Allah Memisahkan Yang Baik Dengan Yang Buruk

 

untuk-urusan-perut-1

Ditulis oleh: Al Ustadz Idral Harits Hafizhahulloh

Bismillah.

Allah Ta’ala berfirman Ali ‘Imran 179 :

مَا كَانَ اللَّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَىٰ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتَّىٰ يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ ۗ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى الْغَيْبِ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَجْتَبِي مِنْ رُسُلِهِ مَنْ يَشَاءُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۚ وَإِنْ تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوا فَلَكُمْ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin). Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala yang besar.”

Syaikh As-Sa’di menerangkan :

Tidaklah ada dalam hikmah Allah, membiarkan kaum mukminin sebagaimana kamu saat ini, yaitu bercampur aduk, tanpa ada perbedaan sama sekali, hingga Allah memisahkan yang baik dari yang buruk, memisahkan mukmin dari munafik, dan yang jujur dari yang dusta.

Karena itu, sesuai dengan hikmah Allah yang nyata, Dia memberi ujian kepada hamba-Nya, dengan berbagai hal yang akan memisahkan yang buruk dari yang baik. Maka Allah utus para Rasul-Nya dan memerintahkan mereka taat dan tunduk serta beriman kepada para Rasul itu. Akhirnya, manusia terbagi menjadi dua golongan, sesuai dengan sikap ittiba’ mereka kepada para Rasul tersebut, yaitu; mereka yang taat dan mereka yang durhaka.

Dan ada di manakah kita? Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyatakan bahwa yang taat kepada beliau akan masuk surga, sedangkan yang enggan masuk surga adalah mereka yang durhaka kepada beliau.

Rasulullah sudah mengingatkan pula agar kita berpegang dengan sunnah beliau dan sunnah khulafaurrasyidin yang terbimbing.

Kemudian, marilah kita camkan firman Allah Ta’ala dalam surat An-Nisa 115 :

ومن يشاقق الرسول من بعد ما تبين لهم الهدى ويتبع غير سبيل المؤمنين نوله ما تولى و نصله جهنم وساءت مصيرا…

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali…”

Orang mukmin yang pertama kali dituju dalam ayat ini adalah para sahabat, adapun jalan mereka di sini meliputi akidah dan amalan mereka. Dan jalan mereka itu sudah jelas, seterang cahaya siang, orang-orang yang menelusurinya juga sudah jelas, bahkan kita tidak dibiarkan meraba-raba jalan tersebut. Karena para pewaris mereka ada di hadapan kita, yaitu para ulama rabbani.

Karena itu alangkah pantas kita ingat kata-kata Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu :

اتبعوا ولا تبتدعوا، قد كفيتم…

“Ikutilah oleh kamu, dan janganlah kamu mengada-adakan bid’ah, sungguh kamu sudah dicukupi…”

Apakah kita belum merasa cukup dengan apa yg membuat para sahabat cukup? Semoga Allah merahmati Imam Malik yang mengatakan :

لن يصلح آخر هذه الأمة إلا بما صلح به أولها…

“Tidaklah akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan apa yang telah membuat baik generasi awalnya…”

Dengan satu ayat mereka disadarkan, saat mereka dilanda duka kehilangan orang yang sangat dicintai, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dengan satu hadits, selesailah keributan di antara mereka dalam menentukan siapa yang akan menggantikan Rasulullah mengurusi kaum muslimin.

Subhanallahi. Kita salafiyyun, di hadapan kita ada ulama rabbani, waliduna al ‘allamah Rabi’ bin Hadi hafizhahullah, beliau selalu mengikuti perkembangan dakwah salafiyah di tanah air sejak hampir seperempat abad. Bahkan beliau sangat memahami hampir semua persoalan yang ada dalam perjalanan dakwah ini, baik yang terkait dengan dakwahnya maupun sebagian pengusungnya. Itulah karunia Allah buat salifiyin.

Beliau telah dan sejak dahulu menyampaikan nasehatnya buat kita salafiyin, terakhir dengan tahdzir tersebut.

Kalaupun diingkari, dan dibantah, sesungguhnya itu adalah nasehat berharga, tidak ingatkah kita dengan kasus Ka’b bin Malik dan dua sahabat utama lainnya? Jelas mereka radhiyallahu ‘anhum bukan munafik, tetapi diboikot selama 50 hari 50 malam, sampai bumi terasa sempit padahal begitu luasnya, bahkan jiwa mereka sesak, dalam keadaan tidak ada selama ini tanda nifak pada diri mereka.

Sementara di hadapan kita, tersebar kenyataan adanya penyimpangan dan pemalsuan bahkan kedustaan sehingga sangat layak untuk dibeberkan?
Manakah yang lebih layak diboikot, dihajr atau dijauhi? Oleh sebab itu, salafiyin hendaklah jujur dalam menilainya, hendaklah kita bertaubat kepada Allah, dengan jujur, karena jujur adalah pilihan orang yang mulia dan merdeka.

Bisa jadi kekeruhan yang kita lihat ini karena dosa yang kita lakukan, maka bersegeralah bertaubat kepada Allah. Lebih-lebih mereka yang ditahdzir.
Keikhlasan adalah kunci semua itu. Siapa yang niatnya ikhlas dalam al-haq, meskipun terhadap dirinya, niscaya Allah cukupi antara dia dan manusia. Siapa yang berhias dengan apa yang tidak ada padanya, Allah tentu membuatnya buruk.

Seorang hamba, jika dia ikhlas karena Allah Ta’ala, tujuan dan cita-citanya adalah mengharapkan wajah Allah semata, niscaya Allah pasti bersamanya. Karena itu, jika seseorang melaksanakan yang haq terhadap orang lain dan dirinya lebih dahulu, dan semua itu dengan pertolongan Allah dan karena Allah, tidak ada yang dapat mengalahkannya, meskipun langit dan bumi bersatu melakukan makar terhadapnya.

Sebaliknya, jika seseorang berada dalam kebatilan, dia tidak akan ditolong, dan seandainya ditolongpun kesudahannya yang baik tidak akan diraihnya. Bahkan dia akan terhina dan tercela.

Semoga nukilan ini bermanfaat.

 

Sumber : Forum Salafy

Kewajiban Taat Kepada Pemerintah Prinsip Islam Yang Semakin Terlupakan

kursi

Oleh: Al-Ustadz Muhammad Umar as-Sewed

Kewajiban taat kepada pemerintah merupakan salah satu prinsip Islam yang agung. Namun di tengah carut-marutnya kehidupan politik di negeri-negeri muslim, prinsip ini menjadi bias dan sering dituding sebagai bagian dari gerakan pro status quo. Padahal, agama yang sempurna ini telah mengatur bagaimana seharusnya sikap seorang muslim terhadap pemerintahnya, baik yang adil maupun yang zalim.

KKN, represivitas penguasa, kedekatan pemerintah dengan Barat (baca: kaum kafir), seringkali menjadi isu yang diangkat sekaligus dijadikan pembenaran untuk melawan pemerintah. Dari yang ‘sekadar’ demonstrasi, hingga yang berujud pemberontakan fisik.

Meski terkadang isu-isu itu benar, namun sesungguhnya syariat yang mulia ini telah mengatur bagaimana seharusnya seorang muslim bersikap kepada pemerintahnya, sehingga diharapkan tidak timbul kerusakan yang jauh lebih besar.

Yang menyedihkan, Islam atau jihad justru yang paling laris dijadikan tameng untuk melegalkan gerakan-gerakan perlawanan ini. Di antara mereka bahkan ada yang menjadikan tegaknya khilafah Islamiyah sebagai harga mati dari tujuan dakwahnya. Mereka pun berangan-angan, seandainya kejayaan Islam di masa khalifah Abu Bakr dan Umar bin al-Khaththab  dapat tegak kembali di masa kini.

Jika diibaratkan, apa yang dilakukan kelompok-kelompok Islam ini seperti “menunggu hujan yang turun, air di bejana ditumpahkan”. Mereka sangat berharap akan tegaknya khilafah Umar bin al-Khaththab , namun kewajiban yang Allah  perintahkan kepada mereka terhadap penguasa yang ada di hadapan mereka, justru dilupakan. Padahal dengan itu, Allah akan mengabulkan harapan mereka dan harapan seluruh kaum muslimin.

 

Wajibnya Taat kepada Penguasa Muslim

Allah telah memerintahkan kepada kaum muslimin untuk taat kepada penguasanya betapa pun jelek dan zalimnya mereka. Tentunya dengan syarat, selama para penguasa tersebut tidak menampakkan kekafiran yang nyata. Allah juga memerintahkan agar kita bersabar menghadapi kezaliman mereka dan tetap berjalan di atas As-Sunnah.

Karena barang siapa yang memisahkan diri dari jamaah dan memberontak kepada penguasanya maka matinya mati jahiliah. Yakni mati dalam keadaan bermaksiat kepada Allah  seperti keadaan orang-orang jahiliah.

1. (Lihat ucapan al-Imam an-Nawawi t dalam Syarah Shahih Muslim)
Dari Ibnu Abbas, dia berkata, Rasulullah bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ فَمِيتَةٌ جَاهِلِيَّةٌ

“Barang siapa melihat sesuatu yang tidak dia sukai dari penguasanya, maka bersabarlah! Karena barang siapa yang memisahkan diri dari jamaah sejengkal saja, maka ia akan mati dalam keadaan mati jahiliah.” (Sahih, HR. al-Bukhari dan Muslim)
Diriwayatkan dari Junadah bin Abu Umayyah, dia berkata, “Kami masuk ke rumah Ubadah bin ash-Shamit ketika beliau dalam keadaan sakit dan kami berkata kepadanya, ‘Sampaikanlah hadits kepada kami—aslahakallah (semoga Allah memperbaiki keadaanmu)—dengan hadits yang kau dengar dari Rasulullah yang dengannya Allah akan memberikan manfaat bagi kami!’ Maka ia pun berkata,

دَعَانَا رَسُوْلُ اللهِ n فَبَايَعَنَاَ، فَكَاَنَ فِيْمَا أَخَذَ عَلَيْنَا أَنْ بَايَعْنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطاَّعَةِ، فِيْ مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا، وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا، وَأَثَرَةٍ عَلَيْنَا، وَأَنْ لاَ نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ، قَالَ: إِلاَّ أَنْ تَرَوْا كُفْرَا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنَ اللهِ فِيْهِ بُرْهَانٌ

“Rasulullah memanggil kami kemudian membai’at kami. Dan di antara bai’atnya adalah agar kami bersumpah setia untuk mendengar dan taat ketika kami semangat ataupun tidak suka, ketika dalam kemudahan ataupun dalam kesusahan, ataupun ketika kami diperlakukan secara tidak adil. Dan hendaklah kami tidak merebut urusan kepemimpinan dari orang yang berhak—beliau berkata—kecuali jika kalian melihat kekufuran yang nyata, yang kalian memiliki bukti di sisi Allah.”

