kertas ini, apakah engkau melakukannya atas pilihanmu ataukah ada seseorang yang memaksamu?

Saya memastikan bahwa engkau akan menjawab, , “Aku melakukannya atas kehendakku.”

Tetapi ketahuilah bahwa Allah-lah yang telah menciptakan pada manusia adanya kehendak.

Allah menyiapkan dua perkara yang dengan itu terjadi perbuatan mereka.

  1. Kehendak, yang dengannya seseorang berkehendak.
  2. Kemampuan, yang dengannya seseorang memiliki kekuatan.

Jika dia melakukan sesuatu maka dia berbuat dengan kehendak dan kemampuannya.

Yang telah menciptakan kehendak dan kemampuan pada seseorang adalah Allah ‘azza wajalla.

Adapun perkatan “musayyar” atau “mukhayyar” adalah istilah baru, yang aku tidak mengetahui ungkapan ini ada di kalangan pendahulu umat ini.

Atas dasar itu aku katakan bahwa manusia diberi pulihan untuk berbuat dengan kehendaknya. Sedangkan pilihan dan kehendak seseorang adalah ciptaan Allah ‘azza wajalla.

 

Sumber: Silsilah Fatawa Nur ‘ala Darb, Syaikh Ibnu Utsaimin, kaset no. 362.

 

هل الإنسان مخير أم مسير؟

السؤال:

  جزاك الله خيراً فضيلة الشيخ. السائل محمد من مكة المكرمة يقول: هل الإنسان مسير أم مخير؟

الجواب:

الشيخ: الجواب أن أقول له: اسأل نفسك: هل أنت حينما كتبت هذه الورقة وفيها السؤال هل أنت فعلت ذلك باختيارك أو أن أحداً أجبرك؟ إنني أجزم جزماً أنه سيقول: كتبتها باختياري. ولكن ليعلم أن الله سبحانه وتعالى هو الذي خلق في الإنسان الإرادة، الله تعالى خلق الإنسان وأودع فيه أمرين كلاهما سبب الوجود، الأمر الأول: الإرادة، فالله تعالى جعل الإنسان مريدا.ً والأمر الثاني: القدرة، جعله الله تعالى قادراً. فإذا فعل شيئاً فإنما يفعله بإرادته وقدرته، والذي خلق فيه الإرادة هو الله عز وجل، وكذلك الذي خلق فيه القدرة هو الله عز وجل. وهذه الكلمة: مخير ومسير هي كلمة حادثة لا أعلمها في كلام السابقين، وعلى هذا فنقول: إن الإنسان مخير يفعل الشيء باختياره وإرادته، ولكن هذا الاختيار والإرادة كلاهما مخلوقان لله عز وجل. نعم.

المصدر: سلسلة فتاوى نور على الدرب > الشريط رقم [362]

العقيدة > الإيمان بالقدر

 رابط المقطع الصوتي

 

Bahaya Keyakinan Manunggaling Kawula Gusti (Wihdatul Wujud)

Manunggaling Kawula Gusti (Wihdatul Wujud)
Penulis : Ustadz Muhammad Umar As-Sewed

Manunggaling Kawula Gusti

Setelah kesesatan kaum sufi meyakini adanya ilmu laduni, maka pada terminal akhir, mereka akan merasa sampai pada tingkatan fana’ (melebur/menyatu dengan Dzat Allah). Sehingga ia memiliki sifat-sifat laahuut (ilahiyyah= ketuhanan) dan naasuut (insaniyyah= kemanusiaan). Menurut mereka, secara lahir ia bersifat insaniyyah namun secara batin ia memiliki sifat ilahiyyah.

Maha suci Allah dari apa yang mereka yakini!!. Aqidah ini populer di tengah masyarakat kita dengan istilah manunggaling kawula gusti. Munculnya aqidah rusak ini bukanlah sesuatu yang baru lagi di zaman sekarang ini dan bukan pula isapan jempol dan tuduhan semata.

Bukti adanya Aqidah ini dalam tubuh kaum Sufi
Hal ini dapat dilihat dari ucapan para tokoh legendaris dan pendahulu sufi seperti al-Hallaj, Ibnul Faridh, Ibnu Sabi’in, Ibnu Arabi dan masih banyak lagi yang lainnya dalam karya-karya mereka. Cukuplah apa yang kami sajikan di bawah ini sebagai saksi atas keberadaan aqidah ini pada kaum sufi.

