HANYA ALLAH YANG BERHAK MENSYARIATKAN AGAMA INI

 

 

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah berkata :

Agama ini hanyalah datang dari sisi Allah Maka Dia lah yang berhak menentukan syariat agama ini, subhanahu wa ta’ala. Tidak ada seorang pun yang boleh menentukan syariat dengan membuat sebuah aturan agama yang mana perbuatan seperti ini tidaklah diizinkan oleh Allah. Allah ta’ala berfirman :

أَمۡ لَهُمۡ شُرَكَـٰۤؤُا۟ شَرَعُوا۟ لَهُم مِّنَ ٱلدِّینِ مَا لَمۡ یَأۡذَنۢ بِهِ ٱللَّهُۚ

Apakah mereka mempunyai sesembahan selain Allah yang menetapkan aturan agama bagi mereka yang mana ini tidak diizinkan oleh Allah?

Ithaful Qari bit Ta’liq ‘ala Syarhis Sunnah lil Barbahari (30)

قال الشيخ صالح فوزان الفوزان حفظه الله :

الدين إنما جاء من عند الله، فهو الذي شرع الدين سبحانه، ليس لأحد أن يشرع دينا لم يأذن الله به، قال الله تعالى : ﴿أَمۡ لَهُمۡ شُرَكَـٰۤؤُا۟ شَرَعُوا۟ لَهُم مِّنَ ٱلدِّینِ مَا لَمۡ یَأۡذَنۢ بِهِ ٱللَّهُۚ﴾

إتحاف القاري بالتعليق على شرح السنة للبربهاري (٣٠)

➖➖➖

Sumber:
– Channel Telegram : https://t.me/salafy_cirebon
– Website Salafy Cirebon : www.salafycirebon.com

SATU KEHARAMAN AKAN MENYERET KEPADA YANG LAINNYA, HENTIKAN DENGAN ISTIGHFAR DAN TAUBAT

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah

[PERTANYAAN:]

يُحفظ عن بعض الصالحين عبارة مفادها أن المعصية تقول: (أختي.. أختي، والحسنة تقول: أختي.. أختي)، هل تتفضلون بشرح هذه العبارة، سماحة الشيخ؟

“Dilestarikan dari sebagian ucapan orang shalih yang kandungan faidahnya bahwa:

“Maksiat itu menyeru “Saudaraku, saudaraku (datanglah)!”
Dan kebaikan itu berucap (mengundang), ”Saudaraku, saudaraku!”

Apakah Anda berkenan menerangkan arti ucapan ini wahai Syaikh yang mulia?”

 

[JAWABAN:]

“Ya, telah datang dari sebagian salaf dengan makna ini. Dan ada lafal lainnya:

إن من ثواب الحسنةِ الحسنة بعدها، ومن عقاب السيئةِ السيئة بعدها.

“Sungguh diantara ganjaran dari suatu amalan kebaikan adalah amalan kebaikan yang berikutnya. Dan termasuk hukuman suatu amalan jelek adalah amalan jelek yang selanjutnya”.

Maksudnya :

Bahwa seorang mukmin sepatutnya untuk bersungguh-sungguh dalam melanjutkan amalan kebaikan dan amalan shalih dan benar-benar serius dalam perkara tersebut sehingga menjadi kebiasaan untuknya.

Dan jika terjatuh dalam suatu kejelekan maka hati-hatilah untuk ia menyambungnya dengan kejelekan lainnya. Hendaknya ia bertaubat dan bersegeralah bertaubat sehingga tidak muncul amalan jelek lainnya dan yang ketiga dst. Karena syaithan sungguh akan menyeretnya kepada kejelekan. Dan apabila ia telah terjatuh dalam suatu kejelekan, ia akan menariknya kepada amalan jelek lainnya.

Adapun malaikat, ia akan mendorongnya kepada amalan kebaikan. Apabila ia melakukan suatu kebaikan maka malaikat akan mendiktenya kepada kebaikan lainnya.

Sehingga ia -dalam kondisi ini- bersungguh-sungguh dalam melanjutkan amalan-amalan kebaikan dan memperbanyak dari berdzikir kepada Allah serta berhati-hati dari hal-hal yang menyibukkan (dari mengingat Allah) dan perbuatan-perbuatan jelek. Saat ia telah melakukan suatu kejelekan maka ia berhati-hatilah dan bertaubatlah serta awas dari melanjutkannya dengan kejelekan yang lainnya.”

Pembaca acara: “Semoga Allah membalas kebaikan dan berbuat baik kepada Anda.”

Alih Bahasa:
Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafizhahullah

Sumber:
– http://bit.ly/2V188FI

••••
@ForumBerbagiFaidah [FBF]
www.alfawaaid.net
www.ilmusyari.com

Diantara Tanda Kebahagiaan dan Tanda Kesengsaraan, Yang Manakah Kita?

Al-Imam al-Ajurri rahimahullah meriwayatkan, bahwa Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

إن الله لما خلق آدم عليه السلام مسح ظهره فأخرج منه ما هو ذراري إلى يوم القيامة ، فخلق الذكر والأنثى ، والشقاوة والسعادة ، والأرزاق والآجال والألوان ، فمن علم السعادة : فعل الخير، ومجالس الخير، ومن علم الشقاوة : فعل الشر ومجالس الشر.

“Sesungguhnya ketika Allah menciptakan Adam ‘alaihissalam, Dia mengusap punggungnya lalu mengeluarkan darinya keturunan-keturunannya hingga hari kiamat. Allah ciptakan laki-laki dan perempuan, kesengsaraan dan kebahagiaan, rezeki-rezeki, ajal, dan rupa-rupa warna makhluk-Nya.

Di antara tanda kebahagiaan adalah: BERAMAL KEBAIKAN DAN BERMAJELIS (BERGAUL) DENGAN YANG BAIK

Dan di antara tanda kesengsaraan adalah: BERBUAT KEJELEKAN DAN BERMAJELIS (BERGAUL) DENGAN YANG JELEK.”

Sumber:

 

 

 

Nasehat Asy-Syaikh Shalih Fauzan Menyambut Datangnya Bulan Ramadhan

Asy-Syaikh Shalih Fauzan bin Abdillah al-Fauzan hafizhahullah:

Pertanyaan:

ما نصيحتكم للمسلمين بمناسبة اقتراب شهر رمضان؟

Apa nasehat anda kepada kaum muslimin terkait telah dekatnya bulan Ramadhan?

Jawaban:

الواجب على المسلم يسأل الله أن يبلغه رمضان وأن يعينه على صيامه وقيامه، والعمل فيه، لأنه فرصة في حياة المسلم:

Wajib bagi kaum muslimin untuk memohon kepada Allah agar dia bisa sampai kebulan Ramadhan, dan diberi kemampuan untuk berpuasa serta melaksanakan shalat tarawih padanya, dan juga bisa beramal saleh pada bulan Ramadhan. Dikarenakan bulan tersebut merupakan kesempatan besar dikehidupan seorang muslim.

“مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ”

“Barang siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dikarenakan keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosanya yang terdahulu.” (H.R al-Bukhari)

”مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ”

”Barang siapa yang shalat malam pada bulan Ramadhan dikarenakan keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosanya yang terdahulu.“ (H.R al-Bukhari)

فهوفرصة في حياة المسلم قد لا يعود عليه مرة ثانية

Maka ini merupakan kesempatan besar bagi setiap muslim -untuk beramal- yang mungkin saja dia tidak bisa mendapatkan kesempatan kedua setelahnya.

فالمسلم يفرح بقدوم رمضان ويستبشر به، ويستقبله بالفرح والسرور، ويستغله في طاعة الله ليله قيام، ونهاره صيام وتلاوة للقرآن والذكر فهو مغنم للمسلم

Maka seorang muslim hendaknya bergembira dan merasa senang dengan datangnya bulan Ramadhan, menyambutnya dengan penuh kegembiraan, menggunakan kesempatan pada bulan tersebut untuk memperbanyak ketaatan. Shalat dimalam hari dan pada siang harinya berpuasa, membaca Al-qur’an dan berdzikir, yang mana ini semua merupakan ghanimah bagi setiap muslim.

أما الذين إذا أقبل رمضان يعدون البرامج الفاسدة والملهية والمسلسلات والخزعبلات والمسابقات ليشغلوا المسلمين فهؤلاء جند الشيطان،

Adapun orang-orang yang menyambut bulan Ramadhan dengan mempersiapkan berbagai kegiatan-kegiatan yang negatif, seperti acara musik, acara drama yang bersambung, acara -acara lawakan atau perlombaan kuis, yang semua ini melalaikan kaum muslimin -dari ibadah-, maka mereka ini adalah bala tentara setan.

فعلى المسلم أن يحذر من هؤلاء ويحذر منهم،

Maka wajib bagi setiap muslim untuk berhati-hati dari mereka, dan mentahzir mereka.

رمضان ما هو وقت لهو ولعب ومسلسلات وجوائز ومسابقات وضياع للوقت.

Bulan Ramadhan bukanlah waktu untuk bermain-main atau perkara sia-sia seperti kuis-kuis dan semisalnya yang semua ini menyia-nyiakan waktu.

 

 

Sumber:
– web: forumsalafy.net
Telegram

Majmu’ah Hikmah Salafiyyah

Audio Tanya Jawab: Kenapa Doa Belum Dikabulkan

KENAPA DO’A SAYA TIDAK JUGA DIKABULKAN PADAHAL SAYA SUDAH BERDOA SETIAP WAKTU?

Disampaikan Oleh:
Al-Ustadz Muhammad Umar As-Sewed -hafizhahullah-

Sesi Tanya Jawab Kajian Kitab Adda`u Wad dawaa (Akibat Buruk Dosa dan Kemaksiatan)

Jum’at 20 Sya’ban 1440 H/ 26 April 2019 M di Masjid Ma’had Riyadhul Jannah Cileungsi Bogor

(1,3 MB) – Durasi [00:05:04]

Faidah lain:

– Tentang membaca sholawat ketika berdo’a

– Ketika kita sedang berdo’a lalu dikumandangkan adzan: mana yang utama didahulukan?

– Hukum berdo’a dengan bahasa Arab ketika sholat (ketika sujud, tasyahud akhir, dll)

 

 

Sumber:
t.me/ForumBerbagiFaidah
www.alfawaaid.net
www.ilmusyari.com

Diantara Hikmah Amalan Puasa

    

Asy-Syaikh Abdullah Al-Bassam rahimahullah berkata :

Puasa memiliki banyak hikmah dan rahasia yang agung, di antaranya :

1. PERTAMA :
Puasa termasuk ketaatan yang paling besar. Ia merupakan amalan tersembunyi antara seorang hamba dan Rabb-nya. Puasa adalah puncak di dalam masalah penunaian amanah.

2. KEDUA :
Puasa adalah berhias diri dengan keutamaan sifat sabar. Maka, sungguh puasa telah mengumpulkan tiga macam bentuk kesabaran, yaitu sabar menunaikan ketaatan kepada Allah, sabar meninggalkan maksiat kepada Allah, dan sabar menghadapi takdir-takdir Allah yang menyakitkan.

3. KETIGA :
Latihan untuk menghadapi kekurangan dan rasa lapar. Puasa mengingatkan seorang hamba akan nikmat-nikmat Allah yang terus mengalir. Sehingga ia mengingat saudaranya dari kalangan fakir miskin yang menderita kesusahan sepanjang waktu.

4. KEEMPAT :
Manfaat kesehatan, yakni puasa akan mengistirahatkan dan melapangkan sistem pencernaan, guna memberikan jeda waktu untuk beristirahat dari proses pencernaan.

Sehingga dihasilkan rasa nyaman dan rileks, serta mengembalikan semangat dan kekuatannya.

Selesai.

Taudhihul Ahkam min Bulughil Maram (3/439)

 

Sumber:
– Channel Telegram: https://t.me/salafy_cirebon
– Website: www.salafycirebon.com

TIGA JENIS KANDUNGAN HATI

Al-Imam Ibnul Qayyim –semoga Allah merahmatinya – berkata:

 

“Hati itu ada tiga:

1. Hati yang kosong dari iman dan segala kebaikan.

Itulah hati yang gelap yang syaithan benar-benar telah beristirahat dari melontarkan waswas kepadanya.

Sebab, ia(syaithan) telah menjadikannya rumah dan negerinya, ia menghukumi di dalamnya sesuai apa yang ia inginkan, dan ia telah menguasainya di puncak penguasaan.

 

2. Hati yang kedua: Hati yang telah bersinar dengan cahaya iman, menyalakan lentera-lentera iman di dalamnya. NAMUN, ada kegelapan syahwat dan hembusan-hembusan hawa nafsu padanya.

Maka, syaithan datang dan pergi di sana, mencoba dan tamak (untuk menguasainya).

Sehingga, peperangan di situ silih berganti, menang dan kalah.

Dan keadaan jenis ini berbeda-beda dalam sedikit dan banyaknya (kekalahan dan kemenangan).

– Diantara mereka ada yang waktu kemenangan atas musuhnya (syaithan) lebih banyak.

– Dan ada yang waktu kemenangan musuhnya atasnya lebih banyak.

– Adapula yang kadang ini dan kadang itu(seimbang).

 

3. Hati yang ketiga: Hati yang dipenuhi iman, benar-benar telah bersinar dengan cahaya iman, terlepas syahwat darinya, dan tercabut kegelapan-kegelapan tersebut.

Maka, cahaya di hatinya telah terbit bersinar. Dengan sebab terbitnya itu, ia menyala. Seandainya rasa waswas mendekatinya, ia pasti terbakar dengannya.

Sehingga, ia laksana langit yang dijaga dengan bintang-bintang.

Jika syaithan mendekatinya(untuk mencuri berita dari langit) dilemparkan bintang itu kepadanya, hingga ia terbakar.

Padahal langit itu tidak lebih terhormat dari seorang mukmin. Penjagaan Allah kepada orang mukmin lebih sempurna daripada penjagaan langit.