(HR. al-Bukhari dalam Shahih-nya juz 13 hlm.192, cet. Maktabatur Riyadh al-Haditsah, Riyadh. HR. Muslim dalam Shahih-nya, 3/1470, cet. Daru Ihya’ut Turats al-Arabi, Beirut, cet. 1)

 

Wajib Taat Walaupun Jahat dan Zalim
Kewajiban taat kepada pemerintah ini, sebagaimana dijelaskan Rasulullah, adalah terhadap setiap penguasa, meskipun jahat, zalim, atau melakukan banyak kejelekan dan kemaksiatan. Kita tetap bersabar mengharapkan pahala dari Allah dengan memberikan hak mereka, yaitu ketaatan walaupun mereka tidak memberikan hak kita.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud, dia berkata, Rasulullah bersabda:

إِنَّهَا سَتَكُونُ بَعْدِي أَثَرَةٌ وَأُمُورٌ تُنْكِرُونَهَا قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ كَيْفَ تَأْمُرُنَا؟

“Akan muncul setelahku atsarah (orang-orang yang mengutamakan diri mereka sendiri dan tidak memberikan hak kepada orang yang berhak, red.) dan perkara-perkara yang kalian ingkari.” Mereka (para sahabat, red.) bertanya, “Apa yang engkau perintahkan kepada kami, wahai Rasulullah?” Beliau  berkata,

تُؤَدُّوْنَ الْحَقَّ الَّذِيْ عَلَيْكُمْ وَتَسْأَلُوْنَ اللهَ الَّذِيْ لَكُمْ

“Tunaikanlah kewajiban kalian kepada mereka dan mintalah hak kalian kepada Allah.” (Sahih, HR. al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya)
Diriwayatkan pula dari ‘Adi bin Hatim, dia berkata, “Kami mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, kami tidak bertanya tentang ketaatan kepada orang-orang yang takwa, tetapi orang yang berbuat begini dan begitu… (disebutkan kejelekan-kejelekan).’ Maka Rasulullah bersabda:

وَاتَّقُوا اللهََ وَاسْمَعُوْا وَأَطِيْعُوْا

‘Bertakwalah kepada Allah! Dengar dan taatlah!’.”

(Hasan lighairihi, diriwayatkan oleh Ibnu Abu ‘Ashim dalam as-Sunnah dan lain-lain. Lihat al-Wardul Maqthuf, hlm. 32)
Ibnu Taimiyah berkata,

“Bahwasanya termasuk ilmu dan keadilan yang diperintahkan adalah sabar terhadap kezaliman para penguasa dan kejahatan mereka, sebagaimana ini merupakan prinsip dari prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah dan sebagaimana diperintahkan oleh Rasulullah dalam hadits yang masyhur.”

(Majmu’ Fatawa juz 28, hlm. 179, cet. Maktabah Ibnu Taimiyah Mesir)
Sedangkan menurut al-Imam an-Nawawi,

“Kesimpulannya adalah sabar terhadap kezaliman penguasa dan bahwasanya tidak gugur ketaatan dengan kezaliman mereka.”

(Syarah Shahih Muslim, 12/222, cet. Darul Fikr Beirut)
Ibnu Hajar berkata,

“Wajib berpegang dengan jamaah muslimin dan penguasa-penguasa mereka walaupun mereka bermaksiat.” (Fathul Bari Bi Syarhi Shahihil Bukhari)

 

Tetap Taat Walaupun Cacat
Meskipun penguasa tersebut cacat secara fisik, Rasulullah tetap memerintahkan kita untuk tetap mendengar dan taat. Walaupun hukum asal dalam memilih pemimpin adalah laki-laki, dari Quraisy, berilmu, tidak cacat, dan seterusnya. Namun jika seseorang yang tidak memenuhi kriteria tersebut telah berkuasa—baik dengan pemilihan, kekuatan (kudeta), dan peperangan—maka ia adalah penguasa yang wajib ditaati dan dilarang memberontak kepadanya. Kecuali, jika mereka memerintahkan kepada kemaksiatan dan kesesatan, maka tidak perlu menaatinya (pada perkara tersebut, red.) dengan tidak melepaskan diri dari jamaah.
Diriwayatkan dari Abu Dzar bahwa dia berkata:

إِنَّ خَلِيْلِيْ أَوْصَانِي أَنْ أَسْمَعَ وَ أَطِيْعَ، وَإِنْ كَانَ عَبْدًا مُجَدَّعَ الْأَطْرَافِ

“Telah mewasiatkan kepadaku kekasihku agar aku mendengar dan taat walaupun yang berkuasa adalah bekas budak yang terpotong hidungnya (cacat).2”

(Sahih, HR. Muslim dalam Shahih-nya, 3/467, cet. Daru Ihya’ut Turats al-Arabi, Beirut. HR. al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad, hlm. 54)
Juga diriwayatkan dari Suwaid bin Ghafalah, dia berkata,

“Berkata kepadaku ‘Umar, ‘Wahai Abu Umayyah, aku tidak tahu apakah aku akan bertemu engkau lagi setelah tahun ini… Jika dijadikan amir (pemimpin) atas kalian seorang hamba dari Habasyah, terpotong hidungnya maka dengarlah dan taatlah! Jika dia memukulmu, sabarlah! Jika mengharamkan untukmu hakmu, sabarlah! Jika ingin sesuatu yang mengurangi agamamu, maka katakanlah aku mendengar dan taat pada darahku bukan pada agamaku, dan tetaplah kamu jangan memisahkan diri dari jamaah!”
Wallahu a’lam.

wajib-taat-pada-pemerintah

1. Maksudnya seperti keadaan matinya orang-orang jahiliah yaitu di atas kesesatan dan tidak memiliki pemimpin yang ditaati karena mereka dahulu tidak mengetahui hal itu. (Fathul Bari, 7/13, dinukil dari Mu’amalatul Hukkam hlm. 166, red.)
2. Kalimat mujadda’ bermakna terpotong anggota badannya atau cacat, seperti terpotong telinga, hidung, tangan, atau kakinya. Namun sering kalimat mujadda’ dipakai dengan maksud terpotong hidungnya. Sedangkan mujadda’ul athraf, Ibnu Atsir t dalam an-Nihayah berkata, “Maknanya adalah terpotong-potong anggota badannya, ditasydidkan huruf ‘dal’-nya untuk menunjukkan banyak.” (pen.)

 

Janganlah Engkau Jadikan Musim Hujan Sebagai Kambing Hitam

jangan-jadikan-hujan-sebagai-kambing-hitam

(Faedah dari: ustadz abu sufyan sedayu gresik)

 

Nampaknya negeri ini masih terus diguyur hujan tanpa kita ketahui kapan berakhirnya, namun kenyataan yang miris kita dapati suara-suara yang mulai memojokkan musim hujan.

“wah hujan lagi, hujan lagi, bisa rugi saya.!”

“Nampaknya alam sudah tidak bersahabat lagi.”

“Gara-gara hujan harga barang jadi melonjak.” dan ucapan-ucapan lain yang bernada menyalahkan hujan.

 

Wahai saudaraku mari kita merenung sejenak!

Tahukah anda sebenarnya banyak pesan yang ingin Allah sampaikan kepada kita lewat musim hujan ini. Diantara pesan yang bisa kita singkap adalah:

 

1. Allah ingin menunjukan kepada manusia betapa besar dan luas kekuasaan Allah.

Sebagaimana Allah berfirman:

والله أنزل من السماء ماء فأحيا به الأرض بعد موتها إن في ذلك لآية لقوم يسمعون

Dan Dialah Allah yang telah menurun hujan dari awan kemudian menghidupkan bumi setelah kematiannya sesungguhnya pada hal ini terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang mau mendengar(pelajaran). An Nahl: 6

Fenomena hujan merupakan salah satu fenomena alam yang mengagumkan sebagai bukti yang kuat untuk menunjukkan betapa agungnya Dzat yang menurunkannya, untuk menunjukkan bahwa tidak ada yang mampu menandingi kuasa ilahi.
Sepintar apapun manusia, sehebat apapun teknologi yang mereka kuasai, mereka tidak mampu membendung turunnya hujan yang bertubi-bertubi mengguyur negeri mereka sehingga banjir di mana-mana tidak bisa terelakkan

لا حول و لا قوة إلا بالله العظيم

 

 

2.Untuk menambah rasa takut kepada Allah

Hal ini telah dicontohkan oleh junjungan kita, salawat dan salam tercurah untuk beliau, sebagaimana diceritakan Ummul Mukminin ‘Aisyah:

“Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat mendung atau angin, maka raut wajahnya pun berbeda.” ‘Aisyah berkata, “Wahai Rasululah, jika orang-orang melihat mendung, mereka akan begitu gembira. Mereka mengharap-harap agar hujan segera turun. Namun berbeda halnya dengan engkau. Jika melihat mendung, terlihat wajahmu menunjukkan tanda tidak suka.”

Beliau pun bersabda, “Wahai ‘Aisyah, apa yang bisa membuatku merasa aman? Siapa tahu ini adalah adzab. Dan pernah suatu kaum diberi adzab dengan datangnya angin (setelah itu). Kaum tersebut (yaitu kaum ‘Aad) ketika melihat adzab, mereka mengatakan, “Ini adalah awan yang akan menurunkan hujan kepada kita.”

(HR Al Bukhori 4829 dan Muslim 899)

 

Seorang yg memiliki rasa takut kepada Allah akan membuat dia selalu waspada dengan berupaya melaksanakan ketaatan dan menjahui kemaksiatan. Adapun orang yg merasa aman dari hukuman Allah sehingga dia terus menerus dalam kelalaian dan lumpur dosa, dia berpikir:

“Saya tidak mungkin kebanjiran karena saya tinggal di dataran tinggi.”

