Hukum Merayakan Valentine’s Day (‘Idul Hub)

Dalil-dalil yang tegas dari al-Qur ‘an dan as-Sunnah telah menunjukkan  – dan di atas inilah para Salaful Ummah telah bersepakat – bahwa hari perayaan (‘Id) dalam Islam hanya ada dua, yaitu : ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adh-ha. Adapun perayaan-perayaan selain kedua hari raya tersebut, baik perayaan  yang berkenaan dengan tokoh tertentu, atau kelompok, atau peristiwa penting, atau berkaitan dengan makna tertentu, maka itu semuanya ADALAH PERAYAAN-PERAYAAN YANG BID’AH, TIDAK BOLEH BAGI AHLUL ISLAM UNTUK MERAYAKANNYA, atau menyetujuinya, atau turut menampakkan rasa senang dengannya, tidak boleh pula turut membantu pelaksanaan perayaan tersebut sedikitpun. Karena itu termasuk TINDAKAN MELANGGAR BATAS-BATAS ALLAH. Barangsiapa yang melanggar batas-batas Allah maka dia telah MENZHALIMI DIRI SENDIRI.

Apabila ditambah, di samping perayaan yang diada-adakan (dalam agama), ternyata juga merupakan perayaan yang berasal dari perayaannya orang-orang kafir, maka itu adalah dosa ditambah dosa. Karena pada yang demikian itu terdapat tasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir dan ada unsur loyalitas/kecintaan kepada orang-orang kafir. Allah telah melarang kaum mukminin dari menyerupai orang-orang kafir dan dari loyal/cinta kepada orang-orang kafir dalam Kitab-Nya yang mulia. Juga telah sah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,

من تشبه بقوم فهو منهم

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari kaum tersebut.”

Valentin’s day termasuk dalam perayaan yang disebutkan di atas. Karena perayaan itu berasal dari perayaan-perayaan paganisme  Kristen. Maka tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir untuk ikut MERAYAKANnya, atau MENYETUJUInya, atau MENGUCAPKAN SELAMAT. Bahkan yang wajib adalah MENINGGALKAN dan MENJAUHInya, dalam rangka memenuhi (perintah) Allah dan Rasul-Nya, dan agar jauh dari sebab-sebab kemurkaan dan siksa-Nya.

Sebagaimana DILARANG pula atas seorang muslim untuk MEMBANTU pelaksanaan/penyelenggaraan perayaan tersebut (Valentin’s Day), atau perayaan-perayaan haram lainnya, dalam bentuk apapun, baik berupa makanan, minuman, jual beli, kerajinan tangan, hadiah, surat/pesan (SMS), pengumuman/iklan, dan yang lainnya. Karena itu semua termasuk bentuk Ta’awun (kerja sama/saling menolong) dalam dosa dan permusuhan. Allah Ta’ala berfirman,

وتعاونوا على البر والتقوى، ولا تعاونوا على الإثم والعدوان، إن الله شديد العقاب

“Saling menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketaqwaan, dan janganlah saling menolong dalam dosa dan permusuhan. Sesungguh Allah sangat keras adzab-Nya.

Wajib atas seorang muslim untuk BERPEGANG TEGUH KEPADA AL-QUR`AN DAN AS-SUNNAH dalam semua kondisinya.  Terlebih lagi pada masa-masa penuh fitnah dan banyaknya kerusakan. Hendaknya dia menjadi seorang yang jeli dan waspada dari terjatuh kepada kesesatan-kesesatan orang-orang yang dimurkai (oleh Allah), orang-orang tersesat dan fasik, yang tidak percaya akan kebesaran Allah, dan sama sekali tidak peduli terhadap Islam.

Hendaknya setiap muslim kembali kepada Allah, dengan mengharap dari-Nya hidayah-Nya dan kokoh di atas hidayah tersebut. sesungguh tidak ada yang memberi hidayah dan mengokohkan di atas-Nya kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala

وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم.

Al-Lajnah ad-Da`imah

__________________________________________________________________________________________

Merayakan Valentin’s Day TIDAK BOLEH karena beberapa alasan:

Pertama, itu adalah perayaan bid’ah, yang tidak ada dasarnya dalam syari’at.

Kedua, perayaan tersebut menyeret kepada cinta birahi dan mabuk cinta

Ketiga, perayaan tersebut menyeret untuk menyibukkan hati dengan perkara-perkara konyol dan sia-sia, yang bertentangan dengan bimbingan para Salafush Shalih radhiyallahu ‘anhum.

Maka TIDAK HALAL untuk diperbuat pada hari raya tersebut sedikitpun dari syi’ar-syi’ar ‘Id (hari perayaan), baik dalam makanan, minuman, pakaian, ataupun hadiah-hadiah dan yang lainnya.

Setiap muslim hendaknya merasa mulia dengan agamanya, jangan menjadi orang plin-plan yang mengikuti setiap teriakan.

Aku memohon kepada Allah agar melindungi kaum muslimin dari berbagai fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi, dan agar mengurusi kita dengan pengaturan-Nya dan taufiq-Nya.

Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin

Sumber: http://www.manhajul-anbiya.net/hukum-merayakan-valentines-day/

Tanya Jawab Seputar Khitan

Hukum Khitan

Fadhilatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya tentang hukum khitan. Beliau menjawab sebagai berikut.

Khitan adalah salah satu sunanul fitrah[1] dan salah satu bentuk syiar kaum muslimin, berdasarkan dalil yang ada dalam Shahihain dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

.الْفِطْرَةُ خَمْسٌ: الْخِتَانُ، وَالْإِسْتِحْدَادُ، وَقَصُّ الشَّارِبِ، وَتَقْلِيْمُ الْأَظْفَارِ، وَنَتْفُ الْإِبْطِ

“Fitrah itu ada lima: khitan, mencukur rambut kemaluan, memendekkan kumis, memotong kuku, dan mencabut rambut ketiak.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengawalinya dengan khitan dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam beritakan bahwa hal itu merupakan salah satu sunanul fitrah.

Khitan yang syar’i dilakukan dengan memotong qulfah (kulit) yang menutupi ujung zakar saja. Adapun mengelupaskan seluruh kulit yang menutupi zakar atau menguliti zakar sebagaimana yang terjadi di sebagian negeri, karena menyangka–dengan kebodohan mereka–bahwa inilah khitan yang disyariatkan. Sesungguhnya perbuatan seperti ini adalah syariat yang dibuat oleh setan. Setan menampakkan hal ini sebagai sesuatu yang bagus di hadapan orang-orang yang belum memahami ilmu agama.

Selain itu, ini adalah penyiksaan terhadap orang yang dikhitan, menyelisihi sunnah yang diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam , dan menyelisihi syariat Islam yang identik dengan kemudahan, kelapangan, serta penjagaan terhadap nyawa manusia.

Perbuatan semacam ini haram dari beberapa sisi, di antaranya sebagai

berikut.

  1. As-Sunnah menjelaskan khitan dengan memotong kulit yang menutupi kepala zakar saja.
  2. Perbuatan menyiksa dan mencacati seseorang.

Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang perbuatan mencacati, menawan, menelantarkan hewan, atau memotong anggota badannya hidup-hidup. Tentu menyiksa Bani Adam lebih utama dan lebih keras keharamannya.

  1. Perbuatan ini bertentangan dengan perintah untuk berbuat ihsan dan kasih sayang, yang dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,

.إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ

“Sesungguhnya Allah telah menetapkan ihsan atas segala sesuatu.”

  1. Perbuatan ini terkadang mengakibatkan pendarahan dan kematian orang yang dikhitan. Karena itu, tidak boleh dilakukan.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَا تُلۡقُواْ بِأَيۡدِيكُمۡ إِلَى ٱلتَّهۡلُكَةِ

“Janganlah kalian lemparkan diri-diri kalian ke dalam kebinasaan.”

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

وَلَا تَقۡتُلُوٓاْ أَنفُسَكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُمۡ رَحِيمٗا ٢٩

“Dan janganlah kalian bunuh diri-diri kalian, sesungguhnya Allah Maha Penyayang terhadap kalian.” (An-Nisa’: 29)

Oleh karena itu, para ulama menyatakan bahwa tidak wajib khitan syar’i atas orang yang telah dewasa apabila dikhawatirkan akan terjadi hal-hal semacam ini.

Adapun mengadakan resepsi dengan mengundang tamu laki-laki dan perempuan pada hari yang telah ditentukan untuk menghadiri acara khitan, lantas si anak diminta berdiri dihadapan mereka semua dalam keadaan terbuka auratnya, hal ini haram. Sebab, dalam acara seperti ini ada penyingkapan aurat, sementara agama Islam memerintahkan umatnya untuk menutup aurat dan melarang menyingkapkannya.