Langit tempat peribadahan para malaikat, tempat menetapnya wahyu, terdapat cahaya ketaatan di dalamnya.

Adapun hati seorang mukmin tempat menetapnya tauhid, rasa cinta, ma’rifah(pengenalan kepada Allah), dan iman. Di dalamnya terdapat cahaya dari itu semua.

Sehingga, ia lebih berhak untuk dijaga dan dilindungi dari tipu daya musuh.

Tidak akan mampu dicapai (syaithan) hati yang demikian itu kecuali dengan tipu daya, kelengahan, dan menyambarnya (saat lalai).”

Al-Waabilush Shayyib, Ibnul Qayyim, hal. 58 – 59.

Alih Bahasa:
Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafizhahullah

 

Sumber: https://t.me/ForumBerbagiFaidah

Allah Memisahkan Yang Baik Dengan Yang Buruk

 

untuk-urusan-perut-1

Ditulis oleh: Al Ustadz Idral Harits Hafizhahulloh

Bismillah.

Allah Ta’ala berfirman Ali ‘Imran 179 :

مَا كَانَ اللَّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَىٰ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتَّىٰ يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ ۗ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى الْغَيْبِ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَجْتَبِي مِنْ رُسُلِهِ مَنْ يَشَاءُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۚ وَإِنْ تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوا فَلَكُمْ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin). Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala yang besar.”

Syaikh As-Sa’di menerangkan :

Tidaklah ada dalam hikmah Allah, membiarkan kaum mukminin sebagaimana kamu saat ini, yaitu bercampur aduk, tanpa ada perbedaan sama sekali, hingga Allah memisahkan yang baik dari yang buruk, memisahkan mukmin dari munafik, dan yang jujur dari yang dusta.

Karena itu, sesuai dengan hikmah Allah yang nyata, Dia memberi ujian kepada hamba-Nya, dengan berbagai hal yang akan memisahkan yang buruk dari yang baik. Maka Allah utus para Rasul-Nya dan memerintahkan mereka taat dan tunduk serta beriman kepada para Rasul itu. Akhirnya, manusia terbagi menjadi dua golongan, sesuai dengan sikap ittiba’ mereka kepada para Rasul tersebut, yaitu; mereka yang taat dan mereka yang durhaka.

Dan ada di manakah kita? Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyatakan bahwa yang taat kepada beliau akan masuk surga, sedangkan yang enggan masuk surga adalah mereka yang durhaka kepada beliau.

Rasulullah sudah mengingatkan pula agar kita berpegang dengan sunnah beliau dan sunnah khulafaurrasyidin yang terbimbing.

Kemudian, marilah kita camkan firman Allah Ta’ala dalam surat An-Nisa 115 :

ومن يشاقق الرسول من بعد ما تبين لهم الهدى ويتبع غير سبيل المؤمنين نوله ما تولى و نصله جهنم وساءت مصيرا…

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali…”

Orang mukmin yang pertama kali dituju dalam ayat ini adalah para sahabat, adapun jalan mereka di sini meliputi akidah dan amalan mereka. Dan jalan mereka itu sudah jelas, seterang cahaya siang, orang-orang yang menelusurinya juga sudah jelas, bahkan kita tidak dibiarkan meraba-raba jalan tersebut. Karena para pewaris mereka ada di hadapan kita, yaitu para ulama rabbani.

Karena itu alangkah pantas kita ingat kata-kata Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu :

اتبعوا ولا تبتدعوا، قد كفيتم…

“Ikutilah oleh kamu, dan janganlah kamu mengada-adakan bid’ah, sungguh kamu sudah dicukupi…”

Apakah kita belum merasa cukup dengan apa yg membuat para sahabat cukup? Semoga Allah merahmati Imam Malik yang mengatakan :

لن يصلح آخر هذه الأمة إلا بما صلح به أولها…

“Tidaklah akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan apa yang telah membuat baik generasi awalnya…”

Dengan satu ayat mereka disadarkan, saat mereka dilanda duka kehilangan orang yang sangat dicintai, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dengan satu hadits, selesailah keributan di antara mereka dalam menentukan siapa yang akan menggantikan Rasulullah mengurusi kaum muslimin.

Subhanallahi. Kita salafiyyun, di hadapan kita ada ulama rabbani, waliduna al ‘allamah Rabi’ bin Hadi hafizhahullah, beliau selalu mengikuti perkembangan dakwah salafiyah di tanah air sejak hampir seperempat abad. Bahkan beliau sangat memahami hampir semua persoalan yang ada dalam perjalanan dakwah ini, baik yang terkait dengan dakwahnya maupun sebagian pengusungnya. Itulah karunia Allah buat salifiyin.

Beliau telah dan sejak dahulu menyampaikan nasehatnya buat kita salafiyin, terakhir dengan tahdzir tersebut.

Kalaupun diingkari, dan dibantah, sesungguhnya itu adalah nasehat berharga, tidak ingatkah kita dengan kasus Ka’b bin Malik dan dua sahabat utama lainnya? Jelas mereka radhiyallahu ‘anhum bukan munafik, tetapi diboikot selama 50 hari 50 malam, sampai bumi terasa sempit padahal begitu luasnya, bahkan jiwa mereka sesak, dalam keadaan tidak ada selama ini tanda nifak pada diri mereka.

Sementara di hadapan kita, tersebar kenyataan adanya penyimpangan dan pemalsuan bahkan kedustaan sehingga sangat layak untuk dibeberkan?
Manakah yang lebih layak diboikot, dihajr atau dijauhi? Oleh sebab itu, salafiyin hendaklah jujur dalam menilainya, hendaklah kita bertaubat kepada Allah, dengan jujur, karena jujur adalah pilihan orang yang mulia dan merdeka.

Bisa jadi kekeruhan yang kita lihat ini karena dosa yang kita lakukan, maka bersegeralah bertaubat kepada Allah. Lebih-lebih mereka yang ditahdzir.
Keikhlasan adalah kunci semua itu. Siapa yang niatnya ikhlas dalam al-haq, meskipun terhadap dirinya, niscaya Allah cukupi antara dia dan manusia. Siapa yang berhias dengan apa yang tidak ada padanya, Allah tentu membuatnya buruk.

Seorang hamba, jika dia ikhlas karena Allah Ta’ala, tujuan dan cita-citanya adalah mengharapkan wajah Allah semata, niscaya Allah pasti bersamanya. Karena itu, jika seseorang melaksanakan yang haq terhadap orang lain dan dirinya lebih dahulu, dan semua itu dengan pertolongan Allah dan karena Allah, tidak ada yang dapat mengalahkannya, meskipun langit dan bumi bersatu melakukan makar terhadapnya.

Sebaliknya, jika seseorang berada dalam kebatilan, dia tidak akan ditolong, dan seandainya ditolongpun kesudahannya yang baik tidak akan diraihnya. Bahkan dia akan terhina dan tercela.

Semoga nukilan ini bermanfaat.