“Saya ndak mungkin kena sunami wong saya jauh dari pantai”

Maka kita katakan: “Wahai hamba Allah, apa anda pikir adzab Allah hanya banjir dan gempa bumi.”

Allah maha mampu mendatangkan adzab dalam bentuk apapun, dari arah manapun tanpa melihat waktu.

Dengarkanlah ucapan Robbmu:

أفأمن أهل القرى أن يأتيهم بأسنا بياتا وهم نائمون
أو أمن أهل القرى أن يأتيهم بأسنا ضحى وهم يلعبون
أفأمنوا مكر الله فلا يأمن مكر الله إلا القوم الخاسرون

“Apakah punduduk sebuah desa itu merasa aman dari adzab kami di waktu malam saat mereka tidur terlelap. Apakah penduduk suatu desa merasa aman dari adzab kami di waktu dhuha tatkala mereka asik bermain. Apakah mereka merasa aman dari makar Allah, tidaklah ada yang merasa aman dari makar Allah melainkan kaum yang merugi”. (Al A’rof 97-99)

 

3. Penghancur kesombongan dan keangkuhan bani adam

Wahai saudaraku yang dimuliakan Allah sebenarnya ada pesan yang dalam ingin Allah sampaikan kepada kita dengan musim hujan yang berkepanjangan sehingga menyebabkan kebanjiran melanda dimana-mana, pesan tersebut adalah agar manusia menghilangkan keangkuhan dan kesombongan mereka dan menyadari akan kelemahan mereka di hadapan Al Jabbarul Mutakabbir sehingga mereka kembali kepada Allah, tunduk dan patuh pada ketetapan-Nya.

Saat ini kebanyakan manusia terlalu angkuh nan sombong, dia lebih percaya dengan kemampuan dirinya, dia lebih bersandar pada kecerdasannya sehingga dia lupa bahwa disana ada kekuatan yang tak terbatas, dia lupa bahwa disana ada yang Maha berilmu, Dialah Allah Jalla Robbuna Al Qowiyul Matinul Aliim yang harus dia jadikan sandaran.

Seharusnya kita bersyukur kepada Allah dengan musibah ini karena hal itu pertanda Allah masih sayang dan cinta dengan kita. sebagaimana sabda junjungan kita baginda nabi:

إذا أراد الله بعبده الخير عجل له بالعقوبة في الدنيا، وإذا أراد الله بعبده الشر أمسك عنه بذنبه حتي يوافي به يوم القيامة. رواه الترمذي2396 صححه الألباني في صحيح
الجامع 308

“Apabila Allah menghendaki kebaikan untuk hamba-Nya maka Allah akan segerakan hukuman dosanya ketika di dunia, namun bila Allah menghendaki kejelekan untuknya Allah menunda hukuman atas dosanya hingga hari kiamat nanti.”

(HR At Tirmidzi2396 di shohihkan syaikh Al Albany dlm shohihul jaami’ 308)

 

Sehingga sangatlah tidak pantas kalau kita menyalahkan musim hujan atas musibah yang kita derita, sangatlah tidak pantas kita menjadikan musim hujan sebagai kambing hitam dari kegagalan kita, hendaknya kita mawas diri, hujan tidak pernah salah karena dia merupakan murni perbuatan Allah, perbuatan Allah semuanya baik tidak ada yang salah sebagaimana nabi menyatakan:

الشر ليس إليك

Kejelekan tidaklah berasal dari-Mu.

 

Mencela hujan sama saja mencela Allah sebagaimana sabda rosul dalam hadits qudsy Allah menyatakan:

يؤذيني ابن آدم يسب الدهر وأنا الدهر أقلب الليل و النهار
رواه البخاري4862 مسلم2246

Anak adam telah menyakitiku, mereka mencela masa padahal Aku adalah Yang mengendalikannya, Aku yg membolak balikkan malam dan siang.”

sebenarnya yg salah adalah manusia sendiri, karena ketamakan mereka yang menggiring mereka pada musibah ini,penebangan, pembakaran hutan,penimbunan lahan yang terus menerus tampa memperhatikan keseimbangan alam, mereka hanya ingin meraup keuntungan saja.

Oleh karena itu melalui musim hujan ini kita jadikan sebagai ajang dalam mengkoreksi pribadi-pribadi kita dan kembali kepada Allah.

apapun yang kita rasakan dari musim hujan ini, baik keuntungan ataupun kerugian kita sikapi dengan husnu dzon,dan berpikir positif namun tetap optimis. Itulah sikap mukmin sejati, sebagaimana sabda nabi:

عجبا لأمر المؤمن إن أمره كله له خير و ليس ذلك لأحد إلا للمؤمن: إن أصابته سراء شكر فكان خير له و إن أصابته ضراء صبر فكان خير له. رواه مسلم2999

“Sungguh mengagumkan urusannya orang yang beriman, semua keadaan baik untuknya, yang demikian tidak mungkin digapai melainkan hanya orang yang beriman, apabila dia mendapat kesenangan dia bersyukur, namun bila dia mendapat kesulitan dia bersabda.”

Dan kita memohon kepada Allah agar saudara-saudara kita yang di timpa musibah diberikan ketabahan, kasabaran dan keridhoan terhadap ketetapan Allah dan agar urusan mereka dipermudah

Allahumma amiin .

Apakah Manusia Berbuat karena Dipaksa ataukah Pilihan Sendiri

APAKAH MANUSIA BERBUAT KARENA DIPAKSA ATAUKAH PILIHAN SENDIRI?

 dengan-takdir-allah

Soal:

Semoga Allah membalasmu dengan yang lebih baik. Penanya adalah Muhammad dari Makkah al-Mukarramah. Dia bertanya, “Apakah manusia berbuat karena musayyar (dipaksa) ataukah mukhayyar (atas pilihannya sendiri?)”

 

Jawaban:

Aku katakan kepadanya, “Ketika engkau menulis pertanyaan pada kertas ini, apakah engkau melakukannya atas pilihanmu ataukah ada seseorang yang memaksamu?

Saya memastikan bahwa engkau akan menjawab, , “Aku melakukannya atas kehendakku.”

Tetapi ketahuilah bahwa Allah-lah yang telah menciptakan pada manusia adanya kehendak.

Allah menyiapkan dua perkara yang dengan itu terjadi perbuatan mereka.

  1. Kehendak, yang dengannya seseorang berkehendak.
  2. Kemampuan, yang dengannya seseorang memiliki kekuatan.

Jika dia melakukan sesuatu maka dia berbuat dengan kehendak dan kemampuannya.

Yang telah menciptakan kehendak dan kemampuan pada seseorang adalah Allah ‘azza wajalla.

Adapun perkatan “musayyar” atau “mukhayyar” adalah istilah baru, yang aku tidak mengetahui ungkapan ini ada di kalangan pendahulu umat ini.

Atas dasar itu aku katakan bahwa manusia diberi pulihan untuk berbuat dengan kehendaknya. Sedangkan pilihan dan kehendak seseorang adalah ciptaan Allah ‘azza wajalla.

 

Sumber: Silsilah Fatawa Nur ‘ala Darb, Syaikh Ibnu Utsaimin, kaset no. 362.

 

هل الإنسان مخير أم مسير؟

السؤال:

  جزاك الله خيراً فضيلة الشيخ. السائل محمد من مكة المكرمة يقول: هل الإنسان مسير أم مخير؟

الجواب:

الشيخ: الجواب أن أقول له: اسأل نفسك: هل أنت حينما كتبت هذه الورقة وفيها السؤال هل أنت فعلت ذلك باختيارك أو أن أحداً أجبرك؟ إنني أجزم جزماً أنه سيقول: كتبتها باختياري. ولكن ليعلم أن الله سبحانه وتعالى هو الذي خلق في الإنسان الإرادة، الله تعالى خلق الإنسان وأودع فيه أمرين كلاهما سبب الوجود، الأمر الأول: الإرادة، فالله تعالى جعل الإنسان مريدا.ً والأمر الثاني: القدرة، جعله الله تعالى قادراً. فإذا فعل شيئاً فإنما يفعله بإرادته وقدرته، والذي خلق فيه الإرادة هو الله عز وجل، وكذلك الذي خلق فيه القدرة هو الله عز وجل. وهذه الكلمة: مخير ومسير هي كلمة حادثة لا أعلمها في كلام السابقين، وعلى هذا فنقول: إن الإنسان مخير يفعل الشيء باختياره وإرادته، ولكن هذا الاختيار والإرادة كلاهما مخلوقان لله عز وجل. نعم.

المصدر: سلسلة فتاوى نور على الدرب > الشريط رقم [362]

العقيدة > الإيمان بالقدر

 رابط المقطع الصوتي

 

Bahaya Keyakinan Manunggaling Kawula Gusti (Wihdatul Wujud)

Manunggaling Kawula Gusti (Wihdatul Wujud)
Penulis : Ustadz Muhammad Umar As-Sewed

Manunggaling Kawula Gusti

Setelah kesesatan kaum sufi meyakini adanya ilmu laduni, maka pada terminal akhir, mereka akan merasa sampai pada tingkatan fana’ (melebur/menyatu dengan Dzat Allah). Sehingga ia memiliki sifat-sifat laahuut (ilahiyyah= ketuhanan) dan naasuut (insaniyyah= kemanusiaan). Menurut mereka, secara lahir ia bersifat insaniyyah namun secara batin ia memiliki sifat ilahiyyah.

Maha suci Allah dari apa yang mereka yakini!!. Aqidah ini populer di tengah masyarakat kita dengan istilah manunggaling kawula gusti. Munculnya aqidah rusak ini bukanlah sesuatu yang baru lagi di zaman sekarang ini dan bukan pula isapan jempol dan tuduhan semata.

Bukti adanya Aqidah ini dalam tubuh kaum Sufi
Hal ini dapat dilihat dari ucapan para tokoh legendaris dan pendahulu sufi seperti al-Hallaj, Ibnul Faridh, Ibnu Sabi’in, Ibnu Arabi dan masih banyak lagi yang lainnya dalam karya-karya mereka. Cukuplah apa yang kami sajikan di bawah ini sebagai saksi atas keberadaan aqidah ini pada kaum sufi.