Begitu pula ikhtilath (campur-baur) antara tamu laki-laki dan perempuan dalam acara seperti ini tidaklah diperbolehkan, karena akan menimbulkan fitnah dan menyelisihi syariat yang suci ini. (Majmu’ Fatawa Ibni Baz, 4/424)

Khitan Anak Perempuan

Fadhilatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya sebagai berikut.

“Sebagian negara Islam melakukan khitan pada anak perempuan, karena meyakini bahwa hal ini wajib atau sunnah. Sebuah majalah bahkan mempersiapkan artikel yang membahas hal ini, karena memandang pentingnya mengetahui pandangan syari’at tentang hal ini. Oleh karena itu, kami memohon kepada Anda agar memberikan penerangan tentang pandangan syari’at akan hal ini.”

Beliau rahimahullah menjawab, “Wa‘alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh.

Khitan pada anak perempuan merupakan sunnah sebagaimana khitan pada anak laki-laki, dengan syarat jika didapati orang yang dapat melakukannya; baik dokter laki-laki maupun perempuan. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الفِطْرَةُ خَمْسٌ: الْخِتَانُ، وَالْإِسْتِحْدَادُ، وَقَصُّ الشَّارِبِ، وَتَقْلِيْمُ الْأَظْفَارِ، وَنَتْفُ الْآبَاطِ

“Fitrah itu ada lima: khitan, mencukur rambut kemaluan, memotong kumis, memotong kuku, dan mencabut rambut ketiak.”

Hadits ini disepakati kesahihannya.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan taufik kepada kita semua untuk melaksanakan segala sesuatu yang membuat-Nya ridha.

Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh. (Majmu’ Fatawa Ibni Baz, 10/46)

Mencukur Rambut Bayi Perempuan setelah Lahir

Samahatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya tentang khitan dan mencukur rambut bayi perempuan setelah lahir.

Beliau menjawab, “Yang disunnahkan hanyalah mencukur rambut bayi laki-laki ketika dia diberi nama pada hari ketujuh. Adapun bayi perempuan tidak dicukur rambutnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

.كُلُّ غُلاَ مٍ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيْقَتِهِ تُذْبَحُ عِنْدَ يَوْمِ سَابِعِهِ، وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى

“Setiap bayi laki-laki tergadai dengan akikahnya hingga disembelih (hewan sembelihan –pent.) pada hari ketujuh kelahirannya, dicukur (rambutnya), dan diberi nama.” (HR. Ahmad dan ashabus sunan yang empat dengan sanad yang hasan)

Adapun khitan bagi anak perempuan, hal ini disenangi, tetapi tidak wajib. Hal ini berdasarkan keumuman hadits yang ada, seperti sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

.خَمْسٌ مِنَ الفِطْرَةِ: الْخِتَانُ، وَالْإِسْتِحْدَادُ، وَنَتْفُ الْإِبْطِ، وَتَقْلِيْمُ الْأَظْفَارِ، وَقَصُّ الشَّارِبِ

“Lima hal yang termasuk fitrah: khitan, mencukur rambut kemaluan, mencabut rambut ketiak, memotong kuku, dan memotong kumis.”

Hadits ini disepakati kesahihannya.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan taufik kepada kita semua pada segala yang diridhai-Nya. Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh. (Majmu’ Fatawa Ibni Baz, 10/47)

Menindik Telinga dan Hidung Anak Perempuan

Pernah ditanyakan kepada Lajnah ad Daimah lil Buhuts al ‘Ilmiyyah wal Ifta’, “Apakah boleh menindik telinga anak perempuan untuk memasang anting?”

Al-Lajnah menjawab,

“Hal ini boleh dilakukan karena tujuannya ialah berhias, bukan untuk menyakiti atau mengubah ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala. Sebab, hal ini telah dikenal pula semenjak masa jahiliah dan semasa hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam , dan beliau tidak melarangnya. Bahkan, disetujui oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau radhiallahu ‘anhum .

Hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala kita memohon taufik. Semoga shalawat dan salam Allah subhanahu wa ta’ala limpahkan kepada Nabi kita, Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya.” (Fatawa al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-‘Ilmiyyah wal Ifta’, no. 4084)

Ditanyakan pula kepada Fadhilatusy Syaikh al-‘Utsaimin tentang hukum menindik telinga atau hidung anak perempuan untuk berhias.

Beliau menjawab, “Yang benar, tidak mengapa menindik telinga, karena tujuan yang hendak didapat adalah untuk berhias yang mubah. Telah pasti pula bahwa wanita para sahabat memiliki anting yang dikenakan di telinga mereka. Kalaupun ini tindakan menyakiti, sifatnya ringan. Jika ditindik pada saat masih kecil, cepat sembuhnya.

Adapun menindik hidung, aku tidak ingat ada pembahasan ulama dalam permasalahan ini. Namun, hal ini mengandung perbuatan mencacati dan menjelekkan penciptaan, menurut pandangan kami. Akan tetapi, mungkin ada (ulama –pen.) selainku yang berpandangan lain.

Apabila memang wanita itu tinggal di suatu negeri yang menganggap memakai perhiasan di hidung adalah bentuk berhias dan berdandan, tidak mengapa menindik hidungnya untuk menggantungkan antingnya. (Majmu’ Fatawa wa Rasa’il, 11/137)

(Dinukil dan diterjemahkan oleh Ummu Abdirrahman dengan sedikit penyesuaian dari Fatawa Tarbiyatil Aulad, al-Qismu al-‘Ilmi Darul Ikhlash wash-Shawab, cet. 2, 1435H/2014M, hlm. 7—12)


[1] Sunanul fithrah disebut juga khishalul fithrah (perangai-perangai fitrah). Disebut demikian karena orang yang melaksanakannya memiliki sifat sebagaimana fitrah yang Allah subhanahu wa ta’ala ciptakan manusia di atas fitrah tersebut dan Allah subhanahu wa ta’ala jadikan mereka senang dengan fitrah tersebut, agar manusia berada dalam keadaan yang paling baik dan bentuk yang paling sempurna. (al-Fiqhul Muyassar, hlm.14)

Sumber: http://asysyariah.com/tanya-jawab-seputar-khitan/

MACAM-MACAM KRITIKAN TERHADAP PEMERINTAH MENURUT SALAFIYYUN

MACAM-MACAM KRITIKAN TERHADAP PEMERINTAH MENURUT SALAFIYYUN

Asy-Syaikh Muhammad Bazmul hafizhahullah berkata:

ﺇﺫﺍ ﺍﻧﺘﻘﺪﺕ ﻭﻟﻲ ﺍﻷﻣﺮ ﺃﻭ ﺃﻱ ﻣﺴﺆﻭﻝ ﻭﺯﻳﺮ ﺃﻭ ﻣﺪﻳﺮ ﺩﺍﺋﺮﺓ ﺃﻭ ﻣﻨﺸﺄﺓ ﺣﻜﻮﻣﻴﺔ ﻻ ﻳﺨﻠﻮ ﺍﻷﻣﺮ ﻣﻦ ﻋﺪﺓ ﺃﺣﻮﺍﻝ:
ﺍﻟﺤﺎﻝ ﺍﻷﻭﻟﻰ: ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻧﻘﺪﻙ ﻟﻪ ﺑﺤﻖ ﻭﻟﻜﻦ ﻓﻲ ﻏﻴﺒﺘﻪ؛ ﻓﻬﺬﺍ ﺍﻟﻨﻘﺪ ﻏﻴﺒﺔ ﺣﺮﺍﻡ.
ﺍﻟﺤﺎﻝ ﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ: ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻧﻘﺪﻙ ﺑﻐﻴﺮ ﺣﻖ ﻓﻬﺬﺍ ﺑﻬﺖ ﻭﻛﺬﺏ؛ ﻓﻬﺬﺍ ﺣﺮﺍﻡ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ.
ﺍﻟﺤﺎﻝ ﺍﻟﺜﺎﻟﺜﺔ: ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻧﻘﺪﻙ ﺑﺤﻖ ﻭﻓﻲ ﻣﺠﻠﺴﻪ ﺃﻣﺎﻡ ﺍﻟﻨﺎﺱ؛ ﻓﻬﺬﻩ ﻓﻀﻴﺤﺔ ﻟﻴﺴﺖ ﺑﻨﺼﻴﺤﺔ.
ﺍﻟﺤﺎﻝ ﺍﻟﺮﺍﺑﻌﺔ: ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻧﻘﺪﻙ ﻟﻪ ﺑﺤﻖ ﻭﻗﺪﻣﺘﻪ ﻟﻪ ﺳﺮﺍ ﻓﻲ ﺧﺎﺻﺔ ﻧﻔﺴﻪ ﺩﻭﻥ ﺗﺸﻬﻴﺮ ﻭﻟﻴﺲ ﺃﻣﺎﻡ ﺍﻟﻨﺎﺱ، ﻓﻬﺬﻩ ﻧﺼﻴﺤﺔ ﺗﺒﺮﺃ ﺑﻬﺎ ﺫﻣﺘﻚ ﻭﺗﺆﺟﺮ ﻋﻠﻴﻬﺎ.
ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻤﻮﻓﻖ.