 

Al-Hallaj berkata:

“Maha suci Dia yang telah menampakkan sifat naasuut (insaniyyah)-Nya lalu muncullah kami sebagai laahuut (ilahiyah)-Nya. Kemudian Dia menampakkan diri kepada makhluk-Nya dalam wujud orang yang makan dan minum, sehingga makhluk-Nya dapat melihat-Nya dengan jelas seperti pandangan mata dengan pandangan mata.” (ath-Tha-waasin, hal. 129)

Ia juga berkata:
“Aku adalah Engkau (Allah) tanpa adanya keraguan lagi. Maha suci Engkau Maha suci aku. Mengesakan Engkau berarti mengesakan aku Kemaksiatan kepada-Mu adalah kemaksiatan kepadaku
Marah-Mu adalah marahku Pengampunan-Mu adalah pengampun-anku “ (Diwanul Hallaj, hal. 82)

Di tempat lain ia berkata:
“Kami adalah dua ruh yang menitis jadi satu. Jika engkau melihatku berarti engkau melihat-Nya
Dan jika engkau melihat-Nya berarti yang engkau lihat adalah kami” (ath-Thawaasin, hal. 34)

Ibnu Faridh berkata dalam syairnya:
Tidak ada shalat kecuali hanya untukku. Dan shalatku dalam setiap raka’at bukanlah untuk selainku. (Tanbih al-Ghabi fi Takfir Ibnu Arabi, hal. 64)
Abu Yazid al-Busthami berkata: ”Paling sempurnanya sifat seseorang yang telah mencapai derajat ma’rifat adalah adanya sifat-sifat Allah pada dirinya. (Demikian pula) sifat ketuhanan ada pada dirinya.” (an-Nuur Min Kalimati Abi Thaifut, hal. 106 karya Abul Fadhl al-Falaki)

Akhirnya dia pun mengungkapkan keheranannya dengan berujar: “Aku heran kepada orang-orang yang mengaku mengenal Allah, bagaimana mereka bisa beribadah kepada-Nya?!”
Lebih dari itu dia menuturkan pula aqidah ini kepada orang lain tatkala seseorang datang dan mengetuk rumahnya. Dia bertanya: “Siapa yang engkau cari?” Orang itu menjawab: “Abu Yazid.” Dia pun berkata: “Pergi! Tidaklah yang ada di rumah ini kecuali Allah.” (an-Nuur, hal. 84)

Dia pernah ditanya pula tentang perihal tasawuf, maka dia menjawab: “Sifat Allah telah dimiliki oleh seorang hamba”.
Aqidah Manunggaling Kawula Gusti ini telah membawa kaum sufi pada keyakinan yang lebih rusak yaitu wihdatul wujud. Menurut ajaran ini tidak ada wujud kecuali Allah itu sendiri, tidak ada dzat lain yang tampak dan kelihatan ini selain dzat yang satu, yaitu dzat Allah.

Ibnu Arabi berkata:
“Tuhan itu adalah hamba dan hamba adalah Tuhan. Duhai kiranya, kalau demikian siapa yang di bebani syariat? Bila engkau katakan yang ada ini adalah hamba, maka hamba itu mati
Atau (bila) engkau katakan yang ada ini adalah Tuhan lalu mana mungkin Dia dibebani syariat? “ (Fushulul Hikam, hal. 90)
Penyair sufi bernama Muhammad Baharuddin al-Baithar berkata: “Anjing dan babi tidak lain adalah Tuhan kami Allah itu hanyalah pendeta yang ada di gereja”. (Suufiyat, hal. 27)
Syubhat-syubhat kaum Sufi dalam menopang aqidah ini
Jika diperhatikan sepintas terhadap ucapan-ucapan di atas, orang awam sekalipun mampu menolak atau bahkan mengutuk aqidah mereka ini dengan sekedar memakai fitrah dan akalnya yang sehat. Namun, bagaimana kalau ternyata kaum Sufi membawakan beberapa dalil baik dari al-Qur’an maupun as-Sunnah yang seakan-akan menunjukkan bahwa aqidah Manunggaling Kawula Gusti benar-benar diajarkan di dalam agama ini?! –tentunya menurut persangkaan mereka.

Mampukah orang tersebut membantah ataukah sebaliknya, justru tanpa terasa dirinya telah digiring pada pengakuan aqidah ini ketika mendengar dalil-dalil tersebut?
Di antara syubhat yang mereka jadikan dalil adalah kesalahpahaman mereka terhadap:

Firman Allah subhanahu wa Ta’ala:

…وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ…

Dan Dia (Allah) bersama kalian dimana kalian berada. (al-Hadiid: 5)

 

Firman Allah subhanahu wa Ta’ala:

وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ.