 

Al-Hallaj berkata:

“Maha suci Dia yang telah menampakkan sifat naasuut (insaniyyah)-Nya lalu muncullah kami sebagai laahuut (ilahiyah)-Nya. Kemudian Dia menampakkan diri kepada makhluk-Nya dalam wujud orang yang makan dan minum, sehingga makhluk-Nya dapat melihat-Nya dengan jelas seperti pandangan mata dengan pandangan mata.” (ath-Tha-waasin, hal. 129)

Ia juga berkata:
“Aku adalah Engkau (Allah) tanpa adanya keraguan lagi. Maha suci Engkau Maha suci aku. Mengesakan Engkau berarti mengesakan aku Kemaksiatan kepada-Mu adalah kemaksiatan kepadaku
Marah-Mu adalah marahku Pengampunan-Mu adalah pengampun-anku “ (Diwanul Hallaj, hal. 82)

Di tempat lain ia berkata:
“Kami adalah dua ruh yang menitis jadi satu. Jika engkau melihatku berarti engkau melihat-Nya
Dan jika engkau melihat-Nya berarti yang engkau lihat adalah kami” (ath-Thawaasin, hal. 34)

Ibnu Faridh berkata dalam syairnya:
Tidak ada shalat kecuali hanya untukku. Dan shalatku dalam setiap raka’at bukanlah untuk selainku. (Tanbih al-Ghabi fi Takfir Ibnu Arabi, hal. 64)
Abu Yazid al-Busthami berkata: ”Paling sempurnanya sifat seseorang yang telah mencapai derajat ma’rifat adalah adanya sifat-sifat Allah pada dirinya. (Demikian pula) sifat ketuhanan ada pada dirinya.” (an-Nuur Min Kalimati Abi Thaifut, hal. 106 karya Abul Fadhl al-Falaki)

Akhirnya dia pun mengungkapkan keheranannya dengan berujar: “Aku heran kepada orang-orang yang mengaku mengenal Allah, bagaimana mereka bisa beribadah kepada-Nya?!”
Lebih dari itu dia menuturkan pula aqidah ini kepada orang lain tatkala seseorang datang dan mengetuk rumahnya. Dia bertanya: “Siapa yang engkau cari?” Orang itu menjawab: “Abu Yazid.” Dia pun berkata: “Pergi! Tidaklah yang ada di rumah ini kecuali Allah.” (an-Nuur, hal. 84)

Dia pernah ditanya pula tentang perihal tasawuf, maka dia menjawab: “Sifat Allah telah dimiliki oleh seorang hamba”.
Aqidah Manunggaling Kawula Gusti ini telah membawa kaum sufi pada keyakinan yang lebih rusak yaitu wihdatul wujud. Menurut ajaran ini tidak ada wujud kecuali Allah itu sendiri, tidak ada dzat lain yang tampak dan kelihatan ini selain dzat yang satu, yaitu dzat Allah.

Ibnu Arabi berkata:
“Tuhan itu adalah hamba dan hamba adalah Tuhan. Duhai kiranya, kalau demikian siapa yang di bebani syariat? Bila engkau katakan yang ada ini adalah hamba, maka hamba itu mati
Atau (bila) engkau katakan yang ada ini adalah Tuhan lalu mana mungkin Dia dibebani syariat? “ (Fushulul Hikam, hal. 90)
Penyair sufi bernama Muhammad Baharuddin al-Baithar berkata: “Anjing dan babi tidak lain adalah Tuhan kami Allah itu hanyalah pendeta yang ada di gereja”. (Suufiyat, hal. 27)
Syubhat-syubhat kaum Sufi dalam menopang aqidah ini
Jika diperhatikan sepintas terhadap ucapan-ucapan di atas, orang awam sekalipun mampu menolak atau bahkan mengutuk aqidah mereka ini dengan sekedar memakai fitrah dan akalnya yang sehat. Namun, bagaimana kalau ternyata kaum Sufi membawakan beberapa dalil baik dari al-Qur’an maupun as-Sunnah yang seakan-akan menunjukkan bahwa aqidah Manunggaling Kawula Gusti benar-benar diajarkan di dalam agama ini?! –tentunya menurut persangkaan mereka.

Mampukah orang tersebut membantah ataukah sebaliknya, justru tanpa terasa dirinya telah digiring pada pengakuan aqidah ini ketika mendengar dalil-dalil tersebut?
Di antara syubhat yang mereka jadikan dalil adalah kesalahpahaman mereka terhadap:

Firman Allah subhanahu wa Ta’ala:

…وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ…

Dan Dia (Allah) bersama kalian dimana kalian berada. (al-Hadiid: 5)

 

Firman Allah subhanahu wa Ta’ala:

وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ.

Dan Kami lebih dekat kepadanya (hamba) daripada urat lehernya sendiri. (Qaaf: 16)
Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits Qudsi:

…وَمَا يَزَالٌ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ باِلنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرُهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِيْ بِهَا… رواه البخاري“…

Dan senantiasa hamba-Ku mendekat-kan diri kapada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sampai Aku pun mencintainya. Bila Aku mencintainya, maka jadilah Aku sebagai telinganya yang dia mendengar dengannya, mata yang dia melihat dengannya, tangan yang dia memegang sesuatu dengannya, dan kaki yang dia berjalan dengannya… (HR. Bukhari)
Bantahan syubhat mereka
Dengan mengacu pada al-Qur’an dan as-Sunnah di bawah bimbingan para ulama terpercaya, kita akan dapati bahwa syubhat mereka tidak lebih daripada sarang laba-laba yang sangat rapuh.

Tentang firman Allah di dalam surat al-Hadid ayat 5, para ulama telah bersepakat bahwa kebersamaan Allah dengan hamba-hamba-Nya tersebut artinya ilmu Allah meliputi keberadaan mereka, bukan Dzat Allah menyatu bersama mereka.
Imam ath-Thilmanki rahimahullah berkata: “Kaum muslimin dari kalangan Ahlus Sunnah telah bersepakat bahwa makna firman Allah yang artinya: “Dan Dia (Allah) bersama kalian di mana kalian berada” adalah ilmu-Nya””. (Dar’ut Ta’arudh, 6/250)
Adapun yang dimaksud dengan lafadz “kami” di dalam surat Qaaf ayat 16 tersebut adalah para malaikat pencatat-pencatat amalan. Hal ini ditunjukkan sendiri oleh konteks ayat setelahnya. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir ath-Thabari, Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Ibnu Katsir dan para ulama yang lainnya. Sedangkan ath-Thilmanki dan al-Baghawi memilih pendapat bahwa yang dimaksud lafadz “lebih dekat” adalah ilmu dan kekuasaan-Nya lebih dekat dengan hambanya-Nya dari pada urat lehernya sendiri.
Imam ath-Thufi ketika mengomentari hadits Qudsi tersebut menya-takan bahwa ulama telah bersepakat kalau hadits tersebut merupakan sebuah ungkapan tentang pertolongan dan perhatian Allah terhadap hamba-hamba-Nya. Bukan hakikat Allah sebagai anggota badan hamba tersebut sebagaimana keyakinan Wihdatul Wujud. (Fathul Bari)Bahkan Imam Ibnu Rajab rahimahullah menegaskan bahwa barangsiapa mengarahkan pembicaraannya di dalam hadits ini kepada Wihdatul Wujud maka Allah dan rasul-Nya berlepas diri dari itu. (Jami’ul Ulum wal Hikam hal. 523-524 bersama Iqadhul Himam)

 

Beberapa ucapan batil berkait dengan aqidah ini

Dzat Allah ada di mana-mana
Ucapan ini sering dikatakan sebagian kaum muslimin ketika ditanya: “Di mana Allah?”
Sesungguhnya jawaban ini telah menyimpang dari al-Qur’an dan as-Sunnah serta kesepakatan Salaf.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Barang siapa yang mengatakan bahwa Dzat Allah ada di setiap tempat maka dia telah menyelisihi al-Qur’an, as-Sunnah dan kesepakatan Salaf. Bersamaan dengan itu dia menyelisihi fitrah dan akal yang Allah tetapkan bagi hamba-hambanya. (Majmu’ Fatawa, 5/125)
Dzat Allah ada di setiap hati seorang hamba.
Ini adalah jawaban yang tak jarang pula dikatakan sebagian kaum muslimin tatkala ditanya tentang keberadaan Allah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata; “Adapun keyakinan bahwa Dzat Allah ada di dalam hati setiap orang kafir maupun mukmin maka ini adalah batil. Tidak ada seorang pun dari pendahulu (Salaf) umat ini yang berkata seperti itu. Tidak pula Al Qur’an ataupun As Sunnah, bahkan Al Qur’an, As Sunnah, kesepakatan Salaf dan akal yang bersih justru bertentangan dengan keyakinan tersebut.” (Syarhu Haditsin Nuzuul, hal 375)
Beberapa ayat al-Qur’an yang membantah Aqidah ini
Ayat-ayat al-Qur’an secara gamblang menegaskan bahwa aqidah Manunggaling Kawula Gusti benar-benar batil.

Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَجَعَلُوا لَهُ مِنْ عِبَادِهِ جُزْءًا إِنَّ الإِنْسَانَ لَكَفُورٌ مُبِينٌ .

Dan mereka (orang-orang musyrikin) menjadikan sebagian hamba-hamba Allah sebagai bagian dari-Nya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar pengingkar yang nyata. (az-Zukhruf: 15)

 

فَاطِرُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الأَنْعَامِ أَزْوَاجًا يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ.

Dialah Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kalian sendiri yang berpasang-pasangan dan dari jenis binatang ternak yang berpasang-pasangan (pula), Dia jadikan kalian berkembang-biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat (Asy Syuraa: 11)

 

Perhatikanlah! Ketika Allah subhanahu wa Ta’ala menjawab permintaan Musa yang ingin melihat langsung wujud Allah di dunia. Allah pun berfirman:

لَنْ تَرَانِي وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ.

Kamu sekali-sekali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke gunung itu, tatkala ia tetap di tempat itu niscaya kamu dapat melihat-Ku. Tatkala Tuhan menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikan gunung itu hancur luluh dan Musa pun pingsan. Setelah sadar Musa berkata: “Maha suci Engkau, aku bertaubat dan aku orang yang pertama-tama beriman”. (Al A’raf: 143)

Wallahu a’lam

(Dikutip dari Buletin Islam al-Ilmu Edisi 30/II/I/1425, diterbitkan Yayasan as-Salafy Jember dengan sedikit editing)

Sumber : www.salafycirebon.com

Hukum Meninggikan Kuburan dan Menghiasinya

hukum-meninggikan-kubur

 

Syaikh Al-Allamah Shalih Al-Athram rahimahullah

Pertanyaan: Apa hukum meninggikan kuburan, menghiasinya dan apa pengaruh hal itu?