 

Sumber : Forum Salafy

Kewajiban Taat Kepada Pemerintah Prinsip Islam Yang Semakin Terlupakan

kursi

Oleh: Al-Ustadz Muhammad Umar as-Sewed

Kewajiban taat kepada pemerintah merupakan salah satu prinsip Islam yang agung. Namun di tengah carut-marutnya kehidupan politik di negeri-negeri muslim, prinsip ini menjadi bias dan sering dituding sebagai bagian dari gerakan pro status quo. Padahal, agama yang sempurna ini telah mengatur bagaimana seharusnya sikap seorang muslim terhadap pemerintahnya, baik yang adil maupun yang zalim.

KKN, represivitas penguasa, kedekatan pemerintah dengan Barat (baca: kaum kafir), seringkali menjadi isu yang diangkat sekaligus dijadikan pembenaran untuk melawan pemerintah. Dari yang ‘sekadar’ demonstrasi, hingga yang berujud pemberontakan fisik.

Meski terkadang isu-isu itu benar, namun sesungguhnya syariat yang mulia ini telah mengatur bagaimana seharusnya seorang muslim bersikap kepada pemerintahnya, sehingga diharapkan tidak timbul kerusakan yang jauh lebih besar.

Yang menyedihkan, Islam atau jihad justru yang paling laris dijadikan tameng untuk melegalkan gerakan-gerakan perlawanan ini. Di antara mereka bahkan ada yang menjadikan tegaknya khilafah Islamiyah sebagai harga mati dari tujuan dakwahnya. Mereka pun berangan-angan, seandainya kejayaan Islam di masa khalifah Abu Bakr dan Umar bin al-Khaththab  dapat tegak kembali di masa kini.

Jika diibaratkan, apa yang dilakukan kelompok-kelompok Islam ini seperti “menunggu hujan yang turun, air di bejana ditumpahkan”. Mereka sangat berharap akan tegaknya khilafah Umar bin al-Khaththab , namun kewajiban yang Allah  perintahkan kepada mereka terhadap penguasa yang ada di hadapan mereka, justru dilupakan. Padahal dengan itu, Allah akan mengabulkan harapan mereka dan harapan seluruh kaum muslimin.

 

Wajibnya Taat kepada Penguasa Muslim

Allah telah memerintahkan kepada kaum muslimin untuk taat kepada penguasanya betapa pun jelek dan zalimnya mereka. Tentunya dengan syarat, selama para penguasa tersebut tidak menampakkan kekafiran yang nyata. Allah juga memerintahkan agar kita bersabar menghadapi kezaliman mereka dan tetap berjalan di atas As-Sunnah.

Karena barang siapa yang memisahkan diri dari jamaah dan memberontak kepada penguasanya maka matinya mati jahiliah. Yakni mati dalam keadaan bermaksiat kepada Allah  seperti keadaan orang-orang jahiliah.

1. (Lihat ucapan al-Imam an-Nawawi t dalam Syarah Shahih Muslim)
Dari Ibnu Abbas, dia berkata, Rasulullah bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ فَمِيتَةٌ جَاهِلِيَّةٌ

“Barang siapa melihat sesuatu yang tidak dia sukai dari penguasanya, maka bersabarlah! Karena barang siapa yang memisahkan diri dari jamaah sejengkal saja, maka ia akan mati dalam keadaan mati jahiliah.” (Sahih, HR. al-Bukhari dan Muslim)
Diriwayatkan dari Junadah bin Abu Umayyah, dia berkata, “Kami masuk ke rumah Ubadah bin ash-Shamit ketika beliau dalam keadaan sakit dan kami berkata kepadanya, ‘Sampaikanlah hadits kepada kami—aslahakallah (semoga Allah memperbaiki keadaanmu)—dengan hadits yang kau dengar dari Rasulullah yang dengannya Allah akan memberikan manfaat bagi kami!’ Maka ia pun berkata,

دَعَانَا رَسُوْلُ اللهِ n فَبَايَعَنَاَ، فَكَاَنَ فِيْمَا أَخَذَ عَلَيْنَا أَنْ بَايَعْنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطاَّعَةِ، فِيْ مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا، وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا، وَأَثَرَةٍ عَلَيْنَا، وَأَنْ لاَ نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ، قَالَ: إِلاَّ أَنْ تَرَوْا كُفْرَا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنَ اللهِ فِيْهِ بُرْهَانٌ

“Rasulullah memanggil kami kemudian membai’at kami. Dan di antara bai’atnya adalah agar kami bersumpah setia untuk mendengar dan taat ketika kami semangat ataupun tidak suka, ketika dalam kemudahan ataupun dalam kesusahan, ataupun ketika kami diperlakukan secara tidak adil. Dan hendaklah kami tidak merebut urusan kepemimpinan dari orang yang berhak—beliau berkata—kecuali jika kalian melihat kekufuran yang nyata, yang kalian memiliki bukti di sisi Allah.”

(HR. al-Bukhari dalam Shahih-nya juz 13 hlm.192, cet. Maktabatur Riyadh al-Haditsah, Riyadh. HR. Muslim dalam Shahih-nya, 3/1470, cet. Daru Ihya’ut Turats al-Arabi, Beirut, cet. 1)

 

Wajib Taat Walaupun Jahat dan Zalim
Kewajiban taat kepada pemerintah ini, sebagaimana dijelaskan Rasulullah, adalah terhadap setiap penguasa, meskipun jahat, zalim, atau melakukan banyak kejelekan dan kemaksiatan. Kita tetap bersabar mengharapkan pahala dari Allah dengan memberikan hak mereka, yaitu ketaatan walaupun mereka tidak memberikan hak kita.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud, dia berkata, Rasulullah bersabda:

إِنَّهَا سَتَكُونُ بَعْدِي أَثَرَةٌ وَأُمُورٌ تُنْكِرُونَهَا قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ كَيْفَ تَأْمُرُنَا؟

“Akan muncul setelahku atsarah (orang-orang yang mengutamakan diri mereka sendiri dan tidak memberikan hak kepada orang yang berhak, red.) dan perkara-perkara yang kalian ingkari.” Mereka (para sahabat, red.) bertanya, “Apa yang engkau perintahkan kepada kami, wahai Rasulullah?” Beliau  berkata,

تُؤَدُّوْنَ الْحَقَّ الَّذِيْ عَلَيْكُمْ وَتَسْأَلُوْنَ اللهَ الَّذِيْ لَكُمْ

“Tunaikanlah kewajiban kalian kepada mereka dan mintalah hak kalian kepada Allah.” (Sahih, HR. al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya)
Diriwayatkan pula dari ‘Adi bin Hatim, dia berkata, “Kami mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, kami tidak bertanya tentang ketaatan kepada orang-orang yang takwa, tetapi orang yang berbuat begini dan begitu… (disebutkan kejelekan-kejelekan).’ Maka Rasulullah bersabda:

وَاتَّقُوا اللهََ وَاسْمَعُوْا وَأَطِيْعُوْا

‘Bertakwalah kepada Allah! Dengar dan taatlah!’.”

