Benarkah Umur Umat Islam Hanya 1500 Tahun? dan Perang Suriah Tanda Akhir Zaman?

Benarkah Umur Umat Islam Hanya 1500 Tahun? dan Perang Suriah Tanda Akhir Zaman?

Kedustaan-kedustaan informasi dalam agama akhir-akhir ini sudah pada tingkat yang menghawatirkan, dan masuk ke ranah pendangkalan Aqidah Islam. Banyak beredar berita berita Hoax (bohong). Termasuk prediksi para analis atau ustad yang tidak jelas manhajnya, seolah mereka mengetahui hal yang ghaib yang hanya Allah saja yang mengetahuinya. Termasuk perkara umur umat Islam ini. Apakah mereka mendapat wahyu sehingga lancang berbuat demikian?.

Simak jawabanya dengan detail. Transkrip audio di bawah ini berikut download audio jawaban dari ustadz Usamah Mahri LC, sehingga memberikan pencerahan,agar kita kembali ulama Islam, para ulama Sunnah, ulama Syariat. Merekalah yang diambil ilmunya bukan para analisa ngawur ini.

Transkrip Audio pertanyaan dan jawaban.

Pertanyaan

Apa benar umur umat Islam tidak sampai 1500 Hijriah?, bagaimana dengan analisa para pakar Islam dengan hadits-hadits Rosul tentang konflik Suriah dengan tanda akhir zaman?

Jawaban (oleh Ustad Usamah Mahri)

Wallahu a’lam hadza dhorbun bil ghoib (dugaan yang tidak didukung dengan dalil). Bicara dengan ghoib yang tidak ada dalilnya, tidak ada dasarnya.

Bagaimana dengan analisa para pakar Islam dengan hadits-hadits Rosul tentang perang konflik Suriah dengan tanda akhir zaman?.

Kadzabun (dusta) analisa, tahu dari mana dia, perkara ghoib, tidak akan sampai umur sekian,sekian?. Perkara ghoib harus berdasarkan wahyu, kita pun tidak akan tahu yang ghoib kalo bukan karena nash dalil yang berbicara.

Dan apa yang terjadi di Siria, di Alepo maupun yang lain, musibah tentunya bagi umat Islam, membuat sedih bagi setiap muslim. Tetapi tidak berarti Islam akan musnah, kadzab (dusta). Rosullulah katakan, laa tazaalu thooifatun min ummati dhohiriina alal haq, akan tetap ada sekelompok dari ummatku ini yang yang di atas al haq laa yadhurruhum man khodalahum, tidak akan memadhorotkan mereka orang yang meninggalkan pertolongan kepada mereka yang menyellisihi mereka sampai datang ketetapan .Allah.

Kalaupun disebagian negeri, disebagian daerah, umat Islam tertindas, terbantai, terbunuh nasarahumullah (semoga Allah bela mereka, Allah bantu, Allah lindungi), Allah hancurkan musuh2nya. Di daerah lain al izzah (kaum muslimin mulia kuat) wa hakadza (dan demikianlah). Musnah semua umat Islam tanpa tersisa, gak mungkin, mustahil. kejadianya naam (iya) disebagian tempat terbunuh, terdholimi. Tapi tempat lain jaya Umat Islam, gak akan umat itu mati total di seluruh dunia. Tapi kejadianya seperti itu, sebagian tempat naam (iya), sebagian waktu naam (iya), total smuanya gak mungkin.

Dan itu hadits Rosul Shallallahu Alaihi Wassallam, terus akan ada yang jaya. Selain dari pada itu, sejarah juga membuktikan. Ketika pasukan kufar (orang-orang kafir) musrikin Tartar Mongol membantai kaum muslimin di Bagdad. Jenghiskan dan pasukanya merambah kesana-kemari sampai ke Syam. Dan sama seperti di Bagdad, dia (Jenghiskan) bantai habis-habisan kaum Muslimin, di Syam, Syam sekarang Siria dan sekitarnya. Sampai-sampai Ibnu Katsir Rahimahullah sebutkan, orang pada berbicara habis Islam di syam, lenyap sudah, ga tersisa, oleh kebengisan dan kekejaman Mongol Tartar. Kalian tahu bagaimana kekejaman tartar di Bagdad, tapi dusta semua itu (kaum Muslimin habis) gak benar.

Selang beberapa waktu ga lama dari itu, bangkit kaum muslimin meregka galang kekuatan, mereka berjihad fii Sabilillah (di jalan Allah). Sehingga terjadi kembali peperagan besar tercatat dalam sejarah yang dinamakan dengan perang Ainul Jalut. Perang besar, di Syam antara Muslimin dengan tentara Mongol Tartar. Dengan izin Allah, Allah beri kemenangan kepada kaum muslimin. Habis Tartar dan Mongol, kembali jaya kaum Muslimin. Ga ada (Muslim habis total), Ibtila’ dari Allah musibah (memang) terjadi. Jangan dengar analisa para pakar (ngawur). Tapi lihat penjelasan ulama Islam, para ulama Sunnah, ulama Syariat, mereka yang diambil ilmunya bukan para analisa ini.

Admin salafymagelang.com

Kisah Bisnis Muslim dengan Orang Yahudi

Kisah Bisnis Muslim dengan Orang Yahudi

Pada tahun ke 7 Hijriah, Daerah Khaibar resmi secara legalitas masuk kekuasan kaum muslimin di bawah pemerintahan Nabi Muhammad. Kampung Khaibar banyak dihuni oleh sekelompok orang Yahudi. Kampung tersebut dimiliki oleh kaum muslimin. Adapun orang Yahudi, apakah ditindas?, didzolimi?, tidak sama sekali, justru mereka mendapatkan keadilan di bawah pemerintahan Nabi Muhammad Rosullullah Shollallahu alaihi wasallam dan dalam kondisi terlindungi.

Orang Yahudi khaibar lebih mengetahui tentang urusan pertanian, adapun kaum muslimin tidak sempat mengurus pertanian dan cocok tanam, karena berjihad di Jalan Allah dan berdakwah kepada-Nya menyebarkan ajaran Islam yang rahmatan lil ‘aalamiin. Oleh karena itu Nabi Muhammad memberikan persetujuan kepada orang Yahudi di khaibar untuk melakukan cocok tanam dan penyiraman pohon, dan upah mereka adalah setengah (50%) dari hasil panen buah dan pertanian, sebagai ganti pekerjaan dan biaya yang dikeluarkan. Sedangkan kaum muslimin mendapatkan setengah yang tersisa karena mereka adalah pemilik tanah tersebut,

Model Transaksi tersebut terus berlanjut di masa Nabi Muhammad hingga masa Khalifah Abu Bakar Ash-shiddiq Rodhiallahu anhu. Landasan hukumnya adalah hadits berikut ini.

investasi islami

Faidahnya dari peristiwa tersebut nampak keadilan Islam dan bolehnya melakukan mu’amalah dengan orang-orang kafir dalam pertanian, perdagangan, pendirian bangunan, pembuatan barang dan sebagainya dari berbagai bentuk mu’amalah.