 

Jawaban:

Hukum meninggikan kuburan dan menghiasinya adalah:

Tidak boleh meninggikanya tidak pula menghiasinya, karena itu tergolong perbuatan ghuluw (berlebih-lebihan) yang bisa mengantarkan kepada keyakinan mengagungkannya dan meyakininya.

Dalam sebuah hadits :

ﻧﻬﻰ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ، – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ -، ﺃﻥ ﺗﺠﺼﺺ اﻟﻘﺒﻮﺭ ﻭﺃﻥ ﻳﺠﻠﺲ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺃﻭ ﻳﺒﻨﻰ ﻋﻠﻴﻬﺎ

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang meng-gipsum kuburan, duduk di atasnya atau membuat bangunan diatasnya.”

 

Hadits tersebut mengandung larangan berlaku ghuluw (berlebih-lebihan) dengan kuburan dan larangan menghinakannya.

Dan dari Ummu Salamah radhiallahu’anha bahwasanya beliau menyebutkan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam gereja yang ia lihat di negeri Habasyah dan gambar-gambar yang ada di dalamnya. Maka beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda :

«ﺃﻭﻟﺌﻚ ﺇﺫا ﻣﺎﺕ ﻓﻴﻬﻢ اﻟﺮﺟﻞ اﻟﺼﺎﻟﺢ ﺃﻭ اﻟﻌﺒﺪ اﻟﺼﺎﻟﺢ ﺑﻨﻮا ﻋﻠﻰ ﻗﺒﺮﻩ ﻣﺴﺠﺪا ﻭﺻﻮﺭﻭا ﻓﻴﻪ ﺗﻠﻚ اﻟﺼﻮﺭ ﺃﻭﻟﺌﻚ ﺷﺮاﺭ اﻟﺨﻠﻖ ﻋﻨﺪ اﻟﻠﻪ»

Mereka itu jika ada seorang yang shalih atau hamba shalih yang mati di tengah mereka, mereka membangun masjid di atas kuburannya, dan mereka membuat gambar di dalamnya dengan gambar-gambar tadi. Mereka itulah sejelek-jelek makhluk di sisi Allah.”

 

Dan dari Ali radhiallahu ‘anhu, beliau berkata kepada Abul Hayyaj Al-Asdy rahimahullah:

“ﺃﻻ ﺃﺑﻌﺜﻚ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺑﻌﺜﻨﻲ ﻋﻠﻴﻪ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ؟ – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ -، ﺃﻥ ﻻ ﺗﺪﻉ ﺻﻮﺭﺓ ﺇﻻ ﻃﻤﺴﺘﻬﺎ ﻭﻻ ﻗﺒﺮا ﻣﺸﺮﻓﺎ ﺇﻻ ﺳﻮﻳﺘﻪ”.

Tidakkah aku mengutusmu dengan apa yang aku diutus oleh Rasulullah dengannya; Janganlah engkau biarkan ada gambar kecuali engkau menghapusnya, dan kuburan yang ditinggikan kecuali engkau meratakannya.”

Maka nash-nash ini menunjukkan akan larangan membuat bangunan di atas kuburan, sebagaimana ditunjukan oleh hadits yang lain akan larangan memasang lentera pada kuburan. Beliau bersabda:

«ﻟﻌﻦ اﻟﻠﻪ ﺯاﺋﺮاﺕ اﻟﻘﺒﻮﺭ ﻭاﻟﻤﺘﺨﺬﻳﻦ ﻋﻠﻴﻬﺎ اﻟﻤﺴﺎﺟﺪ ﻭاﻟﺴﺮﺝ»

Allah melaknat wanita-wanita yang berziyarah kubur dan menjadikannya di atasnya masjid-masjid dan lentera-lentera.”

 

  • Dan diantara hiasan-hiasan yang dilarang adalah membuat tulisan di atas kuburan.
  • Demikian juga termasuk mengagungkannya yang dilarang syariat adalah meletakkan karangan-karangan bunga dan bunga-bunga di atasnya, atau
  • Mempersembahkan sesuatu kepadanya berupa harta/uang atau menyembelih binatang di sisinya.

Semua itu dan yang semisalnya termasuk perbuatan ghuluw terhadap kuburan yang dilarang secara syariat yang mengantarkan kepada KESYIRIKAN.

***

Sumber:  Al-As’ilah wal-ajwibah fil aqidah karya Syaikh Al-Allamah Shalih Al-Athram rahimahullah. 1/52.

Channel  Telegram Fatawa Ahlil Ilmi Ats-Tsiqaat.

________________________________________

  ﻣﺎ ﺣﻜﻢ ﺗﺸﻴﻴﺪ اﻟﻘﺒﻮﺭ ﻭﺯﺧﺮﻓﺘﻬﺎ ﻭﻣﺎ ﺁﺛﺎﺭ ﺫﻟﻚ؟

 اﻟﺠﻮاﺏ: ﺣﻜﻢ ﺗﺸﻴﻴﺪ اﻟﻘﺒﻮﺭ ﻭﺯﺧﺮﻓﺘﻬﺎ: ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺗﺸﻴﻴﺪﻫﺎ ﻭﻻ ﺯﺧﺮﻓﺘﻬﺎ ﻷﻥ ﻫﺬا ﻣﻦ ﺑﺎﺏ اﻟﻐﻠﻮ اﻟﻤﺆﺩﻱ ﺇﻟﻰ اﻋﺘﻘﺎﺩ ﺗﻌﻈﻴﻤﻬﺎ ﻭاﻻﻋﺘﻘﺎﺩ ﺑﻬﺎ ﻭﻓﻲ اﻟﺤﺪﻳﺚ ﻧﻬﻰ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ، – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ -، ﺃﻥ ﺗﺠﺼﺺ اﻟﻘﺒﻮﺭ ﻭﺃﻥ ﻳﺠﻠﺲ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺃﻭ ﻳﺒﻨﻰ ﻋﻠﻴﻬﺎ

ﻓﻘﺪ ﺗﻀﻤﻦ اﻟﺤﺪﻳﺚ اﻟﻨﻬﻲ ﻋﻦ اﻟﻐﻠﻮ ﺑﻬﺎ ﻭﻋﻦ ﺇﻫﺎﻧﺘﻬﺎ ﻭﻋﻦ ﺃﻡ ﺳﻠﻤﺔ ـ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﺎ ـ ﺃﻧﻬﺎ ﺫﻛﺮﺕ ﻟﺮﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ، – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ -، ﻛﻨﻴﺴﺔ ﺭﺃﺗﻬﺎ ﺑﺄﺭﺽ اﻟﺤﺒﺸﺔ ﻭﻣﺎ ﻓﻴﻬﺎ ﻣﻦ اﻟﺼﻮﺭ ﻓﻘﺎﻝ، – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ -: «ﺃﻭﻟﺌﻚ ﺇﺫا ﻣﺎﺕ ﻓﻴﻬﻢ اﻟﺮﺟﻞ اﻟﺼﺎﻟﺢ ﺃﻭ اﻟﻌﺒﺪ اﻟﺼﺎﻟﺢ ﺑﻨﻮا ﻋﻠﻰ ﻗﺒﺮﻩ ﻣﺴﺠﺪا ﻭﺻﻮﺭﻭا ﻓﻴﻪ ﺗﻠﻚ اﻟﺼﻮﺭ ﺃﻭﻟﺌﻚ ﺷﺮاﺭ اﻟﺨﻠﻖ ﻋﻨﺪ اﻟﻠﻪ»

ﻭﻋﻦ ﻋﻠﻲ ـ – ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ – ـ ﻗﺎﻝ ﻷﺑﻲ اﻟﻬﻴﺎﺝ اﻷﺳﺪﻱ: “ﺃﻻ ﺃﺑﻌﺜﻚ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺑﻌﺜﻨﻲ ﻋﻠﻴﻪ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ؟ – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ -، ﺃﻥ ﻻ ﺗﺪﻉ ﺻﻮﺭﺓ ﺇﻻ ﻃﻤﺴﺘﻬﺎ ﻭﻻ ﻗﺒﺮا ﻣﺸﺮﻓﺎ ﺇﻻ ﺳﻮﻳﺘﻪ”.

ﻓﺪﻟﺖ اﻟﻨﺼﻮﺹ ﻫﺬﻩ ﻋﻠﻰ ﻣﻨﻊ اﻟﺒﻨﺎء ﻋﻠﻰ اﻟﻘﺒﻮﺭ ﻛﻤﺎ ﺩﻝ اﻟﺤﺪﻳﺚ اﻵﺧﺮ ﻋﻠﻰ ﻣﻨﻊ ﺇﻧﺎﺭﺗﻬﺎ ﻗﺎﻝ، – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ -: «ﻟﻌﻦ اﻟﻠﻪ ﺯاﺋﺮاﺕ اﻟﻘﺒﻮﺭ ﻭاﻟﻤﺘﺨﺬﻳﻦ ﻋﻠﻴﻬﺎ اﻟﻤﺴﺎﺟﺪ ﻭاﻟﺴﺮﺝ»

.

ﻭﻣﻦ اﻟﺰﺧﺮﻓﺔ اﻟﻤﻤﻨﻮﻋﺔ اﻟﻜﺘﺎﺑﺔ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻭﻛﺬا ﻣﻦ ﺗﻌﻈﻴﻤﻬﺎ اﻟﻤﻤﻨﻮﻉ ﺷﺮﻋﺎ ﻭﺿﻊ ﺃﻛﺎﻟﻴﻞ اﻟﺰﻫﻮﺭ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺃﻭ ﺗﻘﺪﻳﻢ ﺷﻲء ﻟﻬﺎ ﻣﻦ اﻷﻣﻮاﻝ ﺃﻭ ﺳﻔﻚ اﻟﺪﻣﺎء ﻋﻨﺪﻫﺎ ﻛﻞ ﺫﻟﻚ ﻭﺃﺷﺒﺎﻫﻪ ﻣﻦ اﻟﻐﻠﻮ ﻓﻲ اﻟﻘﺒﻮﺭ اﻟﻤﻤﻨﻮﻉ ﺷﺮﻋﺎ اﻟﻤﺆﺩﻱ ﺇﻟﻰ اﻟﺸﺮﻙ.