(Hasan lighairihi, diriwayatkan oleh Ibnu Abu ‘Ashim dalam as-Sunnah dan lain-lain. Lihat al-Wardul Maqthuf, hlm. 32)
Ibnu Taimiyah berkata,

“Bahwasanya termasuk ilmu dan keadilan yang diperintahkan adalah sabar terhadap kezaliman para penguasa dan kejahatan mereka, sebagaimana ini merupakan prinsip dari prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah dan sebagaimana diperintahkan oleh Rasulullah dalam hadits yang masyhur.”

(Majmu’ Fatawa juz 28, hlm. 179, cet. Maktabah Ibnu Taimiyah Mesir)
Sedangkan menurut al-Imam an-Nawawi,

“Kesimpulannya adalah sabar terhadap kezaliman penguasa dan bahwasanya tidak gugur ketaatan dengan kezaliman mereka.”

(Syarah Shahih Muslim, 12/222, cet. Darul Fikr Beirut)
Ibnu Hajar berkata,

“Wajib berpegang dengan jamaah muslimin dan penguasa-penguasa mereka walaupun mereka bermaksiat.” (Fathul Bari Bi Syarhi Shahihil Bukhari)

 

Tetap Taat Walaupun Cacat
Meskipun penguasa tersebut cacat secara fisik, Rasulullah tetap memerintahkan kita untuk tetap mendengar dan taat. Walaupun hukum asal dalam memilih pemimpin adalah laki-laki, dari Quraisy, berilmu, tidak cacat, dan seterusnya. Namun jika seseorang yang tidak memenuhi kriteria tersebut telah berkuasa—baik dengan pemilihan, kekuatan (kudeta), dan peperangan—maka ia adalah penguasa yang wajib ditaati dan dilarang memberontak kepadanya. Kecuali, jika mereka memerintahkan kepada kemaksiatan dan kesesatan, maka tidak perlu menaatinya (pada perkara tersebut, red.) dengan tidak melepaskan diri dari jamaah.
Diriwayatkan dari Abu Dzar bahwa dia berkata:

إِنَّ خَلِيْلِيْ أَوْصَانِي أَنْ أَسْمَعَ وَ أَطِيْعَ، وَإِنْ كَانَ عَبْدًا مُجَدَّعَ الْأَطْرَافِ

“Telah mewasiatkan kepadaku kekasihku agar aku mendengar dan taat walaupun yang berkuasa adalah bekas budak yang terpotong hidungnya (cacat).2”

(Sahih, HR. Muslim dalam Shahih-nya, 3/467, cet. Daru Ihya’ut Turats al-Arabi, Beirut. HR. al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad, hlm. 54)
Juga diriwayatkan dari Suwaid bin Ghafalah, dia berkata,

“Berkata kepadaku ‘Umar, ‘Wahai Abu Umayyah, aku tidak tahu apakah aku akan bertemu engkau lagi setelah tahun ini… Jika dijadikan amir (pemimpin) atas kalian seorang hamba dari Habasyah, terpotong hidungnya maka dengarlah dan taatlah! Jika dia memukulmu, sabarlah! Jika mengharamkan untukmu hakmu, sabarlah! Jika ingin sesuatu yang mengurangi agamamu, maka katakanlah aku mendengar dan taat pada darahku bukan pada agamaku, dan tetaplah kamu jangan memisahkan diri dari jamaah!”
Wallahu a’lam.

wajib-taat-pada-pemerintah

1. Maksudnya seperti keadaan matinya orang-orang jahiliah yaitu di atas kesesatan dan tidak memiliki pemimpin yang ditaati karena mereka dahulu tidak mengetahui hal itu. (Fathul Bari, 7/13, dinukil dari Mu’amalatul Hukkam hlm. 166, red.)
2. Kalimat mujadda’ bermakna terpotong anggota badannya atau cacat, seperti terpotong telinga, hidung, tangan, atau kakinya. Namun sering kalimat mujadda’ dipakai dengan maksud terpotong hidungnya. Sedangkan mujadda’ul athraf, Ibnu Atsir t dalam an-Nihayah berkata, “Maknanya adalah terpotong-potong anggota badannya, ditasydidkan huruf ‘dal’-nya untuk menunjukkan banyak.” (pen.)

 

Janganlah Engkau Jadikan Musim Hujan Sebagai Kambing Hitam

jangan-jadikan-hujan-sebagai-kambing-hitam

(Faedah dari: ustadz abu sufyan sedayu gresik)

 

Nampaknya negeri ini masih terus diguyur hujan tanpa kita ketahui kapan berakhirnya, namun kenyataan yang miris kita dapati suara-suara yang mulai memojokkan musim hujan.

“wah hujan lagi, hujan lagi, bisa rugi saya.!”

“Nampaknya alam sudah tidak bersahabat lagi.”

“Gara-gara hujan harga barang jadi melonjak.” dan ucapan-ucapan lain yang bernada menyalahkan hujan.

 

Wahai saudaraku mari kita merenung sejenak!

Tahukah anda sebenarnya banyak pesan yang ingin Allah sampaikan kepada kita lewat musim hujan ini. Diantara pesan yang bisa kita singkap adalah:

 

1. Allah ingin menunjukan kepada manusia betapa besar dan luas kekuasaan Allah.

Sebagaimana Allah berfirman:

والله أنزل من السماء ماء فأحيا به الأرض بعد موتها إن في ذلك لآية لقوم يسمعون

Dan Dialah Allah yang telah menurun hujan dari awan kemudian menghidupkan bumi setelah kematiannya sesungguhnya pada hal ini terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang mau mendengar(pelajaran). An Nahl: 6

Fenomena hujan merupakan salah satu fenomena alam yang mengagumkan sebagai bukti yang kuat untuk menunjukkan betapa agungnya Dzat yang menurunkannya, untuk menunjukkan bahwa tidak ada yang mampu menandingi kuasa ilahi.
Sepintar apapun manusia, sehebat apapun teknologi yang mereka kuasai, mereka tidak mampu membendung turunnya hujan yang bertubi-bertubi mengguyur negeri mereka sehingga banjir di mana-mana tidak bisa terelakkan

لا حول و لا قوة إلا بالله العظيم

 

 

2.Untuk menambah rasa takut kepada Allah

Hal ini telah dicontohkan oleh junjungan kita, salawat dan salam tercurah untuk beliau, sebagaimana diceritakan Ummul Mukminin ‘Aisyah:

“Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat mendung atau angin, maka raut wajahnya pun berbeda.” ‘Aisyah berkata, “Wahai Rasululah, jika orang-orang melihat mendung, mereka akan begitu gembira. Mereka mengharap-harap agar hujan segera turun. Namun berbeda halnya dengan engkau. Jika melihat mendung, terlihat wajahmu menunjukkan tanda tidak suka.”

Beliau pun bersabda, “Wahai ‘Aisyah, apa yang bisa membuatku merasa aman? Siapa tahu ini adalah adzab. Dan pernah suatu kaum diberi adzab dengan datangnya angin (setelah itu). Kaum tersebut (yaitu kaum ‘Aad) ketika melihat adzab, mereka mengatakan, “Ini adalah awan yang akan menurunkan hujan kepada kita.”