Referensi :

Terjemah Taisirul Allam (syarh/Penjelasan ‘Umdatul Ahkam jilid 2) kitab Haji, Mu’amalah, Jual Belli, Waris, Nikah. Penulis Asli Asy-Syaih Abdullah Bin Abdurrahman Ibnu Shalih alu Bassam.

Admin Salafymagelang.com

Bahaya Radikalisme dan Komunisme Bagi NKRI

Bahaya Radikalisme dan Komunisme Bagi NKRI

bahaya radikalisme dan komunisme bagi NKRI

Sadar, sadarlah pemuda Indonesia, sadarlah elemen bangsa Indonesia, negeri kita sedang dibidik oleh orang orang kafir, dan itu ancaman nyata. Banyak kepentingan yang dari luar maupun dari dalam untuk menghancurkan Indonesia, NKRI yang mayoritas penduduk di dalamnya Muslim. Selain itu negara kita dengan kekayaan alamnya diperebutkan berbagai pihak. Siapa penunggang kuda Troya dibalik Radikalisme dan Komunisme di Indonesia? Bagaimana metode mereka untuk menghancurkan NKRI?. Bagaimana solusi terbaik bagi Bangsa Indonesia keluar dari problematika besar yang akan mencaplok negara kita?.

Ikuti audio kajiannya oleh Al-Ustad Muhammad Umar As-Sewed. Link Download Audio Kajian

Biografi ringkas Beliau :

1. Beliau adalah Murid Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah Ulama besar Saudi Arabia.

2. Mudir Ma’had Dhiya’us Sunnah Cirebon Jawa Barat (www.salafycirebon.com).

3. Penasehat majalah AsySyari’ah.

4. Pembina Radio Rasyid (www.radiorasyid.com) dan Radio Adh Dhiya 107.7FM Cirebon.

Tambahan Deskripsi Kajian

Lokasi : Masjid Agung An-Nuur jalan Soekarno-Hatta no 1 Kota Mungkid Magelang Jawa Tengah.

Acara dihadiri : Pejabat Sipil, Militer maupun Kepolisian unsur Muspida dan Muspika Magelang Jawa Tengah, serta lembaga pendidikan, dan lembaga keagamaan Islam dan tamu undangan lainya.

Jazakumullahu Khairan.

Barakah Ilmu Hadits Akan Tampak Pada Dua Hal Ini

Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah mengatakan:

Barakah ilmu hadits itu akan tampak pada:

Yang pertama, akhlak ahlul hadits

Kemudian yang kedua tampak pada pemikiran dan madzhabnya

Jika engkau melihat seorang ahli hadits, namun ternyata akhlaknya tidak baik dan pemikirannya (akidah dan manhajnya) tidak lurus, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya dia itu belajar hadits karena perkara duniawi, bisa jadi karena ingin mendapatkan harta, dan bisa jadi karena ingin mencari popularitas.

Maka tentu menjadi sebuah problema, manakala ada orang yang sibuk bergelut dengan hadits, namun ternyata tidak memberikan pengaruh baginya!!.

Dinukil dari http://www.albaidha.net/vb/

منتديات-البيضاء-العلمية/الـمـــنابـــر-الـعـلـمـيـــة/الـمـنـبــر-الـــعــــام/23405-رحم-الله-الشيخ-الألباني

قال الشيخ الألباني رحمه الله :
علم الحديث بركته في خلق المحدث أولاً ثم فكره ومذهبه ثانياً ، فإذا رأيت حديثياً لم يتحسن خلقه ولم يستقم فكره فافهم أن دراسته للحديث لأمر دنيوي ؛ قد يكون للمال ، قد يكون للظهور ؛ فمشكلة من يشتغلون بالحديث أنهم لا يتاثرون به.

Sumber Artikel : http://mahad-assalafy.com/2016/10/30/barakah-ilmu-hadits-tampak-dua-hal/

Apa Hukum Seorang yang Durhaka Kepada Kedua Orang Tuanya, dan Bagaimana Cara Bertaubat Darinya?

APA HUKUM SEORANG YANG DURHAKA KEPADA KEDUA ORANG TUANYA, DAN BAGAIMANA CARA BERTAUBAT DARINYA?

Asy Syaikh Shalih Fauzan bin Abdillah al Fauzan حفظه الله

Pertanyaan: Apa hukum seorang yang durhaka kepada kedua orang tuanya dan bagaimana cara bertaubatnya?

Jawaban:

Durhaka kepada kedua orang tua merupakan salah satu dosa besar, bahkan dia terletak setelah dosa syirik dikarenakan hak kedua orang tua terletak setelah hak Allah,

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا
تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“.beribadalah hanya kepada Allah dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua”.

وَقَضَىٰ رَبُّكَ
أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“dan Robbmu memutuskan agar kalian jangan beribadah kepada selain Allah dan hendaknya kalian berbuat baik kepada kedua orang tua”.

Maka durhaka kepada keduanya merupakan dosa besar. Kalau keduanya masih hidup, maka mintalah maaf kepada keduanya dan bertaubatlah kepada Allah, kemudian berbaktilah kepada keduanya. Adapun kalau keduanya telah wafat dalam keadaan dia durhaka kepada keduanya, maka mintakanlah ampun kepada Allah untuk kedua orangtuanya, mendoakan kebaikan untuk keduanya, dan bersedekah untuk keduanya yang semoga Allah meringankan dosa kedurhakan dia dengan sebab amalan tersebut.

Sumber: http://alfawzan.af.org.sa/node/15449

Alih bahasa : Syabab Forum Salafy

***   ***

ما حكم عقوق الوالدين وما السبيل للتوبة؟

السؤال:
ما حكم عقوق الوالدين وما السبيل للتوبة؟

الجواب: عقوق الوالدين
كبيرة من كبائر الذنوب يأتي بعد الشرك بالله -عز وجل-لأن حق الوالدين يأتي بعد حق
الله}وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا
تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا)،(وَقَضَىٰ رَبُّكَ
أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ{فعقوقهما كبيرة من كبائر الذنوب فإن كانا حيين فإنه يستسمحهما ويتوب إلى
الله ويبر بهما وإن كانا ميتين وقد عقّهُما فإنه يستغفر الله لهما ويدعوا الله لها

ويتصدق عنهما لعل الله أن يخفف عنه ذلك.