Dan Kami lebih dekat kepadanya (hamba) daripada urat lehernya sendiri. (Qaaf: 16)
Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits Qudsi:

…وَمَا يَزَالٌ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ باِلنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرُهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِيْ بِهَا… رواه البخاري“…

Dan senantiasa hamba-Ku mendekat-kan diri kapada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sampai Aku pun mencintainya. Bila Aku mencintainya, maka jadilah Aku sebagai telinganya yang dia mendengar dengannya, mata yang dia melihat dengannya, tangan yang dia memegang sesuatu dengannya, dan kaki yang dia berjalan dengannya… (HR. Bukhari)
Bantahan syubhat mereka
Dengan mengacu pada al-Qur’an dan as-Sunnah di bawah bimbingan para ulama terpercaya, kita akan dapati bahwa syubhat mereka tidak lebih daripada sarang laba-laba yang sangat rapuh.

Tentang firman Allah di dalam surat al-Hadid ayat 5, para ulama telah bersepakat bahwa kebersamaan Allah dengan hamba-hamba-Nya tersebut artinya ilmu Allah meliputi keberadaan mereka, bukan Dzat Allah menyatu bersama mereka.
Imam ath-Thilmanki rahimahullah berkata: “Kaum muslimin dari kalangan Ahlus Sunnah telah bersepakat bahwa makna firman Allah yang artinya: “Dan Dia (Allah) bersama kalian di mana kalian berada” adalah ilmu-Nya””. (Dar’ut Ta’arudh, 6/250)
Adapun yang dimaksud dengan lafadz “kami” di dalam surat Qaaf ayat 16 tersebut adalah para malaikat pencatat-pencatat amalan. Hal ini ditunjukkan sendiri oleh konteks ayat setelahnya. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir ath-Thabari, Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Ibnu Katsir dan para ulama yang lainnya. Sedangkan ath-Thilmanki dan al-Baghawi memilih pendapat bahwa yang dimaksud lafadz “lebih dekat” adalah ilmu dan kekuasaan-Nya lebih dekat dengan hambanya-Nya dari pada urat lehernya sendiri.
Imam ath-Thufi ketika mengomentari hadits Qudsi tersebut menya-takan bahwa ulama telah bersepakat kalau hadits tersebut merupakan sebuah ungkapan tentang pertolongan dan perhatian Allah terhadap hamba-hamba-Nya. Bukan hakikat Allah sebagai anggota badan hamba tersebut sebagaimana keyakinan Wihdatul Wujud. (Fathul Bari)Bahkan Imam Ibnu Rajab rahimahullah menegaskan bahwa barangsiapa mengarahkan pembicaraannya di dalam hadits ini kepada Wihdatul Wujud maka Allah dan rasul-Nya berlepas diri dari itu. (Jami’ul Ulum wal Hikam hal. 523-524 bersama Iqadhul Himam)

 

Beberapa ucapan batil berkait dengan aqidah ini

Dzat Allah ada di mana-mana
Ucapan ini sering dikatakan sebagian kaum muslimin ketika ditanya: “Di mana Allah?”
Sesungguhnya jawaban ini telah menyimpang dari al-Qur’an dan as-Sunnah serta kesepakatan Salaf.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Barang siapa yang mengatakan bahwa Dzat Allah ada di setiap tempat maka dia telah menyelisihi al-Qur’an, as-Sunnah dan kesepakatan Salaf. Bersamaan dengan itu dia menyelisihi fitrah dan akal yang Allah tetapkan bagi hamba-hambanya. (Majmu’ Fatawa, 5/125)
Dzat Allah ada di setiap hati seorang hamba.
Ini adalah jawaban yang tak jarang pula dikatakan sebagian kaum muslimin tatkala ditanya tentang keberadaan Allah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata; “Adapun keyakinan bahwa Dzat Allah ada di dalam hati setiap orang kafir maupun mukmin maka ini adalah batil. Tidak ada seorang pun dari pendahulu (Salaf) umat ini yang berkata seperti itu. Tidak pula Al Qur’an ataupun As Sunnah, bahkan Al Qur’an, As Sunnah, kesepakatan Salaf dan akal yang bersih justru bertentangan dengan keyakinan tersebut.” (Syarhu Haditsin Nuzuul, hal 375)
Beberapa ayat al-Qur’an yang membantah Aqidah ini
Ayat-ayat al-Qur’an secara gamblang menegaskan bahwa aqidah Manunggaling Kawula Gusti benar-benar batil.

Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَجَعَلُوا لَهُ مِنْ عِبَادِهِ جُزْءًا إِنَّ الإِنْسَانَ لَكَفُورٌ مُبِينٌ .