(HR Al Bukhori 4829 dan Muslim 899)

 

Seorang yg memiliki rasa takut kepada Allah akan membuat dia selalu waspada dengan berupaya melaksanakan ketaatan dan menjahui kemaksiatan. Adapun orang yg merasa aman dari hukuman Allah sehingga dia terus menerus dalam kelalaian dan lumpur dosa, dia berpikir:

“Saya tidak mungkin kebanjiran karena saya tinggal di dataran tinggi.”

“Saya ndak mungkin kena sunami wong saya jauh dari pantai”

Maka kita katakan: “Wahai hamba Allah, apa anda pikir adzab Allah hanya banjir dan gempa bumi.”

Allah maha mampu mendatangkan adzab dalam bentuk apapun, dari arah manapun tanpa melihat waktu.

Dengarkanlah ucapan Robbmu:

أفأمن أهل القرى أن يأتيهم بأسنا بياتا وهم نائمون
أو أمن أهل القرى أن يأتيهم بأسنا ضحى وهم يلعبون
أفأمنوا مكر الله فلا يأمن مكر الله إلا القوم الخاسرون

“Apakah punduduk sebuah desa itu merasa aman dari adzab kami di waktu malam saat mereka tidur terlelap. Apakah penduduk suatu desa merasa aman dari adzab kami di waktu dhuha tatkala mereka asik bermain. Apakah mereka merasa aman dari makar Allah, tidaklah ada yang merasa aman dari makar Allah melainkan kaum yang merugi”. (Al A’rof 97-99)

 

3. Penghancur kesombongan dan keangkuhan bani adam

Wahai saudaraku yang dimuliakan Allah sebenarnya ada pesan yang dalam ingin Allah sampaikan kepada kita dengan musim hujan yang berkepanjangan sehingga menyebabkan kebanjiran melanda dimana-mana, pesan tersebut adalah agar manusia menghilangkan keangkuhan dan kesombongan mereka dan menyadari akan kelemahan mereka di hadapan Al Jabbarul Mutakabbir sehingga mereka kembali kepada Allah, tunduk dan patuh pada ketetapan-Nya.

Saat ini kebanyakan manusia terlalu angkuh nan sombong, dia lebih percaya dengan kemampuan dirinya, dia lebih bersandar pada kecerdasannya sehingga dia lupa bahwa disana ada kekuatan yang tak terbatas, dia lupa bahwa disana ada yang Maha berilmu, Dialah Allah Jalla Robbuna Al Qowiyul Matinul Aliim yang harus dia jadikan sandaran.

Seharusnya kita bersyukur kepada Allah dengan musibah ini karena hal itu pertanda Allah masih sayang dan cinta dengan kita. sebagaimana sabda junjungan kita baginda nabi:

إذا أراد الله بعبده الخير عجل له بالعقوبة في الدنيا، وإذا أراد الله بعبده الشر أمسك عنه بذنبه حتي يوافي به يوم القيامة. رواه الترمذي2396 صححه الألباني في صحيح
الجامع 308

“Apabila Allah menghendaki kebaikan untuk hamba-Nya maka Allah akan segerakan hukuman dosanya ketika di dunia, namun bila Allah menghendaki kejelekan untuknya Allah menunda hukuman atas dosanya hingga hari kiamat nanti.”

(HR At Tirmidzi2396 di shohihkan syaikh Al Albany dlm shohihul jaami’ 308)

 

Sehingga sangatlah tidak pantas kalau kita menyalahkan musim hujan atas musibah yang kita derita, sangatlah tidak pantas kita menjadikan musim hujan sebagai kambing hitam dari kegagalan kita, hendaknya kita mawas diri, hujan tidak pernah salah karena dia merupakan murni perbuatan Allah, perbuatan Allah semuanya baik tidak ada yang salah sebagaimana nabi menyatakan:

الشر ليس إليك

Kejelekan tidaklah berasal dari-Mu.

 

Mencela hujan sama saja mencela Allah sebagaimana sabda rosul dalam hadits qudsy Allah menyatakan:

يؤذيني ابن آدم يسب الدهر وأنا الدهر أقلب الليل و النهار
رواه البخاري4862 مسلم2246

Anak adam telah menyakitiku, mereka mencela masa padahal Aku adalah Yang mengendalikannya, Aku yg membolak balikkan malam dan siang.”

sebenarnya yg salah adalah manusia sendiri, karena ketamakan mereka yang menggiring mereka pada musibah ini,penebangan, pembakaran hutan,penimbunan lahan yang terus menerus tampa memperhatikan keseimbangan alam, mereka hanya ingin meraup keuntungan saja.

Oleh karena itu melalui musim hujan ini kita jadikan sebagai ajang dalam mengkoreksi pribadi-pribadi kita dan kembali kepada Allah.

apapun yang kita rasakan dari musim hujan ini, baik keuntungan ataupun kerugian kita sikapi dengan husnu dzon,dan berpikir positif namun tetap optimis. Itulah sikap mukmin sejati, sebagaimana sabda nabi:

عجبا لأمر المؤمن إن أمره كله له خير و ليس ذلك لأحد إلا للمؤمن: إن أصابته سراء شكر فكان خير له و إن أصابته ضراء صبر فكان خير له. رواه مسلم2999

“Sungguh mengagumkan urusannya orang yang beriman, semua keadaan baik untuknya, yang demikian tidak mungkin digapai melainkan hanya orang yang beriman, apabila dia mendapat kesenangan dia bersyukur, namun bila dia mendapat kesulitan dia bersabda.”

Dan kita memohon kepada Allah agar saudara-saudara kita yang di timpa musibah diberikan ketabahan, kasabaran dan keridhoan terhadap ketetapan Allah dan agar urusan mereka dipermudah

Allahumma amiin .

Apakah Manusia Berbuat karena Dipaksa ataukah Pilihan Sendiri

APAKAH MANUSIA BERBUAT KARENA DIPAKSA ATAUKAH PILIHAN SENDIRI?

 dengan-takdir-allah

Soal:

Semoga Allah membalasmu dengan yang lebih baik. Penanya adalah Muhammad dari Makkah al-Mukarramah. Dia bertanya, “Apakah manusia berbuat karena musayyar (dipaksa) ataukah mukhayyar (atas pilihannya sendiri?)”

 

Jawaban:

Aku katakan kepadanya, “Ketika engkau menulis pertanyaan pada kertas ini, apakah engkau melakukannya atas pilihanmu ataukah ada seseorang yang memaksamu?

Saya memastikan bahwa engkau akan menjawab, , “Aku melakukannya atas kehendakku.”

Tetapi ketahuilah bahwa Allah-lah yang telah menciptakan pada manusia adanya kehendak.

Allah menyiapkan dua perkara yang dengan itu terjadi perbuatan mereka.

  1. Kehendak, yang dengannya seseorang berkehendak.
  2. Kemampuan, yang dengannya seseorang memiliki kekuatan.

Jika dia melakukan sesuatu maka dia berbuat dengan kehendak dan kemampuannya.

Yang telah menciptakan kehendak dan kemampuan pada seseorang adalah Allah ‘azza wajalla.