Sumber Artikel : http://forumsalafy.net/apa-hukum-seorang-yang-durhaka-kepada-kedua-orang-tuanya-dan-bagaimana-cara-bertaubat-darinya/

Wajah Asli Syiah Rafidhah (Menyingkap Topeng Syiah)

 wajah-asli-syiah

Tema pembahasan ini mungkin sudah kesekian kalinya. Bukan hanya di lembar singkat ini saja, akan tetapi bahaya Syiah telah banyak dipaparkan di berbagai media. Bahkan, Majelis Ulama Indonesia dan Mahkamah Agung, sebagai lembaga resmi pemerintah, telah mengeluarkan fatwa dan surat keputusan bahwa Syiah merupakan aliran sesat lagi terlarang di Indonesia. Bahkan bukti-bukti menunjukkan Syiah bukan bagian dari Islam.

Pembaca, mari sejenak mengulas kembali hakikat ajaran Syiah dalam tajuk “Wajah Asli Syiah Rafidhah.” Harapannya, masyarakat menjadi sadar dan tidak tertipu dengan topeng indah Syiah. Fokus pembahasan kita kali ini terkait dengan keimanan terhadap al-Qur’an. Satu poin ini saja, mampu membedakan antara agama Islam dengan agama Syiah, belum lagi poin-poin yang lainnya. Selamat menyimak!

Al-Qur’an, Kitab yang Terjaga

Sebagai muslim, kita semua memiliki keyakinan bahwa al-Qur’an adalah kitab suci agama Islam. Keyakinan ini merupakan salah satu kandungan dari rukun Iman yang ketiga, yaitu beriman terhadap kitab-kitab Allah. Al-Qur’an adalah kalam ilahi yang di dalamnya terdapat syariat Islam yang mulia.

Subtansi lain dari beriman terhadap kitab al-Qur’an adalah meyakini bahwa al-Qur’an diturunkan oleh Allah melalui malaikat Jibril kepada nabi Muhammad. Allah berfirman,

وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ * نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ

Sesungguhnya ia (al-Qur’an) benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam. Yang dibawa oleh Ruh yang terpercaya (Jibril).” (QS. asy-Syu’ara: 192-193)

Dalam ayat di atas, Jibril disifati sebagai Ruh yang terpercaya. Artinya, Jibril selalu amanah dalam menyampaikan wahyu dari Allah kepada Nabi Muhammad, termasuk al-Qur’an. Sehingga, tidak ada yang dirubah, ditambahi maupun dikurangi. Ini merupakan salah satu bentuk penjagaan terhadap keotentikan al-Qur’an. Sehingga tidak ada kejanggalan maupun kesalahan dalam al-Qur’an. Oleh karena itu, Allah menegaskan sifat al-Qur’an,

لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

Yang tidak datang kepadanya (al -Qur’an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (QS. Fushilat: 42)

Kesimpulannya, bahwa al-Qur’an sejak diturunkannya telah dijaga. Bahkan, hingga hari kiamat kitab suci umat Islam ini juga tetap akan terjaga. Dari generasi ke generasi, para penghafal al-Qur’an (huffazhul-Qur’an) terus dijumpai. Allah berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.” (QS. al-Hijr: 9)

Pembaca, ayat di atas adalah jaminan keotentikan al-Qur’an dari Allah. Al-Qur’an akan terjaga selama-lamanya. Inilah salah satu keyakinan umat Islam, sejak zaman Nabi Muhammad hingga hari kiamat. Sebuah keyakinan yang tidak bisa ditawar-tawar. Dengan keyakinan ini pula, terbedakan antara seorang muslim dengan seorang kafir.

Al-Qur’an di Mata Syiah

Namun, keyakinan umat Islam yang telah diyakini secara ijma’ (konsensus) dan turun-temurun ini diingkari oleh sekte Syiah Rafidhah. Berikut ini beberapa penyimpangan ajaran Syiah yang ternyata bertolak belakang dengan ajaran Islam.

Inilah wajah asli Syiah Rafidhah. Dalam kitab Awail al-Maqalat hal. 80-81, seorang ulama Syiah, al-Mufid, menyatakan bahwa al-Qur’an yang ada saat ini tidak orisinil. Al-Qur’an sekarang sudah mengalami distorsi, penambahan dan pengurangan. Baqir al-Majlisi, tokoh Syiah, mengatakan dalam kitab Mir’atul Uqul Syarh al-Kafi lil Kulaini vol. 12/525 bahwa al-Qur’an telah mengalami pengurangan dan perubahan. Tokoh mufassir Syiah, Ali bin Ibrahim al-Qummi, menegaskan dalam mukadimah tafsirnya hal. 5, 9, 10 dan 11 bahwa ayat-ayat al-Qur’an ada yang dirubah sehingga tidak sesuai dengan ayat aslinya ketika diturunkan oleh Allah. Dalam kitab al-Ihtijaj vol. 1/156, Abu Manshur Ahmad bin Ali at-Thabarsi (tokoh Syiah abad ke-6 H) menegaskan bahwa al-Qur’an sekarang adalah palsu, tidak asli dan telah terjadi pengurangan.

Pembaca, perhatikanlah pernyataan tokoh Syiah di atas. Ulama terpandang mereka dengan tegas menyatakan al-Qur’an telah mengalami perubahan. Keyakinan ini bertentangan dengan jaminan Allah terhadap keotentikan al-Qur’an sebagaimana dalam paparan ayat-ayat di atas. Kalau begitu, kaum Syiah mendustakan berita dari Allah dalam al-Qur’an. Kiranya, pantaskah seorang muslim bertindak sedemikian lancang? Bukankah ucapan di atas tidak ada bedanya dengan ucapan musuh-musuh Islam? Pembaca, jujurkah slogan cinta Islam yang dilontarkan oleh kaum Syiah? Padahal kita yakin, bahwa kalam Allah adalah sebaik-baik ucapan, sejujur-jujur pernyataan dan sebenar-benar perkataan. Allah berfirman,

Dan tidak ada yang lebih benar perkataannya selain Allah.” (QS. an-Nisa’: 87) Semakna dengan ayat ini,

Allah berfirman,

وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلًا

Dan tidak ada yang lebih benar perkataannya selain Allah.” (QS. an-Nisa’: 122)

Rasulullah bersabda dalam setiap pembukaan pidato maupun khutbah,

فَإِنَّ أَصْدَقَ اْلحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ

Sesungguhnya sebenar-benar ucapan adalah kitabullah (al-Qur’an).” (HR. Abu Dawud, an-Nasa’i, dll)

Syubhat dan Bantahannya

Bisa jadi ada yang menyanggah, pernyataan di atas hanyalah pernyataan oknum saja. Sehingga tidak mewakili kaum Syiah secara menyeluruh. Pernyataan ini terbantah oleh ucapan Syiah sendiri.