  المصدر : الأسئلة والأجوبة في العقيدة للشيخ العلامة صالح الاطرم رحمه الله ( 1 / 52 )

 

Sumber: http://forumsalafy.net/hukum-meninggikan-kuburan-dan-menghiasinya-2/

 

Kewajiban Bertauhid dan Menjauhi Kesyirikan

kewajiban-bertauhid-dan-menjauhi-kesyirikan

 

Tujuan Diciptakannya Manusia
Tak jarang dari umat manusia yang belum memahami dengan sebenarnya akan hakekat keberadaannya di muka bumi ini.
Sebagian mereka beranggapan bahwa hidup ini hanyalah proses alamiah untuk menuju kematian. Sehingga hidup ini tak ubahnya hanyalah makan, minum, tidur, beraktifitas dan mati, lalu selesai! Tanpa adanya pertanggung jawaban amal di hari kiamat kelak.
Allah subhanahu wa ta’ala , Pencipta semesta alam mengingkari anggapan batil ini dengan firman-Nya (artinya):

“Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, (sebagian) kami ada yang mati dan sebagian lagi ada yang hidup (lahir). Dan tidak ada yang membinasakan kita kecuali masa.” Mereka sekali-kali tidak mengerti tentang hal itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (Al Jatsiyah: 24)
Bila demikian keadaannya, lalu apa tujuan diciptakannya kita di muka bumi ini?
Para pembaca, sesungguhnya keberadaan kita di muka bumi ini tidaklah sia-sia belaka.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya): “Apakah kalian mengira bahwa Kami menciptakan kalian sia-sia belaka?” (Al Mu’minun: 115)
Bahkan dengan tegas Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan (artinya): “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah (mengesakan ibadahnya) kepada-Ku, Aku tidak menghendaki rizki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan pada-Ku, Sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pemberi rizki Yang mempunyai kekuatan Lagi Maha Sangat Kuat” (Adz Dzariyat: 56-58)
Tentunya, ibadah di sini hanyalah berhak diberikan kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata, karena Dia-lah satu-satunya Pencipta kita dan seluruh alam semesta ini.

 

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya):

Hai manusia beribadahlah kepada Rabbmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap. Dan Dia yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan sebab itu segala buah-buahan sebagai rizki untukmu, karena itu janganlah kamu menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kamu mengetahui.” (Al Baqarah: 21-22)
Demikianlah hikmah dan tujuan penciptaan kita di muka bumi ini.

 

Makna Ibadah
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:

Ibadah adalah suatu nama yang mencakup seluruh perkara yang dicintai oleh Allah dan diridhai-Nya baik berupa ucapan maupun perbuatan, baik yang dhahir maupun batin.”
Asal ibadah adalah ketundukan dan perendahan diri. Suatu ibadah tidaklah dikatakan ibadah sampai pelakunya bertauhid yaitu mengikhlashkan peribadatan hanya kepada Allah dan meniadakan segala sesembahan kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala.

Atas dasar itu Ibnu Abbas berkata: “Makna beribadah kepada Allah adalah tauhidullah (yaitu mengesakan peribadahan hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala).
Itulah realisasi dari kalimat tauhid لاَ إِلهَ إلاَّ الله . لاَ إِلهَ إلاَّ الله merupakan kalimat yang sangat akrab dengan kita, bahkan kalimat inilah yang kita jadikan sebagai panji tauhid dan identitas keislaman. Ia sangat mudah diucapkan, namun menuntut adanya sebuah konsekuensi yang amat besar.

Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala gelari kalimat ini dengan “Al ‘Urwatul Wutsqo” (buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus), sebagaimana dalam firman-Nya:

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut (segala apa yang diibadahi selain Allah) dan beriman kepada Allah, maka sungguh ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al Baqarah: 256)

 

 

Dakwah Tauhid Adalah Misi Utama Yang Diemban Para Rasul
Tujuan pokok diutusnya para Rasul adalah menyeru umat manusia agar beribadah hanya kepada Allah semata, dan melarang dari peribadatan kepada selain-Nya, sebagaimana Allah berfirman (artinya):

“Sungguh tidaklah Kami mengutus seorang rasul pada setiap kelompok manusia kecuali untuk menyerukan: “Beribadalah kalian kepada Allah saja dan tinggalkan thaghut (yakni sesembahan selain Allah).” (An Nahl: 36)

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan padanya bahwa tidak ada sesembahan yang haq diibadahi melainkan Aku, maka beribadahlah kepada-Ku”. (Al Anbiya’: 25)
Nabi Nuh sebagai seorang rasul pertama mengajak umatnya kepada tauhid selama 950 tahun.Demikian pula Rasulullah selama 13 tahun tinggal di Mekkah menyeru umatnya kepada tauhid dan dilanjutkan di Madinah, sampai-sampai menjelang wafat pun beliau tetap mewanti-wanti tentang pentingnya tauhid dan bahayanya syirik, beliau berkata:

لَعَنَ اللهُ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيآئِهِمْ مَسَاجِدَ

“Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani karena mereka menjadikan kuburan nabi mereka sebagai sebagai masjid-masjid.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Sebagaimana pula yang beliau wasiatkan kepada Sahabat Mu’adz bin Jabal t tatkala diutus ke negeri Yaman:

إِنَّكَ تَقْدمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ ، فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوْهُمْ إِلَى أَنْ يُّوَحِّدُوا اللهَ تَعَالى …

“Sesungguhnya kamu akan mendatangi sekelompok kaum dari Ahlul Kitab, maka jadikanlah yang pertama kali dalam dakwahmu, (ajakan) supaya mereka mau bertauhid kepada Allah .” (HR. Muslim)

 

 

Tauhid Adalah Solusi Dari Problema Umat


Di kancah perselisihan dakwah dengan lahirnya berbagai macam bendera-bendera Islam yang semuanya mengatasnamakan Islam. Sebagian mereka mengatakan Islam tidak akan maju dan mulia selama tidak memperhatikan sisi ekonomi kaum muslimin.

Yang lain berpandangan bahwa medan politik adalah solusi umat, meraih kekuasan adalah target utama sebagai jembatan penegak syari’at di muka bumi, dan sekian banyak logika-logika yang hanya berdasarkan kepada perasaan ataupun emosional semata tanpa didasari dengan ilmu.
Para pembaca yang mulia, perhatikanlah berita penegasan dari Allah subhanahu wa ta’ala , bahwa dakwah tauhid yang merupakan tujuan diutusnya para rasul dan para nabi, dan diturunkannya kitab-kitab suci dari langit, adalah faktor terbesar untuk meraih kejayaan, mengangkat kehormatan, kemuliaan dan kesejahteraan kaum muslimin.

Allah berfirman (artinya):

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia benar-benar akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Yaitu mereka tetap beribadah hanya kepada-Ku dengan tiada mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An Nur: 55)
Jikalau penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami melimpahkan berkah dari langit dan bumi.” (Al A’raf: 96)
Dan tauhid merupakan landasan utama dari sebuah keimanan dan ketakwaan.

 

 

Keutamaan Tauhid


Allah subhanahu wa ta’ala tidaklah mewajibkan suatu perkara, melainkan pasti padanya terdapat keutamaan-keutamaan yang sangat mulia. Begitu pula dengan “Tauhid” yang merupakan perkara paling wajib dari perkara-perkara yang paling wajib, tentunya pasti mempunyai berbagai keutamaan.

Di antara keutamaannya ialah:

  1. Tauhid Adalah Tingkat Keimanan Yang Tertinggi
    Kita ketahui bahwa iman itu bertingkat-tingkat, dan tingkatan yang tertinggi adalah kalimat tauhid Laa Ilaaha Illallah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    “Iman itu ada enam puluh cabang lebih, yang paling tinggi adalah perkataan/ucapan Laa Ilaaha Illallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan.” (HR. Muslim)
  2. Tauhid Sebagai Syarat Diterimanya Suatu Ibadah
    Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya):
    “Seandainya mereka menyekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (Al An’am: 88)
  3. Tauhid Merupakan Sebab Bagi Datangnya Ampunan Allah
    Hal ini didasarkan kepada firman Allah subhanahu wa ta’ala: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik (ketika pelakunya meninggal dunia dan belum bertaubat darinya), dan Dia mengampuni dosa yang di bawah syirik bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (An Nisa’: 48 & 116)
  4. Tauhid Sebagai jaminan Masuk ke Al Jannah Tanpa Hisab
    Ketika para shahabat bertanya-tanya tentang 70.000 orang dari umat Muhammad r yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“… mereka adalah orang-orang yang tidak minta diruqyah, tidak minta dikay dan tidak mengundi nasib dengan burung dan sejenisnya dan mereka bertawakkal hanya kepada Allah.” (H.R. At Tirmidzi)
  5. Orang Yang Tauhidnya Benar Pasti Akan Masuk Al Jannah
    Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:“Barangsiapa bertemu Allah dalam keadaan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, niscaya dia akan masuk surga.” (H.R. Muslim)
  6. Tauhid Merupakan Sumber Keamanan
    Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala (artinya): “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kedhaliman (kesyirikan), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al An’am: 82)

 

Bagaimanakah Bahaya Syirik ?
Syirik merupakan lawan dari tauhid. Kalau tauhid mengandung makna menunggalkan Allah subhanahu wa ta’ala dalam hal ibadah, maka syirik mengandung makna menyekutukan Allah dalam hal ibadah. Di saat tauhid mempunyai banyak keutamaan maka sebaliknya syirik pun sangat berbahaya dan mempunyai banyak mudharat. Di antaranya adalah:

  1. Dosa Syirik Tidak Akan Diampuni Oleh Allah I
    Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya):
    “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik (ketika pelakunya meninggal dunia dan belum bertaubat darinya), dan Dia mengampuni dosa yang di bawah syirik bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (An Nisa’: 48 & 116)
  2. Kesyirikan Adalah Kedhaliman Yang Besar
    Firman Allah subhanahu wa ta’ala (artinya): “Sesungguhnya kesyirikan adalah kedhaliman yang besar.” (Luqman: 13)
  3. Orang Yang Meninggal Dunia Dalam Keadaan Musyrik Akan Masuk Neraka Dan Kekal Di Dalamnya
    Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya):
    “Sesungguhnya barangsiapa yang menyekutukan Allah maka sungguh Allah mengharamkan baginya surga, dan tempat kembalinya adalah neraka dan tidak ada penolong bagi orang-orang yang dhalim.” (Al Maidah: 72)
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:“Barangsiapa meninggal dunia dan dia berdo’a kepada selain Allah niscaya dia masuk neraka.” (HR. Al Bukhari)
  4. Kesyirikan Penyebab Terpecah Belahnya Umat
    Firman Allah subhanahu wa ta’ala (artinya):
    “Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (Ar Ruum: 31-32)
    Semoga Allah menjauhkan kita semua dari kesyirikan, dan menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang bertauhid, dan para penghuni jannah (surga)-Nya. Amin…

 

Sumber: mahad-assalafy.com/

Tauhid Awal Dakwah Ilallah – Salafy Magelang

al-quran-al-kareem-book-cover

Dakwah kepada jalan Allah subhanahu wa ta’ala menurut pandangan syariat adalah amalan dan bentuk ibadah yang besar, agung, dan mulia, apabila syaratnya terpenuhi dan tidak ada penghalangnya.