“Jika engkau mengkritik pemerintah, atau seorang penanggungjawab seperti menteri, kepala daerah, atau lembaga pemerintah, maka perkaranya tidak lepas dari beberapa keadaan:

Pertama: Kritikanmu benar, tetapi dilakukan tidak di hadapannya, maka kritikan semacam ini merupakan ghibah yang itu diharamkan.

Kedua: Kritikanmu tidak benar, maka ini merupakan hal yang diada-adakan dan dusta, sehingga kritikan semacam ini haram.

Ketiga: Kritikanmu benar dan di majelisnya, namun di hadapan orang lain, maka ini namanya membongkar aib, dan bukan nasehat.

Keempat: Kritikanmu benar, engkau sampaikan secara diam-diam langsung kepada yang bersangkutan, tanpa menyebarkannya, dan tidak dilakukan di hadapan orang lain, maka ini merupakan nasehat yang membebaskan tanggung jawabmu dan engkau mendapatkan pahala atasnya.

Hanya Allah saja yang memberi taufiq.”

? Sumber || https://twitter.com/momalbaz/status/823924011201662976

Sumber: http://forumsalafy.net/macam-macam-kritikan-terhadap-pemerintah-menurut-salafiyyun/

BOLEHKAH MENYEBARKAN BERITA KELAHIRAN DI INTERNET ATAU DI MEDIA SOSIAL

BOLEHKAH MENYEBARKAN BERITA KELAHIRAN DI INTERNET ATAU DI MEDIA SOSIAL?

Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad hafizhahullah

Pertanyaan: Fadhilatusy Syaikh, semoga Allah senantiasa mencurahkan kebaikan-Nya kepada Anda, saya diberi rezeki berupa anak yang baru lahir, apakah boleh bagi saya untuk menyebarkan berita tentang hal itu di internet atau facebook, agar bayi saya tersebut didoakan?

Jawaban: Tidak boleh sama sekali, engkau doakan sendiri untuknya dan keluarganya hendaknya mendoakan untuknya, dan jangan engkau sibukkan dirimu dengan hal-hal semacam ini. Jangan sampai semua orang yang dikaruniai anak lalu menulis beritanya di internet.

? Syarh Shahih Muslim, bab Fadhl Binail Masajid wal Hatstsu Alaiha, 17/6/1435 H

السؤال: فضيلة الشيخ أحسن الله إليكم: رزقت بمولود، فهل يجوز لي نشر خبر ذلك في الشبكة العنكبوتية أو الفيس بوك ليدع له؟

الجواب: لا أبدا، لا تفعل، أدع له أنت ويدعو له أهله، ولا تشغل نفسك بهذه الأمور، كل من يولد له مولود يروح يخطه في الشبكة.

? Sumber || https://goo.gl/IoFp59

Sumber: http://forumsalafy.net/bolehkah-menyebarkan-berita-kelahiran-di-internet-atau-di-media-sosial/

Hukum Menunda-nunda Membayar Utang

Assalamu’alaikum.

Sebelumnya terima kasih atas penjelasan yang diberikan. Saya menghadapi suatu permasalahan hukum yang sangat membutuhkan penjelasan. Ada dua orang muslim yang terikat perjanjian utang piutang. Kemudian orang yang berutang menyalahi perjanjian karena suatu sebab, bisa jadi karena sebab-sebab di luar kemampuannya, atau bisa jadi juga memang tidak punya itikad untuk membayar utangnya.

  1. Apakah kehormatan orang yang berutang dan tidak membayar itu halal, dalam artian boleh dirusak atau dihinakan? Sebab, ada yang mengatakan boleh, dengan dalil Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyalati jenazah orang yang belum melunasi utangnya.
  2. Apakah sebab-sebab tidak dilunasinya utang bisa menjadi pertimbangan bagi orang yang memberi utang untuk memberikan tangguh, atau bahkan menyedekahkan piutangnya kepada yang berutang?
  3. Apakah harta orang yang berutang tersebut halal bagi orang yang memberi utang, dalam artian boleh diambil paksa sebatas jumlah utangnya?

Ummu Shafeya, DepokTimur

 


Dijawab oleh al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini

Pada dasarnya, barang siapa berutang lantas memiliki kemampuan membayarnya meskipun secara keumuman ia terhitung miskin, ia berkewajiban membayar utangnya saat pemilik hak menagihnya atau saat tiba waktu pembayaran yang ditentukan (jatuh tempo) pada utang yang bersifat angsuran.

Haram hukumnya menunda pembayaran hak pemiutang yang telah berbuat baik kepadanya dengan mengutanginya, karena hal itu adalah kezaliman. Dalilnya adalah hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ

 “Penundaan pembayaran oleh pengutang yang mampu adalah kezaliman.” (Muttafaq ‘alaih)

Kata Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari, “Terdapat perselisihan pendapat, apakah kesengajaan menunda pembayaran utang tergolong dosa besar atau tidak? Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa pelakunya fasik.

Akan tetapi, apakah ia menjadi fasik lantaran menunda pembayaran satu kali atau tidak?

An-Nawawi mengatakan, ‘Tuntutan mazhab kami dalam masalah ini adalah dipersyaratkan berulang kali (baru disebut fasik).’

Akan tetapi, hal itu dibantah oleh as-Subki pada Syarhu al-Minhaj, ‘Tuntutan mazhab kami adalah tidak dipersyaratkan berulang kali. Dalilnya, menahan hak seseorang setelah pemiliknya menuntut disertai mencari-cari alasan (penghalang) untuk membayarnya (kedudukannya) seperti merampas hak orang. Sementara itu, merampas adalah dosa besar.

Penamaannya sebagai kezaliman mengindikasikan bahwa hal itu adalah kefasikan, dan suatu dosa besar tidak dipersyaratkan harus dilakukan berulang kali (baru dinamakan dosa besar).

Ya, ia tidak dihukumi fasik kecuali jika benar-benar jelas bahwa ia tidak punya uzur untuk menundanya.’

Mereka juga berselisih pendapat, apakah pelakunya menjadi fasik lantaran menundanya setelah mampu, baik ditagih maupun tidak?

Hadits dalam bab ini mengindikasikan bahwa pelakunya menjadi fasik apabila pemilik hak telah menagihnya, karena kata ‘menunda’ mengindikasikan makna demikian.”

Ini pula yang dipilih oleh Ibnu ‘Utsaimin dalam syarah Bulughul Maram.

Dalam Fathul Bari, al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan bahwa hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu di atas menunjukkan bolehnya mendesak pengutang yang menunda pembayaran agar segera membayar utangnya dan menempuh berbagai cara untuk mengambil haknya dari dia secara paksa.[1]

Diantara cara itu adalah melaporkannya kepada pihak berwajib, sebagaimana akan diterangkan nanti. Adapun pemaksaan secara fisik yang bisa memicu (fitnah) pertumpahan darah, hal itu harus dihindari.

Kezaliman orang yang menunda pembayaran utangnya bisa menjadi alasan bagi pemiutang yang terzalimi untuk mengghibahinya (menggunjingya) dan mengadukannya ke pihak yang berwajib. Dalilnya adalah hadits asy-Syarid radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيُّ الْوَاجِدِ يُحِلُّ عِرْضَهُ وَعُقُوبَتَهُ

“Menunda pembayaran oleh pengutang yang mampu menghalalkan kehormatan dan hukumannya.” (HR.Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’i, Ibnu Majah, dan al-Bukhari secara ta’liq [tanpa menyebutkan sanad]; dinyatakan hasan oleh Ibnu Hajar dan al-Albani)[2]

Tentang kalimat “menghalalkan kehormatannya”, Ibnu ‘Utsaimin menetapkan makna-makna berikut:

  1. Boleh bagi pemilik hak menyifati orang tersebut zalim karena menunda haknya,
  2. Boleh mengadukannya ke pihak yang berwajib (syikayah), dan
  3. Boleh mengghibahinya (menggunjingnya) di tengah-tengah manusia apabila ada maslahatnya.

Maslahat itu boleh jadi merupakan maslahat pemilik hak, yaitu apabila membuat pengutang bersegera membayar utangnya karena takut kejelekannya tersebar luas; atau maslahat orang lain agar berhati-hati dalam bermuamalah dengan orang tersebut (sebagai tahdzir/peringatan).