Dan mereka (orang-orang musyrikin) menjadikan sebagian hamba-hamba Allah sebagai bagian dari-Nya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar pengingkar yang nyata. (az-Zukhruf: 15)

 

فَاطِرُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الأَنْعَامِ أَزْوَاجًا يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ.

Dialah Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kalian sendiri yang berpasang-pasangan dan dari jenis binatang ternak yang berpasang-pasangan (pula), Dia jadikan kalian berkembang-biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat (Asy Syuraa: 11)

 

Perhatikanlah! Ketika Allah subhanahu wa Ta’ala menjawab permintaan Musa yang ingin melihat langsung wujud Allah di dunia. Allah pun berfirman:

لَنْ تَرَانِي وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ.

Kamu sekali-sekali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke gunung itu, tatkala ia tetap di tempat itu niscaya kamu dapat melihat-Ku. Tatkala Tuhan menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikan gunung itu hancur luluh dan Musa pun pingsan. Setelah sadar Musa berkata: “Maha suci Engkau, aku bertaubat dan aku orang yang pertama-tama beriman”. (Al A’raf: 143)

Wallahu a’lam

(Dikutip dari Buletin Islam al-Ilmu Edisi 30/II/I/1425, diterbitkan Yayasan as-Salafy Jember dengan sedikit editing)

Sumber : www.salafycirebon.com

Hukum Meninggikan Kuburan dan Menghiasinya

hukum-meninggikan-kubur

 

Syaikh Al-Allamah Shalih Al-Athram rahimahullah

Pertanyaan: Apa hukum meninggikan kuburan, menghiasinya dan apa pengaruh hal itu?

 

Jawaban:

Hukum meninggikan kuburan dan menghiasinya adalah:

Tidak boleh meninggikanya tidak pula menghiasinya, karena itu tergolong perbuatan ghuluw (berlebih-lebihan) yang bisa mengantarkan kepada keyakinan mengagungkannya dan meyakininya.

Dalam sebuah hadits :

ﻧﻬﻰ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ، – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ -، ﺃﻥ ﺗﺠﺼﺺ اﻟﻘﺒﻮﺭ ﻭﺃﻥ ﻳﺠﻠﺲ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺃﻭ ﻳﺒﻨﻰ ﻋﻠﻴﻬﺎ

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang meng-gipsum kuburan, duduk di atasnya atau membuat bangunan diatasnya.”

 

Hadits tersebut mengandung larangan berlaku ghuluw (berlebih-lebihan) dengan kuburan dan larangan menghinakannya.

Dan dari Ummu Salamah radhiallahu’anha bahwasanya beliau menyebutkan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam gereja yang ia lihat di negeri Habasyah dan gambar-gambar yang ada di dalamnya. Maka beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda :

«ﺃﻭﻟﺌﻚ ﺇﺫا ﻣﺎﺕ ﻓﻴﻬﻢ اﻟﺮﺟﻞ اﻟﺼﺎﻟﺢ ﺃﻭ اﻟﻌﺒﺪ اﻟﺼﺎﻟﺢ ﺑﻨﻮا ﻋﻠﻰ ﻗﺒﺮﻩ ﻣﺴﺠﺪا ﻭﺻﻮﺭﻭا ﻓﻴﻪ ﺗﻠﻚ اﻟﺼﻮﺭ ﺃﻭﻟﺌﻚ ﺷﺮاﺭ اﻟﺨﻠﻖ ﻋﻨﺪ اﻟﻠﻪ»

Mereka itu jika ada seorang yang shalih atau hamba shalih yang mati di tengah mereka, mereka membangun masjid di atas kuburannya, dan mereka membuat gambar di dalamnya dengan gambar-gambar tadi. Mereka itulah sejelek-jelek makhluk di sisi Allah.”

 

Dan dari Ali radhiallahu ‘anhu, beliau berkata kepada Abul Hayyaj Al-Asdy rahimahullah:

“ﺃﻻ ﺃﺑﻌﺜﻚ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺑﻌﺜﻨﻲ ﻋﻠﻴﻪ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ؟ – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ -، ﺃﻥ ﻻ ﺗﺪﻉ ﺻﻮﺭﺓ ﺇﻻ ﻃﻤﺴﺘﻬﺎ ﻭﻻ ﻗﺒﺮا ﻣﺸﺮﻓﺎ ﺇﻻ ﺳﻮﻳﺘﻪ”.

Tidakkah aku mengutusmu dengan apa yang aku diutus oleh Rasulullah dengannya; Janganlah engkau biarkan ada gambar kecuali engkau menghapusnya, dan kuburan yang ditinggikan kecuali engkau meratakannya.”