Adapun perkatan “musayyar” atau “mukhayyar” adalah istilah baru, yang aku tidak mengetahui ungkapan ini ada di kalangan pendahulu umat ini.

Atas dasar itu aku katakan bahwa manusia diberi pulihan untuk berbuat dengan kehendaknya. Sedangkan pilihan dan kehendak seseorang adalah ciptaan Allah ‘azza wajalla.

 

Sumber: Silsilah Fatawa Nur ‘ala Darb, Syaikh Ibnu Utsaimin, kaset no. 362.

 

هل الإنسان مخير أم مسير؟

السؤال:

  جزاك الله خيراً فضيلة الشيخ. السائل محمد من مكة المكرمة يقول: هل الإنسان مسير أم مخير؟

الجواب:

الشيخ: الجواب أن أقول له: اسأل نفسك: هل أنت حينما كتبت هذه الورقة وفيها السؤال هل أنت فعلت ذلك باختيارك أو أن أحداً أجبرك؟ إنني أجزم جزماً أنه سيقول: كتبتها باختياري. ولكن ليعلم أن الله سبحانه وتعالى هو الذي خلق في الإنسان الإرادة، الله تعالى خلق الإنسان وأودع فيه أمرين كلاهما سبب الوجود، الأمر الأول: الإرادة، فالله تعالى جعل الإنسان مريدا.ً والأمر الثاني: القدرة، جعله الله تعالى قادراً. فإذا فعل شيئاً فإنما يفعله بإرادته وقدرته، والذي خلق فيه الإرادة هو الله عز وجل، وكذلك الذي خلق فيه القدرة هو الله عز وجل. وهذه الكلمة: مخير ومسير هي كلمة حادثة لا أعلمها في كلام السابقين، وعلى هذا فنقول: إن الإنسان مخير يفعل الشيء باختياره وإرادته، ولكن هذا الاختيار والإرادة كلاهما مخلوقان لله عز وجل. نعم.

المصدر: سلسلة فتاوى نور على الدرب > الشريط رقم [362]

العقيدة > الإيمان بالقدر

 رابط المقطع الصوتي

 

Bahaya Keyakinan Manunggaling Kawula Gusti (Wihdatul Wujud)

Manunggaling Kawula Gusti (Wihdatul Wujud)
Penulis : Ustadz Muhammad Umar As-Sewed

Manunggaling Kawula Gusti

Setelah kesesatan kaum sufi meyakini adanya ilmu laduni, maka pada terminal akhir, mereka akan merasa sampai pada tingkatan fana’ (melebur/menyatu dengan Dzat Allah). Sehingga ia memiliki sifat-sifat laahuut (ilahiyyah= ketuhanan) dan naasuut (insaniyyah= kemanusiaan). Menurut mereka, secara lahir ia bersifat insaniyyah namun secara batin ia memiliki sifat ilahiyyah.

Maha suci Allah dari apa yang mereka yakini!!. Aqidah ini populer di tengah masyarakat kita dengan istilah manunggaling kawula gusti. Munculnya aqidah rusak ini bukanlah sesuatu yang baru lagi di zaman sekarang ini dan bukan pula isapan jempol dan tuduhan semata.

Bukti adanya Aqidah ini dalam tubuh kaum Sufi
Hal ini dapat dilihat dari ucapan para tokoh legendaris dan pendahulu sufi seperti al-Hallaj, Ibnul Faridh, Ibnu Sabi’in, Ibnu Arabi dan masih banyak lagi yang lainnya dalam karya-karya mereka. Cukuplah apa yang kami sajikan di bawah ini sebagai saksi atas keberadaan aqidah ini pada kaum sufi.

 

Al-Hallaj berkata:

“Maha suci Dia yang telah menampakkan sifat naasuut (insaniyyah)-Nya lalu muncullah kami sebagai laahuut (ilahiyah)-Nya. Kemudian Dia menampakkan diri kepada makhluk-Nya dalam wujud orang yang makan dan minum, sehingga makhluk-Nya dapat melihat-Nya dengan jelas seperti pandangan mata dengan pandangan mata.” (ath-Tha-waasin, hal. 129)

Ia juga berkata:
“Aku adalah Engkau (Allah) tanpa adanya keraguan lagi. Maha suci Engkau Maha suci aku. Mengesakan Engkau berarti mengesakan aku Kemaksiatan kepada-Mu adalah kemaksiatan kepadaku
Marah-Mu adalah marahku Pengampunan-Mu adalah pengampun-anku “ (Diwanul Hallaj, hal. 82)

Di tempat lain ia berkata:
“Kami adalah dua ruh yang menitis jadi satu. Jika engkau melihatku berarti engkau melihat-Nya
Dan jika engkau melihat-Nya berarti yang engkau lihat adalah kami” (ath-Thawaasin, hal. 34)

Ibnu Faridh berkata dalam syairnya:
Tidak ada shalat kecuali hanya untukku. Dan shalatku dalam setiap raka’at bukanlah untuk selainku. (Tanbih al-Ghabi fi Takfir Ibnu Arabi, hal. 64)
Abu Yazid al-Busthami berkata: ”Paling sempurnanya sifat seseorang yang telah mencapai derajat ma’rifat adalah adanya sifat-sifat Allah pada dirinya. (Demikian pula) sifat ketuhanan ada pada dirinya.” (an-Nuur Min Kalimati Abi Thaifut, hal. 106 karya Abul Fadhl al-Falaki)

Akhirnya dia pun mengungkapkan keheranannya dengan berujar: “Aku heran kepada orang-orang yang mengaku mengenal Allah, bagaimana mereka bisa beribadah kepada-Nya?!”
Lebih dari itu dia menuturkan pula aqidah ini kepada orang lain tatkala seseorang datang dan mengetuk rumahnya. Dia bertanya: “Siapa yang engkau cari?” Orang itu menjawab: “Abu Yazid.” Dia pun berkata: “Pergi! Tidaklah yang ada di rumah ini kecuali Allah.” (an-Nuur, hal. 84)

Dia pernah ditanya pula tentang perihal tasawuf, maka dia menjawab: “Sifat Allah telah dimiliki oleh seorang hamba”.
Aqidah Manunggaling Kawula Gusti ini telah membawa kaum sufi pada keyakinan yang lebih rusak yaitu wihdatul wujud. Menurut ajaran ini tidak ada wujud kecuali Allah itu sendiri, tidak ada dzat lain yang tampak dan kelihatan ini selain dzat yang satu, yaitu dzat Allah.

Ibnu Arabi berkata:
“Tuhan itu adalah hamba dan hamba adalah Tuhan. Duhai kiranya, kalau demikian siapa yang di bebani syariat? Bila engkau katakan yang ada ini adalah hamba, maka hamba itu mati
Atau (bila) engkau katakan yang ada ini adalah Tuhan lalu mana mungkin Dia dibebani syariat? “ (Fushulul Hikam, hal. 90)
Penyair sufi bernama Muhammad Baharuddin al-Baithar berkata: “Anjing dan babi tidak lain adalah Tuhan kami Allah itu hanyalah pendeta yang ada di gereja”. (Suufiyat, hal. 27)
Syubhat-syubhat kaum Sufi dalam menopang aqidah ini
Jika diperhatikan sepintas terhadap ucapan-ucapan di atas, orang awam sekalipun mampu menolak atau bahkan mengutuk aqidah mereka ini dengan sekedar memakai fitrah dan akalnya yang sehat. Namun, bagaimana kalau ternyata kaum Sufi membawakan beberapa dalil baik dari al-Qur’an maupun as-Sunnah yang seakan-akan menunjukkan bahwa aqidah Manunggaling Kawula Gusti benar-benar diajarkan di dalam agama ini?! –tentunya menurut persangkaan mereka.