Pembaca bisa menyimak ucapan Ni’matullah al-Jazairi dalam kitab al-Anwar an-Nu’maniyah vol. 2/246-247. Kata tokoh Syiah ini, semua imam Syiah menyatakan adanya perubahan dalam al-Qur’an, kecuali Murtadha, ash-Shaduq dan beberapa tokoh lainnya. Kemudian al-Jazairi melanjutkan, ulama yang menyatakan bahwa tidak ada perubahan dalam al-Qur’an sedang bertaqiyah. Taqiyah adalah salah satu akidah Syiah yang berarti bolehnya berdusta. Jika ada yang berkata, bukankah kaum Syiah tetap menggunakan al-Qur’an yang ada sekarang? Jawabannya telah disampaikan sendiri oleh tokoh-tokoh ternama Syiah. Simak saja pernyataan al-Mufid (al-Masail as-Sirawiyah hal. 81-82), al-Jazairi (al-Anwar an-Nu’maniyah vol. 2/248) dan al-Majlisi (Mir’atul Uqul vol 3/31 dan Bihar al-Anwar vol. 92/65). Mereka menyatakan bahwa kaum Syiah disuruh membaca al-Qur’an yang ada sekarang sampai datangnya imam Mahdi (imam Mahdi versi mereka, pen).

Al-Qur’an Versi Syiah

Setelah puas menyatakan bahwa al-Qur’an umat Islam ini tidak asli alias palsu, kaum Syiah ternyata memiliki “al-Qur’an” sendiri. Referensi-referensi Syiah menyebutkan, bahwa ayat “al-Qur’an” versi Syiah berjumlah 17.000 ayat.

Menurut mereka, ayat-ayat tersebut diwahyukan oleh Allah kepada Ali dan kepada para imam kaum Syiah setelah Ali, atau kepada para imam yang mendapat wasiat. Ayat-ayat tersebut sekarang ini masih hilang karena dibawa oleh imam Syiah ke-12, yaitu imam Mahdi (imam Mahdi versi Syiah, pen-). Ayat tersebut baru akan hadir kembali saat “imam Mahdi” datang dari ghaibah-nya. Benarkah klaim Syiah di atas? Ternyata jauh panggang dari api. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Abu Juhaifah pernah bertanya kepada Ali bin Abi Thalib, “Apakah Anda menyimpan wahyu selain al-Qur’an?” Ali menjawab, “Tidak, demi (Allah) Yang membelah biji dan menciptakan jiwa.” (Lihat Fathul Bari: 1/203, 4/86, 12/261)

Diterangkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari Syarah Shahih al-Bukhari (1/204), bahwa Abu Juhaifah bertanya demikian kepada Ali karena kelompok Syiah meyakini Ahlul Bait, terutama Ali bin Abi Thalib, memiliki wahyu tersendiri yang tidak diketahui oleh selain mereka. Pertanyaan serupa juga diajukan oleh Mutharif, al-Qais bin Ubad, dan al-Asytar an-Nakha’i. Maka, dengan tegas Ali menjawab bahwa Ahlul Bait tidak memiliki kitab suci apapun selain al-Qur’an yang ada.

Pembaca, ternyata kaum Syiah sendiri tidak jujur terhadap imam mereka. Hal ini wajar! Kepada Allah, Dzat Yang menciptakan seluruh makhluk saja, mereka berani berdusta, apalagi terhadap manusia. Memang, demikianlah wajah asli kaum Syiah Rafidhah.

Kesimpulan

Dengan demikian kaum Syiah telah menyimpang karena telah mengingkari keaslian (keotentikan) dan kebenaran al-Qur’an. Poin ini merupakan poin keempat dari sepuluh poin identifikasi aliran sesat yang difatwakan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Wajar, lembaga resmi pemerintah ini memvonis Syiah sebagai sekte sesat dan terlarang di Indonesia. Masihkah Anda tertipu dengan topeng Syiah?

Wallahu a’lam.

Penulis: Ustadz Abu Abdillah Majdiy

Referensi : http://buletin-alilmu.net/2016/06/03/wajah-asli-syiah-rafidah-bahan-renungan-penguat-akidah/

Mewaspadai Praktek Perdukunan

dupadukun

Zaman modern dengan laju modernisasi dan perkembangan dunia ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK)nya tidak menjamin bahwa orang yang hidup di dalamnya menjadi modern/ilmiah cara berpikirnya. Bahkan tidak sedikit orang yang mengaku modern yang kehidupan realnya justru jauh dari apa yang mereka elukan. Begitu mudahnya mereka dibodohi tentang hal-hal yang bernuansa gaib. Sebut saja praktek perdukunan yang belakangan ini meruak dengan aneka warna, nama, model dan jenisnya. Tak sedikit dari kalangan modernis dan intelek yang menyambutnya. Janji-janji manis (baca: ramalan) para dukun ternyata telah membuat akal dan kemampuan berpikir mereka tumpul. Apalagi kalangan yang notabene lekat dengan animisme dan dinamisme.

Demikianlah di antara fenomena buruk yang ada pada sebagian masyarakat kita. Kehidupan perdukunan menjadi sesuatu yang biasa padahal di mata agama adalah besar. Para dukun dijadikan sebagai nara sumber bahkan rujukan dalam berbagai masalah kemasyarakatan. Padahal, mereka adalah orang-orang yang dimurkai oleh Allah. Tak beda dengan kondisi umat di era jahiliah sebelum diutusnya Rasulullah, yang menjadikan para dukun semisal; syiqq, sathih dan selainnya sebagai rujukan dalam berbagai masalah kemasyarakatan. (Lihat An-Nihayah fii Gharibil Hadits, Ibnul Atsir 4/214)

DEFINISI DUKUN

Dukun dalam bahasa Indonesia mempunyai cakupan yang luas. Namun yang dimaukan dalam pembahasan ini adalah orang yang mengaku mengetahui hal-hal yang bersifat ghaib atau mengetahui segala bentuk rahasia batin. Di antara ulama ada yang merinci; jika hal-hal yang bersifat ghaib itu berupa kejadian yang akan datang (belum terjadi) maka orang yang mengaku mengetahuinya diistilahkan dengan kahin dan jika hal-hal yang bersifat ghaib itu berupa kejadian yang telah terjadi (seperti tempat barang hilang, dll.) maka orang yang mengaku mengetahuinya diistilahkan dengan ‘arraf. Adapun Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, beliau menyatakan bahwa semua yang mengaku mengetahui hal-hal yang bersifat ghaib atau mengetahui segala bentuk rahasia batin baik yang akan terjadi maupun yang telah terjadi tercakup dalam istilah‘arraf.