Ibnu ‘Abdil Barr menyatakan bahwa hal ini seperti firman Allah subhanahu wa ta’ala,

لَّا يُحِبُّ ٱللَّهُ ٱلۡجَهۡرَ بِٱلسُّوٓءِ مِنَ ٱلۡقَوۡلِ إِلَّا مَن ظُلِمَۚ

“Allah tidak menyukai terang-terangan dalam hal ucapan yang jelek kecuali orang yang dizalimi.” (an-Nisa’:148)

Adapun makna “menghalalkan hukumannya” adalah berdasarkan tuntutan pemilik hak, tidak tanpa tuntutan pemilik hak. Menurut Ibnu ‘Utsaimin, hadits ini mutlak terserah kebijakan pihak yang berwajib dalam menentukan hukuman apa yang dianggap membuatnya segera membayar utangnya; apakah dipenjara atau dipukul/dicambuk. Jika dipukul/cambuk, tentunya pukulan/cambukan yang tidak menyebabkan cacat fisik dan tidak lebih dari sepuluh kali tiap hari. Jika masih belum membayar juga, pihak hakim (pihak yang berwajib) langsung turun tangan secara paksa membayarkan utangnya dari harta orang tersebut yang ada atau menjualnya untuk pembayaran utangnya.[3]

Adapun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyalati muslim yang mati dengan meninggalkan tanggungan utang yang belum terbayar,[4] adalah sebagai peringatan bagi yang lain agar tidak meremehkan masalah utang dan tidak bermudah-mudah dalam hal berutang, kecuali pada kondisi benar-benar terdesak kebutuhan yang mengharuskannya berutang.

Apabila pengutang benar-benar belum mampu membayar utangnya, pemilik hak wajib memberi tangguh sampai ia mampu membayarnya. Bahkan, dianjurkan bagi pemilik hak agar bersedekah kepadanya dengan membebaskannya dari sebagian atau seluruh tanggungan utangnya. Dalilnya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَإِن كَانَ ذُو عُسۡرَةٖ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيۡسَرَةٖۚ وَأَن تَصَدَّقُواْ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ

“Jika (orang yang berutang itu) dalam kesulitan, berilah tangguh sampai dia memiliki kelapangan, dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahui.” (al-Baqarah: 280)

Adapun balasannya telah disebutkan pada keumuman makna hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍيَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

“Barang siapa membebaskan seorang mukmin dari satu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan dunia, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan membebaskannya dari satu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan akhirat. Barang siapa memberi kemudahan atas orang yang kesulitan ekonomi, niscaya Allah akan memberi kemudahan atasnya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim)

Bahkan ada nash secara khusus:

  1. Hadits Buraidah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ مِثْلِهِ صَدَقَةٌ قَبْلَ أَنْ يَحُلَّ الدَّيْنُ، فَإِذَا حَلَّ الدَّيْنُ فَأَنْظَرَهُ فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ مِثْلَيْهِ صَدَقَةٌ

“Barang siapa memberi tangguh orang yang kesulitan membayar utang sampai dia berkelapangan sebelum tiba waktu pelunasan, dia mendapatkan pahala sedekah senilai dengannya setiap hari. Apabila waktu pelunasan telah tiba lantas dia memberi tangguh kepadanya sampai berkelapangan, dia mendapatkan pahala sedekah dua kali lipat darinya setiap hari.” (HR. Ahmad dan al-Hakim. Al Hakim menghukuminya sahih menurut syarat al-Bukhari dan Muslim, serta disetujui oleh adz-Dzahabi, tetapi diluruskan oleh al-Albani dan al-Wadi’i bahwa sahih menurut syarat Muslim saja)[5]

  1. Hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا أَوْ وَضَعَ لَهُ أَظَلَّهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تَحْتَ ظِلِّ عَرْشِهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ

“Barang siapa memberi tangguh orang yang kesulitan membayar utang hingga ia berkelapangan atau menggugurkan utangnya, Allah subhanahu wa ta’ala akan menaunginya di hari kiamat (dari panas terik matahari) di bawah naungan ‘Arasy-Nya pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya.” (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi, ini adalah lafadz at-Tirmidzi; dinyatakan sahih oleh at-Tirmidzi, al-Albani, dan al-Wadi’i)[6]

Wallahu a’lam.


[1] Lihat Fathul Bari (4/Bab “al-Hawalah”, syarah hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu) dan Fathu Dzil Jalal wal Ikram (Kitab al-Buyu’, Bab “al-Hawalah waadh-Dhaman”, syarah hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu).

[2] Lihat Fathul Bari (5/Kitab al-Istiqradh, Bab “Li Shahib al-Haqqi Maqal”) dan al-Irwa’ (no. 1434).

[3] Lihat kitab asy-Syarh al-Mumti’ (9/273—274).

[4] Akan tetapi, dishalati oleh keumuman para sahabat radhiallahu ‘anhum.

[5] Lihat kitab ash-Shahihah (no. 86), al-Irwa’ (no. 1438), dan ash-Shahih al-Musnad (1/127).

[6] Lihat kitab Shahih al-Jami’ (no. 6107) dan al-Jami’ ash-Shahih (3/12).

 

Sumber: http://asysyariah.com/hukum-menunda-nunda-membayar-utang/

Dusta, Prinsip Agama Rafidhah (Syiah)

Penulis : Al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc.

Fitrah manusia mencintai kejujuran dan membenci kedustaan. Namun, apabila hawa nafsu telah menguasai seorang dan fanatik buta telah merasuki dirinya, fitrah kesuciannya menjadi rusak dan berubah. Kedustaan yang sebelumnya ia benci akan menjadi sesuatu yang lumrah. Bahkan, ada yang lebih parah dari itu, kedustaan dijadikan sebagai salah satu prinsip beragama, seperti agama Rafidhah (Syiah).

 

Kedustaan, Ciri Khas Munafik

Orang-orang munafik yang tinggal bersama masyarakat muslimin ibarat duri dalam daging. Di satu sisi, orang-orang munafik secara lahiriah menampakkan seolah-olah bagian muslimin. Akan tetapi, di sisi lain mereka memendam kebencian kepada Islam dan muslimin.  Kapan pun ada peluang untuk menjelek-jelekkan Islam, akan mereka lakukan. Allah ‘azza wa jalla menyebutkan tentang mereka, di antaranya,

Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, “Kami mengakui, sesungguhnya kamu benarbenar Rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar pendusta. (al-Munafiqun: 1)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang tanda-tanda orang munafik,

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ

“Tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara, ia berdusta; apabila berjanji, memungkirinya; dan apabila diamanahi, ia berkhianat.” ( HR. al-Bukhari & Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

 

Kemunafikan Yahudi dan Syiah

Kemunafikan merupakan sifat Yahudi yang menonjol. Watak jahat ini sudah muncul sejak awal munculnya bangsa Yahudi. Allah ‘azza wa jalla menyebutkan di antara bentuk kemunafikan mereka,

Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata, “Kami beriman”; dan apabila menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. (Ali Imran: 119)

Dan apabila orang-orang (Yahudi atau munafik) datang kepadamu, mereka mengatakan, “Kami telah beriman,” padahal mereka datang kepada kamu dengan kekafirannya dan mereka pergi (darimu) dengan kekafirannya (pula); dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan. (al-Maidah: 61)

Bisa jadi, seseorang akan heran, bagaimana bisa orang-orang Yahudi suka bermunafik padahal mereka memiliki kitab agama? Bahkan, bermunafik merupakan sifat yang selalu melekat pada mereka?

Apabila seseorang menelaah kitab-kitab Yahudi, terkhusus kitab Talmud, niscaya akan didapatkan jawaban bahwa sifat jelek tersebut ada pada mereka karena para penulis kitab Talmud telah menanamkan kemunafikan pada jiwa mereka. Mereka memoles kedustaan sebagai sesuatu yang harus dilakukan dan sebuah cara untuk mencapai tujuan-tujuan mereka yang berkaitan dengan agama atau pribadi mereka.

Di antara yang disebutkan dari mereka ialah seorang Yahudi boleh berbasa-basi dengan non-Yahudi secara lahiriah demi menghindari kejelekannya, dengan syarat ia tetap memendam kebencian kepadanya.

Salah seorang penulis Talmud mengatakan, “Bermunafik dibolehkan. Seorang—Yahudi—memungkinkan untuk berlaku sopan dengan orang kafir dan mengatakan kecintaan kepadanya secara dusta, apabila dikhawatirkan ia akan tertimpa mudarat.”

Selain itu, mereka menampakkan seolah-olah mengucapkan salam kepada muslimin padahal mereka menyembunyikan pada diri mereka apa yang tidak mereka tampakkan. Oleh karena itu, setelah penjelasan ini seorang muslim tidak pantas tertipu oleh trik-trik Yahudi dalam bermunafik, seperti apa pun mereka menampakkan kecintaan.

Allah ‘azza wa jalla telah membeberkan trik-trik jahat mereka dalam al-Qur’an. Di antaranya adalah firman-Nya,

“Dan apabila mereka datang kepadamu, mereka mengucapkan salam kepadamu dengan memberi salam yang bukan sebagai yang ditentukan Allah untukmu.” (al-Mujadalah: 8)

Di antara bentuk kemunafikan mereka ialah menampakkan kecintaan kepada orang-orang yang berseberangan dengan mereka, dengan cara ikut serta dalam perayaannya, bahkan berpura-pura memeluk agama orang lain.