Mampukah orang tersebut membantah ataukah sebaliknya, justru tanpa terasa dirinya telah digiring pada pengakuan aqidah ini ketika mendengar dalil-dalil tersebut?
Di antara syubhat yang mereka jadikan dalil adalah kesalahpahaman mereka terhadap:

Firman Allah subhanahu wa Ta’ala:

…وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ…

Dan Dia (Allah) bersama kalian dimana kalian berada. (al-Hadiid: 5)

 

Firman Allah subhanahu wa Ta’ala:

وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ.

Dan Kami lebih dekat kepadanya (hamba) daripada urat lehernya sendiri. (Qaaf: 16)
Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits Qudsi:

…وَمَا يَزَالٌ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ باِلنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرُهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِيْ بِهَا… رواه البخاري“…

Dan senantiasa hamba-Ku mendekat-kan diri kapada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sampai Aku pun mencintainya. Bila Aku mencintainya, maka jadilah Aku sebagai telinganya yang dia mendengar dengannya, mata yang dia melihat dengannya, tangan yang dia memegang sesuatu dengannya, dan kaki yang dia berjalan dengannya… (HR. Bukhari)
Bantahan syubhat mereka
Dengan mengacu pada al-Qur’an dan as-Sunnah di bawah bimbingan para ulama terpercaya, kita akan dapati bahwa syubhat mereka tidak lebih daripada sarang laba-laba yang sangat rapuh.

Tentang firman Allah di dalam surat al-Hadid ayat 5, para ulama telah bersepakat bahwa kebersamaan Allah dengan hamba-hamba-Nya tersebut artinya ilmu Allah meliputi keberadaan mereka, bukan Dzat Allah menyatu bersama mereka.
Imam ath-Thilmanki rahimahullah berkata: “Kaum muslimin dari kalangan Ahlus Sunnah telah bersepakat bahwa makna firman Allah yang artinya: “Dan Dia (Allah) bersama kalian di mana kalian berada” adalah ilmu-Nya””. (Dar’ut Ta’arudh, 6/250)
Adapun yang dimaksud dengan lafadz “kami” di dalam surat Qaaf ayat 16 tersebut adalah para malaikat pencatat-pencatat amalan. Hal ini ditunjukkan sendiri oleh konteks ayat setelahnya. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir ath-Thabari, Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Ibnu Katsir dan para ulama yang lainnya. Sedangkan ath-Thilmanki dan al-Baghawi memilih pendapat bahwa yang dimaksud lafadz “lebih dekat” adalah ilmu dan kekuasaan-Nya lebih dekat dengan hambanya-Nya dari pada urat lehernya sendiri.
Imam ath-Thufi ketika mengomentari hadits Qudsi tersebut menya-takan bahwa ulama telah bersepakat kalau hadits tersebut merupakan sebuah ungkapan tentang pertolongan dan perhatian Allah terhadap hamba-hamba-Nya. Bukan hakikat Allah sebagai anggota badan hamba tersebut sebagaimana keyakinan Wihdatul Wujud. (Fathul Bari)Bahkan Imam Ibnu Rajab rahimahullah menegaskan bahwa barangsiapa mengarahkan pembicaraannya di dalam hadits ini kepada Wihdatul Wujud maka Allah dan rasul-Nya berlepas diri dari itu. (Jami’ul Ulum wal Hikam hal. 523-524 bersama Iqadhul Himam)

 

Beberapa ucapan batil berkait dengan aqidah ini

Dzat Allah ada di mana-mana
Ucapan ini sering dikatakan sebagian kaum muslimin ketika ditanya: “Di mana Allah?”
Sesungguhnya jawaban ini telah menyimpang dari al-Qur’an dan as-Sunnah serta kesepakatan Salaf.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Barang siapa yang mengatakan bahwa Dzat Allah ada di setiap tempat maka dia telah menyelisihi al-Qur’an, as-Sunnah dan kesepakatan Salaf. Bersamaan dengan itu dia menyelisihi fitrah dan akal yang Allah tetapkan bagi hamba-hambanya. (Majmu’ Fatawa, 5/125)
Dzat Allah ada di setiap hati seorang hamba.
Ini adalah jawaban yang tak jarang pula dikatakan sebagian kaum muslimin tatkala ditanya tentang keberadaan Allah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata; “Adapun keyakinan bahwa Dzat Allah ada di dalam hati setiap orang kafir maupun mukmin maka ini adalah batil. Tidak ada seorang pun dari pendahulu (Salaf) umat ini yang berkata seperti itu. Tidak pula Al Qur’an ataupun As Sunnah, bahkan Al Qur’an, As Sunnah, kesepakatan Salaf dan akal yang bersih justru bertentangan dengan keyakinan tersebut.” (Syarhu Haditsin Nuzuul, hal 375)
Beberapa ayat al-Qur’an yang membantah Aqidah ini
Ayat-ayat al-Qur’an secara gamblang menegaskan bahwa aqidah Manunggaling Kawula Gusti benar-benar batil.

Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَجَعَلُوا لَهُ مِنْ عِبَادِهِ جُزْءًا إِنَّ الإِنْسَانَ لَكَفُورٌ مُبِينٌ .

Dan mereka (orang-orang musyrikin) menjadikan sebagian hamba-hamba Allah sebagai bagian dari-Nya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar pengingkar yang nyata. (az-Zukhruf: 15)

 

فَاطِرُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الأَنْعَامِ أَزْوَاجًا يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ.

Dialah Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kalian sendiri yang berpasang-pasangan dan dari jenis binatang ternak yang berpasang-pasangan (pula), Dia jadikan kalian berkembang-biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat (Asy Syuraa: 11)

 

Perhatikanlah! Ketika Allah subhanahu wa Ta’ala menjawab permintaan Musa yang ingin melihat langsung wujud Allah di dunia. Allah pun berfirman:

لَنْ تَرَانِي وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ.

Kamu sekali-sekali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke gunung itu, tatkala ia tetap di tempat itu niscaya kamu dapat melihat-Ku. Tatkala Tuhan menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikan gunung itu hancur luluh dan Musa pun pingsan. Setelah sadar Musa berkata: “Maha suci Engkau, aku bertaubat dan aku orang yang pertama-tama beriman”. (Al A’raf: 143)

Wallahu a’lam

(Dikutip dari Buletin Islam al-Ilmu Edisi 30/II/I/1425, diterbitkan Yayasan as-Salafy Jember dengan sedikit editing)

Sumber : www.salafycirebon.com