Dalil yang menunjukkan agungnya tugas ini sangat banyak, baik dari al- Qur’an, sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maupun amalan para nabi, rasul, serta orang-orang saleh.

Di antaranya ialah firman Allah,

وَمَنۡ أَحۡسَنُ قَوۡلٗا مِّمَّن دَعَآ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ ٣٣

Dan siapa lagi yang lebih baik ucapannya dari seseorang yang menyeru kepada Allah dan beramal saleh serta berkata, “Sesungguhnya saya termasuk orang-orang yang berserah diri?” (Fushilat: 33)

قُلۡ هَٰذِهِۦ سَبِيلِيٓ أَدۡعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِيۖ وَسُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ١٠٨

Katakanlah, “Ini adalah jalanku. Aku menyeru kepada Allah di atas ilmu, aku dan orang-orang yang mengikutiku (menyeru kepada Allah di atas ilmu). Mahasuci Allah dan aku tidak termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah.” (Yusuf: 108)

ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِۖ وَجَٰدِلۡهُم بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ ١٢٥

“Dan serulah ke jalan Rabbmu, dengan penuh hikmah dan nasihat yang baik, berdialoglah bersama mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabbmu lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia Maha Mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (an-Nahl: 125)

Secara umum, seluruh perjalanan hidup Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dakwah kepada jalan Allah subhanahu wa ta’ala. Sebab, jihad beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dakwah; amar ma’ruf dan nahi mungkar yang beliau lakukan adalah dakwah; mendidik umat adalah dakwah nasihat dan arahan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dakwah safar atau mukim beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, malam atau siang hari, adalah dalam rangka berdakwah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Barang siapa meneladani beliau, dia akan melakukan dakwah sebagaimana yang beliau lakukan sesuai dengan kemampuannya.

Dakwah memiliki tujuan dan langkah menuju keberhasilan. Di antara tujuannya adalah :

Menyambut perintah Allah subhanahu wa ta’ala sebagaimana dalam surat an-Nahl ayat 125.

Meneladani para rasul dan para nabi yang Allah subhanahu wa ta’ala utus sebagai dai kepada seluruh manusia.

Meneladani generasi setelah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi para pewarisnya, yaitu kalangan imam dan para mujahid yang mengangkat panji Islam.

Menyampaikan hidayah kepada makhluk agar mereka menggunakan waktu untuk ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan meninggalkan segala bentuk kemungkaran.

Mengharapkan nilai dan pahala dari Allah subhanahu wa ta’ala, karena melaksanakan kewajiban adalah dakwah kepada jalan Allah subhanahu wa ta’ala, serta melaksanakan amalan merupakan hal yang paling mulia dan utama.

Di antara langkah dakwah untuk meraih keberhasilan adalah (1) Berilmu tentang agama; (2) Sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (3) Ikhlas dan (4) Sabar. (Risalah Nashihatun Ghaliyatun wa Kanzun Tsamin hlm. 3, asy-Syaikh Zaid al-Madkhali)

 

Para Nabi dan Rasul, Teladan Para Dai

Berdakwah ke jalan Allah subhanahu wa ta’ala adalah tugas mulia nan suci yang telah diemban oleh para nabi dan rasul, serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka sampai hari kiamat.

dakwah

Tugas ini sangat agung dan berat. Tugas ini membutuhkan perjuangan dan pengorbanan, secara lahir dan batin. Tugas ini adalah perjuangan yang membutuhkan keikhlasan yang tinggi, kesabaran yang kuat, kejujuran langkah di atas rel agama tanpa menengok ke kiri dan ke kanan, tawakal dan keyakinan yang mendalam bahwa Allah subhanahu wa ta’ala akan membantu dan menolong setiap usaha dan derap langkahnya.

Di antara contoh keikhlasan para nabi dan rasul dalam memikul amanat ini, ialah firman Allah subhanahu wa ta’ala tentang ucapan Nabi Nuh ‘alaihis salam

وَمَآ أَسۡ‍َٔلُكُمۡ عَلَيۡهِ مِنۡ أَجۡرٍۖ إِنۡ أَجۡرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ١٠٩

“Aku tidak menuntut imbalan kepada kalian atas seruan-seruan itu, namun imbalanku hanya ada di sisi Rabbul ‘alamin.” (asy-Syu’ara: 109)

Ayat di atas memberikan pelajaran agar setiap dai selalu memantau niatnya. Jangan sampai niat dakwahnya keluar dari rel keikhlasan, seperti mencari dunia yang diidamkan, kedudukan yang diharapkan, sanjungan yang dicari, posisi di hati para pengikut, atau banyaknya pengikut yang membanjiri majelisnya.

Apabila niatan-niatan ini menjadi motor penggerak seorang dai dalam berdakwah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, bisa jadi dia akan memperoleh yang diniatkannya. Akan tetapi, nihil dari nilai akhirat, pengorbanan yang disodorkan akan tertolak, kegagalan menganga di depan mata, ditambah lagi azab dan ancaman Allah subhanahu wa ta’ala menunggu dalam kehidupan yang kekal kelak.

Adakah kerugian yang lebih besar dari semua ini? Saat dia menyangka telah melakukan yang terbaik di dalam hidup?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Aku Dzat yang paling tidak memerlukan sekutu dalam bentuk apa pun. Barang siapa mengerjakan satu amalan yang dia sekutukan padanya bersama-Ku sesuatu selain-Ku, niscaya Aku biarkan dia dan syiriknya.” (HR. Muslim no. 5300)

Setelah menjelaskan bahwa riya’ yang murni adalah akhlak orang munafik dan orang kafir, Ibnu Rajab rahimahullah dalam kitab Jami’ al-‘Ulum wal Hikam (1/24) mengatakan, “Riya’ yang murni ini hampir tidak ada pada diri seorang mukmin dalam ibadah shalat dan ibadah puasa. Akan tetapi, terkadang muncul pada amalan yang terkait dengan orang lain, seperti sedekah yang wajib, haji, dan amalan lahiriah lain yang menyangkut orang lain. Sesungguhnya, keikhlasan pada amalan tersebut sangatlah sulit. (Apabila amalan tersebut disertai riya’) tidak diragukan oleh seorang muslim bahwa nilai pahalanya akan terhapus dan pelakunya pantas mendapatkan kebencian dan hukuman dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Mengkaji ucapan Ibnu Rajab rahimahullah di atas, dakwah adalah amalan lahiriah yang tampak manfaatnya bagi orang lain. Sungguh, keikhlasan dalam berdakwah amat sulit dan berat. Karena itu, butuh perjuangan yang keras untuk menjadi orang yang ikhlas berdakwah.

Yahya bin Abi Katsir rahimahullah berkata, “Belajarlah niat (keikhlasan), sesungguhnya niat lebih tinggi daripada amal.” (Riwayat Abu Nu’aim dalam al-Hilyah, 3/70)

Mutharrif bin Abdullah berkata, “Baiknya hati terwujud dengan bagusnya amal. Baiknya amal ada dengan bagusnya hati.” (Riwayat Abu Nu’aim dalam al- Hilyah, 2/199)

Selain meneladani keikhlasan para nabi dan rasul dalam berdakwah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, para dai pun semestinya meneladani mereka dalam hal kelurusan langkah dan jalan dakwah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Artinya, dakwah yang dia lakukan tidak keluar dari koridor syariat dan tidak melenceng dari kelurusan jalan wahyu. Dia tidak mengada-ada dalam jalan dakwah, karena hal ini termasuk kebid’ahan dalam agama dan sebuah kesesatan dalam syariat.

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa melakukan amalan yang tidak ada perintahnya dariku, amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 3243)

 

Memulai dari Diri Sendiri

Setelah mengetahui besar dan mulianya kedudukan dakwah, yang akan selalu diiringi ujian dan cobaan, sepantasnya setiap dai melakukan pembenahan diri dan introspeksi. Jangan sampai usaha yang dia lakukan menjadi senjata makan tuan di kemudian hari.

Bukankah Allah subhanahu wa ta’ala telah mencela perilaku orang Yahudi dan Nasrani,

أَتَأۡمُرُونَ ٱلنَّاسَ بِٱلۡبِرِّ وَتَنسَوۡنَ أَنفُسَكُمۡ وَأَنتُمۡ تَتۡلُونَ ٱلۡكِتَٰبَۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ ٤٤

“Apakah kalian mengajak manusia kepada kebaikan, sementara kalian melupakan diri kalian, padahal kalian membaca al-Kitab? Tidakkah kalian berpikir?” (al-Baqarah: 44)

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفۡعَلُونَ ٢ كَبُرَ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُواْ مَا لَا تَفۡعَلُونَ ٣

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian perbuat? Sangat besar kebencian di sisi Allah karena kalian mengatakan apa yang tidak kalian perbuat.” (ash-Shaf: 2—3)

Seorang dai tentu berharap pengabdiannya diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan bernilai tinggi di sisi-Nya. Di samping itu, dia berharap agar semua hamba Allah subhanahu wa ta’ala mendapatkan hidayah melalui tangannya. Hal ini sangat terkait dengan keikhlasan dan kejujuran sang dai dalam berdakwah di jalan Allah subhanahu wa ta’ala.