Hal ini seperti tertera dalam kitab Talmud, “Apabila seorang Yahudi bisa menipu para penyembah berhala dengan mengaku-ngaku bahwa ia termasuk penyembah bintang (berhala), boleh ia lakukan.”

Sengaja kami menyebutkan trik-trik kemunafikan Yahudi agak panjang, karena ada sisi kesamaan dengan orang-orang Rafidhah (Syiah). Bagaimana tidak?! Bahkan, yang memunculkan agama Syiah adalah seorang Yahudi dari Yaman bernama Abdullah bin Saba’. Ia berpura-pura masuk Islam demi merusak kaum muslimin dari dalam. Hal ini juga diakui oleh orang-orang Syiah sendiri, sebagaimana yang dinukil oleh al-Mamiqani dalam kitab mereka, yaitu Tanqihul Maqal (2/184), dari al-Kisysyi—pimpinan ulama Syiah dalam bidang al-jarh wat ta’dil.

Berikut ini teks terjemahannya, “Ulama telah menyebutkan bahwa dahulu Abdullah bin Saba’ adalah seorang Yahudi, lalu masuk Islam dan menyatakan kecintaannya kepada Ali radhiallahu ‘anhu. Ketika masih beragama Yahudi, Abdullah bin Saba’ mengatakan tentang Yusya bin Nun bahwa ia adalah orang yang diwasiati oleh Nabi Musa (untuk memimpin Bani Israil sepeninggal Musa). Ketika masuk Islam, dia pun mengatakan seperti itu tentang Ali (yaitu yang paling berhak menjadi khalifah sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Abdullah bin Saba’ adalah orang pertama yang memasyhurkan keyakinan tentang keimaman Ali dan menampakkan sikap benci kepada lawan-lawan Ali[1].” (lihat mukadimah Muhibbuddin al-Khathib terhadap kitab Mukhtashar at-Tuhfah al-Itsnai al-‘Asyariyah)

Dari penjelasan di atas, teranglah bahwa memang ada benang merah antara Yahudi dan Syiah. Karena itu, didapatkan banyak titik kesamaan antara dua agama tersebut, tak terkecuali dalam masalah tipu-menipu dan berdusta.

Orang-orang Syiah membolehkan berdusta terhadap orang yang bukan kelompoknya, terlebih lagi terhadap Ahlus Sunnah.

Orang-orang Syiah punya trik untuk menyembunyikan keyakinan dan agamanya di sisi orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka, bahkan sampai pada tingkatan berpura-pura mengikuti agama atau kelompok selain mereka. Mereka mengatakan bahwa ini adalah bentuk taqiyyah ( تَقِيَّةٌ ), yang sebenarnya merupakan bentuk kemunafikan.

Akan tetapi, apabila mereka merasa memiliki kekuatan, mereka berterus terang tentang agamanya (Syiahnya) dan menampakkan permusuhan serta kebencian kepada selain kelompok mereka, lebih-lebih terhadap Ahlus Sunnah. Mereka akan membuka agama yang selama ini mereka sembunyikan.

 

Hakekat Taqiyyah Menurut Syiah

Yusuf al-Bahrani—salah seorang pembesar Syiah di abad ke-12 H—, “Yang dimaksud dengan taqiyyah adalah menampakkan kecocokan kepada orang yang tidak sepaham pada apa yang mereka yakini karena takut.”

Al-Khumaini berkata, “Taqiyah artinya seseorang mengatakan suatu perkataan yang tidak sesuai dengan kenyataan atau melakukan suatu perbuatan yang bertentangan dengan timbangan syariat. Hal itu dilakukan demi menjaga darah, kehormatan, atau hartanya.”

Dari pemaparan para tokoh Syiah di atas, bisa diambil empat kesimpulan, yaitu:

  1. Makna taqiyah adalah menampakkan kepada orang lain sesuatu yang menyelisihi batinnya.
  2. Taqiyyah digunakan terhadap orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka, sehingga seluruh muslimin masuk dalam keumuman (orang yang tak sepaham dengan mereka).[2]
  3. Taqiyyah digunakan pada perkara agama yang diyakini oleh orang-orang yang tidak sepaham.
  4. Taqiyyah dilakukan ketika dia mengkhawatirkan agama, jiwa, atau hartanya.

 

Kedudukan Taqiyyah Menurut Syiah

Taqiyyah dalam agama Rafidhah (Syiah) memiliki posisi yang tinggi, seperti yang disebutkan dalam kitab-kitab induk mereka.

Al-Kulaini dan yang lainnya meriwayatkan dari Ja’far ash-Shadiq bahwa ia berkata, “Taqiyyah adalah agamaku dan agama nenek moyangku. Tidak ada iman bagi yang tidak melakukan taqiyyah.”

Ali bin Muhammad berkata kepada Dawud ash-Sharmi, “Wahai Dawud, kalau aku katakan kepadamu bahwa orang yang meninggalkan taqiyyah seperti orang yang meninggalkan shalat, niscaya aku benar (ucapannya).”

Diriwayatkan juga dari al-Baqir bahwa ia berkata, “Akhlak termulia dari para imam dan orang mulia kalangan Syiah kita adalah menggunakan taqiyyah.”

Orang-orang Syiah melakukan taqiyyah berdalilkan dengan firman Allah ‘azza wa jalla,

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan kepada Allah kembali (mu).” (Ali Imran: 28)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Orang-orang Rafidhah mengaku mengamalkan ayat ini (Ali Imran ayat 28), padahal ayat ini merupakan bantahan atas mereka. Sebab, yang pertama kali diajak bicara dengan ayat ini adalah orang-orang mukmin yang bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dikatakan kepada mereka, ‘Orang-orang yang beriman tidak (boleh) menjadikan orang-orang kafir sebagai penolong/teman dekat selain orang-orang yang beriman…’

Dan telah maklum bahwa tidak ada dari kaum mukminin yang ada di Madinah pada zaman Nabi yang menyembunyikan keimanannya dan tidak menampakkannya kepada orang-orang kafir, seperti yang dilakukan oleh orang-orang Rafidhah terhadap mayoritas (kaum muslimin)…

Orang Rafidhah adalah orang yang paling besar menampakkan “kecintaan” kepada Ahlus Sunnah, kala mereka tidak mau menampakkan agamanya. Mereka justru menghafal (dalil-dalil) tentang keutamaan sahabat Nabi dan syair-syair yang memuji sahabat dan mencela Rafidhah. Suatu hal yang dengan itu mereka mengharapkan kecintaan dari Ahlus Sunnah.

Salah seorang mereka tidak mau menampakkan agama (Syiah)nya sebagaimana halnya orang-orang beriman menampakkan agamanya kepada orangorang musyrikin dan ahli kitab.

Dari penjelasan ini, diketahui bahwa mereka adalah orang-orang yang paling jauh pengamalan ayat ini. Adapun firman Allah ‘azza wa jalla,

“Kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka.” (Ali Imran: 28)

Mujahid rahimahullah berkata, “Kecuali karena siasat. Siasat (di sini) bukan dengan (mengatakan), ‘Aku berdusta dan mengatakan dengan lisanku apa yang tidak ada pada hatiku.’ Sebab, yang seperti ini adalah bentuk kemunafikan.

Akan tetapi, yang dimaksud dengan siasat adalah aku melakukan (agama) sesuai kemampuanku….

Apabila seorang mukmin berada di antara orang-orang kafir dan jahat, tidak bisa menjihadi mereka dengan tangan karena tidak mampu, jika mampu ia lakukan dengan lisannya; apabila tidak mampu, dengan hatinya. Namun, dia tidak melakukan kedustaan dan mengatakan dengan lisannya apa-apa yang tidak ada pada hatinya.

Adakalanya seorang mukmin yang tinggal di tengah-tengah mereka menampakkan agamanya, adakalanya menyembunyikannya, namun bersamaan dengan itu ia tidak mencocoki agama orang-orang kafir….

Adapun orang Rafidhah tidaklah bergaul dengan seorang pun kecuali menggunakan cara-cara kemunafikan. Sebab, agama yang ada pada hatinya adalah agama rusak yang mendorongnya untuk berdusta, berkhianat, menipu manusia, dan menghendaki kejelekan kepada manusia.” (Minhajus Sunnah 6/421—425)

 

Rafidhah Berkolaborasi dengan Orang-Orang Kafir

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Minhajus Sunnah (1/20) tentang mereka, ‘Sesungguhnya, mereka adalah para pengekor hawa nafsu yang paling bodoh dan zalim. Mereka memusuhi waliwali Allah ‘azza wa jalla yang terbaik setelah para nabi, dari orang-orang yang pertama-tama masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta yang mengikuti mereka dengan baik yang Allah ‘azza wa jalla ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada Allah ‘azza wa jalla. Mereka (Rafidhah) loyal kepada orang-orang kafir dan munafik dari Yahudi, Nasrani, dan musyrikin, serta segenap orang-orang atheis seperti kelompok Nushairiyah, Isma’iliyah, dan orang-orang sesat selain mereka.” (al-Watsaiq at-Ta’amuriyyah hlm. 133)

Husain bin Ali Hasyimi mengatakan, “Kerjasama militer antara Israel dan Iran terus berlanjut dan tidak terputus.”