Maka nash-nash ini menunjukkan akan larangan membuat bangunan di atas kuburan, sebagaimana ditunjukan oleh hadits yang lain akan larangan memasang lentera pada kuburan. Beliau bersabda:

«ﻟﻌﻦ اﻟﻠﻪ ﺯاﺋﺮاﺕ اﻟﻘﺒﻮﺭ ﻭاﻟﻤﺘﺨﺬﻳﻦ ﻋﻠﻴﻬﺎ اﻟﻤﺴﺎﺟﺪ ﻭاﻟﺴﺮﺝ»

Allah melaknat wanita-wanita yang berziyarah kubur dan menjadikannya di atasnya masjid-masjid dan lentera-lentera.”

 

  • Dan diantara hiasan-hiasan yang dilarang adalah membuat tulisan di atas kuburan.
  • Demikian juga termasuk mengagungkannya yang dilarang syariat adalah meletakkan karangan-karangan bunga dan bunga-bunga di atasnya, atau
  • Mempersembahkan sesuatu kepadanya berupa harta/uang atau menyembelih binatang di sisinya.

Semua itu dan yang semisalnya termasuk perbuatan ghuluw terhadap kuburan yang dilarang secara syariat yang mengantarkan kepada KESYIRIKAN.

***

Sumber:  Al-As’ilah wal-ajwibah fil aqidah karya Syaikh Al-Allamah Shalih Al-Athram rahimahullah. 1/52.

Channel  Telegram Fatawa Ahlil Ilmi Ats-Tsiqaat.

________________________________________

  ﻣﺎ ﺣﻜﻢ ﺗﺸﻴﻴﺪ اﻟﻘﺒﻮﺭ ﻭﺯﺧﺮﻓﺘﻬﺎ ﻭﻣﺎ ﺁﺛﺎﺭ ﺫﻟﻚ؟

 اﻟﺠﻮاﺏ: ﺣﻜﻢ ﺗﺸﻴﻴﺪ اﻟﻘﺒﻮﺭ ﻭﺯﺧﺮﻓﺘﻬﺎ: ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺗﺸﻴﻴﺪﻫﺎ ﻭﻻ ﺯﺧﺮﻓﺘﻬﺎ ﻷﻥ ﻫﺬا ﻣﻦ ﺑﺎﺏ اﻟﻐﻠﻮ اﻟﻤﺆﺩﻱ ﺇﻟﻰ اﻋﺘﻘﺎﺩ ﺗﻌﻈﻴﻤﻬﺎ ﻭاﻻﻋﺘﻘﺎﺩ ﺑﻬﺎ ﻭﻓﻲ اﻟﺤﺪﻳﺚ ﻧﻬﻰ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ، – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ -، ﺃﻥ ﺗﺠﺼﺺ اﻟﻘﺒﻮﺭ ﻭﺃﻥ ﻳﺠﻠﺲ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺃﻭ ﻳﺒﻨﻰ ﻋﻠﻴﻬﺎ

ﻓﻘﺪ ﺗﻀﻤﻦ اﻟﺤﺪﻳﺚ اﻟﻨﻬﻲ ﻋﻦ اﻟﻐﻠﻮ ﺑﻬﺎ ﻭﻋﻦ ﺇﻫﺎﻧﺘﻬﺎ ﻭﻋﻦ ﺃﻡ ﺳﻠﻤﺔ ـ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﺎ ـ ﺃﻧﻬﺎ ﺫﻛﺮﺕ ﻟﺮﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ، – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ -، ﻛﻨﻴﺴﺔ ﺭﺃﺗﻬﺎ ﺑﺄﺭﺽ اﻟﺤﺒﺸﺔ ﻭﻣﺎ ﻓﻴﻬﺎ ﻣﻦ اﻟﺼﻮﺭ ﻓﻘﺎﻝ، – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ -: «ﺃﻭﻟﺌﻚ ﺇﺫا ﻣﺎﺕ ﻓﻴﻬﻢ اﻟﺮﺟﻞ اﻟﺼﺎﻟﺢ ﺃﻭ اﻟﻌﺒﺪ اﻟﺼﺎﻟﺢ ﺑﻨﻮا ﻋﻠﻰ ﻗﺒﺮﻩ ﻣﺴﺠﺪا ﻭﺻﻮﺭﻭا ﻓﻴﻪ ﺗﻠﻚ اﻟﺼﻮﺭ ﺃﻭﻟﺌﻚ ﺷﺮاﺭ اﻟﺨﻠﻖ ﻋﻨﺪ اﻟﻠﻪ»

ﻭﻋﻦ ﻋﻠﻲ ـ – ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ – ـ ﻗﺎﻝ ﻷﺑﻲ اﻟﻬﻴﺎﺝ اﻷﺳﺪﻱ: “ﺃﻻ ﺃﺑﻌﺜﻚ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺑﻌﺜﻨﻲ ﻋﻠﻴﻪ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ؟ – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ -، ﺃﻥ ﻻ ﺗﺪﻉ ﺻﻮﺭﺓ ﺇﻻ ﻃﻤﺴﺘﻬﺎ ﻭﻻ ﻗﺒﺮا ﻣﺸﺮﻓﺎ ﺇﻻ ﺳﻮﻳﺘﻪ”.