Dalam koleksi fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah /Komisi Fatwa Kerajaan Arab Saudi 1/393-394, disebutkan bahwa mayoritas dukun adalah orang-orang yang mempelajari ilmu perbintangan (nujum) kemudian dikaitkan dengan berbagai kejadian, atau dengan mempergunakan bantuan jin untuk mencuri berita-berita, dan yang semisal mereka dari orang-orang yang mempergunakan garis di tanah, melihat di cangkir, atau di telapak tangan atau melihat kitab (primbon) untuk mengetahui hal-hal yang ghaib tersebut. (Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah /Komisi Fatwa Kerajaan Arab Saudi 1/393-394)

Al Imam Al Qurthubi berkata: “Barangsiapa mengaku bahwa dirinya mengetahui perkara ghaib tanpa bersandar kepada keterangan dari Rasulullah, maka dia adalah pendusta dalam pengakuannya tersebut.” (Fathul Bari, Al Hafizh  Ibnu Hajar 1/151)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alusy Syaikh berkata: “Yang paling banyak terjadi pada umat ini adalah pemberitaan jin kepada kawan-kawannya dari kalangan manusia tentang berbagai peristiwa ghaib di muka bumi ini. Orang yang tidak tahu (proses ini, -pen) menyangka bahwa itu adalah kasyaf dan karamah. Bahkan banyak orang yang tertipu dengannya dan beranggapan bahwa pembawa berita ghaib (dukun, paranormal, orang pintar dll, -pen) tersebut sebagai wali Allah, padahal hakekatnya adalah wali setan. Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:

“Dan (ingatlah) akan suatu hari ketika Allah ‘Azza wa Jalla mengumpulkan mereka semua, (dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman): ‘Hai golongan jin (setan), sesungguhnya kalian telah banyak menyesatkan manusia’, lalu berkatalah kawan-kawan mereka dari kalangan manusia: ‘Ya Rabb kami, sesungguhnya sebagian dari kami telah mendapat kesenangan dari sebagian (yang lain) dan kami telah sampai pada waktu yang telah Engkau tentukan’. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘Neraka itulah tempat tinggal kalian, dan kalian kekal abadi di dalamnya, kecuali bila Allah ‘Azza wa Jalla menghendaki (yang lain).’ Sesungguhnya Rabb-mu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (Al-An’am: 128) (Fathul Majid, hal. 353)

Bahkan jin-jin yang dijadikan narasumber oleh para dukun itu, tak mengetahui perkara ghaib. Allah berfirman:

“Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka (tentang kematiannya) itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui perkara ghaib tentulah mereka tidak akan berada dalam kerja keras (untuk Sulaiman) yang menghinakan.” (Saba: 14)

CIRI-CIRI DUKUN

Untuk menilai bahwa seseorang itu adalah dukun terkadang agak kesulitan, mengingat tidak sedikit dari para dukun itu yang tak mau lagi menggunakan gelar dukun. Mereka lebih suka menyebut diri dengan orang pintar, paranormal, tabib atau yang semisalnya.  Berikut  ini ada beberapa ciri dukun yang dapat dijadikan acuan untuk menilainya:

  1. Bertanya kepada si pasien tentang namanya, nama ibunya atau semisalnya.
  2. Meminta barang-barang si sakit baik pakaian, sorban, sapu tangan, kaos, celana, atau sejenisnya dari sesuatu yang biasa dipakai si pasien. Terkadang pula meminta fotonya.
  3. Terkadang meminta hewan dengan sifat tertentu untuk disembelih tanpa menyebut nama Allah, atau dalam rangka untuk diambil darahnya untuk kemudian dilumurkan pada diri pasien atau untuk dibuang ke tempat yang sunyi.
  4. Menulis mantra-mantra atau jampi-jampi yang berbau kesyirikan.
  5. Membaca mantra-mantra atau jampi-jampi (doa-doa) yang tidak jelas.
  6. Memberikan kepada pasien kain, kertas atau sejenisnya yang bergariskan kotak yang di dalamnya terdapat huruf-huruf dan nomor-nomor.
  7. Memerintahkan kepada si pasien untuk menjauh dari manusia beberapa saat tertentu, di sebuah tempat yang gelap yang tidak tersinari matahari.
  8. Meminta kepada si pasien untuk tidak menyentuh air beberapa waktu tertentu, biasanya selama 40 hari.
  9. Memberikan kepada si pasien sesuatu untuk ditanam di dalam tanah.
  10. Memberikan kepada si pasien sesuatu untuk dibakar kemudian tubuhnya diasapi dengannya.
  11. Terkadang mengabarkan kepada si pasien tentang namanya, asal daerahnya, dan problem yang menyebabkan dia datang, padahal belum diberi tahu oleh si pasien.
  12. Menuliskan untuk si pasien huruf-huruf yang terputus-putus baik di kertas atau mangkok putih kemudian menyuruh si pasien untuk menuangkan dan mencampurkan dengan air lantas meminumnya.
  13. Terkadang menampakkan suatu penghinaan kepada agama. Misalnya menyobek tulisan-tulisan ayat Al Qur’an atau menggunakannya pada sesuatu yang hina.
  14. Mayoritas waktunya untuk menyendiri dan menjauh dari manusia, karena dia lebih sering menyepi bersama setannya yang membantu praktek perdukunannya. (Lihat kitab Kaifa tatakhallash minas sihr)

HUKUM PERDUKUNAN

Hukum perdukunan adalah haram. Ia merupakan kesyirikan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan sangat bertentangan dengan pokok ketauhidan. Karena adanya unsur menandingi Allah dalam bentuk mengaku mengetahui permasalahan ghaib, yang merupakan kekhususan Allah ‘Azza wa Jalla. Demikian pula terdapat unsur pendustaan terhadap firman Allah ‘Azza wa Jallayang berbunyi:

“Dan hanya di sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib. Tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula). Dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidaklah ada sesuatu yang basah atau pun yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Al-An’am: 59)

“Katakan bahwa tidak ada seorangpun yang ada di langit dan di bumi mengetahui perkara ghaib selain Allah dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.” (An-Naml: 65)

Asy Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh menjelaskan bahwa praktek perdukunan sangat bertentangan dengan pokok ketauhidan. Adapun si dukun, maka ia tergolong musyrik kepada Allah Azza wa Jalla, karena tidak mungkin jin berkenan memberitakan kepadanya berbagai permasalahan ghaib melainkan jika dia telah mempersembahkan ibadah kepada jin tersebut. (At Tamhid Lisyarhi Kitabittauhid)

Hukum Mendatangi Dukun

Adapun hukum mendatangi dukun dan bertanya kepadanya, maka para ulama memberikan rincian sebagai berikut:

1)      Mendatangi dukun semata-mata untuk bertanya sesuatu yang ghaib. Ini adalah perkara yang diharamkan sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:

(( مَنْ أَتَى عَرَّافاً فَسَأَلَهُ عنْ شَيْءٍ فَصَدَّقَهُ، لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أرْبَعِينَلَيْلَةً ))

“Barangsiapa mendatangi dukun lalu dia bertanya tentang sesuatu kemudian membenarkan apa yang diucapkan dukun tersebut, tidaklah diterima shalatnya selama 40 malam.” (HR. Muslim dan Ahmad)
Penetapan adanya ancaman dan siksaan karena bertanya kepada dukun, menunjukkan haramnya perbuatan itu, dan tidaklah datang sebuah ancaman melainkan bila perbuatan itu diharamkan.