Menteri Luar Negeri Israel (negeri Yahudi) di masa pemerintahan Netayahu, David Levi, mengatakan, “Sesungguhnya Israel tidak pernah mengatakan pada suatu hari bahwa Iran (negeri Syiah) adalah musuh.”

Mantan Perdana Menteri Yahudi, Ariel Sharon, mengatakan, “Aku tidak memandang bahwa Syiah adalah musuh Israel lebih lanjut.” (al-Watsaiq at-Ta’amuriyyah hlm. 134)

Dari sini, jelas bahwa apa yang sering diberitakan di beberapa media bahwa negeri Syiah akan menyerang Israel hanyalah sandiwara politik guna menarik simpati dunia Islam kepada negeri Syiah, Iran.

 

Orang-Orang Rafidhah (Syiah) di Mata Ulama

Al-Imam Malik rahimahullah mengatakan, “Jangan ajak bicara mereka dan jangan ambil riwayat dari mereka. Sebab, mereka biasa berdusta.”

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Belum pernah aku melihat seorang lebih berani bersaksi palsu daripada orang Rafidhah.”

Yazid bin Harun rahimahullah berkata, “(Riwayat) ditulis dari setiap ahli bidah—apabila ia bukan penyeru kebid’ahan—selain orang-orang Rafidhah, karena mereka biasa berdusta.” (al-Muntaqa min Minhajil I’tidal, adz-Dzahabi hlm. 23)

Setelah pemaparan di atas, bisa jadi ada yang bertanya, mengapa Syiah menjadikan taqiyyah sebagai bagian agama mereka?

Jawabannya, di antara sebabnya adalah bobroknya keyakinan-keyakinan mereka. Mereka sadar, jika manusia sampai mengetahui hakikat agama Syiah, akan membahayakan orang-orang Syiah dan agamanya. Sebab, dalam agama Syiah terdapat kebatilan besar yang tidak bisa diterima oleh syariat yang benar, fitrah, dan akal sehat.

Semoga Allah ‘azza wa jalla melindungi kita dari makar-makar jahat mereka. Wallahu a’lam.


[1] Yang dimaksud “lawan-lawan Ali” oleh al-Kisysyi ini sebenarnya adalah teman-teman Ali radhiallahu ‘anhu, yaitu para sahabat Nabi g.

[2] Bahkan, terkadang mereka bertaqiyah dengan sesama mereka sendiri. (-ed.)

Sumber: http://asysyariah.com/dusta-prinsip-agama-rafidhah-syiah/

Pendekatan Sunni Syiah di Indonesia

Penulis : Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf

Salah satu bentuk gencarnya Syiah mengampanyekan pahamnya sekaligus usaha mereka melegalisasi keyakinannya adalah melalui seruan Taqrib Baina Sunni wa Syi’i (Pendekatan Antara Sunni dan Syi’ah). Sebenarnya gagasan ini adalah misi lama dari Khomeini, dan setelah dua puluh tahun meninggalnya, pendekatan antara Sunni-Syiah terus berjalan.

Sebelumnya, di Mesir upaya taqrib ini telah digagas. Sebuah lembaga yang bernama “Dar al-Taqrib bayna al-Madzahib al-Islamiyah”, didirikan oleh Mahmud Syaltut, Wakil Rektor Universitas al-Azhar pada 1957 M. Lembaga ini adalah sebuah institusi yang berusaha mewujudkan pendekatan dan persaudaraan serta menghilangkan perselisihan dan perpecahan yang ada antara Ahlus Sunnah dan Syiah. Lembaga ini juga memiliki misi memperkuat hubungan antara mazhab-mazhab Islam; sebuah pusat pergerakan yang pada akhirnya menjadi dasar pikiran berdirinya “Majma-e Jahoni-e Taghrib-e Mazaheb-e Islami” (Forum Internal Pendekatan Mazhab-Mazhab Islam) di Iran. Selain Mahmud Syaltut, Muhammad Mustafa Maraghi, Ayatullah Burujerdi, Hasan al-Banna juga menjadi penggagas ide pendekatan antara Sunni-Syiah.

Senin, 5 Nopember 2012, Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar bekerjasama dengan Kedutaan Besar Republik Iran, mengadakan seminar internasional dengan tema “Persatuan Umat Islam Dunia (International Seminar of Islamic World Unity)” di Auditorium Al-Jibra Kampus II UMI.

Yang menjadi narasumber pada seminar tersebut adalah pihak pemerintah diwakili oleh Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA; Nahdatul Ulama (NU) diwakili oleh mantan ketuanya selama dua periode, Dr. K.H. Hasyim Muzadi; Muhammadiyyah diwakili oleh Ketua Umum Muhammadiyyah saat ini, Dr. Din Syamsuddin; Majelis Ulama Pusat, diwakili oleh sang motor penggerak persaudaraan Sunni-Syiah, Prof. Dr. Umar Shihab, MA; pihak Syiah sendiri diwakili oleh Sekjen Majma’ Taqrib Bayna Madzahib, Muhammad Ali Taskhiri, Maulawi Ishak Madani, dan Dr. Mazaheri. Seminar tersebut juga dihadiri oleh Dubes Iran untuk Indonesia, Mahmoud Farazandeh. Tampil pula Prof. Dr. Ghalib MA, Wakil Koordinator Kopertis Wilayah VIII.

Nama-nama yang tercantum di atas secara umum menyerukan persatuan sebagaimana tema seminar itu sendiri. Dubes Iran dalam sambutannya mengajak para peserta untuk bercermin pada ritual haji. Para hujjaj mengenakan baju dengan warna yang sama, shalat di mesjid yang sama, menghadap pada kiblat yang sama, serta bersama-sama berthawaf di sekeliling Ka’bah. Inilah contoh konkret bahwa pada dasarnya umat Islam itu memiliki kesamaan yang sangat esensial.[1]

Adapun Wamenag RI, Nasaruddin Umar, mengutip sebuah perkataan, “Orang yang sering menyalahkan orang lain adalah orang yang sedang belajar, tetapi orang yang tidak mau menyalahkan orang lain adalah orang yang telah khatam belajar.”

Adapun Prof. Din Syamsuddin, memandang pentingnya persatuan Sunni-Syiah, karena umat Islam saat ini berada dalam kubang keterbelakangan, hanya sibuk menyalahkan antara satu dan yang lain, serta mengklaim hanya dirinyalah yang benar lalu tidak mau menerima kebenaran orang lain. Orang-orang seperti ini, menurut Ketua Muhammadiyyah ini, nanti akan menjadi orang kecele di surga.[2]

Pada Konferensi Islam Sedunia yang berlangsung pada 4—6 Mei 2008 lalu di Teheran, yang dihadiri sekitar 400 orang dari berbagai belahan dunia, Din Syamsuddin yang berbicara pada sesi pertama bersama enam tokoh lainnya, menegaskan bahwa antara Sunni dan Syiah ada perbedaan tetapi hanya pada wilayah cabang (furu’iyat), tidak pada wilayah dasar agama (akidah). Keduanya berpegang pada akidah Islamiah yang sama, walau ada perbedaan derajat penghormatan terhadap Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Oleh karena itu, lanjutnya, kedua kelompok harus terus melakukan dialog dan pendekatan. Seandainya tidak dicapai titik temu, perlu dikembangkan sikap tasamuh atau toleransi.

Tokoh lain yang tidak boleh dilupakan, yang begitu semangat menyuarakan pendekatan Sunni-Syiah, adalah Quraish Shihab. Dalam bukunya yang berjudul Sunni-Syiah Bergandengan Tangan, Mungkinkah?, ia mengatakan, “Kesamaan-kesamaan yang terdapat pada dua mazhab ini berlipat ganda dibandingkan dengan perbedaan-perbedaan dan sebab-sebabnya. Perbedaan antara kedua mazhab, di mana pun ditemukan adalah perbedaan cara pandang dan penafsiran, bukan perbedaan dalam hal ushul (prinsip-prinsip dasar keimanan), tidak juga dalam rukun-rukun Islam[3].” (cet. 1 hlm. 265)

Sesuatu yang tidak diragukan lagi bahwa Islam telah merumuskan jalan kepada umatnya untuk membangun persatuan dan kesatuannya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (Ali Imran: 103)

Ayat ini adalah perintah untuk berpegang teguh kepada tali Allah subhanahu wa ta’ala, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah, serta bersatu di atas petunjuk Allah subhanahu wa ta’ala. Tidaklah terjadi perpecahan dan perbedaan melainkan karena jauh dari pemahaman atau keyakinan ini.