ﻓﺪﻟﺖ اﻟﻨﺼﻮﺹ ﻫﺬﻩ ﻋﻠﻰ ﻣﻨﻊ اﻟﺒﻨﺎء ﻋﻠﻰ اﻟﻘﺒﻮﺭ ﻛﻤﺎ ﺩﻝ اﻟﺤﺪﻳﺚ اﻵﺧﺮ ﻋﻠﻰ ﻣﻨﻊ ﺇﻧﺎﺭﺗﻬﺎ ﻗﺎﻝ، – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ -: «ﻟﻌﻦ اﻟﻠﻪ ﺯاﺋﺮاﺕ اﻟﻘﺒﻮﺭ ﻭاﻟﻤﺘﺨﺬﻳﻦ ﻋﻠﻴﻬﺎ اﻟﻤﺴﺎﺟﺪ ﻭاﻟﺴﺮﺝ»

.

ﻭﻣﻦ اﻟﺰﺧﺮﻓﺔ اﻟﻤﻤﻨﻮﻋﺔ اﻟﻜﺘﺎﺑﺔ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻭﻛﺬا ﻣﻦ ﺗﻌﻈﻴﻤﻬﺎ اﻟﻤﻤﻨﻮﻉ ﺷﺮﻋﺎ ﻭﺿﻊ ﺃﻛﺎﻟﻴﻞ اﻟﺰﻫﻮﺭ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺃﻭ ﺗﻘﺪﻳﻢ ﺷﻲء ﻟﻬﺎ ﻣﻦ اﻷﻣﻮاﻝ ﺃﻭ ﺳﻔﻚ اﻟﺪﻣﺎء ﻋﻨﺪﻫﺎ ﻛﻞ ﺫﻟﻚ ﻭﺃﺷﺒﺎﻫﻪ ﻣﻦ اﻟﻐﻠﻮ ﻓﻲ اﻟﻘﺒﻮﺭ اﻟﻤﻤﻨﻮﻉ ﺷﺮﻋﺎ اﻟﻤﺆﺩﻱ ﺇﻟﻰ اﻟﺸﺮﻙ.

  المصدر : الأسئلة والأجوبة في العقيدة للشيخ العلامة صالح الاطرم رحمه الله ( 1 / 52 )

 

Sumber: http://forumsalafy.net/hukum-meninggikan-kuburan-dan-menghiasinya-2/

 

Kewajiban Bertauhid dan Menjauhi Kesyirikan

kewajiban-bertauhid-dan-menjauhi-kesyirikan

 

Tujuan Diciptakannya Manusia
Tak jarang dari umat manusia yang belum memahami dengan sebenarnya akan hakekat keberadaannya di muka bumi ini.
Sebagian mereka beranggapan bahwa hidup ini hanyalah proses alamiah untuk menuju kematian. Sehingga hidup ini tak ubahnya hanyalah makan, minum, tidur, beraktifitas dan mati, lalu selesai! Tanpa adanya pertanggung jawaban amal di hari kiamat kelak.
Allah subhanahu wa ta’ala , Pencipta semesta alam mengingkari anggapan batil ini dengan firman-Nya (artinya):

“Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, (sebagian) kami ada yang mati dan sebagian lagi ada yang hidup (lahir). Dan tidak ada yang membinasakan kita kecuali masa.” Mereka sekali-kali tidak mengerti tentang hal itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (Al Jatsiyah: 24)
Bila demikian keadaannya, lalu apa tujuan diciptakannya kita di muka bumi ini?
Para pembaca, sesungguhnya keberadaan kita di muka bumi ini tidaklah sia-sia belaka.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya): “Apakah kalian mengira bahwa Kami menciptakan kalian sia-sia belaka?” (Al Mu’minun: 115)
Bahkan dengan tegas Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan (artinya): “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah (mengesakan ibadahnya) kepada-Ku, Aku tidak menghendaki rizki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan pada-Ku, Sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pemberi rizki Yang mempunyai kekuatan Lagi Maha Sangat Kuat” (Adz Dzariyat: 56-58)
Tentunya, ibadah di sini hanyalah berhak diberikan kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata, karena Dia-lah satu-satunya Pencipta kita dan seluruh alam semesta ini.