2)      Mendatangi mereka lalu bertanya kepada mereka tentang sesuatu yang ghaib dan membenarkan apa yang diucapkan. Ini adalah bentuk kekufuran karena membenarkan dukun dalam perkara ghaib termasuk mendustakan Al Qur`an. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

“Katakan bahwa tidak ada seorangpun yang ada dilangit dan dibumi mengetahui perkara ghaib selain Allah dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.” (An-Naml: 65)

3)      Mendatangi dukun dan bertanya kepadanya dalam rangka untuk mengujinya, apakah dia benar atau dusta. Hal ini tidak mengapa. Sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, saat beliau bertanya kepada Ibnu Shayyad:

( إِنِّي قَدْ خَبَأْتُ لَكَ خَبِيْئًا )

“Apa yang aku sembunyikan buatmu?” Ibnu Shayyad berkata: “Ad-dukh (asap).” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkata:

( اِخْسَأ فَلَنْ تعْدُوَ قَدْرَكَ )

“Diam kamu! Kamu tidak lebih dari seorang dukun.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyembunyikan sesuatu dari Ibnu Shayyad dalam rangka mengujinya.

4)      Mendatangi dukun lalu bertanya kepadanya dengan maksud membongkar kedustaan dan kelemahannya. Mengujinya dalam perkara yang memang jelas kedustaan dan kelemahannya. Hal ini dianjurkan bahkan wajib hukumnya. (Al-Qaulul Mufid, Ibnu ‘Utsaimin)

Dari penjelasan tersebut kita bisa mengetahui haramnya mendatangi dan bertanya kepada mereka (dukun) kecuali apa yang dikecualikan dalam masalah ketiga dan keempat (dan inipun khusus bagi mereka yang memang ahli dan mumpuni dalam masalah ini). Sebab dalam mendatangi dan bertanya kepada mereka terdapat padanya kerusakan yang amat besar, yang berakibat mendorong mereka untuk berani mengerjakan praktek perdukunan dan mengakibatkan manusia tertipu dengan mereka, padahal mayoritas mereka datang dengan segala macam bentuk kebatilan. (Al-Qaulul Mufid, Ibnu ‘Utsaimin)

Referensi : http://buletin-alilmu.net/2011/04/23/mewaspadai-praktek-perdukunan/

Belajar Mencintai Ilmu Hadits dari Asy-Syaikh Muqbil

لَا يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَهْلِهِوَمَالِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Seorang hamba, belumlah sempurna imannya, sampai aku (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) lebih ia cintai dibandingkan keluarganya, harta, dan seluruh manusia”

 

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah (15) dan al-Imam Muslim rahimahullah (44) meriwayatkannya dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. Adapun lafadz di atas adalah lafadz hadits riwayat al-Imam Muslim rahimahullah.

Untuk hadits ini, al-Imam al-Bukhari rahimahullah memberikan judul Bab “Mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai tanda beriman”.

Adapun al-Imam an-Nawawi rahimahullah membuat judul untuk hadits riwayat Muslim, Bab “Kewajiban untuk Mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Melebihi Keluarga, Anak, Orang Tua, dan Seluruh Manusia”.

Siapakah yang disebutkan sebagai objek pembanding di dalam hadits? Anak, orang tua, harta, ataukah seluruh manusia? Seluruhnya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah (Fathul Bari, 1/81) menerangkan seluruh lafadz dari hadits di atas dari berbagai riwayat. Ksimpulannya, ketika seluruh lafadz hadits dikumpulkan, ternyata yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah harta benda, diri sendiri, anak, orang tua, dan siapa pun orangnya.

Mengapa beliau mengatakan “dan seluruh manusia” setelah menyebutkan “anak dan orang tua”?

Hal ini disebut dengan ‘athful ‘am ‘alal khas, menyebutkan yang umum setelah yang khusus. Cara mengartikan hadits di atas adalah ‘seorang hamba belum dikatakan sempurna imannya sampai ia lebih mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dibandingkan dengan siapa pun dan apa pun, termasuk ayah ibunya, anak, kerabat, harta benda, pangkat, dan segala hal yang ia cintai’.

Bagaimana halnya dengan kecintaan terhadap diri sendiri? Bahkan, terhadap diri sendiri sekalipun!

Oleh sebab itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu, “Belum cukup! Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sampai aku lebih engkau cintai meski dibandingkan dengan dirimu sendiri!”

Sabda itu diucapkan karena Umar radhiallahu ‘anhu menyatakan, “Wahai Rasulullah, sungguh Anda lebih aku cintai dibandingkan semua hal, kecuali diriku sendiri.”

 Lantas Umar radhiallahu ‘anhu berkata,

فَإِنَّهُ الآنَ، وَاللهِ، لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي

“Sungguh, sekarang demi Allah, sungguh Anda lebih aku cintai meski dibandingkan diriku sendiri.”

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اَلْآ ن يَا عُمَرُ

“Sekarang ini (barulah benar), wahai Umar!” (HR . al-Bukhari no. 6632)

 

Lukisan Cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Para sahabat adalah orang-orang yang telah membuktikan iman dengan selalu mendahulukan, mengutamakan, dan mengedepankan cinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas segalanya.

Lihatlah bagaimana mereka rela mengorbankan harta benda dan jiwa raga untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lihatlah seperti apa mereka telah mencurahkan waktu dan tenaga demi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Abu Bakr radhiallahu ‘anhu sendirian menghadapi sejumlah orang Quraisy yang mengganggu Rasulullah radhiallahu ‘anhu. Abu Bakr radhiallahu ‘anhu dengan mantap selalu membenarkan berita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamwalaupun dianggap tidak masuk akal oleh kaum Quraisy. Abu Bakr radhiallahu ‘anhu yang dengan setia mendampingi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kondisi apa pun. Abu Bakr radhiallahu ‘anhu adalah contoh pembuktian cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu pun demikian. Beliau yang beberapa kali mengatakan, “Izinkan aku memenggal leher orang itu, wahai Rasulullah!”, karena rasa cemburunya terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Demikian pula sikap Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Sa’ad bin Abi Waqqsah, Abu Ubaidah, Abdurrahman bin Auf, dan sahabat lainnya radhiallahu ‘anhum. Setiap kali membaca kehidupan mereka, kita pasti menemukan besarnya cinta mereka kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah (Fathul Bari, 1/81—82) berkata, “Termasuk dalam hal ini adalah menolong sunnahnya, membela syariatnya, dan menghadapi para penentangnya. Amar ma’ruf nahi mungkar juga termasuk di dalam hadits ini.”

Artinya, apa yang telah dilakukan oleh ulama ahli hadits menjadi bagian dari bukti cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka meninggalkan kampung halaman, berkeliling dari satu negeri ke negeri lainnya, berpisah dengan keluarga bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun lamanya, menembus panasnya siang, melewati dinginnya malam, bahkan sakit pun seakan tidak terasa. Apalagi hanya lapar dan haus dahaga.