Bahkan, Allah subhanahu wa ta’ala telah menjelaskan bahwa al-Qur’an dan as-Sunnah harus dijadikan sandaran oleh umat Islam ketika terjadi perselisihan dan perbedaan cara pandang atau penafsiran. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan/ulama) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Hal itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (an-Nisa: 59)

Akan tetapi, metode ini tentu hanya akan berlaku bagi penganut Islam yang sesungguhnya, yang berjalan di atas petunjuk Allah subhanahu wa ta’ala.

Adapun orang yang mengaku beragama Islam padahal sejatinya musuh Islam, maka wajib dibongkar keadaannya, agar umat Islam tahu tentang permusuhannya terhadap Islam, dan tidak ada celah baginya untuk menempuh metode ini.

Sunni atau Sunnah dan Syiah atau tepatnya Rafidhah, adalah dua kutub yang berlawanan, dua kelompok yang berbeda dan dua ideologi yang bertentangan. Antara keduanya tidak akan ada titik temu.

Mazhab Ahlus Sunnah berdiri di atas keyakinan mengutamakan para sahabat secara umum, dan mengutamakan sahabat Abu Bakr dan Umar atas seluruh umat, serta meyakini bahwa khalifah setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Abu Bakr.

Begitupun dalam soal tauhid, mazhab mereka adalah beribadah hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala saja tidak ada sekutu bagi-Nya, dan tidak ada yang maksum (terjaga dari kesalahan) selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada yang maksum dari umat ini selain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adapun Rafidhah, mazhabnya berdiri di atas kebencian kepada para sahabat, bahkan memvonis mereka semua sebagai orang fasik dan kafir, kecuali beberapa orang saja.

Maka dari itu, seruan pendekatan antara Sunni-Syiah, atau Sunnah dan Rafidhah, menyerupai seruan pendekatan antara Nasrani dan Islam. Sudah pasti, kekafiran dan keislaman adalah dua hal yang berlawanan, tidak akan bersama. Demikian pula halnya antara sunnah dan bid’ah.

Kelompok Rafidhah adalah kelompok yang paling jelek di tengah-tengah umat ini. Di samping prinsip-prinsip dasarnya adalah kekufuran, kelompok ini juga diwarnai oleh prinsip-prinsip dasar Mu’tazilah dan Tasawuf, yaitu praktik syirik di kuburan. Kelompok Rafidhah dibangun di atas dasar keyakinan ekstrem kepada ulama dan imam-imamnya. Mereka membangun kubah di atas kuburan-kuburannya dan melakukan ritual haji ke kuburan-kuburannya, persis seperti ritual haji ke Baitullah al-Haram.

Maka dari itu, yang menyuarakan pendekatan antara Sunnah dan Syiah, boleh jadi tidak mengetahui hakikat kedua mazhab itu, atau berpura-pura tidak tahu dan bodoh. Umumnya, orang yang menyuarakan pendekatan Sunni-Syiah itu membuat pengaburan, penipuan, dan pembodohan. Apabila ada dari kalangan Sunni yang melakukannya, mereka adalah orang-orang yang tertipu. Ia mengira bahwa perselisihan dan perbedaan antara Sunnah dan Syiah layaknya perbedaan antara mazhab-mazhab fikih, seperti Hambali, Syafi’i, Maliki, dan Hanafi.

Asy-Syaikh al-Allamah Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah berkata, “Pendekatan antara Rafidhah dan Ahlus Sunnah adalah hal yang tidak mungkin karena akidah yang berbeda. Akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala dan mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah subhanahu wa ta’ala, tidak ada sesuatu pun yang diibadahi bersama Allah subhanahu wa ta’ala, baik malaikat yang terdekat maupun nabi yang diutus, dan meyakini bahwa hanya Allah subhanahu wa ta’ala yang mengetahui perkara gaib.

Termasuk akidah Ahlus Sunnah adalah mencintai para sahabat g, dan meyakini bahwa mereka makhluk yang paling baik setelah para nabi, dan yang paling baik di antara mereka adalah Abu Bakr ash-Shiddiq, kemudian Umar, kemudian Utsman, kemudian Ali g.  Adapun Rafidhah, menyelisihi semua itu. Jadi, tidak mungkin menyatukan keduanya. Sebagaimana tidak mungkin menyatukan antara Yahudi dan Nasrani, musyrikin dan Ahlus Sunnah, maka demikian pula tidak mungkin adanya pendekatan antara Rafidhah dan Ahlus Sunnah, karena perbedaan akidah seperti yang telah dijelaskan di atas.” (Majmu’ul Fatawa Ibnu Baz)


[1] Sesungguhnya, prinsip yang benar dalam menilai antara sesuatu dan yang lain bukan melihat dari sisi kesamaannya. Jika demikian, antara Islam dan Yahudi pun ada kesamaan. Akan tetapi, kita justru melihat kepada perbedaan-perbedaan yang mendasar. Dan antara Sunnah dan Syiah terdapat perbedaan mendasar yang sangat banyak,. Rukun Islam dan dan rukun iman pun sudah berbeda. (-ed.)

[2] Prinsip mengkritik sesuatu yang keliru adalah prinsip yang benar menurut agama dan akal sehat, dan ini disepakati oleh semua orang yang berakal. Sebab, tanpa kritik ini, semua yang salah bisa dianggap benar.

Pernyataan di atas sangat berbahaya dalam bidang apapun, terlebih lagi dalam hal agama. (-ed.)

[3] Ucapan ini jelas keliru. Sebab, rukun-rukun Islam menurut Syiah berbeda dengan rukun-rukun Islam menurut kaum muslimin yang lain. LIhat Rubrik Kajian Utama, Asy Syariah edisi 092, “Syiah dan Imamah”. (-ed.)

Sumber: http://asysyariah.com/pendekatan-sunni-syiah-di-indonesia/

BOLEHKAH MENGUCAPKAN KATA “ALMARHUM” UNTUK ORANG YANG TELAH MENINGGAL DUNIA

BOLEHKAH MENGUCAPKAN KATA “ALMARHUM” UNTUK ORANG YANG TELAH MENINGGAL DUNIA?

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah

Pertanyaan: Apakah dibenarkan mengucapkan kata “almarhum” bagi orang-orang yang telah meninggal, misalnya dengan kita mengatakan, “Almarhum si fulan?”

Jawaban: Jika seseorang berkata ketika sedang menceritakan orang yang telah meninggal, “Almarhum (yang dirahmati)”, atau “Almaghfur lahu (yang diampuni)”, dan semisalnya, jika dia mengucapkannya sebagai bentuk pemberitahuan, maka hal itu tidak boleh, karena dia tidak tahu apakah orang yang meninggal tersebut mendapatkan rahmat atau tidak?

Sesuatu yang tidak diketahui maka tidak boleh bagi seseorang untuk memastikannya, dan juga karena ucapan semacam ini merupakan persaksian bahwa dia mendapatkan rahmat atau ampunan tanpa didasarkan ilmu, sedangkan persaksian tanpa didasarkan ilmu diharamkan.

Adapun jika seseorang mengucapkannya sebagai bentuk doa dan harapan semoga Allah Ta’ala mengampuni dan merahmatinya, maka hal itu tidak masalah dan tidak berdosa. Dan tidak ada bedanya dengan engkau mengatakan, “Almarhum” atau “Fulan rahimahullah” karena dua kalimat ini bisa digunakan untuk mengungkapkan pemberitahuan dan bisa juga untuk mengungkapkan doa, sehingga hal itu sesuai dengan niat orang yang mengucapkannya.

Dan tidak diragukan lagi bahwa orang-orang yang mengucapkan, “Fulan dirahmati” atau “Fulan diampuni” mereka tidak memaksudkan dengan ucapan tersebut sebagai kabar atau persaksian bahwa si fulan diberi rahmat dan ampunan, tetapi mereka hanyalah memaksudkan sebagai bentuk harapan, optimis, dan doa. Oleh karena inilah maka ucapan semacam ini tidak berdosa dan tidak mengapa.

***

? Fatawaa Nuurun Alad Darb, jilid 1 hlm. 666-667

Sumber: http://forumsalafy.net/bolehkah-mengucapkan-kata-almarhum-untuk-orang-yang-telah-meninggal-dunia/

BOLEHKAH JUAL BELI DARAH?

BOLEHKAH JUAL BELI DARAH?

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah

Pertanyaan: Termasuk perkara yang diketahui adalah haramnya menjual darah, lalu apa hukum membeli darah orang lain di rumah sakit untuk pengobatan?