 

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya):

Hai manusia beribadahlah kepada Rabbmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap. Dan Dia yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan sebab itu segala buah-buahan sebagai rizki untukmu, karena itu janganlah kamu menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kamu mengetahui.” (Al Baqarah: 21-22)
Demikianlah hikmah dan tujuan penciptaan kita di muka bumi ini.

 

Makna Ibadah
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:

Ibadah adalah suatu nama yang mencakup seluruh perkara yang dicintai oleh Allah dan diridhai-Nya baik berupa ucapan maupun perbuatan, baik yang dhahir maupun batin.”
Asal ibadah adalah ketundukan dan perendahan diri. Suatu ibadah tidaklah dikatakan ibadah sampai pelakunya bertauhid yaitu mengikhlashkan peribadatan hanya kepada Allah dan meniadakan segala sesembahan kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala.

Atas dasar itu Ibnu Abbas berkata: “Makna beribadah kepada Allah adalah tauhidullah (yaitu mengesakan peribadahan hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala).
Itulah realisasi dari kalimat tauhid لاَ إِلهَ إلاَّ الله . لاَ إِلهَ إلاَّ الله merupakan kalimat yang sangat akrab dengan kita, bahkan kalimat inilah yang kita jadikan sebagai panji tauhid dan identitas keislaman. Ia sangat mudah diucapkan, namun menuntut adanya sebuah konsekuensi yang amat besar.

Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala gelari kalimat ini dengan “Al ‘Urwatul Wutsqo” (buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus), sebagaimana dalam firman-Nya:

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut (segala apa yang diibadahi selain Allah) dan beriman kepada Allah, maka sungguh ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al Baqarah: 256)

 

 

Dakwah Tauhid Adalah Misi Utama Yang Diemban Para Rasul
Tujuan pokok diutusnya para Rasul adalah menyeru umat manusia agar beribadah hanya kepada Allah semata, dan melarang dari peribadatan kepada selain-Nya, sebagaimana Allah berfirman (artinya):

“Sungguh tidaklah Kami mengutus seorang rasul pada setiap kelompok manusia kecuali untuk menyerukan: “Beribadalah kalian kepada Allah saja dan tinggalkan thaghut (yakni sesembahan selain Allah).” (An Nahl: 36)

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan padanya bahwa tidak ada sesembahan yang haq diibadahi melainkan Aku, maka beribadahlah kepada-Ku”. (Al Anbiya’: 25)
Nabi Nuh sebagai seorang rasul pertama mengajak umatnya kepada tauhid selama 950 tahun.Demikian pula Rasulullah selama 13 tahun tinggal di Mekkah menyeru umatnya kepada tauhid dan dilanjutkan di Madinah, sampai-sampai menjelang wafat pun beliau tetap mewanti-wanti tentang pentingnya tauhid dan bahayanya syirik, beliau berkata:

لَعَنَ اللهُ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيآئِهِمْ مَسَاجِدَ

“Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani karena mereka menjadikan kuburan nabi mereka sebagai sebagai masjid-masjid.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Sebagaimana pula yang beliau wasiatkan kepada Sahabat Mu’adz bin Jabal t tatkala diutus ke negeri Yaman:

إِنَّكَ تَقْدمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ ، فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوْهُمْ إِلَى أَنْ يُّوَحِّدُوا اللهَ تَعَالى …

“Sesungguhnya kamu akan mendatangi sekelompok kaum dari Ahlul Kitab, maka jadikanlah yang pertama kali dalam dakwahmu, (ajakan) supaya mereka mau bertauhid kepada Allah .” (HR. Muslim)

 

 

Tauhid Adalah Solusi Dari Problema Umat


Di kancah perselisihan dakwah dengan lahirnya berbagai macam bendera-bendera Islam yang semuanya mengatasnamakan Islam. Sebagian mereka mengatakan Islam tidak akan maju dan mulia selama tidak memperhatikan sisi ekonomi kaum muslimin.

Yang lain berpandangan bahwa medan politik adalah solusi umat, meraih kekuasan adalah target utama sebagai jembatan penegak syari’at di muka bumi, dan sekian banyak logika-logika yang hanya berdasarkan kepada perasaan ataupun emosional semata tanpa didasari dengan ilmu.
Para pembaca yang mulia, perhatikanlah berita penegasan dari Allah subhanahu wa ta’ala , bahwa dakwah tauhid yang merupakan tujuan diutusnya para rasul dan para nabi, dan diturunkannya kitab-kitab suci dari langit, adalah faktor terbesar untuk meraih kejayaan, mengangkat kehormatan, kemuliaan dan kesejahteraan kaum muslimin.