Sebut saja nama Syu’bah bin al-Hajjaj rahimahullah. Beliau berkeliling dari Kufah menuju Makkah, dari Makkah berlanjut ke Madinah, lalu berangkat ke Basrah dan kembali ke Kufah. Perjalanan itu ditempuh hanya untuk memastikan kebenaran sebuah hadits yang dinisbatkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ringkas kata, apa yang telah dilakukan oleh ulama ahli hadits menjadi bukti nyata pengamalan mereka terhadap hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas. Selalu dan siap berkorban apa pun demi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yakni dengan memperjuangkan kemurnian ajaran-ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dan Cintanya kepada Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Di masa kita, nama asy-Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah haruslah dimasukkan dalam contoh dan teladan cinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Begitu cintanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sampai beliau buktikan dengan kegemaran dan kesenangannya membaca hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada yang melebihi manisnya membaca kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, menurut beliau.

“Sungguh, dengan segala puji untuk Allah, saya sangat mencintai kitabullah dan Sunnah al-Gharra’. Apalagi dua kitabShahih. Membaca dua kitab Shahih bagi saya adalah kenikmatan yang paling manis di dunia ini,” tulis asy-Syaikh Muqbil dalam Muqaddimah ash-Shahihul Musnad.

Beliau melanjutkan, “Sungguh, ketika membuka Shahih al-Bukhari dan saya membaca, Qaalal Imamul Bukhaarirahimahullah, haddatsana Abdullah bin Yusuf, qaala haddatsana Maalik; Atau saya membuka Shahih Muslim lalu membaca,Qaalal Imam Muslim rahimahullah, haddatsanaa Yahya bin Yahya, qaala qara’tu ‘ala Maalik.”

Ketika membaca demikian dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, apa yang beliau rasakan?

“Saya langsung lupa dengan seluruh kesibukan dan persoalan dunia,” lanjutnya.

Inilah puncak cinta! Saat semua kepenatan, kesulitan, dan kesusahan hidup menjadi hilang, pergi dan terhapus dengan membaca hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Setiap nama perawi yang disebut akan mengingatkan kita tentang sosok manusia-manusia penyabar, zuhud, qana’ah, bertakwa, dan bersyukur.

Setiap hadits yang dibaca pasti menjadi tuntunan dan pegangan hidup.

Setiap hadits yang ditelaah akan menjadi pelita penerang.

Hal ini ditanamkan betul kepada murid-murid beliau, yakni kegemaran untuk membaca kitab-kitab hadits. Hal ini terbukti dengan waktu pelajaran kitab hadits yang beliau berikan. Sejumlah kitab hadits beliau bacakan, seperti Shahih al-Bukhari,Shahih Muslim, Jami’ at-Tirmidzi, Mustadrak al-Hakim, dan lainnya.

Barangkali, inilah salah satu rahasia cinta beliau kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau menjaga cinta itu dengan selalu membaca dan menggali dalam-dalam ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang amat sempurna.

 

Karya asy-Syaikh Muqbil dalam Bidang Hadits

Dengan membaca, melihat, dan meneliti karya-karya asy-Syaikh Muqbil rahimahullah, kita akan menyimpulkan betapa mendalamnya cinta beliau kepada hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Contohnya adalah karya beliau yang diberi judul ash-Shahihul Musnad. Ini adalah sebuah karya yang menyuguhkan dengan apik hadits-hadits sahih yang berada di luar Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Hadits yang dimuat dipilih melalui syarat dan ketentuan yang sangat ketat. Sebuah karya monumental di bidang hadits dengan susunan musnad(diurutkan berdasarkan nama-nama sahabat yang meriwayatkan hadits).

Lihatlah pula karya beliau yang lain, al-Jami’us Shahih. Inilah satu warisan di bidang hadits dengan mengurutkan bab demi bab berdasarkan judul pembahasan bab-bab fikih. Sebuah bukti kedalaman fikih beliau yang didasari oleh hadits-hadits sahih.

Ada pula al-Jami’us Shahih fil Qadar, karya beliau dalam pembahasan qadha dan takdir dengan menyebutkan riwayat sahih.

Kitab asy-Syafa’ah juga tidak boleh terlewatkan untuk disebut sebagai bukti kecintaan beliau kepada hadits Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam. Kitab asy-Syafa’ah adalah karya beliau dalam pembahasan syafaat dengan menyebutkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik yang sahih maupun yang dhaif, disertai dengan keterangannya.

Ash-Shahihul Musnad min Asbabin Nuzul adalah karya beliau dalam bidang tafsir dengan menyebutkan hadits-hadits sabab nuzul (sebab turunnya ayat al-Qur’an). Kitab ini merupakan komitmen beliau untuk memurnikan pembahasan sabab nuzulhanya pada hadits sahih. Kitab ini menjadi bahan skripsi beliau di Universitas Islam Madinah.

Terkait bukti-bukti kebenaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai utusan dan pesuruh Allah subhanahu wa ta’ala, asy-Syaikh Muqbil rahimahullah mengumpulkan hadits sahih yang menerangkan mukjizat dan tanda kerasulan. Kumpulan hadits ini dituangkan dalam sebuah kitab dan diberi judul ash-Shahihul Musnad min Dalail an-Nubuwwah.

Ringkasnya, karya beliau sangat menekankan pada penyebutan hadits sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamdengan syarat ketat dan seleksi yang cermat. Sebut saja sebagai contoh tambahan dalam hal ini adalah Hukmu Tashwir Dzawatil Arwah, Dzammul Mas’alah, Syar’iyyatus Shalat fin Ni’al, dan Hukmul Jam’i baina ash-Shalatain fis Safar.

 

Asy-Syaikh Muqbil dan Sanad Hadits

Cinta asy-Syaikh Muqbil kepada hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam nyatanya benar-benar istimewa. Hal ini dibuktikan dengan semangat dan tekad beliau untuk selalu menyebutkan lafadz hadits secara lengkap. Tidak semata menyebutkan lafadz hadits, beliau pun selalu berusaha mengiringkannya dengan sanad hadits. Sanad hadits artinya mata rantai para perawi dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai kepada ulama yang menyampaikan hadits tersebut.

Coba baca dan teliti karya beliau yang tersebut di atas! Hampir semua hadits yang disebutkan selalu disertakan sanadnya. Apa alasan beliau?

Di dalam Muqaddimah ash-Shahihul Musnad min Asbabin Nuzul, asy-Syaikh Muqbil rahimahullah menerangkan, “Adapun alasan menyebutkan lafadz hadits secara lengkap, karena banyaknya faedah di sana. Adapun sebab mengiringkannya dengan sanad, karena para ulama kita tidak akan menerima sebuah hadits kecuali disertai oleh sanadnya.”