Jawaban: Jika sesuatu haram dijual maka juga haram dibeli, karena penjualan tidak akan terjadi tanpa ada pembelian, jadi tidak boleh membeli darah sebagaimana tidak boleh menjualnya. Namun jika seseorang terpaksa membutuhkan darah, maka boleh baginya untuk membeli jika pemiliknya tidak mau menyumbangkannya.

***

Sumber: Majmu’ul Fatawa, jilid 28 hlm. 108

Sumber: http://forumsalafy.net/bolehkah-jual-beli-darah/

BOLEHKAH MENGGUNAKAN KARTU KREDIT

BOLEHKAH MENGGUNAKAN KARTU KREDIT

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah

Pertanyaan: Sebagian bank ada yang menerbitkan kartu-kartu seperti kartu visa, sebagai ganti bagi seseorang yang bertransaksi dengan tempat-tempat usaha (barang atau jasa) menggunakan uang cash cukup dengan menunjukkan kartu ini dan dia bisa mengambil barang yang dia inginkan, kemudian dia membayar jumlah yang harus dia bayar dari bank yang bekerja sama dengan nasabah, hanya saja disyaratkan pada perjanjian antara nasabah dan pihak bank di awal bahwa jika pelunasan pinjaman tersebut terlambat dari waktu yang telah ditetapkan, ada biaya-biaya yang harus dibayar.

Jawaban: Masalahnya adalah seseorang mengambil sebuah kartu dari bank, dan jika dia membeli berbagai kebutuhannya maka dia cukup menunjukkan kartu tersebut kepada penjual, dan pihak bank yang akan membayarkannya terlebih dahulu, namun jika dia melunasi ke pihak bank pada waktu yang ditentukan maka dia tidak membayar selain yang dia pinjam tadi, sedangkan jika terlambat maka harus membayar biaya tambahan (denda).

Saya katakan: Sesungguhnya yang seperti ini haram hukumnya, karena semata-mata komitmen seseorang untuk menerima transaksi dengan riba hukumnya haram, sama saja apakah terjadi riba atau tidak.

Jika seseorang ada yang mengatakan, “Saya bertekad kuat dari dalam hati saya bahwa saya akan membayar sebelum jatuh tempo.”

Maka kita katakan: Ya, engkau memang bertekad untuk membayarnya sebelum jatuh tempo, namun apakah engkau bisa memastikan? Bisa saja hartamu hilang, atau dicuri, atau engkau meninggal terlebih dahulu. Jadi engkau tidak bisa memastikannya.

Allah Ta’ala berfirman:

ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻘُﻮﻟَﻦَّ ﻟِﺸَﻲْﺀٍ ﺇِﻧِّﻲ ﻓَﺎﻋِﻞٌ ﺫَﻟِﻚَ ﻏَﺪﺍً. ﺇِﻟَّﺎ ﺃَﻥ ﻳَﺸَﺎﺀَ ﺍﻟﻠَّﻪُ.

“Dan janganlah sekali-kali engkau mengatakan, “Aku pasti akan melakukan hal itu besok.” Kecuali dengan mengatakan “Insya Allah.” (QS. Al-Kahfi: 23-24)

Kemudian, sesungguhnya semata-mata komitmenmu bahwa jika telah jatuh tempo sebelum engkau membayar pinjaman bank maka engkau siap menerima untuk ditambahkan kepadamu biaya lainnya, maka sesungguhnya komitmen semacam ini adalah komitmen untuk melakukan transaksi riba, dan sudah jelas bahwa komitmen untuk melakukan transaksi riba hukumnya haram.

Oleh karena itulah maka kami menilai bahwa kartu semacam ini hukumnya haram, dan tidak boleh bagi seseorang untuk bertransaksi menggunakannya.

Tetapi jika seseorang memiliki saldo rekening di bank dan pihak penjual mau menukar ke bank maka silahkan, perkaranya mudah hanya dengan seseorang membawa cek kosong, lalu dia menuliskan jumlahnya untuk pihak penjual.

***

Sumber: Majmu’ul Fatawa, jilid 29 hlm. 127-128

Sumber: http://forumsalafy.net/bolehkah-menggunakan-kartu-kredit/

HUKUM KENCING SAMBIL BERDIRI

HUKUM KENCING SAMBIL BERDIRI

Asy-Syaikh Al-Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullah

Pertanyaan: Apakah boleh seseorang kencing sambil berdiri, dalam keadaan badan dan pakaiannya tidak terkena (najis) sedikitpun?

Jawaban: Tidak mengapa kencing sambil berdiri,  lebih-lebih tatkala ada hajat untuk itu. Apabila tempatnya tertutup tidak ada seorangpun yang melihat aurat orang yang kencing tadi, dan tidak mengenainya cipratan air kencingnya.

Berdasarkan riwayat yang tsabit dari Hudzaifah radhiyallahu anhu:

أن النبي صلى الله عليه وسلم أتى سباطة قوم فبال قائما

“Sesungguhnya Nabi ﷺ pernah mendatangi tempat sampah suatu kaum,  lalu beliau kencing sambil berdiri.” (Muttafaq alaih)

Akan tetapi yang lebih utama kencing sambil duduk,  karena ini adalah kebanyakan perbuatan Nabi ﷺ, hal ini lebih menutup aurat dan lebih selamat dari terkena cipratan air kencingnya.

***

Sumber : http://www.binbaz.org.sa/fatawa/322

Sumber: http://forumsalafy.net/hukum-kencing-sambil-berdiri/

HUKUM HAJI BADAL

HUKUM HAJI BADAL

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hady al-Madkhaly hafizhahullah

Pertanyaan: Apakah hukum haji badal untuk menggantikan orang lain?

Jawaban: Padanya terdapat sedikit perbedaan pendapat, di sana ada perkara yang disepakati oleh para ulama dan ada yang mereka perselisihkan. Perkara yang disepakati adalah bahwa seseorang boleh menghajikan kerabatnya.

Karena pertanyaan-pertanyaan (yang diajukan kepada Rasulullah) semuanya datang, yaitu: “Ayahku meninggal dalam keadaan belum berhaji.” “Ibuku meninggal dalam keadaan belum berhaji.” “Ayahku terkena kewajiban haji, namun beliau telah tua renta.” dan seterusnya. Yaitu pertanyaan-pertanyaan tentang ayah dan ibu.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu alaihi was sallam mendengar seseorang mengatakan, “Labbaik ’an Syubrumah.” Maka beliau bertanya, “Siapa Syubrumah?” Dia menjawab, “Saudaraku atau kerabatku.” Lalu beliau bertanya, “Apakah engkau telah berhaji untuk dirimu sendiri?” Dia menjawab, “Belum.” Maka beliau bersabda:

حُجَّ عن نَفْسِكَ ثُمَّ حُجَّ عن شُبْرُمَةَ.

“Berhajilah untuk dirimu sendiri terlebih dahulu, kemudian berhajilah (tahun berikutnya) untuk Syubrumah!” (HR. Abu Dawud dan selainnya, lihat; Irwaul Ghalil no. 994 dan ash-Shahih al-Musnad no. 629 -pent)

Sebagian ulama membatasi pihak yang berhak menggantikan haji hanya bagi kerabat dan melarang untuk mengupah orang lain. Dan upah ini telah menjadi perdagangan pada banyak orang.

Ada orang yang datang berdusta dan mengambil tujuh atau delapan kali haji. Yaitu dengan tujuan untuk menghajikan si fulan, dan dia mengambil upah dari orang ini dan itu, padahal tidak diketahui apakah dia benar-benar menghajikan untuk seseorang ataukah tidak?! Sehingga dalam masalah ini terjadi sedikit perkara yang meluas.

Syaikhul Islam dalam masalah ini memiliki pendapat yang bagus, beliau mengatakan:

إن كان هذا الذي يأخذ المال عنده رغبة في الحج لكن ليس عنده مال، فله أن يأخذ هذا المال يستعين به على تحقيق قصده وغايته وينفع نفسه وينفع أخاه، وإن كان قصده المال؛ ليس همه إلا أن يأخذ المال وليس همه أن يحج فهذا من أكل أموال الناس بالباطل.

“Jika orang yang mengambil upah tersebut dia memiliki keinginan untuk berhaji lagi tetapi dia tidak memiliki uang, maka boleh baginya untuk mengambil uang tersebut untuk membantunya mewujudkan niat dan tujuannya serta memberi manfaat untuk dirinya sendiri dan saudaranya. Tetapi jika tujuannya hanya untuk mendapatkan harta, tidak ada keinginannya selain mengambil upah dan tidak memiliki keinginan untuk berhaji, maka ini termasuk memakan harta manusia dengan cara yang bathil.”

***

? Sumber : http://www.rabee.net/ar/questions.php?cat=47&id=787

Sumber: http://forumsalafy.net/hukum-haji-badal/