Allah berfirman (artinya):

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia benar-benar akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Yaitu mereka tetap beribadah hanya kepada-Ku dengan tiada mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An Nur: 55)
Jikalau penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami melimpahkan berkah dari langit dan bumi.” (Al A’raf: 96)
Dan tauhid merupakan landasan utama dari sebuah keimanan dan ketakwaan.

 

 

Keutamaan Tauhid


Allah subhanahu wa ta’ala tidaklah mewajibkan suatu perkara, melainkan pasti padanya terdapat keutamaan-keutamaan yang sangat mulia. Begitu pula dengan “Tauhid” yang merupakan perkara paling wajib dari perkara-perkara yang paling wajib, tentunya pasti mempunyai berbagai keutamaan.

Di antara keutamaannya ialah:

  1. Tauhid Adalah Tingkat Keimanan Yang Tertinggi
    Kita ketahui bahwa iman itu bertingkat-tingkat, dan tingkatan yang tertinggi adalah kalimat tauhid Laa Ilaaha Illallah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    “Iman itu ada enam puluh cabang lebih, yang paling tinggi adalah perkataan/ucapan Laa Ilaaha Illallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan.” (HR. Muslim)
  2. Tauhid Sebagai Syarat Diterimanya Suatu Ibadah
    Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya):
    “Seandainya mereka menyekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (Al An’am: 88)
  3. Tauhid Merupakan Sebab Bagi Datangnya Ampunan Allah
    Hal ini didasarkan kepada firman Allah subhanahu wa ta’ala: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik (ketika pelakunya meninggal dunia dan belum bertaubat darinya), dan Dia mengampuni dosa yang di bawah syirik bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (An Nisa’: 48 & 116)
  4. Tauhid Sebagai jaminan Masuk ke Al Jannah Tanpa Hisab
    Ketika para shahabat bertanya-tanya tentang 70.000 orang dari umat Muhammad r yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“… mereka adalah orang-orang yang tidak minta diruqyah, tidak minta dikay dan tidak mengundi nasib dengan burung dan sejenisnya dan mereka bertawakkal hanya kepada Allah.” (H.R. At Tirmidzi)
  5. Orang Yang Tauhidnya Benar Pasti Akan Masuk Al Jannah
    Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:“Barangsiapa bertemu Allah dalam keadaan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, niscaya dia akan masuk surga.” (H.R. Muslim)
  6. Tauhid Merupakan Sumber Keamanan
    Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala (artinya): “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kedhaliman (kesyirikan), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al An’am: 82)

 

Bagaimanakah Bahaya Syirik ?
Syirik merupakan lawan dari tauhid. Kalau tauhid mengandung makna menunggalkan Allah subhanahu wa ta’ala dalam hal ibadah, maka syirik mengandung makna menyekutukan Allah dalam hal ibadah. Di saat tauhid mempunyai banyak keutamaan maka sebaliknya syirik pun sangat berbahaya dan mempunyai banyak mudharat. Di antaranya adalah:

  1. Dosa Syirik Tidak Akan Diampuni Oleh Allah I
    Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya):
    “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik (ketika pelakunya meninggal dunia dan belum bertaubat darinya), dan Dia mengampuni dosa yang di bawah syirik bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (An Nisa’: 48 & 116)
  2. Kesyirikan Adalah Kedhaliman Yang Besar
    Firman Allah subhanahu wa ta’ala (artinya): “Sesungguhnya kesyirikan adalah kedhaliman yang besar.” (Luqman: 13)
  3. Orang Yang Meninggal Dunia Dalam Keadaan Musyrik Akan Masuk Neraka Dan Kekal Di Dalamnya
    Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya):
    “Sesungguhnya barangsiapa yang menyekutukan Allah maka sungguh Allah mengharamkan baginya surga, dan tempat kembalinya adalah neraka dan tidak ada penolong bagi orang-orang yang dhalim.” (Al Maidah: 72)
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:“Barangsiapa meninggal dunia dan dia berdo’a kepada selain Allah niscaya dia masuk neraka.” (HR. Al Bukhari)
  4. Kesyirikan Penyebab Terpecah Belahnya Umat
    Firman Allah subhanahu wa ta’ala (artinya):
    “Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (Ar Ruum: 31-32)
    Semoga Allah menjauhkan kita semua dari kesyirikan, dan menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang bertauhid, dan para penghuni jannah (surga)-Nya. Amin…

 

Sumber: mahad-assalafy.com/