Setelah itu, beliau menukilkan pernyataan demi pernyataan ulama yang menekankan pentingnya sanad sebuah hadits. Di antara yang beliau nukilkan adalah pernyataan Abdullah ibnul Mubarak rahimahullah, “Bagiku, sanad merupakan bagian dari beragama. Kalau sanad tidak ada, pasti semua orang bisa berbicara semaunya.”

Nah, di sinilah rahasia semangat asy-Syaikh Muqbil rahimahullah untuk selalu menyebutkan sanad hadits. Beliau mendidik dan menggembleng murid-muridnya— juga kita semua—agar tidak sembarangan dan tidak sesuka hati untuk berbicara atas nama agama, kecuali dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Dengan menyebutkan sanad hadits, seseorang telah bertindak ilmiah.

Sikap keras asy-Syaikh Muqbil ditujukan kepada mereka yang secara sengaja dan yang mendasarkan sikap bermudah-mudahan untuk menghilangkan sanad hadits. Marilah membaca ucapan beliau dalam Muqaddimah ash-Shahihul Musnad min Asbabin Nuzul!

“Dengan demikian, mereka yang menghilangkan sanad dari karya tulisnya, menyebutkan hadits-hadits tanpa sanad, bisa dinilai telah berbuat buruk terhadap ilmu dan terhadap pendahulu kita yang saleh, yang telah berjuang keras untuk meneliti sanad dan rela melakukan rihlah (perjalanan panjang) demi mencari sanad hadits,” tulis asy-Syaikh Muqbil.

 

Asy-Syaikh Muqbil, Ilmu ‘Ilal dan Jarh wat Ta’dil

Siapa pun yang pernah berguru kepada asy-Syaikh Muqbil, walau sekali waktu; atau barangkali mendengar suara beliau melalui rekaman atau membaca tulisannya, pasti mampu menilai dan merasakan luasnya ilmu beliau dalam bidang ‘ilalul hadits dan al-jarh wat ta’dil.

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah adalah salah satu keajaiban dalam menghafal nama perawi sekaligus biografinya. Seakan-akan ribuan perawi beliau kuasai. Beliau mempunyai keahlian mumpuni, ketajaman, dan kecermatan dalam hal menilai serta kepiawaian untuk menghukumi sahih atau dhaifnya sebuah hadits.

Bagaimana cara membuktikannya? Karya-karya beliau dalam bidang ‘ilalul hadits dan al-jarh wat ta’dil adalah bukti konkret. Contohnya adalah kitab beliau, Ahaditsu Mu’allah Zhahiruha ash-Shihhah. Kitab ini menghimpun hadits yang secara zahir dinilai sahih, tetapi ternyata menyimpan cacat yang memengaruhi kesahihan. Cacat yang dimaksud sifatnyakhafiyyah (tersembunyi, samar, dan tidak terlihat). Akan tetapi, para ulama ahli hadits, kemudian asy-Syaikh Muqbilrahimahullah, mampu menemukannya.

Contoh lain adalah Auhamul Hakim fil Mustadrak. Karya beliau ini sebenarnya berbentuk catatan kaki atau keterangan ringkas tentang kesalahan al-Imam al-Hakim rahimahullah dalam kitab al-Mustadrak yang terlewatkan oleh al-Imam adz- Dzahabi rahimahullah. Adz-Dzahabi sendiri telah berupaya menemukan kesalahan-kesalahan tersebut.

Secara khusus tentang ilmu rijalul hadits, asy-Syaikh Muqbil rahimahullah menyusun nama perawi al-Mustadrak karya al-Imam al-Hakim rahimahullah lengkap dengan biografi ringkasnya yang belum disebutkan dalam kitab Tahdzibut Tahdzib. Karya beliau ini diberi judul Tarajim Rijalul Hakim fi Mustadrakihi alladzina laisu fi Tahdzib at-Tahdzib.

Terdapat pula kitab Tarajim Rijal ad-Daruquthni, karya beliau mengenai biografi ringkas para perawi dalam Sunan ad-Daruqthni.

Karya beliau yang bisa disebut monumental adalah Tahqiq al-Ilzamat wat Tatabbu’, hasil penelitian beliau tentang hadits dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim yang dikritik oleh ad-Daruquthni. Karya ini disebut monumental karena tidak semua orang dapat berbicara tentang kritikan terhadap hadits Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim.

 

Asy-Syaikh Muqbil dan Pujian Ulama

Selain karya yang membuktikan asy-Syaikh Muqbil rahimahullah memang sangat pantas untuk menyandang gelarMuhadditsul Jazirah (ahli hadits dari Jazirah Arab), pujian dan pengakuan para ulama ahli hadits zaman ini pun menguatkan lagi.

Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah, ulama hadits paling terkemuka abad ini yang merupakan guru asy-Syaikh Muqbilrahimahullah, menukil pendapat asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam bukunya, as-Silsilah adh-Dhai’ifah (5/95), ketika mendhaifkan sebuah hadits.

Asy-Syaikh al-Albani berkata, “Para pakar dalam bidang hadits tidak akan ragu tentang dhaifnya hadits seperti ini. Lihatlah syaikh yang mulia, Muqbil bin Hadi al-Yamani, menyatakan dalam Takhrij ‘ala Ibni Katsir (1/513)—setelah berbicara tentang perawi sanadnya satu per satu, Hadits ini dhaif karena sanadnya terputus, dan Ubaidullah bin al-Walid al-Wushafi yang dhaif.”

Bukankah pernyataan asy-Syaikh al-Albani rahimahullah di atas adalah bentuk pengakuan akan keilmuan asy-Syaikh Muqbil? Pasti.

Berikutnya adalah asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali yang menyatakan dalam takziyahnya sesaat setelah wafatnya asy-Syaikh Muqbil rahimahullah. Di dalam takziyahnya, asy-Syaikh Rabi’ menyebut asy-Syaikh Muqbil dengan, “… Ahli zuhud, ahli wara’ yang saleh, juga seorang ahli hadits yang telah menginjak kehinaan dunia beserta seluruh keindahannya di bawah kedua telapak kakinya.”

Cukuplah bukti-bukti di atas untuk meyakini asy-Syaikh Muqbil rahimahullah sebagai seorang pakar hadits di abad ini.

Beliau rahimahullah adalah orang yang telah menghabiskan umur dan hidupnya berkhidmat untuk hadits-hadits sebagai tanda cintanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beliau rahimahullah adalah seorang hamba yang meyakini, “Membaca dua kitab Shahih—bagiku—adalah kenikmatan yang paling manis di dunia ini.”

Beliau rahimahullah pun seorang teladan yang saat membaca dan mempelajari hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Aku langsung lupa dengan seluruh kesibukan dan persoalan dunia.”

Lantas, bagaimana halnya dengan diri kita? Apa bukti cinta kita kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Wallahul Muwaffiq.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar Iben Rifai

Sumber: www.asysyariah.com