Oleh karena itu, dia harus selalu melakukan koreksi pada lahiriah dan batiniah dirinya. Renungkan baik-baik bimbingan Allah subhanahu wa ta’ala melalui firman-Nya,

وَٱلۡعَصۡرِ ١  إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ ٢  إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ٣

“Demi masa, sesungguhnya setiap manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.” (al-Ashr: 1—3)

Dalam Hasyiyah Tsalatsatil Ushul (hlm. 13), asy-Syaikh Abdur Rahman bin Qashim al-Hambali an-Najdi berkata, “Di dalam surat yang mulia ini, terdapat tanbih (peringatan) bahwa semua jenis manusia berada dalam kerugian, selain orang-orang yang telah dikecualikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Mereka adalah orang yang menyempurnakan dirinya dengan (1) kekuatan ilmu dengan cara beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan, (2) kekuatan amaliah dengan cara melakukan ketaatan. Ini adalah lambang kesempurnaan pada dirinya.

Setelah itu, dia berusaha menyempurnakan orang lain dengan mewasiatkan (mendakwahkan) apa yang telah dia ilmui dan amalkan, serta memerintahkan kepadanya. Yang akan mengendalikan semua ini adalah kesabaran. Inilah puncak kesempurnaan. Banyak sekali hal yang semakna dengan ini dalam al-Qur’an.”

Di sinilah letak makna ucapan Ibnu Qayyim rahimahullah tentang tingkatan jihad dalam kitab beliau, Zadul Ma’ad (3/10), yang dinukil oleh asy-Syaikh Abdur Rahman bin Qashim dalam Hasyiyah Tsalatsatil Ushul (hlm. 14) sebagai berikut.

Jihad melawan diri ada empat tingkatan :

Menjihadi diri agar mempelajari petunjuk dan agama yang haq, yang tidak ada kebahagiaan dan kesenangan dalam hidup di dunia dan akhirat kecuali dengan sebabnya.

Apabila hal ini luput darinya, dia akan celaka di dunia dan di akhirat.

Menjihadi diri agar mengamalkan ilmunya.

Jika dia tidak mengamalkan ilmunya, bisa memudaratkan dirinya atau tidak bermanfaat.

Menjihadi diri agar mau berdakwah kepadanya, mengajarkan orang yang tidak mengetahui.

Jika tidak melakukannya, dia termasuk orang yang menyembunyikan ilmu yang telah diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala berupa petunjuk dan bayyinah (keterangan yang jelas). Ilmunya tidak akan berguna dan tidak akan menyelamatkan dirinya dari azab Allah subhanahu wa ta’ala.

Menjihadi diri agar mau bersabar untuk memikul beban dakwah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan dari segala gangguan dan dia memikulnya karena Allah subhanahu wa ta’ala.

Jika telah sempurna pada dirinya empat hal ini, niscaya dia dinamakan seorang rabbani.

Para salaf umat ini telah bersepakat bahwa seseorang tidak dikatakan rabbani hingga mengilmui kebenaran, mengamalkan, dan mengajarkannya. Barang siapa berilmu, mengamalkan, dan mengajarkannya, niscaya dia menjadi orang yang mulia di hadapan malaikat.

As-Sa’di rahimahullah dalam syarah beliau terhadap Kitab at-Tauhid karya asy-Syakh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah mengomentari penulisan bab yang beliau buat dalam kitab tersebut,

“Urutan yang disebutkan oleh pengarang (asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab) sangat tepat. Pada babbab sebelumnya, beliau telah menyebutkan wajibnya mentauhidkan Allah dan keutamaannya, lalu mendorong manusia untuk bertauhid dan menyempurnakan tauhid, merealisasikannya secara lahir dan batin, serta takut dari lawan tauhid tersebut, yaitu syirik. Ini semua adalah usaha menyempurnakan diri sendiri.

Setelah itu, dalam bab ini (seruan menuju syahadat La ilaha illallah) beliau menyebutkan usaha untuk menyempurnakan orang lain dengan cara mengajak mereka kepada kalimat tauhid. Ketauhidan seseorang hamba tidak sempurna hingga dia menyempurnakan dirinya dengan semua tingkatan tauhid, lalu berusaha menyempurnakan orang lain. Inilah langkah yang ditempuh oleh seluruh nabi.” (al-Qaulus Sadid, hlm. 20)

Memulai dari Tauhid

Mengapa kita harus memulai dari tauhid di dalam dakwah kepada Allah subhanahu wa ta’ala?

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah dalam risalah Mujmal ‘Aqidah as-Salaf ash-Shalih (hlm. 6) berkata, “Akidah adalah asas agama dan intisari dakwah para rasul, sejak rasul yang pertama, yaitu Nabi Nuh ‘alaihissalam sampai rasul yang terakhir.”

Selain itu, masalah akidah inilah yang akan ditanya kelak pada hari kiamat, seperti disebutkan dalam sebuah atsar, ‘Dua kalimat yang akan ditanyakan tentangnya orang dahulu dan orang belakangan, yaitu: Apa yang kalian sembah? Bagaimana tanggapan kalian terhadap para rasul?’

Kedua kalimat inilah yang akan ditanya setiap hamba kelak pada hari kiamat. Jawaban yang pertama adalah syahadat La Ilaha Illallah. Jawaban yang kedua adalah syahadat Muhammad Rasulullah.”

Tauhid

As-Sa’di rahimahullah dalam kitab Qaul as-Sadid (hlm. 3—9) menjelaskan tentang keutamaan tauhid yang menjadi inti sari dakwah para rasul. Di antaranya:

Tauhid adalah sebab yang paling besar untuk terlepas dari segala marabahaya dunia dan akhirat, menolak segala hukuman pada keduanya,

Tauhid menyebabkan seseorang tidak kekal di dalam neraka jika di dalam hati orang tersebut masih terdapat sebesar biji sawi dari keimanan,

Tauhid menyebabkan seseorang mendapatkan petunjuk dan rasa aman yang sempurna di dunia dan di akhirat.

Tauhid adalah satu-satunya sebab untuk mendapatkan ridha dan pahala dari Allah subhanahu wa ta’ala, karena orang yang paling berbahagia mendapat syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang mengucapkan La Ilaha Illallah ikhlas dari dalam hatinya.

Teluruh amal dan ucapan lahiriah akan diterima, serta sempurna dan bernilai tergantung dengan tauhid.

Tauhid memudahkan seseorang untuk melaksanakan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran, serta menyenangkannya dari musibah.

Tauhid membantu seseorang menemukan keringanan saat menjumpai sesuatu yang tidak disukainya, ringan atasnya segala yang menyakitkan.

Tauhid memerdekakan manusia dari perbudakan kepada makhluk, ketergantungan dengan mereka, ketakutan kepada mereka, harapan kepada mereka, dan berbuat untuk mereka.

Tauhid menjadikan nilai amalan berlipat-lipat tanpa batas,

Tauhid menjamin kemenangan dengan adanya pertolongan di dunia.

Tauhid menjadi sebab seseorang mendapat kemuliaan, ketinggian, kemudahan, diperbaikinya segala ucapan dan amalan,

Tauhid menjadi sebab Allah subhanahu wa ta’ala akan menolak segala kejelekan hidup, baik di dunia dan di akhirat, dan menggantinya dengan ketenangan dan kenyamanan.”

Ibnu Qayyim rahimahullah dalam Madarijus Salikin (3/443) berkata, “Tauhid adalah awal dakwah para rasul, jalan pertama yang harus dilalui, dan tempat bertolak untuk melangkah menuju Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوۡمِهِۦ فَقَالَ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥٓ

“Sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya dan dia menyerukan, ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada sembahan kalian selain-Nya’.” (al-A’raf: 59)

قَالَ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥٓۚ

“Hud berkata kepada kaumnya, ‘Sembahlah Allah, tidak ada sembahan kalian selain-Nya’.” (al-A’raf: 65)

قَالَ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥۖ

“Shalih berkata kepada kaumnya, ‘Sembahlah Allah, tidak ada sembahan kalian selain-Nya’.” (al-A’raf: 73)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِي كُلِّ أُمَّةٖ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّٰغُوتَۖ

“Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul; (mereka berkata), ‘Sembahlah Allah subhanahu wa ta’ala dan jauhilah thagut’.” (an-Nahl: 36)

Tauhid adalah pembuka dakwah para rasul. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepada Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu yang beliau utus ke negeri Yaman,

“Sesungguhnya kamu akan mendatangi kaum dari ahli kitab. Hendaklah yang pertama kamu serukan agar mereka beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata. Apabila mereka telah menyaksikan kalimat syahadat La Ilaha Illallah wa Muhammadun Rasulullah, beri tahukan kepada mereka bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah mewajibkan atas mereka shalat lima waktu sehari semalam… dst.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka menyaksikan bahwa tidak ada sembahan yang benar selain Allah dan bahwa Muhammad adalah rasul Allah.”

Berdasarkan ini semua, kewajiban yang paling wajib bagi seorang mukallaf adalah bersyahadat terhadap kalimat La ilaha illallah; bukan (langkah-langkah ahli filsafat yang tercela) seperti nazhar (meneliti dengan landasan akal semata), atau keinginan untuk meneliti bukan pula keragu-raguan.

Tauhid adalah hal pertama yang akan menjadikan seseorang masuk ke dalam Islam, sekaligus hal terakhir bagi seorang muslim ketika menutup hidupnya di dunia. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barang siapa yang akhir ucapannya adalah kalimat La Ilaha Illallah, dia akan masuk ke dalam surga.”

Tauhid adalah kewajiban yang paling pertama dan yang paling akhir. Tauhid adalah urusan yang pertama dan yang terakhir.

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata dalam Kitabut Tauhid bab “Berdakwah kepada syahadat La Ilaha Illallah” saat menjelaskan pelajaran dari hadits pengutusan Mu’adz ke negeri Yaman,

“(1) tauhid adalah kewajiban yang paling pertama

(2) memulai dengan tauhid sebelum segala sesuatu walaupun shalat

(3) mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala adalah makna syahadat La Ilaha Illallah

(4) ahli kitab terkadang tidak mengetahui maknanya, atau mengetahui maknanya tetapi tidak mengamalkannya

(5) mengajar dengan cara bertahap dan

(6) memulai dari yang paling penting (menauhidkan Allah) diikuti hal penting yang berikutnya….”

Wallahu a’lam.

 

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Usamah Abdur Rahman

 

Sumber: http://asysyariah.com